7065 research outputs found
Sort by
HARAPAN KULI BANGUNAN SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
Penciptaan Karya Tugas Akhir yang berjudul “Harapan Harapan Kuli Bangunan Sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis” ini dilatar belakangi oleh pengalaman penulis serta mengeksplorasi realitas kuli bangunan tentang harapan terkait dengan perkembangan dimasa depan. Dengan mengamati kondisi saat ini dan tantangan yang dihadapi sehingga mempengaruhi kehidupan sehari-hari serta dapat memahami aspirasi untuk meningkatkan kondisi kerja, pengakuan profesi dan kesejahteraan para pekerja bangunan.
Penciptaan karya tugas akhir ini menggunakan tahapan-tahapan berdasarkan landasan teori L.H Chapman tentang proses penciptaan karya, yang menyebutkan tiga tahapan penciptaan karya yaitu, 1). Upaya menemukan gagasan, 2). Menyempurnakan, mengembangkan, dan memantapkan gagasan awal, 3). Visual kedalammedium Gaya lukis yang digunakan adalah gaya kubisme dipadukan dengan sentuhan akhir tehnik plototan sehingga terwujud tekstur pada karya
PERANCANGAN INTERIOR RESTORAN DENGAN SISTEM PELAYANAN ANGKRINGAN DI KABUPATEN PONOROGO
Perancangan Interior Restoran dengan Sistem Pelayanan Angkringan di Kabupaten Ponorogo ini akan mengadopsi tema dari kebudayaan lokal setempat. Kabupaten Ponorogo terkenal dengan budaya daerahnya yaitu kesenian Reyog. Dhadhak Merak merupakan salah satu komponen utama dalam kesenian Reyog. Dhadak Merak adalah sebuah topeng raksasa berupa kepala singa yang dihias dengan bulu merak. Gaya yang digunakan dalam Perancangan Interior Restoran Dengan Sistem Pelayanan Angkringan Di Kabupaten Ponorogo ini menggunakan gaya eklektik. Tujuan dari perancangan ini adalah merancang desain interior restoran dengan sistem pelayanan angkringan yang dapat membuat nyaman dan memenuhi kebutuhan kosumen dan memiliki tampilan interior yang berbeda dengan sentuhan budaya lokal Dhadak Merak dari kesenian tarian Reyog Ponorogo. Perancangan ini menggunakan metode perancangan pemrograman Kurtz yang terdiri dari tahap orientasi, tahap pembuatan program dasar, tahap pengulangan pemrograman serta tahap desain proses desain. Landasan yang digunakan dalam peracangan ini terdiri dari pendekatan fungsi, pendekatan ergonomi, dan pendekatan estetika yang meliputi tema dan gaya. Tema Dhadak Merak yang dipadukan dengan gaya eklektik dijadikan ide untuk elemen-elemen pengisi ruang interior restoran. Perancangan restoran ini terdapat fasilitas pendukung seperti mushola, toilet, lift pengunjung, lift makanan, area buffet, area makan VIP, area makan indoor, area makan outdoor, dan area makan lesehan.
Kata kunci: Interior, Restoran, Dhadak Merak, Eklekti
PARALLEL EDITING DALAM MEMBANGUN DRAMATISASI PADA FILM SATU JIWA UNTUK INDONESIA : DARAH BIRU AREMA 2
Melalui Film Satu Jiwa untuk Indonesia: Darah Biru Arema 2 seniman Kota Malang berhasil menunjukkan eksistensinya pada bioskop nasional. Darah Biru Arema 2 memiliki sisi menarik pada segi teknik editing. Teknik editing yang digunakan adalah parallel editing. Editing film tidak hanya melihat dari bagaimana cara menyusun gambar dari shot satu menuju shot berikutnya, melainkan membutuhkan motivasi lebih dalam memilih sebuah shot, sehingga pesan dapat tersampaikan kepada penonton. Parallel editing secara efektif mampu memberikan informasi cerita di berbagai tempat, sekaligus membuat adegan seolah-olah terasa seperti berjalan secara simultan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi parallel editing dalam membangun dramatisasi pada film Darah Biru Arema 2. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan studi pustaka. Analisis data dengan reduksi data, sajian data, serta verifikasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan parallel editing dalam film mampu memunculkan empat unsur dramatik dengan tingkat kemunculan yang berbeda. Unsur dramatik konflik lebih sering muncul dalam penyusunan shot. Penempatan teknik parallel editing dalam membangun unsur konflik membuat adegan drama yang disusun lebih terlihat dramatis. Pembuat film ingin penonton ikut meraskan dan terbawa suasana pada hambatan yang dihadapi oleh para tokoh utamanya
PEDAGANG PASAR BERINGHARJO DALAM FOTOGRAFI PORTRAIT
iv
PEDAGANG PASAR BERINGHARJO DALAM FOTOGRAFI
PORTRAIT
ABSTRAK
Muhammad Ikbar Nur Kholik Cahyono
Pasar Beringharjo merupakan salah satu pasar tertua dan terbesar terletak
dikota Yogyakarta. Pasar Beringharjo juga ditetapkan sebagai bangunan cagar
budaya, nilai- nilai budaya yang masih bertahan di benak masyarakat Yogyakarta
menjadi hal yang mampu menghidupkan pasar. Pasar Beringharjo dipilih sebagai
lokasi penciptaan karya fotografi dipengaruhi oleh pengalaman empiris karena
sejak dahulu sering mengunjungi Pasar Beringharjo untuk membantu orang tua
berdagang ikan laut, kedekatan penulis dengan pedagang membuat memunculkan
ide untuk memvisualkan Pasar Beringharjo dalam Penciptaan tugas akhir karya ini.
