2000 research outputs found
Sort by
[Peer Review] Water Potential in Petanu River Estuary and Model of Water Resources Management for Sustainable Agriculture in Gianyar Regency Bali Province
[Turnitin] Water Potential in Petanu River Estuary and Model of Water Resources Management for Sustainable Agriculture in Gianyar Regency Bali Province
THE ANALYSIS OF MEANINGS IN ROBERT FROST’S POEM
The title of this paper is The Analysis of Meaning in Robert Frost’s Poem. The paper tries to analyze and discuss about the types of meaning found in Robert Frost’s poem. In analyzing the meaning in poem I applied the theory of Leech in his book entitled Semantic as my main theory. And based on the result of the research and analysis it is found that the meaning contains: conceptual meaning, connotative meaning, stylistic meaning, affective meaning, collocative meaning, and thematic meaning.
The conclusion says that the writer faced and fell many meanings. However, the meanings which have been found in the data sources are only categorized into six types, among those : (1) conceptual meaning, as in his house is in the village though, (2) connotative meaning, as in some say the world will end in fire, (3) stylistic meaning, as in between the woods and frozen lake, (4) affective meaning, as in I think I know enough of hate, (5) collocative meaning, as in the word road and way or the word same and equally, and (6) thematic meaning, as in She's glad the birds are gone away
PENGARUH BEBERAPA BAHAN BAKU PUPUK ORGANIK CAIR DAN KONSENTRASI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SAYUR HIJAU (Brasica Junceae L)
Hasil uji sidik ragam terhadap berat segar daun menunjukkan perbedaan tidak
nyata pada taraf uji Duncan 5%,. Berat segar daun per tanaman tertinggi dihasilkan oleh
Biofilter pada dosis 15 g/polibag, yaitu berturut-turut 19,90% dan 17,35% lebih tinggi
dibandingkan nilai tersebut pada Biosugih dan Hyponex pada dosis yang sama (Tabel
4.5). Dosis 15 g/ polibag memberikan berat daun segar 56, 86% lebih tinggi dari pada
dosis 0 g/polibag pada bahan Biofilter 47,00% dan 37,13% pada Hyponex. Biofilter pada
dosis 20 g/ polibag memberikan berat daun segar lebih rendah dan pada dosis 15
g/polibag tetapi nyata lebih tinggi dibandingkan dosis 10 dan 0 g/polibag. Dosis 20 g/
polibag pada Biosugih memberikan berat daun segar yang tidak berbeda dengan nilai
tersebut pada dosis lainnya, tetapi tidak berbeda nyata dengan nilai tersebut pada dosis
lain pada Hyponex (Tabel 4.5).
Tingginya berat segar daun per tanaman pada perlakuan jenis pupuk bahan
baku pupuk Biofilter pada dosis 15 g/polibag (K3), berkaitan erat dengan kompleksitas
komponen unsur dan ketersedian unsur hara lebih banyak. Mineral organik berfungsi
sebagai pemicu pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Kienholz et al., 2000.) Asam
amino bermanfaat dalam peningkatan kualitas pertumbuhan dan hasil tanaman. Hormon
berfungsi merangsang pertumbuhan tunas baru (Mesdaghinia et al., 2009).
Mikroorganisme berfungsi selain bisa merombak unsur supaya tersedia juga sebagai
pengikat nitrogen di udara (Schuler, 1993). Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman
legume mampu menambah 100-300 kg N/ha dalam satu musim dan meninggalkan
sejumlah N untuk tanaman berikutnya (Purwoko, 2007). Azotobacter merupakan bakteri
pengikat N yang tidak berasosiasi dengan tanaman dan mampu menurunkan kebutuhan
pupuk nitrogen sebesar 25 % - 50% (Schuler,1993). Hal ini juga terlihat dari tingginya
parameter pertumbuhan seperti: berat segar akar tanaman sebesar 2,52g (K3), berat daun
kering oven sebesar 2,35g (K3), berat kering oven akar sebesar 0,835g (K2), hasil total
tanaman sebesar 2,81g (K3) yang diperoleh pada perlakuan jenis bahan baku pupuk
biofilter.
