7065 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK HUMOR KHADAM DALAM PERTUNJUKAN TEATER BANGSAWAN DI PALEMBANG
Penelitian ini berjudul Karakteristik Humor Khadam dalam Pertunjukan Teater Bangsawan di Palembang. Permasalahan yang diangkat adalah: (1) mengapa humor Khadam diperlukan masyarakat Palembang; (2) bagaimana bentuk humor Khadam dalam pertunjukan Teater Bangsawan di Palembang; (3) Bagaimana karakteristik humor Khadam dalam Teater Bangsawan di Palembang.
Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan pendekatan metode studi kasus, teori hermeunetik, teori humor dan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, observasi, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis data interaktif sistem alur dari Miles dan Huberman
Hasil penelitian menunjukan bahwa pertama humor bagi masyarakat Palembang sebagai media komunikasi perdagangan dan sebagai ungkapan keakraban bagi pendatang baru. Kedua bentuk humor Khadam adalah improvisasi, dan terencana yang berisi humor berpantun, bersyair, ngolake, begesah, dan mberik-pecik. Ketiga karakteristik humor khadam berisikan motivasi, teknik, gaya, dan nilai dalam masyarakat Palembang
TAS RETRO BADUI
Penelitian ini merupakan penciptaan karya seni dengan judul; “Tas Retro Badui”. Fokus penciptaan yaitu desain tas dan prototipe produk yang terinspirasi dari produk budaya warga suku Badui di daerah Banten, Jawa Barat, Indonesia. Penciptaan ditujukan untuk mengembangkan tas hasil karya warga suku Badui dan upaya untuk mempertahankan budaya. Produk penciptaan mengacu pada tiga jenis tas yang dihasilkan warga suku Badui yaitu: (1) tas Kepek, (2) tas Koja dan tas Jarog, (3) tas Gandongan. Strategi penciptaan menggunakan metode reinterpretasi serta konsep retro sebagai pendekatan visualnya. Pemanfaatan berbagai material digunakan untuk mengembangkan ketiga jenis tas suku Badui untuk kebutuhan masa kini. Proses perancangan tas dilakukan dengan melihat potensi produk budaya suku Badui yang terdiri dari beberapa produk tas, produk aksesoris, dan kain tenun Badui. Potensi itu diterjemahkan ke dalam unsur seni rupa dan desain melalui: bentuk, warna, tekstur, teknik, dan material. Material sebagai komponen utama pembentuk tas terdiri dari dua bagian, yaitu material alami dan material sintetis. Temuan desain “Tas Retro Badui” yang dibuat merupakan reinterpretasi dari tas Badui yang memiliki kesederhanaan dan diinterpretasi menjadi tas Badui masa kini, dengan menggunakan pendekatan retro yang membumi, artinya dapat digunakan oleh hampir semua kalangan. Hasil karya disajikan dalam bentuk ekshibisi yang melaluinya ditampilkan juga proses penciptaan karya. Publikasi karya melalui pertunjukan secara live serta online melalui kanal Youtube resmi ISI Surakarta
Takbiran, Bunyi Berkisah Kenangan
Takbiran menghadirkan kerinduan, nostalgia, dan kebersamaan melalui lantunan bunyinya. Meskipun jarak memisahkan, takbiran menjadi titik temu untuk merajut kenangan dan mengungkapkan doa-doa terbaik. Suara takbir menjadi cairan penawar rindu, menghidupkan kembali momen-momen masa lalu dalam imajinasi yang tak terbatas. Ini bukan sekadar bunyi, melainkan musik yang mengatasi batasan teknologi, membangun estetika dalam kesederhanaan suara anak-anak di mushola. Takbiran memperkuat nilai-nilai kehidupan, menyatukan dalam maaf-maafan, dan menandai akhir dari puasa dengan makna yang mendalam bagi kehidupan agama dan budaya
PENGGUNAAN ALARM DIGITAL GAMELAN JAWA LAGU BERSERI DAN 3WMP SEBAGAI SARANA PENGUKUHAN CITRA INSTANSI BALAIKOTA SURAKARTA
Penelitian alarm digital bernuansa musikal Gamelan Jawa dengan lagu Solo Berseri dan 3WMP di Balaikota Surakarta merupakan sebuah peristiwa unikum. Alarm menjadi sebuah strategi pengimplementasian tata tertib yang dikemas ringkas dalam bentuk musik untuk memudahkan pendengar memahami esensi di dalamnya. Keberadaan alarm menjadi parameter kedalaman representasi tentang citra dan mempunyai korelasi terhadap kinerja, kualitas, serta pembentukan sikap-sikap profesional terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) di instansi tersebut.
