Warmadewa University

Universitas Warmadewa
Not a member yet
    2000 research outputs found

    Identifikasi Pemanfaatan Daerah Sempadan Sungai Tukad Petanu

    Get PDF
    Sempadan sungai merupakan suatu kawasan yang mempunyai manfaat untuk mempertahankan kegiatan perlindungan, penggunaan dan pengendalian atas sumber daya yang ada pada sungai. Tukad Petanu merupakan sungai yang melintasi Kabupaten Gianyar yang memiliki fungsi sebagai sumber air untuk daerah irigasi, areal tempat suci, areal pariwisata air terjun dan tetap sebagai fungsi utama yaitu saluran pembuangan limbah rumah tangga dan industri rumah tangga disekitar sungai.Untuk mengetahui lebar minimal sempadan sungai di Tukad Petanu dilakukan analisa terhadap peraturan-peraturan yang terkait dengan sempadan sungai. Untuk mengetahui pemanfaatan daerah sempadan sungai dilakukan dengan penelusuran alur sungai Tukad Petanu dari hilir menuju hulu sejauh 10 km dengan menggunakan GPS dan melakukan analisa citra satelit google earth. Hasil menunjukkan bahwa lebar sempadan sungai di Tukad Petanu antara 10 meter sampai dengan 100 meter yang disesuaikan dengan kriteria dan kondisi daerahnya. Pemanfaatan lahan pada daerah sempadan sungai Tukad Petanu didominasi oleh lahan kosong, sawah. Namun ada beberapa pemanfaatan lain seperti penambangan batu paras, permukiman, villa, resort, tempat hunian, tempat ibadah

    Buku Bahan Ajar Pencemaran Lingkungan

    Get PDF
    Buku Bahan Ajar ini diperoleh dari beberapa referensi buku, hasil diskusi, pengembangan hasil penelitian pencemaran dan bahan – bahan dari praktisi, kebijakan pemerintah dan penelitian pencemaran lingkungan. Buku bahan ajar ini diharapkan mahasiswa mampu memahami dan mengembangkan ilmu lingkungan khususnya pencemaran. Pencemaran merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan lingkungan. Penyebab pencemaran ini selain disebabkan oleh aktivitas manusia juga dapat ditimbulkan oleh kegiatan alamiPencemaran berlangsung dimana-mana dengan laju yang begitu cepat,kecenderungan pencemaran, terutama sejak Perang Dunia kedua mengarah kepada dua hal yaitu, pembuangan senyawa kimia tertentu yang makin meningkat terutama akibat kegiatan industri dan transportasi. Yang lainnya akibat penggunaan berbagai produk bioksida dan bahan-bahan berbahaya aktivitas manusia

    KUALITAS AIR MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN

    Get PDF
    Kualitas air sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat dan lingkungan. Kualitas air merupakan bagian dari kualitas lingkungan yang berintegrasi secara sinergis dalam mempengaruhi keberlanjutan penanian. Kualitas air yang dapat digunakan sebagai air irigasi berdasarkan Peratiiran Pemerintah No. 82 tahun 2001 adalah air yang tergolong kelas 2 - 4. Pertanian berkelanjutan merupakan sistem pertanian yang mengakomodasi aspek lingkungan, sosial dari ekonomi masyarakat. Untuk dapat melakukan sistem pertanian berkelanjutan maka diperlukan kemampuan untuk mengkornbinasikan sektor-sektor yang berhubungan dengan pertanian, yaiui produksi pertanian, pengelolaan lahan, penggunaan dan kualitas air, koservasi alam di lahan pertanian, masyarakat pedesaari dan pengelolaan terpadu. Kualitas air memiliki hubungan yang erat dengan pertanian berkelanjutan. Aktivitas pertanian (terutama yang dilakukan dengan ktirang bijaksana) umumnya menurunkan kualitas air khususnya air permukaan dan air bawah tanah. Disisi lain, pertanian memerlukan kualitas air yang baik untuk menjamin kuantitas, kualitas dan kesehatan produk pangan dan serat yang dihasilkan. Polutan yang umumnya berasal dari aktivitas pertanian meliputi sediment (fraksi tanah); un<=ur hara (terutama nitrogen dan fosfor); pestisida, herbisida dan fungisida, mikroba pathogen; logam berat dan garam. Pengendalian kualitas air sehubungan dengan aktivitas pertanian dapat dilakukan dengan mengevaluasi teknologi pengolahan tanah dan teknik budidaya yang digunakan untuk mengurangi potensi pencemaran serta pemberian insentif untuk m,rangsang petani atau pelaku usahatani bersemangat dalam mengelola lingkungannya secara benar dan sehat dalam melakukan kegitan usahatani

