7065 research outputs found
Sort by
Gak Bisa Yura!
Tren "Gak Bisa Yura," yang berasal dari lagu Risalah Hati oleh Dewa 19 dan dibawakan ulang oleh Yura Yunita, mencerminkan dinamika emosional generasi muda di media sosial, khususnya di TikTok. Ungkapan ini menjadi simbol bagi individu yang ingin mengekspresikan ketidakmampuan atau kerentanan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari cinta hingga pilihan hidup. Fenomena ini menunjukkan keterkaitan antara budaya populer dan teknologi, di mana individu tidak hanya menjadi konsumen pasif tetapi turut berkontribusi secara kreatif, seperti dalam pembuatan video parodi atau meme. Hal ini juga mencerminkan pergeseran nilai sosial, di mana masyarakat semakin terbuka berbicara tentang kerentanan dan ketidakpastian. Namun, tren ini memunculkan kritik, terutama terkait dengan penggunaan humor sebagai mekanisme koping. Meski efektif meredakan ketegangan, cara ini berpotensi mereduksi proses reflektif terhadap emosi. "Gak Bisa Yura" menggambarkan bagaimana musik dan media sosial menjadi alat kolektif dalam membangun koneksi sosial, tetapi juga menyisakan pertanyaan mengenai kedalaman pemahaman emosi di era digital
REPRESENTASI BADUT PADA KARYA SENI LUKIS BUDI “UBRUX” HARYONO
REPRESENTASI BADUT PADA KARYA SENI LUKIS BUDI “UBRUX” HARYONO, (Skripsi Hamdan Harun xi dan 95 halaman). Jurusan Seni Rupa Murni, Program Studi Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Proses penciptaan karya seni lukis Budi "Ubrux" menegaskan bahwa realitas sosial menjadi landasan utama dalam inspirasi pembuatan karya. Keterlibatan langsung dengan realitas sosial, politik, dan budaya menjadi elemen utama dalam mempengaruhi tema-tema yang diangkat pada karya-karyanya. Terdapat sebuah kontinuitas yang terlihat jelas dalam perjalanan artistik Budi "Ubrux", yang mana beliau tidak hanya melakukan eksplorasi visual yang kreatif dalam karya-karyanya, tetapi juga dalam pemilihan tema yang relevan dengan isu-isu sosial kontemporer. Salah satu contoh karyanya yang mengangkat tema badut, secara umum tema tersebut merupakan sebuah keritikan terhadap penyimpangan sosial seperti penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat atau penguasa dalam pemerintahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang memungkinkan untuk mendalaminya melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis terhadap berbagai dokumen terkait. Analisis karya seni lukis Budi "Ubrux" tentang tema badut, peneliti memilih untuk menerapkan teori representasi Stuart Hall dengan pendekatan encoding dan decoding. Analisis yang dilakukan memperlihatkan bagaimana makna yang diproduksi oleh Budi "Ubrux" melalui karyanya tidak hanya berhasil diungkapkan, tetapi juga diterima secara langsung oleh para audiens. Analisis makna dalam lukisan bertema badut karya Budi "Ubrux" menyoroti kompleksitas pesan yang ada dalam gambaran visual, dengan menggunakan simbol-simbol seperti wajah badut, warna rambut dan ekspresi wajah yang digunakan dalam karyanya. Melalui representasi Stuart Hall, kita dapat menggali lebih dalam makna simbolis dari sosok badut yang sering kali digunakan Budi “Ubrux” untuk simbol kritikan terhadap isu-isu sosial, politik, dan budaya. Sehingga memperkaya pemahaman kita terhadap pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh Budi “Ubrux” dalam karya yang bertema badut
Emotional Experiences of Library Users
It is well-known that very few people use libraries. People who use the library feel stress and receive no assistance. This study makes the assumption that library users may experience negative emotions. Positive or negative moods and the dynamics that go along with them, such as affective instability, trait affect, and intensity, are linked to emotional events. An individual's behavior is shaped by their emotional experiences. The purpose of this study is to learn more about the emotional experiences that library users have. The methods used are open questionnaires, this method applied simultaneously to validate the data. 68.8% respondent stated that they are happy using digital librar
SARIP TAMBAK OSO : Dekonstruksi Cerita Sarip Tambak Oso Melalui Fotografi dan Tipografi
Cerita rakyat Sarip Tambak Oso hidup di pesisir kota Surabaya dan
Sidoarjo sejak awal 1900-an, tetapi masyarakat Tambak Oso menolak cerita
ini karena dianggap rekaan ludruk yang mengeksploitasi sisi negatif tokoh
Sarip, seorang penjahat yang digambarkan sebagai sosok baik. Penolakan
ini mengakibatkan terkikisnya nilai-nilai positif cerita Sarip, seperti
semangat, berbakti, dan ikhlas. Meskipun demikian, tanpa disadari, nilainilai
tersebut sudah tertanam dalam kehidupan masyarakat Tambak Oso.