Tesis ini berupaya memberikan eksplanasi deskriptif analitis dengan merumuskan tiga pokok permasalahan yakni (1) Mengapa instansi Pemerintah Balaikota Surakarta menggunakan alarm digital Gamelan Jawa? (2) Bagaimana pembentukan citra musikal alarm Gamelan Jawa yang dibunyikan secara sistem digital di lingkungan Balaikota Surakarta? (3) Bagaimana dampak bunyi alarm Gamelan Jawa terhadap pembentukan citra audien di lingkungan Balaikota Surakarta? Tujuannya adalah untuk mengetahui alasan instansi pemerintah Balaikota Surakarta menggunakan alarm digital Gamelan Jawa, mengetahui bentuk citra musikal alarm Gamelan Jawa yang dibunyikan secara sistem digital, dan mengetahui dampak bunyi alarm digital Gamelan Jawa terhadap pembentukan citra audien di lingkungan Balaikota Surakarta.
Penelitian ini menggunakan pendekatan teori komunikasi Lasswell, dan Stuart Hall. Pada analisis citra mengacu pendapat Jalaludin Rakhmat dengan mengurai tahap sensasi, persepsi, memori, dan berpikir, sedangkan dampak citra dianalisis dengan meminjam konsep tentang Muzak yang dipopulerkan oleh Hervé Vanel.
Lagu Solo Berseri berorientasi pada ungkapan Pemerintah Kota Surakarta yang menginginkan terciptanya kondisi lingkungan kerja yang berseri sebagai prinsip cita-cita harmonis dalam segala aspek budaya dan bebas korupsi sesuai slogan Berseri. Sedangkan muatan citra pada lagu 3WMP merupakan sebuah manifestasi strategi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, yakni Waras, Wasis, Wareg, Mapan, Pangan. Pada temuan dampak citra didapatkan temuan bahwa melalui alarm tersebut, kesadaran ASN dalam melayani masyarakat semakin tumbuh sehingga visi-misi Pemkot Surakarta dapat terpenuhi dan berdampak kepada masyarakat. Capaian tersebut di antaranya adalah terpenuhinya misi Waras, Mapan dan Berseri baik di bidang kepemerintahan, tata lingkungan kota, kesehatan, kesejahteraan ekonomi masyarakat, dan di bidang pemajuan kebudayaan
ORNAMEN MASJID MANTINGAN DAN MOTIF JEPARA SEBAGAI IDE PENCIPTAAN TENUN BATIK
Tugas akhir ini bertujuan untuk mendeskripsikan gagasan dan menciptakan karya
dengan sumber ide Ornamen Masjid Mantingan dan Motif Jepara yang diwujudkan
dalam bentuk tenun batik. Ruang lingkup yang ada pada motif tersebut
menimbulkan gagasan untuk dikembangkan lebih lanjut dalam penciptaan motif
batik. Metode penciptaan karya ini menganut tiga tahap enam langkah yang
dirumuskan oleh S.P Gustami meliputi ekplorasi, perancangan, dan perwujudan.
