Warmadewa University

Universitas Warmadewa
Not a member yet
    2000 research outputs found

    PURA PENATARAN SASIH PEJENG KAHYANGAN JAGAT BALI

    Get PDF
    Alam dan lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan manusia yang ada di sekitarnya, oleh karena mereka dapat memanfaatkan alam dengan segala isinya sebagai sumber inspirasi untuk menyikapi berbagai permasalahan yang dihadapi di lam hidupnya. Namun demikian, setiap orang memiliki kewajiban menjaga kelestarian alam dan lingkungan dari berbagai ancaman yang mengganggu dan bahkan merusaknya. Konservasi adalah sebuah perwujudan cara pandang dan sikap tertentu terhadap alam, terhadap bumi atau tanah. Menurut Leopod, konservasi yang benar dan juga kepedulian terhadap lingkungan, sebagai perwujudan cara pandang dan sikap yang melihat alam semesta sebagai subyek moral. Manusia bukan segalanya, dan dilihat sebagai penguasa atau sebagai anggota yang lebih unggul dan paling superior dari mahluk hidup lain. Manusia adalah sekadar salah satu anggota komunitas biotis yang saling tergantung dan terkait satu sama lain (Sonny Keraf, 2002: 58). Mengingat pentingnya alam dan lingkungan dalam kapasitasnya sebagai situs pemukiman, terlebih untuk sebuah wilayah kekuasaan dan pemerintahan, niscaya dalam pemilihannya harus selektif, seperti terbebas dari longsor, banjir, gunung berapi, dekat sumber air, dan lain sebagainya. Tampaknya Pejeng dipilih sebagai tempat pemukiman di Anak Agung Gd. Raka masa silam, niscaya karena posisinya sangat strategis, yaitu berada di antara daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan dan Petanu. Di satu sisi secara nonpisik (spiritual) yaitu dapat memberi kenyamanan untuk membangkitkan daya inspirasi, ekspresi dan kreativitas kehidupan spiritual, dan di sisi lain secara pisik (material) yaitu keberadaan alam lingkungannya sangat menarik, oleh karena memiliki tingkat kesuburan tanah yang sangat tinggi. Sumber air dengan debit air yang cukup besar, cukup beralasan bila masyarakatnya memiliki kecendrungan untuk mengembangkan kehidupan agraris. Kenyataannya, bahwa sebelum berkembangnya kehidupan dunia pariwisata di Bali yang berdampak terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat, sebagian besar masyarakat Desa Pejeng mata pencaharian hidupnya bertani. Demikian pula, dipilihnya Pejeng sebagai pusat kekuasaan di masa silam, niscaya dengan pertimbangan posisi (letak) Desa Pejeng yang sangat strategis, yaitu diapit oleh ke dua buah sungai tersebut. Sebagaimana diketahui, bahwa peranan air dalam kehidupan ini adalah sangat vital, oleh karena menjadi kebutuhan bagi semua mahluk hidup di alam raya ini, termasuk di dalamnya tumbuh-tumbuhan. Untuk kebutuhan keamanan wilayah kekuasaan, sungai juga dapat difungsikan sebagai benteng kekuasaan. Desa Pejeng yang diduga sebagai pusat kerajaan di jaman Bali Kuna, posisinya tepat berada di daerah dataran di antara kedua sungai tersebut. Dugaan tersebut cukup beralasan, oleh karena berdasarkan fakta realitas di lapangan, Desa Pejeng memiliki kekayaan yang amat banyak dan tak ternilai harganya, terutama di bidang warisan budaya. Warisan budaya yang dimaksud kebanyakan berupa Pura Penataran Sasih Pejeng Kahyangan Jagat Bali seni arca, posisinya menyebar di seluruh dusun, hampir semuanya tersimpan di dalam tempat suci. Tidak kurang dari enam puluhan tempat suci (pura) yang ada di Desa Pejeng dan posisinya menyebar di seluruh banjar/dusun. Bahkan ada sebuah peninggalan yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan budaya, yang berasal dari jaman prasejarah (Jaman Perunggu), yaitu berupa sebuah nekara perunggu yang tersimpan di Pura Penataran Sasih, yang lebih dikenal dengan sebutan “Bulan Pejeng”. Keberadaan warisan budaya masa lalu yang begitu banyak, sebagai indikasi bahwa Pejeng di masa silam merupakan pusat aktivitas budaya dan agama. Fenomena seperti itu hanya dapat terjadi bila ada penguasa yang betulbetul memiliki atensi tinggi terhadap agama dan budaya. Sebagaimana diketahui bahwa warisan budaya yang berwujud seni arca sudah jelas difungsikan sebagai media komunikasi keagamaan, yaitu sebagai media pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala bentuk dan manifestasinya. Warisan budaya seni arca yang begitu banyak menandakan bahwa kehidupan spiritual keagamaan mendapat perhatian yang sangat tinggi dari sang penguasa di jamannya. Menguatkan posisi Pejeng sebagai pusat kekuasaan di masa silam adalah banyaknya jumlah geria (rumah pendeta). Ada Sembilan (9) geria di Desa Pejeng (Stutterheim, 1929), yang keberadaannya satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisah-pisahkan. Bahkan Robson (1978: 87), selain sepakat dengan pernyataan Stutterheim bahwa Pejeng sebagai pusat kerajaan di jaman Bali Kuna, namun ia melihatnya dari aspek lain, yaitu adanya hubungan tradisi upacara keagamaan yang masih eksis sampai saat ini di antara pura-pura yang Anak Agung Gd. Raka dipandang penting di masa silam, seperti Pura Penataran Sasih (Pejeng), Pura Pusering Jagat (Pejeng), Pura Samuan Tiga (Bedulu), dan Pura Gunung Sari (Wanayu). Suatu hal yang patut dipahami dari pernyataan Robson adalah untuk secara bijak memandang bahwa dahulu Pejeng dan Bedulu merupakan satu kesatuan wilayah yang utuh, dan bukan terpisah sebagaimana keadaannya saat ini

