7065 research outputs found
Sort by
PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK TOKOH PAK DOMU DALAM FILM NGERI-NGERI SEDAP BERDASARKAN POLA POSITIVE CHANGE ARC
Penelitian ini membahas perkembangan karakteristik tokoh utama Pak Domu dalam film Indonesia Ngeri-Ngeri Sedap yang dirilis pada tahun 2022 berdasarkan pola positive change arc. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk memberi paparan mengenai transformasi karakteristik tokoh Pak Domu dari nilai-nilai yang negatif berkembang menjadi positif. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui pembacaan film Ngeri-Ngeri Sedap yang dibagi ke dalam bentuk 3 babak yang kemudian dibedah ke dalam 14 tahap pola positive change arc berdasarkan teori K.M. Weiland, dan tiap-tiap tahap dielaborasi untuk melihat transformasi delapan karakteristik tokoh Pak Domu dengan metode karakteristik tokoh Misbach Yusa Biran. Hasil dari penelitian ini adalah kedelapan karakteristik tokoh Pak Domu mengalami perkembangan dari negatif ke positif. Di babak pertama, Pak Domu cenderung teguh terhadap pendiriannya, sehingga tidak ada perkembangan positif yang berarti. Di babak kedua, Pak Domu mulai menghadapi konflik yang besar sehingga dia harus berkompromi dengan nilai-nilai yang dipegang oleh karakter lain. Di babak ketiga, Pak Domu meninggalkan cara hidup dia yang lama, dan mulai hidup dengan dunia yang baru. Film Ngeri-Ngeri Sedap mampu menghadirkan tokoh Pak Domu yang karakteristiknya berkembang secara perlahan, sehingga membuat tokoh Pak Domu menjadi tokoh dengan karakter yang kuat, menarik, dan relevan dengan kehidupan nyata
ESTABLISHING SHOT SEBAGAI PENGUAT LATAR CERITA WAKTU DAN TEMPAT DALAM FILM MARLINA SI PEMBUNUH DALAM 4 BABAK
Penelitian film thriller Marlina Si Pembunuh Dalam 4 Babak dilatar belakangani oleh adanya seorang wanita yang berjuang melawan ketidakadilan dengan berlatar tempat disumba. sehingga sisi dramatis film ini mampu mempengaruhi daya tarik penonton. Film Marlina Si Pembunuh Dalam 4 Babak menggunakan banyak teknik establishing shot yang dapat dilihat pada sebagian besar scene didalamnya. Hal tersebut melatarbelakangi terciptanya penelitian ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana establishing shot yang digunakan dalam film Marlina Si Pembunuh Dalam 4 Babak sebagai penguat latar cerita waktu dan tempat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh melalui observasi dan studi pustaka. Proses analisis terdiri dari beberapa tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Analisis data yang dilakukan menggunakan kualitatif dalam model Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukan kesimpulan bahwa peranan teknik establishing shot dalam film marlina si pembunuh dalam 4 babak digunakan untuk penguat latar cerita waktu dan tempat, sehingga penonton dapat mengetahui, merasakan situasi tegang, dramatis, serta lingkungan sekitar, dengan menggunakan teknik establishing shot memungkinkan penonton untuk melihat subjek secara lebih jelas, penonton dapat menikmati secara jelas detail-detail seperti benda, pakaian, properti, dan alam sekitar
REPRESENTASI FATHERHOOD TOKOH PAK BROTO DALAM FILM LOSMEN BU BROTO (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES)
Penelitian ini berawal dari adanya ketertarikan terhadap penggambaran Pak Broto sebagai sosok ayah dan suami yang cukup berbeda dari penggambaran ayah pada umumnya terlebih film ini berpusat pada dominasi Bu Broto dan konfliknya terhadap anak perempuannya namun tokoh Pak Broto juga berperan penting dalam penyelesaian konflik film tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi fatherhood tokoh Pak Broto yang digambarkan dalam film Losmen Bu Broto melalui analisis semiotika Roland Barthes sehingga dapat bermanfaat untuk memberi pemahaman tentang konsep fatherhood dalam film melalui semiotika. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana fatherhood direpresentasikan tokoh Pak Broto dalam film Losmen Bu Broto yang dianalisis secara mendalam melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan observasi sebagai teknik pengumpulan datanya. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling berdasarkan pengamatan terhadap film Losmen Bu Broto. Analisis penelitian menggunakan peta tanda Roland Barthes dengan mengamati potongan gambar, visual, dialog, dan gestur dari tokoh Pak Broto yang kemudian dikaitkan dengan konsep fatherhood . Hasil dari penelitian ini tokoh Pak Broto merepresentasikan protection (perlindungan), emotional closeness (kedekatan emosional), endowment (pemberian karakter), dan provision (penyedia standar materi) yang merupakan elemen-elemen dari fatherhood
SANG HYANG SEMARA RATIH SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK DALAM BUSANA CASUAL
Sang Hyang Semara Ratih merupakan lambang cinta kasih umat Hindu di Bali.
