7065 research outputs found
Sort by
LIMA TAHAP KESEDIHAN TOKOH MUSASHI DALAM NOVEL MUSASHI KARYA EIJI YOSHIKAWA SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS CETAK SARING
Penciptaan karya Tugas Akhir berjudul “Lima Tahap Kesedihan Tokoh
Musashi Dalam Novel MUSASHI Karya Eiji Yoshikawa Sebagai Ide Penciptaan
Karya Seni Grafis Cetak Saring” ini, berlatar belakang dari permasalahan kesedihan
yang penulis miliki dengan pertemuan komik dan novel seorang samurai bernama
Miyamoto Musashi yang mempunyai permasalahan kesedihan yang sama dengan
penulis. Dari hal tersebut, penulis menciptakan karya seni grafis cetak saring
dengan konsep non-visual teori lima tahap kesedihan dengan mengalihwahanakan
cerita pada tokoh Musashi dalam novel MUSASHI karya Eiji Yoshikawa dengan
teknik drawing yang kemudian diwujudkan menggunakan teknik cetak saring.
Metode penciptaan yang digunakan dalam proses penciptaan mengacu pada metode
rumusan L. H. Chapman dengan tiga tahapan, antara lain adalah menemukan
gagasan, menyempurnakan gagasan dan visualisasi. Tujuan penciptaan karya seni
cetak grafis ini adalah sebagai terapi diri dari permasalahan yang kemungkinan
besar seluruh manusia akan melewatinya yaitu kesedihan. Penulis berharap dari
penciptaan karya Tugas Akhir ini semoga dapat bermanfaat untuk penulis dan
appreciator sebagai dorongan untuk selalu berbuat kebaikan dan menjalani hidup
yang sebaik-baiknya
PERANCANGAN PERPUSTAKAAN DAERAH DI KOTA SURAKARTA
Dalam mengkaji perancangan Perpustakaan Daerah Kota Surakarta yang memadukan motif Batik Parang dengan gaya arsitektur kontemporer menggunakan metode penelitian Kurtz. Surakarta, yang terkenal dengan warisan budayanya yang kaya, memberikan latar belakang untuk mengeksplorasi bagaimana motif tradisional dapat dipadukan secara harmonis dengan prinsip desain modern dalam arsitektur publik. Motif Batik Parang yang terkenal dengan kerumitan geometrisnya yang melambangkan kekuatan dan persatuan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, menggabungkan tinjauan literatur, studi kasus proyek integrasi budaya serupa, dan pengumpulan data primer melalui survei, wawancara, dan lokakarya desain partisipatif. Dengan melibatkan pemangku kepentingan, arsitek, dan anggota masyarakat dalam proses desain, dengan ini memastikan bahwa perpustakaan tidak hanya memenuhi persyaratan fungsional tetapi juga selaras dengan nilai-nilai dan aspirasi budaya lokal. Melalui metode penelitian Kurtz, yang menekankan refleksivitas dan kolaborasi, penelitian ini menganjurkan metodologi desain yang mendorong keberlanjutan budaya dan keterlibatan komunitas. Pada akhirnya, penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana inovasi arsitektur dapat melestarikan dan mempromosikan identitas budaya.
Kata Kunci: Kota Surakarta, desain perpustakaan daerah, Batik Parang, arsitektur kontemporer, metode penelitian Kurtz
REVITALISASI KAWASAN ISTANA GEBANG BLITAR SEBAGAI INTERRACTIVE CULTURAL MUSEUM
Istana Gebang sebelumnya merupakan rumah tinggal milik bangsa Belanda bernama CH. Portier pegawai kereta api di Kota Blitar, baru dipindah tangan kepada keluarga Bung Karno kepada Ibu Wardoyo pada tahun 1938. Dengan melihat Istana Gebang mempunyai sejarah dan keterikatan dengan Ir. Soekarno, perlu adanya pengembangan dan pelestarian mengenai pembangunan Istana Gebang menjadi sebuah museum, selain mengenang Ir. Soekarno ketika singgah di Istana Gebang sekaligus melestarikan kebudayaan lokal Blitar karena dapat menjadi salah satu sarana pengenalan dan promosi budaya kepada masyarakat lokal dan mancanegara serta dapat memenuhi seluruh kebutuhan aktivitas wisatawan dengan baik. Metode Perancangan museum ini mengadopsi Metode Pramuji Suptandar yang meliputi tahapan input, sintesa, dan output. Pendekatan desain yang digunakan pada perancangan ini meliputi pendekatan fungsi, pendekatan ergonomi, dan pendekatan estetis (tema dan gaya). Hasil desain dari perancangan ini meliputi interior lobby, ruang pengelola, ruang pamer, audiovisual, restoran dan souvenir store. diterapkan dengan konsep interactive cultural dan menciptakan ruang melalui gaya Neo-Classic dipadukan dengan Tema Batik Tutur (Afkomstig Uit Blitar) Upaya penunjang tersebut dimulai dengan usaha pemeliharaan sebagai salah satu cara melestarikan kebudayaan local. Kelebihan pada perancangan museum ini diantara menggunakan tema kearifan lokal Blitar. Kekurangan pada perancangan ini masih banyaknya informasi yang perlu penulis ketahui.
