7065 research outputs found
Sort by
MOTIF TANDUK KERBAU TANA TORAJA SEBAGAI MEDIA HIAS SEPATU KULIT
vi
ABSTRAK
Mar’ie Muhammad Mazen, 17147132, 2024, “MOTIF TANDUK KERBAU
TANA TORAJA SEBAGAI MEDIA HIAS SEPATU KULIT” Deskripsi
karya program studi: S-1 Kriya, Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa Dan Desain,
Institut Seni Indonesia Surakarta.
Penciptaan karya tugas akhir ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna
penggunaan tanduk kerbau Tana Toraja sebagai media hias pada sepatu kulit.
Tanduk kerbau merupakan simbol kekuatan dan keberanian dalam budaya Toraja,
serta memiliki makna simbolis yang dalam. Penelitian ini bertujuan untuk
mengeksplorasi cara penggunaan tanduk kerbau dalam desain sepatu kulit untuk
menciptakan produk yang unik dan bernilai seni tinggi. Metode penelitian yang
digunakan adalah analisis budaya Toraja, studi desain sepatu, serta teknik
penerapan tanduk kerbau pada produk kulit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penggunaan tanduk kerbau sebagai media hias pada sepatu kulit dapat
meningkatkan nilai estetika dan keunikan produk. Desain sepatu dengan sentuhan
budaya Toraja mampu menarik minat pasar yang menghargai seni dan budaya
lokal. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pelestarian budaya lokal dalam
industri fashion, serta kolaborasi antara desainer lokal dengan pengrajin
tradisional untuk menciptakan produk yang menggabungkan keindahan
tradisional dengan desain kontemporer. Dengan demikian, penggunaan tanduk
kerbau Tana Toraja sebagai media hias pada sepatu kulit dapat menjadi langkah
awal dalam memperkenalkan kekayaan budaya Toraja kepada pasar global
melalui industri fashion yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi
KONSEP PENGEMBANGAN KARYA FILM DALAM FESTIVAL FILM PELAJAR JOGJA
Penelitian disertasi ini bertujuan untuk mengkaji konsep pengembangan karya film dalam Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) dengan fokus pada karya film peserta FFPJ periode 2010-2021. Tujuan utama penelitian disertasi ini adalah pertama, untuk menguraikan bentuk karya film peserta festival; kedua, untuk menjelaskan perkembangan bentuk karya film yang diikutsertakan dalam festival; dan ketiga, untuk menemukan konsep yang tepat dalam mengembangkan karya film pelajar di masa yang akan datang. Pendekatan fenomenologi yang diarahkan ke bidang sinematografi digunakan dalam penelitian ini untuk memahami karya film peserta FFPJ. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap dokumen FFPJ.
Hasil penelitian ini menunjukkan: pertama, bentuk karya film pelajar peserta FFPJ adalah film bertemakan kebhinnekaan, persahabatan dan perdamaian serta cinta tanah air. Film peserta festival terbagi kategori fiksi, dokumenter, video musik dan film eksperimental. Bentuk karya film dilihat dari sinematografi memperlihatkan bentuk film yang mengandung unsur estetika, skenario, penyutradaraan, suara dan editing sebagai film karya pemula ditandai dengan hasil karya film pendek. Kedua, perkembangan karya film yang terbagi dalam tiga periode yaitu Periode Perintisan (2010 – 2013), Periode Pembentukan (2014 – 2017), dan Periode Pengembangan (2018 – 2021). Ketiga, konsep pengembangan karya film pelajar diarahkan pada film-film yang mengusung nilai-nilai keberagaman, toleransi, perdamaian, kesetaraan, dan cinta tanah air. Konsep pengembangan pada aspek komunikasi menyampaikan realitas permasalahan di masyarakat, kritik dan gagasan kepada masyarakat penonton baik dalam bentuk komunikasi yang eksplisit, simbolik maupun abstrak. Konsep pengembangan pada aspek sinematografi yang tersedia pada smartphone sehingga lebih banyak pelajar yang berkegiatan dalam pembuatan film. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu karya film pelajar sangat dinamis dilihat dari bentuknya sebagaimana tampak pada tema, kategori film dan aspek sinematografinya. Pada film karya pemula, ide cerita serta pesan yang disampaikan kepada penonton cukup kaya dengan nilai-nilai bagi masyarakat Indonesia. Konsep pengembangan karya film pelajar yaitu film sebagai media kritik dan gagasan secara eksplisit, simbolik, dan abstrak dengan pemanfaatan aplikasi yang tersedia pada smartphone
