7065 research outputs found
Sort by
Nangguh: Representasi Etnomatematika dalam Sindenan Srambahan Gaya Surakarta
Nangguh sebagai suatu peristiwa musikal dalam sindenan srambahan merupakan pengkondisian agar pengungkapan melodi lagu dan irama sindenan selaras dengan gending yang disajikan. Pengkondisian yang dimaksudkan tidak sekedar melakukan tafsir sindenan yang berhubungan dengan pemilihan cengkok sesuai seleh lagu, tetapi juga memperhitungkan pengelolaan penempatan sindenan, dan titik awal mulai serta titik selesainya kalimat lagu. Dengan kata lain, nangguh merupakan peristiwa musikal yang memuat perhitungan estetik dan matematik dalam mencapai estetika sindenan. Pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah etnomatematika dengan bentuk penelitian kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap bagaimana representasi etnomatematika dalam sindenan srambahan gaya Surakarta melalui peristiwa musikal nangguh. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran terkait korelasi antara tafsir sindenan srambahan, matematika, dan estetika karawitan Jawa gaya Surakarta. Tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian ini terdiri atas pengumpulan data, reduksi data, analisis data, dan penyusunan laporan. Pada pengumpulan data, metode yang akan digunakan adalah studi literatur baik pustaka ataupun diskografi, yang didukung dengan wawancara. Tahap reduksi data, merupakan pemilahan data dengan cara melihat korelasi dan relevansi serta validitas data terhadap topik penelitian. Analisis data sebagai proses interpretasi dan generalisasi. Pada proses ini, data akan dicermati secara mendalam terkait pengkondisian estetik dan matematik guna mendeskripsikan representasi etnomatematika dalam peristiwa musikal nangguh dalam sindenan srambahan gaya Surakarta. Hasil dari analisis data disusun dalam laporan penelitian dan naskah publikasi yang kemudian akan diunggah dalam jurnal nasional terakreditasi
TARI NYI AGENG KARANG SEBAGAI MODEL INOVASI TARI UNTUK SARANA EDUKASI BUDAYA DAN PENDUKUNG PARIWISATA DI KABUPATEN KARANGANYAR
Karanganyar merupakan wilayah Kabupaten yang memiliki keunggulan pada kekayaan wisata alam, situs sejarah, dan kulinernya. Tidak hanya alamnya yang subur dan indah, situs-situs sejarah yang terdapat di wilayah Karanganyar menjadi warisan budaya yang memiliki kandungan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Salah satu situs sejarah yang terdapat di Karanganyar adalah Punden Nyi Ageng Karang. Nyi Ageng Karang sebagai cikal bakal keberadaan Karanganyar, perjalanan dan kisahnya dapat menjadi sarana edukasi tentang sejarah dan nilai-nilai budaya kearifan local bagi masyarakat. Kisah tentang Nyi Ageng Karang memiliki potensi untuk pengembangan ekonomi kreatif melalui produkproduk kreatif untuk membentuk ekosistem pariwisata di Karanganyar. Salah satu cara
untuk memberikan edukasi dan literasi tentang nilai-nilai luhur budaya dan kearifan local sekaligus sebagai upaya penguatan sector pariwisata di Karanganyar melalui pertunjukan
tari yang mengadaptasi tokoh tentang Nyi Ageng Karang sebagai cikal bakal berdirinya wilayah Karanganyar. Kreasi artistik ini memiliki urgensi: (a) mendukung pariwisata; (b)
memperkuat literasi nilai luhur budaya bangsa; (c) sarana branding Karanganyar sebagai Kota Budaya dan Pariwisata; (d) cara revitalisasi sejarah berdirinya wilayah; (e) strategi
pengembangan seni budaya di Indonesia; (f) strategi pemanfaatan kearifan lokal; (g) sebagai model adaptasi dalam seni pertunjukan tari; (h) wahana edukasi, penguatan literasi,
dan peningkatan apresiasi masyarakat; dan (i) upaya pemajuan kebudayaan bidang seni tari dan sejarah.
