7065 research outputs found
Sort by
MOTIF KANGKUNG SETINGKES DI GODHO BATIK BANYUWANGI
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sejarah motif batik Banyuwangi
dan estetika motif batik Kangkung Setingkes di Godho Batik Banyuwangi. Dalam
pembahasannya juga dijelaskan sejarah awal munculnya batik Banyuwangi,
perjalanan Firman Sauqi dalam menjalankan usaha batik, estetika motif batik
Kangkung Setingkes ditinjau dari teori estetika Monroe Beardsley yaitu kesatuan,
kerumitan, dan kesungguhan.
Penelitan ini merupakan riset deskriptif dengan data kualitatif. Perolehan
data penelitian ini dengan metode observasi secara langsung, wawancara dengan
owner Godho Batik, budayawan, seniman. dan dokumentasi foto-foto motif batik
Kangkung Setingkes. Keabsahan data didapatkan menggunakan cara triangulasi
data dengan membandingkan hasil pengamatan dan wawancara dengan beberapa
informan, selanjutnya data di analisis dengan teknik analisis kualitatif yaitu
reduksi data, kategori data, pengambilan kesimpulan, dan verifikasi.
Hasil dari penelitian ini, peneliti dapat mengambil kesimpulan: Motif
Kangkung Setingkes di Godho Batik secara keseluruhan memiliki karakteristik
yang kuat, baik dari tema, warna, dan bentuk dilihat dari aspek estetika kesatuan,
kerumitan, dan kesungguhan. Ada 6 jenis motif Kangkung Setingkes yang
diproduksi oleh Godho Batik yaitu (1) Motif Kangkung Setingkes Latar Totogan.
(2) Motif Kangkung Setingkes latar Moto Pitik. (3) Motif Kangkung Setingkes
latar Galaran. (4) Motif Kangkung Setingkes latar Padas Gempal. (5) Motif
Kangkung Setingkes latar Beras Kutah. (6) Motif Kangkung Setingkes latar
Gedega
RONGGÉNG BERDIGIT
Gagasan utama karya ―Ronggéng Berdigit‖ adalah gagasan ketubuhan
Ronggéng yang hidup melampaui setiap perubahan zaman, dengan kata
lain gagasan utama karya ini adalah gagasan tentang daya tahan hidup
(survive) sosok Ronggéng yang mempu bertahan dalam dimensi waktu
lampau hingga masa kini, dan panggung konvensional hingga panggung
digital.
Secara konseptual, gagasan karya ini merujuk pada konsep tubuh,
pengalaman ketubuhan, dan citra ketubuhan. Gagasan tersebut kemudian
secara praktis dituangkan menjadi karya dengan menggunakan metode
kolaborasi di mana unsur digital (multimedia), artistik (efek digital), dan
musikal menjadi unsur utama kolaborasi atas gerak tubuh Ronggéng.
Eksplorasi terhadap identitas tradisi (Ronggéng masa lalu), dan kekinian
juga menjadi bagian penting.
Hasilnya, gagasan karya ketubuhan dielaborasi dari media tradisi dan
media non-tradisi, khususnya transformasi media yang memungkinkan
karya ini pada akhirnya bisa dinikmati menembus ruang dan waktu.
