7065 research outputs found
Sort by
BENTUK DAN FUNGSI MUSIK KESENIAN SANDUR SEDHET SREPET DESA JETAK KECAMATAN BOJONEGORO KABUPATEN BOJONEGORO
Penelitian yang berjudul “Bentuk dan Fungsi Musik Kesenian Sandur Sedhet Srepet Desa Jetak Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro” bertujuan untuk mengungkap suatu bagian bentuk musik yang digunakan saat pementasan dan menggali fungsi-fungsi musik secara lebih menyeluruh dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Data yang didapatkan, diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, dokumentasi, analisis data dan penyusunan laporan. Tahap analisis dimulai dengan tahap pengumpulan data yang selanjutnya diklasifikasi dan kemudian menarik kesimpulan data-data yang sudah ada. Dalam penelitian ini ditemukan hasil yang di peroleh penulis bahwa bentuk musik dalam kesenian Sandur adalah menggunakan bentuk dalam istilah karawitan Jawa yaitu bentuk lancaran dan gangsaran. Dalam bentuk lancaran dan gangsaran tersebut, dapat terlihat dari pola tabuhan yang penempatannya mirip dengan bentuk gending lancaran dan gangsaran, khususnya pada tabuhan instrumen gong kemodhong yang terdiri dari tabuhan kempul dan gong. Kemudian pada instrumen kendang, pola tabuhannya menggunakan pola improvisasi, yang mana pola tersebut mengikuti pola irama lagu. Berkaitan dengan bentuk di atas, musik memiliki peran penting dalam mengiringi pertunjukan Sandur. Peran musik sebagai sebuah pengiring tersebut, tentunya memiliki fungsi yang hanya dipahami oleh pelaku pendukungnya. Fungsi tersebut antara lain: 1) sebagai respon atau reaksi jasmani, 2) sebagai komunikasi, dan 3) sebagai pengiring ritual upacara.
Kata Kunci: kesenian Sandur, bentuk musik, fungsi musik
Analysis of the Role of Augmented Reality in Bringing Works of Art to Digital Spaces
ugmented Reality (AR) has become increasingly popular in the art world as a
medium for bringing traditional works of art into the digital space. This research
aims to analyze the role played by AR technology in the process of transforming
works of art from the physical environment into the digital domain. This
approach pays attention to the technical aspects, aesthetics and cultural impact
of applying AR in digital art exhibitions. This research method involves
literature analysis, case studies of various art exhibitions that use AR, and
interviews with artists, curators, and exhibition visitors. Qualitative data was
analyzed thematically to identify emerging patterns and trends in the use of AR
in artistic contexts. The research results show that AR has great potential to
enrich the visitor experience in digital art exhibitions by providing interactive
and contextual layers that cannot be accessed through conventional mediums.
Additionally, AR can also act as a tool to convey additional narratives, broaden
the interpretation of works of art, and increase visitor participation in the
creative process. The research also identified several technical and conceptual
challenges associated with the use of AR in art, including issues of technological
sustainability, accessibility, and artwork integrity. Nonetheless, overall, this
research highlights the great potential of AR in bringing works of art into digital
spaces and provides valuable insights for the future development of digital art
exhibitions
Nyanyian Terakhir Mbah Kodok
