7065 research outputs found
Sort by
jalan Lembut ke Pengaruh Global
Artikel ini mengulas peran strategis Kota Solo dalam diplomasi budaya sebagai kekuatan lunak (soft power) Indonesia di kancah global. Kota Solo, dengan warisan budaya mendalam seperti Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran, batik, gamelan, dan wayang, bukan hanya pusat budaya Jawa, tetapi juga aktor potensial dalam membangun hubungan antarbangsa melalui kebudayaan. Diplomasi budaya menjadi agenda prioritas Kota Solo 2025, sejalan dengan arah kebijakan nasional Kementerian Kebudayaan. Jejak sejarah menunjukkan eksistensi Solo dalam diplomasi budaya sejak 1889, saat penari Mangkunegaran tampil di Expo Paris dan menginspirasi komposer Prancis, Claude Debussy. Berbagai festival budaya seperti SIPA, Solo Batik Carnival, dan Gamelan Festival menjadi wujud nyata promosi budaya lokal. Penulis menekankan pentingnya penguatan ekosistem budaya yang inklusif dan kolaboratif, termasuk melibatkan generasi muda dan komunitas lokal. Diplomasi budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Di tengah dunia yang semakin saling terhubung dan penuh tantangan, Kota Solo memiliki modal budaya, sumber daya manusia kreatif, serta rekam jejak sejarah yang kuat untuk menjadi duta budaya yang berpengaruh secara global
Perang Royalti di Era Musik Generatif AI
Artikel ini mengulas disrupsi besar yang dihadapi industri musik global akibat penetrasi teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya dalam produksi dan distribusi musik generatif. Teknologi AI memungkinkan penciptaan musik secara otomatis melalui input teks sederhana, mengaburkan batas antara karya manusia dan mesin. Kasus manipulasi platform streaming oleh Michael Smith, yang menghasilkan jutaan dolar melalui lagu fiktif berbasis AI dan jaringan bot, menyoroti celah serius dalam sistem royalti digital berbasis model pro-rata. Artikel ini juga menyoroti ketimpangan distribusi royalti, di mana sebagian besar musisi menerima pendapatan minim sementara segelintir artis menguasai mayoritas pendapatan. Regulasi di berbagai negara, seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat, mulai merespons dengan kewajiban pelabelan konten AI dan pembatasan penggunaan data pelatihan. Namun, tanpa kerangka hukum yang kuat, musisi independen tetap dirugikan oleh praktik streaming palsu dan konten AI massal. Artikel ini menyerukan reformasi sistem royalti, seperti model user-centric, serta pentingnya keseimbangan antara inovasi teknologi dan keadilan ekonomi. Masa depan musik bergantung pada regulasi yang bijak demi memastikan kolaborasi manusia dan mesin tetap etis dan berkelanjutan
Legasi dan Viralitas Inovasi Tradisi: pembelajaran dari perjalanan Gong Kebyar
Naskah ini mengkaji dinamika Gong Kebyar sebagai bentuk inovasi dalam tradisi gamelan Bali yang telah mengalami perluasan makna, penyebaran luas, dan penguatan identitas budaya. Melalui pendekatan teoretis tentang legasi dan viralitas, penulis menguraikan bagaimana Gong Kebyar tidak hanya lahir dari transformasi sosial-politik Bali pascakolonial, tetapi juga berkembang menjadi simbol vital dari daya adaptasi budaya. Legasi Gong Kebyar dipahami sebagai pengaruh berkelanjutan dari warisan musikal sebelumnya seperti Gong Gede dan Semar Pagulingan, serta konteks komunal banjar yang menjadi wahana transmisi nilai budaya. Sementara itu, viralitasnya dijelaskan melalui teori diffusion of innovation, tipping point, dan contagious yang menyoroti peran simbolisme musikal, performativitas, serta daya pikat emosional dan sosial dalam menjangkau audiens lintas generasi. Dengan memadukan ketegangan antara inovasi dan akar tradisi, karya ini menegaskan bahwa Gong Kebyar adalah model unggul bagaimana seni tradisi dapat tetap relevan, dinamis, dan mendunia tanpa kehilangan otentisitasnya. Makalah ini juga menyoroti peran penting aktor-aktor kultural dan institusi dalam menjaga kesinambungan serta daya hidup inovasi tradisional di tengah arus globalisasi budaya
GAYA KOPLO JAWA DALAM KARAWITAN SRAGENAN STUDI KASUS : KELOMPOK MADU RETNO
Skripsi yang berjudul Gaya Koplo Jawa di Karawitan Sragenan Studi Kasus Grup Madu Retno ini bermula dari ketertarikan penulis melihat fenomena Kelompok Madu Retno dengan cirikhas istilah Koplo Jawa dalam pembawaan lagu Dangdut dalam sajian Karawitan Sragenan. Hal tersebut timbul permasalahan yang akan dibahas yaitu, (1) Bagaimana kehidupan Karawitan Sragenan yang dipengaruhi oleh Dangdut koplo, (2) bagaimana Koplo Jawa dimainkan oleh kelompok Madu Retno?.
