7065 research outputs found
Sort by
DESAIN KOSTUM DAN VISUALISASI STATUS SOSIAL DALAM KARYA TARI JAWA DI MANGKUNEGARAN
Desain kostum secara visual menempati kedudukan signifikan untuk
mengidentifikasi status sosial karakter tokoh dalam suatu tarian. Melalui sistem
simbol, desain kostum mampu mengkomunikasikan status sosial pada penonton.
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara desain kostum dan visualisasi
status sosial tinggi khususnya raja dan para petinggi kerajaan dalam tari Jawa di
Mangkunegaran. Riset ini menggunakan bentuk penelitian kualitatif dengan
pendekatan etnokoreologi dan sumber data utama studi pustaka. Hasil penelitian
menunjukkan bentuk dan sistem simbol desain kostum suatu tarian memiliki
kesamaan dengan tata aturan normatif cara berbusana di istana. Namun, terdapat
perubahan yang menjadikan timbulnya perbedaan cara visualisasi status sosial.
Perubahan tersebut menjadikan status sosial asli penari yang semula tidak nampak,
akan melekat dan nampak. Hasil riset ini diharapkan mampu menunjang penelitian
yang berhubungan dengan nilai etika dan etno-estetika suatu masyarakat dan
kesenian yang dimilikinya. Sebagai produk budaya, tari etnis berhubungan dan
dapat menjadi representasi (gambaran) kehidupan masyarakat pemilik budaya tari
NILAI ETIKA DAN ESTETIKA UDA NEGARA DALAM SAJIAN CATUR LAKON JAKA MARUTA SAJIAN MANTEB SUDARSANA
Penelitian ini menemukan nilai uda negara dalam catur Lakon Jaka Maruta sajian Ki Manteb Sudarsana. Target penelitian, yaitu: (1) teridentifikasikannya teks Lakon Jaka Maruta; (2) tersajikannya teks uda negara yang bernilai etika dan estetis sesuai dengan karakter tokoh; (3) teks uda negara yang bernilai etika dan estetis sesuai dengan suasana adegan; dan (4) diterbitkannya satu artikel dalam jurnal nasional. Teori Estetika Pedalangan digunakan sebagai pendekatan untuk menemukan jawaban pertanyaan. Metode analisis, yaitu: (1) mengidentifikasi kata-kata yang mengandung nilai uda negara dalam lakon Jaka Maruta sesuai karakter tokoh; (2) mengidentifikasi kata-kata yang mengandung nilai uda negara yang mengandung etika dan estetis dalam lakon Jaka Maruta sesuai dengan suasana adegan; (3) evaluasi hasil; (5) menyajikan dalam bentuk laporan sebagai pertanggungjawaban ilmiah; dan (6) menyusun artikel ilmiah untuk diterbitkan dalam jurnal nasiona
MELATIH JIWA ENTREPRENEURSHIP BAGI KELOMPOK KARANG TARUNA DESA PERENG REJO KARANGANYAR MELALUI PELATIHAN VOCATIONAL SKILL PEMBUATAN TAS MAKRAME LAPORAN AKHIR PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT TEMATIK (PERORANGAN)
ABSTRAK
Pengabdian Pada Masyarakat Tematik (Perorangan) berjudulMelatih Jiwa Entrepeneurship Bagi Kelompok Karang Taruna Desa Pereng Rejo Karanganyar Melalui Pelatihan Vocational Skill Pembuatan Tas Makrame. Kegiatan Pengabdian ini sasarannya adalah Kelompok Karang Taruna di Desa Pereng Rejo Karanganyar. Tujuan utama yaitu melatih Jiwa entrepreneurship kelompok karang taruna di desa tersebut melalui pelatihan membuat tas makrame. Pelatihan keterampilan yang dimaksud merupakan vocational skill yang nantinya secara tidak langsung akan berdampak secara ekonomi. Adapun permasalahan kelompok karang taruna tersebut adalah Bagaimana melatih jiwa entrepreneurship bagi kelompok Karang Taruna Desa Pereng Rejo Karanganyar melalui pelatihan vocational Skill pembuatan Tas Makrame. Adanya pelatihan pembuatan tas makrame diharapkan bisa melatih dan menanamkan jiwa entrepreneurship kelompok Karang Taruna Desa Pereng Rejo Karanganyar mempunyai jiwa mandiri dan pantang menyerah. Pelatihan pembuatan tas makrame ini diharapkan dapat menambah vocational skill yang bisa menjadi modal pemuda-pemudi tersebut dalam berkarya dan berwirausaha.
