Institut Seni Indonesia Surakarta

Institut Seni Indonesia Surakarta
Not a member yet
    7065 research outputs found

    DESAIN IDENTITAS VISUAL MUSEUM MELANGE KARANGSAMBUNG DENGAN TEKNIK DESIGN THINKING

    Get PDF
    Walaupun sudah berdiri sejak tahun 1964, Museum Melange tidak memiliki visual identity. Perancangan identitas visual dan media promosi yang tepat merupakan strategi kreatif untuk bersaing dengan industri sejenis (Sriwahyuni dan Basnendar, 2020). Menurut Kurniansyah dan Oemar (2021) museum perlu untuk membuat sebuah identitas visual karena dapat dimanfaatkan sebagai media pengembangan bisnis dan memperluas target pengunjung. Koordinator Pelaksana Pegelola Koleksi Geodiversitas mengungkapkan bahwa mereka membutuhkan branding untuk menarik pengunjung secara umum, karena kedepannya kawasan ini akan dibuka secara umum dan dijadikan destinasi wisata edukasi

    KEBERADAAN PADEPOKAN SENI PANDHANSARI DI KABUPATEN KARANGANYAR

    Get PDF
    Dalam hal pemberian ruang pertunjukan kesenian, Padepokan Seni Pandhansari memiliki peran yang sangat penting khususnya di Kabupaten Karanganyar. Hal ini tidak lepas dari Endang Sri Sedep, seorang pengusaha, seniman, sekaligus pemilik Padepokan Seni Pandhansari. Penelitian ini dilatar belakangi dengan berdirinya Padepokan Seni Pandhansari pada tahun 2014 di Kabupaten Karanganyar. Tidak seperti padepokan seni pada umumnya yang fokus pada pendidikan atau pelatihan padepokan ini fokus pada pemberian ruang pertunjukan kesenian. Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengungkap (1) Bagaimana aktivitas kegiatan pertunjukan kesenian yang dikelola Padepokan Seni Pandhansari? (2) Mengapa Padepokan Seni Pandhansari dapat populer di Kabupaten Karanganyar? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptik analitik. Penulis menggunakan pemikiran Marx dan Sedyawati. Berdasarkan hal tersebut, didapatkan gambaran mengenai aktivitas kegiatan pertunjukan kesenian dan faktor keberadaan Padepokan Seni Pandhansari populer di Kabupaten Karanganyar. Endang bersama pengurus dan anggota Padepokan Seni Pandhansari melakukan aktivitas kegiatan meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian. Endang Sri Sedep menjadi faktor utama penyebab padepokan tersebut populer

    CANDRANINGSIH, GENDHING KETHUK 2 KEREP MINGGAH 4 LARAS PELOG PATHET BARANG, SAJIAN MRABOT : KAJIAN GARAP KENDANG

    Get PDF
    Skripsi karya seni ini berjudul Candraningsih, Gendhing Kethuk 2 Kerep Minggah 4 Laras Pelog Pathet Barang. Sajian Mrabot : Kajian Garap Kendang. Gagasan dalam skripsi karya seni ini adalah (1) bagaimana menggarap sebuah gending dengan rangkaian mrabot, dan (2) bagaimana garap kêndhangan gending dalam rangkaian mrabot. Dua permasalahan ini dikaji berdasarkan konsep garap, laya, irama, matut, dan mungguh. Data penelitian dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara kepada sejumlah seniman karawitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penulis mendapatkan sajian gending mrabot dengan rangkaian dari bentuk lagon, gendhing kêthuk 2 (loro) kêrêp minggah 4 (papat), ladrang, ayak-ayak, srêpêg, dan palaran. Gending garap mrabot ini terdiri dari kêndhangan ciblon sêkaran pêmatut gaya Surakarta, kêndhangan sêtunggal sléndro, ciblon sêkaran baku, ciblon sêkaran Singgêtan, kêndhang kalih ladrang tanggung, kêndhang kalih ladrang dadi gaya Yogyakarta, ciblon gambyakan gaya Nartosabdho, dan ciblon sêkaran pêmatut ayak-ayak, srepeg, palaran gaya Surakarta. Konsep garap mrabot diterapkan untuk mendapatkan ragam kêndhangan dalam satu kesatuan rangkaian gending