Menembus ruang dan waktu dalam arti, karya ini diproduksi sebagai
karya digital yang melibatkan multimedia. Apresiator tidak harus selalu
hadir ke dalam gedung melihat panggung pertunjukan di jam tertentu
sesuai dengan waktu pertunjukan, melainkan bisa menyaksikan dari dan
di mana saja, termasuk kapan saja
KOMUNIKASI RELIGIO-ESTETIK: STUDI KASUS PERTUNJUKAN WAYANG PAMARTA LAKON KATRESNAN-KU TANPA WATES SAJIAN WAHYU DUNUNG RAHARJO
Tesis ini membahas tentang bagaimana wayang Pamarta digunakan
sebagai media tranformasi nilai religius bagi komunitas umat Kristiani,
dengan rumusan masalah: (1) Bagaimana sanggit dan garap pertunjukan
wayang Pamarta lakon Katresnan-Ku Tanpa Wates karya Wahyu Dunung
Raharjo; dan (2) Bagaimana resepsi penonton khususnya umat Kristiani
dalam mengamati nilai-nilai yang terkandung di dalam sajian pakeliran
lakon Katresnan-Ku Tanpa Wates karya Wahyu Dunung Raharjo? Rumusan
masalah pertama dianalisis berdasarkan teori Sanggit dan Garap yang
dikemukakan oleh Sugeng Nugroho (2012), sedangkan permasalahan
kedua dianalisis dengan teori Resepsi Khalayak atau Audiens yang
dikemukakan oleh Stuart Hall (2011). Data penelitian didapatkan dari
studi pustaka, observasi, dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lakon Katresnan-Ku Tanpa
Wates sajian Wahyu Dunung Raharjo terinspirasi dari khotbah Pendeta
Petrus Agung. Setelah melalui proses berpikir yang panjang, kemudian
diwujudkan menjadi suatu karya seni pertunjukan wayang Pamarta.
Proses tersebut dilakukan dengan menginterpretasi berbagai Kitab Suci
Agama Kristen serta digarap berdasarkan sanggit dan garap lakon pakeliran
padat. Mayoritas penonton menyatakan menerima pertunjukan wayang
Pamarta sebagai bentuk lain media stimulan untuk menghayati nilai-nilai
Kristiani. Dengan adanya inovasi dalam hal struktur adegan, garap catur
yang banyak memunculkan ginem banyol, penyajian sabet representatif
yang wijang dan mungguh, serta garap karawitan pakeliran yang bernuansa
Kristiani, menjadikan pertunjukan wayang Pamarta lebih mudah dipahami
dan dapat dihayati secara penuh oleh penonton
LARUNG SESAJI DALAM MOTIF BATIK UNTUK BUSANA CASUAL WANITA DEWASA
Karya tugas akhir dengan judul Larung Sesaji Dalam Motif Batik Untuk Busana CasualWanita Dewasa tercipta berdasarkan keteterarikan dari makna pada upacara larung sesaji. Pemilihan sumber ide ini bertujuan penciptaan motif batik tulis kreasi baru larung sesaji dan sebagai sarana pengenalan salah satu kebudayaan Indonesia yang diterapkan dalam busana casual wanita dewasa. Pengkarya berharap upaya ini mampu menginspirasi para pengkarya dalam masyarakat agar mau mengangkat budaya-budaya yang ada di Indonesia yang tidak kalah menarik. Penciptaan karya ini menggunakan tiga tahap enam langkah yakni pengumpulan data, seperti melakukan pengamatan pada upacara larung sesaji, perancangan atau memvisualkan sumber yang didapat menjadi desain alternatif, desain terpilih dan desain disempurnakan. Tahap perwujudan atau menjadikan karya nyata batik dengan tehnik tutup celup menggunakan warna alam lalu kain batik di jahit menjadi busana casual Wanita dewasa. Hasil karya berjumlah 4 busana casual dengan judul Bahtera Sagara dengan nama motif Lakara Meraki, Rahsa Linuhung dengan nama motif Abyudaya Dakara, Grahita Sampena dengan nama motif Hirap Mara dan Dahayu Kalis dengan nama motif Asa Arshaka. Karya busana ini dilengkapi dengan aksesoris seperti anting, hiasan rambut dan sepatu docmart. Dengan karya ini pengkarya mengenalkan kepada masyarakat terutama pada kaum muda untuk terus melestarikan kebudayaan dengan memunculkan ide-ide baru yang berbau kebudayaan Indonesia.
