7065 research outputs found
Sort by
PERAN KI WONGSO SUBAGYO DALAM MEMPERTAHANKAN KELOMPOK KARAWITAN WERDININGSIH DI KABUPATEN TULUNGAGUNG
Penelitian ini tentang Peran Ki Wongso Subagyo Dalam Mempertahankan Kelompok Karawitan Werdiningsih Desa Kendalbulur Kabupaten Tulungagung. Masalalah yang diungkap dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana latar belakang kehidupan Ki Wongso Subagyo sebagai seorang seniman di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, (2) Bagaimana peran Ki Wongso Subagyo dalam mempertahankan kelompok Karawitan Werdiningsih di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, (3) Bagaimana Ki Wongso Subagyo memiliki kontribusi penting dalam mendorong keberlangsungan kelompok Karawitan Werdiningsih di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, data-data diperoleh melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara. Teori yang digunakan untuk membahas latar belakang kehidupan Ki Wongso Subagyo adalah teori Kuntowijoyo mengenai latar belakang kehidupan. Teori Soerjono digunakan untuk menganalisis perananan Ki Wongso Subagyo dalam mempertahankan kelompok karawitan dengan kiprahnya.
Hasil penelitian adalah Ki Wongso Subagyo dan usaha yang dilakukan untuk mempertahankan Kelompok Karawitan Werdiningsih di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung dengan menjadi pengrawit, menciptakan karya, melatih seni karawitan. Sebagai pengrawit Ki Wongso Subagyo menyumbangkan ide dan gagasan garap, serta menjadi motivator kelompok karawitan sekitar. Ki Wongso Subagyo sebagai pelatih memberikan pengetahuan terhadap murid, menjadi wadah berlatih karawitan, mencetak generasi penerus, mencetak sindhèn muda terutama pada murid Kelompok Karawitan Werdiningsih untuk tetap melestarikan seni karawitan. Karya Ki Wongso Subagyo mempengaruhi dan menambah repertoar karya seni karawitan di Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Kata Kunci: peran, mempetahankan, karawitan, Ki Wongso Subagy
PROSES KREATIF PENYUTRADARAAN SUYANTO DALAM PERTUNJUKAN LAKON MALING CALURING GRUP LUDRUK ANGLING DHARMA
Penelitian yang berjudul "Proses Kreatif Penyutradaraan Suyanto
Dalam pertunjukan lakon Maling Caluring grup Ludruk Angling Dharma"
mengulas tentang konstruksi dan penyutradaraan Suyanto dalam
pertunjukan tersebut. Pertanyaan penelitian mencakup (1) konstruksi
dramatik dan artistik dalam pertunjukan Ludruk lakon Maling Caluring,
dan (2) proses kreatif Suyanto dalam menyutradarai pertunjukan tersebut.
Struktur dramatik dan artistik dalam lakon Maling Caluring
dianalisis menggunakan teori struktur dan tekstur oleh Kernodle dalam
Dewojati. Metode penyutradaraan Suyanto dieksplorasi dengan konsep-
konsep penyutradaraan yang dijabarkan oleh Suyatna Anirun dalam
bukunya "Menjadi Sutradara". Penelitian ini mengadopsi pendekatan
kualitatif dengan mengumpulkan data deskriptif dari sumber tertulis dan
lisan, serta perilaku yang dapat diamati. Teknik pengumpulan data
meliputi studi pustaka, wawancara, observasi langsung, dan analisis
rekaman video pertunjukan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur dan tekstur dalam
pertunjukan lakon Maling Caluring menggambarkan bentuk tragedi
komedi. Metode penyutradaraan Suyanto dalam pertunjukan Ludruk
lakon Maling Caluring menggunakan beberapa pendekatan, termasuk Wos
dan Los On Controle (Los dalam bahasa Jawa). Teknik penyutradaraan ini
menggabungkan unsur tradisional dan modern
THUNG–THUNG: INTERPRETASI PUKULAN KENTONGAN DI TULUNGAGUNG
Karya “Thung-Thung” merupakan karya komposisi musik terinspirasi dari pukulan kentongan. Karya ini menafsirkan pukulan kentongan dalam bentuk karya komposisi “Thung-Thung”. Karya komposisi “Thung-Thung“ memuat gagasan, landasan konseptual, metode kekaryaan, dan hasil. Gagasan terinspirasi dari fenomena masyarakat menggunakan kentongan sebagai alat komunikasi pada kegiatan kamling (keamanan lingkungan). Landasan teori kreativitas dan jalan kompositoris intrepretasi menjadi pijakan karya komposisi “Thung-Thung”. Beberapa aspek diinterpretasikan dalam karya ini ialah pukulan kentongan. Karya ini tersusun dari tiga bagian, bagian tersebut antara lain bagian satu sedih dan prihatin, di bagaian kedua suasana takut dan tegang, bagian ketiga suasana aman dan tentram.
