7065 research outputs found
Sort by
Catatan dari Forum Bukan Musik Biasa #106 : Membunyikan Ulang Seni Sandur dan Biografi
FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) telah menggelinding selama 17 tahun, meneruskan nyala semangat forum-forum musik seni di Indonesia yang sempat meredup. Seperti diungkap oleh mendiang Wayan Sadra dan ditulis oleh Joko S. Gombloh dalam catatan publikasi BMB, forum ini lahir dari kerinduan akan dinamika seperti Pekan Komponis Muda (PKM) yang dulu digagas Suka Hardjana. BMB berupaya membangun kembali wilayah kebebasan para komponis, menjadi laboratorium eksperimentasi untuk menemukan cara, metode, konsep, dan pikiran baru dalam penciptaan musik.
Edisi ke-106 Forum BMB berlangsung pada Selasa malam, 15 Juli 2025, di Pendapa Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. Dua komponis muda menampilkan karya berbasis gamelan: Krisna Julinanta (Bojonegoro) dan Didin Cakra Manggala (Ponorogo). Diskusi usai pertunjukan dipandu oleh Sigit “Siklun” Purwanto, dengan Danis Sugiyanto sebagai pembicara utama. Forum ini juga dihadiri sejumlah tokoh gamelan seperti Sumarsam, Darno Kartawi, Aris Setiawan, dan Chris Miller
Sound Horeg, Ekstase Sonik di Ruang Publik
Fenomena sound horeg di ruang publik menunjukkan bagaimana teknologi audio berdaya tinggi menciptakan pengalaman sonik yang unik sekaligus kontroversial. Sistem pengeras suara yang menghasilkan intensitas 120–135 desibel, jauh di atas ambang batas aman WHO, menghadirkan stimulasi multisensorik: dentuman bass tidak hanya terdengar, tetapi juga dirasakan secara fisik. Penggemar setia sound horeg menemukan daya tariknya pada manipulasi audio digital yang mengubah kebisingan menjadi pertunjukan, menimbulkan sensasi euforia, dan memicu respons tubuh instingtif. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana “noise” disulap menjadi “voice”, sehingga bising bertransformasi menjadi medium hiburan. Dominasi sonik di ruang publik menciptakan “gelembung audio”, yang memisahkan peserta dari realitas sehari-hari dan menimbulkan pengalaman psikologis mirip keadaan flow. Pola repetitif dan ritme yang terprediksi menjadikan sound horeg bersifat adiktif, memelihara keterlibatan audiens secara berkelanjutan. Fenomena ini membuka diskusi lebih luas mengenai kebebasan berekspresi, kesehatan publik, serta pergeseran makna ruang bersama dalam masyarakat kontemporer. Dengan demikian, sound horeg bukan hanya sekadar musik keras, tetapi cerminan kompleksitas budaya urban dalam menghadapi tarik-menarik antara teknologi, hiburan, dan tanggung jawab sosial
MEMOAR TENTANG IBU SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS
Laporan penciptaan karya Tugas Akhir berjudul “Memoar Tentang Ibu
Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Grafis” dilatarbelakangi kehilangan
almarhum ibu untuk selamanya pada 6 Desember 2020. Muncul ide penulis untuk
mengangkat kembali memoar tentang ibu untuk mengenang jasa ibu yang begitu
besar dan menjadi memoar yang divisualkan penulis dalam karya seni grafis teknik
stencil. Konsep penciptaan karya berisi ulasan mengenai acuan teori seni sebagai
ekpresi menurut Susanne K. Langer. Karya yang diciptakan ini mempresentasikan
ingatan memoar tentang ibu dengan mengunakan improvisasi objek foto dan objek
tambahan sebagai simbol berbentuk seni figuratif sebagai capaian visual yang
dihadirkan. Proses penciptaan karya Tugas Akhir ini menggunakan metode
Hawkins (dalam Soedarsono, 2001:207), yang terdapat tiga tahapan, meliputi:
Eksplorasi, Improvisasi, dan Pembentukan. Penciptaan karya ini dibuat
berdasarkan ekpresi personal penulis untuk mengenang ibu. Pesan moral pada karya
ini penulis berharap “selagi orang tua masih hidup bersama kita jangan sia siakan
perjuangannya, sejahat apapun perilakunya terhadap kita, hormat dan patuh kepada
orang tua adalah kewajiban, terutama ibu. Karena setelah orang tua meninggal tidak
ada yang peduli dengan nasib kita di masa depan”. Penulis mengikhlaskan
kepergian ibu dan akan melanjutkan cita-cita ibu yang belum tersampaikan saat
beliau masih hidup
PERSEPSI VISUAL KONSUMEN TERHADAP IDENTITAS BRAND DI AKUN INSTAGRAM @PLAYWITHPATTERO TAHUN 2021
Sound Horeg dan Ironi Keberpihakan Pemerintah