Dosis 15 g/polibag pada jenis Biofilter, Biosugih maupun Hyponex memberikan
berat akar segar (3,22 g), berat daun (2,97 g), akar (0,996 g) dan total tanaman kering
oven (3,16 g) tertinggi dan nyata lebih tinggi dibandingkan masing-masing nilai variabel
tersebut pada dosis yang lain, kecuali pada dosis Hyponex 10 g/polibag (Tabel 4.5).
Dosis 20 g/polibag pada Biofilter, Biosugih dan Hyponex nyata menurunkan berat akar
segar, berat daun, akar dan total tanaman kering oven dibandingkan dosis 15 g/polibag
(Tabel 4.8
KARAKTERISTIK DAN METODE PENATAAN PANTAI LOVINA BULELENG BERBASIS LINGKUNGAN PARIWISATA
Pulau Bali memiliki panjang pantai 437,7 km. Pantai yang terdapat di Bali sebagian besar berpanorama indah, serta merupakan aset yang tidak ternilai harganya.Pantai adalah daerah di tepi perairan sebatas antara surut terendah dan pasang tertinggi. Pantai adalah jalur yang merupakan batas antara darat dan laut, diukur pada saat pasang tertinggi dan surut terendah, dipengaruhi oleh fisik laut dan sosial ekonomi bahari, sedangkan ke arah darat dibatasi oleh proses alami dan kegiatan manusia di lingkungan darat.Untuk mengidentifikasi karakteristik pantai Lovina dan memberikan gambaran metoda penataan kawasan pantai Lovina, temperature di Pantai Lovina 28,80 C sampai 29,60 C, dengan kondisi air lautnya memiliki salinitas 31,0 %, Ph sebesar 8,68. Pantai Lovina di Kabupaten Buleleng memiliki kawasan yang sepanjang garis pantainya ditanami penghijauan dengan hamparan pasir berwarna abu-abu kehitaman. Kualitas air lautnya untuk DO sebesar 7,16 mg/L, BOD sebesar 0,95 mg/L, COD sebesar 7 mg/L dengan warna agak keruh dengan nilai kekeruhan sebesar 1,58 (NTU).Karakteristik pantai Lovina adalah pantai hasil proses sedimentasit, ermasuk kategori ini adalah beach. sandy beach, Karakteristik gelombang pecahnyaSurging, Metode pengelolaan Pantai Lovina dalam rencana pengembanganlingkungan wisata bahari dapat dilakukan dengan :menyediakan fasilitas pendukung sepertifasilitas kesehatan, dan pos keamananpantai. Penerapan peraturan dan regulasi denganbaik untuk menjaga kondisi lingkunganPantai Lovina. Peningkatanmutu daya tarik wisata yang representative dengan tetap menjaga kultur adat istiadatdan budaya masyarakat.. Peningkatanperan serta dan partisipasi masyarakatdalam usaha pengembangan dan promosiwisata. Meningkatkanpemahaman terhadap masyarakat tentangpentingnya menjaga lingkungan muara sungai dan pantai. Peningkatanmutu daya tarik wisata yangrepresentatif dengan tetap menjagakulturadat istiadat dan budaya masyarakat. Memperkuat pencitraan (brand image) daerah wisata
[Peer Review] KEDUDUKAN HUKUM ANAK LUAR KAWIN DALAM PERSPEKTIF PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 46/PUU-VIII/2010
EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDAPATAN DAERAH (SIMAPATDA) DI DINAS PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN BADUNG
Pelayanan publik sebagai salah satu fungsi utama pemerintah adalah sebagai upaya untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat atas pengadaan jasa yang diperlukan masyarakat. Pelayanan publik yang banyak dikenal dengan sifat birokratis dan banyak mendapat keluhan dari masyarakat pelanggannya, antara lain disebabkan masih belum memperhatikan kepentingan masyarakat penggunanya.
