7065 research outputs found
Sort by
PENCIPTAAN MEJA AQUARIUM DENGAN SUMBER IDE RAMALAN PRABU JAYABAYA MENGGUNAKAN UNSUR HIAS WAYANG BEBER
MAHFUDZ FAUZI, 191471036, 2024, “PENCIPTAAN MEJA AQUARIUM DENGAN SUMBER IDE RAMALAN PRABU JAYABAYA MENGGUNAKAN UNSUR HIAS WAYANG BEBER” Deskripsi Karya Program Studi: S-1 Kriya, Fakultas Seni Rupa Dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Penciptaan meja aquarium yang mengambil inspirasi dari beberapa ramalan Prabu Jayabaya, seorang raja legendaris dari Kerajaan Kediri di Jawa Timur. Sumber ide ini menjadi landasan untuk menciptakan sebuah karya seni yang unik dengan menggunakan unsur hias wayang beber. Penciptaan ini bertujuan untuk menggabungkan dua elemen budaya yang kaya yaitu: ramalan Prabu Jayabaya dan wayang beber, dalam pembuatan meja aquarium sebagai objek dekoratif. Dalam proses penciptaan, ramalan Jayabaya menjadi panduan untuk mewujudkan desain adegan dalam visual wayang beber. Teknik penerapan wayang beber pada karya ini menggunakan teknik pahat dan sungging. Aquarium menjadi kanvas untuk menggambarkan nuansa dan atmosfer dari cerita-cerita ramalan Jayabaya, sehingga menciptakan pengalaman visual yang mendalam bagi pengamat. Hasil akhir penciptaan karya ini diharapkan menjadi sebuah karya seni yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga mengandung makna dan pesan bagi penikmat karya. Penelitian penciptaan ini menggunakan teori estetika oleh Monroe Beardsley yang menjelaskan 3 ciri yang menjadi sifat-sifat membuat baik (indah) dari benda-benda estetis pada umumnya, ketiga ciri itu adalah kesatuan, kerumitan, dan kesungguhan. Metode penciptaan yang diterapkan mengacu pada pendapat SP. Gustami tentang pola tiga tahap enam langkah, terdapat tiga tahapan penciptaan seni kriya yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan
ANTABOGA SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK UNTUK BUSANA READY TO WEAR
Tugas Akhir kekaryaan dengan mengangkat tema Antaboga. Antaboga
adalah makhluk mitologi Jawa yang digambarkan sebagai naga air, melambangkan
kekuatan dan kemakmuran. Ia merupakan simbol kehidupan dan transformasi,
sering dijadikan inspirasi dalam seni ukir, lukis, dan batik. Penerapan motif
Antaboga dalam busana ready to wear bertujuan untuk melestarikan tradisi budaya
Jawa dan mengangkat nilai-nilai kemanusiaan yang diwakili oleh Antaboga sebagai
pemimpin yang arif dan bijaksana. Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah untuk
mempertahankan dan memperkenalkan kembali warisan budaya melalui desain
motif batik pada busana ready to wear. Pengambilan tema Antaboga diharapkan
dapat meningkatkan rasa memiliki dan menjaga warisan budaya, sambil mengikuti
tren mode yang terus berubah. Data dan informasi diperoleh melalui studi pustaka.
Penciptaan karya batik tulis ini menggunakan metode penciptaan seni yaitu dengan
mengumpulkan data, perancangan karya, dan perwujudan karya. Warna batik yang
menjadi acuan dalam penciptaan karya Tugas Akhir ini yaitu warna merah, biru,
ungu, hijau, dan hitam. Hasil yang diperoleh yaitu 4 karya motif batik dengan ide
Antaboga pada busana ready to wear untuk wanita, dengan teknik pewarnaan colet.