Metode digunakan karya komposisi “Thung-Thung” adalah eksplorasi, ekperimentasi, dan perwujudan. Pengumpulan data dalam penyusunan karya ini meliputi studi pustaka, orientasi, observasi, dan wawancara. Hasil karya komposisi “Thung-Thung” ialah perkembangan warna bunyi, pola ritme, tempo disusun menggunakan instrumen kentongan, bonang penerus, kenong, kempul, gong suwuk, suling, dan sompret.
Kata kunci: Thung-Thung, Interpretasi, Pukulan Kentonga
KOMPARASI ELEMEN VISUAL DESAIN STARTING XI PERSEBAYA SURABAYA DENGAN MANCHESTER UNITED MUSIM KOMPETISI 2022/2023
Musim kompetisi tahun 2022/2023, Persebaya Surabaya memiliki desain Starting XI atau susunan sebelas pemain yang mirip dengan Manchester United, dalam unggahan Twitter akun @idextratime yang mendapatkan perhatian signifikan dari warganet Twitter. Hal tersebut berpotensi merusak citra klub Persebaya Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami elemen pembentuk dari sebuah desain melalui analisis elemen visual. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi elemen visual pada desain Starting XI Persebaya melalui studi komparasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menjabarkan hasil analisis dan studi komparasi. Proses analisis penelitian menggunakan teori dari Miles dan Huberman. Sedangkan elemen visual dibedah menggunakan teori dari buku Timothy Samara, seperti form+space, warna, tipografi, gambar, dan layout. Hasil dari analisis elemen visual ditemukan elemen-elemen pembentuk desain Starting XI pada kedua klub. Kesimpulan dari hasil komparasi elemen visual desain Starting XI Persebaya Surabaya dengan Manchester United musim kompetisi 2022/2023 menunjukan bahwa keduanya memiliki persamaan dan perbedaan pada setiap elemen visualnya. Dari persamaan menunjukan desain Starting XI Persebaya Surabaya memang mirip dengan Manchester United. Sedangkan perbedaannya ada pada penerapan detail-detail kecil. Memahami persamaan dan perbedaan diharapkan membantu desainer grafis lebih bijak menggunakan referensi visual. Penelitian ini mendorong penelitian selanjutnya dengan sudut pandang, metode, atau faktor berbeda
TikTok, Musisi, dan Jerat Algortitma
Fenomena pengamen yang melakukan siaran langsung di platform TikTok menjadi isu menarik, terutama dalam kajian musik dan ekonomi digital. Pengamen jalanan yang dulu bergantung pada interaksi langsung dengan audiens kini memanfaatkan media sosial untuk menampilkan bakat mereka. TikTok, dengan fitur siaran langsung, memungkinkan pengamen tidak hanya menjangkau publik lebih luas tetapi juga mendapatkan penghasilan melalui "gift" yang dikirim oleh penonton. Pendapatan ini sering kali lebih besar daripada hasil mengamen secara langsung, tetapi hal itu tidak datang tanpa tantangan. Platform digital memaksa para pengamen untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan dinamika algoritma yang tidak selalu berpihak. Ada risiko fluktuasi pendapatan, dan perhatian audiens mudah beralih menuntut pengamen untuk terus menciptakan konten baru dan menarik agar bisa bertahan di ekosistem virtual yang kompetitif
BONI KISAH INSPIRATIF SEORANG POLISI DALAM PERSPEKTIF FILM DOKUMENTER
Polisi mengemban tugas sebagai aparatur negara dalam bidang
penegakan hukum. Bahkan Polisi sering dianggap sebagai “Hukum
Berjalan.” Menyandang predikat tersebut tidaklah mudah, karena pada
kenyataannya Polisi justru ada yang melakukan pelanggaran hukum.
Hal ini menuai banyak tuntutan rasa keadilan dari masyarakat luas.
Jika anggota polisi terungkap melakukan pelanggaran hukum,
jatuhnya tuduhan (biasanya) karena ulah oknum, bukan institusinya.
Mencermati kasus-kasus yang terjadi pada anggota polisi ini
mendorong pengkarya untuk mengangkat profil seorang polisi yang
inspiratif, melalui media film bentuk dokumenter ekspositori.