Proses dalam pembuatan karya dimulai dari mengamati bentuk Ornamen Masjid
Mantingan dan Motif Jepara baik secara langsung maupun media cetak yang
kemudian diwujudkan kedalam desain alternatif untuk dipilih menjadi motif pada
kain tenun. Proses perwujudan karya ini mengacu pada teori estetika Monroe
Berdsley, yang menjelaskan tentang 3 aspek ciri keindahan sebuah karya seni yaitu
aspek kesatuan, aspek kerumitan, dan aspek kesungguhan. Eksperimen bahan
(Tenun Lurik dan Tenun Ikat) yang digunakan untuk proses pembuatan tenun batik
diawali dari membuat motif, desain alternatif, desain terpilih, persiapan alat dan
bahan, mengeblat, nglowongi, isen-isen, nemboki, pewarnaan, dan proses finishing
batik. Teknik yang digunakan dalam proses pembuatan karya ini teknik batik tulis,
bleaching, dan teknik colet. Bahan dan alat pokok yang digunakan adalah malam,
canting, kain tenun, pewarna remasol. Adapun hasil karya yang dihasilkan
berjumlah 5 yaitu 4 kain tenun batik dengan bahan lurik, dan 1 kain tenun batik
dengan bahan tenun ikat. Masing-masing karya diberi judul sesuai dengan wujud,
bobot, dan penampilannya antara lain karya berjudul : Teratai Hijau, Toraja Bintik
Berundak, Merak Merah, Ceplok Teratai, dan Lereng Garuda
Sublim Kemasan Ramah Alam
Kupat, seiring dengan perayaan Lebaran, merupakan sajian khas yang memiliki akar budaya yang dalam, khususnya di wilayah Jawa. Dalam artikel ini, kupat dijelaskan dari segi sejarahnya hingga aspek teknis pembuatannya. Sejak zaman Kerajaan Demak, kupat telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Jawa, dengan berbagai bahan yang digunakan untuk selongsongnya, seperti daun kelapa muda, janur, daun palem, daun aren, dan lainnya. Artikel ini juga menguraikan filosofi dan praktik yang terkandung dalam pembuatan kupat, mulai dari pengakuan kesalahan hingga proses teknis pembuatannya. Namun, meskipun memiliki akar budaya yang kuat, kupat juga menghadapi tantangan dalam konteks keberlanjutan lingkungan. Penggunaan plastik sebagai pengganti bahan alami untuk pembuatan kupat menjadi salah satu contoh, yang berpotensi menggeser keterampilan tradisional masyarakat dan berdampak negatif pada lingkungan. Artikel ini menyoroti pentingnya mempertahankan keterampilan tradisional dalam pembuatan kupat, sambil mengadopsi langkah-langkah ramah lingkungan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya
STRATEGI DISTRIBUSI PRODUSER FILM “RENITA, RENITA” UNTUK MENCAPAI FESTIVAL FILM INTERNASIONAL
“Anis Werdi Ningrum, 2023, STRATEGI DISTRIBUSI PRODUSER FILM “RENITA, RENITA” UNTUK MENCAPAI FESTIVAL FILM INTERNASIONAL, 87 halaman, Skripsi S-1 Program Studi Film Dan Televisi, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institute Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Penelitian ini mengkaji tentang strategi distribusi yang diterapkan untuk membawa Film “Renita, Renita" ke festival film internasional. Film “Renita, Renita” layak untuk dijadikan objek penelitian karena film ini telah sering diputar di berbagai festival film baik nasional, maupun internasional. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi Produser film “Renita, Renita” dalam mendistribusikan film ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, dengan mengunakan metode wawancara, observasi, dan dokumen. Analisis data yang dilakukan dengan menerapkan teknik analisis Sugiyono, yaitu mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini mengungkap bahwa produser film “Renita, Renita” memiliki strategi distribusi, yakni selektif memilih festival, keunikan tema, memenuhi kriteria festival, relasi, portofolio sutradara, pemberian teks bahasa Inggris, dan memilih festival tidak berbayar, sehingga film “Renita, Renita” dapat meraih penghargaan di festival film internasiona
SINEMATOGRAFI STATIC SHOT MEMBANGUN DRAMATIK PADA FILM AVE MARYAM
Deva Bagas Arianto, 2024, Sinematografi Static Shot Membangun Dramatik pada Film Ave Maryam, halaman 1 sampai 155, Skripsi S-1 Program Studi Film dan Televisi, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta
Film Ave Maryam merupakan film romansa yang menyajikan sudut pandang yang jarang digunakan oleh kebanyakan pembuat film. Film ini bercerita tentang seorang suster yang jatuh hati kepada seorang romo. Film Ave Maryam menggunakan banyak teknik sinematografi static shot yang dapat dilihat pada sebagian besar scenenya. Hal tersebut yang melatarbelakangi terciptanya penelitian ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sinematografi static shot dalam membangun unsur dramatik dalam film Ave Maryam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan menggunakan adalah kualitatif dalam model Miles dan Huberman. Hasil dari penelitian ini adalah teknik sinematografi static shot yang digunakan dapat membangun unsur dramatik pada film Ave Maryam. Unsur dramatik film Ave Maryam tercipta karena penggabungan teknik static shot dan aspek kamera seperti jarak pengambilan gambar, sudut pengambilan (angle), komposisi, ekspresi dan pergerakan pemain, artistik. Unsur dramatik yang terdapat dalam film Ave Maryam yaitu yaitu: konflik, tegang, surprise, senang, susah, dan sedih. Unsur dramatik senang menjadi unsur dramatik paling banyak dengan jumlah 5 scene, kemudian di susul unsur dramatik tegang dengan 4 scene. Ave Maryam memiliki tangga dramatik naik turun, hal tersebut membuat penonton dapat menikmati film ini dengan santai dan mengamati unsur dramatik dengan lebih baik
PERANCANGAN INTERIOR KAFE SEBAGAI WADAH EDUKASI DAN KREATIVITAS ANAK DENGAN MENERAPKAN TEMA ANTARIKSA DI JAKARTA PUSAT
Perancangan Interior kafe sebagai wadah edukasi dan kreativitas dengan tema antariksa di Jakarta Pusat merupakan jenis bangunan publik yang berfungsi sebagai tempat berkumpul dan juga sebagai tempat untuk belajar yang menyenangkan di Jakarta Pusat. Perancangan kafe ini di latar belakangi oleh perkembangan urbanisasi yang pesat dan membutuhkan ruang lingkup unruk belajar dan bermain.
Perancangan interior ini menggunakan metode pemrogaman dari pamudji suptandar yang terdiri dari tahap input, sintesa dan output. Sedangkan pendekatan yang digunakan ialah pendekatan fungsi, pendekatan estetika, serta pendekatan ergonomi
dan antropometri. Perancangan kafe sebagai wadah edukasi dan kreativitas anak dengan tema antariksa di Jakarta Pusat ini menggunakan gaya kontemporer dan tema antariksa, tema antariksa Antariksa adalah istilah yang merujuk pada ruang
luar angkasa di luar atmosfer Bumi. Antariksa mencakup semua objek dan materi yang berada di luar planet kita, seperti bintang, planet, komet, dan bintang .
Karakteristik ini nantinya akan diaplikasikan dalam elemen pembentuk ruang sebagai dekorasi. Pengaplikasian tema antariksa pada perancangan ini diantaranya ialah dinding yang dirancang dengan penambahan elemen bintang. Selain itu,
dekorasi dengan menerapkan tema antariksa juga diwujudkan dengan tranformasi desain antariksa, mulai dari bentuk ufo dibuat ceilling, bentuk kepingan meteor digunakan untuk lampu, dan kursi dibentuk seperti half moon. Batasan ruang
lingkup garap dari perancangan ini meliputi Resepsionis dan kasir, area kafe, dapur, ruang kreativitas,ruang proyeksi, ruang galeri, ruang staff, dan ruang rapat.
Kata Kunci : Urbanisasi Pesat, Kafe, Antariksa, Edukasi dan Kreativitas
PERANCANGAN INTERIOR AUTIS CENTER DENGAN KONSEP UNIVERSAL DESIGN DI JAKARTA TIMUR
Perancangan interior Autis Center dengan konsep universal design di Jakarta Timur bertujuan sebagai wadah untuk memfasilitasi kegiatan belajar dan terapi anakanak
(0-19 tahun) dengan gejala spektrum autistik (GSA) dengan menerapkan prinsip konsep desain universal yang mampu mengakomodasi beragam variasi gejala yang ditimbulkan masing-masing individu . Perancangan ini menggunakan tema bawah laut dan gaya modern yang terkesan sederhana, rapih dan bersih. Metode perancangan yang digunakan adalah Program Metode Desain Kurtz yang terdiri dari tahap orientasi,
tahap pembuatan program dasar, tahap pengulangan, dan tahap desain. Pendekatan yang digunakan adalah fungsi, ergonomi, perilaku, desain universal, tema dan gaya.
Hasil desain berupa perancangan interior ruang-ruang terapi, kelas, ruang guru, ruang konsultasi, ruang psikologi, lobby, ruang tunggu, dan toilet.
Kata Kunci: Autisme, gejala spektrum autis, autis center, desain universa