7065 research outputs found
Sort by
CEMANG-CEMONG REINTERPRETASI COWONGAN DI DESA BUAYAN KABUPATEN KEBUMEN
Skripsi karya seni ini menyajikan dan menganalis peristiwa dalam fenomena ritual Cowongan. Komposisi musik menggambarkan situasi masyarakat dalam memecahkan sebuah permasalahan dengan melakukan ritual tradisi. Bentuk penggarapan musik tercipta dari ide penggarapan perpaduan mantra pada prosesi ritual Cowongan dengan musik dari gamelan ageng. Dua permasalahan diajukan dalam skripsi karya seni ini adalah, (1) Bagaimana proses interpretasi sebuah proses ritual tradisi dijadikan sebuah karya seni; dan (2) Bagaimana penggarapan sebuah mantra pada ritual dipadukan dengan instrumen gamelan yang pada dasarnya tidak selaras dengan nada gamelan itu sendiri. Metode yang digunakan dalam pembuatan karya komposisi adalah observasi, orientasi, eksplorasi, improvisasi dan imajinasi. Data-data penelitian dikumpulkan melalui studi pustaka, studi dokumentasi dan wawancara kepada tokoh masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan penggarapan mantra dengan instrumen-instrumen dari gamelan menciptakan kesan kuat dan sakral dalam penggarapan musiknya. Penggambaran peristiwa dalam prosesi ritual Cowongan diciptakan melalui imajinasi ide-ide musikal. Masing-masing jenis vokal dan instrumen mempunyai karakter yang berbeda, perbedaan karakter vocal putra dan putri serta karakter dari instrumen gamelan itu sendiri dipadukan dalam satu urutan sajian karya komposisi untuk menghasilkan bentuk, jenis dan rasa yang bervariasi dalam satu kesatuan konser karya komposisi.
Kata Kunci: tradisi, ritual, sakral
KONSEP VISUAL KAMPANYE SOSIAL AJARAN SERAT DEWARUCI YASADIPURA I
Tujuan penelitian ini untuk menemukan konsep visual kampanye sosial ajaran Serat Dewaruci Yasadipura I (1729-1801). Penelitian ini difokuskan pada ajaran Kepemimpinan Sejati yang tersirat pada kisah perjalanan Bima mencari air kehidupan dalam Serat Dewaruci. Serat Dewaruci merupakan karya sastra dalam bentuk tembang macapat yang menceritakan kisah perjalanan Bima mencari air kehidupan dan memperoleh wirid sebagai laku dalam ilmu sejati. Filsafat dalam Serat Dewaruci yaitu filsafat Mistika, filsafat yang menjelaskan pemahaman bagaimana manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup sejati. Ciri pemikiran filsafat Mistika diungkapkan dalam bahasa kias (simbol) sebagai pengejawantahan hal-hal yang konkret untuk mengungkapkan isi hati perasaan. Akan tetapi pemahaman masyarakat terutama generasi millenial tentang bahasa dan simbol-simbol komunikasi yang digunakan oleh masyarakat terdahulu mengalami distorsi. Dan ilmu pengetahuan dalam proses pembelajaran budaya masyarakat saat ini juga terfokus pada seni modern ala Barat. Meskipun tidak dapat ditolak, akan tetapi dapat dijadikan sebagai alat untuk memperkaya pemahaman terhadap budaya sendiri. Temuan ajaran Kepemimpinan Sejati yang tersirat dalam Serat Dewaruci divisualisasikan ke dalam media audio visual dan diimplementasikan ke media digital kampanye sosial. Jenis penelitian yang digunakan untuk mengkaji kampanye sosial ajaran Kepemimpinan Sejati ini menggunakan Practise-led Research. Metode penelitian menggunakan design thinking, tahapan meliputi: a) emphathize; b) define; c) idea; d) prototype; e) test. Teknik pengumpulan data purposive sampling melalui observasi, wawancara dan studi pustaka. Pendekatan yang digunakan dengan meminjam teori hermeneutik dan alih wahana. Dan strategi visual kampanye sosial menggunakan model AISAS untuk mempersuasi khalayak sasaran yaitu generasi millenial. Penelitian ini menghasilkan tiga simpulan: pertama, Serat Dewaruci karya Yasadipura I tersirat ajaran Kepemimpinan Sejati. Kedua, visualisasi konsep ajaran Kepemimpinan Sejati merupakan gambaran delapan unsur alam yaitu
vii
bumi, bulan, matahari, bintang, air, angin, awan dan api. Setiap unsur alam mewakili sifat/karakter pemimpin sejati. Ketiga, Kampanye sosial ajaran Serat Dewaruci menggunakan strategi komunikasi visual untuk menyampaikan pesan hasil interpretasi simbol, konsep visual psychedelic spiritualisme modern dan model kampanye AISAS yang ditujukan kepada khalayak sasaran yaitu generasi millenial usia 25 sampai 40 tahun
