7065 research outputs found
Sort by
EKSPRESI WAJAH DENGAN CAHAYA BAWAH DALAM KARYA FOTOGRAFI
Ekspresi wajah merupakan gambaran dari bentuk emosional seseorang yang dipengaruhi oleh kondisi sekitar. Salah satunya pada peristiwa listrik padam yang memunculkan ekspresi wajah dalam suasana gelap atau tidak ada pencahayaan, ide penciptaan tugas akhir ini berawal dari kejadian masa kecil penulis yang trauma pada saat listrik padam, karena pada saat itu penulis di jahili oleh kakaknya yang mengarahkan senter dari bawah mengarah ke wajah dengan ekspresi datar. Ekspresi wajah dengan cahaya bawah dalam karya fotografi merupakan karya tugas akhir yang menampilkan berbagai macam ekspresi wajah berdasarkan kategori usia yakni anak-anak, remaja, dewasa awal, dan dewasa tua yang diciptakan melalui proses dan tahapan yang telah disusun. Visualisasi ekspresi wajah berdasarkan pengalaman hidup penulis seperti: marah, jahat, tersenyum, ngeledek, cemas,
menangis, ketakutan, meremehkan, depresi, joker smile, ngeyel, dan merenung dikemas menggunakan fotografi potret. Pencahayaan yang digunakan adalah cahaya senter led, dan lampu sorot yang diletakkan dari arah bawah objek sebagai
cahaya utama dengan pemilihan teknik low key. Hasil dari penciptaan karya ini adalah mampu menggambarkan ekspresi wajah pada setiap fotonya sehingga dapat memberikan referensi bagi penikmat karya.
Kata kunci: Ekspresi wajah, cahaya bawah, low key, fotografi potret
BASURAH Silek Tuo Silek Ma’rifaik
Karya tari Basurah ini mengangkat objek penciptaan tentang nilai religius yang ada dalam Silek Tuo dari perspektif bentuk dan makna serta aktivitas belajar baca Al Qur’an di Surau dengan memanfaatkan digitalisasi. Penggarapan bentuk ditekankan pada motif gerak tagak Alif, tagak Lam, tagak Lam, dan tagak Hu, jika digabungkan menjadi nama Tuhan, yaitu Allah.
Tujuan penciptaan karya tari Basurah ini adalah untuk menggali dan memahami nilai religi, nilai estetika, etika, eksistensi, dan fungsi dari Silek Tuo dan Surau yang ada di Minangkabau, khususnya di Nagari Paninggahan. Tujuan pokok adalah untuk menciptakan karya tari sebagai penggambaran nilai-nilai religius Islam yang berkaitan dengan Ketuhanan dalam Silek Tuo yang ada di Surau dan eksistensi Surau itu sendiri dahulu dan sekarang, menggunakan pendekatan Hiperkreatif yang digarap berdasarkan konsep koreografi lingkungan serta melibatkan elemen utama dan elemen pendukung tari, seperti gerak, musik, kostum, tata rias, properti, setting, lighting, dan lainnya. Metode penciptaan karya tari Basurah menggunakan pendekatan Hiperkreatif. Hiperkreatif, terdiri tiga tahap, yaitu: Critical Reality, Object Interpretation, dan Studio Process. Sedangkan langkah-langkah dalam proses penciptaan karya tari ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: Eksperimen, Eksplorasi, Reeksplorasi, Intuisi, Konstruksi, Rework.
Hasil yang diperoleh selama proses penciptaan karya tari Basurah adalah bentuk Silek yang tidak terlalu terikat dengan bentuk visual, melainkan Silek yang lebih menekan pada hubungan komunikasi yang intim dan integrasi diri dengan Allah Sang Pencipta yang dikenal dengan Silek Ma’rifaik, yang digambarkan dalam beberapa kalimat hikmah, yaitu: Bergelimang dalam syariat, bersungguh-sungguh dalam tarikat, fokus dalam hakikat, serta lenyap dalam ma’rifat, yang hakikat Silek Ma’rifaik berkata dengan KalamNya, tubuh bergerak dengan QudratNya, mata melihat dengan BasharNya, Telinya mendengar dengan Asma’Nya, mengetahui dengan IlmuNya, berkehendak dengan IradatNya. Selain dari itu proses ini juga menghasilkan sebuah metode dalam penciptaan, yang disebut Hiperkreatif dengan tiga tahapannya, Yaitu: Critical Reality, Object Interpretation, dan Studio Process.
