7065 research outputs found
Sort by
TRADISI PERANG OBOR SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA WAYANG BEBER PADA MEJA DAN KURSI TERAS DENGAN TEKNIK WOOD PRINTING DAN UKIR
DANAR LABRIANSYAH, 1814715, 2023, “TRADISI PERANG OBOR SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA WAYANG BEBER PADA MEJA DAN KURSI TERAS DENGAN TEKNIK WOOD PRINTING DAN UKIR” Deskripsi karya Program Studi: S-1 Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta. Penciptaan tugas akhir “Tradisi Perang Obor Sebagai Ide Penciptaan Karya Wayang Beber pada Meja dan Kursi Teras dengan Teknik Wood Printing dan Ukir” menerapkan motif wayang beber kontemporer ini terinspirasi dari cerita rakyat perang obor dari Jepara. Perang obor merupakan upacara adat yang dilakukan setiap tahunnya tepatnya di Desa Tegalsambi, Jepara. Alasan penulis penulis menerapkan motif wayang beber pada sebuah kursi dan meja teras yakni ingin memperkenalkan salah satu warisan budaya yaitu wayang beber. Penciptaan karya ini divisualisasikan dalam bentuk kursi dan meja teras dengan menggunakan motif wayang beber, dengan material kayu jati dan juga wood printing sebagai elemen hias dari motif wayang beber. Maka dari itu penelitian penciptaan ini menggunakan teori estetika oleh Monroe Beardsley yaitu 3 unsur yang menjadi sifat membuat baik atau memperindah suatu karya estetik yang diciptakan oleh seniman, ketiga unsur tersebut adalah unity(kesatuan), compleksity(kerumitan),intensity(kesungguhan). Untuk metodologi penciptaan menggunakan teori SP. Gustami meliputi tahapan : eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Teknik yang digunakan yaitu ukir dan wood printing. Untuk finishing menggunakan finishing clear. Hasil akhir karya kursi dan meja teras dengan judul Tradisi Perang Obor sebagai Ide Penciptaan Karya Wayang Beber pada Neja dan Kursi Teras dengan Teknik Wood Printing dan Ukir ini berjumlah 3 kursi dan 1 meja. Karya set kursi meja teras ini diharapkan dapat menambah wawasan model dan referensi yang menumbuhkan kreativitas yang lebih
DAMPAK SAMPAH PADA BIOTA LAUT SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI PATUNG
“Dampak Sampah Pada Biota Laut Sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Patung”
merupakan pengalaman dari penulis mengamati dan merasakan dampak sampah
pada biota laut. Pengalaman penulis sebagai pecinta alam sering melakukan
kegiatan sosial membersihkan sampah-sampah pantai. Adanya sampah-sampah
tersebut berdampak pada lingkungan khususnya biota laut. Hal ini menimbulkan
kegelisahan penulis hingga menjadi alasan utama penulis memilih untuk
menjadikan tugas akhir. Tujuan penciptaan karya seni patung pada Tugas Akhir
adalah menciptakan karya yang memiliki makna dampak sampah pada biota laut.
Landasan penciptaan karya terdiri atas konsep non visual dan visual. Tugas akhir
ini menggunakan metode yang dikemukakan oleh L.H Chapman meliputi upaya
menemukan gagasan, menyempurnakan dengan mengembangkan gagasan awal
dan visualisasi ke dalam medium. Hasil karya seni patung dengan sumber
inspirasi dampak sampah pada biota laut, secara tidak langsung menjadi
pengalaman dalam penciptaan karya seni patung assembling dengan
menggunakan teknik las. Selain itu, juga menjadi pembelajaran bagi penulis dan
penikmat karya mengenai pentingnya membuang sampah pada tempatnya dan
bahayanya sampah bagi biota laut
KESENIAN SANDUR TUBAN SEBAGAI IDE CERITA FILM FIKSI PENDEK BALIGH DENGAN GAYA PENYUTRADARAAN NEOREALIS