Perumpamaan lain dari Sang Hyang Semara Ratih berupa pertemuan sel sperma
dengan sel telur dan juga bulan dan matahari. Tujuan dari karya tugas akhir yang
berjudul “Sang Hyang Semara Ratih Sebagai Sumber Ide Penciptaan Motif Batik Pada
Busana Casual” ini adalah mendeskripsikan gagasan, menciptakan motif batik tulis
dengan sumber ide tersebut guna menambah ragam motif khas Bali dan desain busana
casual dengan menerapkan motif Sang Hyang Semara Ratih melalui pendekatan
estetik. Informasi data didapatkan dari studi pustaka dan tinjauan visual. Metode
penciptaan seni menggunakan 3 tahap 6 langkah, berupa eksplorasi, perancangan dan
perwujudan. Luaran hasil berupa : 2 pasang busana casual, draft artikel ilmiah, katalog
karya dan HaKi untuk motif batik Sang Hyang Semara Ratih. Busana casual yang
tercipta masing-masing memiliki judul berdasarkan karakter dan penampilannya, yakni
sepasang karya pertama memiliki judul Angsung Smara dan Tadhah Sih dengan motif
batik yang berjudul Sasmitamerta, dan sepasang karya kedua memiliki judul Baskara
dan Basanta dengan motif batik yang berjudul Candradisti. Busana casual yang
diciptakan ditargetkan untuk wanita dan pria dewasa dari usia 18 tahun hingga 40
tahun
PENCIPTAAN MOTIF BATIK ARCA TOTOK KEROT DAN DITERAPKAN PADA BUSANA GAUN MALAM
Tugas akhir karya ini berjudul “Penciptaan Motif Batik Arca Totok Kerot Yang
Diterapkan Pada Busana Gaun Malam", merupakan sebuah karya yang terinspirasi
dari kisah sang Arca sebagai seorang putri Lodoyo Blitar, yang memiliki sifat
pemberani dan bertekad ingin menemui sang raja kediri untuk menyatakan
perasaannya bahwa dia memiliki perasaan kepada sang raja tetapi pada
perjalanannya dia terbunuh karena terlibat peperangan. Sang raja yang baru
mengetahui jika sang putri datang untuk menemuinya sang raja membuatkan
kenang-kenangan berupa patung sebagai bentuk penghormatan. Tujuan dari tugas
akhir karya ini adalah menciptakan motif arca Totok Kerot dan diaplikasikan
kedalam busana gaun malam. Metode yang digunakan terdiri dari tiga tahap enam
langkah yaitu dari tahap eksplorasi, perancangan dan perwujudan dimulai dengan
melakukan pengamatan pada situs Arca, sosial media, studi literatur dan melakukan
penggalian data melalui wawancara. Tahap kedua yaitu perancangan motif dengan
menjadikan semua data tersebut sebagai acuan untuk membuat sketsa alternatif
yang nantinya akan dipilih menjadi desain terpilih. Tahap ketiga ada teknik
perwujudan yaitu merealisasikan desain terpilih menjadi karya nyata. Pembuatan
karya diawali dengan proses pembuatan pola, nyorek, membatik, mewarna,
melorod, menjahit hingga finishing. Karya yang diciptakan dalam tugas akhir ini
adalah 4 busana gaun malam, yang setiap busananya memiliki judul dan makna
yang tersirat. Penciptaan karya menghasilkan empat motif dengan judul : 1.
Smaradahana, 2. Ceplok Branta, 3. Liris Diraya, 4. Danumaya. Serta menghasilkan
empat busana gaun malam dengan judul : 1. Anindya, 2. Bathari, 3. Gayatri, 4.