Untuk lebih mendorong komitmen aparatur pemerintah terhadap peningkatan mutu pelayanan, maka telah diterbitkan pula Inpres No. 1 Tahun 1995 tentang Perbaikan dan Peningkatan Mutu Pelayanan Aparatur Pemerintah Kepada Masyarakat. Pada perkembangan terkahir telah diterbitkan pula Keputusan Menpan No. 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Dalam rangka mewujudkan Sistem Perpajakan Daerah yang berbasis Teknologi Informasi di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Badung khususnya pada Dinas Pendapatan Daerah/Pasedahan Agung dibangunlah suatu Sistem Teknologi Informasi (TI) Perpajakan Daerah yang diberi nama Sistem Informasi Manajemen Pendapatan Daerah (SIMAPATDA). Dalam penelitian Efektivitas Implementasi Kebijakan Sistem Informasi Manajemen Pendapatan daerah pada Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Badung ini, dibatasi dan difokuskan variabel-variabel implementasi yaitu pada faktor komunikasi, sumber daya, sikap dan target realisasi pendapatan daerah. Sehubungan dengan hal-hal yang telah dipaparkan tersebut di atas maka diangkat judul penelitian tentang Efektivitas Implementasi Kebijakan Sistem Informasi Manajemen Pendapatan Daerah di Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Badung”. Dengan demikian permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana Efektivitas implementasi Kebijakan Sistem Informasi Manajemen Pendapatan Daerah di Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Badung”.
Untuk mendukung pemecahan masalah ini, maka diperlukan adanya landasan teori yang mengantarkan pada penemuan jawaban yang sesuai dengan kenyataan dilapangan.Untuk membuktikan bahwa apa yang disajikan dalam penelitian ini merupakan yang sebenarnya, maka diadakanlah suatu penelitian untuk mendapatkan data yang diperlukan guna mendukung pemecahan masalah yang didapatkan. Dalam pengumpulan data dipergunakan teknik observasi, kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Dari data yang diperoleh selanjutnya data tersebut dianalisa dengan analisis kuantitatif dan analisis kualitatif.
Dari hasil temuan yang diperoleh pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Badung bahwa Implementasi Kebijakan SIMAPATDA sudah efektif. Hal ini diukur dari hasil skor mengenai indikator komunikasi, sumber daya, dan sikap yang berada dalam kategori tinggi serta diperkuat dengan hasil wawancara dengan Sekretaris Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Badung serta Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2009 s/d 2013 dan berdasarkan dari rata-rata yang termasuk dalam kategori tinggi
PENGELOLAAN PENCEMARAN LAUT DI INDONESIA
Bermula dari peliknya permasalahan pencemaran pesisir dan laut di Indonesia yang telah mencapai konsentrasi tertinggi sehingga berimbas kepada tidak optimalnya produktivitas sumber daya kelautan beberapa provinsi. Di sisi lain, sumber daya kelautan sebagai jalan keluar dalam rangka pembangunan ekonomi. Seperti yang kita ketahui, pembangunan ekonomi masih bersumberkan pada sumber daya daratan yang nota bene semakin hari semakin berkurang daya dukungnya. Oleh karena itu, pemahaman akan konsep pencemaran laut beserta teknik pemecahannya akan menjadi sumber utama dalam buku ini. Saya berharap buku ini dapat memberi suatu jawaban awal terhadap kompleksitas permasalahan yang dihadapi Indonesia karena Negara Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki luas wilayah laut (perairan) yang lebih besar dibandingkan dengan wilayah darat, yakni 9:1 dan secara geografis menempati posisi strategis pada silang dunia antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Pasifik dan Hindia), posisi ini sangat menguntungkan bagi Indonesia