Tujuan penciptaan ini untuk menampilkan nilai-nilai
keutamaan yang dihidupi oleh seorang polisi di tengah banyaknya
tuduhan pelanggaran para oknum polisi. Proses penciptaan mengacu
pada teori umum dalam proses produksi filmnya, praproduksi,
produksi, pascaproduksi. Hasil karya cipta ini akan ditampikan dalam
channel youtube, penyajian tatap muka untuk mengedukasi kaum
muda lewat sekolah, kampus atau kesempatan lain.
Harapannya dengan mengangkat tema film dokumenter dengan
faktor naratif dan sinematik tersebut, nilai-nilai keutamaan yang
dihayati oleh sosok polisi tersebut semakin mempengaruhi secara
internal dalam institusi kepolisian maupun masyarakat luas. Dengan
demikian diharapkan institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia
(POLRI) benar-benar menjadi “Penegak dan Pelaku Hukum”
sebagaimana yang diharapkan masyarakat luas
SATO SWARA
Karya Sato Swara merupakan pengamatan terhadap masalah sosial
budaya yang terjadi pada kehidupan anak. Pengkarya terinspirasi dari
kehidupan sehari-hari orang tua ketika mendidik anak-anak mereka
dengan berbagai cara untuk menemukan jati diri. Karya Sato Swara
memperlihatkan tentang bagaimana anak-anak bertumbuh kembang untuk
menjalankan kehidupan dengan berbagai macam masalah yang
dihadapinya, kadang kekecewaan mengandung nilai-nilai kebersamaan,
keceriaan, dan kesedihan. Penguatan sifat dan karakter sedini mungkin
akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan psikologis anak.
Interpretasi dari peristiwa kehidupan tersebut pengkarya wujudkan dalam
sebuah pertunjukan dengan mengambil karakter- karakter dari hewan.
Proses penciptaan dimulai dari Konsep Karya, Isi Karya, dan Langkah
Penciptaan. Melalui karya ini, memberikan nostalgia terhadap Pendidikan
karakter yang ditanamkan oleh orang tua pada jaman dahulu
PENCIPTAAN SKENARIO FILM ADAPTASI DARI NOVEL DI INDONESIA
Dinamika praktik produksi film adaptasi dari novel di Indonesia
dari pertama kali lahir sampai saat ini terus berlanjut. Pertumbuhannya
meningkat pada tiga dekade belakangan telah mempengaruhi film
Indonesia secara umum. Kritik dari berbagai pihak tetap menyertai film
adaptasi, yang umumnya seputar perubahan naratif novel pada naratif
film. Beragam kritik yang mengikuti film adaptasi, belum menstimulus
kaum intelektual di Indonesia untuk mengkritisi teori ekranisasi.
Beragam buku dan tulisan hasil penelitian yang membicarakan adaptasi
sepertinya terjebak dalam wacana fundamental dalam melihat adaptasi
yaitu melihat novel dan film adaptasi adalah dua karya yang berbeda.
Urgensi skenario sebagai blue print untuk peroduksi film serta seperti apa
proses penciptaan skenario adaptasi luput dari perhatian. Berdasarkan
atas realitas tesebut maka penelitian ini dirasa penting karena bertujuan
untuk, menemukan metode penciptaan adaptasi novel ke skenario, dan
memajukan perfilman Indonesia melalui pengembangan film adaptasi.
Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan pendekatan
fenomenologi, dengan fokus pada kajian proses penciptaan seni film
mengunakan teori adaptasi dan teori penulisan skenario film. Teknik
proposive sampling yang dipakai untuk memilih 3 sampel penciptaan
skenario film adaptasi yaitu Habibie dan Ainun, Di Bawah Lindungan
Ka’bah, dan Ngenest. Metode pengumpulan datanya adalah wawancara,
dokumentasi dan studi pustaka. Teknik analisis data yang digunakan
adalah interaktif analisis Miles dan Hubermen dengan tahapan
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa: 1) Perkembangan dan
problematika film adaptasi secara praktik cenderung memberikan
pengaruh positif terhadap perkembangan perfilman Indonesia, namun
cenderung belum berkembang pada ranah pemikiran. 2) Proses
penciptaan skenario adaptasi dilakukan dengan pendekatan three angle
system, dan bisa dikembangan menjadi Four Angle Aystem. Penulisan
skenario adaptasi menerapkan pola tutur III Babak. 3) Temuan: Metode
penciptaan skenario film adaptasi dari novel empat tahap (fase):
negotiating, combining, designing, dan writing
BENTUK KEDUKAAN SUKU DAYAK ATAS DEFORESTASI DALAM PENCIPTAAN BUSANA READY TO WEAR
Meningkatnya Deforestasi hutan di Kalimantan Barat menjadi inspirasi dalam
penciptaan visual busana siap pakai. Tujuan dari karya tersebut sebagai bentuk
kampanye atau bentuk ajakan kepada masyarakat untuk peduli terhadap hutan
yang menjadi pusat penghidupan. Bentuk motif dari masing-masing karya
menceritakan tentang dampak yang ditimbulkan dari kegiatan deforestasi.
