7065 research outputs found
Sort by
PENGUATAN INDUSTRI KREATIF MELALUI PENDAMPINGAN BATIK TULIS RW 2 MIRI DESA BULU KECAMATAN POLOKARTO KABUPATEN SUKOHARJO
Kabupaten Sukoharjo salah satu wilayah di Provinsi Jawa Tengah dengan potensi seni dan budaya, dalam konteks seni rupa, Sukoharjo mempunyai kekayaan budaya kain tradisi yang cukup kuat misalnya tenun dan batik. Dalam konteks dunia pembatikan, Sukoharjo terkenal sebagai produsen batik yang menjadi daerah penyangga dan penyedia tenaga pembatik untuk wilayah Surakarta sebagai pusat kebudayaan batik. Sementara itu kurangnya perhatian di beberapa wilayah dapat menyebabkan kurangnya pemerataan industri batik ini. Faktor penentu, seperti jumlah tenaga pembatik yang makin berkurang, kurang minatnya karena upah pekerja yang cenderung minim, dan daya jual produk yang relatif sulit. Seperti halnya Polokarto yang secara kesejarahan mungkin tidak termasuk daerah pusat batik di Sukoharjo menjadi memiliki sumber daya tersebut karena hasil pernikahan atau memiliki hubungan kekerabatan dengan wilayah pembatik, seperti halnya desa Bulu. Desa ini memiliki potensi kesenian beragam namun, kemampuan berkesenian seperti kerajian seni mem-batik sendiri hanya dimiliki oleh beberapa orang saja dan ini sangat perlu pendampingan agar dapat lestari dan berkembang seperti halnya warga di RW 2 Dusun Miri, Desa Bulu Sukoharjo. Adapun tahapan dari kegiatan pengabdian adalah; 1. Penyiapan modul tentang alat bahan serta proses batik sebagai media pembelajaran dan produk batik. 2. Koordinasi dengan Mitra PKM warga RW 2 Desa Bulu 3. Pengenalan secara teoritis melalui ceramah, dan persiapan alat dan bahan 4. Pelaksanaan Pelatihan dan Pendampingan Kegiatan. Luaran dalam kegiatan pengabdian warga masyarakat RW 2 Miri Desa Bulu Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo mampu berbagi ilmu satu dengan yang lain mampu berkreasi dengan motif dan pola yang berkarakter kedaerahan namun berkualitas. mampu membuat produk yang siap pakai atau siap jual, publikasi Jurnal, Publikasi di media massa
EKPLORASI KREATIF MEDIA SOSIAL “INSTAGRAMABLE” DENGAN SMARTPHONEGRAPHY BAGI SISWA SMK 1 BINA PATRIA SUKOHARJO
Fotografi merupakan suatu ilmu yang sedang naik daun pada rentan waktu 5 tahun kebelakang ini, pasalnya banyak orang yang tertarik untuk terjun untuk belajar dunia fotografi. Pada dasarnya, Fotografi sendiri merupakan seni menggambar yang dihasilkan menggunakan media cahaya sebagai komposisi utama yang akan sangat berpengaruh dengan gambar yang dihasilkan. Jika diartikan secara terpisah, Foto yang berarti cahaya dan Grafi berarti gambar, dan jika digabungkan menjadi sebuah karya atau gambar yang dihasilkan melalui permainan cahaya yang diproses melalui alat yang bernama kamera. Fotografi menggunakan smartphone menjadi sempalan bidang seni fotografi, kini dikenal sebagai smartphonegraphy
LOKAKARYA PENULISAN KREATIF DAN COLLECTIVE BRANDING MEDIA SOSIAL BERSAMA KOLEKTIF SENI SUB STUDIO SURAKARTA, JAWA TENGAH
Kegiatan lokakarya ini akan merespon isu pengembangan kapasitas seniman muda dalam melakukan penulisan kreatif seni rupa dan collective branding melalui media sosial. Mitra yang dilibatkan adalah kolektif seniman muda di Kota Surakarta, Jawa Tengah, yaitu kolektif Sub Studio. Isu yang direspon diambil dari hasil pengamatan atas permasalahan mitra, yaitu keterampilan melakukan penulisan kreatif dan keterbatasan optimalisasi kanal media sosial Instagram yang dimiliki. Lokakarya ini akan dibagi menjadi dua bagian besar yang melibatkan lima belas orang seniman muda
EKPLORASI WANDA TOKOH PANDAWA WAYANG PURWA SEBAGAI ALTERNATIF BENTUK PADA PRODUK DEDER/HULU DAN WARANGKA KERIS
Wayang merupakan karya seni adiluhung yang telah diakui dunia sebagai karya heritage. Kesenian ini sudah berada semenjak ratusan tahun yang lalu dan eksistensinya masih berkembang hingga saat ini. Wayang bagi masyarakat Jawa merupakan karya seni memiliki nilai filosofi yang patut dilestarikan sesuai dengan perkembangan zaman. Karena wayang memiliki pesan yang sarat dengan falsafah dan estetika (tuntunan, tatanan, dan tontonan). Wayang memiliki beragam kisah ceritera yang menarik salah satunya Mahabharata. Mahabharata merupakan kisah cerita darah bharata, tokoh yang terkenal adalah Pandawa. Pandawa merupakan tokoh protagonis yang memposisikan