Kata Kunci : Istana Gebang, Ir. Soekarno, Museum, Neo-Classic, Batik Tutur
INTERIOR RUMAH ADAT SUKU LOEBAU REULAKO DESA DUARATO KABUPATEN BELU
Penelitian ini merupakan penelitian interior pada rumah adat Loebau Reulako desa Duarato, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara TImur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetauhi interior yang diterapkan pada rumah adat suku Loeabau Reu Lako pada rumah adat Loebau Reulako.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi kasus. Titik penelitian tersebut berupa substansi atau materi yang diteliti atau dipecahkan permasalahannya menggunakan teori yang bersangkutan yaitu teori desain interior.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah adat Loebau Reulako memiliki interior dan ornamen yang beragam, masing-masing memiliki makna dan filosofi yang berbeda.
Kata kunci : Interior Rumah adat Loebau Reulako
TOKOH WAYANG KULIT DEWI ANGGRAINI SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF WAYANG BEBER PADA BUSANA CASUAL WANITA
TOKOH WAYANG KULIT DEWI ANGGRAINI SEBAGAI SUMBER IDE
PENCIPTAAN MOTIF WAYANG BEBER PADA BUSANA CASUAL
WANITA (CINDI DWI ANGGRAHENI, 2024)
Tugas Akhir Karya Program Studi S-1 Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain,
Institut Seni Indonesia Surakarta.
Tugas Akhir Karya ini adalah menciptakan motif hias dengan sumber ide tokoh
wayang kulit Dewi Angraini yang diaplikasikan pada busana casual Wanita.
Tema tersebut diambil dengan tujuan untuk menciptakan motif hias terbaru yang
sumber idenya dari visual Dewi Anggraini sendiri. Penciptaan karya sebagai
pelestari budaya yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan uraian tersebut difokuskan
untuk membuat motif hias yang sumbernya dari tokoh wayang kulit. Metodologi
penciptaan menggunakan teori SP. Gustami meliputi tahap eksplorasi, tahap
perancangan, dan tahap perwujudan. Pendekatan estetika karya menggunakan
teori Moenroe Beardsley yaitu, meliputi kesatuan (Unity), kerumitan (complexity),
dan kesungguhan (Intensity). Proses pembuatan karya dengan menggunakan
teknik sungging dan jahit. Proses penciptaan karya motif hias ini menghasilkan
beberapa motif yang diaplikasikan disetiap busana. Pada busana pertama berjudul
Padmarini, Busana kedua berjudul Abyakta, Busana ketiga berjudul Upeksha,
Busana keempat berjudul Pramesti
SOSIOARTISTIK ISOLO PADA FESTIVAL DANAU SENTANI, PAPUA
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pertunjukan Isolo yang
menjadi bagian dari Festival Danau Sentani. Fokus utama penelitian adalah
mengurai esensi dan makna simbolik Isolo serta menjelaskan peran pentingnya
dalam menjaga dan memperkuat hubungan sosial di komunitas Suku Sentani.
Oleh karena itu, aspek yang dikaji dalam penelitian ini meliputi: 1. Bagaimana
bentuk artistik Isolo pada Festival Danau Sentani; 2. Bagaimana makna artistik
Isolo pada Festival Danau Sentani; dan 3 Mengapa Isolo pada Festival Danau
Sentani diposisikan secara sentral dalam budaya Suku Sentani ditinjau dari
perspektif sosioartistik. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan
menggunakan perspektif sosioartistik yang mengintegrasikan aspek artistik dan
sosial dalam seni. Sosioartistik sebagai perspektif penelitian hakekatnya adalah
mempelajari ekspresi artistik karya seni dalam konteks sosial sehingga dapat
memberikan informasi tentang bagaimana ekspresi artistik merepresentasikan
sistem sosio-kultural masyarakat. Dalam mengumpulkan data, digunakan
berbagai teknik seperti wawancara mendalam, dokumentasi, dan observasi
partisipatif, serta analisis dokumen dari studi pustaka. Terdapat sembilan orang
narasumber dari tiga wilayah Suku Sentani (Sentani Timur, Tengah dan Barat).