    Water Management Model For Water Conservation In The Downstream Of Petanu River Based On Environment

    Get PDF
    Bali has an area of 563 666 ha, consists mostly on land with a slope between 0-2% up to 15- 40%. Water is a major requirement for the process of life on the earth, which means there would be no life on this earth if there is no water. Water is an environmental components that are affected by other components. Bad quality of water will cause the environment to be bad. River water flows from upstream to downstream will be discharged into the sea through the mouth of the river (Loloan). The water flowing in a river surface water caused by rain, springs, groundwater and household waste. This study will assess the potential magnitude of surface water in terms of quantity and quality of water for downstream Petanu in Gianyar, and drafting a model of water management in downstream river Petanu for water conservation based environment. This research method uses quantitative research using primary data of water quality and quantity of water in the river downstream of Petanu River compared with secondary data analysis using software RIBASIM. Calculation of length of the river basin area and the main use of Arc. GIS 10. This research obtains Petanu basin area amounted to 96.970 km2, with a length of 46.770 km along the main river. Maximum discharge amounted to 2,819 m3 / sec. Water quality downstream in July 2016 for the BOD was 2.16 mg / L, COD 6.4 mg / L and DO of 4.83 mg / L. Potential Petanu river water downstream of the water quality can meet the water quality standard Class I and of the quantity can be managed to support water conservation in Gianyar Bali Provinc

    PENGARUH JENIS DAN DOSIS PUPUK LIMBAH PADAT BIOGAS DAN PUPUK KANDANG SAPI PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI EDAMAME ( Glycine max L. Merril )

    Get PDF
    Penelitian ini berjudul “Pengaruh jenis dan dosis pupuk limbah padat biogas dan dosis pupuk kandang sapi pada pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai edamame ( glycine max l. Merril )” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis dan dosis limbah padat biogas dan pupuk kandang sapi yang tepat dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai edamame ( Glycine max L. Merril.). Kedelai edamame berperan penting dalam penyediaan bahan pangan bergizi bagi penduduk dunia, sehingga disebut “ Gold from the soil “ dan disebut juga “ The world’s miracle “ karena kandungan asam aminonya yang tinggi. Tiap satu gram asam amino kedelai mengandung 340 mg isoleusin, 480 mg leusin, 400 mg lisin, 310 mg fenilalanin, 200 mg tirosin, 80 mg metionin, 110 sistin, 250 mg treonin, 90 mg triptofan dan 330 mg valin. Selain berguna untuk mencukupi kebutuhan gizi tubuh, kedelai juga berkhasiat sebagai obat beberapa penyakit. Penelitian ini merupakan percobaan lapangan yang di lakukan di SIMANTRI 364 Desa Selat Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung yang merupakan salah satu desa yang sangat sejuk karena berada di Kecamatan Abiansemal yang terletak 1,5 Km dari Ibukota Kecamatan, 10 k m dari Kota Kabupaten yang memiliki topografi sebagai dataran rendah dengan ketinggian 500 m di atas permukaan laut. Penelitian ini berlangsung mulai dari 23 april sampai 20 agustus 2015. Rancangan yang digunakan yaitu rancangan percobaan tersarang (Nested Experiment)Dangan rancangan dasar rancangan acak kelompok (RAK) pola tersarang, dimana foktor dosis tersarang pada masing-masing jenis pupuk. Jenis pertama yaitu limbah padat biogas dengan 3 taraf dosis yaitu Jb1 = dosis 4 ton/ha, Jb2 = dosis 6 ton/ha, Jb3 = dosis 8 ton/ha. sedangkan jenis kedua yaitu adalah jenis pupuk kandang sapi dengan 3 taraf dosis yaitu JsI=2 ton/ha, Js2=4 ton/ha, Js3=6 ton/ha dengan 1 kontrol=0 ton/ha. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk limbah padat biogas dan pupuk kandang sapi berpengaruh sangat nyata terhadap berat kering polong. Dapat dijelaskan bahwa dosis pupuk limbah padat biogas dosis 4 ton/ha (Jb1) memberikan produksi polong tertinggi yaitu 26,10 gram atau meningkat sebesar 80,24% bila dibandingkan dengan kontrol yaitu 14,48 gram. sedangkan Pada dosis pupuk kandang sapi 6 ton/ha( Js3) memberikan berat kering polong tertinggi yaitu 25,85 gram atau meningkat sebesar 78,52% bila dibandingkan dengan kontrol (D0) yang 14,48 gram