Penelitian ini bertujuan merancang tari dengan mengangkat kisah Nyi Ageng Karang sebagai sarana eduakasi dan pendukung objek wisata di Karanganyar. Kreasi seni dalamrancangan tari Nyi Ageng Karang dilakukan dengan memvisualisasikan kisah
perjalanan Nyi Ageng Karang sebagai peletak batu pertama berdirinya wilayah Karanganyar – Jawa Tengah. Tokoh Nyi Ageng Karang sebagai perempuan pejuang dan sebagai sosok perempuan yang memiliki pemikiran maju menjadi sumber literasi untuk
edukasi dan basisi kekaryaan seni pertunjukan untuk mendukung kegiatan pengembangan sector pasriwisata.
Penelitian ini menerapkan metode artistic research, yaitu: (a) eksplorasi dan analisis cerita Nyi Ageng Karang untuk mendapatkan kontens dalam seni pertunjukan drama tari ; (b)
perancangan konsep cerita Nyi Ageng Karang dalam kreasi seni pertunjukan drama tari; (c) proses kreasi seni pertunjukan drama tari Nyi Ageng Karang didasarkan pada unsur estetika dan aspek inovasi -kebaharuan; dan (d) presentasi seni pertunjukan drama tari Nyi Ageng Karang sebagai pendukung objek wisata di wilayah Karanganyar serta edukasi nilai budaya dan kearifan lokal. Luaran penelitian berupa: (a); rancangan tari Nyi Ageng Karang dalam laporan penelitian (b) pencatatan hak kekayaan intelektual; dan (c) draft artikel ilmiah pada jurnal nasional.
Kata kunci : Tari, Nyi Ageng Karang, rancangan, edukasi, nilai budaya, objek wisata
LAGU-LAGU AIRPORTRADIO SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS
Penciptaan karya seni grafis dalam Tugas Akhir ini terinspirasi oleh
musik band Airportradio, dalam album "Turun dalam Rupa Cahaya" dan "Selepas
Pendar Nyalang Berbayang". Fokus utama penelitian adalah pada lagu-lagu band
Airportradio. Inspirasi berasal dari pengalaman pribadi penulis saat
mendengarkan lagu “Blackpepper” dan video klipnya, yang menggambarkan
situasi selaras dengan pengalaman penulis, menciptakan rasa nostalgia dan
melankolis. Lagu-lagu lainnya, seperti “Alpha Omega,” “Jagal,” dan “Wuri,” juga
menginspirasi karya seni grafis dengan pendekatan surealis.
Pendekatan surealis, yang dipengaruhi oleh teori psikoanalisis Sigmund
Freud, digunakan untuk menciptakan karya seni yang mengaburkan batas antara
realitas dan imajinasi. Teknik kolase diterapkan untuk menghasilkan karya yang
memadukan elemen simbolisme dan narasi emosional. Metode penciptaan
menggunakan teknik intaglio (drypoint) dengan gaya pewarnaan ekspresionis
untuk menonjolkan makna lirik lagu.
Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif, yang menekankan
pada pengamatan mendalam terhadap pengalaman pribadi dan lirik lagu sebagai
sumber inspirasi. Karya seni grafis yang dihasilkan mengintegrasikan elemen
visual, audio, dan simbolisme untuk menyampaikan pesan emosional dan refleksi
sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi musik dan seni rupa dapat
menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan gagasan kompleks. Secara
teoretis, penelitian ini memperkaya kajian seni multidisiplin, sementara secara
praktis, karya seni yang dihasilkan berfungsi sebagai media apresiasi dan
komunikasi multidimensi. Diharapkan penelitian ini menginspirasi seniman untuk
mengeksplorasi potensi integrasi seni rupa dan musik dalam konteks refleksi
sosial dan ekspresi kreatif
KREATIVITAS KARSI N.S DALAM PROSESI ULUR-ULUR DI DESA SAWO KABUPATEN TULUNGAGUNG
Ketertarikan peneliti dengan sajian kreativitas Karsi N.S adalah pada saat proses menghadirkannya adat Ulur-ulur dengan bentuk nuansa yang baru dan bisa sebagai bentuk tontonan masyarakat. Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan pada penataan dalam prosesi Ulur-ulur di Telaga Buret, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung untuk mengetahui jalannya prosesi Ulur-ulur Desa Sawo Desa Sawo Kabupaten Tulungagung dan mengkaji serta mendeskripsikan kreativitas Karsi N.S dalam menyajikan prosesi Ulur-ulur di Desa Sawo Kabupaten Tulungagung sebagai bentuk pertunjukan. Landasan teori yang digunakan yaitu Djelantik (1999:17-18), terdiri dari tiga aspek utama yaitu bentuk atau tampilan, bobot atau isi, dan penampilan atau penyajian. Pembahasan mengenai kreativitas penggarap didukung oleh pernyataan Eko Wahyu Prihantoro (2024), bahwa kreativitas penggarap dipengaruhi oleh kewasisan atau kepandaian seorang penggarap. Kayam dalam bukunya Seni, Tradisi, Masyarakat (1981) fungsi dari kesenian tradisional dalam masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Metode ini berisi: (1) lokasi dan waktu, (2) sumber data (3) jenis data (4) teknik pengumpulan data (studi pustaka, wawancara, observasi, transkripsi), (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berkaitan dengan bentuk, susunan acara yang dimulai dari arak-arakan. Selanjutnya susunan (structure), urut-urutan pertunjukan dari awal hingga akhir pertunjukan terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian pembuka berupa penataan barisan prosesi arak-arakan. Kedua berisi inti sajian prosesi ulur-
ulur, meliputi arak-arakan mengelilingi jalanan Desa Sawo. Ketiga yaitu
penutup yang ditutup dengan adanya pertunjukan Tayub. Berdasarkan hasil penelitian, prosesi ulur-ulur memiliki fungsi sebagai seni pertunjukan yang akan dijelaskan sebagai hiburan, fungsi integritas masyarakat, fungsi sosial ulur-ulur terhadap masyarakat setempat, dan fungsi prosesi ulur-ulur sebagai peristiwa pertunjukan.
Kata kunci: Karsi N.S, Prosesi Ulur-ulur, Pertunjukan, Arak-araka
PERAN PEMBARUAN GARAP PAKELIRAN WAYANG WAHYU DALAM PEWARTAAN IMAN KATOLIK: STUDI KASUS PAGUYUBAN NGAJAB RAHAYU
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran pembaruan garap sajian wayang wahyu oleh Paguyuban Ngajab Rahayu di Surakarta dalam fungsi pewartaan. Tinjauan penelitian difokuskan pada beberapa pokok bahasan, diantaranya: (1) mengapa dilakukan pembaruan dalam garap pakeliran wayang wahyu; (2) bagaimana proses pembaruan unsur garap terjadi dalam sajian wayang wahyu; dan (3) bagaimana peran pembaruan dalam fungsi pewartaan Agama Katolik. Pembahasan dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan fenomenologi terhadap pembaruan garap pakeliran wayang wahyu dan respon penonton terhadapnya.
Data penelitian dikumpulkan melalui studi pustaka, pengamatan lanngsung, dan wawancara dengan tokoh-tokoh penggiat wayang wahyu. Penelitian dipusatkan pada letak kebaruan garap pakeliran wayang wahyu dan penyempurnaan yang dicetuskan oleh Blacius Subono serta Bambang Suwarno.
