7065 research outputs found
Sort by
DARMAWASITA: INTERPRETASI KARYA SASTRA MANGKUNEGARA IV DALAM KARYA KOMPOSISI KARAWITAN
Karya “Darmawasita” adalah pertunjukan komposisi musik yang
mengangkat tentang isi Serat Darmawasita sebagai ide gagasannya. Latar
belakang terciptanya karya komposisi “Darmawasita” adalah kegelisahan
tentang minimnya pemahaman masyarakat terkait nilai-nilai dalam
pernikahan. Serat Darmawasita telah menguraikan, menjabarkan, dan
menjelaskan tentang nilai-nilai yang sebaiknya dilakukan dalam/menuju
pernikahan. Tujuan penyusunan karya “Darmawasita” mencoba dapat
menyampaikan dan menggambarkan kembali tentang nilai-nilai dalam
pernikahan secara musikal sesuai dengan isi dari Serat Darmawasita.
Hasil dari pengamatan dan riset terhadap isi dari Serat Darmawasita,
terdapat tiga poin penting yang menyampaikan nilai-nilai dalam
pernikahan. Adapun tiga butir poin penting tersebut sebagai berikut: (1)
Bagaimana cara mencapai jalan keselamatan. (2) ajaran yang berkenaan
dengan pengabdian laki-laki dan perempuan. (3) memahami, menerima
dan memperhatikan watak orang yang akan dinikahi. Butir-butir tersebut
digunakan sebagai pijakan awal tema, konsep, bentuk, hingga suasana
untuk menyusun dan membentuk materi musikal dan garap pada setiap
bagian komposisi dalam karya “Darmawasita”. Tiga poin penting tersebut
digunakan untuk menyusun komposisi musik sebagai berikut: komposisi
“Arjatama”, komposisi “Suwitakrama”, dan komposisi “Wanuh”.
Kesimpulan dari proses penciptaan karya "Darmawasita" adalah
bahwa penyusunan karya ini dilakukan melalui tahapan yang terstruktur,
mulai dari penyusunan gagasan, ide garap, hingga penuangan ide tersebut
ke dalam karya. Proses ini melibatkan observasi, pemilihan pendukung
karya, eksplorasi teknik dan bunyi, komposisi, serta evaluasi. Dengan
pendekatan ini, "Darmawasita" diharapkan mampu menghidupkan
kembali karya sastra yang telah mulai dilupakan, memberikan sentuhan
baru dan relevansi pada warisan budaya yang berharga. Teknik
kompositorik yang dihasilkan dalam komposisi ini adalah teknik
kontrapung, harmoni, transmedium, interlocking
CITY BRANDING SEBAGAI TEMA REDESAIN INTERIOR PERPUSTAKAAN UMUM KOTA DEPOK
Perpustakaan Umum Kota Depok memiliki peran penting sebagai pusat
informasi, edukasi, dan interaksi sosial bagi masyarakat sekitar. Untuk
meningkatkan daya tarik dan fungsi perpustakaan, diperlukan pendekatan desain
yang mampu merepresentasikan identitas kota serta mendukung branding kota.
Perancangan ini bertujuan merancang ulang desain interior Perpustakaan Umum
Kota Depok dengan menerapkan tema city branding yang menggambarkan karakter
Kota Depok. Metode perancangan interior mengadopsi tahapan proses desain dari
Pamudji Suptandar, yang meliputi input, sintesa, dan output, dengan ruang lingkup
garap antara lain lobby, aula serbaguna, ruang anak, ruang audiovisual, area koleksi,
dan area baca. Landasan perancangan menggunakan pendekatan fungsi, ergonomi,
tema, gaya, serta teknis. City branding “A Friendly City” diterapkan sebagai tema
perancangan dan dikemas dengan gaya modern minimalis. Penerapan tema dan
gaya tersebut diharapkan dapat menghadirkan interior yang sesuai dengan
perkembangan zaman. Hasil desain ini diharapkan dapat menambah daya tarik
perpustakaan, memperkuat rasa kepemilikan masyarakat terhadap fasilitas publik,
serta memperkuat identitas Kota Depok melalui desain interior yang fungsional dan
rekreatif
PERANCANGAN INTERIOR MUSEUM SEJARAH KABUPATEN PALI DENGAN MENGIMPLEMENTASIKAN KONSEP TRADISIONAL KONTEMPORER
ABSTRAK
Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, di mana setiap daerah memiliki ciri
khas budayanya masing-masing, termasuk Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Dengan pesatnya perkembangan zaman dan dampak globalisasi yang mengakibatkan
pergeseran budaya lokal oleh budaya asing, penting bagi generasi muda dan masyarakat
Kabupaten PALI untuk berperan aktif dalam mengenal, menjaga, dan melestarikan budaya
tersebut.Perancangan museum sejarah Kabupaten PALI yang mengadopsi konsep
tradisional kontemporer bertujuan untuk menjadi sarana wisata edukasi yang menonjolkan
berbagai aspek daerah, termasuk budaya, destinasi wisata, bahasa, dan lainnya. Museum
ini dirancang untuk menyajikan pameran secara sistematis berdasarkan materi, sehingga
pengunjung dapat lebih mudah memahami kekayaan yang ada di Kabupaten PALI. Proses