Pembuatan karya dengan masing-masing judul yang sesuai dengan karakter serta
penampilanya, yaitu karya 1 dengan judul “Samskara Anagata”, karya 2 dengan
judul “Aaradhya Adhikari”, karya 3 dengan judul “Dalilah Abimala”, dan karya 4
dengan judul “Satyakarta Arjava”. Penciptaan karya ini memberikan inovasi yaitu
sebagai bentuk usaha dalam memperkenalkan kembali warisan budaya dalam
bentuk kesenian batik pada busana ready to wear
ESTETIKA NGUDARASA PADA SENI PERTUNJUKAN KETHOPRAK BALEKAMBANG LAKON KEN AROK SKRIPSI KARYA ILMIAH
The research entitled "Aesthetics of Ngudarasa in the Kethoprak Balekambang Performance of the Play Ken Arok" analyzes the aesthetics contained in one of the scenes in the Kethoprak performance, namely ngudarasa. The problems raised are: (1) why the ngudarasa scene is conveyed in the Balekambang Kethoprak performance of Ken Arok's play and (2) how the ngudarasa scene is conveyed in the Balekambang Kethoprak performance of Ken Arok's play. The aesthetics of the ngudarasa scene are analyzed using the 3L (lagak, lagu, lageyan) concept. This research uses qualitative methods, with data collection techniques through observation, documentation, interviews and literature study. The results of this research show that through aesthetic research on the ngudarasa scene, new insights into the cultural richness and values contained therein will be opened. In the context of Javanese culture, the ngudarasa scene is an important medium for exploring and understanding the various internal conflicts of the characters in the main theme of the story. This research contributes to a deeper understanding of traditional Javanese performing arts, but can also help preserve and appreciate this cultural heritage
PEMBACAAN KARAKTER ANTI-HERO PADA TOKOH AJO KAWIR MELALUI STRUKTUR NARATIF DAN MISE EN SCENE DALAM FILM SEPERTI DENDAM RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS
Pembacaan Karakter Anti-hero pada Karakter Ajo Kawir melalui Struktur Naratif dan Mise en Scene dalam Film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas menganalisis serta mendeskripsikan karakter anti-hero dalam film laga Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Penelitian ini difokuskan pada struktur naratif film menurut Linda Seger yang membagi plot utama film ke dalam lima momentum: set-up, 1st turning point, 2nd turning point, climax, dan resolution. Konsep narrative form Bordwell berupa kausalitas, ruang, dan waktu digunakan untuk membedah kelima scene tersebut. Selain menelaah struktur naratif, penelitian ini juga menggunakan empat unsur mise en scene sebagai alat analisis untuk mengidentifikasi karakter anti-hero. Berdasarkan pembacaan terhadap struktur naratif, film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas menceritakan karakter anti-hero dengan memperlihatkan tindakannya yang di luar konvensi sosial dan kelemahannya pada bagian awal atau set-up. Kemudian, pada bagian second turning point tindakan berandalnya itu memperoleh latar masa lalu yang kelam. Ajo Kawir pernah mengalami kekerasan seksual yang traumatis yang membuatnya impoten dan bergulat dengan itu seumur hipupnya. Pada pembacaan mise en scene, film ini banyak menggunakan pengaturan setting dan lighting bernuansa suram untuk menggambarkan kekelaman karakter anti-hero pada situasi sulit yang dialami Ajo Kawir
PERANCANGAN INTERIOR MUSEUM SEJARAH YAYASAN PENDIDIKAN WARGA SURAKARTA
Yayasan Pendidikan “Warga” Surakarta merupakan organisasi masyarakat tionghoa
yang bergerak dalam bidang pendidikan di kota Surakarta. Berkarya dalam bilang
pendidikan selama 120 tahun, Yayasan Pendidikan “Warga” Surakarta mencatatkan
jejak sejarah berupa dokumen dan artefact. Perancangan interior Museum Sejarah
Yayasan Pendidikan “Warga” Surakarta hadir sebagai gagasan bagi yayasan dalam
menyimpan, merawat serta mengabadikan jejak sejarah perkembangan yayasan dengan
menarik dan inspiratif. Perancangan menggunakan pendekatan fungsi, ergonomic,
gaya dan teknis dengan metode perancangan yang meliputi input, sintesis dan ouput.