Artikel ini mengisahkan kehidupan dan warisan Mbah Kodok, seorang seniman yang dikenal karena pandangan artistiknya yang unik dan kontribusinya terhadap seni di Indonesia. Mbah Kodok memilih jalur yang berbeda dari arus utama seni modern, menekankan pentingnya kebebasan berekspresi dan orisinalitas dalam karya seninya. Dia menolak hirarki dan status sosial dalam seni, menciptakan ruang inklusif bagi seniman dari berbagai latar belakang untuk merasa dihargai tanpa syarat. Melalui musik dan seni pertunjukan, Mbah Kodok memanfaatkan kesendirian dan keheningan sebagai alat untuk refleksi mendalam, menantang norma-norma sosial, dan mengajak kita mempertimbangkan kembali apa yang dianggap wajar atau tidak dalam konteks budaya. Warisannya adalah pelajaran tentang kebebasan dan keberadaan di tengah masyarakat yang terobsesi dengan pencapaian dan eksistensi. Mbah Kodok, yang meninggal pada usia 73 tahun, meninggalkan refleksi tentang antitesis dari eksistensialisme tradisional, mengajarkan bahwa ada keindahan dalam menjalani hidup tanpa tujuan tetap, tetap setia pada diri sendiri, dan terbuka terhadap segala kemungkinan
ILUSTRASI KHAYALAN DALAM PERANCANGAN BUKU SELF ACCEPTANCE MENGENAI INSECURITY UNTUK KALANGAN WANITA
Insecure bisa diartikan sebagai perasaan yang dipicu oleh rasa tidak puas dan tidak yakin dengan
diri sendiri, dimana seseorang memiliki rasa cemas, tidak percaya diri, ragu dan lainnya sehingga
membuat seseorang merasa tidak aman. Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, ada
277.000 kasus kesehatan jiwa pada tahun pertama pandemi hingga Juni 2020, meningkat pesat
dibandingkan 197.000 kasus pada 2019. Permasalahan Kesehatan jiwa salah satunya adalah
insecurity. Permasalahan yang diangkat untuk merancang karya perpaduan ilustrasi dalam buku
self acceptance mengenai insecurity untuk kalangan wanita. Perancangan artbook insecurity self
acceptance mengenai insecurity ini menggunakan ilustrasi khayalan yang dipadu dengan aspek
metafora menggunakan metode perancangan dari Sadjiman Ebdi Sanyoto. Artbook yang
dihasilkan memakai metode AIDA untuk promosi merancang karya perpaduan ilustrasi dalam
buku self acceptance dengan media Instagram dan Merchandise. Buku ini dirancang sebagai
media alternatif untuk membantu permasalahan insecurity melalui aspek interaktif yang dapat
membuat pembaca terlibat secara langsun
SETYA DARMA
Skripsi karya seni berjudul Setya Darma merupakan skripsi karya seni pedalangan yang mengangkat nilai-nilai bela negara dan kesetiaan. Tokoh utama karya ini adalah Jaya Anggada salah satu prajurit Prabu Rama yang memiliki kepedulian terhadap bangsa dan negaranya.
Kesetian yang dilakukan oleh Anggada adalah dengan berinisiatif untuk menghalau penghianatan Dasawilukrama yang baru saja dilantik menjadi raja di Pancawati.
Karya ini menggunakan pakeliran ringkas dengan pendekatan konsep padat. Hasil dari skripsi ini adalah adanya nilai kesetiaan dan bela negara melalui tokoh Anggada berikut usaha-usaha yang dilakukan.
(Kata Kunci : Anggada, Bela Negara, Kesetiaan, Pakeliran padat
DISKUSI PERFORMATIF: MINUM KOPI SEMBARI TENGOK KE BELAKANG (DRAMATURGI KE DRAMATURG)
Disertasi karya seni ini memadukan diskusi dan performatif
sebagai pertunjukan multimedia dengan hasil riset berupa buku esai
“Minum Kopi Sembari Tengok ke Belakang (Dramaturgi ke Dramaturg)”
sebagai media utama. Media lain yang saling menguatkan dalam
pertunjukan ini adalah arsip, “sampah-sampah” hasil pertunjukan,
kostum, foto, video eksperimen, tari Gandrung, gumaman, orasi, rekaman
suara, instalasi objek sehari-hari, grafik, diagram, desain grafis, ritual, dan
proses perekaman dengan menggunakan beberapa kamera digital.
Istilah diskusi performatif diambil dari pemahaman publik
terhadap lima karya terdahulu yang tidak memiliki bibliografi atau
tinjauan sumber memadai, sehingga diriset ulang dan dijadikan landasan
dalam menyusun suatu karya. Dramaturgi biografi dioperasikan
berdasarkan hasil riset yang berkaitan dengan kekerasan dalam rumah
tangga, blater (jawara lokal di Bangkalan), traumatic, posttraumatic growth,
relasi kuasa, dan kota.
