7065 research outputs found
Sort by
Saatnya Wong Lawas Tampil
Artikel ini membahas kebangkitan Orkes Melayu (OM) Lorenza sebagai oase di tengah dominasi dangdut koplo yang cepat dan penuh distorsi. OM Lorenza, dengan gaya retro 70-an dan lagu-lagu dangdut lawas, menawarkan alternatif yang membawa pendengarnya bernostalgia dan merayakan masa lalu. Dengan melantunkan lagu-lagu yang lebih sederhana dan terstruktur, mereka memberikan kesempatan bagi generasi lawas untuk menikmati kembali kenangan indah melalui musik yang lebih stabil dan tidak terganggu oleh irama cepat. OM Lorenza tidak hanya menghidupkan lagu-lagu lama, tetapi juga mengembalikan esensi kesantunan dalam budaya dangdut, yang seringkali terabaikan dalam musik dangdut modern. Mereka menciptakan ruang yang lebih intim dan reflektif bagi audiens, menghindari sensasionalisme dan menghadirkan suasana yang lebih berkualitas. Dengan pilihan lagu-lagu yang telah populer di masanya, OM Lorenza berusaha mempertahankan elemen-elemen sejarah dangdut, sambil mengajak pendengar untuk mengingat kembali kenangan-kenangan emosional masa lalu. Melalui pendekatan ini, OM Lorenza memberikan kontribusi bagi perkembangan dangdut yang lebih kaya dan bernuansa, menawarkan alternatif bagi generasi muda yang mulai jenuh dengan dominasi dangdut koplo
Pidato Ilmiah Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Sugeng Nugroho, S.Kar., M.Sn. : Teori Sanggit dan Garap Dalam Paradigma Penciptaan dan Pengkajian Karya Pedalangan
Pidato ini terinspirasi dari fenomena penelitian tekstual seni tradisi khusunya pedalangan yang sebagian besar mengandalkan teori-teori Barat. Dalam konteks tersebut piadato ini menawarkan sebuah teori yang dapat digunakan sebagai metode penciptaan karya pedalangan disamping itu juga dapat sebagai metode analisis bagi penelitian karya pedalangan. Teori ini digali dari konsep emik Nusantara yaitu Sanggit dan Garap. Sangit dan garap merupakan konsep emik Jawa yang berhubungan dengan kreativitas seniman secara individu (bersifat independen) maupun bersama-sama (dependen) untuk mencapai hasil (karya seni) yang sesuai dengan harapan sang seniman. Sanggit dan garap bukan sekedar istilah emik, melainkan juga juga sebuah metode yang dapat diterapkan untuk menciptakan sekaligus mengkaji karya pedalangan
Etnomusikologi Memandang Maestro Musik
Makalah ini membahas peran penting maestro musik dalam studi etnomusikologi, dengan fokus pada kontribusi mereka terhadap pelestarian dan pengembangan musik tradisi. Maestro musik tidak hanya sebagai penggerak dalam praktik seni, tetapi juga sebagai penjaga nilai budaya dan filosofi yang terkandung dalam musik. Salah satu contoh yang dibahas adalah Tohan, seorang maestro angklung paglak dari Banyuwangi, yang memainkan musik sebagai bagian dari kehidupan agraris masyarakat setempat. Musik angklung paglak berfungsi tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai penghubung antara ekspresi artistik dan aktivitas sehari-hari, memperkuat solidaritas sosial di kalangan para petani. Dalam perspektif etnomusikologi, maestro seperti Tohan memainkan peran sentral dalam memastikan kelangsungan tradisi musik, meskipun dihadapkan dengan tantangan ekonomi. Artikel ini juga mengusulkan pendirian kampus seni di Banyuwangi untuk mendukung pelestarian seni tradisi dan meningkatkan kesejahteraan maestro musik, serta memperkuat peran mereka dalam pendidikan seni. Kampus seni diharapkan dapat menjadi pusat penelitian dan pengembangan seni tradisi yang relevan dengan masyarakat, serta sebagai ruang untuk menciptakan generasi seniman yang memahami pentingnya seni dalam kehidupan sosial
