7065 research outputs found
Sort by
ORGANOLOGI DAN ANSAMBEL ORKES MUSIK BAMBU MELULU SANGIHE
Penelitian ini membahas instrumen ansambel musik bambu melulu Sangihe yang dilihat dari perspektif sosiokultural, organologi, dan ansambel. Tujuan penelitian untuk mengelaborasi konteks sosiokultural musik bambu melulu Sangihe, menjelaskan aspek organologi dari musik ini, serta menguraikan pengelompokan instrumen dalam ansambel musik bambu melulu Sangihe. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pedekatan ini memungkinkan peneliti memahami fenomena musik bambu melulu Sangihe secara mendalam dan holistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi musik bambu melulu Sangihe erat kaitannya dengan konteks sosiokultural dan sejarah masyarakat Sangihe. Untuk mencapai kualitas penyajian musik yang optimal, diperlukan instrumen yang baik, yang dihasilkan dari bahan berkualitas dan proses pembuatan yang tepat. Instrumen-instrumen dalam ansambel musik bambu melulu Sangihe, dikelompokkan menjadi instrumen melodi, instrumen pengiring, dan instrumen bass. Penelitian ini memberikan kontribusi inovatif dalam upaya menjaga keberlanjutan dan relevansi musik bambu melulu Sangihe di tengah perkembangan musik global
ENJO-ENJO: SANGHYANG MENGINTIP
Enjo-Enjo: Sanghyang Mengintip merupakan karya yang berangkat
dari tradisi Sanghyang Enjo-Enjo. Pengkarya mencoba memahami dan
membaca ulang fenomena penamaan Sanghyang Enjo-Enjo. Karya ini menggali
perbedaan dan mengkolaborasikan praktik mengintip dunia fisik dan digital
dengan melihat perkembangan teknologi dan terjadinya perubahan sosial
yang mengakibatkan pergeseran atau perubahan praktik mengintip. Di dunia
fisik, sering menggunakan keterampilan seorang mencari celah-celah dengan
melihat situasi kondisi jarak, waktu dan ruang. Di dunia digital, teknologi
seperti perangkat elektronik, media sosial, dan kamera pengawasan
memainkan peran penting dalam memuaskan rasa ingin tahu, terutama dalam
bentuk pengawasan melalui media sosial atau pengintaian di ruang publik.
Menggali dan menyajikan interpretasi baru mengenai konsep mengintip atau
stalking dengan inspirasi dari tradisi Sanghyang Enjo-Enjo. Metode penciptaan
karya tari Enjo-Enjo: Sanghyang Mengintip terdapat dalam buku Ikat Kait
Impulsif Sarira oleh Eko Supriyanto terdiri dari Re-Visiting, Re-Questioning,
dan Re-Interpreting. Dengan fokus pada perubahan teknologi dan sosial, karya
ini menggambarkan pergeseran dalam praktik mengintip, yang dimana
batasan-batasan ruang privasi sudah menjadi ruang publik
PERANCANGAN INTERIOR RESTO DAN BUTIK DENGAN KONSEP NATURAL DAN MOTIF LUNG-LUNGAN DI COLOMADU
Perancangan interior resto dan butik dengan konsep natural dan motif lung-lungan
di Colomadu merupakan perancangan yang melestarikan budaya batik lokal
sekaligus menjadi tempat industri kuliner. Perancangan restoran ini ditujukan
untuk strategi bisnis dengan memasukkan budaya lokal butik. Perancangan ini
menggunakan metode tahapan proses desain dari Pamudji Suptandar. Landasan
perancangan yang digunakan adalah pendekatan fungsional, ergonomis, warna,
serta tema dan gaya. Perancangan ini mengangkat gaya desain natural dengan
motif lung-lungan ulir. Tema motif lung-lungan ulir yang memiliki kesan