    GAYA PERMAINAN GITAR FINGERSTYLE OLEH FAY EHSAN DENGAN TEKNIK PERKUSIF WIRANG DRUMMING

    Get PDF
    Wirang Drumming, adalah teknik permainan gitar freestyle penemuan Fay Ehsan (asal Indonesia) yang cara memainkannya adalah dengan dibaringkan dan mentapping pada fretboard gitar. Teknik ini mempunyai ciri khas perkusif yang lebih kental dan berbeda pada umumnya karena menggunakan jari kelingking dan siku untuk menirukan suara kick drum. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung, mendengarkan karya, memainkan teknik Wirang Drumming, lalu melakukan analisis. Pendekatan yang dilakukan menggunakan konsep kompetensi musikal dari Benjamin Brinner; untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi kreativitas Fay Ehsan, teori Fingerstyle dari Pearso wyn; untuk mengidentifikasi teknik permainan fingerstyle yang digunakan Fay Esan, dan teori Wallas dalam Munandar; untuk mengetahui proses kreativitas Fay Ehsan. Kemudian dalam penelitian ini, penulis mengulas beberapa bahasan yaitu: (1) Dunia kesenimanan Fay Ehsan, meliputi proses kesenimanan dan prestasi, filosofi mendasar penamaan Wirang Drumming, latar belakang mengapa Fay Ehsan membentuk gaya musikalnya yang meliputi faktor internal dan eksternal. (2) Proses Fay Ehsan menemukan teknik-teknik baru dalam bermain gitar yang menjadi ciri khas permainannya yang meliputi tuning, melodi, dan teknik-teknik apa saja yang berhasil dimodifikasi Fay Ehsan sehingga menjadi teknik temuan barunya. (3) Mengetahui langkah-langkah dasar dalam praktik Wirang Drumming. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Fay Ehsan adalah seniman musik yang gigih, senang berimajinasi, melakukan eksperimen dan berjiwa religius. Teknik Wirang Drumming pada gitar sifatnya way of play dan way of think (membutukan konsentrasi tinggi) dimainkan menggunakan 10 jari disertai dengan anggota tubuh lainnya seperti siku dan telapak tangan. Teknik ini memiliki aspek perkusif lebih kuat yang menjadi pembeda dari teknik fingerstyle pada umumnya, mempunyai tuning khusus, dan membutuhkan latihan extra karena memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Selain mahir dalam memainkan gitarnya, Fay Ehsan juga memiliki kemampuan ekstra musikal yang ditunjukan dengan penampilannya pada karya video “Pray for Bali I”. Dalam video tersebut Fay Ehsan menampilkan keterampilan dalam atraksi dan ekspresi penjiwaan yang selaras dengan tema pada karya “Pray for Bali I”. Kata Kunci: Fingerstyle, Wirang Drumming, Fay Ehsa

    ESTETIKA NUSANTARA DALAM PRAKTIK NYANYIAN PERIBADATAN INKULTURATIF DI GEREJA KATOLIK SANTO PIUS X KARANGANYAR

    Get PDF
    Penelitian ESTETIKA NUSANTARA DALAM PRAKTIK NYANYIAN PERIBADATAN INKULTURATIF DI GEREJA KATOLIK SANTO PIUS X KARANGANYAR ini berusaha mengungkap dua masalah yang berkaitan dengan praktik nyanyian peribadatan inkulturatif dalam peribadatan di Gereja Katolik Santo Pius X Karanganyar, yaitu: (1) Bagaimana wujud estetika Nusantara dalam peribadatan (liturgi) di Gereja Santo Pius X Karanganyar? (2) Bagaimana praktik musik inkulturatif Gereja Katolik dalam peribadatan yang dilakukan di Gereja Santo Pius X Karanganyar? Masalah dianalisis berdasarkan teori upacara keagamaan Koentjaraningrat terutama dalam hal penggunaan musik dalam upacara keagamaan, teori kegunaan dan fungsi musik Alan P. Merriam khususnya fungsi penghayatan estetis, konsep liturgi dan inkulturasi menurut Gereja Katolik dalam pandangan Karl-Edmund Prier dan Martasudjita, serta analisis musik. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data-data dikumpulkan melalui studi pustaka, wawancara, dan pengamatan terhadap praktik nyanyian peribadatan inkulturatif di Gereja Katolik Santo Pius X Karanganyar. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, terdapat estetika Nusantara dalam peribadatan di Gereja Katolik Santo Pius X Karanganyar melalui nyanyian peribadatan inkulturatif di tengah-tengah nyanyian peribadatan gregorian dan klasik gerejawi. Kedua, praktik musik peribadatan inkulturatif sesuai dengan maksud inkulturasi sehingga memperkaya musik peribadatan di Gereja Santo Pius X Karanganyar, yaitu dengan menambah khazanah musik peribadatan Gereja Katolik selain tetap menggunakan musik jenis gregorian, klasik gerejawi maupun karya baru bergaya Barat. Kata kunci: nyanyian inkulturatif, inkulturasi, estetika nusantara, gereja santo pius x karanganya