GRAMOFON SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK UNTUK BUSANA CASUAL
Karya pada tugas akhir motif batik dengan sumber ide Gramofon untuk busana casual. Gramofon merupakan alat pemutar suara atau music pertama di dunia. Gramofon tidak memerlukan listrik untuk memutar suara atau musik, hal yang perlu dilakukan ialah memutar bagian engselnya. Karya Tugas Akhir yang terinspirasi dari gramofon ini bertujuan untuk merevitalisasi gramofonter sebu kepada Masyarakat. Tujuan dari tugas akhir kekaryaan ini yaitu, yaitu menciptakan motif batik batik gramofon dengan motif utama pada bagian horn yang diaplikasikan pada busana casual. Metode yang digunakan dalam proses penciptaan karya ini adalah metode Gustami yang terbagi menjadi tiga metode yaitu, dimulai dari tahap eksplorasi, dengan melakukan pengamatan langsung pada alat pemutar suara gramofon yang digunakan untuk menerapkan motif batik gramofon sebagai busana casual. Tahap dua yaitu perancangan desain, dimulai dengan alternative desain untuk dipilih sebagai motif batik yang diaplikasikan pada busana casual dan juga perwujudan motif gramofon. Teknik perwujudan yang diterapkan pada keseluruhan karya dengan menggunakan bahan pewarna remasol. Diawali dari proses pola, nyorek, membatik, mewarna, melorod, menjahit hingga finishing. Hasil dari penciptaan karya ini berupa empat busana casual yang diberijudul dari nama-nama bunga. Karya 1 dengan judul Mimosa, karya dua dengan judul Mirabilis, karya tiga dengan judul Myosotis dan karya empat dengan judul Mansoa. Terciptanya karya busana yang mengangkat motif Gramofon dapat diketahui lebih luas oleh masyarakat umum
PENANGKARAN BINTURONG DALAM KARYA FOTOGRAFI ESAI
v
PENANGKARAN BINTURONG DALAM KARYA
FOTOGRAFI ESAI
Oleh : Annisa Haryanti
ABSTRAK
Penelitian penciptaan ini bertujuan untuk memvisualisasikan penangkaran
CV Bumi Makmur yang merupakan penangkaran binturong resmi pertama di
Indonesia yang berlokasi di Jalan Untung Suropati, Desa Bambankerep,
RT.01/RW.04, Kedungpane, Kec. Mijen, Kota Semarang. Permasalahan yang
terdapat dalam penelitian ini adalah satwa binturong mengalami kelangkaan di
alam liar yang disebabkan oleh hilangnya habitat asli mereka karena beralih
fungsinya hutan dan penebangan pohon secara liar, sehingga mengakibatkan
satwa tersebut masuk kedalam daftar satwa dilindungi oleh negara. Binturong
yang merupakan satwa sejenis musang ini nyatanya juga tidak begitu populer
dikalangan masyarakat. Dari permasalahan tersebutlah muncul ide untuk
memvisualisasikan penangkaran binturong melalui rangkaian foto esai dengan
bentuk susuan cerita deskriptif serta menggunakan pendekatan metode EDFAT
sebagai langkah mengidentifikasi objek guna menciptakan hasil karya yang
bervariatif.
Hasil penelitian visualisasi karya mengemukakan sebuah rangkaian foto
esai berupa segala aktivitas yang ada di Penangkaran Binturong CV Bumi
Makmur mulai dari pemberian pakan, pembersihan kandang, aktivitas binturong
di dalam kandang, pemotongan kuku, pemberian susu, interaksi antara penjaga
dan binturong, penjodohan, pemberian vaksin, obat dan chip, serta pemberian
sertifikat dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah.
Peran fotografi esai dimanfaatkan sebagai sarana untuk memvisualisasikan apa
saja yang dilakukan di Penangkaran Binturong CV Bumi Makamur serta sebagai
media Informasi untuk mengenalkan binturong serta aktivas yang ada di
penangkaran kepada masyarakat
EKSPRESI TUBUH DENGAN TEKNIK LOWKEY
v
EKSPRESI TUBUH DENGAN TEKNIK LOWKEY
Oleh : Hafidzoh
ABSTRAK
Tugas Akhir Karya ini berjudul “Ekspresi Tubuh Dengan Teknik Lowkey”.
Tubuh adalah bagian dari manusia atau hewan yang terdiri dari kepala, leher,
badan, dan anggota gerak meliputi tangan dan kaki. Visualisasi dalam penciptaan
karya ini yaitu foto hitam putih. Memanfaatkan fitur hitam putih pada kamera
untuk menghasilkan foto hitam putih agar dapat melihat visual secara langsung
dengan karakteristik kedalaman kontras yang kuat. Teknik lowkey menjadi elemen
utama, menciptakan visual tubuh yang kuat dengan efek bayangan.