Kata Kunci: Entrepreneurship,Vocational skill, makram
PENCIPTAAN KETHOPRAK REOG SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN DEKULTURASI BUDAYA DI SURAKARTA DI PAGUYUBAN SENI REOG SINGO BHIROWO, NGADISONO, JOGLO, SURAKARTA.
Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menjaga kelestarian budaya dan mencegah
dekulturasi budaya di Surakarta, khususnya dalam konteks seni tradisional Reog. Penelitian ini
dilakukan melalui penciptaan karya seni Kethoprak Reog di Paguyuban Seni Reog Singo
Bhirowo di Ngadisono, Joglo, Surakarta. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini
melibatkan kolaborasi antara komunitas seniman Reog dengan masyarakat setempat, dengan fokus
pada proses akulturasi seni. Penggalian pengetahuan tradisional melibatkan wawancara, observasi,
dan studi literatur tentang Reog dan budaya Jawa. Karya seni Kethoprak Reog kemudian
diproduksi dengan melibatkan Paguyuban Seni Reog Singo Bhirowo sebagai aktor, penari, musisi,
dan kru produksi. Penciptaan karya seni Kethoprak Reog ini bertujuan untuk mengintegrasikan
elemen- elemen seni Reog dengan elemen-elemen seni Kethoprak, sebagai bentuk akulturasi
seni. Pertunjukan Kethoprak Reog diharapkan mampu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya
menjaga budaya lokal dan mencegah dekulturasi budaya. Selama proses pengabdian, dilakukan
pula kegiatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memahami, menghargai, dan
melestarikan budaya tradisional. Workshop, seminar, dan pertunjukan seni juga diadakan untuk
melibatkan masyarakat luas dalam mengapresiasi seni Kethoprak Reog dan memahami pesan
yang disampaikan. Hasil yang diharapkan dari pengabdian ini adalah peningkatan kesadaran
masyarakat terhadap pentingnya menjaga budaya tradisional, dan bertambahnya minat dan apresiasi
yang lebih besar terhadap seni tradisional, serta upaya nyata dalam mencegah dekulturasi buday
PENCIPTAAN KARYA BATIK LUKIS DENGAN KOMBINASI TEKNIK BATIK DAN MARBLING
Teknik marbling adalah salah satu teknik mencetak warna pada permukaan kertas melalui media air yang mengambang. Seni mencetak warna melalui media air mengambang ini sudah sejak lama dikenal masyarakat dunia dengan istilah yang berbeda. Di Jepang dikenal dengan nama suminagashi, di Turki dikenal dengan nama Ebru. Penelitian artistic yang berjudul “Penciptaan Batik Lukis dengan Teknik Kombinasi Batik dan Marbling” bertujuan untuk Mengidentifikasi material bahan pewarna yang bisa digunakan sebagai alternative dalam pemanfaatan teknik marbling (1); dan Menciptakan lukisan batik sebagai karya dekoratif yang bisa dipajang di ruangan sebagai salah satu elemen dekoratif ruang (2). Metode penciptaan karya menggunakan teori SP Gustami, 3 tahap 6 langkah, yaitu Eksplorasi, Perancangan, dan Perwujudan. Adapun enam langkah proses penciptaan karya seni tersebut adalah: pengembaraan jiwa, penentuan konsep/tema, perancangan sketsa, penyempurnaan desain, pewujudan karya dan evaluasi akhir. Luaran dari penelitian ini berupa laporan hasil penelitian (1); naskah publikasi ilmiah untuk jurnal nasional terakreditasi sinta 3 dan atau jurnal internasional (2); 5 buah karya batik lukis yang siap untuk dipamerkan (3); Presentasi karya/pameran hasil penelitian (4); dan submited HKI (5)
SRIKANDHI MEGURU MANAH
Perkembangan pertunjukan Wayang Wong sangat minim jika dibandingkan dengan seni pertunjukan yang lain di Indonesia. Apalagi Wayang Wong dengan pelaku bocah yang dikenal
dengan Wayang Wong Bocah. Berkaitan dengan perlestarian dan pengembangan seni dapat dikatakan mengkawatirkan. Untuk mensikapi permasalahan yang ada maka perlu teliti dalam
menindak lajuti cerita wayang yang pada umumnya berkaitan dengan usia dewasa. Wayang wong bocah dalam pementasannya perlu memahami psikologi anak agar tidak terjadi kerancuan.
