7065 research outputs found
Sort by
PENERAPAN KONSEP HOMEY PADA REDESIGN SEPERDUA CO-WORKING CAFÉ DI SURAKARTA
Fenomena menjamurnya café terjadi di Kota Solo pada 2019 yang
mengarah pada sektor yang intensif pengetahuan yaitu sektor pendidikan. Orang
di dunia akademis memanfaatkan kedai kopi sebagai tempat untuk menyelesaikan
pekerjaan ataupun kegiatan lainnya. Salah satu faktor yang mampu membuat
orang nyaman mengerjakan tugas maupun melakukan aktivitas lain seperti rapat,
pertemuan komunitas, rapat acara, bersosialisasi adalah café / coffee shop.
Hadirnya café / coffee shop di Kota Solo bagi co-worker belum mendukung untuk
menyelesaikan pekerjaannya dengan nyaman maka dari itu cowoker
membutuhkan ruang khusus yaitu café yang menerapkan co-working space.
Metode perancangan melalui 3 tahapan yakni input, sintesa, dan output.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fungsi, pendekatan ergonomi dan
pendekatan teknis. Hasil Perancangan Interior Seperdua Co-Working Café di
Surakarta dengan konsep Homey adalah kenyamanan, keamanan dan keakraban
serta kenyamanan dan keamanan bagi lingkungan, baik dalam hal fasilitas,
kebutuhan sirkulasi udara segar, kebutuhan cahaya alami, pola sirkulasi,
organisasi, suasana yang mempengaruhi mood seperti merasa tenang dan hangat,
serta perabot ruang yang ergonomis sehingga penghuni yang melakukan aktivitas
didalamnya dapat merasakan keleluasaan dan kepuasan dalam beraktivita
PERANCANGAN INTERIOR PERPUSTAKAAN DAERAH KABUPATEN PONOROGO
ABSTRAK
Perancangan Interior Perpustakaan Daerah Kabupaten Ponorogo (Zahrotul
Aviyana). Tugas Akhir Karya S-1 Program Studi Desain Interior, Jurusan
Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Perancangan Interior Perpustakaan Daerah Kabupaten Ponorogo merupakan
perancangan desain bangunan perpustakaan dengan melakukan pengubahan tata
letak bangunan serta pembaharuan ruang yang meliputi perancangan ruang
pelayanan perpustakaan dan penambahan ruang penunjang, serta memberikan
alternatif desain yang memiliki aksesibilitas serta fungsi yang ergonomis. Hal ini
dikarenakan Perpustakaan Daerah Ponorogo belum memiliki fungsi secara
maksimal serta ruang Perpustakaan yang belum memenuhi standar umum
Perpustakaan berupa luasan bangunan ataupun kurangnya penataan layout
ruang dan furnitur. Sehingga tujuan dari perancangan ini adalah untuk
mewujudkan perancangan Interior Perpustakaan Daerah Kabupaten Ponorogo
sebagai tempat yang menunjang dan mewadahi kebutuhan literasi, edukasi serta
pencarian informasi yang ramah sehingga dapat meningkatkan kunjungan ke
Perpustakaan dan meningkatkan minat baca masyarakat Ponorogo. Selain itu,
perancangan ini menerapkan gaya organic modern yang diharapkan dapat
memberikan kesan nyaman, alami, menyenangkan, dan tetap dengan sentuhan
modern, serta dipadukan dengan simbol Batik Merak sebagai batik khas
Ponorogo yang dianggap sebagai alternatif identitas budaya lokal Kabupaten
Ponorogo. Dalam perancangan ini mengadopsi metode penciptaan karya
Pamudji Suptandar yang terdiri dari tahapan yang meliputi Input, Sintesa, dan
Output. Landasan perancangan yang digunakan adalah pendekatan fungsi,
pendekatan ergonomi, dan pendekatan tema dan gaya. Batasan ruang lingkup
garap dalam perancangan ini meliputi lobby, ruang koleksi baca (umum dan anak),
ruang serbaguna, dan kantor pengelola. Perancangan ini menghasilkan perancangan
interior perpustakaan daerah yang diharapkan dapat menunjang fasilitas sesuai
dengan standar nasional perpustakaan dan membuat interior ruang baca yang
aman dan nyaman dari segi ergonomis serta fasilitas yang memadai serta
menarik secara estetika yang ditampilkan
DALAM DUNIA MAYA: HUBUNGAN KECERDASAN BUATAN DAN MANUSIA MELALUI FILM PENDEK VERTIKAL INSTAGRAM
Kemunculan layar vertikal dalam aplikasi Instagram menjadi medium yang umum dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan media tontonan bergeser dari televisi dan bioskop ke media sosial seperti Instagram. Penggunaan medium audio visual dalam Instagram membuat sinema berpotensi mempunyai layar vertikal dan berinteraksi dengan penonton secara digital melalui ponsel pintar. Melalui jaringan internet, interaksi digital dipicu oleh hubungan manusia dengan kecerdasan buatan yang disebut dengan chatbot. Pada perkembangannya, chatbot membuat manusia mempunyai kedekatan dengan kecerdasan buatan.
