7065 research outputs found
Sort by
TRANSFORMASI BUDAYA LOKAL SEBAGAI IDE REBRANDING IDENTITAS VISUAL EVENT 1 SURO DI DUSUN SUTAN KOTA MAGELANG
Semakin bergantinya jaman, 1 Suro yang tadinya merupakan kegiatan keagamaan mengalami akulturasi budaya di mana budaya tersebut bercampur dengan kebiasaan dan perilaku masyarakat Jawa. Sutan merupakan dusun di Kota Magelang yang melaksanakan kegiatan 1 Suro selama 3 hari. Pada event Sutan 1 Suro terjadilah transformasi budaya yang menjadi jembatan lintas generasi. Di mana budaya lama diperkenalkan ke generasi baru dan sebaliknya. Tujuan yang dilakukan untuk memperkuat brand identity event ini adalah dengan me-rebranding identitas visual mereka yang inkonsisten. Perancangan ini menggunakan metode Desain Thinking yang terdiri dari 5 tahapan, yaitu; emphatize, define, ideate, prototype, dan test. Sedangkan untuk pengumpulan data menggunakan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan riset internet. Output yang dihasilkan berupa Logo, Maskot, dan Supergrafis yang dapat diterapkan pada media cetak maupun digital seperti layout Instagram, iklan poster, brosur, dan merchandise yang disesuaikan dengan demografi pengunjung. Kesimpulan dari perancangan ini adalah dengan memperhatikan keharmonisan desain maka estetika visual yang bermakna dapat mendukung kesuksesan suatu brand.
Kata kunci: 1 Suro, budaya, rebranding, Design Thinking, estetika visua
PELATIHAN GENDING PAKELIRAN PADA PAGUYUBAN SENI SETYO LARAS DESA SEDAYU KECAMATAN PRACIMANTORO KABUPATEN WONOGIRI
PKM Karya Seni dengan judul Pelatihan Gending Pakeliran Pada Paguyuban Seni
Setyo Laras Desa Sedayu Kecamatan Pracimantoro merupakan satu bentuk upaya
ketahanan budaya melalui pelatihan gending-gending pakeliran. Hal ini butuh
dilakukan karena mitra hingga hari ini masih berada pada lokus budaya karawitan
gaya Surakarta dan khususnya karawitan pakeliran. Update gending-gending ini
diharapkan mampu menopang daya guna pertunjukan Paguyuban Seni Setyo Laras
sehingga mampu eksis dan bertahan dan eksis di masyarakat. AnalisisSWOT yang
telah dilakukan memberi petunjuk bahwa salah satu kekurangan dari mitra adalah
ketersediaan pengajar gamelan khususnya karawitan pakeliran yang profesional
untuk memaksimalkan potensi seni Setyo Laras. Peluang itu digunakan sebagai
kekuatan dalam program ini, bahwa melalui PKM Karya Seni, diharapkan mampu
mendorong daya cipta dan daya guna Paguyuban Seni Setyo Laras. Upaya ini
dilakukan dengan menyediakan tenaga pengajar profesional(pengabdi) dan serta
materi-materi yang dinilai up to date dalam bidang gending- gending pakelira
PENGUATAN KETERAMPILAN BAHASA INDONESIA MAHASISWA DENGAN PEMBUATAN TAKARIR FILM SEBAGAI INOVASI PEMBELAJARAN LARAS BAHASA KREATIF
Penelitian ini membahas mengenai strategi inovasi pembelajaran berkenaan dengan pembuatan takarir film, atau dikenal pula dengan teks audio visual/subtitle. Pembuatan takarir film dapat menjadi sarana penguatan keterampilan berbahasa, khususnya dalam bahasa Indonesia. Sebagaimana penyesuaian penggunaan bahasa, takarir film dapat dikategorikan dalam laras bahasa kreatif. Tujuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi alternatif pada permasalahan penguatan keterampilan berbahasa Indonesia bagi mahasiswa Film dan Televisi, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Penelitian ini dilakukan dengan studi literatur dan studi dokumen dari hasil kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia, baik sebelum dan setelah dilakukan pendampingan dari tim peneliti. Kajian ini difokuskan pada data yang bersumber dari evaluasi tugas proyek takarir film dari mahasiswa Film dan Televisi, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Analisis dokumen dilakukan dengan identifikasi kesalahan kebahasaan takarir pada karya film yang telah dibuat dan pada berbagai panduan penulisan takarir di beragam platform. Pembuatan takarir film berbahasa Indonesia menunjang pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya dalam bidang laras bahasa kreatif. Hal ini tidak hanya dapat memperkuat keterampilan bahasa Indonesia mahasiswa, namun memberikan kultur pengalaman belajar yang menyenangkan dan menarik di tengah stereotipe pembelajaran teori bahasa Indonesia yang kerap menjemukan
Penerapan Lanksap Linguistik pada Interior Sekolah sebagai Authentic Material untuk Pembelajaran Bahasa Inggris di SMA N 1 Sragen