Hal tersebut terutama dimulai dari sanggit cerita dan naskah yang perlu disesuaikan dengan
pendidikan anak
PROBLEMATIKA REPRESENTASI TARI DALAM IKLAN DI INDONESIA
Penelitian dasar ini yang bertujuan mengetahui problematika representasi tari dalam iklan
di Indonesia. Tari dalam iklan Indonesia menjadi problematik karena cenderung dimaknai
melalui kajian-kajian terkini sebagai hasil komodifikasi dan pemaksaan simbol-simbol
dalam budaya untuk kepentingan komersial. Kondisi ini cukup memprihatinkan bagi
kemajuan dunia seni, khusunya tari maupun iklan. Seni sebagai bagian dari budaya
seharusnya lebih dapat bermakna sebagaimana mestinya dalam setiap sendi kehidupan,
termasuk dalam penciptaan iklan. Metode studi literatur menjadi cara penelitian untuk
mengungkap peran seni, dalam hal ini tari dalam iklan secara lebih beragam. Penelusuran
beragam pustaka baik tulisan di jurnal ilmiah, prosiding, serta buku dimaksudkan untuk
mendapatkan pemahaman tersebut. Tahapan penelitian meliputi 1) merumuskan
pertanyaan dan protokol inklusi dan eksklusi data tulisan, 2) menelusuri tulisan yang
memenuhi syarat dari database Google Scholar dan Scopus, 3) memilih data tulisan
dengan cara mengekstrak data dan mengidentifikasi duplikasi data, 4) menganalisis data
berdasarkan kuantitas dan kualitas tulisan sesuai kelompok-kelompok tema, 5)
menyajikan data dalam matriks analisis, 6) menafsirkan hasil analisis dan menarik
kesimpulan. Hasil penelitian diharapkan mampu memberi sumbangan pengetahuan
mengenai peran tari sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa bangsa dalam memberi makna
dalam iklan melalui representasi kearifan budaya suatu masyarakat. Luaran penelitian
mono tahun ini adalah artikel di jurnal internasional bereputasi sedang atau jurnal Sinta 2
dengan status submitted
Konsep-konsep Dasar Semiotika Struktural Barthesian sebagai Konsep dan Metode Penciptaan Karya Seni Rupa
Konsep-konsep Dasar Semiotika Struktural Barthesian
sebagai Konsep dan Metode Penciptaan Karya Seni Rupa ini
merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode
analisis isi. Konsep-konsep dasar semiotika struktural rumusan
Roland Barthes selama ini digunakan untuk meneliti tanda/objek,
memproduksi makna objek, termasuk di antaranya karya-karya seni
rupa. Bukan untuk memproduksi objek bermakna. Penelitian ini
bertujuan merumuskan konsep-konsep dasar semiotika struktural
sebagai landasan konsep visual dan metode penciptaan karya seni
rupa. Memodifikasi penggunaan semiotika struktural dari
memproduksi makna objek menjadi memproduksi objek bermakna.
Dari penelitian ini dirumuskan konsep-konsep visual dan metode
penciptaan karya seni rupa, sebagai objek bermakna, dari konsepkonsep dasar semiotika struktural Roland Barthes
KONSEP BENTUK SENI RUPA PERTUNJUKAN BERIDENTITAS KULTURAL
Seni kontemporer melalui konsep postmodernisme mengakui dan
menghargai pluralitas dan oleh sebab itu memberi peluang bagi
masuknya nilai-nilai lokal dan tradisi bangsa manapun untuk masuk ke
dalamnya. Salah satu bentuk seni rupa kontemporer yaitu performance
art/ seni performans, satu cabang seni rupa yang menggunakan tubuh
sebagai medium utamanya. Seni performans merupakan penggabungan
seni rupa dengan seni pertunjukan persilangan antara pameran seni rupa
dengan pertunjukan teatrikal. Dalam hal ini ditampilkan unsur rupa,
musik, dan gerak, namun menghindari adanya alur cerita secara
tradisional.
