7065 research outputs found
Sort by
PELATIHAN SENI TUTUR DI SANGGAR NALADERMA SEBAGAI PEWARISAN PERTUNJUKAN WAYANG BEBER BAGI GENERASI MUDA
Wayang beber merupakan seni tutur dengan mempergelarkan lukis wayang beber. Di
Baluwarti, dalam tembok Beteng Karaton Kasunanan Surakarta terdapat sebuah sanggar
“Naladerma” yang eksis dalam menghasilkan lukis Wayang Beber tradisi. Akan tetapi, sanggar
tersebut hanya mampu melukis tanpa dapat mempergelarkannya. Sangat sayang apabila lukis
Wayang Beber tradisi di masa kini tidak dibarengi dengan pergelarannya. Oleh karena itu, melalui
skim PKM Karya Seni ini akan dilakukan pelatihan seni tutur (catur pedalangan) dalam
mempergelarkan Wayang Beber di sanggar Naladerma. Dengan harapan, siswa sanggar sebagai
generasi muda tidak hanya mengenal lukisannya tetapi juga cara mempergelarkannya. Hasil
pelatihan, yaitu: (1) Karya seni pertunjukan wayang beber yang dpergelarkan oleh siswa sanggar
Naladerma; (2) Naskah artikel yang diterbitkan di Acintya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
ISI Surakarta: dan (5) Pendaftaran Hak Cipta Wayang Beber ke Kemenkumham R
PERPADUAN MONOLOG DAN PANTOMIME SEBAGAI MEDIA EKSPLORASI PROSES KEPELATIHAN DALAM PENCIPTAAN KARYA MONOMIME DI HIMPUNAN TEATER SRAGEN
Himpunan Teater Sragen (HIPOTESA) adalah komunitas teater yang baru terbentuk di
Kabupaten Sragen, terdiri dari siswa SMA yang memiliki minat dalam seni peran. Sebagai
organisasi baru, HIPOTESA menghadapi tantangan berupa kurangnya pemahaman dan
keterampilan dalam seni peran, yang menyebabkan lemahnya sistem kerja dan kualitas
anggota. Pendampingan seni peran melalui pelatihan intensif sangat dibutuhkan untuk
meningkatkan kemampuan dan kualitas aktor teater HIPOTESA. Fakultas Seni Pertunjukan
ISI Surakarta, melalui program pengabdian masyarakat, hadir sebagai pendamping untuk
memberikan pelatihan seni monolog dan pantomime kepada anggota HIPOTESA. Pelatihan
ini menggunakan metode Theatre Game serta pendekatan “tubuh mengalami” dan “tubuh
mengenal” untuk meningkatkan keterampilan seni peran para peserta. Tujuan utama program
ini adalah menciptakan ruang kreasi bagi anggota HIPOTESA dalam mengembangkan karya
kolaboratif yang dikenal sebagai monomime, yang memadukan elemen monolog dan
pantomime. Tahapan pelaksanaan program meliputi persiapan melalui identifikasi kebutuhan,
pelaksanaan pelatihan, eksplorasi, pementasan, dan evaluasi hasil. Kolaborasi ini diharapkan
dapat memperkuat manajemen artistik dan produksi teater HIPOTESA, serta membentuk dasar
yang kuat untuk pengembangan teater di Sragen. Hasil akhir dari program ini diharapkan tidak
hanya meningkatkan keterampilan seni peran, tetapi juga memperkuat kerjasama dan
kebersamaan di antara anggota HIPOTESA. Evaluasi berkelanjutan diperlukan untuk menjaga
keberlanjutan program dan meningkatkan profesionalisme aktor teater Sragen
PELATIHAN PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN FOTO SERTAVIDEO SEBAGAI MATERI BRANDING & PROMOSI MEDIA SOSIAL DALAM UPAYA PENINGKATAN PENGUNJUNG PADA MUSEUM DAN GALERI SENI SBY*ANI DI KABUPATEN PACITAN
Museum dan Galeri Seni SBY didirikan sebagai penghormatan
sekaligus situs untuk mengenang kontribusi Susilo Bambang Yudhoyono
beserta mendiang istri Ani Yudhoyono bagi Indonesia. Museum dan galeri
seni yang terletak di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur ini menjadi cerminan
komitmen keduanya terhadap pelestarian seni dan budaya, serta nilai-nilai
nasionalisme. Di samping sebagai lokasi yang digunakan sebagai tujuan
wisata khas di Pacitan, museum dan galeri seni ini juga berperan sebagai
pusat sumber informasi serta wawasan bagi orang yang berkunjung
melalui koleksi yang ada di dalamnya.