Dengan adanya para pedagang yang menyediakan kebutuhan hidup
masyarakat Yogyakarta hal tersebut perlu didokumentasikan sebagai arsip visual
Pasar Beringharjo yang di representasikan oleh pedagang yang hadir disana dengan
mobilitas kegiatan 24 jam sebagai informasi untuk memperkenalkan tentang Pasar
Beringharjo sebagai pasar yang menjual keanekaragam barang dagangan dari
sandang, pangan, papan yang belum tentu pasar lain ada. Pendekatan penciptaan ini
menggunakan fotografi portrait dengan menentukan komposisi dalam setiap subjek
yang dipilih untuk memaksimalkan potret para pedagang Pasar Beringharjo. Peran
fotografi portrait disini dapat dijadikan sebagai media untuk merekam orang-orang
yang berperan dalam menghidupkan Pasar Beringharjo dan dijadikan sebagai arsip
visual untuk kalangan umum terutama masyarakat Yogyakarta mengetahui tentang
pedagang yang berjualan melalui bentuk visual
BATIK DAWET JABUNG PADA BUSANA KEBAYA MODERN
Dawet jabung adalah minuman khas yang berasal dari Kabupaten ponorogo, Jawa Timur. Karya ini mengangkat tema dari minuman tersebut dengan tujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat luas, bahwa di Ponorogo terdapat minuman tradisional yang tak kalah nikmat dari minuman modern. Menciptakan motif batik dawet jabung dari hasil stilasi isian dawet jabung dan proses penyajian dawet jabung. pada kebaya modern ini di peruntukan bagi para wanita khususnya untuk sendhuk Ponorogo atau yang sering dikenal sebagai putri Ponorogo. Penulisan ini berlandaskan dari metode penciptaan yang terdiri dari tahap eksplorasi, tahap inkubasi, tahap konseptualisasi, dan tahap materialisasi. Penelitian ini menghasilkan luaran berupa karya kebaya modern sejumlah 4, dengan dominan warna putih yang menggambarkan warna santan seperti pada dawet jabung yang telah disajikan.Hasil karya tersebut juga memiliki Judul pada setiap busananya yakni karya 1 “Khanava” karya 2 dengan judul “Rilaksmi” karya 3 dengan judul “Maapsari” karya 4 dengan judul “Yogi Berama”. Dengan terciptanya karya busana yang mengangkat minuman tradisional ini, kedepannya lebih dikenal Masyarakat luas dan mengajak masyarakat Indonesia agar tetap mencintai dan melestarikan keberadaan minuman tradisional. Proses pengerjaan karya harus selalu memperhatikan keselamatan, seperti menggunakan masker dan sarung tangan
LENONG DENES SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK PADA BUSANA FASHION BUSINESS CASUAL
Sumber ide penciptaan tugas akhir ini didasari oleh Isu mengenai Lenong denes kini mulai tergerus oleh perkembangan zaman di Ibu Kota Jakarta dan merupakan bentuk kampanye penanggulangan ke-stresan pekerja dengan mengambil langkah sekecil mungkin, contohnya menggunakan busana yang mementingkan kenyamanan. Lenong denes menceritakan sebuah kehidupan kerajaan dan bersifat formal, menggunakan pakaian khusus, dan komunikasi yang digunakan merupakan bahasa Melayu tinggi. Selain itu isu yang diangkat mengenai tingkat ke-stresan pekerja di ibu kota Jakarta yang meraih urutan ke enam dunia. Hal tersebut membangun jiwa pengkarya untuk lebih lanjut mengeksplorasi ke dalam bentuk motif batik untuk menciptakan koleksi Fashion Business Casual yang pembuatannya mempertimbangkan kenyamanan pemakainya, salah satunya dengan penggunaan bahan katun sutra sebagai bahan utama, selain mementingkan kenyamanan karya ke-4 karya busana ini juga mementingkan penunjang keindahan, yaitu dengan menambangkan bahan dan juga motif