7065 research outputs found
Sort by
KAJIAN GARAP KENDANG WIDARAGA, GENDHING KETHUK 2 KEREP MINGGAH 4 LARAS SLÉNDRO PATHET SANGA : SAJIAN MRABOT
Skripsi karya seni ini berjudul Kajian Garap Kendang Widaraga, Gendhing Kethuk 2 Kerep Minggah 4 Laras Sléndro Pathet Sanga : Sajian Mrabot. Dua permasalahan yang disajikan dalam skripsi karya seni ini adalah: (1) Bagaimana garap kendhangan pada gending tersebut; dan (2) Bagaimana cara menggarap gending tersebut agar terlihat menarik untuk dinikmati oleh masyarakat umum. Permasalahan tersebut dikaji dengan beberapa konsep agar terciptanya kemungguhan garap pada gending yang disajikan pada skripsi ini. Penelitian ini menggunakan metode kualititaf. Data penelitian tersebut didapat melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara kepada seniman yang ahli di bidang karawitan. Penelitian ini juga didasarkan pada landasan konseptual, konsep yang digunakan adalah konsep mrabot, garap, mungguh, irama, laya, mandheg, dan matut.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa dalam Gending Widaraga terdapat notasi balungan yang berpotensi untuk disajikan dengan garap kendhangan menthogan. Selain berpotensi digarap dengan kendhangan menthogan, Gendhing Widaraga juga mempunyai potensi disajikan dengan garap ngaplak panjang, salahan, dan mandheg. Rangkaian garap yang dimaksud terdapat pada bagian inggah kenong pertama gatra keempat sampai kenong kedua gatra keempat. Penulis mencoba menerapkan garap tersebut agar terciptanya variasi garap yang ada pada karawitan khususnya gaya Surakarta, hal tersebut bertujuan agar penonton atau penikmat karawitan tidak bosan dengan garap-garap yang umum dikarawitan tradisi.
Kata kunci : Garap, kendhangan, menthogan, mrabot, widaraga
PRAHARA: PENCIPTAAN KOMPOSISI DARI IDE FENOMENA BARANG BEKAS
Skripsi karya seni ini berusaha mendeskripsikan karya komposisi musik yang berjudul Prahara. Karya ini berangkat dari keresahan masyarakat mengenai fenomena penimbunan barang bekas, ada tiga permasalahan yang diajukan dalam skripsi karya seni ini adalah: (1) kurangnya tempat atau wadah yang tersedia untuk menyimpan atau membuang barang-barang yang tidak terpakai, (2) kurangnya pengetahuan masyarakat tentang cara memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai, dan (3) kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan di sekitar mereka. Tiga permasalahan tersebut dikaji berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku, Teori Produk Kreativitas Yasraf Amir Piliang, Teori Kreativitas Mihalyi Csikszentmihalyi, Konsep Garap Rahayu Supanggah. Data-data penelitian dikumpulkan melalui observasi, studi pustaka, dan wawancara. Metode kekaryaan yang di gunakan dalam karya musik ini meliputi; eksplorasi, imajinasi, dan improvisasi / variasi. Karya komposisi ini berfokus tentang sebab dan akibat dari penimbunan barang bekas yang mengakibatkan timbulnya bencana banjir dan wabah penyakit. Dari permasalahan itulah menjadi inspirasi penyusun untuk membuat suatu karya komposisi. Pada karya komposisi ini memiliki kesan suasana ceria, cemas, seram, dan sedih. Suasana-suasana itu menggambarkan bagaimana perasaan masyarakat sebelum hingga sesudah terjadinya fenomena penimbunan barang bekas.