Untuk menaikkan minat dan menjangkau pengunjung yang lebih luas,
Museum dan Galeri SBY*ANI menerapkan berbagai strategi promosi.
Salah satunya adalah dengan memaksimalkan promosi dan branding
dengan menggunakan media sosial. Untuk kebutuhan inilah, pelatihan dan
pengembangan ketrampilan untuk melakukan branding dan promosi
melalui portal media sosial dengan menggunakan medium foto dan video
bagi staf karyawan museum dan galeri, penting dilaksanakan. Kegiatan
PKM ini menitikberatkan pada pemberian pengetahuan dan ketrampilan
bagi beberapa staf Museum dan Galeri yang ditunjuk untuk pembuatan
konten-konten yang kreatif dan inofatif terkait dengan koleksi dan unit
unggulan yang dimiliki melalui pelatihan yang terencana. Disamping itu,
pelatihan ini juga memberikan pendampingan sehingga dapat
menghasilkan konten promosi dan branding yang kompatibel dan efektif
untuk di-posting di media sosial. Konten-konten promosi dan branding
museum dan galeri seni tersebut dibentuk dalam format foto dan video
tematik sehingga dapat menarik minat pengunjung untuk me
FENOMENA KETIMPANGAN GENDER DALAM KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS
“Fenomena Ketimpangan Gender Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Sebagai
Inspirasi Penciptaan Karya Seni Grafis”, berangkat dari pengalaman pribadi penulis
tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai fenomena ketimpangan gender yang
telah mengakar dalam kehidupan masyarakat, ketimpangan berawal dari sebuah
stereotip, kemudian dari stereotip inilah akhirnya menyebabkan standar ganda dan
diskriminasi pada perempuan dan laki-laki. Tujuan penciptaan tugas akhir adalah
untuk menciptakan karya seni grafis berdasarkan konsep, proses, visualisasi serta
mendeskripsikan hasil karya yang telah diciptakan yang mengangkat tema
fenomena ketimpangan gender. Penciptaan karya tugas akhir menggunakan teori
metode penciptaan oleh Sp. Gustami yang telah disitir oleh I Made Bandem. Teori
ini memuat lima tahapan yaitu eksplorasi, eksperimen, pembentukan, finishing, dan
display. Teknik yang penulis gunakan adalah teknik stencil yang dalam proses
pewarnaanya menggunakan spray paint dalam beberapa tipe semprotan dengan
media kanvas. Hasil yang diperoleh dari penciptaan karya ini adalah setiap manusia
terlepas dari gendernya laki-laki atau perempuan memiliki hak untuk mendapatkan
keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu masyarakat juga harus
berlaku adil kepada semua orang tanpa memperlakukan salah satu gender dengan
timpang
BEDHAYA ANGLIRMENDHUNG SEBUAH TARIAN PUSAKA DI MANGKUNEGARAN: STUDI TENTANG OTORITAS ESTETIS
Tari Bedhaya Anglirmendhung merupakan tarian sakral yang diyakini sebagai pusaka
di Pura Mangkunegaran. Tarian ini menyerupai tari Bedhaya Ketawang di Kraton
Kasunanan Surakarta dan Bedhaya Semang di Kraton Kasultanan Yogyakarta yang
digunakan sebagai atribut untuk menunjukkan kewibawaan raja. Namun demikian, tari
Bedhaya Anglirmendhung memiliki perbedaan signifikan dengan kedua tari bedhaya
pusaka tersebut. Riset ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya penyajian tari
Bedhaya Anglirmendhung di Pura Mangkunegaran guna memberikan gambaran
terkait karakteristik yang dimilikinya. Riset ini dinilai penting untuk mengungkap
bahwa Mangkunegaran sebagai kadipaten memiliki otoritas estetis dalam melakukan
kreasi seni, termasuk dalam tarian sakral yang diyakini sebagai pusaka. Berhubungan
dengan hal tersebut, bentuk penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan
pendekatan etnokoreologi. Studi komparasi digunakan untuk memahami perbedaan
yang membentuk karakteristik tari Bedhaya Anglirmendhung di Pura Mangkunegaran.
