7065 research outputs found
Sort by
Kemudahan Dekayu ID Sebagai Sarana Pembelian Produk Souvenir Online
Penerapan pada elemen elemen yang di kembangakan pada produk produk sebagai daya tarik dan menjadikan produk
tersebut sebagai pilihan para konsumen sehingga berkembang pesat dikalangan jual beli online mauapun offline.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menganalisis dampak dari perkembangan e-commerce sebagai pendorong
peningkatan jual beli produk yang dilakukan oleh antara pembisnis dan konsumen. Metode yang digunakan adalah
metode kuantitatif seperti mengumpulkan data data yang di dapat pada web, pengumpulan data pada web
mengunakan berbagai aspek mula dari pengunmpulan data saat dekayu merintis usahanya sampai memiliki nama dan
brand. Dalam Menyusun kerangka paper ini pengumpulan data adalah sumber utama. Singkatnya dengan adanya ecommerce para konsumen sangat terbantu, dengan adanya web online para konsumen terbantu untuk melakukan
transaksi pembelian barang melalui online tanpa harus menuju ke toko tersebut sehingga dapat menghemat waktu
Sustainability and Ethics in Information Systems
In the ever-evolving digital era, the role of information systems (IS) is not only limited to improving
business efficiency, but also to contributing to sustainability and social ethics. This study explores the
integration of sustainability and ethics concepts in the development and implementation of information
systems. With increasing concerns about the environmental impact of information and communication
technologies, as well as ethical issues related to data privacy, algorithmic bias, and cybersecurity, it is
important for developers and stakeholders to consider these aspects at every stage of the information
system life cycle. This study analyzes the approaches taken by organizations in integrating
sustainability and ethics principles into their IS strategies, and evaluates their impact on organizational
sustainability and social responsibility. The results show that the adoption of ethical and sustainable
IS not only improves the company's reputation but also provides added value through operational
efficiency and risk reduction. Thus, the implementation of sustainable and ethical IS practices is key
to creating long-term competitive advantage and maintaining a balance between technological
advancement and social responsibility. Implementing ethical and sustainable information systems not
only provides conceptual benefits such as transparency, privacy protection, and fairness, but also
strategic benefits such as positive reputation, cost efficiency, and regulatory compliance. Conversely,
not using the right methodology in developing information systems can result in a lack of
standardization, project management errors, and significant security risks. Therefore, it is important
for organizations to implement ethical, sustainable systems that are supported by structured
methodologies
Takbiran dan Resonansi Kerinduan
Esai ini mengulas makna mendalam dari tradisi takbiran di pengujung Ramadhan, bukan semata sebagai penanda berakhirnya bulan suci, melainkan sebagai resonansi spiritual, emosional, dan sosial yang merangkum pengalaman manusia lintas generasi. Takbiran dihadirkan sebagai simbol universal yang menyentuh sisi paling intim kehidupan: kerinduan akan rumah, kenangan masa kecil, dan doa-doa yang tak terucap. Melalui suara lantang "Allahu Akbar...", penulis mengajak pembaca menelusuri lorong nostalgia dan menyentuh kembali fragmen-fragmen memori yang tersebar. Takbiran juga ditafsir sebagai protes halus terhadap dunia modern yang serba cepat dan terfragmentasi—ia menjadi titik hening di tengah hiruk-pikuk, menghadirkan kembali nilai kebersamaan, kasih sayang, dan pengharapan. Dalam narasi reflektif ini, takbir menjadi suara yang melampaui waktu: ia adalah masa lalu yang tak hilang, masa kini yang penuh makna, dan masa depan yang dijanjikan. Esai ini merekam takbiran sebagai pertunjukan tanpa panggung yang sakral, sebagai nyanyian abadi yang menyatukan manusia dalam satu suara: suara untuk pulang, untuk mengenang, dan untuk menemukan kembali Tuhan
ANALISIS PRINSIP DESAIN JERSI PERSIS SOLO THE GLORIUS CENTURY
Sepak bola merupakan salah satu olahraga yang paling populer di dunia, termasuk di Indonesia. Jersi atau seragam tim menjadi bagian penting dalam identitas visual klub sepak bola, tidak hanya sebagai pakaian pemain, tetapi juga sebagai simbol sejarah, tradisi, dan filosofi klub.
