7065 research outputs found
Sort by
HASRAT IBU PADA ANAK SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
Hasrat orang tua terhadap anak adalah salah satu bentuk hubungan
emosional yang penuh makna, yang sering kali menjadi sumber inspirasi dalam
karya seni. Penelitian ini menggali dinamika perasaan, harapan, dan cita-cita
orang tua sebagai ide dasar dalam proses penciptaan seni lukis. Melalui
pendekatan reflektif, berbagai emosi yang muncul dari hubungan ini dituangkan
ke dalam karya visual yang kaya akan simbolisme. Hasilnya adalah karya seni
yang tidak hanya merepresentasikan kasih sayang dan perjuangan, tetapi juga
mengundang audiens untuk merenungkan makna mendalam dari hubungan orang
tua dan anak. Penelitian ini menunjukkan bagaimana seni lukis dapat menjadi
medium untuk mengungkapkan pengalaman universal sekaligus personal, serta
menjadi ruang untuk memahami hubungan manusia dengan cara yang lebih intim
dan mendalam.
Penciptaan karya Tugas Akhir ini menggunakan pendekatan gaya pittura
metafisika, dalam mewujudkan pengolahan komposisi bentuk yang masih sesuai
dengan bentuk aslinya dengan konsep berasal dari alam bawah sadar sehingga
karya menampakkan teka-teki dan asing. Penciptaan karya Tugas Akhir ini
menggunakan metode penciptaan Graham Wallas, yang meliputi tahap persiapan,
inkubasi, inspirasi, dan elaborsi, untuk menggali dan merealisasikan ide-ide seni
lukis.
Penciptaan karya lukis Tugas Akhir dengan judul ―Hasrat Ibu Pada Anak
Sebagai Sumber Ide Penciptaan Karya Tugas Akhir Seni Lukis‖ menghasilkan 8
karya lukis yang berjudul
BLUEPRINT KALIMANTAN SAAT INI : KONTINUITAS DAN TANTANGAN
Buku berjudul “Blueprint Kalimantan” Kontinuitas dan Tantangan” berisi informasi dan pengetahuan mengenai : Wacana dan Harapan Energi Terbarukan di Kalimantan Paru-Paru Dunia: Masihkah Hutan Kalimantan Istimewa?, Kelas Menengah Kalimantan Ditengah Perubahan Iklim, Ekonomi Nasional dan Global, Diaspora Sekumpul: Majelis, Haul, dan Makna Beragama, Tanah: Krisis dan Masa Depan Agraria di Kalimantan,Pangan Lokal Vs Pangan Pasar: Membaca Ulang,Ketahanan Pangan Orang Kalimantan,Tata Kota dan Arah Pembangunan Kalimantan,Pemimpin Ideal Kalimantan: Kini dan Akan Datang, Eko-Teologi dan Ekonomi Kawasan di Kalimantan,Model dan Eksistensi Perempuan Adat Kalimantan
Titiek Puspa, Kupu-Kupu Malam, dan Realitas yang Terlupakan
Tulisan ini merupakan penghormatan kritis atas karya dan warisan budaya Titiek Puspa, menyusul wafatnya sang maestro pada 10 April 2025. Fokus utama diarahkan pada lagu legendaris “Kupu-Kupu Malam,” sebuah karya yang menembus batas estetika pop dan menyentuh persoalan sosial yang kerap dipinggirkan—yakni kehidupan perempuan pekerja seks. Aris Setiawan membedah lagu ini sebagai bentuk keberanian musikal dan empati kultural dari Titiek Puspa, yang menyampaikan kritik sosial dengan cara yang lembut, puitis, namun menusuk. Dalam tulisan ini, “Kupu-Kupu Malam” dibaca sebagai narasi tentang kemanusiaan, di mana musik menjadi ruang untuk memahami dan merangkul kompleksitas hidup yang sering kali ditutupi stigma. Wafatnya Titiek Puspa menjadi momen reflektif untuk menghidupkan kembali pentingnya lagu-lagu yang menyuarakan nurani sosial. Artikel ini tidak hanya mengenang kiprah seorang legenda, tetapi juga menekankan bahwa karya seperti “Kupu-Kupu Malam” adalah bentuk keberpihakan yang relevan lintas generasi. Di tengah gemuruh industri musik modern, suara Titiek Puspa tetap menjadi gema nurani yang jernih dan tak tergantikan
VISUALISASI PENCEMARAN EKOSISTEM LAUT DALAM MOTIF BATIK BUSANA READY TO WEAR DELUXE
Tugas akhir karya dengan judul “Visualisasi Pencemaran Ekosistem Laut
dalam Busana
Ready to Wear Deluxe” dengan inspirasi keadaan laut yang
tercemar terutama sampah plastik. Berdasarkan data neraca Menurut
laporan sampah (SIPSN) tahun 2021, produksi sampah Kabupaten Pacitan
mencapai 104.654,83 ton per tahun. Pembuatan karya ini