Batasan lingkup garap perancangan meliputi fasilitas utama seperti lobby, ruang
koleksi, ruang audiovisual, aula, perpustakaan, merchandise store, dan café, serta
fasilitas pendukung seperti kantor staff dan kamar mandi. Fasilitas tersebut di desain
menggunakan konsep/tema storytelling dengan mengusung gaya eklektik yang dapat
menampilkan keindahan perpaduan elemen interior cina peranakan dan modern yang
klasik dan unik
Lisensi Langsung dan Royalti Musik
Lembaga pemungut royalti, seperti LMKN, menjadi sorotan terkait kurangnya transparansi dalam pelaporan keuangan royalti. Meskipun seharusnya melindungi hak pencipta lagu, lembaga ini dinilai tidak memberikan keadilan finansial memadai. Reformasi dalam sistem pembayaran royalti dan perlindungan hak cipta lagu di Indonesia menjadi semakin mendesak. Dalam mengatasi kendala sistem blanket license, direct licensing muncul sebagai solusi inovatif. Melalui praktik ini, penyanyi membayar royalti langsung kepada pencipta lagu, meningkatkan keuntungan, kecepatan, dan transparansi. Meski telah diadopsi di beberapa negara, implementasi direct licensing di Indonesia masih perlu diperjuangkan. Keputusan beberapa komposer untuk melarang lagu-lagu mereka digunakan secara komersil dapat merugikan pemusik dan penikmat musik, menciptakan ketidakseimbangan kekuatan di industri musik. Solusi ideal membutuhkan dialog terbuka dan transparan antara komposer, pemusik, dan lembaga pemungut royalti
Merayakan Festival, Menyemai Kebahagiaan
Festival seni pertunjukan tidak hanya sekadar platform untuk menampilkan berbagai bentuk seni, tetapi juga merupakan arena untuk merayakan kebahagiaan bersama dan membangun ikatan sosial. Festival ini memberikan ruang bagi seniman untuk berinteraksi dengan masyarakat dan berbagi kebahagiaan, serta memperkuat komunitas melalui seni. Selain menjadi ajang perayaan, festival seni pertunjukan berperan penting dalam membangun jembatan sosial, di mana penonton dari berbagai latar belakang dapat berkumpul, menikmati pertunjukan, dan bertukar pandangan. Dalam suasana yang penuh keceriaan, setiap individu merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar, dengan kesempatan untuk belajar dan tumbuh bersama. Festival seni juga membuka ruang untuk dialog dan diskusi konstruktif, memungkinkan munculnya perspektif baru dan memberikan wawasan tentang kontribusi seni dalam kehidupan masyarakat. Dengan tema yang mencerminkan keadaan sosial, politik, dan budaya terkini, festival ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga alat edukasi dan refleksi sosial. Festival Kaki Gunung Watu Pecah di Jember, sebagai simbol komitmen terhadap kebhinekaan dan kemanusiaan, menjadi panggung penting untuk merayakan keberagaman dan membangun masa depan yang lebih harmonis melalui seni
Dilema, Etika Hak Cipta, dan Musisi Tradisi
Artikel ini membahas dilema etika hak cipta yang dihadapi oleh musisi tradisi. Para musisi tradisi sering kali berada dalam posisi rentan karena warisan musik lisan mereka yang berusia ratusan tahun tidak terlindungi dengan baik oleh hukum hak cipta. Ketika mereka menciptakan komposisi baru, kurangnya perlindungan hukum menyebabkan mereka rentan terhadap eksploitasi dan penggunaan tidak sah karya mereka. Di era digital, tantangan semakin meningkat dengan penyebaran konten musik tradisi di platform online tanpa izin, yang mengakibatkan hilangnya kendali atas karya mereka. Contoh kasus seperti yang terjadi di SMAN 1 Ponorogo menunjukkan kurangnya kesadaran akan hak cipta dalam berkesenian. Diperlukan edukasi lebih baik dan regulasi yang tepat untuk melindungi hak-hak musisi tradisi, memastikan mereka mendapatkan pengakuan yang adil. Kesadaran akan hak cipta juga penting untuk menjaga integritas dan keberlanjutan praktik seni tradisi. Fenomena kompetisi seni di tingkat lokal-nasional sering kali mengabaikan nilai-nilai etika dan integritas, menciptakan budaya pragmatis dan oportunis. Oleh karena itu, langkah-langkah konkret diperlukan untuk memastikan bahwa seni tetap menjadi ruang yang afirmatif, terbuka, dan penuh integritas