Penciptaan karya ini membahas bagaimana tubuh manusia dapat
digunakan sebagai media untuk memperlihatkan berbagai ekspresi tubuh melalui
fotografi. Pendekatan bodyscape berfokus pada bentuk tubuh manusia yang
mencakup bulu halus, kerutan, pori pori dan mengeksplorasi bagaimana model
berinteraksi dengan tubuhnya, seperti ekspresi wajah, postur tubuh, dan detail
anggota tubuh. Metode penciptaan yang digunakan meliputi tahap observasi,
eksplorasi, eksperimentasi, serta visualisasi. Penciptaan karya ini menghasilkan
karya foto hitam putih yang memperlihatkan detail, bentuk atau tekstur pada
tubuh manusia
REMPAH KRETEK SEBAGAI IDE PENCIPTAAN MOTIF PADA BUSANA KEBAYA
ABSTRAK
Rempah Kretek Sebagai Sumber Ide Penciptaan Karya Tugas Akhir ini. Desain
motif yang dipilih menjadi ide karya tugas akhir merupakan ciri khas dari kota Kudus.
Kretek terbuat dari tembakau dan cengkih serta dipadukan dengan saus perasa. Asal
usul nama "Kretek" berasal dari suara rempah saat dihisap. kretek memiliki beberapa
keunikan yang membedakannya dari rempah lainnya. Keunikan utamanya adalah
campuran tembakau dengan cengkeh, yang memberikan sensasi dan aroma khas saat
merokok. Selain itu, proses pembuatan rempah kretek yang membutuhkan keahlian
khusus juga menambah daya tariknya. Dengan keunikan dari rempah kretek inilah yang
saya ekplorasi menjadi motif batik. Tema busana yang diambil adalah busana kebaya.
Teknik batik tulis dengan teknik pewarnaan remazol colet dan celup. Batik dengan
motif utama rempah kretek dengan pemilihan warna identik dengan merah, hitam dan
abu-abu. Metode penciptaan Karya Tugas Akhir ini terdiri dari Eksplorasi, Inkubasi,
Konseptualisasi dan Materialisasi. Karya Tugas Akhir yang diwujudakan terdapat 5
karya busana. Pertama berjudul Raya Cendana yang bermakna awal dari daun
tembakau dan cengkeh yang melambangkan kekhasan aromanya. Karya kedua berjudul
Raya Widayu yang bermakna awal dari cengkeh yang empunyai arti memilikikarakter
jiwa pemimpin. Karya ketiga berjudul Raya Bhumi yang bermakna awal daridaun
tembakau dan cengkeh yang mempunyai arti bentuk stilasi dari motif daun tembakau
dan motif pendukung berupa bentuk cengkeh, bunga lawang dengan tetap
menggunakan keorganikan atau keaslian motif. Karya ke empat berjudul Raya Prijaji
yang bermakna dari daun tembakau dan cengkeh yang mempunyai arti penggambaran
manusia yang mampu mengarahkan kebaikan dan kebahagiaan. Dan yang terakhir
Raya Tanjung bermakna awal dari cengkeh dan daun tembakau. penggambaran tentang
rasa syukur atas kecerdasan yang telah dimiliki sehingga mampu membagikan ilmu
dalam kehidupan masyrakat umum yang mampu mewujudkan rasa kebahagiaan dalam
diri seseorang
KREATIVITAS ISWADI PRATAMA DALAM PERTUNJUKAN TEATER WARAHAN SELIP : AKU TAK INGIN SENDIRI OLEH TEATER SATU LAMPUNG
Skripsi karya ilmiah ini berjudul “Kreativitas Iswadi Pratama Dalam Pertunjukan TeaterWarahan Selip;Aku Tak Ingin Sendiri Oleh Teater Satu Lampung. Penelitian ini berusahamenganalisis tentang proses kreativ Iswadi Pratama yang menggabungka seni teater danjuga sastra tutur Warahan dalam pertunjukan Teaternya bersama Teater Satu Lampung dengan lakon Warahan Selip; Aku Tak
InginSendiri. Landasan teori yang digunakan yaitumenggunakan teori struktur
dan tekstur George R. Kernodle dan juga teori proses kreatifdari Herman Von Helmvoltz yang terdiri dari tiga aspek yaitu, saturation, incubation danillumination. Metode yang digunakan dalam penelitin adalah metode kualitatif. Metode ini berisi : (1) lokasi dan waktu, (2) sumber data, (3) jenis data, (4) teknik pengumpulan data (studi pustaka, wawancara, observasi, transkripsi), (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa banyak keterkaitan antara sastra tutur warahan baik dari segi struktur dan juga tekstur pertunjukan dan
juga proses Iswadi Pratama dalam teknik penyutradaraanya menggunakan konsep warahan. Berdasarkan hasil penelitian, proses kreativ dapat menciptakan bentuk kesenian baru untuk menginovasi atau memperbaharuibentuk kesenian yang sudah ada menjadi lebih menarik dan bisa dinikmati kembali oleh penonton, sehingga secara tidak langsung dapat kembali mempertahankan dan melestarikan kesenian tersebut agar tidak hilang.