Kata kunci : larung sesaji, batik tulis, busana casua
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT DAMPAK POLA ASUH OVER PROTECTIVE ORANG TUA PADA PERKEMBANGAN REMAJA
Pola asuh orangtua memegang peranan besar dalam perkembangan remaja,
namun disisi lain masih banyak orangtua yang keliru akan pola asuh yang idealnya
dilakukan, terdapat sebagian orangtua yang memberikan kasih sayangnya dengan
berlebihan atau over protective. Hal ini dapat memungkinkan seorang remaja
merasa stress, depresi, bahkan melarikan diri dari keyataan. Tujuan perancangan ini
yaitu memberikan edukasi kepada orangtua agar melakukan pencegahan mengenai
pola asuh over protective yang dapat memicu dampak buruk bagi remaja. Metode
pengumpulan data yang digunakan dalam perancangan ini ialah dengan
menggunakan data primer berupa wawancara dan kuesioner sedangkan data
sekunder berupa kepustakaan dan internet. Hasil perancangan berupa iklan audio
visual layanan masyarakat dengan durasi 04:41 detik yang dipublikasikan di media
YouTube
MELATI SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK PADA BUSANA CASUAL WANITA
The Jasmine Flower (Jasminum sambac) is a species of Jasmine native to South Asia in India, Myanmar, and Sri Lanka. In Indonesia, jasmine flowers are a type of flower that is one of the "Puspa Bangsa" or can be called a national symbol flower, namely red and white. Jasmine flowers symbolize purity and purity, beauty, in simplicity and humility and become an indispensable part of various traditional ceremonies in many regions in Indonesia. Jasmine flowers have a small shape when they bloom, but Jasmine flowers have a scent that is as fragrant as other flowers do not have. This uniqueness makes the author want to visualize Jasmine flowers into casual clothes with a touch of batik. The purpose of making casual clothes with the source of the jasmine flower idea is to be able to create Jasmine flower designs to batik motifs, be able to apply Jasmine flower batik motifs in casual clothes, and can realize batik motifs in casual clothes with the source of Jasmine flower ideas. The creation of this work was carried out using the three-stage and six-step method of workmanship. The three stages, namely the exploration stage, the design stage, and the embodiment stage. In the process of making the design of the Melati flower batik motif, it begins with the observation of Jasmine flowers from the flowers, buds, stalks, and leaves. Sketching casual fashion by looking for references to casual fashion forms on the internet and books. Then an alternative sketch that has been created, selected and refined according to the creative ideas of the author. The process and results of making this final project work have three achievements, the first is to be able to create batik motifs with the source of jasmine flower ideas. The second achievement is being able to design casual clothes with the application of Jasmine flower batik motifs. The third achievement is to be able to realize casual fashion design work with the application of jasmine flower batik motifs. The result of this women's casual fashion work is in the form of 4 (four) casual clothes with Jasmine flower batik motifs with the title of Camouflage, News Caster, Spy, and Sneaker works.
Keyword: Casual Clothes, Jasmine Flowers, Batik, Batik Motifs
BENTUK MOTIF BATIK KONTEMPORER DI DESA KLIWONAN KECAMATAN MASARAN KABUPATEN SRAGEN
Bentuk Motif Batik Kontemporer di Desa Kliwonan Kecamatan Masaran
Kabupaten Sragen (Lathifah Nur Azizah Sutrisni, 2018, 18147104). Skripsi S-1
Kriya Seni, Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia
Surakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Memahami proses perancangan batik
kontemporer yang meliputi bahan, kegunaan, teknis pelaksanaan. (2)
mengeksplorasi dan menganalisis bentuk motif batik kontemporer yang
dikembangkan oleh para pengrajin di Desa Kliwonan Kecamatan Masaran
Kabupaten Sragen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengrajin batik di Desa Kliwonan
Masaran Sragen mengembangkan batik kontemporer dengan menggabungkan
elemen tradisional dengan sentuhan modern. Beberapa ragam hias yang
ditemukan antara lain motif geometris, flora, dan figuratif yang diadaptasi dari
benda-benda modern. Peneliti juga menemukan bahwa pengrajin batik di Desa
Kliwonan Masaran Kabupaten Sragen mempertahankan teknik pembuatan batik
tradisional sambil mengadopsi teknologi modern untuk mempercepat proses
produksi dan meningkatkan kualitas hasil akhir.