Dalam konteks klub sepak bola profesional, jersi juga berfungsi sebagai alat komersial dan branding yang dapat meningkatkan pendapatan klub serta keterikatan emosional dengan penggemar. Persatuan Sepak Bola Indonesia Surakarta (Persis) adalah sebuah klub sepak bola di Indonesia
yang berasal dari Surakarta/Solo. Klub ini awalnya bernama
Vorstlandsche Voetbal Bond (VVB) yang didirikan oleh Sastrosaksono, Raden Ngabehi Reksodiprojo, dan Sutarman pada 8 November 1923. Skripsi ini akan menganalisis prinsip desain yang meliputi kesatuan, keseimbangan, penekanan, irama, proporsi, dan kontras pada jersi Persis Solo The Glorius Century. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
prinsip desain jersi yang dirilis pada musim 2023-2024 dengan tema The Glorious Century yang menandai peringatan 100 tahun berdirinya klub. Identitas klub sering diwujudkan melalui elemen-elemen visual yang ada pada jersi ini seperti warna, logo, dan motif yang mencerminkan sejarah dan budaya lokal, namun juga harus menyeimbangkan aspek modernitas
dan komersial. Skripsi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengkaji tujuh jersi Persis Solo The Glorius Century, yaitu jersi kandang, tandang, kiper kandang, kiper tandang, alternatif, alternatif kiper, dan jersi perayaan 100 tahun. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi
pengamatan langsung di Official Store Persis Solo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan. proses analisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman yaitu kondensasi data, penyajian data, penarikan, dan verifikasi kesimpulan hasil. Penelitian ini menunjukkan bahwa desain jersi Persis Solo The Glorius Century mencerminkan keseimbangan antara tradisi lokal dan inovasi modern, namun juga menghadirkan tantangan dalam menjaga esensi identitas tradisional di tengah tren globalisasi dan modernisasi sepak bola.
Kata kunci : Persis Solo, Jersi The Glorius Century, Prinsip Desain, Sejarah, Globalisas
KANTAKA
Kantaka merupakan gerakan kedua dari suite Kalatidha yang dikomposisikan pada tahun 2018. Suite ini terdiri atas lima gerakan yang masing-masing berdiri sebagai komposisi tersendiri, terinspirasi dari filsafat dalam Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Rangga Warsita, seorang pujangga dan filsuf Jawa abad ke-19. Kantaka, yang berarti “rintangan” dalam bahasa Sanskerta, mengangkat pesan dari bagian kedua Serat Kalatidha—yakni tentang bagaimana manusia kerap diliputi kesedihan saat menghadapi cobaan, namun harus segera bangkit dan menyadari bahwa penderitaan merupakan bagian dari takdir yang harus diterima dengan lapang dada. Komposisi ini tidak hanya mengartikulasikan filsafat Jawa melalui bahasa musikal, tetapi juga menjadi ruang reflektif bagi pendengar untuk memahami nilai spiritual dan kultural yang terkandung di dalamnya. Artikel ini dipublikasikan dalam BALUNGAN, jurnal internasional yang ditinjau sejawat, yang bertujuan menjembatani dialog antara akademisi dan seniman dalam studi gamelan serta seni pertunjukan terkait, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Penelitian dan refleksi dalam artikel ini memperluas pemahaman tentang relasi antara praktik artistik dan pemikiran filosofis dalam konteks gamelan kontemporer
PENGADEGANAN EFIKASI DIRI DALAM FILM TENTANG KEKERASAN SEKSUAL (STUDI KASUS FILM SEPERTI DENDAM RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS DAN 27 STEPS OF MAY)
Dewasa ini, maraknya film yang mengangkat kekerasan seksual di Indonesia kurang memperhatikan penggambaran efikasi diri tokoh utama sebagai korban dengan tepat, sehingga tidak mampu memberikan edukasi yang tepat kepada penonton serta mengurangi kualitas film. Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas dan 27 Steps of May merupakan dua film bergenre drama yang mengangkat permasalahan kekerasan seksual terhadap anak dengan segudang prestasi. Prestasi tersebut tidak terlepas dari cara sineas membangun pengadeganan pada kedua film untuk menggambarkan efikasi diri tokoh utama. Berlandaskan latar belakang tersebut rumusan masalah pada penelitian ini meliputi bagaimana pengadeganan menggambarkan efikasi diri, citra efikasi diri, dan pengaruh pengadeganan efikasi diri pada kedua film ini. Sejalan dengan rumusan masalah tersebut tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami penggambaran efikasi diri melalui pengadeganan, citra efikasi diri, serta pengaruh pengadeganan efikasi diri dalam kedua film. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan teori mise en scene milik David Bordwell, Kristin Thompson, dan Jeff Smith, beserta konsep 3D character milik Lajos Egri serta karakterisasi milik Dennis Petrie sebagai teori penunjang. Kemudian dibedah dengan pendekatan social cognitive milik Albert Bandura untuk menjawab ketiga rumusan masalah. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini meliputi studi dokumen, studi pustaka, wawancara, dan focus group disscussion. Proses analisis data pada penelitian ini adalah komparatif. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya sebelas adegan yang menggambarkan efikasi diri tokoh utama pada film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas dan sepuluh adegan pada film 27 Steps of May. Adegan-adegan yang terpilih memiliki kecenderungan menunjukkan perubahan perilaku tokoh utama lewat penampilan, gestur, ekspresi, dan dialog. Melalui analisis diketahui bahwa film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas memiliki citra maskulinitas yang rapuh, lemah, dan berdaya melalui kesabaran sebagai bagian dalam proses efikasi diri tokoh utama. Film 27 Steps of May menunjukkan citra feminitas yang terluka, lemah, dan berdaya melalui keberanian. Citra pada kedua film terwujud melalui elemen pengadeganan. Pengaruh pengadeganan efikasi diri dalam kedua film ini meliputi meningkatkan empati, memberikan edukasi mengenai dampak kekerasan seksual, dan meningkatkan kesadaran untuk melawan kekerasan seksual
PENGRAJIN GAMELAN RESI LARAS DALAM FOTOGRAFI ESAI
Tujuan dari penciptaan karya Pengrajin Gamelan Resi Laras Dalam Fotografi
Esai adalah untuk memvisualisasikan proses pembuatan gamelan yang berada di
Kabupaten Karanganyar melalui karya fotografi esai, sebagai arsip visual bagi
Pengrajin Gamelan Haryanto Resi Laras dan masyarakat luas. Tak hanya itu,
penciptaan karya ini juga dimaksudkan untuk mengetahui penataan cahaya yang sesuai.
Objek penciptaan karya ini mencakup pengrajin gamelan dalam melakukan proses
pembuatan gamelan dari tahap awal hingga tahap akhir. Penciptaan karya ini dilakukan
untuk menambah arsip visual tentang pembuatan gamelan.
Metode penciptaan karya yang digunakan meliputi beberapa tahap yaitu
pengumpulan data, eksplorasi, eksperimentasi, pengerjaan karya, penyuntingan karya,
dan penyajian karya. Proses pengumpulan data terdiri dari observasi, pemilihan
spesifikasi lokasi untuk objek penciptaan dan proses wawancara, yang bertujuan untuk
mendapat informasi langsung dari pemilik tempat, hal ini akan mempermudah proses
selanjutnya yaitu eksplorasi. Proses eksplorasi, yaitu proses untuk menentukan objek
penciptaan. Proses ekperimentasi, pada proses ini merumuskan teknis hasil uji coba
untuk mengerjakan karya. Pengerjaan karya, pada tahap ini dibagi menjadi tiga tahap
yaitu pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Penyuntingan karya dilakukan untuk
memilih karya foto yang memenuhi standar fotografi esai dengan baik.
Hasil tugas akhir ini menciptakan 20 karya foto, yang dicetak menggunakan
kertas foto dengan ukuran 60 x 90 cm dengan frameless. Karya-karya tugas akhir ini
memiliki judul Alat Musik Gamelan Resi Laras, Memola Bentuk Gamelan, Memotong
Pola Gamelan, Merapikan Tepi Plat, Membuat Resonan, Pembentukan Bilah Gender,
Slenthem, Demung dan Saron, Menempa Pencu Kuningan, Membuat Nut pada Plat
Gamelan, Penyambungan Badan Gamelan, Pengelasan Komponen Gamelan,
Pengelasan Pencu Pada Gamelan, Merapikan Sambungan Las, Memoles Permukaan
Gamelan, Melaras, Pengecatan Gamelan, Pengecatan Pangkon, Merakit Resonan Gender, Memainkan gamelan, Pengrajin Gamelan Resi Laras. Karya tugas akhir ini
diharapkan dapat menjadi arsip visual untuk melestarikan kerajinan gamelan dan
memberi wawasan kepada khalayak mengenai kerajinan Gamelan Resi Laras melalui
media foto dan juga memberi referensi tentang fotografi esai
Reog Ponorogo, Pariwisata, dan Tantangan Pasca Pengakuan UNESCO