yang relevan dalam menjelaskan data mengenai Isolo pada FDS. Melalui metode
analisis Interpretive Sociology Analysis (ISA), hasil penelitian menunjukkan bahwa
Isolo bukan hanya sebagai seni komunal, tetapi juga merupakan ekspresi dari
identitas kultural setiap kampung. Isolo adalah tarian kebesaran Ondoafi yang
dibawakan dengan sukacita dan semarak. Elemen artistik tarian ini bersumber
dari kearifan lokal budaya Suku Sentani seperti atribut Ondoafi, hasil alam, mitos
sejarah dan benda budaya Suku Sentani yang khas. Dalam pertunjukan Isolo,
terdapat pengungkapan nilai-nilai penting Suku Sentani seperti spiritualitas,
solidaritas, dan kepedulian lingkungan. Signifikansi Isolo tidak hanya berakar
pada sejarah kompleks, tetapi juga terhubung dengan jaringan relasi sosial
antarkampung serta konsep rokhabia yang mendorong pertukaran gagasan
budaya. Isolo menjadi medium untuk memperkuat ikatan kekeluargaan dengan
mengintegrasikan nilai-nilai rokhabia di dalamnya. Implikasi penting dari
penelitian ini adalah memperdalam pemahaman tentang konsep Isolo sebagai
bagian penting dari budaya Suku Sentani, serta memberikan pondasi kuat dalam
menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi yang ada. Penelitian ini
memberikan kontribusi berharga dalam memperkuat dan melestarikan warisan
budaya Suku Sentani
Solo Kota Tari
Kota Solo, sebuah kota yang kaya akan warisan budaya Jawa, telah menjadi muara bagi seni dan tradisi Jawa yang subur. Dengan keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran, kota ini telah mengukuhkan dirinya sebagai pusat budaya yang tak tertandingi. Tradisi-upacara, seni pertunjukan, dan ritual-rutin masih hidup dengan kuat di tengah masyarakat Solo, sementara industri gaming semakin berkembang di Indonesia. Kota Solo juga menjadi pusat pertunjukan dengan seniman-seniman terkenal lahir atau berbasis di sana, serta menjadi tuan rumah berbagai festival seni yang besar. Perayaan Hari Tari Sedunia, yang diperingati di Kota Solo dengan antusias, menjadi momentum penting dalam melestarikan dan mengembangkan seni tari tradisional dan kontemporer. Melalui kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Pura Mangkunegaran, dan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, perayaan Hari Tari Sedunia di Kota Solo menjadi momen yang membanggakan. Selain itu, temuan dari pertemuan seniman tari menyoroti pentingnya menjaga, mendokumentasikan, dan mengembangkan seni tari di Indonesia, yang tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai ritual, ibadah, dan penyembuhan
BUNGA RAFLESIA ARNOLDI SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN KARYA MEJA DAN KURSI KAFE
Penciptaan karya tugas akhir meja dan kursi kafe dengan motif bunga Raflesia Arnoldi
ini termotifasi dari perkembangan zaman yang semakin banyak mendirikan usaha
coffee shop, oleh sebab itu penulis berinovasi untuk membuat meja dan kursi kafe
dengan menerapkan motif hias bunga Raflesia Arnoldi. Bunga Raflesia Arnoldi
merupakan salah satu bunga terbesar yang menggantungkan hidupnya terhadap inang
karena tidak memiliki akar, batang dan daun. Penciptaan meja dan kursi kafe terdiri
dari satu meja dan empat kursi kafe dengan menggunakan material logam besi dan
logam alumunium. Penciptaan karya ini diorientasikan untuk pengembangan desain
meja dan kursi kafe yang memiliki nilai kebaruan dan mengikuti perkembangan zaman.
Metode penciptaan karya ini menggunakan teori SP. Gustami meliputi beberapa
tahapan yaitu: Eksplorasi, Perancangan, dan Perwujudan. Pendekatan estetika karya
merujuk pada teori Dewit H. Parker dalam teori bentuk estetik terbagi menjadi enam
asas yaitu: 1. The Principle of Organic Unity (asa kesatuan organis). 2. The Principle
of Theme (asas tema) 3. The Principle of Thematic Variation (asas variasi menurut
tema). 4. The Principle of Balance (asas keseimbangan). 5. The Principle of Evolution
(asas perkembangan). 6. The Principle of Hierarchy (asas tata jenjang). Proses
pengerjaan karya menggunakan teknik las listrik, teknik tatah logam (ukir logam), dan
finishing meja dan kursi poles menggunakan cat variasi paint, cat besi dan disemprot
menggunakan bahan clear gloss untuk mengunci permukaan cat agar lebih tahan lama.