Kata Kunci : Prahara, Penciptaan musik, Barang Beka
MONGKOK DHÉLIK MINGGAH RANDHAMAYA:KAJIAN GARAP RÊBAB
Skripsi berjudul Mongkok Dhêlik, Gendhing Kêthuk 4 Awis Minggah Randhamaya Kêthuk 8, Laras Pélog Pathêt Nêm ini menjelaskan dan menganalisis rêbaban Gendhing Mongkok Dhêlik minggah Randhamaya kalajêngaken ladrang Diradameta. Gending ini termasuk kedalam wilayah gending agêng. . Ada beberapa permasalahan yang diajukan dalam skripsi karya seni ini yaitu (1) Mengapa memilih gending Mongkok Dhêlik, (2) Bagaimana garap rêbab pada gending Mongkok Dhêlik. Skripsi ini disusun dengan menggunakan kaidah dan konsep yang sudah ada dalam tradisi karawitan Jawa. Konsep tersebut meliputi konsep garap, alih laras, alih pathêt, mrabot, dan mungguh. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi dan wawancara
Penelitian ini menghasilkan sajian garap rêbab gending Mongkok Dhêlik menggunakan garap alih laras dari laras sléndro menjadi laras pèlog dan juga penambahan iråmå wilêd pada bagian inggah yang sebelumnya hanya menggunakan iråmå dados. Selain itu penelitian ini juga menghasilkan garap rêbab dari gending Lanjar Ngirim yang diaolikasikan ke dalam gending Mongkok Dhêlik. Hasil tersebut tentunya dilandasi dengan kaidah dan konsep yang berlaku di dalam tradisi karawitan Surakarta serta dapat menambah repertoar pembaruan gending gaya Surakarta.
Kata kunci: Mongkok Dhêlik, rêbab, garap, lara
IKLAN PRODUK DOLAN KAYU DENGAN TEMA RAMAH LINGKUNGAN
Pemilihan mainan anak masih banyak yang memakai mainan yang berbahan dasar
plastik. Padahal, hal ini justru mencemari lingkungan karena bahan plastik tidak
dapat terurai dengan baik dan berbahaya. Maka dari itu, sudah saatnya orang tua
beralih dengan menggunakan mainan yang berbahan dasar organik atau kayu
seperti produk mainan anak dari Dolan Kayu. Penelitian ini bertujuan untuk
merancang iklan produk Dolan Kayu dengan tema ramah lingkungan dan
distribusinya agar dapat mencapai target audience. Observasi, wawancara, studi
pustaka, dan dokumentasi digunakan untuk pengumpulan data. Metode analisis
SWOT, metode AISAS, dan Villamil-Molina digunakan dalam membuat
rancangan iklan produk Dolan Kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Iklan
Dolan Kayu menggunakan metode perancangan iklan Villamil-molina, di mana
perancangan ini bekerja lebih baik karena menggunakan perencanaan yanng rinci,
menguasai teknologi multimedia yang baik, dan penguasaan manajemen produksi
yang baik. Selanjutnya dalam tahapan pengiriman hasil iklan akan diuji oleh klien
yakni owner dari Dolan Kayu itu sendir
BURUNG EGRETTA SEBAGAI MOTIF BATIK PADA BUSANA KASUAL REMAJA
Tugas Akhir yang berjudul “Burung Egretta sebagai Motif Batik pada
Busana Kasual Remaja”. Burung kuntul (egretta) merupakan salah satu dari spesies
burung bangau yang populasinya semakin menurun dikarenakan perburuan ilegal
dan habitatnya yang berkurang. Pelestarian burung kuntul perlu ditingkatkan agar
tidak mengalami kepunahan. Bentuk visual burung kuntul menjadi sumber ide
dalam penciptaan motif batik pada busana kasual remaja yang menampilkan kesan
unik dinamis dan anergik. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya tugas
akhir yakni terdiri dari eksplorasi (studi pustaka, observasi, dan dokumentasi),
selanjutnya proses perancangan dengan membuat sketsa alternatif dan desain
terpilih, serta proses perwujudan karya. Proses perwujudan karya menggunakan
teknik batik tulis dengan mewujudkan motif burung kuntul sebagai busana kasual
remaja kemudian diwarna dengan pewarna napthol dan indigosol dengan teknik
tutp celup. Hasil dari penciptaan karya Tugas Akhir ini telah diciptakan 4 motif,
yakni: Motif Holopis Kuntul Baris, Parang Tumpang, Wolung Ler dan Lung Sogan.
