2000 research outputs found
Sort by
COMPOUND WORDS IN DAWAN LANGUAGE
The purpose of this study is to find out the structure of compound words and the types of compound words in Dawan language. This study belongs to qualitative research aiming at describing the struc-ture and the types of compound words in Dawan language. The data are taken from language con-sultants (informants) of Dawan language speakers through interview method The result of analysis showed that compound words in Dawan language are structured by combining two different words whether the words in the same category or different category. The structure of compound words are built by combining noun (N) with noun (N), for instance mais-oni ‘sugar’ which is built by the noun mais ‘salt’ and the noun oni ‘sweet’; noun (N) with verb (V), for instance bife-anaot ‘prostitute’ which is built by the noun bife ‘woman’ and the verb anaot ‘work’; verb (V) with noun (N), for in-stance poni-haano ‘propose’ which is built by the verb poni ‘hang’ and the noun hauno ‘leaf’; verb (V) with verb (V), for instance fua-tulu ‘worship’ which is built by the verb fua ‘see’ and the verb tulu ‘give’; and noun (N) with adjective (Adj), for instance ume-kbubu ‘kitchen’ which is built by the noun ume‘house’ and the adjective kbubu ‘circle’. Further analysis on the compound words showed that they can also be classified into compound noun, compound verb, and compound adjective
TELAAH ARSITEKTUR VERNAKULAR PADA ARTIKEL: THE BALINESE CHRISTIAN SETTLEMENT AND CHURCH ARCHITECTURE AS A MODEL OF INCULTURATION
Arsitektur tradisional Bali mengalami suatu perjalanan yang panjang dari jaman prasejarah, jaman Bali kuno (jaman sebelum dan sesudah datangnya Mpu Kuturan), jaman pengaruh Majapahit, sampai sekarang. Setiap jaman memiliki gaya arsitektur yang berbeda-beda dan dipengaruhi oleh unsur-unsur dari luar Bali. Faktor ekternal pada perkembangan arsitektur di Bali tidak terlepas dari penduduk pendatang yang membawa budaya asalnya sehingga terjadi suatu proses akulturasi budaya. Arsitektur vernakular Bali sebagai arsitektur yang lahir dari kebersamaan masyarakat Bali setempat dan bersifat original berusaha mempertahankan identitasnya pada proses akulturasi budaya. Akulturasi budaya tersebut berdampak pada lahirnya budaya baru dengan identitas lokal dan pendatang yang seimbang, identitas lokal yang melemah ataukah identitas pendatang yang menyesuaikan dengan identitas setempat. Tulisan ini akan menelaah arsitektur vernakular pada permukiman yang mengalami suatu proses inkulturasi dengan metode desk study dengan studi kasus telaah pada artikel yang berjudul ”The Balinese Christian Settlement And Church Architecture As A Model of Inculturation”
PEMANFAATAN BAKTERI UNTUK KESELAMATAN LINGKUNGAN
Manfaat bakteri terhadap keselamatan lingkungan, merupakan salah satu bagian dalam mempelajari mikrobiologi lingkungan (enviromental mikrobiology), yakni ilmu yang mempelajari komposisi dan fisiologi dari komunitas mikroba di dalam lingkungan. Lingkungan yang dimaksudkan disini adalah tanah, air dan udara serta sedimen yang menutupi planet juga termasuk binatang dan tumbuhan yang mendiami area ini. Mikrobiologi lingkungan juga termasuk mempelajari mikroorganisme yang berada di dalam lingkungan buatan seperti bioreaktor.