Upaya membalikkan persepsi negatif ini, dilakukan dekonstruksi cerita
Sarip melalui seni fotografi dan tipografi. Meminjam aktivitas masyarakat
Tambak Oso digambarkan secara positif dalam bentuk karya fotografi dan
tipografi, yang berfungsi sebagai alat untuk menyoroti nilai-nilai positif
cerita Sarip. Fotografi digunakan untuk memvisualisasikan kehidupan
sehari-hari, sedangkan tipografi menyimbolkan aktivitas tersebut melalui
perspektif artistik. Proses penciptaan karya ini menggunakan metode
kreasi artistik yang terdiri dari empat tahapan: studi data etik dan emik,
eksperimen, perenungan, dan perwujudan karya. Melalui metode ini
merepresentasikan metafora dari nilai-nilai semangat, berbakti, dan
keikhlasan dalam kehidupan masyarakat. Karya yang dihasilkan terdiri
dari 5 karya utama dan 21 karya pendukung untuk menciptakan dimensi
baru dalam penggunaan fotografi sebagai medium ekspresi. Pendekatan ini
tidak hanya menekankan keterampilan teknis fotografi, tetapi juga
kemampuan untuk memadukan seni dan konteks cerita Sarip secara
kreatif. Temuan metode OEPI (Outdoor photography, Editing, Printing,
dan Indoor photography) yang digunakan dalam proses penciptaan ini
menjadi temuan inovatif yang menawarkan landasan kuat untuk eksplorasi
lebih lanjut di bidang fotografi. Pendekatan ini tidak hanya menekankan
aspek teknis, tetapi juga menyajikan sudut pandang baru dalam proses dan
presentasi karya seni yang berdampak. Karya pertemuan antara fotografi
dan tipografi ini tidak hanya menjadi representasi visual cerita Sarip, tetapi
juga menjadi contoh inspiratif bagaimana kreativitas dan inovasi seni
fotografi dapat digunakan untuk membangun narasi yang kuat dan
memunculkan nilai-nilai positif dari cerita rakyat Sarip
Musik Politik dalam Pemilihan Presiden Indonesia 2024: Ekspresi, Pengaruh, dan Tantangan Hak Cipta
Pemilihan presiden di Indonesia telah mengalami evolusi, dengan musik
menjadi alat kampanye politik yang penting. Lagu-lagu seperti Lek Ra Kowe,
Aku Ora Wae untuk Ganjar Pranowo, Oke Gas Prabowo Gibran Paling Pas,
hingga Amin Aja Dulu untuk Anies Baswedan, merefleksikan dukungan
emosional dan mobilisasi massa. Namun, penggunaan musik politik ini
memicu isu polarisasi masyarakat dan pelanggaran hak cipta, dengan
banyak kasus penggunaan lagu tanpa izin dari pencipta. Di sisi lain, musik
politik membuka peluang kolaborasi strategis antara musisi dan kandidat.
Hal ini memperkuat citra politik melalui pesan emosional yang cepat
tersebar di era digital. Meski demikian, penelitian tentang pengaruh musik
terhadap pemilihan presiden di Indonesia masih minim, sehingga kajian
komprehensif dapat memberikan wawasan strategis dan etis untuk masa
depan
LIFESTYLE CUSTOM MOTOR PADA REMAJA SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
Laporan penciptaan karya tugas akhir yang berjudul “Lifestyle Custom Motor Pada
Remaja Sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis“ Terinspirasi dari fenomena gaya
hidup (lifestyle) custom motor yang dilakukan oleh remaja. Disusun sebagai bentuk
penyampaian informasi dan ekspresi terhadap fenomena gaya hidup (lifestyle) custom
motor pada remaja yang memiliki dampak, baik dampak negatif maupun positif dari
pengaruh gaya hidup tersebut.