    Potential Use of Fetal Genetic Material in Maternal Circulation for Prenatal Noninvasive Diagnosis of Genetic Disease

    Get PDF
    Prenatal diagnostic technique is used to determine whether the unborn fetus is affected with a genetic disorder or other abnormality. This technique is generally carried out for a genetic disease that is not treata-ble, in which the termination should be considered. This technique is also performed in cases that require im-mediate action during the prenatal period and in conditions that can lead to morbidity or mortality of the mother. Prenatal diagnosis can be done by invasive and noninvasive methods. Invasive methods such as amni-ocentesis and chorionic villus sampling (CVS) have a risk of causing disability and even death of the fetus. While noninvasive approach by ultrasound is not sufficiently accurate for the diagnosis of genetic diseases, therefore further fetal sampling is required. Noninvasive prenatal diagnosis is a new type of genetic testing done through taking fetal cells, fetal DNA and mRNA, which are found in maternal blood circulation. In this review, we present development of research, constraints, and potential clinical applications of these three methods for noninvasive sampling of the fetus

    TIPOLOGI ORNAMEN KARANG BHOMA PADA KORI AGUNG PURA DI KECAMATAN BLAHBATUH, GIANYAR

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menemukan karakteristik ornamen karang bhoma sebagai salah satu bentuk ornamen yang memiliki nilai sakral pada arsitektur kori agung pada pura-pura di Kecamatan Blahbatuh. Ornamen karang bhoma memiliki berbagai varian dalam perwujudannya sebagai ornamen kedok wajah raksasa dengan mulut mengaga yang memperlihatkan gigi dan taring yang tajam, mata besar dan bulat, kuku tangan yang panjang dan tajam serta dilengkapi dengan ornamen-ornamen perwujudan binatang mitologi maupun tanaman menjalar. Di Blahbatuh terdapat pura-pura dengan perwujudan karang bhoma bervariasi pada ekspresi wajah dan elemen-elemen yang terdapat pada ornamen tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian terhadap karakteristik karang bhoma di daerah ini melalui suatu pendekatan tipologi dan hasilnya bermanfaat dalam pelestarian nilai-nilai budaya Bali pada bentuk-bentuk yang hakiki pada arsitektur kori agung pura khususnya dan umumnya pada bangunan pura yang bersangkutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasionalistik kualitatif melalui pendekatan konsep wujud dalam arsitektur dan konsep cerita tokoh bhoma. Hasil penelitian ini menunjukan tipologi berdasarkan ekspresi wajah karang bhoma dan elemen-elemen yang melengkapi ornamen kedok wajah raksasa tersebut

    Water Potential in Petanu River Estuary and Model of Water Resources Management for Sustainable Agriculture in Gianyar Regency Bali Province

    Get PDF
    Water needs in the province of Bali from year to year increase along with the rise of population and tourism activities. A study conducted by the Ministry of Environment (2009) stated that Bali is already experiencing water deficit during the dry seasons since 1995 as many as 1.5 billion m3 / year. To overcome this water deficit issue, it will require researching on the potential water resources in Bali. Along the Petanu River, there are 25 irrigation weirs on a 4475.5 ha of land. Research was carried out in in Saba village, Gianyar Regency, Bali, along The Petanu River up to its estuary. The data collected from the research included primary and secondary data, namely: water quality, water quantity (water volume) in Petanu River estuary, precipitation, climate, and environmental conditions of the Petanu river. The data collected from the research site and the secondary data, the water quality was tested on the reseacrh site and in the laboratory before it was analyzed. The model used to detect water presence (the water system) along the Petanu River up to its estuary was procesed using a software called RIBASIM (River Basin Simulation). The result showed that there is a potential water source (water volume) on the estuary of the Petanu River estuary during the dry season as much as 6.16 million m3 and during the rainy season as much as 43.79 million m3. Water quality in terms of physics (smell, taste, temperature, color, turbidity and salinity), meet the quality standards of class IV (for irrigation). Based on the simulation results on the RIBASIM software, the water resources in the Petanu River estuary can potentially be managed as irrigation water for horticulture agriculture along the coast of Saba. The potential water sources can be contained by building dams / reservoirs that are placed ± 300 m from the shoreline of Saba village in Gianyar regency. The water management model for the water sources in Petanu River to support sustainable agriculture can be put to use through water and soil conservation by controlling land use and cropping patterns that involve the community using the subak system