Laksmi. Perancangan ini menghasilkan karya busana yang ditargetkan untuk wanita
dewasa dari usia 18 tahun hingga 40 tahun
PERANCANGAN INTERIOR CAFE “CREAMILKY” DENGAN TEMA ES KRIM DI BOYOLALI
Perancangan Interior Cafe “Creamilky” dengan Tema Es Krim di Boyolali merupakan jenis bangunan publik yang berfungsi sebagai tempat makan dessert es krim dan juga sebagai tempat untuk mengembangkan produk olahan susu sapi di Boyolali. Perancangan Cafe Creamilky ini di latar belakangi oleh perkembangan susu sapi diboyolali, dimana masyarakat sekitar dapat turut serta memanfaatkan susu sapi tersebut secara maksimal dengan mengolahnya menjadi Es krim. Latar belakang perancangan ini juga didukung dengan meningkatnya konsumsi es krim di Indonesia setiap tahun-nya. Perancangan interior ini menggunakan metode pemrogaman dari pamudji suptandar yang terdiri dari tahap input, sintesa dan output. Sedangkan pendekatan yang digunakan ialah pendekatan fungsi, pendekatan teknis, pendekatan warna, pendekatan tema dan gaya serta pendekatan ergonomi dan antropometri. Perancangan Cafe “Creamilky” dengan Tema Es Krim di Boyolali ini menggunakan gaya kontemporer dan tema Es krim, tema ini diangkat karena es krim memiliki karakteristik rasa yang cenderung manis dan tekstur yang lembut. karakteristik ini nantinya akan diaplikasikan dalam elemen pembentuk ruang sebagai dekorasi. Pengaplikasian tema es krim pada perancangan ini diantaranya ialah dinding yang dirancang meliuk dan penggunaan warna soft sebagai perwujudan dari karakteristik es krim yang lembut dan halus. Selain itu, dekorasi dengan menerapkan tema es krim juga diwujudkan dengan tranformasi desain es krim, mulai dari bentuk cone pada dinding partisi ruang keluarga, bentuk es krim roll pada ceiling area cafe, motif kotak kotak cone pada partisi area cafe¸cone es krim yang digunakan untuk desain pergola sampai dengan transformasi lelehan es krim yang diaplikasikan pada ruang keluarga. Batasan ruang lingkup garap dari perancangan ini meliputi Resepsionis dan kasir, area cafe, dapur, ruang workshop, lobby kantor ruang pimpinan, ruang staff dan ruang rapat
Kata Kunci : Dessert, Es Krim, Cafe, Susu
BURUNG GAGAK SEBAGAI METAFORA DIRI DALAM PENCIPTAAN KARYA DRYPOINT
Laporan Tugas Akhir Karya berjudul: “Burung Gagak Sebagai Metafora Diri
Dalam Penciptaan Karya Drypoint” dilatar belakangi ketertarikan penulis terhadap
fauna yang beragam. Burung gagak dipilih karena memiliki berbagai nilai positif
yang menarik dan menginspirasi, serta dapat mewakili pesan diri melalui metafora
burung gagak. Beberapa pesan dan inspirasi yang dapat dijadikan sebagai metafora
diri, antara lain, kerjasama, saling membantu, beradaptasi, menghadapi rasa takut,
solidaritas, kepedulian, kesendirian, kebebasan dan kesedihan. Penelitian ini
bertujuan untuk menciptakan karya seni grafis dengan menggunakan teknik
drypoint yang mengambil sumber inspirasi burung gagak sebagai metafora diri.
Metode penciptaan mengacu pada tiga tahapan yang dikemukakan oleh Hawkins
dalam bukunya “Creating Through Dance”, yang diterjemahkan oleh RM.
Soedarsono (2001: 207), yaitu eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Hasil
yang diperoleh dari penciptaan karya ini adalah karya seni grafis yang
menggambarkan burung gagak sebagai metafora diri penulis dengan berbagai
ekspresi dan nuansa. Karya ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi
perkembangan seni grafis dan pengembangan diri penulis
PENGALAMAN MENJADI KOLEKTOR HOT WHEELS SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA DRYPOINT
Hobi merupakan aktivitas kegemaran atau kesenangan istemewa yang
dilakukan pada waktu senggang. Hobi ini dapat berupa aktivitas sehari-hari
seperti membaca, melukis, atau mengoleksi suatu benda-benda. Dalam
mengoleksi suatu benda-benda, penulis sangat gemar mengoleksi mainan mobil-
mobilan diecast dari merk dagang Hot Wheels. Berangkat dari pengalaman
menjadi kolektor Hot Wheels itulah yang melatarbelakangi penulis untuk diangkat
menjadi sebuah karya drypoint.