    PERAN DAN POLA TABUHAN RICIKAN PEKING DALAM SAJIAN KARAWITAN GAYA SURAKARTA

    Get PDF
    Penelitian ini berusaha menjelaskan mengenai peran dan garap ricikan peking pada perangkat gamelan ageng. Agar pembahasan lebih fokus maka dibatasi pada dua permasalahan mendasar: (1) bagaimana peran ricikan peking dalam sajian karawitan gaya Surakarta; dan (2) bagaimana pola tabuhan pada setiap peran ricikan peking di dalam sajian karawitan gaya Surakarta? Kedua permasalahan tersbut dianalisis menggunakan teori peranan yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto dan pola tabuhan yang berhubungan dengan irama dan laya. Penelitian ini bersifat kualitatif. Data-data dikumpulkan dengan cara melakukan studi pustaka, observasi dan wawancara dengan para pengrawit terpilih. Hasil dari penelitian ini dapat menunjukkan bahwa pertama, peran ricikan peking dalam sajian karawitan gaya Surakarta antara lain pengurai dan pengisi sela-sela balungan gendhing, membantu menjaga tempo, ricikan penentu irama, membangun jalinan melodi dan memperkuat cengkok. Setelah peran-peran ricikan peking sudah teridentifikasi, maka terdapat pola tabuhan sebagai bukti bahwa benar adanya peran yang di emban oleh ricikan peking tersebut

    PADA GELAHANG:INTERCULTURAL TOLERANCE PADA KOMUNITAS RAGA BALI DI SURAKARTA

    Get PDF
    Artikel ilmiah ini ditulis dengan maksud mengkisahkan aktivitas membangun toleransi melalui ruang Komunitas Raga Bali. Sebuah komunitas musik yang memiliki kesadaran pengetahuan toleransi keberagaman dengan menjalankan prinsip local genius budaya Bali bernama Pada Gelahang. Perspektif fungsionalisme digunakan untuk memahami 1) struktur, 2) fungsi, dan 3) tindakan pada komunitas Raga Bali sebagai komponen-komponen yang bekerja atau dipakai dalam menanamkan toleransi. Komponen-komponen pada setiap kegiatan komunitas Raga Bali diyakini memiliki fungsi-fungsi edukasi toleransi multikultiralisme. Hasil simpulan dari Artikel ilmiah ini adalah 1) dalam struktur organisasi, I Komang merupakan inisiator dan relawan yang pertama, pemilik ide dan inisiator yang membentuk dan membangun Komunitas Raga Bali sebagai Laboratorium budaya untuk mengembangkan sikap-sikap toleransi dalam konsep Pada Gelahang. 2) Didalam Komunitas Raga Bali, I Komang dibantu oleh Mukhlis. Mukhlis menjalankan peran fasilitator yang mengimplementasi konsep ke dalam kegiatan atau hal-hal yang harus dilakukan dalam memfasilitasi anggota Komunitas Raga Bali belajar sesuai dengan keadaan atau kenyataan yang diinginkan oleh I Komang atau kesepakatan komunitas. 3) implementasi Pendidikan toleransi pada komunitas adalah kegiatan sosial dibalik proses pelatihan Gamelan Bali. Komunitas ini menghayati toleransi melalui bentuk interaksi musikal, memainkan sebuah sajian musik Gamelan Bali diharuskan untuk menggunakan sikap bergotong-royong, saling peduli, menjaga stabilitas sosial, dan lain sebagainya. Kata kunci: Komunitas Raga Bali, Pada Gelahang, Laboratorium Tolerans