Penelitian ini menggunakan teori dan konsep dari Rahayu Supanggah tentang garap yang dilakukan oleh kelompok Karawitan Madu Retno dalam pembawaan lagu ke sajian Karawitan. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan melakukan observasi, wawancara dan studi pustaka sehingga dapat memiliki informasi dan data yang akurat.
Hasil penelitian ini adalah munculnya Kelompok Karawitan Madu Retno dengan cirikhas Koplo Jawa dengan munculnya ide-ide baru dalam aransemen lagu guna mempertahankan eksistensi keberadaan Karaitan Sragenan yang kini mulai tergeser dengan munculnya kelompok musik lain (Dangdut dan Campursari).
Kata Kunci : Dangdut Koplo, Karawitan Sragenan, Gaya Musi
TUKANG RABAB DAN KABA RABAB PASISIA DALAM ACARA BARALEK DI NAGARI TALAO SUMATERA BARAT
ABSTRAK
Skripsi berjudul "Tukang Rabab dan Kaba Rabab Pasisia dalam acara Baralek di Nagari Talao Sumatera Barat" ini mengkaji kompetensi dan penyajian kaba rabab pasisia dalam acara baralek di Nagari Talao. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnomusikologi dan teori dari beberapa ahli untuk membedah kompetensi dari Brinner, teknik permainan dari Bruno nettl, dan performance Studies dari Richard Schechner serta metode deskriptif kualitatif melalui wawancara, pengamatan, dokumentasi, dan studi pustaka. Penelitian menemukan bahwa kompetensi tukang rabab di Nagari Talao didasarkan pada usia, pendidikan, dan pergaulan. Pendidikan informal sering diperoleh dari keluarga atau belajar dari tukang rabab senior, dan interaksi antar-seniman penting untuk pertukaran pengetahuan dan keterampilan. Usia menambah kedalaman kompetensi dan pemahaman musikal, yang memengaruhi improvisasi dan ekspresi dalam penampilan rabab pasisia. Penguasaan teknik bermain, pemahaman cerita, dan kemampuan berinteraksi dengan penonton adalah kunci sukses. Kaba, seni tutur lisan di Nagari Talao, melibatkan teknik khusus dalam memainkan rabab pasisia, seperti manggesek dan garitiak. Pembelajaran Rabab menekankan praktik dan pemahaman mendalam, dengan proses bertahap dari kognitif hingga motorik, memungkinkan tukang rabab menyajikan kaba dengan gaya dan interpretasi pribadi. Dalam acara Baralek di Nagari Talao, tukang rabab membuka dengan Pasambahan dan melanjutkan dengan carito, seperti dalam kaba Malang Samanjak Di Rahim. Pasambahan sering dianggap latar belakang oleh penonton yang lebih fokus pada interaksi sosial, sementara carito memikat perhatian dengan lirik yang menggambarkan pengalaman hidup, diperkuat oleh intonasi dan teknik dendang tukang rabab.