Melalui perkembangan bioteknologi dan rekayasa genetik di masa yang akan datang, memungkinkan bakteri akan membawa beberapa sifat genetik dengan mentransfer gen yang dikehendaki untuk membuat sifat tumbuhan, manusia maupun hewan yang diinginkan dengan sifat dan karakteristik sesuai harapan manusia. Untuk hal ini diperlukan kajian lebih mendalam beberapa hasil penelitian dan informasi yang terkini
Pemetaan Ancaman Gerakan Tanah berdasarkan Indeks Stabilitas pada ekstensi SINMAP di Kabupaten Bangli, Bali
Pemetaan ancaman gerakan tanah dengan menggunakan indeks stabilitas tanah pada ekstensi SINMAP (Soil Stability Index Mapping), menggunakan parameter tanah berupa nilai kohesi (c), sudut gesek internal tanah () dan nilai konduktifitas hidrolik tanah (ks) tersebut untuk prediksi gerakan tanah berdasarkan nilai keamanan (FS). Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bangli. Data terdiri dari: (1) ASTER DEM; (2) sifat-sifat fisik tanah; (3) curah hujan; dan (4) titik longsor hasil survei GPS. SINMAP menghitung indeks stabilitas tanah atau angka keamanan dengan asumsi bahwa proses longsor merupakan hasil kombinasi dari: sifat-sifat fisik tanah wilayah, kemiringan lereng, tata guna lahan dan curah hujan. Interaksi antara ke empat faktor tersebut diintegrasikan di dalam SINMAP dan diklasifikasikan dalam suatu nilai indeks stabilitas tanah. Hasil studi menunjukkan 74% dari wilayah Kabupaten Bangli berada pada zona stabil, 5% berada pada zona agak stabil, 6% berada pada zona kurang stabil, 4% berada pada zona batas bawah longsor, 3% berada pada zona batas atas longsor dan 8% untuk wilayah terjadi longsor. Sebagian besar wilayah dalam zona batas bawah dan batas atas longsor, sedangkan potensi zona longsor terbanyak terjadi di Kecamatan Kintamani yaitu sekitar kaldera Gunung Batur dan lereng Gunung Abang dengan jumlah titik longsor 208 titik dan sebagian kecil berada sisi barat utara Kabupaten Bangli
TATA KELOLA WILAYAH DAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN KEPARIWISATAAN DI WILAYAH HUTAN MANGROVE
The toursm region growth often indicates the decline of the environmental carrying capacity , including the conflict consequence in the can ing capacity and the spatial use. The un-control of the spatial growth and resources advantage is the effect of the increasing development policy that cause the damage of the en iron mental function. The experiment was carried out at the mangrove areas: of Prapat Benoa RTK 10 co ers an area of 1 373.50 hectare (Ha} lt \l as observed that the quality degradation at the mangrove areas was st111 going on due to the development of hatchery dumping of rubbish STP (sewage treatment plant) estuary dam etc. A huge change in its application would threaten the stability of the mangrove. To anticipate the misisue of the area the local government of Bali had change the status of the area to be Tahura in order to reserve the area and manage the area through environment de elopment and tourism. The existing condition is alarming due to the negatif impact of the development and lack of monitoring eventhough the environment impact assessment had be carried out. The total area had declined from l 373.50 to 708.33 Ha. The degradation would he more serious if the new investors will occupy the other 10 % of the application zone or about 44.8 Ha at the are
PURA “SRI KESARI” UNIVERSITAS WARMADEWA DENPASAR
Magnet pulau dewata menarik kehadiran tokoh-tokoh
spiritual Hindu dari luar daerah telah diawali sejak Bali
memasuki zaman sejarahnya abad ke-8 M (Goris, 1948;
Kartodirdjo; 1975). Beberapa tokoh penting yang menurut tradisi
Hindu sangat popular, seperti Maha Resi Markandeya (abad ke-8
M) dengan konsep panca datu (Rata, dkk., 1987), Empu Kuturan
(abad ke-11 M) dengan konsep kahyangan tiga (Raka, 2010), dan
lima abad setelah kehadiran Empu Kuturan, bertepatan dengan
masa pemerintahan Dalem Waturenggong (abad ke-16 M), yaitu
kehadiran Dang Hyang Nirartha (Team Penyusun Naskah dan Buku
Sejarah Bali Daerah Tingkat I Bali, 1980). Beliau yang tersebut