GARAP KARAWITAN WAYANG WALI OLEH KI SUDRUN DI DESA KRENCENG KABUPATEN BLITAR
Penelitian berjudul “Garap Karawitan Wayang Wali Oleh Ki Sudrun Di Desa Krenceng Kabupaten Blitar” merupakan hasil deskripsi dan analisis garap karawitan yang terdapat dalam pertunjukan Wayang Wali Ki Sudrun. Hal yang diurai adalah unsur garap karawitan yang terdapat dalam Wayang Wali oleh Ki Sudrun.
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep yang dikemukakan oleh Rahayu Supanggah mengenai unsur-unsur garap dalam karawitan Jawa. Adapun unsur-unsur garap yang dimaksud adalah materi garap, penggarap, prabot garap, sarana garap, dan pertimbangan garap.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif; penelitian yang cara penyajian data berupa uraian-urian. Tahap awal yang dilakukan peneliti meliputi, pengumpulan data melalui observasi, wawancara dengan narasumber, dan dokumentasi. Tahap kedua yang dilakukan yaitu analisis data dan penyajian data.
Hasil penelitian menunjukan; penggarap dari gending-gending yang disajikan dalam Wayang Wali adalah Ki Sudrun seorang santri, pendakwah agama Islam yang menggunakan kesenian sebagai media dakwah. Sarana garap yang digunakan dalam karawitan Wayang Wali adalah sebagian berupa gamelan dan bagian lainnya berupa alat musik barat. Hal ini berpengaruh terhadap materi, prabot, dan pertimbangan garap karawitannya. Wayang Wali menggunakan perpaduan antara ornamentasi Karawitan Jawa dan Musik Barat. Terbukti dalam beberapa garap yang terdapat pada beberapa Gending Wayang Wali menggunakan perpaduan tersebut yang akhirnya membuat perbedaan dengan wayang kulit pada umumnya.
Kata Kunci: Karawitan, Wayang Wali, Ki Sudrun, Gara
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Kriya Lokal
Kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), telah membawa perubahan signifikan dalam industri kerajinan. Dengan kemampuan AI untuk merancang dan memproduksi kerajinan secara massal dengan presisi tinggi, tantangan muncul bagi para perajin tradisional yang menekankan keunikan dan nilai budaya dalam setiap karyanya. Kerajinan kriya Nusantara, yang termasuk dalam sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetap bertahan dan memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan bahkan di era pascapandemi dan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity). Potensi subsektor kriya di Indonesia besar, dengan nilai ekspor yang terus meningkat, didukung oleh lembaga seperti Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Namun, perkembangan AI juga menimbulkan kekhawatiran tentang hilangnya aspek humanis dan keragaman dalam produk kerajinan. Meskipun AI dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas, penting untuk menjaga keaslian dan nilai budaya dalam setiap produk kriya. Integrasi teknologi AI dalam kerajinan dapat memberikan peluang untuk menembus pasar global, namun adaptasi ini harus dilakukan dengan bijak agar tidak menghilangkan keautentikan dan aspek humanis dari setiap karya. Menggabungkan AI dengan pemahaman mendalam tentang budaya dan kebutuhan konsumen dapat menciptakan produk kerajinan yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki nilai budaya yang tinggi