Hasil akhir karya meja dan kursi kafe berjumlah lima buah, yang terdiri dari satu meja
dan empat kursi
REPRESENTASI KRIMINALITAS DALAM FILM AUTOBIOGRAPHY MELALUI TEORI SEMIOTIKA ROLAND BARTHES
REPRESENTASI KRIMINALITAS DALAM FILM AUTOBIOGRAPHY MELALUI TEORI SEMIOTIKA ROLAND BARTHES (Anhar Mashulhaq Mufti, 2024, hal i-xiv dan 1-131) Skripsi S-1 Program Studi Film dan Televisi, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Penelitian ini mengkaji penggambaran kriminalitas yang terkandung dalam film berjudul Autobiography. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menjelaskan bagaimana wacana kriminalitas muncul dalam film tersebut dilihat melalui teori Semiotika. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan fokus pada identifikasi tanda-tanda yang menggambarkan kriminalitas dalam film. Analisis data dilakukan pada tiga tahap, yakni reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi. Tahap observasi dilakukan pada adegan yang menampilkan perilaku kriminalitas, dan hasil dari reduksi adegan tersebut akan dianalisis secara mendalam dengan memanfaatkan teori Semiotika Roland Barthes untuk mengidentifikasi makna denotasi dan konotasi yang terkandung dalam adegan tersebut. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa film Autobiography menghasilkan berbagai tanda untuk merepresentasikan kriminalitas, meliputi perjudian, penghinaan, pencurian, pengrusakan, perburuan liar, penggunaan senjata api ilegal, nepotisme, penipuan, pelanggaran penggunaan atribut militer, pengancaman, penganiayaan, penghilangan alat bukti, pemalsuan, penyaluran migran ilegal, pelecehan seksual, dan pembunuhan berencana, yang dilakukan oleh beberapa tokoh dalam film Autobiograph
EKSPERIMENTASI PEMBUATAN JINGLE (STUDI KASUS JINGLE PAW PAW CAFE)
Penelitian dengan judul “Eksperimentasi Pembuatan Jingle (Studi Kasus Jingle Paw Paw Cafe)” ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan eksperimental. Pokok penelitian ini adalah proses artistik dalam membuat Jingle Paw Paw Cafe dan pemanfaatannya dalam dunia branding serta pemasaran untuk kafe. Merebaknya kafe dan jarangnya penggunaan jingle pada kafe, mendorong penulis melakukan penelitian ini. Objek penelitian ini adalah kafe kucing di Surakarta bernama Paw Paw Cafe. Penulis melakukan penelitian ini dengan berpedoman kepada teori Keller mengenai elemen-elemen iklan yang baik. Teori tersebut menjadi pedoman dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut memorability (mudah diingat), meaningfulness (memiliki makna), likability (kemampuan untuk disukai), adaptability (mampu beradaptasi), protectability (terlindungi secara hukum dan dari pesaing). Penelitian ini menggunakan metode penelitian Participatory Action Research (PAR), artinya memperlakukan objek sebagai subjek dalam mengumpulkan data dan membuat komposisi. Langkah-langkah dalam penelitian ini terdiri dari studi pustaka, observasi, eksperimentasi, analisis dan penyusunan data. Pada proses ekpserimentasi terdiri dari tiga tahap yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Pra-produksi merupakan tahap riset dan pembentukan konsep. Tahap produksi merupakan tahap memproduksi musik yang terdiri dari eksplorasi, rekaman, mixing, dan mastering. Tahap pasca-produksi merupakan tahap dimana prototype sudah jadi dan dipublikasikan di platform digital dan diputar di Paw Paw Cafe. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah prototype Jingle Paw Paw Cafe yang dibuat berdasarkan teori dari Keller dan elemen-elemen yang sudah dijabarkan. Metode pengujian daya jingle ini adalah dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada pengunjung. Hasilnya jingle mampu merepresentasikan Paw Paw Cafe. Penulis berharap penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pelaku musik dan pelaku usaha terutama di dunia jingle dan kafe.
Kata Kunci: Jingle, Kafe, Produksi Musik, Marketing, Brandin