mengembangkan konsep visualisasi pencemaran ekosistem laut dalam
batik busana
ready-to-wear deluxe sebagai alat komunikasi visual untuk
meningkatkan kesadaran lingkungan. Karya ini menggabungkan teknik
batik tulis dengan desain kontemporer, menampilkan dampak
pencemaran laut terhadap ekosistem laut. Hasil karya ini menunjukkan
potensi batik sebagai media edukasi lingkungan yang efektif. Proses
pembuatan tugas akhir ini memerlukan 4 tahap, meliputi tahap eksplorasi,
inkubasi, konseptualisasi, dan materialisasi atau perwujudan. Pembuatan
karya dengan teknik batik tulis dengan pewarna alam yaitu
Indigofera
trobilanthes cusia, mangrove, dan manjakani. Hasil penciptaan karya
menghasilkan 4 karya
ready to wear deluxe dengan judul
Windasa,
Antarlina, Drigama, dan Duskarta
USER CENTERED DESIGN SEBAGAI METODE PERANCANGAN UI/UX WEBSITE LOKANANTA
Lokananta adalah salah satu studio musik yang menjadi tonggak sejarah penting permusikan nusantara. Lokananta mengalami kejayaan pada dekade 60’- 70’an dengan musisi-musisi yang pernah merekam karya musik disana, seperti Waldjinah, Gesang, Titiek Puspa, sampai Bing Slamet. Setelah sekian lama seakan
tenggelam dan terlupakan, Lokananta berusaha bangkit setelah mengalami revitalisasi yang dimulai pada tahun 2022. Setelah direvitalisasi, Lokananta berusaha tetap relevan dengan perkembangan jaman. Pemanfaatan media sosial sebagai media komunikasi dan informasi menjadi salah satu contohnya. Namun,
tak selamanya kecepatan arus informasi menjadi nilai tambah. Sistem yang dimiliki sekarang masih memiliki kelemahan, seperti tidak efisiennya proses reservasi tiket, dan tidak terorganisirnya informasi terkait Lokananta pada media sosial mereka. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perancangan website ini menggunakan metode User Centered Design (UCD). Metode UCD adalah metode yang menjadikan pengguna sebagai fokus utamanya. Output dari pengkaryaan ini adalah prototype website Lokananta. Hasil perancangan yang berupa prototype yang sudah diuji coba dengan usability testing menunjukkan tingkat keberhasilan yang tinggi. Uji kegunaan dengan skor tinggi menunjukkan bahwa website Lokananta yang sudah dirancang berfungsi dengan baik dan mudah dioperasikan oleh pengguna.
Kata kunci : Lokananta, website, UI/UX, User Centered Desig
REPRESENTASI GAYA SUREALISME DAN DYSTOPIAN DALAM DESAIN SAMPUL ALBUM BAND RADIOHEAD MELALUI ELEMEN DESAIN TIMOTHY SAMARA
Musik yang pada awal perkembangannya hanya sebagai sarana hiburan, kini telah berevolusi menjadi sebuah industri yang melibatkan jutaan orang di seluruh dunia. Dalam industri musik, hal yang lumrah dilakukan oleh para musisi atau label rekaman adalah mengemas musik yang mereka produksi dengan sebuah karya visual, yakni sampul album. Sampul album dapat diibaratkan sebagai wajah, identitas dan sekaligus menambah daya jual suatu album musik di pasaran. Dewasa ini, desain sampul album mulai meninggalkan elemen-elemen desain dan mulai kehilangan gaya visualnya. Salah satu grup musik yang sadar akan pentingnya desain dari sampul album musik mereka adalah Radiohead, sebuah band rock yang dibentuk pada tahun 1985 di Oxford, Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji elemen-elemen desain yang diimplementasikan pada desain sampul album Radiohead yang telah mencapai lebih dari 1 miliar stream di Spotify meliputi album Pablo Honey, The Bends, OK Computer, dan In Rainbows yang dikaji berdasarkan teori elemen desain Timothy Samara, yakni bentuk dan ruang, warna, tipografi, gambar, dan layout, serta mengkaji gaya visual surealisme dan dystopian di dalamnya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode analisis Miles & Huberman. Dari proses analisis ditemukan representasi dari gaya surealisme pada album Pablo Honey dan In Rainbows, serta ditemukan representasi gaya dystopian pada desain sampul album OK Computer dan The Bends melalui aspek warna, tipografi, dan gambar-gambar yang mendukung kedua gaya tersebut.