desain museum sejarah ini mengikuti metode oleh Pamuji Suptandar, yang meliputi tahap
input, sintesis, dan output, serta mempertimbangkan beberapa landasan perancangan,
seperti pendekatan fungsi, ergonomi, teknis, motif, tema, dan gaya.Tujuan dari
perancangan museum ini adalah menciptakan desain yang aman, nyaman, edukatif, dan
informatif, sehingga dapat menarik minat masyarakat Kabupaten PALI untuk lebih
mendalami daerah mereka. Adapun fasilitas pada Museum Sejarah Kabupaten PALI yaitu:
loket tiket, audiotorium, ruang pamer tetap, ruang pamer temporer, pusat edukasi,
perpustakaan, toilet, pusat souvenir, musolah, tempat parkir, gudang, ruang preparasi,
ruang konservasi, ruang studi koleksi, Gedung administrasi, cafetaria dan juga taman .
Penerapan konsep tradisional kontemporer, diharapkan museum sejarah Kabupaten PALI
dapat menjadi wadah edukasi yang baru, berkontribusi dalam menjaga, mengenalkan, dan
melestarikan budaya Kabupaten PALI
MITONI SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN BUSANA ARTWEAR
Mitoni merupakan tradisi rasa syukur atas kehamilan yang menginjak usia tujuh bulan. Dalam tradisi Mitoni terdapat unsur fisik dan non-fisik (nilai religius dan nilai sosial). Tujuan tesis karya seni ini adalah menjabarkan proses penciptaan busana artwear dengan sumber ide Mitoni khususnya dari unsur fisik dan non-fisiknya. Pengambilan tema Mitoni dipengaruhi oleh terkikisnya upacara Mitoni pada kalangan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti keuangan, lingkungan, dan stigma negatif. Hal ini berdampak buruk bagi Indonesia jika budayanya hilang satu per satu, oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan pelestarian melalui bentuk karya baru yaitu busana artwear menggunakan konsep estetika sanggit, paradigma perjumpaan tradisi modern dalam penciptaan karya seni, terutama sanggit re-interpretasi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan estetik, dan ergonomis. Data yang digunakan diperoleh dari studi pustaka, observasi, dan wawancara. Metode penciptaan yang digunakan adalah Gustami dengan 3 tahap yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Visual yang dieskpresikan merupakan metafora retorika visual dari unsur fisik dan non-fisik Mitoni sehingga mengghasilkan tujuh karya busana artwear dengan kebaharuan material serat kelapa yang dieksekusi dengan teknik sulam. Ketujuh rangkaian busana artwear ‘Yuwana Asa’ dipamerkan dalam pertunjukan fashion show di pendopo Institut Seni Indonesia Surakarta dengan judul 1) Andum Tirtandum, 2) Nunggal ing Bawana, 3) Ringin Siti, 4) Ageng Agung Waringin, 5) Cengkir saking Gusti, 6) Mitu Bumi, Dhuwur Gusti, dan 7) Wangsul mring Utami
BUKU ILUSTRASI “SERENADE RASA: HARMONI DALAM SETIAP EMOSI" DENGAN KOMBINASI GAYA MANGA DAN MAHWA SEBAGAI PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL EMOSIONAL REMAJA
Masa remaja adalah fase transisi krusial dengan perubahan hormon, fisik, dan psikologis yang sering memicu fluktuasi emosi, kecemasan, dan pencarian jati diri. Ketidakmampuan mengelola emosi, ditambah tekanan sosial dan ekspektasi tidak realistis, dapat menyebabkan gangguan mental emosional. Oleh karena itu, edukasi tentang kesehatan mental dan cara mengelola emosi penting disampaikan melalui media yang menarik, seperti buku ilustrasi sederhana. Buku “Ilustrasi Serenade Rasa: Harmoni dalam Setiap Emosi” dirancang dengan kombinasi gaya Manga dan Manhwa dengan menggabungkan ciri visual karakter pada gaya Manga dan Manhwa, pada perancangan ini menggunakan visual karater bermata kecil, dagu lancip, bibir tebal, volume rambut tipis, serta pemilihan warna lembut yang diambil dari ciri khas gambar Manhwa. Namun akan mengadaptasi lineart tebal khas Manga, dilengkapi karakter dan nariasi puitis untuk menyampaikan pesan secara mudah dipahami. Menggunakan metode kualitatif, kuantitatif, dan BRVRI yakni dengan tahapan Brief Assignment, Research and Strategy, Visual Design Development, Revision, serta Implementation/Production. buku ini mengedukasi remaja usia 15-21 tahun tentang regulasi emosi dan pengembangan diri. Media promosi sekaligus menjadi media pendukung buku ilustrasi berupa notebook untuk jurnal harian dan stiker afirmasi positif menambah interaktivitas, menjadikan buku ini sarana edukasi yang fleksibel, efektif, dan menyenangkan untuk menjaga kesehatan emosional remaja.