Setelah masyarakat menonton karya tari Basurah ini, diharapkan munculnya rasa memiliki yang tinggi terhadap tradisi Silek Tuo dan Surau, sehingga karya ini bermanfaat bagi masyarakat Minangkabau yang ada di perantauan sebagai bentuk penyadaran terhadap tradisi Silek Tuo yang memiliki nilai religi dan makna yang sangat dalam
REPRESENTASI KUASA DALAM FOTOGRAFI JURNALISTIK: KAJIAN FOTO-FOTO PEMENANG ANUGERAH PEWARTA FOTO INDONESIA (2009-2022)
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap representasi kuasa foto jurnalistik pemenang Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) yang dikonstruksi hingga mempengaruhi praktik pewarta foto dalam meliput berita. APFI sebagai ajang penghargaan tertinggi bidang foto jurnalistik di Indonesia, telah menghasilkan Photo of The Year (POTY), untuk meningkatkan citra foto jurnalistik, menjadi wakil suara dan menjadi patron bagi pewarta foto di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang berlandaskan paradigma konstruktivisme. Tindakan interpretatif terhadap aspek-aspek berita, dan aspek visual POTY dilakukan dengan memanfaatkan konsep nilai berita, dan konsep tiga lapisan visual. Penjelasan konstruksi proses representasi kuasa dominan menggunakan teori relasi kuasa (Power relation) dan konsep representasi. Pengumpulan data melalui observasi, studi dokumen, studi pustaka, dan wawancara. Analisis data dengan membaca fakta guna mengenali fakta relevan dan tidak relevan, reduksi data, menyusun kode-kode terhadap data temuan, dan verifikasi kode sebagai acuan pembahasan dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menyatakan: (1) Representasi foto jurnalistik POTY APFI tahun 2009 hingga 2022 dapat dijelaskan sebagai konstruksi dari proses kuasa dominan Spot News; (2) APFI mengkonstruksi subjek penghargaan sebagai entitas yang mampu menciptakan narasi konsisten dan stabil mengenai berita-berita penting; (3) Representasi POTY telah hadir sebagai faktor kuasa yang mengawasi dan mendorong pewarta foto untuk menormalisasi diri. Secara konteks nilai berita, unsur aktualitas, kekinian, ketertarikan manusia, unsur konflik, unsur berdampak pada masyarakat, kedekatan dengan fotografer, keluarbiasaan, dan pengaruh dianggap bisa dipenuhi dan dicapai melalui foto kategori Spot News. Pewarta Foto Indonesia sebagai penyelenggara menghadirkan POTY yang merupakan sebuah representasi foto jurnalistik yang baik dan berimbang
RÉNGGÉH-RÉNGGÉH, KAJIAN KARYA REINTERPRETASI DARI LAGU TEGALAN
Karya musik komposisi yang berjudul “Rénggéh-rénggéh” adalah
karya reinterpretasi dari lagu gaya Tegalan berjudul Menjangan Rénggéh-
Rénggéh. Pada proses reinterpretasi, dilakukan pendekatan dengan
menggunakan konsep pemikiran oleh I Wayan Sadra, juga konsep garap oleh
Rahayu Supanggah. Pada proses orientasi dan observasi, konsep Menjangan
Rénggéh-Rénggéh juga didalami secara menyeluruh, sehingga dapat
ditemukan berbagai kemungkinan garap dan unsur musikal yang dapat
diolah pada tahap eksplorasi. Karya disusun menjadi tiga bagian: (1)
Keinginan; (2) Rintangan; dan (3) Penyelesaian.