REDESAIN OEMAH DJOWO SEBAGAI RESTORAN DAN SANGGAR WAYANG DI KARANGANYAR DENGAN TEMA “EMBRACE ART”
REDESAIN OEMAH DJOWO SEBAGAI RESTORAN DAN SANGGAR WAYANG DI KARANGANYAR DENGAN TEMA “EMBRACE ART” (Ranny Ishak, 2023). Tugas Akhir Karya S-1 Program Studi Desain Interior, Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Oemah Djowo merupakan Badan Usaha (BUMdes) milik Desa Gaum yang dulunya merupakan sebuah bangunan pasar terbengkalai di Karanganyar. Bangunan tersebut akhirnya direnovasi dan dialihkan fungsinya untuk BUMDes dengan menggunakan nama Pasar Gaum Garden. Pasar Gaum tidak bertahan lama dan kemudian berubah namanya menjadi Oemah Djowo Gallery & Resto yang kemudian bekerja sama dengan Sanggar Wayang Gogon hingga diresmikan oleh Bupati Karanganyar dan Walikota Surakarta. Meski begitu, ternyata Oemah Djowo belum memiliki fasilitas
untuk menampung kegiatan sanggar wayang. Hal itu yang mendasari redesain Oemah Djowo. Redesain ini diharapkan dapat menjadi saran, solusi dan alternatif bagi Oemah Djowo dalam perkembangannya. Menggunakan tema “Embrace Art” dan gaya kontemporer dengan meminjam kesenian wayang dan batik yang digali makna dan filosofinya kemudian ditransformasikan ke dalam elemen interior dengan fungsi dan bentuk yang lebih kekinian. Metode perancangan yang digunakan milik Pamudji Suptandar terdiri dari input, sintesa, output. Perancangan
ini menggunakan pendekatan tema dan pendekatan ergonmi. Hasil desain berupa konsep perancangan yang tertuang melalui 3D model dan gambar kerja. Kelebihan perancangan ini adalah terpenuhinya fasilitas, alur sirkulasi yang lebih baik dan penggunaan tema desain yang mengangkat kebudayaan setempat. Kekurangannya
adalah karena bertambahnya fasilitas yang perlu dibangun sehingga kemungkinan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Objek redesain ini merupakan fasilitas milik Desa Gaum, sehingga pemerintah diharapkan lebih aktif dalam pengembangan potensi komersial, rekreasi dan edukatif yang dimiliki oleh Oemah Djowo.
Kata kunci: redesain, interior, restoran, sanggar wayan
ORNAMEN WAYANG BEBER PENGGAMBARAN EMANSIPASI KARTINI PADA PENERAPAN BUSANA MUSLIM CASUAL
ORNAMEN WAYANG BEBER PENGGAMBARAN EMANSIPASI KARTINI PADA PENERAPAN BUSANA MUSLIM CASUAL (Anita Silvia Putri, 2023)
Tugas Akhir Karya Program Studi S-1 Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Tugas Akhir Karya ini adalah menciptakan motif hias dengan sumber ide ornamen wayang beber penggambaran emansipasi Kartini yang diaplikasikan pada busana muslim casual. Tema tersebut diambil dengan tujuan untuk menciptakan motif hias terbaru yang sumber idenya dari penggambaran emansipasi Kartini dengan gaya wayang beber. Penciptaan karya sebagai pelestari budaya yang dimiliki Indonesia. Penciptaan karya ini menggunakan teori Monroe Beardsley kesatuan (Unity), kerumitan (complexity), kesungguhan (intersity) dan teori ergonomi menurut Goet poespo dalam aspek keamanan dan kenyamanan pemakainya. Penciptaan karya ini menggunakan metode SP Gustami melalui beberapa tahapan, yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Pembuatan karya dengan menggunakan teknik batik tulis dan jahit. Proses penciptaan karya ini menghasilkan beberapa motif yang diaplikasikan di setiap busana. Pada busana pertama dengan judul Tresna Wati, terdapat dua motif sumber idenya dari adegan belenggu nafsu dan motif daun jumbai. Busana kedua dengan judul Tumuju Rahina, terdapat dua motif sumber idenya dari adegan dalam luar sangkar dan motif daun jumbai. Busana ketiga dengan judul Pawukir Asa, terdapat dua motif sumber idenya dari adegan juru kinatah anjaya dan motif daun jumbai. Busana keempat dengan judul Wanadya Utama, terdapat dua motif sumber idenya dari adegan dwija wanadya dan motif daun jumbai.