KESENIAN SANDUR TUBAN SEBAGAI IDE CERITA FILM FIKSI PENDEK BALIGH DENGAN GAYA PENYUTRADARAAN NEOREALIS. (Gempita Swara Trisna Yehosua, i-xii dan 1-109, 2024) Laporan Tugas Akhir Karya, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Film Baligh dilatarbelakangi oleh kesenian Sandur Tuban yang masih mengutamakan adat yang dilakukan sejak turun-temurun yaitu tentang aturan menjadi pemain Sandur harus anak-anak yang belum akil baligh. Tujuan penciptaan ini adalah membuat sebuah karya film fiksi pendek dengan menerapkan teori penyutradaraan neorealis. Tahapan yang dilalui pada pembuatan film Baligh melalui tiga tahapan yaitu praproduksi, produksi dan pascaproduksi. Film Baligh menampilkan sebuah kesenjangan dari tokoh utama yang telah mengalami mimpi basah tanda akil baligh laki-laki yang bertentangan dengan aturan Sandur Tuban. Film Baligh menerapkan beberapa unsur sebagai pembentuk neorealis. Tema realitas sosial, cerita yang sederhana, pemain nonaktor, setting lokasi sesungguhnya, tanpa dubbing dan pengambilan gambar tanpa efek. Film ini juga menggambarkan bagaimana reaksi emosional anak laki-laki yang mengalami telah mengalami mimpi basah atau akil baligh sebagai konflik penghambat tokoh utama sebagai pemain Sandur Tuban. Film Baligh dalam proses penciptaannya masih ditemukan kekurangan dalam mengatur alur dramatis dan mengembangkan karakter pemain
KONSTRUKSI MUSIKAL POP KASIDAH NASIDA RIA : STUDI KASUS LAGU PERDAMAIAN DAN TAHUN 2000
Penelitian ini berjudul “Konstruksi Musikal Kasidah Pop Nasida Ria” dilatar belakangi oleh eksistensi kelompok Nasida Ria dan lagunya yang masih relevan dengan beberapa kondisi masyarakat saat ini. Kelompok ini sudah berdiri dari empat generasi yang lalu dan tetap memainkan garis besar musik yang sama. Melalui fakta tersebut, penelitian diarahkan untuk mengungkap tiga permasalahan yaitu; 1. Bagaimana struktur musikal kasidah Nasida Ria? 2. Bagaimana pengaruh unsur-unsur eksternal mempengaruhi Kasidah? 3. Bagaimana genre musik lagu Perdamaian dan Tahun 2000?
Penelitian ini dilakukan degan menggunakan konsep konstruksi
musikal atau garap dan konsep kreativitas, yang menyatakan bahwa proses pembentukan yang melibatkan pemikiran, perencanaan dan eksekusi. Sementara metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan prosedur pengambilan data melalui pengamatan, studi pustaka, wawancara, langkah analisis data, dan penulisan laporan.
Hasil temuan ini menyatakan bahwa, lagu Perdamian dan Tahun 2000 dekat dengan musik dangdut sehingga mudah diterima oleh masyrakat. Selain itu, dalam sajian pertunjukannya, kelompok musik Nasida Ria memiliki tampilan visual yang menarik baik dari segi kostum maupun alat musik dan gaya musik yang dibawakan. yang khas. temuan berikutnya bahwa lagu perdamaian dan Tahun 2000 bentuk dari kegelisahan pencipta akan kekhawatiran perubahan zaman yang semakin
sulit mencari pekerjaan dimasa depan dan ketakutan tentang dunia yang semakin banyak masalah dan tidak damai.
Kata kunci: Nasida Ria, konstruks
KOMODIFIKASI MOMEN NOSTALGIA: STUDI KASUS MUSIK KOES PLUS GRUP BAND PELITA HATI KARANGANYAR
Penelitian ini mengkaji tentang pertunjukan musik Koes Plus dan komodifikasi momen nostalgia oleh grup Pelita Hati untuk menjelaskan, bagaimana grup Pelita Hati memanfaatkan sebuah memori atau momen nostalgia para penikmat lagu Koes Plus untuk dijadikan komoditas sebagai proses transformasi nilai guna menjadi nilai tukar. Peneliti memaparkan tiga rumusan masalah yang diajukan dalam skripsi karya ilmiah ini yakni: (1) Bagaimana gambaran umum mengenai industri musik pop di masa Koes Plus? (2) Bagaimana proses pertunjukan yang dilakukan Pelita Hati? (3) Bagaimana proses komodifikasi momen nostalgia yang terjadi pada grup Pelita Hati? Guna menelusuri dan memahami fenomena musik dalam konteks pertunjukan momen nostalgia melalui lagu Koes Plus tersebut, maka penelitian ini menggunakan teori komodifikasi khalayak dari Vincent Mosco. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan diuraikan secara deskriptif, dalam pengumpulan datanya menggunakan hasil observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka.