Melalui layar vertikal, penciptaan film Dalam Dunia Maya berimajinasi bagaimana manusia mengalami hubungan dengan kecerdasan buatan melalui ruang virtual. Penyajian film Dalam Dunia Maya diwujudkan dalam layar vertikal di Instagram yang mempunyai kelebihan untuk lebih dekat pada penonton secara personal. Penyajian tambahan karya diwujudkan dengan instalasi kecerdasan buatan yang memberikan pengalaman pada penonton untuk berinteraksi secara verbal dengan karakter Maya secara langsung. Namun demikian, layar vertikal mempunyai kekurangan dalam menyajikan lanskap ruang yang melingkupi karakter. Proses pembuatan film vertikal membutuhkan konsep penyutradaraan dan unsur naratif yang fokus pada aspek psikologis karakter film. Hal ini menjadi tantangan untuk membuat karakter mudah dipahami oleh penonton sebagai bentuk dari fim pendek yang mempunyai durasi 18 menit
KAJIAN SEMIO-KINESTETIK BEDHAYA WIWAHA SANGASKARA DALAM UPACARA PERKAWINAN DI KERATON KASULTANAN YOGYAKARTA
Pelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna atas simbol dan tanda-tanda yang terdapat dalam Bedhaya Wiwaha Sangaskara terkait dengan upacara perkawinan di Keraton Kasultanan Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan adaptasi, semiotik, hermeneutik, dan komunikasi estetik. Adaptasi digunakan untuk mengetahui struktur Bedhaya Wiwaha Sangaskara. Struktur tersebut selanjutnya di analisis menggunakan pendekatan semiotik dan hermeneutik. Hal itu digunakan untuk mendapatkan pemaknaan dan penafsiran terhadap tanda yang terdapat dalam Bedhaya Wiwaha Sangaskara. Hasil pemaknaan merupakan tafsir pesan yang ingin dikomunikasikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai pengirim pesan kepada penonton atau penerima pesan.
Penelitian ini bersifat kualitatif menggunakan metode analisis dokumen/arsip dengan pendekatan pembacaan paralel, yaitu pembacaan terhadap dua teks yang berbeda. Pertama, teks yang bersumber pada naskah dan kedua, teks yang berupa Tari Bedhaya Wiwaha Sangaskara. Kedua sumber teks dicari kesesuaiannya berdasarkan struktur kemudian dilakukan tafsir makna. Sumber data dibagi menjadi dua besar, yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer penelitian ini adalah Tari Bedhaya Wiwaha Sangaskara. Sumber sekunder penelitian ini adalah naskah, manuskrip, dokumentasi, data kepustakaan, video, dan wawancara. Data-data tersebut dianalisis, dikondensasi, di-display, dan disimpulkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat adaptasi narasi, prosesi, gerakan, adaptasi filosofi elemen-elemen upacara, dan adaptasi pelaku upacara; 2) berbagai tanda atau simbol terdapat pada elemen-elemen pertunjukan Bedhaya Wiwaha Sangaskara yang membentuk makna; 3) Bedhaya Wiwaha Sangaskara menduduki fungsi estetis, edukatif, kultural, dan fungsi legitimasi. 4) Berdasarkan analisis semio-kinestetik ditemukan bahwa tanda-tanda yang terdapat pada elemen-elemen pertunjukan Bedhaya Wiwaha Sangaskara memuat makna kunci keharmonisan rumah tangga dalam perkawinan di Keraton Kasultanan Yogyakart