memperkenalkan budaya motif batik yang diterapkan di beberapa transformasi
elemen pembentuk ruang berupa partisi dinding serta transformasi perabot dan
aksesoris interior
SERVICES FOR COMMUNITY: PEMBEKALAN CABUT WARNA PADA KOMUNITAS DISABILITAS DI SAMBUNG ROSO SENTRA BATIK CIPRAT MAGETAN
Pengabdian Kepada Masyarakat Tematik Kemitraan berjudul Services For Community: Pembekalan Cabut Warna Pada Komunitas Disabilitas Di Sambung Roso Sentra Batik Ciprat Magetan. Kegiatan Pengabdian ini sasarannya adalah komunitas disabilitas di Sambung Roso, tepatnya di Sheltered Workshop Peduli “Sambung Roso”, Sentra Batik Ciprat Magetan - Jawa Timur. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini yaitu guna mengenalkan teknik cabut warna pada suatu kelompok pemberdayaan masyarakat berkebutuhan khusus. Pembekalan dan pelatihan yang diberikan nantinya berguna untuk menambah keterampilan, terutama dalam hal teknik cabut warna dengan menggunakan bahan sulfurit. Adapun permasalahan dari komunitas disabilitas di Sheltered Workshop Peduli “Sambung Roso” yaitu perlunya teknik batik lain yang mudah seperti halnya teknik batik ciprat. Oleh karena itu, pada pembekalan dan pelatihan ini telah diberikan pengarahan terkait teknik cabut, dimana teknik tersebut juga sangat mudah diaplikasikan ke media kain. Kemudian kain-kain yang sudah tidak terpakai di Sheltered Workshop Peduli “Sambung Roso”, Sentra Batik Ciprat Magetan dapat dimanfaatkan kembali dengan menerapkan teknik cabut yang hampir sama dengan melukis di atas kain. Luaran dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini yakni berupa artikel ilmiah dan publikasi di media massa
REVITALISASI STIGMA CAOS DHAHAR PADA REMAJA DI KOTA SOLO MELALUI BUKU ILUSTRASI BERSAMA PAGUYUBAN GRIYA PANGASTUTI
Seiring bekembangnya era modernisasi, banyak tradisi budaya
khususnya dalam hal ini tradisi budaya Jawa, yang mulai ditinggalkan
oleh masyarakat, terutama generasi muda. Banyak stigma yang
berkembang di masyarakat, khususnya generasi muda yang dipengaruhi
oleh banyak faktor. Hal inilah yang mendorong terbentuknya Paguyuban
Griya Pangastuti untuk merevitalisasi stigma-stigma tradisi budaya Jawa,
yang berkembang di masyarakat khususnya generasi muda di Kota Solo,
dalam hal ini khususnya tradisi caos dhahar yang seringkali dianggap
bertentangan dengan nilai-nilai tertentu dan dianggap sudah tidak relevan
dengan perkembangan zaman. Salah satu upaya yang dilakukan adalah
melalui buku ilustrasi tentang caos dhahar, yang ditujukan pada remaja
di Kota Solo. Melalui media buku ilustrasi tersebut, diharapkan stigma
masyarakat khususnya generasi muda terhadap tradisi caos dhahar dapat
berubah sehingga dapat dibingkai dalam suatu gerakan buday
PENCIPTAAN KARYA TARI BIRAMA MORSE TUBUHKU DENGAN METODE DEMONSTRASI UNTUK SISWA TUNA RUNGU DI SLB NEGERI KARANGANYAR
Program kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat untuk penciptaan tari Birama
Morse Tubuhku, sebagai Pilot Project Mencipta tari Bersama Anak-anak Tuna
Rungu bersifat kemitraan dan mengambil obyek SLB Negeri Karanganyar. Karya
yang memberi fokus kepada anak-anak berhambatan pendengaran (tuna rungu),
mengembangkan gerakan-gerakan dan hentakan pada kaki, tangan, dan tubuh.