Kata Kunci: Remaja, Kesehatan Mental Emosional, Buku Ilustrasi, Kombinasi Gaya Manga dan Manhwa, Metode BRVRI
DEKONSTRUKSI TEKS WABAH OLEH SUTRADARA RETNO SAYEKTI LAWU DALAM PENTAS VIRTUAL KOMUNITAS LANTAI DUA
Pertunjukan teater mengalami berbagai kondisi yang menuntut
terjadinya perubahan, baik secara signifikan maupun tidak. Pertunjukan
Wabah yang ditampilkan oleh Komunitas Lantai Dua dengan Sutradara
Retno Sayekti Lawu, adalah sebuah refleksi dari penggambaran fenomena
manusia yang terbawa oleh arus teknologi-informasi layaknya hakekat
sebuah wabah. Berpijak dari kebutuhan transformatif atas pementasan
virtual, pertunjukan Wabah mengalami dekonstruksi untuk menyesuaikan
kebutuhan publik. Dengan menggunakan media Youtube pementasan ini
dipublikasikan secara luar, berbagai kemungkinan muncul dari asumsi
penonton. Salah satunya adalah bagaimana proses penyesuaian panggung
pertunjukan menjadi video pertunjukan? Asumsi ini menjadi identifikasi
masalah yang utama dalam penelitian yang dilakukan. Dengan pendekatan
penelitian kualitatif serta menggunakan metode analisa data wawancara,
penelitian ini menggunakan teori dekonstruksi Derrida serta strategi
pembacaan Mc Quilan demi mempermudah proses analisis data.
Dekonstruksi merupakan pembacaan sebuah teks untuk memahami
kontradiksi yang terkandung dan suatu pemikiran yang berupaya
membangun kembali makna yang melekat dalam teks. Dekontruksi
merupakan istilah atas eksitensi manusia terhadap bahasa yang terbatas.
Derrida sebagai salah satu filsuf kontemporer merasa bahwa manusia tidak
menggunakan bahasa, melainkan bahasa yang menggunakan manusia. Retno
Sayekti Lawu membawakan naskah Wabah menjadi pertunjukan berbasis
media virtual dengan menekankan visualisasi yang lebih kental melalui
pendekatan seni rupa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi tata
rupa dalam pertunjukan Wabah menyeret aktor sebagai bagian dari artistik.
