2000 research outputs found
Sort by
FUNGSI PENGAWASAN KONSULAT JENDERAL TIMORLESTE PADA MAHASISWA TIMOR-LESTE DI BALI
Timor-leste merupakan satu Negara Republik demokratik (RDTL) yang
dilakukan hari kemerdekaan Timor-Leste sebagai Negara pertama yang lahir
kebebasannya dan diakui oleh seluruh dunia dan termasuk Indonesia.Sehubungan
dengan kemerdekaan itu Timor-Leste melakukan hubungan bilateral antara
Timor-Leste dengan Indonesia pada hari kemerdekaan negara Timor-Leste.
Dalam hubungan bilateral Timor-Leste dan Indonesia menjalin kerjasana yang
erat di bidang politik, ekomoni, budaya, pertahanan dan keamanan dan juga
pendidikan sebagai factor utama dalam jalinan jerjasana antara kedua Negara.
Dengan demikian Konsulat Jenderal Timor-Leste di Indonesia berperan penting
dalam melakukan pengawasan pada masyarakat yang ada di Indonesia terlebihlebih
pada mahasiswa Timor-Leste yang berada di Negara Indonesia khususnya di
Bali. Pengawasan Konsulat Jenderal Timor-Leste menjamin agar para pelajar
yang memegan passport, dengan visa belajar, di kawasan Indonesia khususnya di
Bali dapat melakukan proses studi dengan baik,dan tidak terjadi pelanggaran pada
penyelewengan yang dapat berakibat pada pengusiran secara paksa deportasi atau
di kenai denda sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku di Negara
Republik Indonesia. Konvensi wina tahun 1961 pasal 3 tentang perwakilan
diplomatik meliputi: a. Mewakili Negara pengirim di Negara penerina
(Representasi),b. Melindungi kepentingan Negara pengirim dan kepentingan
warga Negara penerima dalam batas-batas yang diperkenankan oleh hukum
internasional (proteksi), c. Melakukan perundingan dengan pemerintah Negara
penerima (Negosiasi), d. Menperoleh kepastian dengan semua cara yang sah
tentang keadaan dan perkembangan Negara penerima, e. Meningkatkan hubungan
persahabatan antara dua Negara serta mengembangkan hubungan ekomoni,
Akebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Dari uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan
dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah “ Fungsi Pengawasan Konsulat Jenderal
Timor-leste pada mahasiswa Timor-Leste di Bali” mengacu dari permasalahan
tersebut, maka penulis menetapkan Judul dari penelitian ini yaitu: Fungsi
Pengawasan Konsulat Jenderal Timor-Leste pada mahasiswa Timor-Leste di Bali.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriptif kualitatif
dengan junlah sampel 18 orang. Teknik pengumpulan datanya mengunakan teknik
observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. Teori yang digunakan
adalah teori tentang pengawasan dan Konsulat jenderal.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa: a) pengawasan konsulat jenderal
Timor-leste pada mahasiswa Timor-Leste di Bali sangat baik,b) Konsulat jenderal
Timor-Leste memberikan bimbingan pada mahasiswa Timor-Leste di Bali juga
sangat Baik.
Hal ini terbukti dari jawaban responden yang di wawancara langsun
kepada seluruh staf kantor Konsulat jenderal Timor-Leste di Bali, dimana dari
seluruh jawaban ke 18 responden atas pertanyaan yang di ajukan semuanya
menunjukan kategori sangat baik. (100 %).
