7065 research outputs found
Sort by
VISUAL BRANDING KOPI WANGSUL MELALUI FOTO CERITA
iv
ABSTRAK
Visual Branding Kopi Wangsul melalui Foto Cerita merupakan penciptaan karya
fotografi yang menggambarkan rangkaian proses produksi kopi robusta Nglurah,
Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Tawangmangu menjadi salah satu
wilayah di Jawa Tengah sebagai penghasil biji kopi berkualitas, sejak pemerintahan
Manggunegara IV. Meskipun demikian, saat ini kopi dari daerah Tawangmangu
kurang dikenal oleh masyarakat. Tujuan penciptan karya ini sebagai salah satu
upaya untuk membranding Kopi Tawangmangu agar lebih dikenal masyarakat, dan
meningkatkan minat masyarakat terhadap kopi, khususnya Kopi Wangsul di Desa
Nglurah, Tawangmangu, melalui foto cerita. Penciptaan karya ini menggunakan
teknik foto cerita dengan alur deskriptif. Pendekatan penciptaan menggunakan
metode EDFAT. Hasil peciptaan karya ini berupa: 1) Visual branding yang berupa
foto cerita yang terdiri dari 23 karya foto menceritakan proses produksi Kopi
Wangsul mulai dari pemetikan, pengolahan, dan pengemasan, yang dicetak pada
kertas albatros dan disajikan dalam sebuah pameran karya. 2) Coffee Table Book
berbahan kertas art paper 150 gram, full color dengan sampul hard cover ukuran
23cm x 32 cm, sebagai media promosi melalui pameran
KEHIDUPAN MASYARAKAT AGRARIS DI KABUPATEN TEMANGGUNG DALAM FOTOGRAFI UDARA
v
ABSTRAK
Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah merupakan daerah agraris yang
sangat subur, dengan mayoritas masyarakatnya melakukan kegiatan agraris dengan
metode yang khas yaitu metode tumpangsari atau menanam beberapa jenis tanaman
dalam satu lahan. Dengan adanya kegiatan seperti penyiapan lahan, pembibitan,
penanaman, perawatan tanaman, pemanenan, distribusi, sampai pengolahan hasil
pertanian dengan keberagaman kegiatan tersebut menjadi salah satu unsur atau
aspek yang menarik jika divisualisasikan dari udara.
Metode penciptaan karya tugas akhir ini dibuat sepenuhnya menggunakan
medium fotografi udara dengan pesawat udara tanpa awak atau drone. Dalam
pemotretan ini juga mempertimbangkan beberapa aspek visual, seperti
mempertimbangkan ketinggian penerbangan drone yang berfariasi guna
mendapatkan unsur visual berupa elemen visual dan komposisi yang diinginkan
sehingga dapat menghadirkan karakter visual yang kuat pada karya tugas akhir in
ANALISIS PAMERAN FOTOGRAFI SOLO PHOTO FESTIVAL TAHUN 2021
iv
ABSTRAK
Pameran fotografi merupakan suatu kegiatan atau acara yang dilakukan oleh
fotografer untuk memperlihatkan hasil kerja kreatifnya yang berupa karya foto
kepada khalayak sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban dalam penyajian
seninya. Pada saat melaksanakan pameran fotografi tentu saja memerlukan suatu
manajemen yang memiliki arti sistem atau kerangka kerja untuk mengatur segala
proses yang akan dilaksanakan agar pameran tersebut dapat terlaksana sesuai
dengan tujuan dan optimal dalam pelaksanaannya.
Berangkat dari rasa penasaran serta kepedulian terhadap pengoptimalan
penyelenggaran pameran fotografi pada event Solo Photo Festival (SPF)
memunculkan mulanya wacana mengenai bagaimana suatu manajemen pada
pameran fotografi dapat sesuai dan cukup dengan kemampuan yang dimiliki atau
dalam kata lain efektif dan efisien. Wacana tersebut dilanjutkan dengan munculnya
ide untuk melakukan analisis terhadap kondisi atau fenomena yang ditemukan pada
pameran SPF tahun 2021 dengan menggunakan teori konsep dasar manajemen
yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang terdapat
pada buku ”Menimbang Ruang Menata Rupa” karya Mikke Susanto.
Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif deskriptif degan menggunakan
pendekatan secara deskriptif fenomenologi yaitu membaca dan
mengidentifikasikan kondisi atau fenomena yang didapatkan pada suatu contoh
studi kasus. Hasil akhir pada penelitian ini adalah menghasilkan suatu penjabaran
implementasi proses manajemen pada pameran SPF tahun 2021 yang telah
teridentifikasi oleh konsep manajemen di atas, dan juga evaluasi yang dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah strategis dalam
pengoptimalan pameran fotografi pada penyelenggaraan SPF selanjutnya atau
pameran fotografi lainnya
MASJID AGUNG KASUNANAN SURAKARTA DALAM KARYA FOTOGRAFI ARSITEKTUR
Masjid Agung Kasunanan Surakarta merupakan masjid peninggalan kerajaan mataram Islam yang masih digunakan oleh masyarakat hingga saat ini. Tidak hanya tempat ibadah, masjid ini juga masih digunakan sebagai pusat kegiatan tradisi Islam di Keraton Surakarta. Pembuatan karya ini menampilkan visual eksterior dan interior di Masjid Agung Kasunanan Surakarta. Masjid yang masih berada di kompleks Keraton Surakarta ini dipilih menjadi objek pembuatan karya dikarenakan masjid ini merupakan bangunan cagar budaya yang masih digunakan dan terjaga hingga saat ini. Setelah melalui tahapan pengumpulan data, observasi dan eksperimen kemudian karya ini diwujudkan dengan penerapan fotografi arsitektur yang menampilkan bagian-bagian dari bangunan masjid seperti menara, gapura utama, ruang utama, pawastren, dan elemen-elemen arsitektur seperti jendela, pintu, lampu, dan atap masjid. Menggunakan teknik fotografi arsitektur, dengan menggunakan teknik fotografi berbasis segitiga eksposure dan menerapkan komposisi seperti balance, perspektif, garis diharapkan dapat menciptakan hasil karya yang menunjukkan keindahan, keagungan dari Masjid Agung Kasunanan Surakarta melalui penggunaan slow speed, dof sempit, dan dof luas. Pembuatan karya ini menggunakan available light sebagai pencahayaan, pemilihan warna dan sudut pandang pengkarya dalam merealisasikan karya fotografi arsitektur memiliki berbagai aspek budaya dan agama Islam yang berkaitan dengan masjid tersebut. Hasil dari tugas akhir karya ini disajikan dalam bentuk fotografi arsitektur yang direalisasikan dalam bentuk pameran tunggal. Kata kunci: Masjid Agung, Surakarta, Fotografi, Arsitektu
PEMBUATAN WAYANG KULIT DI KAMPUNG WAYANG KEPUHSARI WONOGIRI DALAM FOTOGRAFI ESAI
Karya tugas akhir yang berjudul “Proses Pembuatan Wayang
Kulit di desa Kepuhsari, Wonogiri Dalam Fotografi Esai”
menciptakan karya foto esai dengan bentuk penyajian berupa
penggunaan metode EDFAT. Proses pembuatan wayang kulit
dianggap menjadi topik yang menarik karena proses pembuatan
wayang kulit yang belum banyak diketahui masyarakat umum.
Pengambilan gambar karya tugas akhir bertempat di Sanggar Asto
Kenyo Art yang berada di desa Kepuhsari, Wonogiri sebagai sentra pembuatan wayang kulit dan menjadi jujukan utama di desa tersebut.
Sanggar Asto Kenyo Art juga sebagai pusat pengelola para pengrajin wayang kulit yang berada di desa Kepuhsari. Bahkan proses pembuatan wayang kulit juga menjadi kurikulum sekolah menengah setempat sebagai muatan lokal. Pengemasan dengan fotografi esai ditujukan untuk bisa menggambarkan proses pembuatan wayang kulit sehingga menjadi informasi baru dengan menggunakan alur cerita metode EDFAT. Metode EDFAT yang dimaksud menampilkan entire (keseluruhan), detail (perincian), framing (kerangka foto), angle (sudut pengambilan gambar) dan timing (waktu) yang menjadi panduan agar mempermudah dalam
merangakai foto cerita atau esai. Pada karya fotografi esai ini menerapkan teknik pencahayaan mix light karena lokasi pengambilan gambar meliputi luar ruangan dan dalam ruang yang minim cahaya sehingga diperlukan tambahan cahaya buatan.