Kata Kunci : Kreativitas, Warahan, Pertunjukan Teate
“AIDS VILLAGES IN HENAN PROVINCE” KARYA LU GUANG DALAM ANALISIS KRITIK SENI FELDMAN
Penelitian ini bertujuan menganalisis foto dokumenter karya Lu Guang yang
berjudul “Aids Villages In Henan Province”. Penelitian-penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan empat tahapan kritik seni Edmund Burke Feldman yang
terdiri dari deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi. Keempat tahapan
tersebut digunakan penulis untuk menganalisis penelitian dengan metode
pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fotografis, foto-foto Lu Guang yang
bergenre dokumenter berhasil menggambarkan kemiskinan warga Henan Province
yang terinfeksi AIDS ditandai dari beberapa foto Lu Guang yang menggambarkan
anatomi tubuh dengan penuh luka-luka, kuku menghitam, badan yang kekurangan
gizi sehingga menyebabkan kematian dengan gambaran banyaknya gundukan
makam. Secara visual foto tersebut menarik dan berhasil dalam menyampaikan
pesan yang dialami warga Henan. Aspek-aspek yang dididapatkan Lu Guang lebih
menerapkan kepada point of interest foto untuk lebih memfokuskan sehingga
membuat mata lebih tertuju pada objek didalamnya
“LAKUNING REYOG” (Relevansi Makna Simbolik Topeng Singo Barong dan Dhadhak Merak Terhadap Realitas Sosial Komunitas Reyog Singo Bhirowo)
Karya penciptaan “Lakuning Reyog” merupakan karya pemberdayaan masyarakat melalui Komunitas Reyog Singo Bhirowo. Karya ini bersumber trilogi yaitu sejarah awal kemunculan Reyog, bentuk kesenian Reyog dan Komunitas Reyog Singo Bhirowo yang berada di kota Surakarta. Karya ini merespon kembali kandungan nilai – nilai dan makna simbolik di dalam kesenian Reyog yang difokuskan pada interpretasi dan tafsiran dari topeng Singo Barong dan Dhadhak Merak. Hasil data berupa realitas sosial menggunakan metode antropologi seni dan di kombinasikan dengan data terkait kesenian Reyog. Penciptaan karya ini bertujuan sebagai refleksi bahwa kandungan nilai – nilai dan makna simbolik dari topeng Singo Barong dan Dhadhak Merak, memiliki relevansi terhadap kehidupan sosial yang dialami oleh Komunitas Reyog Singo Bhirowo. Melalui proses penciptaan karya ini, mampu memberikan tawaran tafsiran nilai – nilai kehidupan sebagai acuan dalam perkembangan Komunitas Reyog Singo Bhirowo
RESTRUKTURISASI SERAT KRIDHWAYANGGA
Penelitian ini mengkaji Serat Kridhwayangga (SK) sebagai sumber primer untuk pemahaman tentang tari tradisional. SK, disusun oleh Mas Sastrakartika pada masa pemerintahan Paku Buwono IX, memuat informasi tentang pakem beksa, yang diperoleh dari Raden Ngabehi Atmamarsana. Sayangnya, sumber tulisan asli Atmamarsana telah rusak, dan Mas Sastrakartika mempelajari langsung dari guru tersebut. Serat Kridhwayangga, meskipun disahkan oleh Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, mengandung kekeliruan transliterasi dan terjemahan yang mempengaruhi pemahaman tentang tari. Penelitian ini menunjukkan pentingnya memperbaiki sistematika penulisan SK untuk menghindari kesalahan interpretasi. Pedoman pokok tari dalam SK, meskipun informatif, dihadapi kendala dalam pengaplikasiannya. Oleh karena itu, penelitian ini merangkum sepuluh bentuk tari tradisional dengan pedoman gerak menyeluruh, memudahkan pemahaman dan pementasan. Penelitian ini mencermati kepekaan estetis pendahulu tari, yang menciptakan vokabuler gerak indah dan terinspirasi dari lingkungan sekitar. Di antara tari tradisional yang dikaji adalah Tari Endrayawedi, yang dijelaskan sebagai gerak tari yang halus dan lambat, khusus untuk gaya Panji Sepuh. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman lebih dalam tentang tari tradisional dan menggambarkan pentingnya penelaahan sumber primer dalam konteks keberlanjutan sejarah tari