Kata Kunci: Radiohead, Elemen Desain, Sampul Album, Surealisme, Dystopia
BATIK ABSTRAKAN: INOVASI DALAM KEMUNCULAN DAN KELANGSUNGAN JENIS BATIK
Batik Abstrakan merupakan salah satu jenis batik yang ada di wilayah perbatikan Yogyakarta dan Surakarta, dengan ragam hias bermotif abstrak. Jenis batik ini muncul dan berkembang karena adanya inovasi. Inovasi yang menjadikan batik Abstrakan muncul dan terus berkembangan sampai saat ini merupakan fenomena penting sebagai bagian dari dinamika kelangsungan kehidupan batik yang belum pernah dibahas secara komprehensif. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian tentang inovasi batik Abstrakan meliputi: 1) Latar belakang terjadinya inovasi; 2) Proses terjadinya inovasi 3) Bentuk inovasi; 4) Dampak inovasi.
Penelitian ini merupakan penelitian fundamental dengan metode kualitatif dalam bentuk studi kasus longitudinal. Sumber data yang digunakan adalah narasumber atau informan, artefak, aktivitas, dokumen, dan pustaka, dengan lokasi penelitian di wilayah perbatikan Yogyakarta dan Surakarta. Penelitian diawali dengan penjelajahan, kemudian pendeskripsian secara rinci dan mendalam, dan diakhiri dengan studi dengan analisis hubungan kausal.
Hasil penelitian memberikan penjelasan bahwa terjadinya inovasi dalam kemunculan dan kelangsungan batik Abstrakan terjadi dalam konteks batik sebagai seni tekstil tradisi bertemu dengan seni rupa modern pada zaman dengan semangat modernisasi. Dalam konteks tersebut terdapat empat faktor pendorong inovasi, yaitu: penurunan minat terhadap karya yang ada, dukungan atas pembaruan, keahlian dalam batik, dan kreativitas sesuai dengan jiwa zaman. Proses inovasi yang menjadikan jenis batik tersebut muncul dan terus berkembang sampai saai ini melalui metode yang terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu: kreasi, promosi, dan negosiasi. Bentuk inovasi dalam batik Abstrakan adalah mengembangkan batik eksklusif dengan ragam hias abstrak bermotif bimorfis, tekstur semerta, tatasusun pola tunggal informal, dibuat dengan teknik manual. Kemunculan dan kelangsungan batik Abstrakan memiliki dampak positif secara langsung terhadap eksistensi batik, dan dampak tambahan pada pada bidang ekonomi, seni, dan budaya.. Disertasi ini menghasilkan temuan bahwa inovasi dalam kemunculan dan kelangsungan batik Abstrakan menjaga eksistensi batik sebagai seni tekstil tradisi di era modern melalui modernisasi visual, fungsi, dan nama, dengan mempertahankan batik sebagai teknik pewarnaan rintang menggunakan cairan malam panas secara manual sebagai antitesis dari tekstil cetak, baik mekanikal maupun digital
REINTERPRETASI ADAB JAWA DALAM KARYA SENI LUKIS: PERSPEKTIF GENERASI Z DAN ALPHA
Manusia dikategorikan ke dalam beberapa generasi untuk memudahkan
pembeda, salah satunya generasi Z dan Alpha lahir yang lahir di era modern.