Studi komparasi dilakukan dengan melihat gaya penyajian tari Bedhaya
Anglirmendhung, Bedhaya Ketawang, dan Bedhaya Semang. Melalui studi komparasi
ini diharapkan dapat digunakan untuk memberikan gambaran karakteristik dari gaya
penyajian tari Bedhaya Anglirmendhung sehingga dapat menunjukkan otoritas estetis
yang dijalankan oleh Pura Mangkunegaran. Teknik pengumpulan data yang digunakan
adalah studi pustaka yang didukung dengan wawancara terhadap para narasumber tari
di Mangkunegaran. Hasil penelitian menunjukkan otoritas estetis yang dijalankan oleh
Mangkunegara berdampak pada gaya penyajian tari Bedhaya Anglirmendhung di
Mangkunegaran. Otoritas tersebut dijalankan melalui kebijakan yang dikeluarkan oleh
Mangkunegara VIII dan diteruskan Mangkunegara IX untuk merekontruksi tari
Bedhaya Anglirmendhung yang telah lama tidak dipresentasikan. Melalui otoritasnya,
Mangkunegara dapat melakukan kreasi seni termasuk dalam tarian pusaka, sehingga
dapat memiliki karakteristik. Dengan karakteristik tersebut, dapat digunakan untuk
menunjukkan identitas dan prestise Mangkunegaran sebagai kadipaten yang memiliki
otoritas untuk mengelola karya tarinya. Luaran yang ditargetkan dari riset ini adalah
publikasi di Jurnal Nasional Terakreditasi dengan status Submitted
JEJAK VISUAL WONOGIRI TEMPO DOELOE: MEMOTRET WARISAN BUDAYA WONOGIRI SEBAGAI PENGEMBANGAN POTENSI WISATA BERBASIS HISTORICAL WALKING TOUR
Pemerintah Kabupaten Wonogiri hanya memprioritaskan pembangunan pariwisata makro dan proyek desa
wisata sesuai dengan program pengembangan pariwisata berkelanjutan. Namun demikian, hasil yang
diperoleh masih belum maksimal. Kendala utamanya adalah sumber daya manusia yang terbatas dan
minimnya keberlanjutan. Di sisi lain, Pemerintah daerah masih mengabaikan pengembangan jenis
pariwisata mikro dan belum dapat memaksimalkan potensi warisan budaya yang dimiliki. Salah satunya
adalah historical walking tour yang di beberapa daerah sedang tren. Kebutuhan atas jenis wisata yang
mudah diakses dan unik menjadi pendorong tren ini. Namun demikian, jenis wisata ini belum berkembang
di Wonogiri. Padahal, historical walking tour dapat menjadi sarana edukatif kepada wisatawan untuk
mengenalkan sekaligus melestarikan warisan budaya yang dimiliki. Sementara itu, salah satu aspek paling
penting yang dimanfaatkan secara maksimal adalah kajian visual terhadap fotografi Wonogiri tempo
doeloe. Pendekatan ini memiliki kekuatan untuk membangkitkan memori warisan budaya kepada
wisatawan. Urgensi penelitian ini adalah melakukan kajian terhadap potensi pengembangan wisata berbasis
historical walking tour melalui pemanfaatan fotografi warisan budaya di Wonogiri yang sampai saat ini
diabaikan. Tujuannya untuk mengkaji tentang aspek visual khususnya fotografi terkait warisan budaya