border tambahan. Penciptaan Tugas Akhir karya ini menggunakan metode penciptaan seni yaitu Eksplorasi, Inkubasi, Konseptualisasi, dan Materialisasi. Ide/Gagasan sudah terpenuhi dengan terciptanya karya tugas akhir berjumlah 4 busana Fashion Business Casual yang memiliki judul Dancing Queen, Dance on My Dress, Jams, From Stage to Street. Motif batik Lenong Denes Betawi merupakan bentuk dari visual teatrikalisasi budaya lenong denes Betawi yang dihasilkan dari bentuk pengamatan alur cerita dari drama tersebut. Penciptaan Tugas Akhir karya ini menggunakan pewarnaan remasol dengan warna hijau, pink, kuning dan coklat
“ RAMO’ BUCCO’ ” : INTERMEDIA FILM FIKSI DAN KÈJHUNGAN MADURA
Penelitian ini didasari atas penciptaan karya seni film berjudul Ramo’ Bucco’ yang menggabungkan film fiksi dan kèjhungan Madura dalam konsep intermedia. Intermedia dimaknai sebagai sebuah praktik yang menggabungkan dua atau lebih jenis bentuk seni yang saling bersinggungan tanpa mengabaikan ciri khas, meskipun dapat mengaburkan batas formal dari masing-masing bentuk seni. Tujuan dari penciptaan karya seni ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh seni film fiksi dan seni Kèjhungan
Madura dapat bersintesis dalam satu pergelaran menggunakan konsep intermedia Eric Vos. Metode dalam penciptaan karya seni intermedia ini dikerjakan melalui empat tahap yaitu praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Tahap praproduksi merupakan persiapan yang terdiri dari riset, pembuatan skenario, pemilihan kru produksi, lokasi, dan pemain, reading serta workshop aktor. Tahap produksi yaitu merealisasikan gagasan yang telah matang pada tahap praproduksi ke dalam bentuk film fiksi. Tahap pascaproduksi terdiri dari offline editing, online editing, dan tahap keempat adalah distribusi atau pergelaran. Hasil dari penciptaan intermedia antara film fiksi dan Kèjhungan Madura ini adalah untuk menghadirkan pengalaman menonton yang baru kepada publik, terutama pada kaburnya batas antara yang nyata (kèjhungan) dan yang maya (film fiksi). Hal ini terjadi terutama dikarenakan film sebagai salah satu bentuk kesenian yang terdigitalisasi sehingga cukup fleksibel untuk disintesiskan dengan bentuk seni lainnya
KALIGRAFI AKSARA JAWA BERCITRA ANTABOGA DALAM PENCIPTAAN MOTIF BATIK BUSANA READY TO WEAR
ABSTRAK
Ide gagasan tugas akhir motif batik dengan sumber ide “Kaligrafi
Aksara Jawa Bercitra Antaboga Dalam Penciptaan Motif Batik Busana
Ready To Wear”. Kaligrafi Aksara Jawa merupakan sekumpulan aksara
Jawa yang diberi sentuhan seni dengan bentuk indah, citra Antaboga
sebagai gambaran umum mengenai mitos naga yang terkenal di Jawa.
Tujuan dari tugas kekaryaan ini yaitu, untuk menciptakan motif batik
kaligrafi aksara Jawa bercitra Antaboga untuk busana ready to wear.
Alasan pengambilan tema ini karena aksara Jawa merupakan salah satu
kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Jawa sejak nenek moyang
dahulu, serta memiliki makna dengan pemahaman makna-makna tersebut
diharapkan dapat menjadi penuntun perilaku yang menggambarkan
keutamaan hidup. Metode yang digunakan dalm penciptaan karya adalah
metode SP. Gustami yang terbagi menjadi tiga metode yaitu, tahap
eksplorasi dengan melakukan pengamatan langsung pada unsur-unsur
kaligrafi aksara Jawa bercitra Antaboga yang digunakan untuk busana
ready to wear. Tahap perancangan desain, dimulai dengan pembuatan
desain alternatif untuk dipilih sebagai motif yang akan diwujudkan.