Peneliti menyimpulkan bahwa batik kontemporer Kliwonan adalah hasil
pengalaman panjang para pelaku usaha bekerja sebagai karyawan/buruh batik di
perusahaan milik para juragan batik di Laweyan Surakarta. Adanya tuntutan
konsumen akan batik kreasi menumbuhkan pengembangan ragam hias kreasi
yang membuahkkan motif yang cenderung bersifat kekinian atau kontemporer.
Ciri khas batik kontemporer Kliwonan terlihat pada warnanya, yang lebih
berani seperti merah, hijau/kuning, sehingga terlihat lebih ramai. Unsur-unsur
yang muncul pada motif batik Kliwonan mayoritas adalah motif kontemporer
flora, motif fauna, dan motif abstrak modern, unsur pola yang terdiri dari motif
utama dan motif pinggiran. Perwujudan batik melalui teknik tulis, cap dan
printing. Keistimewaan lainnya masih dominannya batik tulis dibanding batik cap
atau printing.
Kata kunci: Latar Belakang Perjalanan Batik Kliwonan, Batik, Motif
Kontem
METAFORA VISUAL DEKONSTRUKSI WAYANG ALTERNATIF NEW MEDIA ART KARYA HERI DONO
Wayang alternatif merupakan visual wayang yang diekspresikan secara
personal oleh Heri Dono dan merupakan interpretasi metafora visual
dekonstruksi yang ditampilkannya dalam setiap karyanya termasuk karya
new media art. Metafora visual dekonstruksi ini menarik untuk dikaji
karena dapat menjadi alternatif pengetahuan kecenderungan kekaryaan
bagi seniman kontemporer Indonesia. Hal ini dapat diketahui melalui
menjawab rumusan masalah, yaitu: 1) bagaimana kecenderungan visual
kreasi karya Heri Dono ditilik dari jejak kesenimanan dan warna-warni
kekaryaannya? 2) bagaimana metafora visual, dekonstruksi dan makna
dalam kekaryaan Heri Dono khususnya dalam karya new media art?
Penelitian ini menggunakan pendekatan kritik holistik dengan didukung
teori kreasi dari Primadi Tabrani untuk menjawab jejak memori dan kreasi
karya Heri Dono, dan teori makna semiotika Roland Barthes untuk
memahami makna karya Heri Dono. Teknik metodologi yang dilakukan
melalui pengumpulan data menggunakan purposive sampling dengan
metode: studi artefak, wawancara, kaji dokumentasi, dan kaji pustaka.
Analisis mengunakan analisis interaktif, yakni mengkomparasikan data,
mengobservasi ulang, dan menyambungkan dengan analisis teori yang
digunakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Wayang alternatif
merupakan kecenderungan yang muncul dalam kekaryaan Heri Dono
dan merupakan deformasi memori kolektifnya dan pemikirannya tentang
seni dan kehidupan. 2) Wayang merupakan metafora antrophomorphic dan
bersifat kontekstual yang dipinjam sebagai replacement retorika oleh Heri
Dono, dekonstruksi merupakan pertentangan Heri Dono mengenai tradisi
dan modern, sedangkan makna kekaryaannya merupakan retorika
pemikirannya tentang isu politis yang ada di masyarakat mengenai
kebebasan berpendapat dan ketidakharmonisan yang seirama
MOTIF BATIK PRASASTI ANJUK LADANG DALAM BUSANA KEBAYA MODERN
Prasasti Anjuk Ladang sebagai sumber ide penciptaan motif batik terinspirasi
dari manfaat Prasasti Anjuk Ladang yang bernilai tinggi yaitu sebagai sumber
pengetahuan sejarah bagi generasi penerus bangsa, menjadikan Prasasti Anjuk Ladang
sebagai sumber inspirasi penulis dalam pembuatan karya seni untuk tugas akhir.
Kabupaten Nganjuk merupakan tanah kelahiran penulis yang menjadikan inspirasi
penulis untuk mengangkat potensi sejarah yang ada dalam tanah kelahirannya yaitu
Prasasti Anjuk Ladang. isi Prasasti Anjuk Ladang yaitu tentang kemenangan Pu Sindok
dalam melawan perang pasukan Melayu yang dibantu oleh rakyat sipil Kakatikan
Srijayamerta. Demi mencapai kemenangan melawan perang pasukan Melayu, Pu
Sindok mempersatukan rakyat Srijayamerta tanpa memandang status sosial antara
pejabat dengan rakyat biasa demi mendapatkan kemenangan melawan musuh perang.