Berdasarkan hasil pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
Fungsi Pengawasan Konsulat Jenderal Timor-Leste pada mahasiswa Timor-Leste
di Bali sangatlah penting untuk menjaga hubungan antara Negara Timor-Leste
dengan Negara Indonesia dengan baik
STUDI IDENTIFIKASI KERAGAMAN JENIS, DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DAN PLANKTON BERACUN SERTA STATUS TROFIK PERAIRAN PANTAI SELABIH
Wilayah pesisir atau wilayah pantai dan lautan adalah suatu kawasan yang sangat strategis baik ditinjau dari segi ekologi, sosial budaya, dan ekonomi. Semakin menurunnya kualitas dan kuantitas kawasan pesisir di beberapa daerah di Indonesia, kawasan pesisir di Kabupaten Tabanan bagian barat khususnya di pantai Selabih. Tujuan penelitian adalah mengetahui kondisi biologis dan produktivitas primer Pantai Selabih dilihat dari parameter : Keragaman jenis phytoplankton dan plankton beracun di perairan pantai Selabih, Komposisi jenis phytoplankton dan plankton beracun di masing-masing stasiun dan setiap periode pengamatan. Status tropik perairan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman hayati jenis phytoplankton dan plankton beracun di sepanjang Pantai Selabih, Kabupaten Tabanan khususnya pada stasiun pengambilan sampel mempunyai jenis keragaman yang relative tinggi, maka secara keseluruhan ditemukan 6 kelas phytoplankton yaitu kelas Diatome, Desmidiacae, Xanthophyta, Euglenophyta, Chrysophycae, dan Phyrophyta, Dengan 13 jenis species yaitu : dari kelas Diatome 5 species (Diatoma vulgare, Thallssiothrix sp, Liomophora lingbyoi, Amphiprora gigantean, : Nitzchina sp.). dari kelas Desmidiacae 2 species (Cosmarium cucurbitimun, Penium spirostriolatum,). Dari kelas Xanthophycae 1 species (Batryyococcus braunii), dari kelas Euglenophyta 1 species (Phacus anomale), dari kels Phyropita 4 (Gonyaulax polyedra, Gymnodinum costatum, Peridenium crasipen, Warworia fusus). Komposisi jenis pitoplankton dan plankton beracun pada setipa periode pengamatan di masing-masing stasiun berubah-ubah dari waktu kewaktu. Kelimpahan fitoplankton dan plankton yang beracun, berbeda-beda pada setiap stasiun. Pada setiap periode pengamatan di masing-masing stasiun juga menunjukkan kelimpahan yang berbeda-beda. Secara keseluruhan puncak kelimpahan yang tertinggi terjadi pada stasiun I (satu) yaitu 92.454 ind/liter, dan plankton beracun 66.038 ind/liter, sedangkan pada stasiun V (lima) puncak kelimaphan tertinggi yaitu 29.451 ind/liter, sedangkan plankton beracun 13.208 ind/liter. Hal ini menunjukkan bahwa pada stasiun I memiliki tingkat kesuburan perairan yang paling tinggi, akibat dari bermuaranya sungai yang cukup besar di stasiun ini yaitu tukad Yeh Leh, sedangkan stasiun yang lainnya hanya bermuara sungai-sungai kecil. Walaupun kelimpahan fitoplanton berbeda-beda di masing-masing stasiun dan setiap periode pengamatna, tetapi dari status tropik perairan semuanya berada pada perairan dari mesotrofik sampai politrofik, dan tidak pernah terjadi sampai status oligotropik, yaitu kelimpahan terendah yang terjadi di stasiun V yaitu 13.208 inde/liter masih tergolong mesotrofik
SIKAP BAHASA MAHASISWA MANAJEMEN PERHOTELAN SEMESTER III UNIVERSITAS DHYANA PURA BALI TERHADAP BAHASA INGGRIS
This present study discusses the attitude of the third semester students of the department of hotel management of Dhyana Pura University Bali towards the English language. It is intended to explain: a) the speech attitude of the third semester students of the department of Hotel Management of Dhyana Pura Bali towards the English language, and b) the factors which contribute to the speech attitude of the third semester students of Dhyana Pura University Bali towards the English language. It was conducted based on the theory of speech attitude as part of the theory of sociolinguistics. It is a descriptive qualitative study. The data were collected through observation and interview. The information on the speech attitude of the students was obtained through observation. The interview was divided into two; they are the open interview and the structured interview in which questionnaire was used. The interview was performed in order to obtain the factors which contributed to the students’ speech attitude.