Gerakan dielaborasi dengan sistem pembacaan kode Sandi Morse yang
menggunakan Titik (.) dan garis (-) untuk mengirim dan menerima pesan. Sistem
pelatihan ini menggunakan metode pembelajaran demonstrasi dengan
mengetengahkan contoh-contoh secara langsung di depan anak-anak yang
ditunjang dengan system pelatihan empat langkah. Bentuk karya tari ini diharapkan
dapat memberi inspirasi bagi guru SLB untuk mencipta tari dan mengembangkan
potensi diri dan kepercayaan diri anak-anak berhambatan pendengaran dalam
prinsip kesetaraan seperti pembelajaran yang diterapkan oleh anak “normal”
lainnya. Program ini diharapkan dapat memberi solusi terhadap permasalahan di
SLB Negeri Karanganyar dan secara pragmatis kepada guru kelas serta anak-anak
dapat merasakan proses penciptaan karya tari dan memberi pengalaman
pertunjukan di luar sekolah
PENGUATAN IDENTITAS BUDAYA MELALUI PELATIHAN KARAWITAN PADA KELOMPOK MARDI BUDHOYO DESA WONOMULYO KECAMATAN PONCOL KABUPATEN MAGETAN
Rencana pengabdian ini merupakan usaha untuk menguatkan identitas Kabupaten
Magetan yang di sana masih menjadi bagian dari budaya Mataraman. Budaya
Mataraman sendiri merupakan produk kebudayaan dari masyarakat Jawa yang
bersumbu pada daerah Surakarta dan Yogyakarta. Nilai-nilai Jawa memiliki kemiripan
antara Surakarta dan Magetan. Salah satu produk budaya yang hingga kini masih
tumbuh dan berkembang serta berperan besar dalam tumbuh kembangnya bidang
ekonomi dan sosial adalah karawitan. Karawitan merupakan budaya musik tradisional
Jawa yang menggunakan gamelan sebagai media ekspresinya. Karawitan di Magetan
juga masih bertaut dengan peristiwa sosial seperti upacara pernikahan, ruwatan,
kithan, dan upacara serta perayaan tradisional lainnya. Sisi lain, pengembangan
karawitan sendiri di Magetan dirasa kurang dengan salah satu penyebab utamanya
adalah minimnya praktisi karawitan yang menjadi agen penyebaran nilai karawitan itu
sendiri baik secara praktik maupun teori. Hal ini disampaikan oleh Disbudpar ketika
ISI Surakarta berkunjung kesana dalam rangka ingin menjalin kerjasama dalam bidang
seni budaya guna menguatkan identitas Magetan sebagai kota yang masih berbudaya
Mataraman. Situasi tersebut akan coba dijembatani melalui program PKM Karya Seni
yang sedang diusulkan. Adapun mitra yang berhasil dijaring dalam program ini adalah
kelompok karawitan Mardi Budhoyo yang bertempat di Desa Genilangit, Desa
Wonomulyo, Kecamatan Poncol. Kelompok ini memiliki beberapa fasilitas seperti
satu perangkat gamelan slendro dan pelog berbahan perunggu yang baru didapatkan
pada tahun 2022 melalui Koordinator wilayah Agama Budha di Magetan, tempat
Latihan atau Gedung serba guna yang baru didirikan tahun 2023 dan anggota
kelompok karawitan level pemula yang sebagian besar berasal dari Wonomulo.
Adapun hasil survei awal yang telah dilakukan, beberapa hal yang dibutuhkan oleh
Mardi Budhoyo adalah pertama; pelatih rutin yang dapat mendongkrak kualitas
bermain gamelan Mardi Budhoyo. Kedua; ketiadaan pengendang – salah satu pemain
gamelan penting – di kelompok tersebut dan ketiga; minimnya pesindhen – vokalis
pada gamelan Jawa bagi kelompok ini. Hal tersebut berpengaruh besar terhadap proses
latihan maupun ketikakelompok ini mendapatkan job atau peye. Masalah tersebut akan
coba dijembatani melalui PKM Karya Seni ini
EKSPLORASI KEARIFAN LOKAL NUSANTARA SEBAGAI MODEL PENCIPTAAN CERITA PADA NASKAH DRAMA PEMENANG SAYEMBARA RAWAYAN AWARD TAHUN 2022
Kearifan lokal dan folklor yang dimiliki suatu kelompok masyarakat adalah sumber inspirasi cerita yang menarik bagi seorang kreator. Menggunakan pendekatan ilmu dramaturgi dan transformasi cerita, kekayaan foklor yang terdapat di berbagai kelompok masyarakat di Indonesia, dapat dieksplorasi menjadi ide cerita dalam format naskah drama. Salah satu hasil eksplorasi tersebut adalah naskah-naskah pemenang sayembara Rawayan Award tahun 2022. Metode yang digunakan adalah analisis terhadap unsur-unsur folklor dan kearifan lokal yang terdapat dalam naskah-naskah pemenang sayembara tersebut, guna menelaah proses transformasi kreatif penciptaan karya baru dengan pendekatan dramaturgi dan teori folklor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menciptakan model penulisan cerita dengan metode transformasi folklor dan eksplorasi kearifan lokal, menjadi sebuah cerita baru yang berpijak dari fenomena sosial dan psikologis aktual yang terjadi pada masyarakat di tempat berkembangnya folklor tersebut. Model penulisan cerita ini dapat digunakan khususnya oleh mahasiswa, seniman, serta masyarakat umum yang memiliki ketertarikan di bidang penulisan cerita yang memerlukan contoh model transformasi folklor dan kearifan lokal menjadi cerita dalam bentuk dan konteks yang baru.