Dari peristiwa tersebut penulis mengambil pembelajaran mengenai nilai sosial, bahwa
untuk mencapai sebuah kemenangan perlu adanya gotong royong tanpa memandang
status sosial masing-masing individu sehingga dapat mencapai kebahagiaan dan tujuan
bersama. Informasi data didapatkan dari studi pustaka dan observasi secara langsung.
Penciptaan karya batik tulis Prasasti Anjuk Ladang menerapkan metode penciptaan
yang digagas oleh SP Gustami yaitu proses penciptaan karya seni kriya melalui tiga
tahap utama yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Proses penciptaan karya
ini menghasilkan empat karya motif batik yang terinspirasi dari Prasasti Anjuk Ladang
yang diterapkan dalam busana kebaya modern. Harapan penulis semoga karya motif
batik tulis Prasasti Anjuk Ladang dalam busana kebaya modern ini dapat memberi
dampak positif bagi masyarakat Indonesia khususnya kalangan muda generasi penerus
bangsa
MOTIF JAYA STAMBA KABUPATEN NGANJUK UNTUK BUSANA BESKAP DAN JARIK PADA KEBAYA MILENIAL
Penciptaan Karya Tugas Akhir dengan judul Motif Jaya Stamba Kabupaten
Nganjuk Untuk Busana Beskap dan Jarik pada kebaya Milenial (Muhamad
Aldi 2023). Deskripsi kekaryaan D-4 Progam Studi Batik, Jurusan Kriya, Fakultas
Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta. Tugas Akhir karya ini
bertujuan untuk membuat busana beskap dan busana kebaya menjadi model terbaru
agar lebih di minati generasi milenial dengan menerapkan motif Jaya Stamba
kabupatan Nganjuk. Sumber ide utama yang menjadi dasar penciptaan karya ini
adalah berbagai macam bentuk ornament motif Jaya Stamba dan hasil pertanian
Kabupatan Nganjuk. Jaya Stamba merupakan Artefak yang berasal dari Kabupaten
Nganjuk, yang sekarang menjadi ciri khas dan di bangun di tengah-tengan Kota.
Ruang lingkup yang ada pada motif Jaya Stamba Kabupaten Nganjuk dan hasil
pertanian tersebut yang menimbulkan gagasan untuk di kembangkan lebih lanjut
dalam penciptaan batik. Proses penciptaan dalam pembutan karya di mulai dari
mengamati bentuk-bentuk Jaya Stamba dan berbagai hal yang berhubungan dengan
kekayaan alam Kabupaten Nganjuk seperti hasil pertanian dan situs-situs
peninggalan yang ada. Pengamatan melalui survei lokasi dan media cetak kemudian
di tungkan dalam bentu-bentuk motif batik kemudian di tuangkan kedalam pola
alternatif untuk di pilih sebagai motif batik yang akan di terapkan pada busana
kebaya dan beskap.
Proses diawali dengan membuat motif, pola alternatif, pola terpilih, desain,
persiapan bahan dan alat, memindahkan moif kekain, mencanting yaitu nglowongi,
ngisen-ngiseni, dan nemboki, pencelupan, warna, penguncian warna, proses
finishing batik, membuat pola baju, menjahit, dan finishing busana. Teknik yang di
gunakan dalam proses penciptaan karya adalah teknik tulis dangan tutup celup
warna dan colet.
Bahan yang digunakan sebagai bahan dan alat pokok adalah lilin malam, canting,
warna remasol, kain primisima, kain broklat, kain satin dan payet. Hasil karya
berjumlah 4 yaitu 2 busana beskap dan 2 busana kebaya. Masing-masing diberi
judul sesuai dengan karakter dan penampilan serta filoasofi di dalamnya