Polusi suara merupakan isu yang sering diabaikan, meski dampaknya signifikan terhadap kesehatan dan kualitas hidup. Esai ini membahas fenomena "sound horeg," yaitu penggunaan sistem suara dengan volume sangat tinggi dalam berbagai acara di Indonesia, yang dianggap sebagai simbol kemeriahan dan prestise. Paparan suara keras tidak hanya membahayakan kesehatan fisik dan mental masyarakat, tetapi juga mengganggu lingkungan. Sayangnya, pemerintah terlihat permisif terhadap fenomena ini, seperti terlihat dalam penggunaannya pada acara resmi, kampanye politik, dan festival budaya. Ketidakkonsistenan regulasi menunjukkan bahwa polusi suara belum menjadi prioritas dalam kebijakan publik. Esai ini menekankan pentingnya langkah tegas dalam pengendalian kebisingan untuk melindungi kesehatan masyarakat dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup
DRAMATURGI PERTUNJUKAN TEATER GAPIT DALAM HEGEMONI POLITIK DAN ESTETIKA ORDE BARU
Teater Gapit adalah teater modern Indonesia berbahasa Jawa ngoko yang menghadirkan persoalan-persoalan sosial-budaya, politik, dan ekonomi dalam tatanan Orde Baru yang kapitalistik. Pilihan bahasa Jawa ngoko menjadi berbeda dengan kelompok-kelompok teater modern Indonesia lainnya di era 1980-an. Penggunaan bahasa Jawa ngoko bertentangan dengan tatanan hegemoni politik dan hegemoni estetika Orde Baru yang krama, mengutamakan kesopanan, harmonis, dan adiluhung. Serta bertentangan dengan tatanan teater kritik era 1980-an yang simbolik, satire, dan pasemon. Strategi dramaturgi Teater Gapit dalam tatanan hegemoni politik, hegemoni estetika, dan tatanan dramaturgi teater kritik menjadi masalah utama dalam penelitian ini.
Pendekatan dramaturgi dan hegemoni digunakan dalam penelitian ini. Dramaturgi dari Robert D. Benford dipakai untuk mengungkap aspek-aspek dramatik sebagai representasi dari relasi kuasa antara kelas dominan dan subordinat, sementara dramaturgi realisme epik dari Bertolt Brecht memberi penekanan pada teater sebagai alat kesadaran kritis. Dan teori hegemoni yang digagas oleh Antonio Gramsci dipakai untuk melihat negosiasi-negosiasi dalam pertarungan memperoleh kekuasaan ideologis merebut common sense. Metode penelitian didasarkan pada paradigma kritis dengan pendekatan analisis isi. Data utama adalah dokumentasi ketiga pertunjukan Teater Gapit yaitu Rol (1983), Leng (1985), dan Tuk (1989). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyimak dokumentasi dan literatur, serta wawancara. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap yaitu identifikasi, evaluasi, dan penilaian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi mlipir digunakan oleh Teater Gapit dalam menghadapai tatanan hegemoni politik Orde Baru, dan strategi ngoko dipakai dalam menghadapi tatanan hegemoni estetika Orde Baru. Mlipir dan ngoko menjadi strategi dramaturgi Teater Gapit dalam menghadapi tatanan teater kritik era 1980-an. Ngoko yang dilakukan bukan untuk menjadi bloko terhadap kekuasaan Orde Baru, melainkan untuk keluar dari tatanan dramaturgi teater kritik yang mlipir (simbolik, satire, dan pasemon). Teater Gapit menciptakan mlipir yang khas berbasis pada tradisi Jawa. Dari keseluruhan penelitian yang dilakukan didapatkan konsep dramaturgi Realisme Jawa yang memiliki empat prinsip dasar, yaitu 1) menghindari konflik secara terbuka (mlipir); 2) menunggu datangnya kekuatan lain yang akan mengembalikan suatu tatanan (ngenteni); 3) tidak boleh mendahului sebelum segala sesuatu telah ditetapkan (aja nggege mangsa); dan 4) kesetiaan yang berlebihan terhadap suatu nilai tertentu (ngugemi)
Benturan Estetika Musik Blacius Subono
Blacius Subono adalah sosok yang tak dapat dipisahkan dari perkembangan musik gamelan kontemporer. Sebagai komposer dan dalang wayang kulit, Blacius mengubah cara kita mendengarkan musik gamelan dengan menciptakan benturan estetika melalui penggabungan dua laras gamelan yang konvensionalnya dianggap bertentangan, yaitu pelog dan slendro, yang dikenal dengan sebutan logdro. Dalam tradisi gamelan, kedua laras ini seharusnya tidak dipertemukan atau hanya disatukan dengan cara yang lembut dan indah. Namun, Blacius justru memilih untuk mempersatukan keduanya dalam bentuk yang lebih tegas, menciptakan tegangan musikal yang mencolok. Hasilnya adalah suara yang tidak nyaman dan sering kali mengganggu, tetapi ini menjadi kekuatan dalam karyanya, mengajak pendengar untuk mengatasi zona nyaman dan melihat keindahan dalam ketidaksesuaian. Blacius berpendapat bahwa perbedaan dan ketegangan musikal bukanlah cacat, melainkan peluang untuk menciptakan estetika baru yang menyegarkan dan menggugah pemahaman konvensional kita tentang gamelan. Melalui karya-karya ini, Blacius mengajak kita untuk merayakan perbedaan dan membebaskan musik dari kekakuan tradisi yang membatasi kreativitas
