2000 research outputs found
Sort by
[Turnitin] Water Distribution System of Petanu River Estuary for Coastal Area in Bali-Indonesia
Buku_NILA NYAT-NYAT, LEZAT DAN BERGIZI
PERTUMBUHAN ikan nila ini sangat cepat pada kondisi ekologi yang baik dan bentuk tubuhnya relatif lebih lebar, dan dapat mencapai berat 140 gr per ekor. Komposisi kimia ikan nila memiliki kandungan gizi lemak yang cukup rendah yaitu 2,7 %, sehingga sangat cocok untuk diet, kandungan protein yang cukup tinggi 17,8 % sehingga cocok sebagai bahan dasar dalam pembuatan nila nyat-nyat. Ikan sering disebut sebagai makanan untuk kecerdasan, karena sebagai makanan yang memiliki sumber protein yang tinggi. Kalau dalam menu sehari-hari kita menghidangkan ikan, maka kita memberikan sumbangan yang tinggi pada jaringan tubuh kita. Ikan nila disukai oleh berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan kakap merah. Adapun keistimewaan nila nyat-nyat adalah penggunaan bumbu yang dapat meningkatkan tingkat penerimaan konsumen karena bumbu dapat meningkatkan cita rasa alami dari bahan pangan, sehingga bumbu yang dicampurkan ke dalam masakan akan menimbulkan peningkatan efek selera makan dan memberikan ciri khas tersendiri pada masakan. Proses pembuatan nila nyat-nyat sangat sederhana yaitu tumislah bumbu pada wajan, masukan air secukupnya sampai mendidih, ikan nila segar yang telah disiangi, dan lakukan perebusan secukupnya akan menghasilkan kenampakan yang utuh, kekuningan, aroma bau yang gurih, tektur padat dan rasa enak dan lezat
PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR DI MUARA SUNGAI AYUNG PROVINSI BALI BERBASIS KEARIFAN LOKAL
Provinsi Bali dari tahun ke tahun mengalami peningkatan kebutuhan air baku seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kegiatan pariwisata. Penelitian dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH, 2009) menyatakan bahwa Bali sudah mengalami defisit air pada saat musim kemarau sejak tahun 1995 sebanyak 1,5 miliar m3/tahun. Defisit air terus meningkat hingga 7,5 miliar m3/tahun pada tahun 2000 dan diperkirakan pada tahun 2015 defisit air di Bali akan menjadi sebanyak 27,6 miliar m3/tahun. Sungai Ayung merupakan sungai terpanjang di Provinsi Bali dengan panjang 71,791 km. Defisit Air di Provinsi Bali dapat diatasi jika pengelolaan dan pengembangan sumber daya air di wilayah sungai Ayung dapat dilaksanakan dengan baik berbasis kearifan lokal/Tri Hita Karana. Sumber daya air yang tersedia di daerah di hilir sungai atau Muara Sungai Ayung juga dapat dimanfaatkan sebagai pendukung air baku, sehingga tidak dibiarkan terbuang percuma ke laut pada saat musim hujan, akan tetapi dapat ditampung untuk pendukung potensi air di saat musim kemarau. Air permukaan yang mengalir di muara sungai Ayung menuju pantai Padanggalak Sanur sampai saat ini belum maksimal dikelola dan dikembangkan untuk kebutuhan air baku masyarakat, sehingga air tersebut terbuang siasia ke laut, sedangkan kerap menimbulkan defisit air di musim kemarau. Sumber daya air di Muara Sungai Ayung dapat dikelola sebagai sumber air baku berdasarkan pengelolaan air di hulu, tengah dan hilir sungai berbasis Tri Hita Karana yaitu parahyangan aspek konservasi sumber daya air, pawongan aspek pendayagunaan sumber daya air, palemahan aspek pengendalian daya rusak air Potensi sumber daya air yang terdapat di Sungai Ayung sebesar 15,37 m3/dt, dapat dikelola dan dikembangkan dengan pembangunan reservoar di hilir sungai, untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat di Provinsi Bali yang diperuntukkan sebagai air baku, air pariwisata dan air irigasi seluas 9542 Ha
The characteristics of waste product from the process of pemindangan in local village Bali
In regards to the process of “Pemindangan”, there will be so many waste products, both solid and liquid which contain hazardous organic compounds which are potentially capable of inflicting negative effects to the environment. Kusamba is a village which is considered the central of “Pemindangan” in Bali. This study observed and evaluated waste treatments done by fisherman in Kusamba Village. This study found waste management from the production of “Pindang” in Kusamba has been conducted through the specialized drain systems which physically filter the solid waste using the iron wires attached to them. The process was then continued by preceding the filtered water to the containers having been added with chlorine to perform chemical filtration. The last procedure is to apply biological aeration on the filtrated water. Chemical analysis showed the wastewater was already able to meet the criteria for environmentally friendly materials based on the standard water quality