Kata Kunci : Fotografi Esai, Wayang Kulit, Asto Kenyo Art, Wonogiri
KLONO SEWANDONO SEBAGAI METAFORA OPTIMISME DIRI DALAM KARYA SENI LUKIS
Laporan karya Tugas Akhir dengan judul “Klono Sewandono sebagai
Metafora Optimisme Diri dalam Karya Seni Lukis” terinspirasi dari optimisme
hidup dalam menjalani kehidupan sebagai seorang pemuda yang berjuang dalam
mengarungi kehidupan ini dengan menghadapi permasalahan-permasalahan yang
terdapat pada setiap perjalanan kehidupan. Perlunya dorongan dan motivasi optimis
untuk menjalani sebuah kehidupan, khususnya untuk menghadapi permasalahan
tersebut. Perwujudan objek utama dengan menggunakan figur Klono Sewandono,
Klono Sewandono merupakan figur optimisme dalam menjalani hidup dan
mencapai sebuah tujuan dalam cerita rakyat Reog Ponorogo. Klono Sewandono
sebagai metafora optimisme bagi pribadi, dengan menggunakan pendekatan
metafora bercitra antropomorfik. Karakteristik yang dimiliki pada figur Klono
seperti keberanian, tangguh, bijaksanan, dan tak kenal putus asa. Pengangkatan
judul ini sebagai dorongan untuk masyarat, khusunya untuk para anak muda dan
pribadi agar selalu optimis dalam menjalankan hidup, seperti halnya Klono
Sewandono.
Penciptaan karya Tugas Akhir ini menggunakan pendekatan gaya surealisme
melalui perubahan secara tranformasi dan distorsi untuk menciptakan kesan
dinamis ke dalam media kanvas dengan cat akrilik dan penggarapannya
menggunakan teknik plakat. Metode penciptaan karya yang digunakan pada karya
ini mengacu pada teori L.H. Chapman. Menjelaskan tahap penciptaan karya seni.
Pertama, upaya menemukan gagasan, kedua tahap menyempurnakan,
mengembangkan, dan memantapkan gagasan awal, ketiga memvisualkan dalam
medium.
Penciptaan karya lukis Tugas Akhir dengan judul “Klono Sewandono sebagai
Metafora Optimisme Diri” menghasilkan 8 karya seni lukis dengan di antaranya
berjudul: 1. Budhalan, 2. Terjebak, 3. Perang Kembang, 4. Berjuang Tanpa Batas,
5. Menembus Badai, 6. Mendapatkan, 7. Demi Satu dan 8. Mengarungi Samudera
Dirgantara.
Kata kunci: Klono Sewandono, Metafora, Optimisme, Seni Luki
MAKANAN TRADISIONAL KHAS TULUNGAGUNG SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
Makanan tradisional merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa
Indonesia. Banyaknya pulau-pulau yang ada di Indonesia masing-masing pulau
pastinya mempunyai makanan khas tradisional yang ada di wilayah tersebut,
khususnya di daerah asal penulis yaitu Kabupaten Tulungagung. Berawal dari
pengalaman penulis yang sering membantu dan melihat ibu membuat berbagai
macam pesanan makanan memberikan inspirasi bagi penulis sebagai pembuatan
karya lukis yang berjudul makanan tradisional khas Tulungagung.
Penciptaan karya Tugas Akhir ini menggunakan tahapan-tahapan
berdasarkan landasan teori L.H Chapman tentang proses penciptaan karya, yang
menyebutkan 3 tahapan penciptaan karya yaitu, 1). Upaya menemukan gagasan
(inception of an idea), 2). Menyempurnakan, mengembangkan, dan memantapkan
gagasan awal (elaboration and refinement), 3). Visual dalam ke medium (tension in
a medium).
Teknik yang digunakan dalam mewujudkan karya pada penciptaan karya Tugas
Akhir ini adalah dengan teknik sungging yang merupakan teknik bloking dengan
membuat tingkatan warna atau gradasi dari warna muda ke tua maupun warna
terang ke gelap. Selain itu, juga membuat komposisi, menambah aksen serta
deformasi bentuk.