Penciptaan karya musik ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan
pengkarya untuk mengangkat Menjangan Rénggéh-Rénggéh sebuah musik
tradisi yangh berasal dari kesenian terbang srakalan yang telah jarang
dijumpai di daerah Pesisir Pantura. Menjangan Rénggéh-Rénggéh menjadi ide
utama dalam proses eksplorasi reinterpretatif pengkarya.
Hasil dari karya ini kemudian diuraikan secara detail ke dalam
penelitian ini, mulai dari proses penciptaan: Tahap Persiapan, dan Tahap
Penggarapan, kemudian deskripsi sajian yang dinotasikan dengan
menggunakan sistem notasi kepatihan dan bagian terakhir adalah hasil karya
yang ditinjau ulang secara kritis oleh pengkarya.
Kata Kunci: Rénggéh-rénggéh, reinterpretasi, Lagu Tegalan
PERANCANGAN INTERIOR MUSEUM DAN ART GALERI GERABAH BAYAT SEBAGAI WISATA EDUKATIF KOTA KLATEN
Perancangan Interior Museum dan Art Galeri Gerabah Bayat Sebagai Wisata Edukatif Kota Klaten bertujuan sebagai wadah dalam pengenalan sejarah dan perkembangan gerabah bayat dan wadah untuk seniman- seniman daerah untuk memamerkan karya yang dikemas dalam suatu kegiatan wisata yang bersifat edukatif khususnya Kota Klaten. Perancangan ini mengusung tema “Concrete in the Jungle”. Tema tersebut terinspirasi dari bentuk keragaman gerabah serta keindahan alam Desa Melikan. yang di tranformasikan ke dalam elemen interior. Pendekatan desain yang digunakan antara lain pendekatan perilaku manusia dan psikologi, gaya hidup, orientasi pasar, filosofi bentuk. Metode perancangan yang digunakan adalah metode perancangan interior Pamudji Suptandar yang meliputi tahapan Input, Sintesa, dan Output. Hasil desain berupa rancangan interior museum dan art galeri yang tidak hanya menghadirkan ruang museum yang dikemas secara edukatif menghadirkan ruang workshop, ruang lelang, area lounge yang terdapat mini museum, serta cafetaria kuliner yang dapat mengangkat gerabah menjadi lebih dikenal dan dapat menjangkau kalangan menengah- atas.
Kata Kunci: Interior, Museum, Art Galeri, Gerabah, Wisata Edukati
Gending, Dibunyikan Untuk Tak Sepenuhnya Didengarkan
Gending gamelan merupakan bagian integral dari upacara dan tradisi budaya di Jawa, memainkan peran yang unik dalam menciptakan atmosfer dan menjaga keharmonisan dalam berbagai peristiwa seperti pernikahan, bersih desa, dan pengukuhan raja. Meskipun musik ini terus diperdengarkan, gending gamelan tidak ditujukan untuk sepenuhnya didengarkan atau dinikmati sebagai sajian utama, melainkan berfungsi sebagai latar yang menyertai kegiatan budaya. Dalam konteks ini, gending gamelan membantu menghilangkan kebosanan, membangun rasa patuh, dan menciptakan ketenangan, yang mana menunjukkan peran signifikan dalam ruang budaya lebih dari sekadar estetika musik. Meskipun begitu, ketika gending gamelan dipindahkan dari konteks budaya ke dalam setting akademis atau formal seperti konser di kampus seni, makna dan fungsi tradisionalnya sering kali hilang. Hal ini mengakibatkan gending gamelan tidak lagi dihargai sebagai bagian dari tradisi budaya yang kaya, melainkan hanya sebagai karya musik yang terlepas dari konteksnya. Abstraksi dari bunyi gamelan yang halus dan ritualistik ini menjadi penting untuk dipahami bukan hanya sebagai seni musik, tetapi juga sebagai komponen vital dari warisan budaya yang memerlukan pendekatan yang mendalam untuk dapat diapresiasi secara utuh
ANALISIS PERBANDINGAN ELEMEN VISUAL KOMIK “SI.BUTA DARI GUA HANTU”. VERSI KLASIK (2005) DAN REMAKE (2018-2019)
Komik Si Buta Dari Gua Hantu pertama kali terbit tahun 1967 dan dicetak ulang
pada tahun 2005. Di tahun 2018-2019, komik ini mendapatkan adaptasi ulang
berupa komik remake. Penelitian ini membahas bagaimana perbandingan elemen
visual komik, antara komik Si Buta Dari Gua Hantu versi klasik (2005) dengan
komik Si Buta Dari Gua Hantu versi remake (2018-2019). Maharsi (2011)
mengkategorikan elemen-elemen komik yaitu panel, sudut pandang, ukuran