Tahapan proses penciptaan karya tugas akhir ini berdasarkan landasan
teori L.H. Chapman tentang proses penciptaan karya dengan tiga tahapan, yaitu
1.) Upaya menemukan gagasan, 2.) Menyempurnakan, mengembangkan, dan
memantapkan gagasan awal, 3.) Visualisasi. Teknik yang digunakan untuk
mewujudkan karya adalah teknik cetak dalam drypoint menggunakan mesin CNC
laser.
Karya tugas akhir dengan judul “Pengalaman Menjadi Kolektor Hot
Wheels Sebagai Ide Penciptaan Karya Drypoint” merupakan respon dari
pengalaman penulis menjadi kolektor Hot Wheels yang ingin disampaikan pada
masyarakat bahwa menjadi kolektor mainan tidaklah sia-sia karena dapat
berkembang menjadi ide bisnis baru
Sinjang: Keperkasaan Perempuan
Penelitian ini mengkaji pementasan musik berjudul Sinjang oleh Mutiara Dewi di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang menampilkan seluruh pemain perempuan memainkan gamelan Sekaten. Pementasan ini menunjukkan keperkasaan perempuan dalam dunia musik yang biasanya didominasi oleh laki-laki. Sinjang menonjolkan komposisi gamelan baru yang kompleks dan menggabungkan elemen tradisional dengan inovasi modern. Melalui penggunaan instrumen besar dan metode bermain yang unik, karya ini tidak hanya menggetarkan panggung tetapi juga menantang norma-norma tradisional, menawarkan interpretasi baru terhadap gamelan Sekaten. Penelitian ini menemukan bahwa pementasan Sinjang berhasil menciptakan ruang baru bagi perempuan dalam seni gamelan, menegaskan posisi perempuan dalam seni pertunjukan Indonesia, dan menginspirasi generasi komponis perempuan untuk berekspresi tanpa batas. Selain itu, Sinjang menunjukkan bahwa pembaruan dalam seni bisa dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dan inovasi, menciptakan sesuatu yang segar dan relevan
POLA ASUH POSITIF ORANG TUA SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI PATUNG
“Pola Asuh Positif Orang Tua sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni
Patung” merupakan judul penciptaan Tugas Akhir Karya seni patung
dengan latar belakang atas keresahan diri pribadi yang ada di lingkungan
terdekat, salah satu contohnya adalah pengamatan terhadap orang tua dalam
mengasuh anaknya. Berawal dari pengamatan di sekeliling terhadap orang
tua yang terkadang abai dalam mengasuh anak, pada dasarnya orang tua
berkewajiban mengasuh anaknya hingga anak itu tumbuh dewasa dapat
menentukan pilihannya. Kedekatan penulis dengan orang tua yang telah
memberikan pola asuh positif dengan kasih sayang, merawat, dan
mendisiplinkan penulis. Penulis memunculkan berbagai pemikiran dan
inspirasi untuk membuat konsep dalam berkarya. Penggunaan metode
penciptaan oleh M Alma Hauwkins menjadi salah satu acuan penulis dalam
proses perkembangan karya lantaran memiliki poin-poin yang dianggap
sesuai dengan kebiasaan rutin penulis saat berkarya. Metodenya meliputi
eksplorasi, improvisasi dan pembentukan. Konsep penciptaan karya terdiri
atas konsep non visual dan visual. Konsep non visual memuat penjelasan
secara objektif tentang pola asuh positif orang tua sesuai pengamatan dan
pengalaman pembuat karya. Konsep visual yang dihadirkan representasi
bentuk figur orang tua dalam mengasuh anak, dengan membuat objek yang
divisualkan figur deformatif atau merubah bentuk tidak sesuai aslinya
dengan menampilkan figur manusia dan binatang. Dengan karakteristik
kurus, ramping, kepala polos dan menghilangkan bagian tangan atau kaki.
Penulis menggunakan penggabungan teknik modelling, teknik cor, teknik
plester, dan teknik merakit dalam penciptaan karya Tugas Akhir. Hasil yang
diperoleh dari penciptaan karya Tugas Akhir, sebagai pengalaman terhadap
perenungan dan pembelajaran beragam pesan kehidupan yang didapat dari
hasil pengamatan terhadap pola asuh positif orang tua