    [Turnitin] PHONETIC VARIATIONS IN INDONESIAN INDUCED BY LANGUAGE CONTACT

    Get PDF

    Biochar and Compost Effect on the Growth and Yield of Sweet Corn

    Get PDF
    This study aims to determine the effect of treatment doses of biochar and compost on the growth and yield of sweet corn. The experiment was conducted using a randomized block design with nested experiment, where factor nested dose for each type of fertilizer. Factors treatment consists of two types of fertilizers that biochar and compost with 3 levels dose and a control for comparison. The composition of the treatment is: without treatment doses of biochar 5 tonnes / ha, biochar dose of 10 tonnes / ha, compost dose of 7.5 tons / ha and a dose of compost 15 tons / ha. The results showed that the weight of the economic results of the corn crop is the highest cobs wet weight was obtained at doses of biochar 5 tonnes / ha of 338.33 g, an increase of 23.44% when compared to the untreated 274.17 g. Cob wet weight of compost obtained at doses of 7.5 tonnes / ha of 336.67 g increased by 22.80% when compared to the untreated 274.17 g

    PENGARUH SISTEM STRUKTUR PADA BANGUNAN ARSITEKTUR BALI TERHADAP GUNCANGAN GEMPA

    Get PDF
    Bangunan Arsitektur Bali umumnya menggunakan sistem struktur sendi (purus) terutama pada struktur utama bangunan. Struktur bangunan sendi (purus) merupakan salah satu sistem struktur yang cukup besar peranannya dalam menahan gempa. Terbukti dari kejadian gempa berkekuatan diatas 6 Scala Richter mengguncang kota Seririt hingga Busung Biu di Kabupaten Buleleng Bali yang terjadi pada 14 Juli 1976, menewaskan lebih dari 1000 orang. Pada saat terjadinya gempa, sebagian besar Bangunan Arsitektur Bali yang masih bertahan dari guncangan gempa. Sebagian besar dari struktur utama bangunan tersebut menggunakan sistem struktur sendi (purus). Sehingga umumnya yang roboh adalah pada dinding bangunan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan kekuatan sistem struktur sendi (purus) dengan sistem struktur jepit dan mengetahui kelebihan dari kedua sistem struktur tersebut. Penelitian ini merupakan komparasi dengan sistem permodelan menggunakan soft ware SAP 2000 antara sistem struktur sendi (purus) dengan sistem struktur jepit. Dari hasil permodelan ini dengan menggunakan media soft ware SAP 2000 dengan perlakuan gempa searah sumbu X dan Y serta R (vertikal) menghasilkan bahwa ternyata pada sistem struktur jepit: perpindahan gaya horisontal kearah sumbu X sebesar 1.0009667 cm, perpindahan gaya horisontal kearah sumbu Y sebesar 1.267888 cm dan perpindahan akibat gaya vertikal sebesar 0.00516 cm, sedangkan dengan sistem struktur sendi (purus): perpindahan gaya horisontal kearah sumbu X sebesar 1.147776 cm, perpindahan gaya horisontal kearah sumbu Y sebesar 1.698502cm dan perpindahan akibat gaya vertikal sebesar 0.005373 cm. Data diatas menunjukkan perpindahan gaya horisontal kearah sumbu X pada struktur sendi lebih besar dibandingkan dengan sistem struktur jepit yakni sebesar 0.138109 cm, kearah sumbu Y sebesar 0.430614 cm dan kearah vertikal sebesar 0.000213 cm

    Konsep dalam Arsitektur

    Get PDF
    Konsep dalam arsitektur mengemukakan suatu gagasan, pendapat dan pengamatan. Konsep juga mengemukakan suatu cara khusus bahwa syarat-syarat suatu rencana, konteks, dan keyakinan dapat digabungkan bersama. Jadi, konsep merupakan bagian penting dari perencanaan arsitektur. Gagasan arsitektur, tema, gagasan superorganisasi, parti (skema), esquisse (sketsa), dan terjemahan harafiah adalah enam sinonim yang sering digunakan oleh berbagai perancang untuk melukiskan penyelidikan mereka tentang konsep

    1,934

    full texts

    2,000

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Warmadewa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