Industri Alat Musik Bangkrut
Industri alat musik di Indonesia menghadapi krisis besar, dengan PHK 1.100 karyawan di PT. Yamaha Music Product Asia sebagai dampak dari perubahan teknologi digital. Perkembangan perangkat lunak pembuat musik, seperti digital audio workstations (DAW), menggantikan peran instrumen fisik dalam produksi musik. Hal ini menyebabkan generasi muda lebih memilih menciptakan musik secara digital karena kemudahan dan biaya yang lebih terjangkau. Perangkat lunak mampu meniru suara alat musik fisik dengan kualitas yang hampir sempurna, sementara alat musik konvensional semakin mahal dan sulit diproduksi. Perusahaan alat musik kesulitan mempertahankan keuntungan, ditambah dengan penurunan permintaan global. Pendidikan musik pun beralih mengajarkan penggunaan DAW, yang mengurangi minat untuk membeli alat musik fisik. Perusahaan manufaktur alat musik gagal beradaptasi dengan tren musik digital dan user-generated content, mempercepat penurunan pasar mereka. Pergeseran nilai juga terjadi, di mana generasi muda lebih menghargai kemudahan dalam membuat musik daripada penguasaan keterampilan dalam memainkan alat musik. Dominasi perusahaan perangkat lunak musik semakin memperlebar ketimpangan dengan produsen alat musik konvensional, yang mengakibatkan perubahan dalam cara masyarakat memandang seni musik
GUNA DAN FUNGSI GENTA DI KLENTHENG PORWODININGRATAN
Skripsi berjudul Guna dan Fungsi Genta di Klenteng Porwodiningratan memfokuskan beberapa faktor ketertarikan penulis dalam melihat peribadataan yang diterapkan oleh konsep agama konghucu yang mungkin hampir berbeda dengan konsep peribadatan pada umumnya. Ketertarikan penulis muncul dalam melihat proses peribadataan Agung di Klenteng Purwodiningratan. Pada prosesi peribadataan tersebut Guna dan Fungsi Genta berperan penting sebagai jalanya peribadataan, tanpa adanya genta mungkin peribadataan tidak berjalan lancar, hal itu disebabkan Genta sebagai sebuah symbol digunakan dan difungsikan untuk pergantian prosesi peribadataan agama konghucu, Selain sebagai symbol guna dan fungsi Genta juga mempunyai makna-makna yang terkandung dari firman-firman Tuhan yang dipercayai umat konghucu yang ada dalam kitab she shu. Ketertarikan penulis selain genta sebagai tanda , nilai-nilai kebijaksanaan , Kebajikan melalui konteks pendidikan yang ditanamkan juga bertujuan sebagai pandangan kepada khalayak untuk melihat bahwa toleransi beragama cukup penting dalam menghargai sesama penganut kepercayaan.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa fenomena guna dan fungsi genta dapat dikaji lebih dalam melalui permasalahan yang muncul seperti prosesi peribadataan, sebuah symbol yang melekat pada agama konghucu yang dalam maknanya berisi nilai-nilai kebaikan , sebuah symbol identitas agama konghucu. Selain itu guna dan fungsi genta dalam perayaan hari-hari besar agama konghucu yaitu genta sebagai asesoris yang dapat dikenalkan dimasyarakat umum melalui bend-benda asessoris di Indonesia.