    GARAP SINDHENAN SÈNGGRÊNG GENDHING KETHUK 2 KÊRÊP MINGGAH 4 LARAS SLENDRO PATHET NEM

    Get PDF
    Skripsi karya seni ini menganalisis garap sindhènan pada rangkaian mrabot Gendhing Sènggrêng. Garap sindhènan yang dimaksud adalah persoalan penerapan sindhènan meliputi garap mandheg pada bagian mérong dan inggah, pemilihan dan penerapan céngkok sindhènan berikut wangsalan yang digunakan. Metode yang digunakan dimulai dari proses perancangan karya seni, termasuk di dalamnya tahap persiapan yang terdiri dari orientasi dan observasi karya seni, kemudian melakukan penggarapan karya seni yang meliputi eksplorasi dan improvisasi yang dilakukan saat proses latihan dan adanya evaluasi. Pengumpulan dilakukan dengan studi pustaka, observasi, dan wawancara. Analisis dalam skripsi karya seni ini, menggunakan beberapa konsep musikal karawitan, seperti konsep garap, konsep mandheg, konsep padang ulihan dan konsep mungguh.Hasil dari penelitian ini antara lain; garap sindhènan mandheg pada mérong dan garap sindhènan pada inggah, serta teknik ngepas, ngenongi, plesedan, dan angkat seleh, garap wangsalan dan abon-abon. Semuanya terangkai dalam satu kesatuan garap sindhènan Gendhing Sènggrêng. Kata kunci : garap, sindhènan , sengreng

    NGAMPAT DALAM KENDANGAN GAYA SURAKARTA (Studi Kasus Gending-Gending Klenengan)

    Get PDF
    Skripsi karya ilmiah ini memaparkan hasil analisis Ngampat dalam sajian gending karawitan gaya Surakarta dalam studi kasus gendinggending klenengan. Pada skripsi karya seni ini membahas tentang fungsi dan garap Ngampat dalam proses garap sajian gending yang dirangkum dalam dua permasalahan yang diajukan yaitu, (1) mengapa ngampat diperlukan dalam proses garap gending?, (2) bagaimana ngarap dalam sajian garap gending?. Dua permasalahan tersebut dikaji dan di analisis berdasarkan kejadian-kejadian dalam garap sajian karawitan gaya Surakarta. Data-data penelitian dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara kepada sejumlah seniman karawitan. Penulis menganalisis berdasarkan teori garap dan teori komunikasi, serta dinamika yang terdapat pada musikalisasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ngampat diperlukan dalam garap gending yang memiliki peralihan dari satu irama menuju irama ke satu tingkat di atasnya, dan perpindahan struktur gending dari merong menuju umpak inggah, serta sebagai ater atau penanda sajian gending akan melakukan suwuk. Kata kunci : ngampat, kendang, irama

    JAMU GENDONG SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK UNTUK BUSANA READY TO WEAR WANITA

    Get PDF
    Jamu gendong merupakan tradisi pekerjaan membawa berbagai minuman kesehatan khas Indonesia yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Tujuan dari Tugas Akhir Kekaryaan ini adalah menciptakan motif batik dengan sumber inspirasi racikan bahanbahan jamu dan kelengkapannya untuk busana ready to wear wanita. Alasan pengambilan tema jamu gendong dalam penciptaan motif batik untuk busana ready to wear wanita karena untuk mengapresiasi budaya turun temurun yang penuh makna filosofis. Penciptaan karya batik tulis menggunakan metode penciptaan seni eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Karya yang disajikan menggunakan teknik batik tulis mewujudkan motif batik dengan gaya stilasi. Hasil yang diperoleh dari penciptaan karya ini berjumlah lima karya dengan judul keseluruhan Akarasida. Masing-masing karya memiliki nama motif ceplok ngunirasem, ceplok ngasem, woskencur, kwung temulawak, dan njalar dongkates. Warna batik yang dijadikan acuan dalam pembuatan karya Tugas Akhir ini adalah warna-warna jamu, yaitu coklat, kuning dan hijau. Busana ready to wear yang diciptakan ditargetkan untuk pemakaian wanita dewasa usia 22 hingga 28 tahun

    4,416

    full texts

    7,065

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Institut Seni Indonesia Surakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