Hasil penelitian menunjukan bahwa wayang wahyu yang dianggap sebagai bentuk wayang tidak berkembang ternyata mengalami pembaruan dalam kaitannya dengan fungsi pewartaan sesuai dengan masanya. Masuknya konsep pakeliran padat dalam sajian wayang wahyu menjadi bukti terdapat hal baru dalam wayang wahyu dalam rangka relevansi dalam perannya sebagai sarana penyampaian ajaran keimanan Agama Katolik. Di sisi lainnya, penonton menilai positif terhadap inovasi dan pembaruan yang ada dalam wayang wahyu. Wayang wahyu dianggap dapat memodernisasi wayang agar sesuai dengan minat penonton dan mendorong penghayatan iman
REVITALISASI BLENCONG SEBAGAI LAMPU ARTISTIK DENGAN PENDEKATAN ADAPTIVE REUSE
Revitalisasi blencong menjadi lampu artistik ruang dengan pendekatan adaptive reuse bertujuan untuk memberikan makna baru pada objek tradisional seperti lampu blencong, yang awalnya digunakan dalam pertunjukan wayang kulit, dengan mengadaptasi fungsinya sebagai elemen pencahayaan interior. Pendekatan ini tidak hanya mengubah fungsi lampu blencong, tetapi juga mempertahankan visualisasi tradisi yang kental, menjadikannya sebagai karya seni yang menghubungkan masa lalu dengan konteks modern. Proses revitalisasi ini menggunakan material kaca, kuningan dan besi yang dipilih untuk memberikan kesan elegan dan artistik. Teknik kaca patri digunakan untuk menciptakan efek cahaya berwarna yang khas, memperkaya tampilan lampu dengan pola cahaya yang indah. Kuningan dipilih untuk struktur lampu, memberikan kesan klasik yang tetap relevan dalam desain interior modern. Teknik dodok/tempa diterapkan pada kuningan untuk menghasilkan detail halus dan tekstur yang memperkaya bentuk lampu gantung maupun lampu tempel. Teknik las digunakan untuk menyatukan komponen-komponen logam, memastikan kekuatan dan ketahanan lampu, sekaligus memungkinkan penciptaan bentuk yang lebih kompleks. Visualisasi lampu blencong ini mengambil bentuk burung Garuda, simbol nasional Indonesia yang melambangkan kekuatan dan kebebasan. Penggunaan bentuk burung Garuda memberikan nuansa yang kuat dan menghormati nilai budaya, menjadikannya sebagai simbol yang terintegrasi dalam desain lampu. Burung Garuda, dengan detail yang dihasilkan melalui teknik dodok dan las pada kuningan, serta cahaya yang dipancarkan oleh kaca patri, menciptakan suasana artistik yang unik dan bermakna. Dengan demikian, revitalisasi blencong dengan pendekatan adaptive reuse ini tidak hanya menghasilkan lampu dengan fungsi baru, tetapi juga merayakan tradisi dan budaya melalui inovasi desain yang tetap mempertahankan nilai estetika dan simbolisme yang mendalam
ADAPTIVE REUSE ESTETIKA LAWASAN BANGUNAN JAWA DI KEDAI KOPI SURAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pendekatan adaptive reuse dalam
estetika lawasan bangunan Jawa di kedai kopi di Surakarta. Adaptive reuse
merupakan pendekatan desain yang mengubah fungsi bangunan lama
menjadi fungsi baru tanpa menghilangkan karakter asli bangunan. Lebih
dari itu untuk meningkatkan estetika dan nilai bangunan tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kejelasan bentuk adaptive reuse,
mendeskripsikan fungsi adaptive reuse, dan menemukan makna adaptive
reuse dalam estetika lawasan bangunan Jawa di kedai kopi di Surakarta.
Metodologi yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan
fenomenologi meliputi studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara
dengan pemilik kedai kopi. Pendekatan fenomenologi menjadi relevan
dalam konteks adaptive reuse bangunan lawasan Jawa untuk kedai kopi.