    PERENCANAAN SIMPANG BERSINYAL PADA SIMPANG CIUNG WANARA DI KABUPATEN GIANYAR

    Get PDF
    Taman kota Gianyar yang terletak di simpang Ciung Wanara merupakan salah satu simbol kota Gianyar. Pemerintah daerah berencana untuk merevitalisasi taman kota yang berakibat perubahan arah arus lalu lintas pada simpang Ciung Wanara. Perubahan ini mengakibatkan perubahan kinerja simpang bersinyal, sehingga perencanaan ini bertujuan untuk mengetahui kinerja simpang Ciung Wanara saat ini dan kinerja setelah mengalami perubahan arah arus lalu lintas. Data yang digunakan terdiri dari data primer (data volume lalu lintas dan pengaturan sinyal) serta data sekunder (data jumlah penduduk dan geometri simpang). Hasil perhitungan kinerja simpang Ciung Wanara saat ini menghasilkan Derajat Kejenuhan 0,87 – 0,90 dan tundaan 21 – 37 detik (tingkat pelayanan D). Pengaturan simpang Ciung Wanara dengan 2 fase menghasilkan Derajat Kejenuhan 0,44 – 0,91 dan tundaan 14 – 30 detik (tingkat pelayanan D). Pengaturan dengan 3 fase mengasilkan Derajat Kejenuhan 0,61 – 1,26 dan tundaan 29 – 512 detik (tingkat pelayanan F). Pengaturan dengan 2 fase dan perubahan lebar pendekat Selatan dan Timur menghasilkan Derajat Kejenuhan 0,55 – 0,77 dan tundaan 19 – 27 detik (tingkat pelayanan C)

    KONSEP TOPOGRAFI ALAMI “HULU-TEBEN” DI BANJAR GUNUNGSARI DESA KAWASAN WISATA DESA JATILUWIH

    Get PDF
    Konsep Hulu-Teben merupakan hirarkhi ruang di Bali yang dikenal sebagai ruang sakral dan profan. Di Banjar Gunungsari Desa kawasan desa Jatiluwih, hirarkhi ini sudah ada sejak desa ini terbentuk. Kealamian tata ruang ini selayaknya harus dijaga dari perkembangan dinamisasi pembangunan. Apalagi kawasan ini telah dinobatkan sebagai Warisan Budaya Dunia pada 29 Juni 2012. Konsep Hulu-Teben ini agar tetap dipertahankan untuk menjaga struktur sosial dan budaya di desa Jatiluwih. Sistem pengelolaan sinergis antara pemerintah dan masyarakat Jatiluwih sangat perlu diperhatikan baik dalam hal perencanaan, pengawasan dan evaluasi. Dalam bidang perencanaan, pengawasan dan evaluasi perlu pelibatan masyarakat secara komprehensif. Analisa dalam tata guna lahan, sistem pergerakan dan pemanfaatan ruang dilakukan dengan pendekatan community development program, yang diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Kegiatan yang dilakukan antara lain: depth interview dengan tokoh masyarakat, wawancara dengan warga dan pemerintah kabupaten Tabanan yang membidangi tata ruang dan sosial. Hasil penelitian ini antara lain dari aspek perencanaan: 1) kebutuhan warga terhadap perencanaan fasilitas fisik bangunan publik (18%); 2) infrastruktur desa (20%); 3) Fasilitas penunjang pariwisata (25%); 4) pengembangan seni dan budaya (10%) dan pelestarian sistem subak dan infrastruktur pengairan (27%). Dari aspek pengelolaan: peran serta warga yang dilibatkan dalam pengelolaan (60%) dan pemerintah (40%)