The result of analysis showed that the speech attitude of the students towards the English language tended to be positive. However, their writing skill tended to be less positive, as shown by the fact that what they could write did not match the standard English grammar they had learned. The factors contributing to their speech attitude can be divided into two; they are the internal and external factors. The internal factors included a) their understanding of the fact that the speech attitude towards the English language needed a serious learning process; b) the extent to which they liked English. The external factors included the cognitive, affective and conative aspects which could not be separated from the campus environment which supported the speech attitude towards the English language, and to what extent society could accept the students’ speech attitude towards the English language
TANDA DALAM KAWEN SAI SUKU TETUN DESA LO’OKEU: KAJIAN SEMIOTIK
This research explains semiotics analysis toward Kawen Sai ceremony’ sign in Tetun Tribe, Lo’okeu Village, Belu Regency. Theobjective of this research are to describe how is the sign and meaning KawenSai ceremony’ sign of Tetun tribe in Lo’okeu Village. This research uses semiotic theory by Pierce in Art (1993). Qualitative research is used as research design in this research. The data of this research is obtained from the observation result and interview with the informant by recording technique. There are 10 persons the informants in this research. The method and technique of data collection were consisted of observation and conversation technique. The result of data analysis showed that there are 36 signs of Kawen Sai ceremony’ sign in Tetun tribe which consists of: symbols such as fos ‘beras’ fahi ran ‘darah babi’, tua ulun ‘sopi kepala’, murak ‘perak’, hitire ‘mahkota wanita’, tais bata rata ‘selendang’, taha ‘parang’, biti ‘tikar’, tua na’i‘om kandug’, ria ‘ipar’, aikalete ‘juru bicara’, makoan ‘penutur adat’, nu wen ‘air kelapa’, lesu ‘destar’ riti ‘gelang tangan’, morten ‘manik-manik’, karabu ‘anting-anting’, badlima ‘gelang kaki’, bolas ‘ikat pinggang’, kaebauk ‘mahkota laki-laki’, dadasan murak ‘sisir perak’, sasukun ‘tusuk konde’, kakaluk‘ tas kecil pria’, tala ‘gong’, heuk ‘tarian likurai’, belak ‘perhiasan leher’, fuik no bua ‘sirih pinang’ hare ‘padi’, kadeli ‘cincin’, kabas metan ‘benang hitam’, babarak makerek ‘dulang’, tais ‘kain adat’, koba ‘tempat sirih pinang’. The 36 signs are imply 6 meanings they are: sacral and ritual meanings, manners meaning, mastery and honor meaning, request and hope meaning, social meaning, and communication meaning
PERUBAHAN PEMARKAH VERBA TRANSITIF BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia seperti halnya bahasa-bahasa yang lain dalam perkembangannya telah mengalami perubahan dalam beberapa hal. Dari sudut morfologi bahasa Indonesia mengalami perubahan pada pembentukan verbanya. Tulisan ini mengkaji tentang perubahan pemarkahan verba transitif bahasa Indonesia, baik verba aktif maupun verba pasif. Perubahan bentuk verba ini didapatkan dengan cara membandingkan struktur morfologi verba transitif yang dipakai dalam karya sastra yang berjudul Sitti Nurbaya: Kasih tak Sampai yang dikarang oleh Marah Rusli (1928) dengan hasil back translation dari terjemahan novel ini yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Fowler (2009) dengan judul Sitti Nurbaya: A Love Unrealized. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum verba transitif aktif bahasa Indonesia dimarkahi oleh prefiks me- dan verba transitif pasif oleh prefiks di-, namun beberapa verba transitif bahasa Indonesia telah mengalami perubahan secara morfologi. Untuk verba transitif aktif, verba yang dimarkahi dengan afiksasi me-kan berubah menjadi me-; me-i menjadi me-kan; me-kan menjadi me-i; dan me- menjadi me-i. Untuk verba transitif pasif, di-kan berubah menjadi di-; di-kan menjadi di-i; di- menjadi di-i; di-i menjadi di-kan; dan di-i menjadi di-
Penerapan Teknik Penanganan yang berbeda terhadap Kualitas Ikan Segar sebagai Bahan Baku Pembuatan Ikan Pindang