Kendati demikian pertunjukan ini menjadi ruang eksploratif bagi berbagai
elemen untuk mengkonstruksi idealitas pertunjukan virtual
PELATIHAN PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN JUMPUTAN RINTIK PADA PAGUYUBAN PUTRA-PUTRI LAWU SEBAGAI PENGUATAN KARAKTER DUTA WISATA KABUPATEN KARANGANYAR
Putra-Putri Lawu merupakan salah satu bagian dari generasi muda yang memiliki misi sebagai promotor pariwisata, seni dan budaya guna kemajuan Kabupaten Karanganyar. Karanganyar sebagai salah satu Kabupaten memiliki potensi alam, wisata, budaya dan juga seni yang mencakup seni rupa dan pertunjukan. Dalam konteks seni rupa tradisi, karanganyar menjadi bagian pemilik kekayaan wastra tradisional. Namun fakta di tengah masyarakat Karanganyar, muncul permasalahan bahwa kecintaan generasi muda terhadap wastra tradisional menurun karena dianggap kuno, harganya yang relatif mahal, dan memiliki stereotip bahwa wastra hanya bisa cocok dikenakan pada momentum jagong dan pelengkap busana adat. Putra-Putri Lawu sebagai tokoh generasi muda Karanganyar menjadi pihak yang turut andil dalam pelestarian dan pengembangan wastra tersebut. Adapun program PKM yang dirancang dengan sasaran Putra-Putri Lawu sebagai Duta Wisata Karanganyar adalah pelatihan pembuatan jumputan rintik dengan pengembangan desain dan warna pastel indigosol yang mengacu pada komposisi warna tradisional. Pemilihan jumputan rintik sebagai objek pelatihan karena pembuatannya yang relatif lebih sederhana dengan kreasi yang bisa dikembangkan. Selain itu, dirancang pelatihan pemanfaatan jumputan rintik dalam bentuk fesyen menggunakan teknik drapping yang memunculkan lipitan, kerutan dan draperi. Adapun tahapan dari kegiatan pengabdian adalah; 1. Penyiapan modul tentang pelatihan jumputan rintik dan drapping 2. Koordinasi dengan Mitra PKM Paguyuban Putra Putri Lawu 2. Persiapan alat dan bahan 3. Perancangan untuk inovasi pengembangan motif jumputan rintik dan penerapan drapping dalam fesyen 4. Pelaksanaan Pelatihan dan Pendampingan Kegiatan. Luaran dalam kegiatan pengabdian adalah sebagai berikut: 1. Modul pelatihan. 2. Hasil karya proses pembuatan jumputan rintik dan karya busana drapping. 3. Publikasi Jurnal 4. Publikasi di media masa online dan 5. HKI
Peningkatan Minat Beli Produk Rotan Andi Rattan Furniture Melalui Media Fotografi
Rotan merupakan sumber daya alam yang telah digunakan secara beragam oleh masyarakat Indonesia. Industri kerajinan rotan sudah tumbuh dan berkembang di Indonesia sejak lama, termasuk sentra industri kerajinan rotan Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Seiring berjalannya waktu, industri rotan telah menunjukan kinerja ekspor yang besar, di Gatak sendiri pemasaran ekspor pada industri rotan didominasi pada perusahan korporasi. Sementara pengrajin kecil kurang mendapatkan exposure pada tingkat global, mereka akhirnya menggunakan pihak ke-3 (makelar) sebagai jalan untuk mencapai pasar ekspor. Salah satu pengrajin yang merasakan dominasi tersebut adalah Andi Rattan Furniture. Kehadiran pihak ke-3 sebagai mediator pasar ekspor memang cukup membantu pada awalnya, namun biaya yang ditentukan pihak ke-3 semakin lama membuat Andi merasa memiliki margin keuntungan yang didapat tidak sebanding dengan pekerjaan yang telah dilakukannya. Di satu sisi, peran pemasaran untuk mencari jaringan konsumen, mitra, atau pemasok baru yang dapat membantu keberlangsungan jalannya usaha, tidak ditemukan pada struktur usaha Andi Rattan. Sehingga efektivitas kegiatan pemasran baik offline maupun online tidak terlaksana dengan baik.
Melalui dukungan pihak institusi dengan adanya kesepakatan kerjasama antara institusi- mitra dalam bentuk MoA nomor 3570/IT6.4/HK.06.00/2024. Tim Pengabdian ISI Surakarta melakukan Program Pengabdian Kepada Masyarakat dengan menggunakan pendekatan riset aksi partisipatoris PAR (Participatory Action Research) yang berorientasi pada pemberdayagunaan masyarakat. Dengan harapan dapat memberi wawasan dan solusi atas permasalahan/kebutuhan Andi Rattan Furniture dalam aspek pengelolaan usaha melalui rencana pelatihan dan pendampingan tentang tata kelola usaha, meliputi penyusunan struktur organisasi, perataan peran SDM pada usaha mitra, keunggulan produk, dan penjaringan stakeholder. Kemudian pada aspek promosi akan diberikan pelatihan dan pendampingan foto produk sebagai konten visual untuk membuat katalog dan konten media sosial, kemudian memberi pelatihan serta pendampingan untuk mengelola Instagram serta Shopee, termasuk di dalamnya pelayanan customer dan penentuan tren pasar menggunakan analisis SWOT
PERANCANGAN DESAIN MOTIF BATIK UNIFORM DHARMAWANITA MELALUI REINTERPRETASI DESAIN LOGO DHARMAWANITA PERSATUAN
Uniform atau seragam merupakan sebuah keniscayaan dalam sebuah organisasi. Hal tersebut dibuat dan diadakan dalam rangka sebagai penanda akan eksistensi atau keberadaan organisasi tersebut. Demikian halnya dengan organisasi Dharma Wanita Persatuan juga memiliki uniform yang sudah lama mereka gunakan dalam rangka membangun citra organisasi tersebut. Penelitian terapan yang berjudul “Perancangan Desain Motif Batik Uniform Dharmawanita melalui Reinterpretasi Desain Logo Dharmawanita Persatuan” bertujuan untuk memberikan alternatif desain motif uniform yang lebih kekinian kepada organisasi Dharma Wanita Persatuan Pusat dengan mengikuti trend warna yang sedang digemari tanpa meninggalkan makna filosofinya. Penelitian ini diasumsikan pada permintaan pemegang kebijakan dalam orgnisasi terkait peremajaan motif yang lebih trendy. Penelitian ini menggunakan metode 3 tahap 6 langkah yang meliputi eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Luaran yang dihasilkan berupa karya desain motif batik cap yang di daftarkan HaKi, artikel ilmiah yang tersubmitted di jurnal nasional Sinta 4, , surat keterangan penerapan IPTEKS dari mitra, serta laporan hasil penelitian.