gambar, parit, balon kata, bunyi huruf, garis gerak, ilustrasi, kop komik, splash,
symbolia, dan cerita, namun penelitian ini hanya membahas elemen visual saja.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Hasil yang diperoleh dari
analisis adalah terdapat persamaan serta perbedaan di kedua versi komik Si Buta
Dari Gua Hantu. Perbedaan serta persamaan elemen visual yang ditemukan pada
komik Si Buta Dari Gua Hantu memberikan nuansa baru bagi para pembaca baik
yang sudah pernah membaca komik klasiknya maupun yang hanya membaca versi
remake. Variasi elemen-elemen visual seperti panel, parit, dan gaya penggambaran
membuat komik Si Buta Dari Gua Hantu tahun 2018-2019 memiliki kesan yang
lebih moder
ANALISIS PERSEPSI KHALAYAK TERHADAP FOTO IKLAN ROKOK SURYA PRO MILD EDISI “PASTI MENANG BANYAK”
Disinyalir meningkatnya jumlah perokok di Indonesia, salah satu penyebabnya
adalah keterpaparan iklan. Pemerintah menerbitkan PP No. 109 Tahun 2012 untuk
melakukan pengendalian materi iklan sehingga banyak rokok yang menghadirkan
iklan display dengan berbagai tema dan ide kreatif serta memiliki visual yang
menarik. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah foto iklan rokok Surya Pro
Mild edisi Pasti Menang Banyak disegmentasikan untuk kalangan muda usia 18-25
tahun.
Menggunakan metode penelitian kualitatif, pengumpulan data melalui observasi
dan wawancara mendalam kepada narasumber. Adapun narasumber dalam
penelitian ini adalah khalayak remaja akhir terdiri dari 4 orang mahasiswa program
studi fotografi ISI Surakarta dan juga 4 orang pekerja. Fokus penelitian ini
dimaksudkan untuk mendeskripsikan faktor yang menarik perhatian khalayak
remaja akhir terhadap foto iklan rokok Surya Pro Mild edisi Pasti Menang Banyak
dan juga perspesi yang terbentuk. Dianalisis melalui tahapan persepsi Alex Sobur,
unsur penyusun iklan display dan pendekatan fotografi dalam iklan.
Hasilnya menunjukkan bahwa faktor yang menarik perhatian khalayak remaja akhir
dalam melihat foto iklan rokok Surya Pro Mild edisi Pasti Menang Banyak adalah
teks headline dari segi efisiensi kata, menimbulkan rasa penasaran, melengkapi
gambar kemudian pada gambar dari segi objek, warna, garis, teknik pengambilan
gambar. Persepsi yang terbentuk terbagi menjadi 3 posisi, dilihat melalui
pendekatan fotografi dalam iklan yaitu intelektual-faktual, emosional-sentimental,
dan teknik fotografi. Pada pendekatan intelektual-faktual persepsi yang terbentuk
adalah keunggulan produk walaupun pada foto iklan tersebut tidak menampilkan
produk secara vulgar, kemudian pada emosional-sentimental adalah femisnisme,
maskulin, gaya hidup, ajakan. Persepsi yang terbentuk melalui pendekatan teknik
fotografi adalah susunan komposisi foto mempunyai tujuan tertent
MAYAT KORBAN DISTEMPEREDPSIKOPAT SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN KARYA SENI PATUNG
Penciptaan karya Tugas Akhir ini dipicu oleh ketertarikan penulis pada suatu bentukbentuk manusia yang rusak atau mayat dari film yang memiliki genre thriller,psikopat. Mayat
korban pembunuhan distemperedpsikopat dalam film tersebut menjadi objek yang menarik bagi
penulis. Pada Tugas Akhir ini penulis menciptakan karya-karya seni patung dengan sumber
inspirasi Mayat korban distempered psikopat. Laporan Tugas Akhir ini menjelaskan tentang
latar belakang pembuatan karya, konsep, proses, dan deskripsi karya. Pembuatan karya seni patung
ini dilakukan dengan melakukan eksperimen melalui campuran media. Konsep visual dan metode
pembuatan karya
Tugas Akhir ini didasarkan pada konsep non visual,konsep visual dan metode
penciptaan.teknik yang digunakan adalah teknik modeling dengan Mix media. Penciptaan karya
pada tiga tahap penciptaan yang dikemukakan oleh I Made Bandem Penciptaan karya seni patung
tugas akhir ini memberikan wawasan karya yang lebih terkait alat dan bahan teknik garap suatu
karya. Hasil yang diperoleh dari penciptaan karya adalah karya seni patung yang terinspirasi mayat
– mayat Distempered Psikopat.