pada sisi kebaikan sehingga telah idola bagi masyarakat pendukungnya. Pandawa dalam tampilan setiap adegan memiliki berbagai karakter wajah sebagai wujud ekspresi sesuai pesan yang ingin disampaikan, yang dikenal dengan istilah wanda. Oleh karena wanda tokoh Pandawa telah menginspirasi untuk dijadikan sebagai bahan kajian dalam penelitian. Penelitian ini akan fokus pada bagian wajah/wajah dari kelima Pandawa untuk diterapkan menjadi bentuk deder/hulu dan warangka keris. Tujuannya adalah disamping sebagai media ekspresi , juga sebagai upaya pengembangan dan meningkatkan kualitas produk perabot keris serta memunculkan diversifikasi produk. Penelitian ini akan menggunakan metode eksperimental yang didukung riset, yakni dimulai dari eksplorasi pencarian data kemudian dicoba membuat berbagai eksperimen dengan melalui berbagai desain alternatif dari bentuk deder/hulu dan warangka keris dengan tema wanda pandawa.
Sehingga akan mendapatkan model atau prototype yang sesuai dengan rencana. Setelah mendapatkan desain sesuai tema, maka dilanjutkan ke tahap perujudan karya.
Kata kunci: wanda, wayang, pandawa, deder, dan warangka keri
GENDING PROSESI WISUDA SANGGAR BUDAYA JAWA “PARIKESIT” KABUPATEN KARANGANYAR SEBAGAI KEBERTAHANAN SENI BUDAYA JAWA
Penelitian Karya Seni yang berjudul “Gending Prosesi Wisuda Sanggar
Budaya Jawa Parikesit Kabupaten Karanganyar Sebagai Kebertahanan Seni
Budaya Jawa, adalah bentuk kegiatan yang akan menghasilkan rangkaian gending
prosesi wisuda Sanggar Parikesit dilakukan secara semi protokoler yang selama ini
belum pernah dilakukan oleh sanggar. Hal ini merupakan sebuah inovasi dalam
penggarapan prosesi wisuda.
Setelah menganalisis situasi dan mitra, maka peneliti menggarap gending-
gending prosesi wisuda di Sanggar Budaya Jawa “Parikesit”. Kegiatan ini
menjelaskan tentang pentingnya karawitan dalam prosesi wisuda. Peneliti
menyusun materi, melatih yang berkaitan dengan rangkaian gending prosesi
wisuda, sekaligus memberikan wawasan kepada sanggar agar ilmu yang diberikan
dapat diimplementasikan dan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya sanggar
Parikesit.
Dalam kegiatan pelatihan ini digunakan metode drill, yakni dengan
melakukan latihan secara rutin sesuai dengan yang direncanakan. Tidak kalah
pentingnya adalah pembuatan karya musik prosesi wisuda sebagai gending tetap
sanggar, dalam rangka prosesi wisuda. Diajarkan juga tentang garap gending
dengan model semi protokoler, yakni rangkaian gending dari pembukaan sampai
dengan akhir prosesi. Tidak kalah pentingnya adalah melatih bagaimana cara
menabuh gamelan dengan menggunakan model semi protokoler
ESTETIKA PENERAPAN ORNAMEN TRADISIONAL PADA INTERIOR ANGKRINGAN OMAH SEMAR DI SURAKARTA
Penelitian ini merupakan pengkajian mengenai estetika penerapan ornamen tradisional yang terdapat pada interior Angkringan Omah Semar di Surakarta. Angkringan Omah Semar merupakan salah satu tempat kuliner yang memiliki konsep tradisional Jawa Klasik dengan mengadopsi elemen-elemen baru namun tetap menghormati nilai-nilai tradisional, melalui keindahannya berhasil menciptakan ruang yang berfungsi sebagai tempat kumpul bersama keluarga dan sebagai tempat untuk belajar dan berkreativitas sekaligus menjadi wadah untuk melestarikan budaya lokal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui estetika penerapan ornamen tradisional pada interior Angkringan Omah Semar di Surakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan estetis, menggunakan narasumber, literatur, dan benda sebagai sumber informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ornamen tradisional pada interior Angkringan Omah Semar mencerminkan prinsip-prinsip estetika menurut De Witt H. Parker, yaitu kesatuan, tema, variasi menurut tema, keseimbangan, perkembangan, dan tata jenjang. Ornamen-ornamen tersebut tidak hanya memperindah ruangan tetapi juga menjaga dan menghormati tradisi seni ukir tradisional yang mendalam. Selain itu, analisis daya tarik ornamen tradisional menunjukkan bahwa ornamen di Angkringan Omah Semar diterima dengan baik oleh pengguna, mencerminkan budaya lokal dan sesuai dengan tema tempat tersebut. Hal ini menegaskan bahwa estetika ornamen tradisional yang diterapkan berperan penting dalam memperkuat identitas budaya dan daya tarik tempat kuliner ini.