Wonogiri sebagai pengembangan potensi wisata berbasis historical walking tour. Metode yang digunakan
adalah deskriptif kualitatif yang didukung oleh analisis SWOT. Penelitian ini disusun dalam beberapa
tahap. Tahap pertama, penelitian mengkaji tentang aspek fotografi warisan budaya sebagai potensi
pengembangan pariwisata berbasis historical walking tour. Tahap kedua mengkaji jejak fotografi lanskap
perkebunan era kolonial dalam strategi pengembangan pariwisata. Tahap ketiga menganalisis strategi
promosi pariwisata Wonogiri berbasis heritage walking tour melalui fotografi. Tahap keempat menelaah
aktivitas walking tour di Wonogiri berbasis visual dan storytelling. Terakhir, penelitian mengkaji tentang
pengalaman wisatawan historical walking tour di Wonogiri era revolusi industri 4.0. Penelitian ini
menargetkan luaran berupa laporan hasil penelitian, artikel ilmiah terindeks Sinta, dan K
PERGESERAN DAN PEMERTAHANAN BAHASA IBU (MOTHER LANGUAGES) DI KALANGAN MASYARAKAT SEBAGAI PONDASI BUDAYA DAERAH
Penelitian mengenai Pergeseran Dan Pemertahanan Bahasa Ibu (Mother Languages) Di Kalangan Masyarakat Sebagai Pondasi Budaya Daerah menarik untuk dikaji mengingat urgensinya besar untuk mempertahankan budaya daerah. Bahasa ibu atau mother language diidentifikasikan sebagai bahasa daerah atau bahasa yang pertama diajarkan pada saat anak bisa diajak berkomunikasi. Pemakaian bahasa ibu ini menjadi penguat identitas lokal yang seharusnya dipertahankan keberadaannya. Bahasa daerah yang seharusnya menjadi ciri khas daerah tergantikan dengan bahasa pergaulan yang lebih dipilih. Selain itu, eksistensi keberadaan bahasa daerah sebagai penopang salah satu kebudayaan menjadi tergerus sedikit demi sedikit. Pemertahanan bahasa ibu untuk melestarikan bahasa daerah dan budaya bangsa. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pergeseran dan pemertahanan bahasa Ibu (mother language) dalam upaya pelestarian budaya daerah. Adapun tujuan dalam pergeseran dan pemertahanan bahasa Ibu (mother language) dalam upaya pelestarian budaya daerah. Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah penggunaan bahasa ibu dalam berbagai interaksi. Adapun hasil penelitian ini adalah pergeseran dan pemertahanan bahasa Ibu (mother language) dalam upaya pelestarian budaya daerah.
Kata kunci : Pergeseran, pemertahanan, bahasa ibu, bahasa daerah, buday
GELUNG MINANGKARA PENCIPTAAN SENI PERTUNJUKAN SEBAGAI INSPIRASI PENGENDALIAN DIRI
Tesis karya seni berjudul Gelung Minangkara merupakan tesis karya
seni yang mengangkat isu kesehatan mental sebagai pijakan penciptaan
seni pertunjukan. Isu kesehatan mental yang dimaksud adalah fenomena
yang terjadi akhir-akhir ini mengenai keberadaan generasi Z yang
dianggap rentan terhadap kesehatan mental sehingga ditemukan berbagai
kasus bunuh diri yang diakibatkan dari ketidakmampuan mengatasi
masalah hidup.