Praktik seni performans di Indonesia sangat unik, berbeda dengan
performance art barat. Hal tersebut dikarenakan para praktisi performance
art di Indonesia tidak belajar performance art secara formal dan
kebanyakan pelakunya lebih mendekat pada seni pertunjukan seperti
teater atau seni tari. Hal ini berarti ada satu ceruk yang dapat diteliti yaitu
konsep seni rupa pertunjukan “versi” Indonesia yang beridentitas kultural
yang berbeda dengan performance art barat.
Tujuan umum penelitian adalah menemukan konsep seni rupa
pertunjukan versi Indonesia yang beridentitas kultural. Hal ini penting
karena selama ini praktik maupun wacana dalam medan seni rupa di
Indonesia, performance art sangat berbeda dengan yang berkembang di
barat. Di Indonesia lebih banyak atau lebih dekat dengan seni
pertunjukan seperti seni tari, seni teater atau ritual tradisi. Oleh karena
itu penting kiranya disusun konsep bentuk seni rupa pertunjukan versi
Indonesia yang beridentitas kultural.
Penelitian ini menggunakan pendekatan case studies, dengan
single case design yaitu suatu penelitian studi kasus yang menekankan
penelitian hanya pada sebuah unit kasus aja. Kasus dalam penelitian ini
untuk memgungkap praktik performance art yang ada di Indonesia.
Ruang lingkup penelitian meliputi aspek karya seni, pelaku seni, dan
sistem perancangan karya seni rupa pertunjukan. Langkah penelitian
meliputi (1) Menyikapi fenomena seni rupa pertunjukan dalam medan seni
rupa Indonesia dari sudut pandang pelaku (2) konten dan penampilan
seni rupa pertunjukan dari sudut pandang pelaku, (3) Karakteristik
unsur-unsur estetika telah dikuasai dan dipahami. Luaran penelitian
meliputi draft artikel jurnal internasiona
STRUKTUR CERITA 3 BABAK DENGAN 13 TAHAPAN DIAGRAM PERJALANAN PAHLAWAN PADA FILM NJOET NJA DHIEN
Film Tjoet Nja Dhien merupakan film biopik sejarah kepahlawanan dengan
latar perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda yang dipimpin seorang panglima
perang bernama Cut Nyak Dien. Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis
struktur penceritaan film Tjoet Nja Dhien berdasarkan struktur 3 babak melalui 13
tahapan diagram perjalanan pahlawan. Dalam penelitian ini menggunakan
penelitian kualitatif yang disajikan secara deskriptif. Data primer adalah film Njoet
Nja Dhien sutradara Eros Djarot diproduksi oleh PT. Kanta Indah Film tahun 1988.
Data sekunder berupa copy skenario film Tjoet Nja’ Dhien dan Buku Staf Sutradara
Film Tjoet Nja’ Dhien, Aceh di Zaman Kolonial yang diperolah dari Sinematek
Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Tjoet Nja Dhien menggunakan struktur 3
Babab, babak pertama dimulai kembalinya Teuku Umar ke dalam perjuangan
rakyat Aceh setelah selama tiga tahun Teuku Umar bergabung dengan Belanda
sebagai siasat dalam mempelajari taktik perang Belanda dan untuk mendapatkan
senjata dari Belanda, babak kedua diawali dengan perjuangan Tjoet Nja Dhien
sebagai panglima perang dimulai setelah meninggalnya Teuku Umar di Suak Ujung
Kala-Meulaboh dan babak ketiga penangkapan Tjoet Nja Dhien karena pengkhianatan Pang Laot dengan memberitahu tentara Belanda tempat persembunyian Tjoet Nja Dhien. Pengkhianatan yang dikarenakan Pang Laot tidak tega melihat kondisi Tjoet Nja Dhien dengan sakit encok dan rabun/matanya buta,
persediaan makanan mulai habis serta perjuangan yang mulai sulit bagi rakyat Ace