Kata Kunci: Estetika, Ornamen, Interior, Angkringan Omah Sema
ESTETIKA PRASĀJĀ ETNOGRAFI TATA RUANG OMAH KAMPUNG PITU NGLANGGERAN GUNUNGKIDUL
Obyek penelitian ini adalah omah Kampung Pitu di desa Nglanggeran Gunungkidul, Yogyakarta. Omah Kampung Pitu menjadi obyek penelitian karena unik, dalam satu kampung hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Obyek formal penelitian adalah tata ruang, untuk menemukan dasar pemikiran individu-individu berkaitan dengan tata ruang omah Kampung Pitu.
Fokus pertama penelitian adalah menemukan latar belakang yang menjadi keberadaan tata ruang. Fokus kedua adalah menemukan susunan tata ruang omah Kampung Pitu, dan fokus ketiga dari penelitian ini untuk menemukan konsep membangun tata ruang dengan kasus omah Kampung Pitu, berkaitan dengan kesederhanaan tata ruang yang dimiliki. Manfaat penelitian ini adalah membangun pemahaman dan perspektif berpikir masyarakat, membangun sarana pelestarian budaya, nilai-nilai dan adaptasi konsep-konsep tradisi. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan etnografi melalui pengumpulan fakta-fakta di lapangan yang berhubungan dengan aktivitas kehidupan sosial dan budaya masyarakat dalam kehidupan sehari-hari di Kampung Pitu.
Hasil penelitian adalah, setiap omah di Kampung Pitu mempunyai ruang aktivitas realitas dan ruang aktivitas religiusitas. Ruang aktivitas religiusitas adalah ruang interaksi antara warga Kampung Pitu dengan Sing Gawé Urip sebagai realitas supranatural, yang berhubungan dengan hal-hal sakral. Ruang tersebut untuk tempat persiapan kêndurèn, pelaksanaan kêndurèn, ndonga dan bakar mênyan. Sedangkan ruang aktivitas realitas adalah ruang untuk melaksanakan aktivitas hidup dan bertahan hidup, yang tidak ada hubungannya dengan hal-hal sakral. Ruang aktivitas realitas diantaranya adalah ruang ngarêp, pawon, pêturon, kolah, èmpèran, tritisan, latar, kowên, kandang opèn-opèn, sawah, kêbonan, têgalan, dan alas. Kehidupan masyarakat Kampung Pitu memiliki kekhasan dalam pola pikir. Konsep-konsep kehidupan menjadi dasar berpikir dan bertindak. Ada enam konsep dalam kehidupan masyarakat Kampung Pitu, yang berhubungan dengan tata ruang yang menjadi jalan bagi tumbuhnya estetika prasājā.
Signifikasi penelitian ini untuk menstimulasi pemikiran baru di bidang desain interior. Pemikiran ini diperlukan untuk mengatasi kecenderungan berpikir dalam desain interior yang mengedepankan konsep-konsep pemikiran yang tidak berpijak pada kearifan lokal. Keutamaan konsep-konsep itu akan mèmpèrkuat tumbuhnya identitas interior Nusantara
TRANSFORMASI ESTETIS WAYANGVERSE KARYA IS YUNIARTO
Penelitian transformasi estetis wayangverse karya Is Yuniarto didasarkan pada masalah yang telah dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana transformasi estetis pada Wayangverse?, Bagaimana makna bentuk Wayangverse?, dan Mengapa transformasi estetis pada Wayangverse diperlukan?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan pola transformasi dan kaidah-kaidah visual yang terdapat pada Wayangverse, menemukan makna visual yang dapat dilihat dari bentuk Wayangverse, serta menemukan hal-hal yang melatar belakangi transformasi pada Wayangverse. Pendekatan penelitian yang digunakan untuk menganalisis transformasi estetis pada Wayangverse adalah ATUMICS, Ikonografi, dan Holistik. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, studi literatur, dan dokumentasi. Penelitian ini menghasilkan tiga kesimpulan, pertama, konsep transformasi estetis Wayangverse didasari atas adanya perubahan bertahap yang dijembatani oleh wayang-wayang kreasi yang lain. Elemen yang bertransformasi pada Wayangverse adalah teknik dan bentuk. Kedua, bentuk-bentuk yang dipinjam dan dipadukan memiliki kemiripan makna yang didapat dari hasil adaptasi dan atau modifikasi unsur-unsur rupa pada Wayang Kulit Purwa. Ketiga, munculnya transformasi estetis pada Wayangverse dipengaruhi oleh latarbelakang seniman (faktor genetik), Wayangverse sebagai hasil eksplorasi seniman (faktor objektif), dan perubahan selera pengguna serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi digital (faktor afektif). Konsep transformasi estetis menjadi temuan yang merupakan konsep perubahan bentuk dengan menekankan pada penggabungan antar elemen tradisi dan modern yang diadaptasi dan modifikasi, hasil dari penggabungan ini melahirkan bentuk Wayangverse