Linguistic Landscape (LL) merupakan studi penggunaan bahasa yang terdapat di ruang publik seperti pada papan tanda, papan informasi, poster, dan iklan. Konten dari LL memuat fungsi informatif dan fungsi simbolis mengenai suatu isu menarik yang dapat dimanfaatkan sebagai authentic material. Berkaitan dengan hal ini, penerapan LL dapat memfasilitasi siswa dengan pengalaman yang menarik, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, hubungan langsung antara bahasa di kelas dan dunia luar dapat diperkuat untuk siswa dengan penggunaan materi autentik dan media. Urgensi ini didukung dengan penemuan dari beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan LL dalam kelas dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan siswa dalam mempelajari bahasa Inggris. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan LL yang dapat ditemukan di interior sekolah dalam konteks pembelajaran Bahasa Inggris di jenjang sekolah menengah atas. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi persepi guru mengenai penerapan LL dalam pembelajaran bahasa Inggris melalui wawancara mendalam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis deskriptif. Setelah pengumpulan data, hasil data penelitian dianalisis dalam tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Harapannya, hasil penelitian yang dilakukan memiliki makna yang signifikan sehingga dapat menjadi wawasan baru bagi guru dan siswa mengenai penggunaan materi autentik melalui LL yang sesungguhnya berada dekat di sekitar kita
ANALISIS PENGGUNAAN SIMBOL HERALDIK DALAM ILUSTRASI KEMASAN TEH TUBRUK DITINJAU DARI ELEMEN VISUAL (STUDI KASUS TEH NAGA SUPER)
Desain kemasan merupakan elemen penting dalam strategi pemasaran produk. Desain yang
menarik dan komunikatif dapat membantu menarik perhatian konsumen dan membangun
citra produk yang positif. Penggunaan simbol heraldik, dengan makna simbolisnya, sering
digunakan dalam desain kemasan untuk membangun identitas produk dan menarik minat
konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan simbol heraldik dalam
ilustrasi kemasan varian teh tubruk merek Teh Naga Super dan makna simbol-simbol tersebut
dalam membangun citra produk melalui unsur pembentuknya yaitu ilustrasi, tipografi, warna,
dan simbol yang terdapat pada penampilan display utama. Penelitian ini menggunakan
pendekatan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data studi
pustaka dan observasi. Dalam penelitian ini, pengaplikasian teori kepada objek yang dikaji
hanya menggunakan salah satu dari metode visual Gillian Rose yaitu site of image itself. Data
penelitian diperoleh dari analisis visual kemasan Teh Naga Super, dengan fokus pada elemen
visual seperti gambar, warna, tipografi dan simbol. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat
beberapa aspek yang didapati yaitu yang pertama ialah aspek material dan yang kedua aspek
formal. Aspek material berkaitan dengan desain dan karakter desain yang ada pada label
kemasan teh naga super. Sedangkan dari segi formal ialah bagaimana konten atau makna
dalam visual kemasan teh naga super itu ditampilkan. Analisis visual kemasan Teh Naga
Super mengungkap adanya perpaduan menarik antara elemen tradisional dan modern.
Penggunaan simbol naga, yang kaya akan makna dalam budaya Tionghoa, menjadi pusat
perhatian dan memberikan identitas yang kuat pada merek.Diharapkan penelitian ini dapat
menambah literasi baru bagi civitas akademik terutama di bidang Desain Komunikasi Visual.
Dan juga penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pemahaman tentang penggunaan
simbol heraldik dalam desain kemasan produk. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi
para produsen dan desainer dalam merancang kemasan produk yang efektif dan komunikatif
untuk dapat bersaing serta pembeda dengan produk kompetitor dan membangun keterikatan
emosional dibenak konsumen
HERMENEUTIKA TEKNIK DAN CENGKOK REBAB JAWA DALAM SERAT PARAMASWÉDA
Rebab Jawa dalam konteks praksis, permainannya selalu berkaitan dengan teknik dan cengkok. Dua hal tersebut, di kalangan akademisi dipandang mutlak sebagai sesuatu yang penting dalam penyajian sebuah gending. Teknik dan cengkok dinilai memiliki peranan penting dalam konteks penyampaian karakter rebaban dan gending. Oleh karena itu, penamaan teknik dan cengkok rebab merupakan upaya yang telah dilakukan oleh kalangan akademisi agar mempermudah dalam proses pembelajaran. Dalam Serat Paramaswéda, secara akumulatif terdapat 29 nama teknik dan cengkok rebab Jawa. Namun, nama teknik dan cengkok yang terdapat dalam Serat Paramaswéda sebagian besar tidak digunakan dalam proses pembelajaran dan masih sedikit yang mengetahuinya. Dalam proses pembelajaran, terkait nama teknik dan cengkok rebab dinilai sudah mengalami pergeseran jika dilihat dari apa yang tertulis dalam Serat Paramaswéda. Bahkan, fenomena adopsi nama cengkok gendèr barung juga terjadi untuk menamai cengkok rebab. Tujuan penelitian ini yaitu menggali secara interpretatif mengenai nama teknik dan cengkok rebab yang terdapat dalam Serat Paramaswéda. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan dalam proses pembelajaran sehingga semakin menambah khazanah pengetahuan dalam bidang karawitan. Luaran penelitian ditargetkan pada publikasi artikel ke dalam jurnal ilmiah nasional terindeks Sint
FUZZY-EXPERT SYSTEM UNTUK MONITORING DAN EVALUASI MUTU PROSES BELAJAR MENGAJAR PROGRAM STUDI SECARA ONLINE
HAKI tentang Program Komputer berjudul FUZZY-EXPERT SYSTEM UNTUK MONITORING DAN EVALUASI MUTU PROSES BELAJAR MENGAJAR PROGRAM STUDI SECARA ONLIN
PENCIPTAAN BATIK RELIEF CANDI NGETOS UNTUK ELEMEN BUSANA KEBAYA MODERN
enciptaan Karya Tugas Akhir dengan judul Penciptaan Batik Relief Candi
Ngetos Untuk Elemen Busana Kebaya Modern (Adrea Rahma Sari, 2024).