REDESAIN INTERIOR PADEPOKAN SENI SAROTAMA SEBAGAI WADAH PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN WAYANG KULIT DI KABUPATEN KARANGANYAR
Padepokan Seni Sarotama merupakan tempat atau wadah kesenian wayang kulit yang berperan penting dalam pelestarian dan pengembangan wayang kulit di Kabupaten Karanganyar. Upaya redesain pada Padepokan Seni Sarotama dilakukan agar para seniman dan generasi penerus yang memiliki rasa cinta akan kesenian wayang kulit dapat memiliki sebuah wadah yang tepat dalam melestarikan wayang kulit. Redesain ini bertujuan untuk menjaga eksistensi dari adanya wadah pelestarian dan pengembangan seni wayang kulit dengan penerapan gaya etnik didalamnya. Tujuan tersebut didapat dengan menerapkan metode desain Pamudji Suptandar. Tahap-tahap yang dilalui meliputi tahapan input yang mengacu pada data literatur dan data lapangan, dilanjutkan sintesa atau analisa, kemudian output yang merupakan hasil dari pengolahan (final program). Mengangkat tema tentang motif batik mbok semok yang kemudian diimplementasikan dalam elemen pembentuk ruang dan diselaraskan dengan penerapan gaya etnik didalamnya. Hasil desain dari redesain interior Padepokan Seni Sarotama meliputi berbagai fasilitas yang dapat digunakan guna menunjang segala kegiatan yang ada didalamnya. Berbagai fasilitas tersebut yaitu, ruang pelatihan pedalangan, ruang penyimpanan gamelan, ruang tatah sungging, ruang tata rias, mushola, toilet, ruang pertemuan, kantor, dapur, kantin, ruang perpustakaan, galeri, pos satpam, dan pendhapa yang tertuang dalam bentuk gambar kerja dan 3D animasi. Kelebihan dari karya ini adalah mengangkat unsur lokalitas Kabupaten Karanganyar dan memanfaatkan potensi daerah yaitu keberagaman motif batik sebagai ajang promosi daerah. Kelemahan dari redesain ini adalah kebutuhan biaya yang cukup besar untuk merealisasikan desain.
Kata Kunci : Redesain, Padepokan Seni Sarotama, Wayang Kulit, Pelestarian Seni
SENI PERTUNJUKAN TOR-TOR PEMBANGUN IDENTITAS KOMUNITAS MANDAILING DI KABUPATEN ROKAN HULU, PROVINSI RIAU
Seni pertunjukan merupakan salah satu media penting dalam mengkonstruksi identitas. Sebagai konstruksi identitas seni pertunjukan menegaskan nilai-nilai budaya dan pandangan hidup suatu kelompok. Penelitian ini menjelaskan tor-tor sebagai konstruksi identitas komunitas Mandailing di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Melalui elemen-elemen tari, musik, dan sastra dari pertunjukan tor-tor komunitas Mandailing menegaskan nilai-nilai budaya dan pandangan hidup baik kepada anggota kelompok maupun dunia luar.