Karaya Gelung Minangkara merupakan pengamatan terhadap
masalah sosial yang terjadi pada generasi Z. Pertunjukan ini melibatkan
empat cabang seni pertunjukkan yakni wayang siluet, garap gerak tari,
garap musik, dan garap teater yang berkolaborasi menciptakan media
sosialisasi yang menarik bagi para generasi Z pada umumnya maupun
penyintas isu kesehatan mental pada khususnya.
Gelung Minangkara merupakan salah satu busana milik tokoh
wayang Bima dalam kisah Mahabarata. Bima merupakan salah satu tokoh
yang memiliki kemampuan pengendalian diri yang baik dan disimbolkan
dari bentuk rambut Bima. Selain itu posisi Gelung Minangkara yang berada
di kepala memberikan inspirasi bagi pengkarya bahwa pikiran-pikiran
yang ada di dalam kepala harus dikendalikan karena merupakan sumber
permasalahan kesehatan mental
Aksesibilitas Kaum Inklusif Disabilitas Batik Ciprat Rumah Kinasih Dengan Kreativitas Penciptaan Busana Carnival
Keterbatasan penyandang disabilitas bukan merupakan sebuah batas. Penyandang disabilitas berhak mendapatkan kesetaraan dengan segala kemampuan yang dimiliki. Harapan dapat muncul sebagai penyemangat kaum disabilitas saat munculnya sebuah teknologi yang selaras dengan potensi penyandang disabilitas di berbagai aspek. ISI Surakarta melalui prodi Desain Mode Batik memiliki perhatian yang tinggi dalam mengembangkan kaum disabilitas dengan pemberdayaan dalam potensi fesyen dan batik. Melalui PKM Kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten Blitar, Kecamatan Kesamben, Desa Kesamben, ISI Surakarta memberikan perhatian khusus pada Yayasan Rumah Kinasih yang juga bergerak mengembangan kaum disabilitas di bidang batik. ISI Surakarta mendukung sepenuhnya dengan memberikan perencanaan dan pelatihan pengembangan produk batik dan fesyen yaitu berupa batik cap dan busana karnival. Pelatihan akan difasilitasi sepenuhnya oleh ISI Suakarta dengan dapat menghasilkan hasil luaran yang bermanfaat bagi seluruh pihak diantaranya adanya peningkatan kualitas daya kreatif dan daya cipta kaun disabilitas dibidang produksi batik teknik baru catuprat (cap, tutup, ciprat), pembuatan busana karnival berbasis lokal genius, koreografi dan modelling, HKI, dan laporan jurnal terakreditasi nasional. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup dan rasa percaya diri kaum disabilitas dalam menjalankan hidup dengan pengembangan potensi terbaiknya Bersama program PKM Tematik ISI Surakarta
“BRANDING DESA WISATA NGLEBAK TAWANGMAGU KABUPATEN KARANGNYAR MELALUI PEMBERDAYAAN POTENSI TANAMAN LUMBUNG HIDUP”
Karangnyar adalah salah satu kabupaten yang memiliki potensi untuk menjadi desa wisata. Desa Nglebak adalah salah satu dari banyak desa wisata yang masih membutuhkan bantuan edukasi branding. Bagaimana Desa Ngeblak memiliki potensi setiap rumah telah memanfaatkan lahan untuk tanaman lumbung hidup dapat dikenal melalui strategi branding dengan cara melakukan pelatihan memanfaatkan media social sebagai strategi yang efektif. Strategi branding yang pertama adalah menciptakan identitas visual yang berguna membangun identitas yang berbeda adalah hasil dari hasil kreativitas merek dalam memilih nama logo yang paling efektif. Kedua melalui metode design thingking dan strategi branding dari Marty Neumeier akan berupaya menanamkan citra desa wisata yang berbeda dengan yang sudah ada. Hasilnya adalah desa Nglebak potensi di bidang tanaman sayuran yang perlu dipromosikan