Kata kunci: wayang beber, penggambaran emansipasi Kartini, busana muslim casual,
Gaung Gamelan
Artikel "Gaung Gamelan" oleh Aris Setiawan membahas kompleksitas dan keindahan musik gamelan Jawa. Teknik "pithetan" dalam gamelan, yang melibatkan menekan logam instrumen untuk menghindari bunyi yang berlebihan, adalah salah satu fokus utama. Pithetan menciptakan ruang hampa yang kemudian diisi oleh dengung instrumen lainnya, menghasilkan komposisi bunyi yang saling mengisi dan menciptakan kenikmatan estetika yang disebut "ngeng". Artikel ini juga menyoroti perbedaan antara menikmati musik Barat dan gamelan, di mana gamelan dinikmati sebagai kesatuan bunyi dalam konteks budaya, bukan sebagai pertunjukan tersendiri. Tempat terbaik untuk menikmati gamelan adalah di pendopo, di mana struktur arsitektur mendukung kejernihan dan keindahan bunyi gamelan. Penataan instrumen dalam gamelan juga penting untuk menciptakan akustika yang optimal. Artikel ini menyarankan bahwa menikmati gamelan adalah pengalaman yang menyentuh hati dan tidak sepenuhnya memerlukan pemahaman logis, melainkan lebih pada perasaan dan pengalaman sensoris
MUSIK CAMPURSARI RUANG FEMININITAS DWI NAWANGWULAN SEBAGAI SINDHEN LANANG
Penelitian yang berjudul “Musik Campursari Ruang Femininitas Dwi Nawangwulan sebagai Sindhen lanang” ini merupakan penelitian kualitatif. Pokok penelitian ini berfokus pada musik campursari dapat menjadi ruang femininitas dan performance bagi Dwi Nawangwulan dalam perannya sebagai seorang sindhen lanang yang begitu mahir mengolah suara dengan karakter yang persis dengan suara wanita, terutama pada saat ia sedang melantunkan sindhenan gendhing dalam karawitan. Dwi Nawangwulan merupakan satu-satunya sindhen lanang di Sragen yang memiliki kualitas sindhenan yang dapat menjadi acuan tolak ukur untuk sindhen lanang di daerah lain.
Penelitian ini menggunakan metode thrick description dengan menggunakan landasan pemikiran dari Judith Butler, (1998) untuk membedah mengenai sisi sensualitas seorang laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan dengan didukung dengan penampilan yang cantik. Untuk mendukung bagaimana landasan teori tersebut menggambarkan aktivitas Dwi Nawangwulan sebagai seorang sindhen lanang tentunya terdapat suatu konsep yang mendasari gaya sindhenan atau gaya musik seperti apa yang ditampilkan oleh Dwi Nawangwulan, dalam pembahasan ini.
Berdasarkan hasil kajian di dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Ruang Femininitas Dwi Nawangwulan sebagai Sindhen lanang, Dwi Nawangwulan tidak hanya mengandalkan penampilannya untuk menunjukkan sisi sensualitas layaknya seorang sindhen perempuan, suara menjadi salah satu faktor hal yang penting dalam sindhenan musik campursari sebagai ruang sensualitas yang ia gunakan.