Metode penelitian melalui pengamatan langsung terhadap pertunjukan tor-tor, wawancara mendalam dan wawancara naratif. Pengamatan pertunjukan tor-tor dilakukan di Kecamatan Rambah dan Kecamatan Bangun Purba. Narasumber utama penelitian adalah Dolok Hasibuan, seorang paronang-onang atau pembawa syair dalam pertunjukan tor-tor. Narasumber lainnya Siti Duolom, Nurhayati Nasution, Alamsyah Harahap, Samsumar Nasution, dan Musa Pohan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyaknya orang-orang Mandailing di Kabupaten Rokan Hulu baik yang menempati beberapa pemukiman sendiri ataupun tinggal bercampur dengan kelompok lain memberikan dukungan dalam mengembangkan kehidupan sosial budaya yang didasarkan pada identitas yang dibawa dari daerah asal Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Kekerabatan dalihan na tolu dan solidaritas dalam kelompok merupakan nilai-nilai budaya yang sangat penting dari kehidupan komunitas Mandailing di Rokan Hulu yang menegaskan hubungan dengan etnis Mandailing di Tapanuli Selatan. Nilai-nilai ini diwujudkan melalui elemen tari, musik, dan sastra dari pertunjukan tor-tor. Nilai-nilai hubungan kekerabatan melalui tari meliputi bentuk gerakan, posisi berdiri dan urutan pertunjukan; melalui elemen musik kisah keluarga yang dinyanyikan menggambarkan kuatnya kasih sayang dalam keluarga; sementara itu melalui sastra sebagai konstruksi ingatan menggambarkan dan mempengaruhi kasih sayang dalam keluarga dan kelompok. Dalam prosesnya komunitas Mandailing menegosiasikan identitas sebagai cara untuk mendapatkan pengakuan dari kelompok luar. Menegosiasikan identitas dilakukan melalui pertunjukan tor-tor dengan melibatkan kelompok luar menari bersama-sama
KISAH BAPAK RUMAH TANGGA DALAM KARYA PORTRAIT PHOTOGRAPHY
Kisah bapak rumah tangga dalam karya portrait photography merupakan ide gagasan tugas akhir yang berawal dari pengalaman diri sendiri sebagai bapak rumah tangga. Karya ini dikerjakan dengan menggunakan metode pendekatan portrait photography. Penggunaan metode tersebut dirasa cukup untuk menceritakan pengalaman menjadi bapak rumah tangga, sekaligus dapat
memancarkan emosi maupun keunikan dalam setiap jepretannya. Didukung dengan penataan artificial light yang baik, penataan pose dan pemetaan tempat maupun penambahan properti dalam pembuatan karya, sehingga tugas akhir karya ini dapat menjadi salah satu media informasi dan menjadi referensi khususnya
dalam media fotografi. Kurangnya informasi akan peranan bapak rumah tangga di indonesia menjadi alasan penciptaan tugas akhir karya. sehingga tugas akhir karya ini dapat menjadi salah satu media informasi dan menjadi referensi khususnya
dalam media fotografi. Dalam karya Tugas Akhir yang berjudul “Kisah Bapak Rumah Tangga Dalam Karya Portrait Photography” mampu menghasilkan 15 aktivitas yang menceritakan tentang peranan bapak rumah tangga dan siap untuk disajikan dalam bentuk pameran tugas akhir.
Kata Kunci: Portrait Photography, Bapak Rumah Tangga, Artificial Light, Narasi Dir
GERAK AIR DENGAN TEKNIK SLOW SPEED DALAM KARYA FOTOGRAFI LANDSCAPE
“Gerak Air Dengan Teknik Slow Speed Dalam Karya Fotografi Landscape” merupakan ide dari pengalaman empiris penulis yang terinspirasi dari kecintaannya terhadap alam. Penulis memiliki ketertarikan yang kuat terhadap alam dan keindahannya. Kecintaan penulis terhadap alam memotivasi penciptaan karya ini. Untuk merealisasikan ide tersebut, penulis melakukan eksplorasi terhadap berbagai jenis teknik fotografi yang dapat menggambarkan keindahan alam dengan cara yang unik dan menarik serta mencari referensi guna memperkaya ide penulis. Proses penciptaan karya tugas akhir ini menggunakan teknik slow speed dengan gerakan air sebagai objek utama melalui media fotografi landscape. Teknik slow speed merupakan kecepatan lambat yang digunakan untuk menghasilkan gambar dengan efek bergerak pada objek yang bergerak. Pemilihan teknik ini bertujuan untuk menangkap gerakan air dengan lembut. Gerakan air yang cepat dan penggunaan teknik slow speed menimbulkan kesan pada permukaan air menjadi halus dan lembut seperti kapas. Pengambilan foto pada saat air mengalir di sela-sela batu dan ombak menghantam karang memberikan keunikan pada karya ini, melalui perpaduan teknik slow speed dan kombinasi penataan elemen visual. Pencahayaan yang dipakai pada penciptaan tugas akhir ini adalah cahaya alami (availabel light). Menggunakan metode observasi mengenai tempat, referensi karya yang sudah ada, dan filter yang digunakan, eksplorasi meliputi pemilihan lokasi, angle, komposisi dan penggunaan alat, dan eksperimen mengenai teknis, kecepatan, lokasi, waktu, dan situasi