Analisis fenomenologi mencakup pemahaman ruang secara menyeluruh,
dengan mempertimbangkan elemen-elemen yang membentuk dan mengisi
ruang, serta aspek pencahayaan, tekstur, material, dan suara di dalam
bangunan untuk memahami bagaimana suasana ruang tercipta. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penerapan adaptive reuse pada bangunan
lawasan Jawa di Surakarta berhasil menciptakan suasana yang unik dan
otentik, yang membawa romantisme masa lalu dan memperkuat identitas
lokal sekaligus menarik minat. Selain itu, adaptasi ini juga memberikan
nilai tambah ekologis, sosial, dan ekonomis dengan mengadaptasi kembali
bangunan lawasan Jawa yang memiliki nilai historis. Kesimpulannya,
adaptive reuse estetika lawasan bangunan Jawa tidak hanya berkontribusi
pada pelestarian warisan budaya, tetapi juga meningkatkan nilai estetika
lawasan bangunan Jawa serta menghadirkan romantisme masa lalu dalam
konteks kekinian. Menciptakan harmoni antara masa lalu dan masa kini
PEMANFAATAN MINERAL ALAMI DALAM PEMBUATAN CAT RAMAH ANAK PADA USAHA KREATIF LUMIKU (Studi Kasus pada Usaha Kreatif Seni Grafis Stencil Art dan Lukis Terapan di LumiKu Art Mojolaban, Sukoharjo)
Ketertarikan peneliti pada LumiKu Art, usaha kecil dan menengah (UMKM) di sektor bisnis kreatif yang melukis sepatu, kaos, dan tas jinjing, menyebabkan dimulainya proyek penelitian terapan ini. Sarief, Rahmat, dan Ima, tiga bersaudara yang mendirikan organisasi bisnis kreatif LumiKu Art. Kini membuka lapak dengan hasil produksinya di Pasar Seni Ngarsopura: Solo is Solo. Meski banyak diminati pembeli, namun karya mereka memiliki permasalahan yang kerap mereka
hadapi, seperti rendahnya margin keuntungan penjualan dibandingkan biaya bahan cat dan proses pengerjaan. Mahalnya harga bahan lukis, khususnya cat akrilik, menjadi kendala utama, apalagi masyarakat enggan membeli produk dengan harga
ratusan ribu rupiah. Maka perlu solusi pembuatan cat akrilik yang murah dan berkualitas, untuk melanjutkan aktivitas kreatif mereka. Tidak hanya aman dan ramah anak, tetapi juga memiliki banyak kegunaan yang ditujukan untuk anakanak.
Penerapan metode eksperimen meliputi pemilihan bahan dasar pembuatan cat dari mineral alam yang terdapat di lingkungan alam, pelaksanaan pengecatan pada bahan yang berbeda, pembuatan cat akrilik yang sesuai untuk anak-anak dan
pengemasan untuk mencapai hasil yang dapat diterapkan. Hasil dari penelitian terapan adalah produk cat akrilik yang ramah anak dan mempunyai nilai komersil. Selain kegunaan bagi ISI Surakarta yang kini menjadi BLU, khususnya Program
Studi Seni Murni dapat menjadi salah satu produk unggulan Prodi.
Kata Kunci: Cat akrilik, LumiKu Art, Mineral alami, Ramah anak
INOVASI MUSIK KOMUNITAS MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) SENI BUDAYA KOTA SURAKARTA PADA LAGU PADHANG BULAN
PKM Karya Seni dengan judul INOVASI MUSIK KOMUNITAS
MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) SENI BUDAYA KOTA
SURAKARTA PADA LAGU PADHANG BULAN ini bertujuan mewujudkan adanya
peningkatan kompetensi guru Mata Pelajaran Seni Budaya khususnya dari bidang Seni
Musik. Kegiatan PKM Karya Seni ini diselenggarakan bekerja sama dengan mitra
komunitas Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya Kota Surakarta.