Metode penciptaan yang digunakan mengacu pada tiga tahapan metode penciptaan
yang dikemukakan oleh Alma M. Hawkins, meliputi: Eksplorasi, improvisasi dan
pembentukan. Teknik yang digunakan adalah teknik plakat dan teknik semprot, bahan
yang digunakan adalah cat akrilik dan cat semprot di atas kanvas dengan mengacu
pada style/gaya pop art. Dari metode penciptaan yang digunakan menghasilkan 8 buah
karya seni lukis yang berjudul : 1. The Power Of “Nekat”, 2. Fanatic Son, 3. Insecure,
4. Ladies Contest, 5. Sang Juara, 6. Brotherhood, 7. Benefit, 8. Semanga
LAKON WISANGGENI LAHIR DENGAN GAYA WAYANG BEBER SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA BENTUK JAM PADA MEDIA KAYU DAN RESIN
Penciptaan karya tugas akhir ini bertujuan untuk mengenalkan wayang
beber kepada masyarakat khususnya generasi muda. Beberapa bentuk jam ini
diciptakan dari kayu jati, kayu mahoni, kayu suren dan menggunakan resin yang
mengangkat tema adegan lakon wisanggeni lahir dengan gaya wayang beber.
Penerapan ornamen wayang beber terletak di atas permukaan kayu yang sudah
dilapis resin. Metodologi penciptaan menggunakan teori SP. Gustami meliputi
tahap eksplorasi, tahap perancangan dan tahap perwujudan. Proses pembuatan
bentuk kayu menggunakan teknik kerja bangku, pewarnaan ornamen wayang
beber menggunakan teknik sungging, dan teknik cor untuk menuangkan resin.
Finishing karya dengan teknik poles dan semprot, sedangkan ukiran kayu dengan
politur mowilex waterbase. Karya ini terdiri dari 5 buah, yaitu 2 bentuk jam
dinding, 2 bentuk jam duduk dan 1 bentuk jam gantung. Pendekatan estetika karya
menggunakan teori Monroe Beardsley yaitu terdapat tiga ciri sifat-sifat membuat
indah dan baik dari benda-benda estetis meliputi kesatuan (unity), kerumitan
(complexity) dan kesungguhan (intensity)
KAJIAN ESTETIKA ARTWORK CYANOTYPE PADA ALBUM RM ‘INDIGO’ KARYA SPARKS EDITION
Album INDIGO memiliki keunikan dengan menyajikan artwork cyanotype di dalamnya. Artwork cyanotype karya Sparks Edition yang dibuat untuk lagu-lagu dalam album INDIGO oleh RM, menarik banyak perhatian dari penggemar karena memiliki keunikan dan keindahan. Penelitian ini menganalisis nilai estetika dari artwork cyanotype karya Sparks Edition menggunakan teori estetika A. A. M. Djelantik. Jenis penelitiannya adalah deskriptif kualitatif dan pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan studi dokumen. Data diperoleh secara langsung dari album fisik INDIGO yang terdiri dari tiga versi rilisan. Pada proses analisis data dilakukan pemilihan artwork representatif dalam segi penggunaan dan penempatan objek.