Temuan riset menunjukkan: 1) Terbentuknya diskusi performatif
berdasarkan arketipe atau habitus pengkarya sebagai landasan mengolah
gerak tubuh, permainan intonasi, naik turunnya emosi, dan menjadikan
identitas individu dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai
posttraumatic growth yang lebih positif dalam konteks persepsi dan imajinasi
tentang blater alternatif. 2) Dramaturgi biografi merupakan sistem operasi
dasar pengkarya dalam menciptakan estetika berbeda yaitu chaos, yang
sejak awal dinyatakan tidak terbebani oleh estetika umum, metafora,
simbol, dan mempunyai makna yang melekat pada objek yang dihadirkan
sepanjang pertunjukan. 3) Buku esai menjadi media utama bagi pengkarya
untuk menemukan dirinya dalam pertunjukan berdasarkan memoriingatan
masa lalu, pada masa kini, untuk masa depan, dalam membuka
paradigma alternatif melalui practice as research di mana pun berada
EDUKASI BAHAYA HOAKS DI MEDIA SOSIAL BAGI REMAJA MELALUI PERANCANGAN ANIMASI 2D HO:AXE PADA PLATFORM YOUTUBE
Perkembangan teknologi saat ini mendorong perputaran informasi yang semakin cepat
berkat akses internet yang semakin merata. Perputaran informasi di sosial media
menciptakan tren dan hoaks. Kelompok usia remaja 13-18 tahun menduduki posisi
tertinggi dengan presentase 98,20% usia tersebut terhubung ke internet (APJII, 2023). Fase
remaja merupakan transisi dari masa anak-anak menuju dewasa, umumnya remaja
memiliki rasa ingin tahu yang besar terhait hal-hal disekitarnya maupun yang dialami
teman-temannya (Diananda, 2019). Remaja sebagai kelompok usia yang rentan mengikuti
tren terbaru serta pengguna internet dan media sosial terbanyak saat ini perlu membekali
diri agar dapat menyaring hoaks. Kelompok usia 15-17 tahun gemar mendemonstrasikan
pengetahuan yang mereka dapatkan (Stewart, 2013). Oleh karena itu kelompok usia 15-17
tahun memiliki kecenderungan membagikan konten di media sosial. Sehingga animasi
edukasi bahaya hoaks bagi remaja ini akan spesifik menargetkan kelompok usia 15-17
tahun sebagai target audiens. Perancangan animasi sebagai media edukasi bahaya hoaks di
media sosial dapat menjadi solusi dalam mengemas edukasi yang menarik bagi remaja.
Perancangan animasi ini memanfaatkan platform Youtube sebagai media promosi.
Perancangan animasi edukasi bahaya hoaks bagi remaja ini menggunakan metode Design
Thinking oleh Hasso Plattner (2011) yang terdiri dari 5 tahapan yaitu Empathize, Define,
Ideate. Prototype, dan Test. Karya animasi 2D ini melalui metode perancangan dari
Bambang Gunawan Santoso (2012) dalam prosesnya meliputi tiga tahapan yaitu praproduksi, produksi, dan paska-produksi. Perancangan karakter animasi 2D menggunakan
metode dari Joe Murray (2010) yang terdiri dari main character, background, character
design, dan consistency. Hasil perancangan ini adalah animasi 2D berjudul Ho:Axe
sebanyak dua episode yang membahas hoaks secara umum dan post-truth
Penelitian Seni Antara Transendensi, Logika, dan Konflik
Penelitian seni melibatkan upaya mendalam untuk memahami karya seni tidak hanya dari aspek estetika, tetapi juga dari dimensi transendental-sufistik dan nalar ilmiah. Artikel ini mengeksplorasi pengalaman subjektif peneliti seni dalam mengolah karya seni secara emosional dan batiniah, sambil tetap mempertahankan keseimbangan dengan analisis ilmiah yang logis dan sistematis. Penulis menekankan pentingnya menjaga keragaman perspektif dalam interpretasi seni, serta mengkritisi metodologi ilmiah yang kaku dan cenderung mengabaikan kompleksitas emosional seni. Pendekatan penelitian yang menyeimbangkan spiritualitas dan logika menjadi dasar dalam menggali makna yang lebih dalam dari karya seni, khususnya dalam seni tradisional dan kontemporer. Konflik dan ambiguitas dalam karya seni diidentifikasi sebagai elemen penting yang memberikan kontribusi signifikan terhadap relevansi penelitian, baik secara akademis maupun sosial. Artikel ini juga menyoroti pentingnya repatriasi penelitian seni sebagai bentuk pengakuan terhadap hak intelektual masyarakat pemilik seni tradisional
RUMAH ADAT MADURA SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK UNTUK BUSANA CASUAL WANITA
Rumah Adat Madura merupakan rumah tradisional suku Madura yang memiliki keunikan arsitektur dan ornamen yang kaya akan filosofi. Keunikan ini merupakan hasil dari akulturasi budaya yang terjadi di Madura. Karya tugas akhir ini bertujuan untuk mendeskripsikan ide serta menciptakan busana kasual dengan menggunakan motif batik tulis yang terinspirasi dari Rumah Adat Madura sebagai ide dasar penciptaan. Batik sebagai warisan budaya Indonesia mengandung berbagai elemen budaya, kepercayaan, dan tata kehidupan. Proses penciptaan karya ini meliputi tahapan eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Teknik batik tulis digunakan dalam proses ini, dengan pewarnaan colet menggunakan zat warna remasol. Hasil dari proses ini adalah empat desain motif batik dan empat desain busana kasual, yang masing-masing memiliki keindahan tersendiri dan dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan. Inovasi ini bertujuan untuk melestarikan budaya Rumah Adat Madura sekaligus mengembangkan batik dalam dunia fashion