Selanjutnya motif tersebut diaplikasikan ke dalam busana kasual yang diberi judul
Niwasana Nisita, Nisita, Jejer Kamulyan, dan Janari, yang dimana setiap busana
memiliki karasteristik bentuk busana dan motif yang berbeda-beda
Industri Kreatif dan Peran Etnomusikologi
Etnomusikologi sebagai lensa pemahaman musik sebagai bahasa tak terucap, menyampaikan pesan kehidupan dan tradisi masyarakat. Penelitian ini fokus pada interaksi kompleks antara musik, budaya, dan identitas. Etnomusikologi menggali bagaimana musik tercermin dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana elemen budaya membentuk karya musik. Pendekatan ini membuka jendela ke jiwa kolektif komunitas, mengungkap musik sebagai katalisator memahami identitas. Ritme, melodi, dan instrumen mencerminkan sejarah, kepercayaan, dan nilai masyarakat. Artikel ini disajikan dalam seminar nasional "Penelitian Etnomusikologi di Era Industri Kreatif" oleh Program Studi Musik Gerejawi FBKK IAKN TORAJA pada 21 Oktober 202
Meneroka Masa Depan Etnomusikologi di Era Industri Kreatif Musik
Dalam era industri kreatif musik, artikel ini membahas isu-isu etika dan hak cipta, menyoroti peran etnomusikologi dalam pelestarian dan pengembangan warisan musik global. Melalui studi kasus di masyarakat Inuit, Amazon, dan Jepang, penelitian ini mengilustrasikan dampak positif etnomusikologi terhadap pelestarian budaya dan ekonomi lokal. Analisis komparatif menunjukkan integrasi etnomusikologi dalam pendidikan musik tradisional di Tibet. Artikel ini merinci praktik terbaik dan kebijakan yang diperlukan untuk memastikan inklusi, diversitas, hak cipta yang adil, dan pelestarian nilai budaya. Masa depan etnomusikologi berpotensi memanfaatkan kecerdasan buatan dan realitas virtual untuk eksplorasi baru dalam penciptaan dan distribusi musik serta integrasi pendidikan musik tradisional dalam kurikulum sekolah. Dengan memegang teguh nilai-nilai etika, hak cipta yang adil, dan melibatkan komunitas, etnomusikologi dan industri kreatif dapat membentuk masa depan di mana musik tetap menjadi bahasa universal yang menghubungkan kita semua
EKSPRESI VISUAL PENCEMARAN SAMPAH PLASTIK PADA KARYA RELIEF
Tugas Akhir Karya ini penulis mengangkat tema Ekspresi Visual Pencemaran
Sampah Plastik Pada Karya Relief. Berawal dari banyaknya permasalahan sampah
plastik yang berdampak negatif bagi lingkungan jika dibuang sembaragan.
Lingkungan berfungsi menyediakan udara, air, tempat tinggal, hingga memberi
iklim dan membuat ekosistem yang penting untuk dijaga. Hal tersebut mendorong
penulis untuk menciptakan karya seni relief yang bertujuan untuk memanfaatkan
sampah plastik serta memberikan pandangan tentang pentingnya menjaga
lingkungan. Bahan yang digunakan dalam karya ini adalah kayu mahoni, sampah
plastik, dan akrilik. Proses perwujudan karya ini diawali dari proses desain, proses
kerja bangku, pecah pola, proses pengukiran relief, proses pengolahan sampah
plastik, Proses finishing, dan Proses sungging. Landasan teori yang digunakan
dalam karya tugas akhir ini mengambil teori Dharsono Sony Kartika yang
menjelaskan tiga komponen penciptaan karya seni sebagai landasan karya yaitu
tema, bentuk, dan isi. Penciptaan karya ini menggunakan metode penciptaan karya
seni menurut Gustami tiga tahap enam langkah yaitu eksplorasi meliputi a)
langkah pertama eksplorasi, b) langkah kedua pengendalian landasan teori. Tahap
perancangan, meliputi a) Langkah ketiga menuangkan ide atau gagasan, b)
Langkah keempat adalah visualisasi gagasan dari rancangan sketsa alternatif.