Keracunan histamine dapat terjadi setelah mengkonsumsi ikan pindang yang mengalami pembusukan. Masyarakat (nelayan) melakukan teknik penanganan yang berbeda-beda pada bahan baku pindang untuk memperlambat proses tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai teknik penanganan ikan terhadap kualitas tongkol yang digunakan sebagai bahan baku ikan pindang. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktor tunggal. Perlakuan yang digunakan berupa berbagai metode penanganan ikan oleh nelayan Desa Kusamba, yaitu: didiamkan pada suhu kamar (A), penambahan 1 kilogram es untuk 4 kilogram ikan (1:4) (B), penambahan 10% garam (C), serta penggabungan 50% teknik B dan 50% teknik C yaitu kombinasi es dan ikan (1:8) ditambah 5% garam (D). Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa metode penanganan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kualitas ikan. Penambahan hancuran es (teknik B) menunjukkan mutu ikan yang terbaik di antara teknik penangan lainnya dengan mutu kimiawi yaitu kadar histamin 11,30 mgN%, kadar air 74,53 %, kadar garam 0,32 % dan kadar TVB 20,90 mgN%, mutu mikrobiologi yaitu jumlah bakteri 13 x 101 koloni/g, jumlah coliform negatif, dan mutu organoleptik yaitu kenampakan 8,0; mata 7,7; bau 7,8; dan tektur 7,8
Chikungunya fever outbreak identified in North Bali, Indonesia
Background: Chikungunya virus (CHIKV) infections have been reported sporadically within the last 5 years in several areas of Indonesia including Bali. Most of the reports, however, have lacked laboratory confirmation. Method: A recent fever outbreak in a village in the North Bali area was investigated using extensive viral diagnostic testing including both molecular and serological approaches. Results and conclusions: Ten out of 15 acute febrile illness samples were confirmed to have CHIKV infection by real-time PCR or CHIKV-specific IgM enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). The outbreak strain belonged to the Asian genotype with highest homology to other CHIKV strains currently circulating in Indonesia. The results are of public health concern particularly because Bali is a popular tourist destination in Indonesia and thereby the potential to spread the virus to non-endemic areas is high
RANCANGAN TEKNOLOGI PENANGANAN LIMBAH PADAT DENGAN SISTEM PENGKOMPOSAN
Pengkomposan adalah dekomposisi bahan organik oleh populasi campuran mikroorganisme dalam keadaan panas, lembab dan lingkungan yang aerob. Sejumlah besar limbah organik diproduksi oleh alam dan selanjutnya akan terdekomposisi oleh aktivitas mikroorganisme. Degrauasi ini terjadi secara lambat dipermukaan tanah, suhu sedang dan kondisi yang aerob. Proses dekomposisi alami ini dapat dipercepat dengan mengumpulkan limbah menjadi suatu tumpukan sehingga panas yang timbul dapat mem.percepat proses dekomposisinya, usaha ini diterapkan dalam proses pengkomposan. Limbah pertanian yang dapat dikomposkan bervariasi dari limbah yang sangat heterogen campuran senyawa organik dan anorganik maupun yang homogen seperti kotoran ternak, residu tanaman pangan maupun lumpuur buangan air limbah. Selama proses pengkomposan sebagian besar kebutuhan oksigen terpenuhi dan bahan organik terdekomposisi menjadi produk yang stabil seperti asam humus, air dan COo Suatu per timbangan dalam usaha menaikkan produksi pertanian ialah dengan menaikkan kesuburan tanah, dan suatu cara untuk meningkatkan struktur dan kesuburan tanah adalah pemberian asam humus kedalam tanah
MASTER PLAN PENATAAN DAN PENGEMBANGAN PURA DALEM BIAS MUNTIG DI DESA PAKRAMAN NYUH KUKUH, DUSUN PED, DESA PED, KECAMATAN NUSA PENIDA, KLUNGKUNG
Kondisi Pura Dalem Bias Muntig dari tahun ketahun mengalami penurunan kualitas fisik dan seiring dengan itu juga, status sebagai Pura Kahyangan Jagad di Nusa Penida semakin tersebar sampai di luar Pulau Nusa Penida. Hal tersebut menuntut adanya pembenahan dan penataan yang lebih baik. Berdasarkan wawancara dengan tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa diperlukan suatu: (1) penataan dan pengembangkan Pura Dalem; (2) penambahan dua bangunan pelinggih di dalam area Pura Bias Muntig; (3) perencanaan pesraman pemangku; (4) penataan lanskap atau ruang luar seperti tempat parkir, fasilitas MCK dan penataan jalur pedestrian pemedek; serta (5) penataan area tempat melasti. Pengabdian ini bertujuan untuk menyusun rancangan kembali (redesign) Pura Dalem Bias Muntig dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat setempat baik permasalahan keruangan maupun manajemen pembangunannya. Aspek keruangannya yaitu sebagai dasar acuan dalam penataan dan pengembangan kedepannya sedangkan aspek manajemen pembangunan yaitu sebagai dasar dalam mengajukan proposal pendanaan kepada pemerintah maupun swasta. Sasaran dan manfaat kegiatan pengabdian ini mengarah kepada tiga pihak yaitu masyarakat Desa Pakraman Nyuh Kukuh, masyarakat umum dan institusi Universitas Warmadewa sebagai lembaga dalam pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Metode kegiatannya yaitu menggali informasi-informasi di masyarakat melalui tokoh-tokoh masyarakat sebagai mitra dialog tentang permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi yaitu penataan dan pengembangan Pura Dalem Bias Muntig, yang selanjutnya diselesaikan melalui solusi-solusi dengan mempertimbangkan keinginan dan kepentingan masyarakat setempat