Kata Kunci: Tukang Rabab, Kaba, Rabab Pasisia, Kompetensi, pertunjukan Baralek
EKSTRAKURIKULER TEATER KOMPAS DI MAN I NGANJUK: SEBUAH RUANG EKSPRESI DALAM LINGKUNGAN PENDIDIKAN AGAMA
Skripsi karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui sistem pembelajaran ekstrakurikuler Teater Kompas di MAN 1 Nganjuk dan bagaimana kreativitas Teater Kompas sehingga mampu berfungsi sebagai media ekspresi dalam lingkungan pendidikan Agama. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Peneliti menggunakan teori sistem pembelajaran yang dikemukakan oleh Fatoni dan Riyana sebagai acuan untuk meneliti sistem pembelajaran pada Teater Kompas. Selain itu peneliti juga mengacu pada teori kreativitas seni yang dikemukakan oleh Jakob Sumardjo untuk menganalisis bagaimana Teater Kompas mengolah kreativitas dalam lingkungan pendidikan agama yang ketat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pembelajaran pada Teater Kompas dapat ditinjau dari empat komponen sistem pembelajaran yakni; tujuan pembelajaran yang berupa tujuan institusional dan tujuan instruksional; strategi pembelajaran yang terdiri dari perekrutan anggota, diklat, latihan rutin dan studi banding; hasil pembelajaran berupa pementasan dan evaluasi pembelajaran. Kreativitas Teater Kompas yang ditinjau dua aspek yakni nilai instrinsik seni dan nilai ekstrinsik seni.
Kata Kunci: ekstrakurikuler, sistem pembelajaran, Islam
KONSEP PRODUKSI PROGRAM ACARA SENI BUDAYA JAWA JOGJA TV
Efektivitas pengelolaan penyiaran televisi terkait tiga pilar utama, yaitu program, teknik dan pemasaran. Televisi daerah (lokal) yang hadir dengan spirit otonomi daerah. Potensi berbagai daerah selama ini disadari kurang optimal diangkat melalui media televisi. Masyarakat daerah juga mempunyai hak untuk dapat menikmati manfaat yang lebih baik dari ranah penyiaran seperti pada wilayah isi siaran programnya (diversity of content). Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan fokus pada kajian proses produksi program acara siaran televisi menggunakan teori media massa televisi, teori penyiaran televisi, teori produksi program televisi dan teori pelestarian seni tradisi. Teknik purposive sampling yang dipakai untuk memilih tiga sampel program acara siaran televisi seni budaya Jawa yaitu Pawartos Ngayogyakarta, Adiluhung, dan Wayang.
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa: 1). Jogja TV masih mengutamakan materi seni budaya Jawa dengan alasan terkait keberadaannya di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Keraton Yogyakarta dan adanya regulasi penyiaran. 2). Proses produksi program acara di Jogja TV diawali dari deskripsi profil Jogja TV yang kemudian menjadi acuan dasar memproduksi program acara seni budaya. 3). Temuan konsep produksi program acara seni budaya Jawa Jogja TV ini selanjutnya disebut dengan konsep Manguntara.
Konsep Manguntara ini memiliki definisi dalam menciptakan karya seni audio visual khususnya untuk program acara televisi dengan basis seni budaya dan potensi kedaerahan. Dalam konsep ini terdapat tiga unsur penguatnya sebagai tagline yaitu Mentes, Migunani, dan Merakyat. Program acara seni budaya Jawa sebagai materi utama penyiaran sudah harus memikirkan mentes yang artinya berisi. Perumusan konsep program acara dapat disampaikan benar-benar harus kuat dan berisi penuh dengan pesan yang bermakna, informatif, dan edukatif. Migunani diartikan bermanfaat bahwa konsep program acara seni budaya Jawa yang dibuat setelah kuat dan berisi kemudian berguna khususnya bagi masyarakat yang ada di daerah. Merakyat lebih pada pemaknaan bahwasanya program acara seni budaya daerah harus mudah diterima masyarakat
“BUSANA YUPPIE STYLE DALAM FOTOGRAFI FESYEN
Yuppie style muncul sejak tahun 1980an, lalu di Amerika Serikat. Fesyen
urban style ini cenderung identik dengan busana pakaian kantoran yang rapi dengan
aksen minimalist. Salah satunya perpaduan antara blazer dengan rok atau celana
panjang berbahan kain. Kalangan yuppie sering digambaran sebagai orang
berkecenderungan pada karir, meteliaris, dan memiliki gaya hedonistic.