    Pura Kahyangan Jagat Masceti Gianyar

    Get PDF
    ulau Bali terkenal dengan sebutan pulau seribu pura (the thousand of temples), baik di nusantara maupun di dunia (mancanagara). Wacana klasik tentang hal tersebut tidaklah berlebihan, oleh karena fakta realitas di lapangan memberi persaksian bahwa banyak pura dan ribuan jumlahnya menghiasi pulau dewata. Bilamana dikelompokkan berdasarkan atas karakternya, dapat dikategorikan menjadi empat kelompok besar, yaitu: Pura Umum, Pura Teritorial, Pura Fungsional (swagina), dan Pura Genealogis (Ardana, 1971). Agar keberadaan pura yang jumlahnya begitu banyak dapat menjadi jelas statusnya, termasuk kedalam kelompok mana pura yang dimaksud, sehingga lebih mudah untuk diketahui. Untuk itu, pura-pura yang tergolong Pura Umum, adalah: Pura Sad Kahyangan, Kahyangan Jagat dan Dang Kahyangan; Pura Teritorial (Kahyangan Tiga), yaitu: Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem: Pura Fungsional (swagina), yaitu: Pura Ulun Suwi (Siwi), Pura Ulun Carik, Pura Bedugul, Pura Melanting dan yang sejenisnya; dan Pura Genealogis yaitu pura yang terkait dengan hubungan (keturunan) darah, yaitu: Pedarmaan, Paibon, Panti, Merajan, Sanggah Kemulan, dan yang sejenisnya. Selama ini yang menjadi pertanyaan buat siapa pun yang datang ke Bali, termasuk warga masyarakat Bali, adalah: Mengapa di Bali banyak pura? Mungkin alasan yang paling tepat untuk dijadikan argumentasi adalah dengan merenung kembali 2 sejenak ke masa silam. Patut disadari bahwa sejak kehadiran tokoh-tokoh agama dan spiritual di Bali, seperti: Resi Markandia, Mpu Kuturan, Dang Hyang Astapaka, Dang Hyang Sidimantra, Dang Hyang Nirartha dan tokoh-tokoh agama dan spiritual Hindu lainnya, berdasarkan sumber-sumber yang ada bak sumber tradisi, purana, artepak, prasasti maupun yang lainnya, disebutkan bahwa semua tokoh tersebut memiliki tradisi membangun pura. Sebagai umat Hindu, mewarisi tradisi yang ditinggalkannya, sudah sepatutnya memiliki tanggung jawab moral untuk memelihara dan melestarikannya. Karena sifat flesibelitas Agama Hindu dalam menyikapi jaman, sehingga apa yang diwariskan dan selanjutnya ditradisikan dari generasi ke generasi berikutnya tentu disesuaikan dengan tuntutan jaman. Ketika berbicara pewarisan suatu tradisi yang sampai kepada kita saat ini, bahwa suatu hal positif yang perlu ditauladani berkenaan dengan tradisi masa lalu adalah kebiasaan mengabadikan atau menulis peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di jamannya. Sebagai contoh yang dilakukan oleh para raja dari dinasti Warmadewa di zaman Bali Kuna,di antaranya yaitu Sri Kesari Warmadewa, Candrabhayasingha