Hasil penelitian ini adalah, adanya proses komodifikasi yang terjadi pada grup band Pelita Hati yang memanfaatkan sebuah memori atau momen nostalgia para penikmat lagu Koes Plus untuk memperoleh keuntungan. Selain itu, grup Pelita Hati juga membawakan kembali lagu-lagu dari Koes Plus dengan kreativitasnya. Dari kedua hal tersebut, Pelita Hati mencoba mereproduksi produk industri yang dicoba untuk dijual kembali. Dalam hal ini dapat diartikan bahwasannya keuntungan tidak hanya didapatkan oleh grup Pelita Hati sendiri, melainkan penanggap dan para penonton pecinta musik Koes Plus.
Kata kunci: Komodifikasi, Nostalgia, Koes Plu
FUNGSI MUSIK RITUAL SINONGKEL DESA PRAMBON DI TRENGGALEK
Skripsi “Fungsi Musik Ritual Sinongkel Desa Prambon Di Trenggalek” difokuskan pada persoalan fungsi musik. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab persoalan: (1) Bagaimana sajian gending ritual Sinongkel (2) Bagaimana fungsi musik karawitan ritual Sinongkel.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, meliputi pengumpulan data, obsevasi, wawancara, analisis data berdasarkan pengamatan, pustaka, dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teori garap Rahayu Supanggah dan teori fungsi musik Allan. P.Merriam.
Musik ritual Sinongkel meggunakan gamelan ageng berupa sajian gending Kalaganjur, Ayak-ayak Sl.Myr dan Ktw. Puspawarna. Musik dalam ritual Sinongkel memiliki fungsi khusus yaitu fungsi estetika, representasi simbolis dan pengesahan lembaga sosial dan ritual keagamaan. Fungsi estetika membahas tentang keindahan pada musik ritual Sinongkel, fungsi representasi simbolis membahas tentang gending sebagai representasi seorang pemimpin, fungsi pengesahan lembaga sosial dan ritual keagamaan membahas tentang musik memiliki peran sebagai sarana ritual.
Kata Kunci: Ritual Sinongkel, garap gending, fungsi musik
TRADISI SADRAN BOYOLALI SEBAGAI SUMBER INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
TRADISI SADRAN BOYOLALI SEBAGAI SUMBER INSPIRASI
PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
Indonesia memiliki beragam budaya dan tradisi yang beragam seperti
tarian daerah, makanan daerah, dan upacara tradisi salah satunya yang di
laksanakan daerah boyolali Jawa Tengah .Boyolali adalah salah satu daerah di
Jawa Tengah , yang berlokasi di dataran tinggi dan mempunyai tanah yang baik
untuk bercocok hingga menghasilkan berbagai sumber pangan seperti
padi,sayur,hingga buah-buahan. di balik daerah yang berlokasi di antara gunung
Merapi dan Merbabu ini mempunyai beraneka ragam kebudayaan yang masih di
laksanakan. Upacara Sadran ini memiliki fungsi agar masyarakan ingat akan
syukur yang sudah mereka rasakan dari alam, dan meningkatkan spiritual antar
manusia dan leluhur yang sudah tiada dengan salah satu kegiatan membersihkan
pemakaman bersama sebelum pelaksanaan doa bersama. Dalam proses
penciptaan seni lukis tugas akhir ini penulis melakukan beberapa tahapan mulai
dari pengamatan persoalan yang akan diangkat sebagai tema dalam seni lukis,
tahap pengolahan data, dan perenungan sampai akhirnya sampai ke tahap konsep
non visual yang kemudian menjadi konsep visual dan memunculkan obyek yang
di dapatkan dari pengamatan untuk diolah menjadi metafor visual dalam karya
seni lukis tugas akhir ini. Gaya lukisan tugas akhir ini memiliki ciri ekspresionis
yang mana obyek nyata atau realitas diolah dengan imajinasi sehingga
memunculkan bentuk-bentuk yang berbeda dari bentuk aslinya dengan
mempertimbangkan komposisi obyek utama dan obyek pendukung serta memberi
banyak warna dan penegasan obyek dengan outline yang kontras dengan obyek
utama
Digital Transformation in the Arts Field: Creating New Collaborations in the Digital Arts Worl
Digital transformation has become a major catalyst in changing the way artists
create and collaborate in the art world. This article examines how technological
advances, including artificial intelligence (AI), augmented reality (AR), virtual
reality (VR), and blockchain, are creating new collaborative opportunities for
artists. These technologies not only expand the mediums and methods of artistic
expression but also introduce new ways for artists to interact and collaborate, both
locally and globally. Through analysis of various case studies and interviews with
artists, this article reveals the significant impact of digitalization on the creative
process and distribution of works of art. In addition, this article also highlights the
challenges faced in adopting digital technology, including copyright issues, data
security, and changing art market dynamics. In doing so, this article provides a
comprehensive view of how digital transformation is driving collaboration and
innovation in the arts world, as well as its implications for the future of the arts
industr
PERANCANGAN INTERIOR CAFÉ DI AREA WISATA TANGGUL ANGIN DESA LENCOH SELO BOYOLALI
v
ABSTRAK
Perancangan Interior café di area wisata Tanggul Angin desa Lencoh
Selo Boyolali merupakan perancangan café yang ditujukan bagi para
wisatawan domestik maupun mancanegara. Bangunan café berada pada
lingkup kompleks wisata Tanggul Angin yang berfungsi memfasilitasi para
pengunjung untuk dapat menikmati pemandangan di antara lereng gunung
Merapi dan Merbabu, serta menyajikan paket destinasi wisata desa lainnya.