Informasi data didapat dari studi pustaka. Penciptaan Tugas Akhir karya ini
menggunakan metode penciptaan seni yaitu Eksplorasi, Inkubasi,
Konseptualisasi dan Materialisasi. Ide gagasan sudah terpenuhi dengan
terciptanya karya seni baru dari Tugas Akhir berjumblah 4 (empat) busana ready
to wear yang memiliki judul Panane, Lugok, Ruruh, dan Bapuhump. Motif batik
Deforestasi merupakan bentuk visual yang masing-masing motifnya
mengambarkan dampak terhadap masyarakat adat Dayak yang merupakan
masyarakat sekitar, spesies hewan, tumbuhan kecil, dan lingkungan yang
ditimbulkan. Penciptaan Tugas Akhir karya ini menggunakan pawarnaan alam
dengan warna coklat kemerahan, hijau semu kuning, dan hitam. Busana ready to
wear ini menggunakan bahan dasar kain cotton silk sutera, dengan busana yang
dapat dipakai dengan berbagai style di setiap kegiatan dalam satu pakaian dan
ditunjukan untuk wanita remaja hingga dewas
TRADISI LARUNGAN SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK UNTUK BUSANA CASUAL WANITA
Karya Tugas Akhir dengan judul “Tradisi Larungan Sebagai Sumber Ide
Penciptan Motif Batik Untuk Busana Casual Wanita” ini merupakan media akulturasi
budaya yang divisualisasikan ke dalam karya busana. Tradisi Larungan merupakan
salah satu tradisi yang ada di Jepara. Tradisi Larungan memiliki prosesi yang unik
dengan melarungkan kepala kerbau di Tengah-tengah laut dan diperebutkan sebagian
orang dengan cara menceburkan dirinya di Tengah laut. Kekaguman penulis akan
Tradisi Larungan ini mengunggah keinginan untuk membuat karya batik yang
mengangkat motif Tradisi Larungan sebagai sumber ide yang diaplikasikan pada
busana casual. Inspirasi yang diambil lebih ke bentuk visual mulai dari ombak laut,
miniature kapal, kepala kerbau, dan terumbu karang. Tujuan dari tugas akhir ini adalah
untuk menciptakan motif batik Tradisi Larungan dengan motif utama pada bagian
ombak laut dan kepal kerbau yang diaplikasikan pada busana casual. Busana ini
ditargetkan untuk wanita remaja dengan usia 18-25 tahun. Metode yang digunakan
untuk menciptakan tugas akhir ini dibagi menjadi 4 metode yaitu dimulai dari tahapan
eksplorasi, tahap ini dilakukan dengan mengamati langsung prosesi Tradisi Larungan
yang digunakan untuk menerapkan motif batik Tradisi Larungan untuk busana casual.
Tahapan kedua yaitu Inkubasi, dimulai dari membuat sketsa alternatif untuk dipilih
menjadi motif batik yang diaplikasikan pada busana casual. Yang ketiga tahapan
Perancangan, dimulai dari menyempurnakan desain motif dan busana terpilih, gambar
kerja, dan keterangan desain. Yang keempat yaitu tahapan Perwujudan Karya, yang
dimulai dari pemilihan alat, bahan, material kain untuk pengaplikasian motif batik
untuk busana. Teknik perwujudan yang diterapkan pada semua karya menggunakan zat
pewarna remasol, diawali dengan proses nyorek, membatik, pewarnaan, fiksasi,
melorod, menjahit, dan finishing. Warna yang diambil yaitu warna hitam, coklat kopi
tua, biru muda dan biru tua. Busana casual merupakan busana yang nyaman dan dipakai
sehari-hari dengan model busana yang simple tetapi terkesan elegant saat dipakai. Pada
karya tugas akhir ini menciptakan 4 karya yang berjudul Daisy Lilybelle, Orchid
Gayatri, Aster Nareswara, dan Hibiscus Sena. Penciptaan karya busana ini diharapkan
dapat mengunggah citra seni tradisi menjadi karya busana yang bersifat kekinian