Warmadewa, Dharma Udayana Warmadewa, Marakata, Anakwungsu, dan seterusnya sampai dengan pemerintahan Sri Asta Asura Ratna Bhumi Banten, raja Bali Kuna yang terakhir (Goris, 1951/52); kemudian pemerintahan raja-raja dari dinasti Kepakisan, seperti: Sri Kresna Kepakisan di Samprangan, Dalem Ketut Ngulesir, di Gelgel, dan Dewa Agung Jambe di Klungkung, Dewa Agung Pemayun dalam pengembaraannya (Tim Peneliti Penulisan Sejarah Bali, 1980), dan lain-lainnya. Hampir semua tokoh yang disebutkan di atas, cukup banyak meninggalkan catatan-catatan tertulis, dan patut disyukuri bahwa beberapa di antaranya telah sampai kepada kita saat ini. Dengan demikian, kita yang hidup sekarang sebagai generasi penerusnya, dapat 3 mengetahui bagaimana tentang kehidupannya di masa silam. Walaupun pengetahuan yang didapatkan terbatas adanya, namun setidaknya ada bayangan sekilas, tentang apa yang telah diperbuat ketika masa pengabdiannya. Berbeda halnya dengan keberadaan tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, namun ketika berbicara tentang tinggalan (warisan) budaya masa lalu, khususnya warisan budaya yang berupa bangunan suci (pura), kebanyakan terjadi yang sebaliknya. Sudah menjadi masalah klasik, bilamana ingin meneliti dan menulis tentang purana pura, kebanyakan para peneliti mengalami kesulitan dalam hal mendapatkan sumbersumber tertulis tentang pura yang ditelitinya, khususnya dalam upaya penentuan periode tahun pendiriannya. Ketahuilah bahwa tidak semua pura di Bali yang ribuan jumlahnya terutama yang tergolong berusia tua diketahui dengan jelas, kapan dan siapa yang mendirikannya. Sehubungan dengan pembicaraan di atas, hal yang serupa juga kami alami dalam penelitian di Pura Masceti, bahwa sumber-sumber tertulis berupa prasasti yang merujuk kepada tahun pendirian pura, sama sekali tidak ada. Maka untuk mendapatkan gambaran tentang periode pendiriannya, dicoba melalui kajian yang saksama terhadap artepak-artepak yang ada dan dipandu dengan eksistensi alam lingkungan di sekitarnya, mitos yang berkembang di masyarakat, purana, dan sebagainya. Melalui langkah tersebut diupayakan dengan maksimal untuk memperoleh gambaran tentang periodisasi pendirian Pura Masceti. Untuk lebih jelasnya, pada bagian berikut akan dibahas aspek-aspek yang dipandang prinsip untuk diketahui berkenaan dengan Pura Masceti, yang akan disajikan dalam beberapa Bab, yaitu pada Bab II dibahas tentang Sejarah Pura Masceti; Bab III dibahas tentang Struktur Pura, Fungsi Pura dan Status Pura Masceti; dan pada Bab IV sebagai bagian akhir dari tulisan ini, dibahas tentang Pangemong, Panyungsung, Upacara Piodalan, Pemangku dan prajuru Pura Masceti