Gayeng, Reposisi Konsep Seni Pertunjukan di Jawa Timur
Makalah ini membahas reposisi konsep gayeng dalam seni pertunjukan di Jawa Timur, dengan fokus pada relevansinya sebagai estetika budaya yang menekankan interaksi dinamis antara penampil dan penonton. Konsep gayeng mencerminkan prinsip egaliter dalam masyarakat agraris, yang berlawanan dengan estetika seni keraton yang hierarkis. Berdasarkan kajian berbagai sumber, termasuk studi etnografis tentang ludruk, gayeng dilihat sebagai strategi budaya untuk menanggapi dominasi estetika keraton yang telah lama mendominasi narasi seni pertunjukan di Indonesia. Karya seni yang mengusung prinsip gayeng bersifat inklusif, fleksibel, dan memungkinkan perubahan tanpa kehilangan esensi keterlibatan komunitas. Kajian ini juga menyoroti pentingnya Topeng Malang dan Cerita Panji dalam wacana seni pertunjukan Jawa Timur, dengan penekanan pada aspek partisipatif dan kritik sosial yang terkandung dalam bentuk-bentuk pertunjukan tersebut. Gayeng menjadi kerangka alternatif untuk memahami dinamika seni pertunjukan Jawa Timur yang lebih terbuka terhadap perubahan, serta peranannya dalam membentuk identitas kultural di tengah tantangan kontemporer
FROZEN FLOWERS DALAM PENCIPTAAN KARYA FOTOGRAFI STILL LIFE
Berangkat dari pengalaman personal terhadap bunga dan proses
pembekuan. Sejak kecil, keterikatan dengan bunga tumbuh melalui pengaruh orang
tua serta pengalaman pribadi saat mengabdi di Desa Sewu Kembang. Selain itu,
pengalaman menjual buah beku memicu ketertarikan terhadap pembekuan. Visual
tekstur dan pola yang terbentuk dalam es memberikan inspirasi untuk pembuatan
karya. Berdasarkan pengalaman masa kecil tersebut yang terintegrasi antara bunga
dan es, menjadi benang merah antara memori personal tentang “Frozen Flowers”.
Fotografi still life adalah salah satu cabang fotografi yang khusus membidik
benda-benda yang diam atau tidak bergerak. Fotografi still life dipilih dalam karena
fokus utamanya adalah pada objek yang diam atau tidak bergerak, yaitu bunga yang
membeku. Dengan pengunaan artificial light, efek visual seperti garis halus pada
es, kedalaman, dan gelembung-gelembung yang terperangkap dapat terlihat jelas.
Pemilihan bunga difokuskan pada bunga yang tersedia di lingkungan sekitar dengan
penataan dekoratif digunakan untuk menghias dan memperindah. Penggunaan
sudut high angle dalam pemotretan mampu menampilkan bunga seolah
mengambang. Hasil karya "Frozen Flowers" menghadirkan visual estetis dengan
mengeksplorasi pembekuan bunga, menciptakan keindahan tersembunyi yang tidak
terlihat dalam keadaan alami, sekaligus untuk menambah pengetahuan masyarakat
luas tentang potensi estetika dalam transformasi objek-objek sederhana disekita
Musik Tanpa Musisi
Artikel ini membahas dampak revolusioner teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam industri musik, khususnya pada produksi, distribusi, dan aspek keberlangsungan profesi musisi. Sistem generatif berbasis AI, seperti Suno AI dan Udio, memungkinkan penciptaan musik utuh tanpa keterlibatan manusia, membuka akses luas bagi pelaku konten digital namun sekaligus menggeser posisi musisi konvensional. Di satu sisi, efisiensi produksi dan ketersediaan musik bebas royalti menguntungkan pelaku usaha kecil. Namun, di sisi lain, muncul persoalan serius terkait hak cipta, keaslian karya, serta distribusi royalti. Ketidakjelasan regulasi memperumit posisi musisi manusia dalam ekosistem yang makin didominasi algoritma. Artikel ini juga mengulas dampak psikologis pada pencipta musik, termasuk demotivasi, krisis identitas artistik, dan kecemasan akan relevansi profesi mereka. Pendidikan musik turut terdampak, memerlukan pergeseran kurikulum ke arah penguasaan teknologi dan produksi digital. Penulis menekankan perlunya kerangka etika, hukum, dan struktural baru untuk menilai serta mengatur musik hasil AI. Organisasi profesi musik dituntut mereformasi sistem keanggotaan dan pembagian royalti, agar mengakomodasi peran baru dalam produksi musik berbasis algoritma. Kolaborasi multipihak dianggap krusial demi memastikan keadilan, keberlanjutan, dan keberagaman dalam lanskap musik masa depan