Berawal dari berbisnis thrifting yang sudah dilakukan selama hampir 3
tahun. Usaha berkembang pada event serta berjualan live disosial media seperti
tiktok dan Instagram. Semakin maraknya kegiatan thrifting yang bermunculan pada
trend fesyen sekarang yang dipengaruhi oleh budaya luar kini masyarakat tertarik
pada busana thrift yang dimana harga relatif terjangkau, memiliki merek ternama,
dan memiliki kualiatas yang bagus tidak kalah dengan butik. Di zaman sekarang,
gaya busana yuppie kembali menjadi trend terlihat dari banyaknya anak muda yang
mengenakan perpaduan blazer dan celana, maupun blazer yang dipadukan dengan
rok untuk kegiatan sehari – hari maupun aktivitas perkantoran.
Genre yang dipilih dalam penciptaan karya tugas akhir ini fotografi fesyen
foto yang menampilkan berbagai busana pakaian serta barang-barang fesyen
lainnya. Teknik pencahayaan yang digunakan pada karya tugas akhir ini
menggunakan teknik mixlight dengan menggabungkan cahaya alami dengan cahaya
khusus, Lokasi pemotretan berada di luar ruangan yang berada di ruang public di
Kota Surakarta
KENANGAN INDAH PERMAINAN MASA KECIL SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
Karya Tugas Akhir Seni Lukis yang berjudul “Kenangan Indah Permainan Masa Kecil Sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis” diangkat dari kenangan bermain penulis saat masih kecil di kampung halaman. Asyiknya bermain di kampung halaman saat masih kecil merupakan kenangan yang tidak dapat terulang bagi penulis. Peristiwa yang dipilih ini menjadi kenangan yang membekas bagi penulis, yang ingin membagikan kenangan akan manisnya keceriaan dan seolah menarik untuk digambarkan. Pada proses penciptaan tugas akhir seni lukis ini menggunakan landasan teori L. H. Chapman yang terdiri dari tiga tahapan yaitu, 1). Upaya menemukan gagasan, 2). Menyempurnakan, mengembangkan, dan memantapkan gagasan awal, 3). Visualisasi ke dalam medium. Pada figur anak perempuan yang digambarkan dengan ikat rambut kuncir kuda merupakan wujud asli dari penulis saat masih kecil. Penerapan warna yang cerah dan ceria menjadi acuan utama dalam penciptaan karya tugas akhir, karena dirasa dapat menimbulkan rasa nyaman dan dapat memberikan pemaknaan mendalam yang akan dihadirkan dalam setiap karya melalui objek tersebut. Dengan begitu penulis lebih menampilkan kesan suasana yang berbeda pada setiap lukisan. Penulis menggunakan teknik plakat pada setiap lukisan. Penulis tertarik untuk mengungkapkan ide tersebut ke dalam karya seni lukis dengan menggunakan pendekatan pittura metafisica. Karya tugas akhir penulis ini mempresentasikan 8 karya seni lukis yang menjadikan karya ini sebagai media penulis untuk bersyukur mempunyai kenangan yang indah karena tidak setiap orang mempunyai kenangan yang indah permainan masa kecil di hidupnya dan kenangan itu tidak bisa diulang kembal
Integrasi Seni Tradisional dan Teknologi Modern dalam Pengembangan Sistem Informasi
eni tradisional menghadapi tantangan dalam mempertahankan relevansinya di era
digital yang didominasi oleh teknologi modern. Artikel ini membahas upaya integrasi seni
tradisional dengan teknologi informasi untuk menjembatani kesenjangan antara budaya lokal dan
inovasi teknologi. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan, augmented reality, dan sistem
berbasis aplikasi, seni tradisional dapat diadaptasi ke dalam platform digital yang menarik generasi
modern tanpa kehilangan nilai autentiknya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode kualitatif deskriptif yang menjelaskan dampak sosial, budaya, dan teknis dari
pendekatan ini, serta memberikan rekomendasi strategis untuk kolaborasi antara seniman,
teknolog, dan pengembang sistem informasi. Integrasi ini diharapkan dapat melestarikan warisan
budaya sekaligus mendorong inovasi teknologi berbasis kearifan lokal