Kata Kunci : Genta, Guna dan Fungsi, Peribadataan Agama Konghuc
BUAH MANGGA DAN ANGGUR KOTA PROBOLINGGO SEBAGAI IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK BUSANA READY TO WEAR
Tujuan Tugas akhir Karya Buah Mangga dan Anggur Kota Probolinggo
Sebagai Ide Penciptaan Motif Batik Pada Busana Ready To Wear. Dalam
penciptaan karya ini menggunakan metode yang terdiri dari eksplorasi, inkubasi,
konseptualisasi dan materialisasi. Dalam proses penciptaan karya dimulai dari
tahap eksplorasi. Proses selanjutnya adalah tahap perwujudan, dalam tahap ini
dimulai dengan membuat pola busana, mencorek, mencanting, pewarnaan kain,
melorod kain batik, dan menjahit serta finishing. Teknik yang digunakan dalam
proses penciptaan karya yaitu Teknik colet dan usap. Bahan dan yang digunakan
malam (lilin), canting, remasol, kain primissima dan kain toyobo. Penciptaan
karya busana ready towear ini digunakan pada kegiatan perayaan hari jadi kota
probolinggo, pertemuan rekan bisnis, busana ini digunakan pada pria dan wanita
dengan sasaran dewasa usia 17-28. Karya ini memiliki judul karya masing-
masing dengan mengambil dari Bahasa sansekerta dan nama buah yang sudah
ada. Karya 1 dengan judul “Mider”, karya 2 dengan judul “Berawa”, karya 3
“Andakara”, karya 4 dengan judul “Lalijiwo”. Penciptaan karya ini dengan motif
buah mangga dan anggur, dengan diaplikasian pada busana ready to wear. Dalam
proses perwujudan pada desain busana ready to wear ini dalam bentuk busana
jas,celana, rok, dan jarik
CREATING AMBIENCE THROUGH FLOWER PALETTES AT THE BAL FLORAL EXHIBITION ANTWERPEN, BELGIUM
Pameran Floralien 2024 di The Meir Palace, Antwerpen, Belgia, menyuguhkan
instalasi bunga bertema “BAL FLORAL” yang terinspirasi dari karya James Ensor.
Melalui Yayasan Sumbang Kawruh Indonesia (SUKRI), Indonesia memamerkan
instalasi yang terbuat dari bahan-bahan lokal seperti daun pisang, daun kelapa, dan
klobot jagung yang dipadukan dengan bunga-bunga berwarna-warni dan cerah.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menganalisis elemen-elemen
seni dan teori warna dalam instalasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
warna-warna kontras, seperti merah, biru, ungu, kuning, dan hijau, memperkuat
daya tarik visual dan menyampaikan pesan emosional. Partisipasi Indonesia dalam
pameran ini menampilkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus menunjukkan
keselarasan seni tradisional dan modern dalam konteks global. Pameran Bal Floral
menjadi platform untuk pelestarian budaya, ekspresi artistik, dan kerja sama
internasional, yang menyatukan tradisi dan inovasi melalui instalasi yang estetis
dan penuh makna
TEKNIK PEREKAMAN GENDING KLENÉNGAN DALAM KARAWITAN JAWA
Perkembangan dunia perekaman karawitan Jawa hingga saat ini
cenderung masih menunjukkan sifat industrial. Proses produksi rekaman
masih mengedepankan efisiensi dan keseragaman, sehingga kualitas
artistik dan keunikan penyajian karawitan Jawa masih belum terakomodasi
secara maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mencari teknik perekaman
ideal yang mampu mewadahi artistik dan keunikan karawitan Jawa secara
maksimal. Penelitian menggunakan metode kualitatif, yakni metode untuk
mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, mendalam, dan
akurat tentang rekaman karawitan Jawa. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pengetahuan dan unsur garap karawitan Jawa sebagai sumber
bunyi menjadi penting untuk bekal kerja rekaman sound engineer. Bekal
sound engineer dalam rekaman yang wajib diketahui antara lain; 1)
memahami karakteristik bunyi setiap ricikan gamelan, 2) memahami kinerja
peralatan rekam (karakteristik mikrofon, dan kemampuan DAW), 3)