Tahap perwujudan, meliputi a) Langkah kelima yakni tahap perwujudan, b)
Langkah keenam mengadakan penilaian atau evaluasi. Hasil karya tugas akhir ini
meliputi: Karya 1 dengan judul “Segara”, Karya 2 dengan judul “Kali”, Karya 3
dengan judul “Kutha”, Karya 4 dengan judul “Kedhung” dan Karya 5 dengan
judul “Muara”
KOLINTANG TIGA BILAH UPAYA PENELUSURAN CIKAL BAKAL KOLINTANG MASA KINI
Penelitian ini berjudul “Kolintang Tiga Bilah Upaya Penelusuran Cikal
Bakal Kolintang Masa Kini”, bertujuan untuk mengungkap cikal bakal
keberadaan musik kolintang masa kini yang berkembang di
Minahasa.Musik tradisional kolintang yang sering dimainkan sekarang
memiliki perjalanan sejarah yang menarik.Ansambel kolintang
merupakan perkembangan dari tiga potong kayu sebagai media dalam
upacara ritual.Kebiasaan masyarakat Minahasa pada zaman dulu selalu
berkaitan dengan kayu, oleh karena itu pendekatan Alan P. Merriam
digunakan dalam penelitian ini di mana suatu kebudayaan terbentuk dari
cara hidup masyarakat. Pendekatan Merriam tersebut berfungsi untuk
mengungkap ketiga rumusan masalah tersebut, yaitu: Bagaimana
keberadaan kolintang tiga bilah dalam praktik kehidupan masyarakat
desa Lembean, Minahasa Utara, bagaimana bentuk organologi dan
kebiasaan memainkan kolintang tiga bilah, dan bagaimana kronologi
perkembangan kolintang tiga bilah hingga masa kini.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, keberadaan kolintang tiga bilah
sangat melekat dalam kehidupan masyarakat desa Lembean karena
adanya peninggalan tempat ritual yang bernama bukit Waleposan dan
kolintang tiga bilah sering digunakan dalam upacara ritual.Organologi
kolintang sebelum menjadi ansambel hanya terdiri dari tiga potong kayu
yang menyerupai tongkat, dari tiga kayu ini masyarakat Minahasa zaman
dulu sering memainkan kolintang ini. Kolintang tiga kayu kemudian
menjadi kolintang tiga bilah lalu berkembang menjadi kolintang lima
bilah, kolintang tujuh bilah, kolintang sembilan bilah, kolintang melodi,
dan pada saat ini menjadi ansambel kolintang. Perkembangan kolintang
terus berlangsung hingga saat ini
PERANCANGAN INTERIOR GEDUNG PERTUNJUKAN DI SUKOHARJO
PERANCANGAN INTERIOR GEDUNG PERTUNJUKAN DI SUKOHARJO (Wardhani Era Sartene, 2023, xiii, 184 Halaman ). Tugas Akhir Karya S-1 Program Studi Desain Interior, Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Perancangan Interior Gedung Pertunjukan di Sukoharjo merupakan sebuah upaya untuk merealisasikan program unggulan Gubernur Jawa Tengah tahun 2018-2023 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2021-2026, yakni dibidang rumah kebudayaan di Sukoharjo. Perancangan ini bertujuan untuk mewujudkan program Pengembangan Rumah Kebudayaan Jawa Tengah khususnya Sukoharjo dengan fasilitas yang sesuai dengan Standar Pelayanan Gedung Pertunjukan di Indonesia. Metode perancangan yang digunakan meliputi tiga tahap yaitu Analisis, Sintetis dan Evaluasi. Perancangan ini menggunakan tema transformasi dari Batik Truntum, yaitu sebagai lambang cinta agar generasi muda khusunya Sukoharjo selalu mencintai kebudayaan yang ada di Sukoharjo agar tetap lestari. Gaya Interior yang digunakan adalah gaya interior Eklektik. Demikian perancangan ini menghasilkan desain interior Gedung Pertunjukan yang memiliki fasilitas Panggung, Auditorium, Ruang Operator, Area Latihan, Ruang Kostum dan Ruang Rias, Lobby, dan Area Servis