Hasil penelitian berupa pemaparan unsur dalam nilai estetika A. A. M. Djelantik, yaitu wujud atau rupa (appearance), bobot atau isi (content, substance), dan penyajian atau penampilan (presentation) terhadap 6 artwork yang terpilih. Unsur wujud atau rupa dicapai dengan elemen titik, garis, bidang, warna, dan sinar. Juga prinsip dasar seni rupa berupa penonjolan, keseimbangan, dan keutuhan. Semua artwork mengandung elemen dan prinsip seni rupa untuk menciptakan unsur wujud atau rupa dari objek benda mati, tanaman, foto negatif, hasil olah grafis, serta hasil goresan emulsi cyanotype. Unsur bobot atau isi mengandung gagasan, pesan, dan suasana yang dicapai dengan menganalisis gagasan lagu dan lirik yang direpresentasikan dalam objek benda yang digunakan. Penyajiannya berupa penempatan artwork pada setiap versi album dengan presentasi format dan jumlah yang berbeda-beda. Seluruh artwork yang dikaji mengandung nilai estetika sesuai dengan pemaparan teori estetika A. A. M. Djelantik dan artwork cyanotype tersebut adalah daya tarik yang layak ditonjolkan dari album INIDIG
PENCIPTAAN KERIS DHAPUR LEBAH MADU
Eko Putranto. NIM : 191531008 “PENCIPTAAN KERIS DHAPUR LEBAH
MADU” Tugas Akhir Karya, Program Studi D-4 Senjata Tradisional Keris, Jurusan
Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Penciptaan karya tugas akhir ini mengangkat tema Lebah Madu (Apis
mellifera) sebagai sumber penciptaan karya keris kontemporer yaitu keris dhapur
Lebah Madu. Diharapkan penciptaan karya ini dapat menghasilkan karya keris yang
mengacu pada ciri dan karakter serta nilai-nilai filsafah hidup yang ada dalam
Lebah Madu. Lebah Madu ini menarik untuk diangkat sebagai ide penciptaan karya
tugas akhir yang divisualkan menjadi karya motif tinatah emas pada bilah keris.
Metode penciptaan karya tugas akhir ini menggunakan tiga tahap enam langkah
penciptaan karya, yang terdiri dari tiga tahap yaitu; ekplorasi, perencanaan, dan
perwujudan. Tahap ekplorasi meliputi observasi, studi pustaka, dan wawancara.
Tahap perancangan meliputi pembuatan sketsa alternatif dan gambar kerja karya.
Tahap perwujudan meliputi persiapan alat dan bahan, pembuatan bilah, pembuatan
warangka, pembuatan hulu, pembuatan mendak, pembuatan pendok, dan
pembuatan antup. Penciptaan tugas akhir karya ini menghasilkan 3 (tiga) keris yang
berjudul; keris dhapur madukara, keris dhapur bhirawa, dan keris dhapur tala
kencana. Pemilihan ciri dan karakter Lebah Madu sebagai ide penciptaan motif
dengan menggunakan teknik tinatah yang diterapkan pada ricikan keris diharapkan
dapat memberi nilai keindahan pada setiap dhapur keris
DAUN KELOR SEBAGAI ORNAMEN HIAS PADA MEBEL KAYU JATI
Dellantino Junior, 17147117, 2024, “DAUN KELOR SEBAGAI ORNAMEN HIAS PADA MEBEL KAYU JATI” Deskripsi Karya Program Studi: S-1 Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Penciptaan karya tugas akhir daun kelor sebagai ornamen hias pada mebel kayu jati ini termotivasi dari fenomena daun kelor yang memiliki segudang manfaat bagi kesehatan tubuh dan juga menilik daun kelor yang dianggap sebagai pengusir hal gaib yang negatif. Mebel ini terdiri dari meja tv, kap lampu, sketsel dengan menggunakan material kayu jati. Metodologi penciptaan menggunakan teori SP. Gustami meliputi tahapan: eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Pendekatan estetika karya merujuk teori Monroe Beardsley dalam Problems in the Philosophy of Criticism yang menjelaskan 3 ciri meliputi, kesatuan (unity), kerumitan (complexity), dan kesungguhan (intensity). Proses pengerjaan karya mengunakan teknik pertukangan, teknik pahat (ukir). Finishing mebel dilakukan dengan teknik oles dan semprot menggunakan bahan cat impra dan ,menghasilkan efek dan warna kayu yang menarik. Hasil akhir karya kursi berjumlah tiga buah, diantaranya meja tv, kap lampu, dan sketsel yang menggunakan kayu jati. Penciptaan ini diorientasikan untuk mengembangkan desain mebel yang sudah ada, agar tercipta produk yang memiliki nilai kebaruan dan mengikuti perkembangan selera pasar