Tugas akhir ini mempresentasikan 4 karya seni patung, dengan karya 1 yaitu heppy face
to kill yang menceritakan tentang pelaku Distempered psikopat, karya 2,3,4 yang berjudul dead
part 1 sampai dengan part 3 menceritakan tetang korb korban – korban dari yang menggambarkan
tentang masalah suatu kesukaan yang dirasakan oleh penulis tentang apa itu distempered psikopat.
Penulis menggunakan warna merah sebagai bagian dari kesempurnaan patung. dimana pembuatan
karya seni patung ini juga bertujuan untuk memperkenalkan Distempered psikopat kepada publik
dan menghindari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh seorang psikopat. Karya seni patung ini
diharapkan dapat memicu minat masyarakat untuk mengenal Distempered psikopat. Dan karya seni
Distempered Psikopat dapat dilihat secara artistik
PERAN PUSAT PELATIHAN SENI BUDAYA (PPSB) JAKARTA SELATAN DALAM REPRODUKSI KESENIAN GAMBANG KROMONG
Seiring berjalannya pembangunan ibu kota, masyarakat Betawi dan kebudayaannya telah menghadapi berbagai tantangan terkait identitas dan eksistensi sebagai “penduduk asli”. Kondisi tersebut membawa banyak pengaruh pada kondisi kesenian tradisi pun semakin tidak lagi hidup dan berkembang, salah satunya adalah Gambang Kromong. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan berbagai kepentingan lainnya, kemudian melakukan pelestarian budaya melalui lembaga Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB). Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana Program Pelatihan Gambang Kromong yang diselenggarakan oleh PPSB, melalui metode etnografi yang dilakukan sejak tahun 2018, kemudian dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka terkait objek penelitian. Hasil data yang terkumpul kemudian dianalisis melalui sudut pandang teori reproduksi budaya dan teori hegemoni. Program Pelatihan Gambang Kromong PPSB dalam periode 2016-2019 telah berhasil membentuk sistem reproduksi budaya yang ideal. Tahapan program tersebut telah cukup banyak mencakup aspek dan berbagai faktor yang turut mendukung suatu upaya reproduksi budaya, khususnya bagi kesenian tradisi Gambang Kromong di DKI Jakarta. Sayangnya program ini harus terhenti karena kebijakan yang memaksakan restrukturisasi. Peran PPSB yang merupakan bagian dari political society sayangnya harus kalah dalam permainan hegemoni lembaga di atasnya, dan hal ini pun berdampak terhadap civil society yang mencakup sanggar kesenian, sekolah, pelaku seni tradisi, hingga masyarakat Betawi secara umum. Kebijakan yang menunjukan tidak konsistennya pemerintah dalam melakukan pelestarian dan reproduksi budaya, akhirnya menambah pertanyaan dalam kaitan program kebudayaan terhadap kepentingan institusi semata