Anak-anak memiliki potensi yang sangat besar dan mengalami fase
perkembangan yang berbeda. Salah satu aspek penting adalah adab. Pendidikan
adab berperilaku sangat penting dalam pendidikan anak usia dini. Namun,
generasi Z dan Alpha menghadapi kemerosotan perilaku karena perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Keluarga memainkan peran penting dalam
membentuk perilaku anak, terutama bagi generasi Z dan Alpha. Tanpa bimbingan
dan pengawasan yang tepat, anak-anak akan kesulitan untuk bersosialisasi dan
membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Seni lukis merupakan media
yang ampuh untuk mengekspresikan perasaan dan menyampaikan gagasan,
metode penciptaan karya menggunakan landasan teori dari L.H Chapman yang
memiliki 3 tahapan, yaitu 1. awal mula munculnya ide, 2. Elaborasi dan
Penyempurnaan, 3. Visualisasi ke dalam Medium. Terciptalah delapan karya
yang memvisualisasikan robot dan figur lego yang dipinjam, serta batik yang
menambah kesan bahwa hal ini terjadi di Indonesia. Berdasarkan latar belakang
penciptaan yang diungkapkan dengan visualisasi “Reinterpretasi Adab Jawa
Dalam Karya Seni Lukis: Perspektif Generasi Z dan Alpha” merupakan
pemilihan judul yang memberikan motivasi kepada diri sendiri dan orang lain,
yang mengalami masalah yang sama yaitu perilaku anak yang mulai kurang
memiliki moral dan tata krama
PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK USIA 7-9 TAHUN MELALUI PERANCANGAN MEDIA EDUKASI BUKU INTERAKTIF PARTISIPASI
Kekerasan seksual yang terjadi pada anak menjadi masalah yang sangat serius di Indonesia. Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan kenaikan kasus kekerasan seksual sebanyak 1.344 kasus dari tahun 2022 ke tahun 2023. Sementara itu pemberian pendidikan seksual pada anak khususnya usia 7-9 tahun masih sangat minim dengan media edukasi yang terbatas. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memberikan edukasi seksual pada anak melalui media edukasi yang sesuai dengan perkembangannya. Edukasi seksual bertujuan untuk mengajarkan anak cara melindungi dirinya dan mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak. Pengumpulan data menggunakan data kualitatif yang terdiri dari observasi, wawancara, survei, dokumentasi dan studi literatur. Metode design thinking dengan lima tahapan yang terdiri dari emphatize, define, ideate, prototype dan test digunakan untuk merancang buku interaktif pencegahan kekerasan seksual. Media buku interaktif dengan cerita, ilustrasi dan beragam aktivitas interaktif yang menarik, mampu dalam memberikan pemahaman terkait pendidikan seksual sekaligus mengembangkan aspek kognitif, motorik, emosional dan sosial anak.
Kata Kunci: Buku Interaktif Partisipasi, Design Thinking, Pencegahan Kekerasan Seksual, Media Edukas
Di Balik Konflik Royalti, AI Siap Mencuri
Industri musik Indonesia menghadapi dilema ganda: konflik internal soal distribusi royalti antara pencipta lagu dan penyanyi, serta ancaman eksternal berupa manipulasi kecerdasan buatan (AI) dalam produksi dan distribusi musik digital. Ketidaksepakatan interpretasi terhadap Undang-Undang Hak Cipta, khususnya tentang peran Lembaga Manajemen Kolektif (LMK), telah menciptakan ketimpangan distribusi royalti di level nasional. Sementara itu, kasus global seperti manipulasi 4 miliar stream palsu oleh Michael Smith di AS, menggunakan musik generatif AI, menunjukkan bahwa teknologi telah dimanfaatkan untuk mengklaim royalti secara ilegal. Di Indonesia, sistem pengawasan royalti masih belum mampu menjangkau fenomena semacam ini. Jika tidak segera diperkuat dengan sistem pelacakan digital dan regulasi khusus AI, royalti yang sah berisiko direbut oleh entitas non-manusia. Artikel ini menggarisbawahi pentingnya reformasi menyeluruh dalam tata kelola royalti, termasuk audit terbuka, kolaborasi lintas institusi, dan adaptasi teknologi. Tanpa kesiapan menghadapi gelombang disruptif ini, Indonesia bukan hanya akan kehilangan pendapatan legal para pencipta, tetapi juga berisiko runtuhnya ekosistem musik nasional