Kata Kunci : Musik Campursari, Femininitas, Sindhen lanang, Dwi Nawangwula
BENTUK DAN FUNGSI SENI PERTUNJUKAN KESENIAN KLANTUNG DI DESA PAKAH KECAMATAN MANTINGAN KABUPATEN NGAWI
Kesenian Klantung merupakan salah satu kesenian rakyat yang terdapat di Desa Pakah, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi. Kesenian ini dimainkan pada bulan Suro dan melibatkan hampir seluruh warga desa. Penelitian ini bertujuan untuk menjadi referensi bagi penelitian berikutnya serta sebagai kontribusi pemikiran bagi lembaga pendidikan Institut Seni Indonesia Surakarta, khususnya program studi Etnomusikologi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan objek penelitian Kesenian Klantung di Desa Pakah, Kabupaten Ngawi. Sumber data diperoleh melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis data dilakukan melalui empat langkah yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pertunjukan Kesenian Klantung dibagi menjadi dua, yaitu: bentuk komposisi musik pengiring yang mencakup ritme, melodi, harmoni, struktur bentuk, analisis musik pengiring, syair, tempo, dinamika dan ekspresi, instrumen, aransemen, dan pemain; bentuk penyajian yang terdiri dari sajen, urutan penyajian, tata letak pertunjukan, waktu pertunjukan, tata rias, tata busana, dan penonton. Selain itu, Kesenian Klantung memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai hiburan pribadi masyarakat, sebagai ekspresi emosional, sebagai kenikmatan estetis, sebagai komunikasi, sebagai respon fisik, sebagai konformitas terhadap norma-norma sosial, memberikan kontribusi terhadap kontinuitas dan stabilitas budaya, dan memberikan kontribusi terhadap integrasi masyarakat. Selain fungsi-fungsi tersebut, secara umum Kesenian Klantung juga memiliki kontribusi di bidang ekonomi.
Kata kunci: Bentuk pertunjukan, fungsi, kesenian Klantung
KEHIDUPAN ANAK DESA SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS
Penciptaan karya seni grafis Tugas Akhir Kekaryaan yang berjudul “Kehidupan
Anak Desa Sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Grafis” berlatar belakang dari
pengalaman penulis ketika melihat anak-anak desa yang bermain di sekitar rumah
penulis, tepatnya di desa Wedoro, Glagah, Lamongan, Jawa Timur. Dari
pengalaman tersebut, muncul rasa ingin kembali ke masa kecil disertai pemikiran
bahwa masa anak-anak merupakan masa yang menyenangkan. Hal ini menjadi
alasan kuat penciptaan karya seni grafis dengan mengambil ide kehidupan anak
desa. Pengalaman masa kecil di desa dan interaksinya dengan lingkungan sekitar
dapat memberikan berbagai dampak yang dirasakan pada masa sekarang. Selain
itu, banyak juga pelajaran yang dapat diambil dari kehidupan masa kecil di desa.
Tujuan penciptaan karya seni grafis Tugas Akhir Kekaryaan ini adalah untuk
menjelaskan konsep penciptaan, proses penciptaan, dan bentuk visual dalam karya
tugas akhir dengan mengambil ide kehidupan anak desa. Adapun metode yang
digunakan adalah metode dari L.H. Chapman yang meliputi tiga tahap penciptaan,
yaitu upaya penemuan ide gagasan, pengembangan dan penyempurnaan, dan
visualisasi dalam medium. Pada penciptaan karya ini menghasilkan karya seni
grafis yang menggunakan teknik linocut-stencil. Hasil yang diperoleh adalah
karya seni grafis cetak tinggi mengenai kehidupan anak desa sebagai penghadir
memori waktu kecil, semangat anak-anak, dan juga sebagai pelajaran yang dapat
dicontoh seperti jiwa pantang menyerah. Lebih lanjut, sebagai media informasi
mengenai kehidupan anak desa pada masa lalu yang sangat menyenangkan