Karya Lukis Tugas Akhir dengan tema “Makanan Tradisional Khas
Tulungagung Sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis” merupakan
respon dari pengalaman penulis yang bertujuan untuk terus mendukung eksistensi
makanan khas tersebut di era banyaknya makanan modern (siap saji)
STUDI OPTIMASI DESAIN INTERIOR UNIT TIPIKAL 98M2 RUSUN ASN DI IBU KOTA NUSANTARA
Penelitian ini merupakan penelitian pada desain interior unit tipikal 98m2 terhadap pengoptimalan layout yang diterapkan pada Rusun ASN di Ibu Kota Nusantara (IKN). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat efisiensi dan efektifitas penataan layout dalam perencanaan unit tipikal rusun ASN. Penelitian menggunakan pendekatan ergonomi dengan metode penelitian kualitatif deskriptif berdasarkan pada sumber Data Arsitek Jilid II sekaligus Time Saver Standards for Building Types dengan penerapan teori tata ruang Fritz Walkening dan teori antopometri Julius Panero. Dalam menganalisis optimasi, peneliti mengeksplorasi ruangan dari beberapa aspek. Pertama berdasarkan aspek sirkulasi dan dimensi ukuran ruang. Kedua berdasarkan aspek antropometri yang meliputi perabot terhadap dimensi manusia dan sirkulasi ruang terhadap dimensi manusia. Ketiga, berdasarkan aspek tata letak perabot pada setiap ruang. Dan yang keempat, berdasarkan aspek karakteristik pengguna ruang yang meliputi karakter kepribadian pengguna dan karakter aktivitas pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penataan layout pada desain unit tipikal rusun ASN masih memiliki aspek yang kurang dalam mencapai standar yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana merencanakan tata ruang dalam sebuah hunian secara efektif dan efisien, sehingga memberikan ruang gerak yang optimal bagi penghuninya dan dapat memberikan landasan yang kuat untuk menerapkan desain yang memenuhi kebutuhan pengguna dalam memaksimalkan penggunaan ruang yang tersedia.
Kata Kunci : Optimasi, Tata ruang, Efisiensi, Efektifitas, Desain
REDESAIN INTERIOR MINI CONCERT HALL & CREATIVE HUB MUARA MARKET DI SURAKARTA
Saat ini ini kondisi permusikan di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat, terbukti dengan banyaknya grup band maupun penyanyi pendatang baru yang bermunculan dengan berbagai ciri khas yang mereka bawakan. Kota Surakarta
sebagai bagian dari penggerak kebudayaan Indonesia turut berperan aktif dalam perkembangan industri permusikannya. Hal tersebut tercatat dalam sejarah permusikan bahwa di Surakarta berdiri studio rekaman atau studio musik pertama di Indonesia yaitu Lokananta. Namun pertumbuhan industri permusikan tersebut belum sejalan dengan pengadaan fasilitas yang mewadahinya. Hal tersebut menumbuhkan gagasan penulis untuk merancang ulang sebuah ruang bersama yang pernah aktif sebagai fasilitas pertunjukan musik kolektif di Surakarta, yaitu Muara
Market. Perancangan dilakukan dengan menggunakan pendekatan fungsi, ergonomi, dan estetika, serta tahapan proses desain menurut Rosemary Klimer.
Perancangan ini mengusung Konsep Local Culture sebagai simbolisasi semangat budaya setempat yang terus hidup, dengan Tema Batik Parang Surakarta, serta gaya interior kontemporer sebagai implementasi bahwa fasilitas ini dapat berkembang
seiring dengan berjalannya waktu dan tren yang ada. Dengan perancangan ulang ini, diharapkan dapat mengoptimalkan fungsi Muara Market dan membangun kembali industri kreatif di Surakarta serta semangat seniman lokal dalam mengembangkan karyanya.
Kata Kunci: concert hall, creative hub, musik kolektif, Muara Market
TARI BIDU ELELE DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA LAWALU, KECAMATAN MALAKA TENGAH, KABUPATEN MALAKA, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Tari Bidu Elele merupakan tari tradisional rakyat, untuk penyambutan tamu yang datang berkunjung ke desa. Dalam perjalanan waktu hampir dilupakan oleh generasi sekarang dan terjadi pergeseran untuk berbagai keperluan bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan fungsi tari Bidu Elele dalam kehidupan masyarakat Desa Lawalu, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dua permasalahan dianalisis menggunakan teori bentuk pendapat Sri Rochana Widyastutieningrum, kemudian untuk mengungkap fungsi menggunakan teori pendapat Jazuli. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi melewati berbagai tahap yaitu observasi, wawancara dan studi pustaka.
Hasil penelitian yang dapat menunjukan bahwa tari Bidu Elele dalam kehidupan masyarakat merupakan tari kelompok dengan gerakan sederhana yang lebih berpijak pada gerak lambaian tangan, mengangkat kaki, memutar badan, dan menggunakan tata rias cantik dan tata sebagai busana, serta diiringi syair bete kaulon yang didominasi oleh syair-syair dan alat musik yang digunakan terdiri dari raraun dan kidiki. Adapun tari Bidu Elele yang mempunyai fungsi yang pada kehidupan masyarakat Desa Lawalu tari Bidu sebagai upacara adat, sebagai hiburan, sebagai tontonan dan sebagai media pendidikan.
Kata Kunci : Bidu Elele, Bentuk dan Fungs