Kata Kunci : folklor, kearifan lokal, fenomena, transformasi, model
BATIK KHAS TANCEP GUNUNGKIDUL : PENGEMBANGAN MOTIF WALANG SINANDING JATI UNTUK BUSANA CASUAL DEWASA
Tugas akhir berjudul “Batik Khas Tancep Gunungkidul : Pengembangan Motif
Walang Sinanding Jati Untuk Busana Casual Dewasa”. Tujuan penciptaan yaitu
mengembangkan motif walang sinanding jati agar menghasilkan motif baru dan
lebih inovatif yang memiliki ciri khas tersendiri dari motif sebelumnya. Tujuan dari
penciptaan tugas akhir ini agar masyarakat bisa menggunakan batik motif walang
sinanding jati untuk acara formal ataupun informal. Gagasan penciptaan difokuskan
pada (1) Bagaimana mengembangkan motif batik baru yang bersumber ide motif
walang sinanding jati (2) Bagaimana membuat rancangan desain busana casual (3)
Bagaimana pengaplikasian batik tulis dengan motif yang terinspirasi dari motif
walang sinanding jati khas Gunungkidul yang diterapkan pada busana casual.
Metode yang digunakan dalam penciptaan karya menggunakan empat tahap yaitu
eksplorasi, inkubasi, konseptualisasi, dan materialisasi. Proses pembuatan karya ini
menggunakan batik tulis dengan teknik pewarnaan colet zat pewarna indigosol dan
tutup celup zat pewarna remasol. Hasil dari penciptaan tugas akhir karya berupa
empat busana casual yang terdiri 2 busana casual wanita dan 2 busana casual pria
dengan masing-masing nama motif setiap busana yaitu Triasih, Upeksha, Asasta,
Aswara. Hasil karya busana casual yang telah diciptakan diberi judul sesuai dengan
makna yang terkandung yakni Arunika, Kaluna Ugahari, Afsun Dirandra, Abra
Niskala. Karya busana casual tersebut dilengkapi dengan aksesoris sebagai
penunjang penampila
PENCIPTAAN BATIK TUGU GADING KARTONYONO UNTUK BUSANA GAUN PESTA
Tugas akhir ini berjudul “Penciptaan Batik Tugu Gading Kartonyono
untuk Busana Gaun Pesta”. Harapan diangkatnya topik ini adalah
memperkenalkan kearifan lokal yang menjadi potensi daerah yang ada di
Kabupaten Ngawi melalui motif utama Tugu Gading Kartonyono yang menjadi
identitas Kabupaten Ngawi, dan memiliki kearifan tiap arah mata angin dari tugu.
Tujuan dari tugas akhir karya ini yaitu: (1) Menciptakan desain motif batik dengan
sumber ide Tugu Gading Kartonyono (2) Menciptakan desain busana dengan motif
batik Tugu Gading Kartonyono sebagai busana gaun pesta (3) Mewujudkan batik
motif Tugu Gading Kartonyono yang diaplikasikan pada busana gaun pesta.
Metode yang digunakan dalam penciptaan karya menggunakan teori metode
penciptaan Guntur (2020). yang meliputi empat tahap yaitu eksplorasi, inkubasi,
konseptualisasi, dan materialisasi. Pada tahap materialisasi yang merupakan tahap
pembuatan dilakukan melalui teknik batik tulis dengan proses pewarnaan
menggunakan dua jenis pewarna sintetis, yaitu pewarna remasol dan pewarna
indigosol. Karya yang dihasilkan berupa batik motif Tugu Gading Kartonyono
yang diaplikasikan pada busana gaun pesta dengan nama Swandika yang berarti
Wanita cantik dan bermartabat, Mahidevran yang berarti bulan keberuntungan,
Renggannis yang berarti putri jelita, dan Cundamani yang berarti permata terbaik.
Karya-karya ini diharapkan, masyarakat menjadi mengenal Tugu Gading
Kartonyono yang memiliki kearifan lokal di Kabupaten Ngawi