Kata kunci : Motif, batik, uniform dharma wanita
ADAPTASI PERANGKAT GAMELAN DAN ELEKTRONIK DALAM PENGGARAPAN SAJIAN GENDING JARANAN
Penelitian yang berjudul “Adaptasi Perangkat Gamelan dan Elektronik
dalam Penggarapan Sajian Gending Jaranan” ini bertujuan untuk menjelaskan
bentuk-bentuk dan cara-cara adaptasi pada penggunakan perangkat musik gamelan
dan elektronik dalam penggarapan sajian gending jaranan pada kasus kelompok
Turonggo Seto Mardi Utomo di Boyolali Jawa Tengah. Penelitian dilakukan
melalui pendekatan etnografi yang berlatar kegiatan partisipatif dan kolaboratif
sebagai dasar pengalaman terlibat untuk pembentukan pengetahuan. Penelitian
dilakukan dalam setting (pengaturan) yang natural untuk berinteraksi secara
dialogis dan dialektis bersama masyarakat dalam rangka menggali informasi lebih
jauh berdasarkan native point of view, dengan didukung teknik pengumpulan data
melalui aktivitas pengamatan, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka.
Penelitian ini menghasilkan temuan berupa fakta mengenai hibriditas yang
terjadi sebagai akibat dari proses perpaduan dan percampuran antara dua disiplin
musik dengan budaya, sifat, dan asal-usul yang berlainan. Pertemuan antara
keduanya tercermin pada kategori ataupun jenis dari instrumen musik yang
digunakan, yaitu antara gamelan dan digital-elektronik, tradisional dan modern,
lokalitas dan budaya global, serta karawitan Jawa dan musik Barat. Hibriditas
hampir selalu berawal dari praktik adopsi yang selanjutnya diikuti dengan proses
adaptasi, baik pada pada instrumen gamelan sebagai ciri tradisional dan
lokalitasnya, maupun pada instrumen digital-elektronik sebagai ciri modernitas dan
budaya global. Adaptasi terjadi sebagai bentuk penyikapan untuk menegosiasikan
perbedaan sistem dan konvensi yang berlaku di antara keduanya.
Kehadiran alat musik modern, terutama keyboard, telah menuntut adanya
penyesuaian sistem pelarasan (tuning system) pada gamelan Jawa. Pada sisi yang
lain, penggunaan keyboard juga disikapi dengan cara-cara yang berlaku dalam
sistem atau konvensi gending jaranan. Sikap dan tindakan tersebut diambil karena
beberapa pertimbangan, yaitu dorongan kebutuhan musikal (estetika) untuk
membangun keutuhan estetika gending jaranan, serta pertimbangan efektivitas dan
efisiensi dalam penggunaan instrumen musik. Kondisi ini telah menggambarkan
mengenai perubahan citra kesenian jaranan dari kesenian rakyat klasik-tradisional
yang dianggap kaku dan sederhana, menjadi bentuk kesenian tradisional yang lebih
variatif, adaptif, maju, dan modern. Esensi dan nilai tradisonalnya masih tetap
terjaga, meski telah berubah untuk mengikuti perkembangan selera (estetika) akibat
pengaruh perubahan sosial dan budaya yang terjadi di dalamnya