Tahap perwujudan karya diterapkan pada proses pola, nyorek, membatik,
mewarna, pelorodan, menjahit hingga finishing. Hasil penciptaan karya
berupa busana ready to wear yang digunakan dalam kesempatan acara
kantor, MC, outfit kampus dengan sasaran remaja hingga dewasa baik
pria maupun wanita umur 15-25 tahun. Karya pertama dengan judul
Hanguripi Jiwa Dirandra, karya ke dua Kapila Jatukrama, karya ke tiga
Niskala Asyanendra, karya ke empat Askmaraloka, dan karya ke lima
Gantari Sthana Wi. Terciptanya karya busana yang mengangkat motif
tersebut dapat menumbuhkan masyarakat luas agar terus mencintai,
melestarikan, dan bangga akan kebudayaan daerahnya sendir
KARYA TARI MINDSET LELUHUR KESEDERHANAAN YANG SELESAI PERSPEKTIF SUKU KAJANG
Penelitian ini berusaha mengungkap permasalahan pola pikir
sederhana berdasarkan perspektif Leluhur Suku Kajang, yang dijadikan sebagai inspirasi gagasan karya tari Mindset Leluhur. Penelitian ini fokus pada rumusan masalah tentang (1) bagaimana bentuk sajian tari Mindset Leluhur karya Andi Muhammad Fathir; (2) bagaimana proses penciptaan karya tari Mindset Leluhur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu Practice Based Research dengan pendekatan metode kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan studi pustaka. Landasan teori yang digunakan untuk menjawab rumusan
masalah mengenai bentuk sajian karya tari Mindset Leluhur yaitu
menggunakan teori dari Y.Sumandiyo Hadi yang menjelaskan tentang
elemen-elemen dalam pertunjukan karya tari, dan untuk mengetahui
jawaban dari proses penciptaan karya tari Mindset Leluhur menggunakan
teori 3R (Re-Visiting, Re-Questioning, Re-Interpretating) dari Eko Supriyanto dan teori dari Alma M. Hawkins yaitu Eksplorasi,Improvisasi dan Forming.Hasil penelitian ini menunjukkan: pertama, bahwa karya tari Mindset Leluhur susunan geraknya terbentuk berdasarkan gagasan hidup sederhana dari perspektif Suku Kajang. Kedua, mengetahui proses penciptaan karya tari Mindset leluhur yang didalamnya terdapat langkahlangkah mulai dari penyusunan konsep hingga terciptanya karya tari Mindset Leluhur.
Kata Kunci : Mindset, Suku Kajang, dan Leluhur
EKSPLORASI LONTARAK BUGIS “PAPPASENG TORIOLO” PADA KONTEKS BUDAYA MASA KINI DALAM KARYA SENI RUPA
Penelitian artistik ini berjudul : Eksplorasi Lontarak Bugis “Pappaseng
Toriolo” pada konteks budaya masa kini dalam karya seni rupa. Penulis yang
merupakan perantau Bugis tertarik untuk mengangkat tema ini sebagai respon
terhadap budaya Bugis Pappaseng toriolo yang semakin ditinggalkan oleh
generasi muda, selain karena minimnya support dari lingkungan pendidikan dan
komunikasi di masyarakat juga karena sarana penyampaian yang tidak sesuai
dengan generasi sekarang. Oleh karena itu penulis akan menciptakan karya seni
rupa dalam bentuk 3 dimensi dengan menggunakan aksara lontarak Bugis dalam
mewujudkan pesan Pappaseng Toriolo agar diminati generasi muda masa kini.
Tujuan dalam penelitian penciptaan ini untuk mengetahui proses
penciptaan eksplorasi lontarak Bugis “Pappaseng toriolo” pada konteks masa kini
dalam karya seni rupa. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang
bertujuan untuk mendeskripsikan proses penciptaan yang dilakukan. Metode
penciptaan yang digunakan dalam penciptaan karya ini adalah persiapan,
eksplorasi atau perancangan, perwujudan dan penyajian. Dari metode penciptaan
ini menghasilkan karya seni rupa 3 dimensi berwujud pappaseng toriolo dalam
aksara lontara yang disajikan dalam perahu pinisi sehingga memiliki nilai
kebaruan dalam perwujudannya dan juga pemaknaannya