Perancangan Interior café di area wisata Tanggul Angin desa Lencoh Selo
Boyolali, mengadopsi proses program desain John M. Kurtz , dengan skema
proses perancangan yang meliputi orientasi, program dasar, pemrograman
interaktif, dan perancangan sebagai umpan balik. Perancangan ini
menggunakan metode pendekatan teknis, pendekatan fungsional, pendekatan
estetika dan pendekatan ergonomis. Desain Café ini, mengangkat gaya
industrial dengan tema kearifan lokal yang menerapkan bentuk riasan pada
tarian Topeng Ireng Selo, sebagai ciri khas atau daya tarik tradisi daerah.
Penerapan tema akan diimplementasikan pada transformasi desain dalam
elemen pembentuk ruang serta pengisi ruang. Batasan ruang lingkup garap
dalam Perancangan Interior café di area wisata Tanggul Angin desa Lencoh
Kajor Selo Boyolali, meliputi Cashier café, dine - in Indoor Area & Outdoor
Area café, Kitchen, staff & management Room, Toilet, Mushola, storage,
parking area, farm market
PERANCANGAN INTERIOR COFFEE RESERVE DI TAWANGMANGU
ABSTRAK
Kopi merupakan salah satu hasil komoditi utama pertanian di Indonesia,
Industri kopi mempunyai kemampuan yang besar dalam menyerap tenaga kerja.
Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu
kecamatan dengan pertanian kopi sebagai usaha tani unggulan bagi
masyarakatnya. Pada masa globalisasi kini, budaya minum kopi sudah menjadi
gaya hidup modern yang menjadi trend dan terus berkembang di masyarakat
Indonesia. Hal tersebut mengembangkan tujuan perancangan Coffee Reserve
sebagai sarana kombinasi unik dari cara menikmati kopi. Sasaran dari Coffee
Reserve adalah orang-orang yang mengerti tentang kopi atau mereka yang ingin
mengenal lebih jauh mengenai kopi. Maka dari itu, untuk mengedukasi
masyarakat dan pengunjung yang ingin menikmati kopi atau sekedar ingin
mengetahui proses pembuatan kopi dari pemetikan hingga menjadi minuman.
Perancangan ini diharapkan menjadi wadah exprerience baru bagi masyarakat
untuk mengenal kopi. Perancangan Coffee Reserve di Tawangmangu
menggunakan pendekatan fungsi, ergonomi, tema dan gaya. Beberapa pendekatan
inilah yang mengakomodasi proses perancangan sehingga memenuhi kebutuhan
Coffee Reserve dengan maksimal.
Perancangan Coffee Reserve di Tawangmangu menggunakan metode oleh
Pamudji Suptandar yang memiliki tahapan menonjol berupa alternatif desain
sebagai langkah dalam menentukan desain akhir perancangan. Oleh karena itu,
natural modern akhirnya dipilih sebagai tema dan gaya perancangan. Konsep
tersebut menghasilkan desain bioklimatik yang menyesuaikan perubahan iklim
dan kehidupan sekitar sehingga desain memiliki keberlanjutan secara baik