memahami karakteristik ruang bunyi gamelan, antara lain lebar ruang,
kedalaman ruang, reverberation time ruang, dan sebaran bunyi dalam ruang,
4) kemampuan memahami karakteristik garap gending klenéngan
karawitan Jawa, dan 5) mampu meramu bunyi sesuai garap dan kaedahkaedah
musikal dalam sajian gending klenéngan karawitan Jawa. Teknik
rekam untuk mengaghasilkan rekaman gending klenéngan karawitan Jawa
yang ideal menggunakan dua teknik, yakni teknik live mix recording dan
teknik live multitrack recording. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis
berupa hasil reproduksi suara gamelan yang memenuhi representasi yang
akurat dan utuh sesuai dengan estetika karawitan Jawa. Temuan ini
sekaligus menjadi kebaruan penelitian untuk mengeliminasi
kecenderungan perekaman karawitan Jawa yang bersifat industrial
BENDA KENANGAN DALAM KARYA FOTOGRAFI DENGAN TEKNIK LIGHT BRUSH
Setiap benda memiliki momen dan kenangan tersendiri bagi pemiliknya,
hanya saja benda-benda tersebut akan habis karena dimakan usia. Seiring
berjalannya waktu, kegunaan dari benda-benda tersebut semakin berkurang karena
adanya produk terbaru, rusak atau hilang. Dari permasalahan tersebut muncul
ketertarikan untuk membuat foto yang dapat memunculkan kembali momen dan
kenangan tentang benda yang pernah digunakan di masa lampau dan yang masih
digunakan di masa sekarang dengan menggunakan teknik pencahayaan light brush.
Penggunaan teknik pencahayaan light brush mampu menampilkan nilai estetis dan
artistik dari benda-benda yang memiliki kenangan dengan goresan cahaya yang
tidak dimiliki oleh teknik pencahayaan yang lain. Pemotretan dengan teknik ini
memiliki keunikan yakni dapat menormalkan ketidakseimbangan gelap-terang
suatu objek dengan cara menyapukan cahaya pada objek selama waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai titik normal, maka dari itu didapati perbedaan waktu
penyinaran tiap objeknya. Teknik ini menghasilkan dimensi gelap terang dan
spotlight yang berbeda pada tiap frame foto, sapuan cahaya pada bahan material
objek yang berbeda menghasilkan goresan cahaya yang berbeda juga. Pendekatan
fotografi still life memunculkan kesan hidup dan nyata sehingga dapat membantu
memunculkan kembali ingatan saat menggunakan benda tersebut dengan visual
yang lebih indah
ALIH IMAJI DALAM KARYA FOTOGRAFI
Benda-benda yang dijumpai, ditemukan, dalam kenyataanya
dapat menyeret masuk ke dalam suatu situasi, yaitu suasana
pertemuan berbagai dorongan dan pengetahuan yang tak sepenuhnya
disadari dalam jaringan ingatan dan kenangan. Seperti juga
rongsokan “barang yang tidak terpakai”, dan tumpukan berbagai
benda yang terkadang tergeletak atau terbengkalai di lingkungan
sekitar, ruang publik, perkotaan, pedesaan dan alam.
Bermula dari langkah kreatif berupa ketertarikan untuk
mengamati realitas objek sehari-hari, yaitu berupa benda-benda yang
terbuang, terdampar, teronggok begitu saja di lingkungan sekitar
dengan kondisi tersebut memicu untuk mempertanyakan kembali arti
keberadaanya terhadap benda-benda tersebut yang secara realitas
sebelumnya berfungsi sebagai sesuatu.
Proses penciptaan tugas akhir ini memanfaatkan benda-benda
buangan yang ditemukan secara spontanitas di berbagai tempat yang
terdapat berbagai macam keunikan baik dari bentuk objek tersebut
maupun penempatan objek tersebut yang ditemukan di berbagai tempat
dan jalanan seperti di ruang publik, perkotaan, maupun pedesaan, kemudian
dilakukan pemotretan mengunakan pendekatan street photography
dengan teknik point on shoot. Metode yang digunakan menggunakan
metode alih imaji untuk memberikan kesan dramastis, menciptakan
dimensi yang unik dan mengandung nilai kenangan di dalamnya