terutama dalam lalu lintas perdagangan lintas batas negara melalui laut
ANALISIS TINGKAT EFISIENSI PENCEMARAN PADA SETIAP TAHAPAN PROSES PERLAKUAN BIOLOGI DALAM PENANGANAN LIMBAH CAIR SECARA KONVENSIONAL
Hasil analisis terhadap tahapan proses perlakuan teknologi limbah cair secara biologi menunjukkan bahwa teknologi tersebut sudah memenuhi standar operasional yaitu menekankan prinsip biologi dengan konsep pemanfaatan dan hasil kualitas limbah aman, efisien, ramah lingkungan. Hal ini terlihat dari kualitas limbah cair yang dihasilkan sudah memenuhi standar baku mutu dan aman dimanfaatkan terutama pada tahap stabilisasi (stasiun C) dan tahap akhir pembuangan (stasiun D) melalui Permenkes RI Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 dan standar mutu air golongan D Kepmen KLH No -02/MENKLH/1/ 1988, juga karakteristik limbah cair yang dihasilkan sudah memenuhi standar bahan baku pupuk yang ditetapkan terutama pada tahap stabilisasi.
Menurunnya nilai kekeruhan, padatan terlarut dan padatan tersuspensi (Gambar 4.2a, 4.2b) diakibatkan perlakuan tahapan proses (pretreatment, treatment dan stabilisasi) dimana terjadi penurunan kandungan zat padat dan pemisahan komponen partikel dari zat cair. Penurunan kandungan zat padat dan pemisahan akan berpengaruh terhadap tingkat sidementasi dan bentuk komponen partikel yang lebih sederhanan ( Gegner, 2002). penurunan nilai parameter BOD,COD (Gambar 4.5) diikuti parameter amonia, nitriat (Gambar 4.4) disebabkan proses, perlakuan fisik dan biologi secara terpadu dan perlakuan teknis operasional teknologi. Perlakuan teknologi yang diberikan pada tahap treatment dan stabilisasi (Tabel 4.2) bertujuan untuk mempercepat proses, dan mengatur jumlah komponen dan menjaga kondisi lingkungan.
Perlakuan aerasi 3,3 jam akan berpengaruh terhadap bioaktivitas dan biodegradasi bahan organik oleh mikroorganisme terutama bakteri aerob. Perlakuan F/M 0,24-0,5 g/BOD/hari/g/MLSS akan berpengaruh terhadap keseimbangan jumlah makanan dan populasi mikroorganisme berdasarkan kebutuhan energi seperti: bakteri hetrotrof dan autrotrof. Perlakuan waktu tinggal limbah 2-4 hari dan aliran limbah cair sebesar 35% berpengaruh terhadap ketersediaan oksigen, jumlah zat makanan (bahan organik),waktu tinggal limbah dan akhirnya berpengaruh terhadap jumlah dan komponen unsur
Organizational Culture, Decision of Funding and Financial Performance: An Evidence from Small and Medium Enterprises
This study aims to examine the influence of organizational culture on Funding Decision and Company Financial Performance and the effect of Funding Decisions on Company Financial Performance. This research is conducted at the Small and Medium Enterprises (SME) in Bali province, including Wood Crafting and Woodworking Industry and Textile Industry and Textile Products. The study population consists of 173 business units. The sampling technique uses a random stratified proportional random sampling and obtains 121 business units. This study uses a quantitative method that is enriched with a qualitative approach, especially on Organizational Culture from the concept of local knowledge in Bali, which is Catur Purusa Artha. The study finds out that organizational culture form by local wisdom in Bali, which is “Catur Purusa Artha”, affects the owner or management of SMEs in the province of Bali in determining Decisions Funding and Financial Performance. This study confirm Resource Based View (RBV) Theory, where the organizational culture excavated from local wisdom (Catur Purusa Artha)