    PERENCANAAN RUAS JALAN RAYA YANG MENGHUBUNGKAN DISTRIT ERMERA DAN SUB-DISTRIT HATOLIA

    Get PDF
    Jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan unsur penting dalam pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa, wilayah negara, dan fungsi masyarakat serta dalam memajukan kesejahteraan umum sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jalan sebagai sarana transportasi nasional mempunyai peranan penting terutama dalam mendukung bidang ekonomi, sosial dan budaya serta lingkungan dan dikembangkan melalui pendekatan pengembangan wilayah agar tercapai keseimbangan dan pemerataan, pembangunan antar daerah, membentuk dan memperkukuh kesatuan nasional untuk memantapkan pertahanan dan keamanan nasional, serta membentuk struktur dalam rangka mewujudkan sasaran pembangunan nasional

    ANALISA PROGRAM PERCEPATAN PADA PROYEK KONSTRUKSI DENGAN METODE PENAMBAHAN JAM KERJA (STUDI KASUS PROYEK PEMBANGUNAN AGRANUSA SIGNATURE VILLA NUSA DUA BALI)

    Get PDF
    Pengendalian proyek konstruksi dilakukan agar pelaksanaan proyek dapat sesuai dengan waktu dan biaya yang telah direncan kan sebelum proyek dilaksanakan, pengendalian proyek dapat dilakukan dengan menggunakan metode earned value untuk memperkirakan apakah proyek telah dilaksanakan sesuai dengan agaran dan waktu yang direncanakan atau menyimpang dari rencana. Serta dapat dilakukan percepatan apabila proyek mengalami keterlambatan. Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui penerapan pengendalian proyek dengan analisis earned value dan percepatan proyek dengan penambahan jam kerja. Penulisan tugas akhir ini membutuhkan data seperti time schedule, rekapitulasi biaya anggaran proyek, laporan progress mingguan proyek serta laporan akuntansi proyek. Analisis dengan metode earned value memberikan informasi berupa perkiraan waktu pekerjaan tersisa (ETS), perkiraan total waktu (EAS), perkiraan biaya pekerjaan tersisa (ETC) dan perkiraan total biaya (EAC). Dari informasi tersebut dapat ditindaklanjuti dengan melakukan percepatan proyek. Percepatan dimulai dengan mencari lintasan kritis menggunakan Microsoft Project kemudian dilakukan crashing untuk mendapatkan cost slope pada kegiatan yang berada pada lintasan kritis, selanjutnya dilakukan analisis dengan metode Time Cost Trade Off sehingga didapatkan biaya dan waktu optimum. Dari hasil analisis earned value didapat perkiraan proyek akan selesai lebih lambat dari rencana awal proyek, dimana rencana proyek dilaksanakan selama 231 hari dan setelah dianasisis perkiraan durasi adalah 245 hari. Dari hasil analisis juga didapat biaya yang lebih besar dari biaya yang direncanakan dimana biaya yang direncanakan Rp11,395,993,471.94 namun setelah dianalisis didapat perkiraan biaya Rp11,979,851,656.66. Kemudian dilakukan percepatan dan didapat durasi optimum 237 hari dan biaya oprimum Rp 11,966,701,817.72

    PENGARUH PERBANDINGAN TEPUNG TERIGU DAN TAPIOKA TERHADAP KARAKTERISTIK KERIPIK DAUN BELUNTAS SELAMA PENYIMPANAN

    Get PDF
    Dari penelitian ini diharapkan dapat mendukung penelitian-penelitian yang lain mengenai beluntas dan diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai penggunaan perbandingan tepung terigu dan tepung tapioca yang tepat untuk keripik daun berluntas, sehingga tidak cepat layu/tidak renyah dan dapat memperpanjang umur penyimpanan

    INKORPORASI PELESAPAN VERBA DALAM BAHASA BALI

    No full text
    The title of this research is Inkorporasi Verba dalam Bahasa Bali. In this research, I discuss verb incorporation found in Balinese language. The aims of this research are to find out the types of verb incorporation, the morphological process of verb incorporation, and the grammatical function of verb incorporation found in Balinese language. The data used are the Balinese storybook entitled Tutur Bali created by I Wayan Westa. All the data were analyzed based on Government and Binding theory by Chomsky (1982), movement theory by Lieber (1992), and incorporation theory by Fillmore (1988). Based on the analysis done, there are four kinds of verb incorporation found. Those four kinds of verb incorporation are object incorporation, instrumental incorporation, location incorporation, and situation incorporation. The morphological processes found are prefixiation, suffixiation, and multiple affixiation. The grammatical function change found are the grammatical function of object changes into verb, the grammatical function of adverbial changes into verb, and the grammatical function of complement changes into ver

    1,934

    full texts

    2,000

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Warmadewa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