Merupakan Tugas Akhir kekaryaan D-4 Program Studi Desain Mode Batik, Jurusan
Kriya. Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta. Tugas
akhir karya seni ini bertujuan untuk mendeskripsikan gagasan dan menciptakan
elemen busana kebaya modern dengan menerapkan motif relief candi Ngetos dalam
penciptaan batik untuk menjadi dasar penciptaan karya yang diwujudkan berupa
elemen busana kebaya modern. Sumber ide utama yang menjadi dasar penciptaan
karya ini adalah bentuk dari relief candi Ngetos. Ruang lingkup yang diterapkan
pada bentuk relief tersebut memicu gagasan untuk dikembangkan lebih lanjut
dalam penciptaan motif batik. Proses pembuatan karya dimulai dari mengamati
bentuk-bentuk visual relief candi Ngetos melalui media cetak yang kemudian
dituangkan ke dalam pola alternatif agar dapat dipilih yang kemudian digunakan
sebagai motif batik yang diterapkan ke dalam elemen busana kebaya modern.
Proses diawali dengan membuat motif, desain alternative, desain terpilih, persiapan
bahan dan alat, pemindahan motif pada kain, membatik, pewarnaan, penguncian
pewarna atau fiksasi, proses finishing batik, membuat pola busana, menjahit,
finishing busana. Teknik yang diterapkan dalam proses penciptaan karya adalah
teknik batik tulis dengan proses pewarnaan colet. Bahan dan alat yang digunakan
adalah malam atau lilin, canting, kompor batik, kain rayon twill, pewarna remasol.
Bahan kombinasi busana yaitu kain brokat dan tile. Hasil karya yang dihasilkan
berjumlah 4 busana kebaya modern
BANGUNAN MONUMENTAL KAMPUNG BATIK LAWEYAN SEBAGAI IDE PENCIPTAAN BUSANA KASUAL
Bangunan Monumental Kampung Batik Laweyan merupakan suatu bangunan
yang bersifat menimbulkan kesan peringatan kepada sesuatu yang agung, yang
terwujud dari perjalanan sejarah, dimensi dan skala yang besar, status,
kedudukan, serta posisi yang sangat penting dalam lingkungan kota. Bangunan
monumental di kampung Batik Laweyan yaitu Tugu Batik Laweyan, Masjid AlMa’moer, dan Langgar Merdeka. Tugu Batik Laweyan, Masjid Al-Ma’moer,
dan Langgar Merdeka diubah menjadi motif batik untuk diwujudkan menjadi
busana kasual. Motif batik yang diciptakan menjadi busana atasan dan bawahan
atau satu kesatuan. Busana kasual merupakan busana yang dapat digunakan
sehari-hari. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya yaitu dari
eksplorasi, inkubasi, konseptualisasi, dan materialisasi. Tahapan dan proses
penciptaan seni dapat menghasilkan 4 desain nuansa dan motif yang bersumber
dari bangunan monumental kampung Batik Laweyan serta memiliki nilai
keindahan yang dapat digunakan dalam busana keseharian
TOKOH DOKTER JATI SEBAGAI PEMBUNUH BERANTAI DALAM FILM DETAK MENURUT TEORI PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD
Film Detak bercerita tentang Dokter Jati yang merupakan seorang dokter bedah yang memiliki identitas tersembunyi sebagai pembunuh berantai. Setelah melakukan pengamatan pada film Detak, peneliti tertarik terhadap tokoh Dokter Jati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menganalisis dan mendeskripsikan karakter tokoh Dokter Jati sebagai pembunuh berantai menurut teori psikoanalisis Sigmund Freud yang terdiri dari id, ego, dan superego. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode teori psikoanalisis Sigmund Freud. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Dokter Jati merupakan seorang pembunuh berantai yang berperilaku psikopat, antara lain perilaku manipulatif, sadis, tidak merasa bersalah dan tidak ada penyesalan, impulsif dan sulit mengendalikan diri. Perilaku psikopat yang muncul pada Dokter Jati disebabkan oleh faktor traumati