UJIAN PENYAJIAN TUGAS AKHIR FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA PROGRAM STUDI SENI KARAWITAN SKRIPSI KARYA SENI DENGAN JUDUL WANGSAGUNA, GENDHING KETHUK 2 KEREP MINGGAH LADRANG JANGGALANA LARAS SLENDRO PATHET SANGA : SAJIAN MRABOT KAJIAN GARAP GENDER
Skripsi karya seni yang berjudul “Wangsaguna, Gendhing Kethuk 2 Kerep Minggah Ladrang Janggalana Laras Slendro Pathet Sanga: Sajian Mrabot Kajian Garap Gender” ini dibuat dengan tujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan garap genderan gending Wangsaguna dalam sajian mrabot. Sajian mrabot diawali dari lagon Emplek-emplek Ketepu, suwuk. Wangsaguna, Gendhing Kethuk 2 Kerep Minggah Ladrang Janggalana dados Ladrang Wesmester, suwuk. Suluk Jingking Wetah katampen Ayak-ayak Banyumas, terus Srepeg Banyumas, dan Palaran Asmaradana Laras Slendro Pathet Sanga.
Kajian skripsi karya seni ini menganalisis genderan yang meliputi tafsir pathet dan tafsir cengkok pada sajian mrabot Wangsaguna, Gendhing Kethuk 2 Kerep Minggah Ladrang Janggalana. Penelitian skripsi karya seni ini termasuk dalam penelitian kualitatif. Konsep yang digunakan untuk meneliti genderan gendhing Wangsaguna mrabot adalah: konsep gembyang-kempyung, konsep pathet, konsep padhang ulihan, dan konsep garap.
Hasil penelitian yang telah diperoleh menunjukan bahwa gendhing Wangsaguna memiliki tafsir pathet sanga sebagai pathet dominan. Pada bagian Ladrang Janggalana terdapat genderan yang mengadaptasi dari genderan Inggah Ela-ela Kalibeber.
Kata Kunci: Gendhing Wangsaguna, garap, gender, cengkok,pathet
MAJALAH REMAJA DI INDONESIA (1970 – 2019) Transformasi Cover Majalah Remaja dari Media Cetak ke Digital
Dari tahun 1970 hingga 2019, terdapat perubahan signifikan pada sampul visual majalah remaja Indonesia. Perubahan ini dapat memberikan wawasan yang berharga tentang tren yang berlaku dan strategi promosi dalam industri ini, selain itu, telah terjadi pergeseran penting dalam segmentasi pasar di salah satu majalah remaja yang terus berlanjut dari waktu ke waktu. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai dinamika industri majalah remaja dan dampaknya terhadap keberlangsungan publikasi tersebut. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang mencakup dua pendekatan berbeda: (1) pendekatan analisis visual, yang mengacu pada konsep historis periodisasi, untuk mengidentifikasi sampul visual majalah remaja di Indonesia dari tahun 1970 hingga 2019, dan (2) pendekatan interpretatif untuk mengidentifikasi perubahan yang terjadi pada majalah remaja di Indonesia dari tahun 1970 hingga 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk visual sampul majalah remaja di Indonesia dari tahun 1970 hingga 2019 terdiri dari karakter visual dengan perubahan dari ilustrasi tangan ke fotografi, tipografi dekoratif ke tipografi minimalis, dan tata letak yang dinamis ke tata letak bersih yang mengikuti tren estetika modern. Penelitian ini juga mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan majalah remaja di Indonesia, termasuk target pembaca, promosi, dan teknologi. Konsep transformasi-relevansi-eksistensi (TRE) menjelaskan bagaimana majalah remaja di Indonesia beradaptasi dengan kemajuan teknologi, mulai dari evolusi sampul visual hingga strategi promosi (transformasi), dan peran penting dari kualitas konten dan aksesibilitas dalam mempertahankan publikasi (relevansi). Adaptasi ini, ketika diselaraskan dengan selera dan kebiasaan audiens yang dituju (relevansi), memastikan kelangsungan hidup produk (eksistensi)