terakhir (Dang Hyang Nirartha) adalah seorang tokoh rohaniawan
Hindu yang namanya sangat lekat di kalangan umat Hindu, karena
keakhliannya di bidang agama, sastra, filsafat, dan arsitektur. Dalam
bidang arsitektur misalnya, beliau berhasil merintis bangunan
padmasana, untuk melengkapi/menyempurnakan keberadaan
tempat suci (pura) kahyangan jagat Bali yang telah dirintis oleh
para pendahulunya (Rata, dkk., 1987)
Kajian Pemanfaatan Daerah Sempadan Sungai Tukad Pakerisan
Sempadan sungai merupakan suatu kawasan yang mempunyai manfaat untuk mempertahankan kegiatan perlindungan, penggunaan dan pengendalian atas sumber daya yang ada pada sungai. Tukad Pakerisan merupakan salah satu sungai yang memiliki kearifan lokal yang sudah diakui dunia. Kawasan Tukad Pakerisan memiliki banyak situs arkeologi bersejarah, seperti kawasan Gunung Kawi dan Tirta Empul. Pelestarian sepanjang DAS Tukad Pakerisan dibagi tiga zona yakni, zona inti yang berjarak 100 m dari bibir sungai (kanan-kiri), zona penunjang berjarak 200 M dari sungai dan zona pengembangan berjarak 300 M dari sungai, yang secara tidak langsung sudah memenuhi kriteria batas daerah sempadan yang ditetapkan dalam PP No.38 Tahun 2011. Untuk mengetahui lebar minimal sempadan sungai di Tukad Pakerisan dilakukan analisa terhadap peraturan-peraturan yang terkait dengan sempadan sungai. Untuk mengetahui pemanfaatan daerah sempadan sungai dilakukan dengan penelusuran alur sungai Tukad Pakerisan dari hilir menuju hulu sejauh 10 km dengan menggunakan GPS dan melakukan analisa citra satelit google earth. Hasil menunjukkan bahwa lebar sempadan sungai di Tukad Pakerisan antara 5 meter sampai dengan 100 meter yang disesuaikan dengan kriteria dan kondisi daerahnya. Pemanfaatan lahan pada daerah sempadan sungai Tukad Pakerisan adalah tegalan/vegetasi sebanyak 42%, sawah sebanyak 33%, lahan kosong sebanyak 15% dan permukiman sebanyak 10%
GROUND PENETRATING RADAR AND 2-D GEOELECTRICITY APPLICATION FOR DETECTING LANDSLIDE IN ABANG DISTRICT, KARANGASEM REGENCY, BALI
The potential of landslide in some area in Abang district, Karangasem Regency, Bali, has been identified by
using ground penetrating radar and geoelectricity with dipole – dipole configuration. The Research has been
conducted in 6 sites. The interpretations of GPR and Geoelectricity revealed the presence of clay (8.52 cm/ns
and 11.8 – 18.6 m), saturated sand (12.11 cm/ns and 216 m) and water penetration (3.23 – 4.27 cm/ns
and 7.5 – 60 m) at 2 – 5 meter below the subsurface. The slip surface is detected at 5 – 8 m depth. The
result of sample laboratory test show high plasticity limit (27.13 – 24.51) and liquid limit (34.50 - 30.00)
which leads to landslide phenomenon
THREAT OF TRASH TO ENVIRONMENT AL TOURISM IN AREA MANGROVE FOREST.
Condition of mangrove forests that belong to the forest Prapat RTK IO Badung Benoa Denpasar with an area of approximately 1373.50 hectares very need to be maintained continuity. The shift in the use of such value: activities shrimp ponds, landfills, waste dumps, construction of tourism accommodation facilities, estuary, will be able to threaten the integrity of forest land. A total of 15 kinds of development activities showed the existence of mangrove forest will be thinned or experience degradation as much as 412.27 hectares, so the remaining approximately 961.23 hectares. Additionally the activity of either human or animal life will issue a solid waste material. This waste will occur continuously and will accumulate around the environment. Wastewater and solid waste, especially plastic waste would threaten aquatic ecosystems during the rainy season and flooding all the material will be carried over to the mangrove forest. Mangrove forest on the development of sustainability development is quite alarming in terms of quantity about 30% of the breadth has been degraded by garbage. For that we need the community's concern and utilizing garbage management and spatial planning so that development should pay attention to the environment