PENGUATAN UNSUR DRAMATIK PADA PERGERAKAN KAMERA FILM PENGABDI SETAN 2: COMMUNION
PENGUATAN UNSUR DRAMATIK PADA PERGERAKAN KAMERA FILM PENGABDI SETAN 2: COMMUNION (Berlian Syahbantoro, 2024, hal. i-xii dan 1-96) Skripsi S-1 Prodi Film dan Televisi, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Film Pengabdi Setan 2: Communion menjadi salah satu film horor di Indonesia yang mendapatkan berbagai nominasi pada Festival Film Indonesia (FFI). Film ini memiliki aspek penting dari segi sinematografi lebih tepatnya pada pergerakan kamera karena apabila unsur sinematografi dipadukan menjadi satu dalam rangkaian adegan dapat memperkuat visual, selain itu pesan dan kesan yang terkandung dalam film tersebut dapat disampaikan kepada penonton dan berpengaruh pada suasana hati serta emosi penonton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya unsur dramatik pergerakan kamera. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergerakan kamera dalam film mampu menguatkan unsur dramatik dengan perasaan yang berbeda-beda. Terdapat 126 scene teknik pergerakan kamera, dan yang mengandung dramatik sebanyak 18 scene yang tersebar diantara unsur dramatik berupa tegang (suspense), dan surprise. Terbukti pergerakan pan terdapat 4 tegang, 1 surprise. Pergerakan tilt terdapat 1 tegang dan 2 surprise. Pergerakan roll terdapat 1 tegang. Pergerakan tracking shot/dolly shot terdapat 1 tegang. Pergerakan handheld terdapat 11 tegang. Pergerakan ped terdapat 2 tegang dan 1 surprise. Pergerakan arc terdapat 1 surprise. Pergerakan follow shot terdapat 10 tegang. Pergerakan kamera yang sering digunakan dalam film ini adalah handheld sebanyak 11 scene yang mana dapat meningkatkan unsur dramatik dengan mayoritas tegang (suspense). Unsur dramatik yang muncul lebih banyak yaitu tegang (suspense). Pergerakan kamera handheld bergerak secara bergoyang dan tidak stabil dapat menciptakan gambar yang lebih natural, sehingga dapat memberikan kesan tegang (suspense) bagi penonton dan memperkuat dramatisasi adegan pada film. Hal ini sesuai karena film ini memuat banyak aksi dalam penyelesaian masalahnya
QUARTER LIFE CRISIS SEBAGAI PEMBANGUN UNSUR NARATIF DALAM PENYUTRADARAAN FILM BER-GENRE ROAD MOVIE “KEPALA DUA”
QUARTER LIFE CRISIS SEBAGAI PEMBANGUN UNSUR NARATIF DALAM PENYUTRADARAAN FILM BER-GENRE ROAD MOVIE “KEPALA DUA” (Anfasa Rafi Muhammad, 18148138), Tugas Akhir Karya S-1 Program Studi Film dan Televisi, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia mencapai 275,77 juta jiwa pada 2022. Dari jumlah tersebut kelompok usia yang memiliki jumlah terbanyak adalah kelompok usia 20 – 29 tahun yaitu 44,95 Juta dengan rincian 20-24 sejumlah 22,49 juta penduduk dan 25 – 29 sejumlah 22,46 juta penduduk. Film Kepala Dua menggunakan isu Quarter Life Crisis yang merupakan sebuah kondisi krisis yang dihadapi oleh kelompok usia 20 tahun-an sebagai pembangun unsur naratifnya. Ide tersebut diwujudkan menggunakan pendekatan genre road movie. Genre road movie dipilih karena dianggap sesuai dan mampu untuk menggambarkan sebuah perjalanan hidup seseorang yang sedang berada di fase quarter life crisis. Road movie/Road Films disebut demikian karena menceritakan karakter yang selalu berpindah-pindah tempat dalam suatu perjalanan. Metode penciptaan pada film ini menggunakan tahap pra-produksi, produksi, dan paska-produksi. Proses penciptaan film Kepala Dua Melalui plot cerita yang digerakkan oleh dialog Film Kepala Dua berhasil menyajikan permasalahan yang sangat dekat dengan yang dirasakan pemuda di usia 20 tahun-an, terutama permasalahan antar kekasih