POTRET HIDUP DI KAMPUANG SARUGO DALAM VIDEO DOKUMENTER
Budaya merupakan identitas manusia yang berkembang melalui interaksi sosial. Budaya dapat dipahami dengan melihat suatu kelompok berperilaku dan menjelaskan perbandingan antara kelompok-kelompok lain. Potret budaya Minangkabau yang masih dijaga dapat ditemui di daerah Kampuang Sarugo. Kampuang Sarugo merupakan akronim dari kata kampuang saribu gonjong, karna Rumah Gadang di Kampuang Sarugo masih berdiri kokoh sampai saat ini. Kampung ini terletak di Jorong Sungai Dadok, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Kampuang Sarugo sampai saat ini masih menjaga budaya Minangkabau, terbukti mereka hidup dan menghuni Rumah Gadang. Untuk melihat kehidupan Kampuang Sarugo, dibutuhkan penciptaan video dokumenter yang mengungkapkan potret kehidupan disana. Metode etnografi digunakan untuk melihat dan mendalami kehidupan masyarakat di Kampuang Sarugo, sementara dalam proses produksi, dokumenter mengadopsi metode cyclic strategy. Video dokumenter diciptakan menggunakan pendekatan emotional storytelling dengan teknik penggayaan impresionistik, untuk menciptakan kesan dan kedekatan emosional kepada penonton. Pendekatan emotional storytelling dengan teknik penggayaan impresionistik adalah bentuk kebaruan yang ditemukan pencipta dalam dokumenter. Proses ini menguraikan bahwa dalam menggunakan pendekan emotional storytelling perlu memperhatikan, pemilihan visual, penggunaan warna, penetapan musik dan suara, visual tone, penggunaan transisi, penerapan teknik close-up dan detail gambar, dan keterlibatan emosional. Tujuan penciptaan ini sebagai penciptaan video dokumenter, juga menggunakan pendekatan emotional storytelling dalam video dokumenter potret hidup di Kampuang Sarugo. Dokumenter ini diharapkan dapat memberi sumbangan ilmu pada dunia seni dan desain komunikasi visual tentang autentitas, kreativitas, dan pendekatan emotional storytelling. Dokumenter di Kampuang Sarugo lebih dari sekedar rekaman visual, diharapkan mampu membangun
viii
penghargaan yang lebih besar terhadap keunikan budaya lokal yang ada di Indonesia
ANALISIS MAKNA DENOTASI, KONOTASI, DAN MITOS FOTO OPERASI LULU PADA ARTIKEL “MISI MENYUSUP KE MALAYSIA” DALAM MAJALAH LANGIT BIRU
Majalah Langit Biru menerbitkan sebuah artikel yang berjudul “Misi Menyusup ke Malaysia” pada edisi Volume 1 No.6 – April 2018, ditulis oleh Soni Sontanimenceritakan operasi militer TNI Angkatan Udara yang disebut Operasi Lulu. Dilakukan dengan terbang menyusup ke Malaysia dan menjatuhkan selebaran propaganda yang menentang pembentukan Malaysia. Terdapat 5 foto yang menjadi pengantar visual dan foto tersebut menggambarkan sosok hebat dibalik keberhasilan Operasi Lulu. Maksud analisa foto tersebut untuk menemukan pesan dan makna yang terkandung didalamnya, dengan metode semiotika dari teori Roland Barthes yang terbagi dalam tiga tahapan yaitu : denotasi, konotasi, dan juga mitos. Melalui metode tersebut diharapkan dapat menelusuri pesan dan makna, serta hubungan antara teks dan imaji yang terdapat pada foto-foto dalam artikel tersebut Melalui pengkajian artikel ini, penulis membuat kesimpulan pemaknaan denotasi yakni bercerita dan menggambarkan sosok dua pilot perempuan yang menjadi prajurit serta turut andil di dalam misi. Tahap konotasi menjelaskan tentang perjalanan karir dan peran dua perempuan sebagai anggota WARA. Kemudian tahap mitos menjelaskan perjuangan dua perempuan yang berprestasi dalam keberhasilan menjalankan suatu operasi kemilitera