Metode yang digunakan adalah penggabungan darin 2 buah model Bimbingan
Teknik, yakni Bimbingan Teknik secara teoritik dan Bimbingan Teknik secara praktik.
Maksudnya, guna didapatkan adanya peningkatan kompetensi guru Mata Pelajaran Seni
Budaya khususnya di Kota Surakarta maka pelaksanaan kegiatan PKM Karya Seni ini
dibingkai dalam suatu kegiatan layaknya seorang kreator musik/arranger sedang
berproses mengerjakan aransemen sebuah lagu. Pada saat anggota (MGMP) Seni Budaya
Kota Surakarta berproses mengikuti PKM Karya Seni ini mereka disimulasikan sedang
mengerjakan proyek melakukan inovasi musik pada lagu Padang Bulan, satu lagu daerah
Jawa Tengah. Dalam proses kreatif dan inovasi musik ini dilakukan suatu tindakan
Bimbingan Teknik secara teoritik dan Bimbingan Teknik secara praktik secara terstruktur.
Materi pembelajaran dalam bimbingan teknik tersebut berfokus pada bahan kajian atau
cakupan materi ajar yang telah diamanahkan kurikulum tapi tidak dapat dilakukan secara
maksimal dan total. Materi ajar tersebut meliputi menyusun lagu secara sederhana; teknik
dasar membuat aransemen dan menyanyi secara solo/unisono maupun dalam format
ensambel vocal/Paduan suara. Akhir dari proses ini dilakukan pembimbingan teknis yang
berupa proses latihan yang intensif dan sekaligus mewujudkan pentas karya aransemen
lagu Padhang Bulan hasil kreasi mereka, anggota komunitas MGMP Seni Budaya Kota
Surakarta,
Hasil yang diharapkan akan dicapai dari program kegiatan ini adalah terwujudnya
peningkatan kompetensi khususnya dari bidang seni musik yang akan bermanfaat kepada
performa kaum guru anggota (MGMP) Seni Budaya Kota Surakarta dalam menjalankan
kewajiban dan tugasnya sekaligus memberi tambahan motivasi untuk menjadi pengampu
Mata Pelajaran Seni Budaya yang lebih percaya diri dan tampil lebih profesioal
SIGNIFIKANSI PERBEDAAN ELEMEN VISUAL DESAIN BROADCAST LIGA 1 INDONESIA MUSIM KOMPETISI 2019 DAN 2023/2024 MELALUI STUDI KOMPARASI
Sepak bola sebagai olahraga paling populer di muka bumi, dengan 69% dari populasi masyarakat Indonesia juga memiliki ketertarikan terhadap sepak bola. Jumlah penggemar sebanyak itu memberikan tuntutan Liga 1 sebagai kompetisi sepak bola kasta tertinggi nasional untuk mampu menyalurkan siaran pertandingan yang berkualitas demi memenuhi permintaan khalayak. Salah satu aspek vital dalam penyiaran Liga 1 adalah desain broadcast yang baik secara estetika visual dan efektif dalam menyampaikan informasi pertandingan. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan dan menghitung signifikansi perbedaan dalam komparasi penerapan elemen visual pada desain broadcast Liga 1 Indonesia musim kompetisi 2019 dan 2023/2024 berdasarkan teori Timothy Samara yang mencakup form dan space, warna, gambar, tipografi, dan layout. Metode campuran (mixed methods) yang menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini dengan analisis datanya menggunakan metode Miles & Huberman. Penelitian ini juga menggunakan uji komparasi data Mann Whitney guna menghitung angka signifikansi perbedaan antara desain broadcast Liga 1 2019 dan 2023/2024. Hasil penelitian ini menemukan fakta bahwa desain broadcast Liga 1 musim kompetisi 2019 dan 2023/2024 tidak berbeda signifikan secara statistik, namun hasil analisis mendalam pada penelitian ini dapat memberikan wawasan berharga terhadap penerapan elemen visual dan pengembangan desain broadcast Liga 1 di masa mendatang