Reog Ponorogo, yang diakui oleh UNESCO pada Desember 2024, telah meningkatkan popularitas dan pertumbuhan ekonomi pariwisata di Ponorogo. Pengakuan ini mendorong sektor pariwisata melalui peningkatan jumlah wisatawan. Namun, tantangan muncul dalam homogenisasi pertunjukan Reog, terutama dalam festival besar, yang mengarah pada hilangnya variasi dan keunikan pertunjukan tradisional di tingkat desa. Fenomena ini berpotensi mengurangi daya tarik Reog Ponorogo sebagai seni yang dinamis dan beragam. Reog Obyog, bentuk pertunjukan lebih spontan di desa, sering terabaikan meskipun memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan yang mencari pengalaman lebih autentik. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dengan program pelatihan bagi seniman lokal, yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan identitas budaya sambil meningkatkan kualitas pertunjukan. Mengembangkan paket wisata yang mengintegrasikan pengalaman interaktif dengan pertunjukan Reog dapat meningkatkan kepuasan wisatawan, serta memperkenalkan Reog Ponorogo secara lebih luas. Pemberdayaan seniman lokal juga penting untuk mendukung keberlanjutan pariwisata dan mempertahankan kekayaan seni tradisional Reog
GAMBUS KUTAI SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK DALAM BUSANA CASUAL WANITA
Gambus Kutai merupakan alat musik petik tradisional yang berbentuk
seperti alat musik mandolin, alat musik ini masuk ke Kutai Kartanegara melalui
penyebaran agama islam. Tujuan dari karya tugas akhir yang berjudul “Gambus
Kutai Sebagai Sumber Ide Penciptaan Motif Batik Dalam Busana Casual Wanita”
ini adalah ingin melestarikan Gambus khas Kutai ini melalui batik dan menambah
ragam motif yang ada di Kutai lalu menerapkannya kedalam busana gamis casual
wanita. Penciptaan motif batik Gambus Kutai ini didapatkan melalui tinjauan
pustaka dan tinjauan visual yang kemudian mendapat hasil bentuk Gambus Kutai
yang kemudian di eksplorasi menjadi motif dengan mengambil beberapa perspektif,
yang dirancang menggunakan teknik stilasi dan repetisi dan kemudian
menghasilkan 4 motif yaitu motif batik kepala gambus behadapan, motif batik
gambus bebaris, motif batik gambus belengkor, dan motif batik gambus bebaring.
Dalam karya ini metode penciptaan seni menggunakan 4 tahap berupa, eksplorasi,
inkubasi, konseptualisasi, dan materialisasi. Laporan Tugas Akhir Karya ini
mendapat hasil luaran berupa : 4 motif batik Gambus Kutai yang diterapkan pada 4
pasang busana gamis casual wanita. Busana casual yang tercipta masing-masing
memiliki judul berdasarkan bentuk motif dan penampilannya, yakni dalam karya
pertama yang memiliki judul Grecek, karya kedua dengan judul Ngiau, karya ketiga
dengan judul Cerngat dan karya ke empat dengan judul Sida. Busana casual yang
diciptakan ini ditargetkan untuk wanita dari usia 26 tahun hingga 35 tahun
KLARAS REGGAE BAND'S CREATIVE PROCESS IN CREATING KAMPUNG RAWA SONGS
Artikel jurnal ini membahas proses kreatif kelompok musik Klaras Reggae dalam menciptakan lagu berjudul Kampung Rawa. Ketertarikan penulis berawal dari pengalaman menyaksikan pertunjukan mereka serta mendengarkan lagu-lagunya, yang menonjolkan kombinasi menarik antara genre Rock dan Reggae. Gaya musik yang mereka usung terasa nyaman di telinga dan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan grup Reggae lain di Klaten. Meskipun tergolong baru di kancah musik lokal, Klaras Reggae telah berhasil membentuk ciri khas musikal yang kini menjadi identitas kreatif mereka. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dan bersifat deskriptif. Data dikumpulkan dari dua sumber: data primer yang diperoleh langsung dari narasumber, serta data sekunder dari dokumen dan pihak ketiga. Analisis mengacu pada konsep empat “P's” kreativitas menurut Rhodes, sebagaimana dikutip dalam buku Kreativitas dan Keberbakatan karya Utami Munandar, yaitu: pribadi, proses, tekanan (lingkungan), dan produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Klaras Reggae memiliki pendekatan yang unik dalam menciptakan lagu Kampung Rawa, memadukan konsep musik matang dalam nuansa Rocksteady, sehingga menciptakan karakter musikal kuat yang diapresiasi positif oleh pendengarnya