2000 research outputs found
Sort by
CUSTOM, HINDU RELIGION, LOCAL LAW, AND SOCIAL CHANGE IN BALI IN THE CONTEXT OF TOURISM
This article explains that the island of Bali has its own uniqueness because of its tradition, Hinduism, culture, and local laws. Throughout the advancement of tourism in Bali, the local law should be able to filter the global capitalism tourism culture in Bali. The culture of Bali which was originally very strict with the local values, then get in touch with tourism neo-liberalism and capitalism.The value of cultural tourism is subjected to neo-liberalism global capitalism. On the one side,they are synergizing, but on the other hand, the indigenous people of Bali are just watching and serving the neo-liberalism of tourism. The scopes of problems in this writing can be formulated as follows. (1) What cultural values and laws that can strengthen the cultural tourism in Bali? (2) What are the meanings of the Balinese culture values in social change in the context of tourism? The goal of this writing is expected to be able to clarify the correlation values of the Balinese culture in the context of cultural tourism development in Bali. It also aims at anticipating of the negative global tourism (neo-liberalism) for the growth of cultural tourism in Bali. This study uses qualitative methods and in the data collection,it used depth interviews, involved observation technique, and documentsstudy. The results of this study, are expected be able to provide some inputs to either government of the province or the government of regencies. It is also hoped the government will to be able to dig into their local wisdom values for competitiveness and welfare of the local community, by making regulations and, or a pro-people’s policy for the indigenous peoples and indigenous villages in Bali. The result of the battle of global capitalism with the local traditionvalues, shows that in Bali social change has occurred and there are some correlations among the Balinese culture values with the tourism, culture, and social change in Bali
HUKUM KEPAILITAN: TEORI DAN PRAKTIK
Buku ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian dalam tesis penulis dalam bidang ilmu hukum, untuk meraih gelar Magister Ilmu Hukum konsentrasi Hukum Kepariwisataan, yang telah dipertahankan dihadapan Majelis Penguji yang terdiri dari: Dr. I Wayan Wiryawan, S.H.,M.H., Dr. I Made Sarjana, SH.,MH., Dr. I Ketut Westra, SH.,MH., Dr. Desak Putu Dewi Kasih, SH.,M.Hum., dan Dr. Putu Tuni Cakabawa Landra, SH,M.,Hum., pada tanggal 10 Juli 2015 di Program Pascasarjana Universitas Udayana. Dengan judul Tesis PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DALAM KEPAILITAN (Analisis Terhadap Keputusan Pengadilan Niaga Nomor: 20/Pailit/2011/PN.Niaga.Sby).
Tesis tersebut penulis pandang menarik dan penting untuk
diketahui oleh khalayak masyarakat, baik para praktisi hukum,
pelaku usaha dan akademisi terkait yang timbul dalam Kepailitan
debitor. Pemohon pailit diduga oleh termohon pailit telah
melakukan wanprestasi dan dugaan melakukan penipuan-penipuan
sehingga termohon pailit tidak menggunakan mekanisme Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sebagai upaya
untuk mencegah kepailitan
[Turnitin] PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR DI MUARA SUNGAI AYUNG PROVINSI BALI BERBASIS KEARIFAN LOKAL
[Peer Review] Genotypic characterization of human immunodeficiency virus type 1 isolated in Bali, Indonesia in 2016
[Peer Review] Utilization review inpatient and outpatient of traveller related to thypoid in Bali (study in two regencies: a case report)
PEMANFAATAN TEPUNG KULIT PISANG TERFERMENTASI UNTUK MENEKAN BIAYA PAKAN ITIK BALI UMUR 2-8 MINGGU
Biaya pakan yang selalu meningkat merupakan kendala utama dalam usaha peternakan, sehingga perlu adanya upaya untuk memanfaatkan bahan – bahan alternatif sebagai pakan untuk meningkatkan produksi dari ternak. Salah satu limbah industri yang bisa dimanfaatkan sebagai penyusun ransum adalah kulit pisang. Kulit pisang banyak kita temui di sekitar perkotaan maupun pedesaan karena banyaknya usaha yang menggunahan bahan dasar pisang seperti pisang goreng, slai dan sebagainya. Kulit pisang memiliki kandungan nutrisi yang baik seperti protein, serat kasar, kalsium dan phosphor (Anhwange et al, 2009). Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu: P0 (Pakan tanpa pemberian tepung kulit pisang fermentasi), P1 (pakan dengan level penambahan tepung kulit pisang fermentasi 7%), P2 (pakan dengan level penambahan tepung kulit pisang fermentasi 14%), P3 ((pakan dengan level penambahan tepung kulit pisang fermentasi 21%). Masingmasing perlakuan terdiri atas 3 ulangan, setiap perlakuan terdiri dari 3 ekor itik. Sehingga ternak yang digunakan sebanyak 36 ekor. Hasil penelitian berat potong dan berat karkas tertinggi pada perlakuan P1secara statistik berbeda tidak nyata (P>0,05).Perlakuan P0, P2, dan P3 lebih rendah dari perlakuan P1, sedangkan perlakuan P3 lebih tinggi dari perlakuan P0 dan P2, secara statistik berbeda tidak nyata (P>0,05). Untuk bagian – bagian karkas secara statistik berbeda tidak nyata (P>0,05), kecuali pada bagian sayap perlakuan P3 berbeda sangat nyata dibandingkan perlakuan P0, P1 dan P2 (P<0,01). Simpulan, pemberian tepung kulit pisang terfermentasi tidak berpengaruh nyata terhadap berat potong, berat karkas dan berat bagian karkas pada itik Bali jantan umur 2 – 8 minggu, kecuali perlakuan P3 pada karkas bagian sayap memberikan pengaruh yang sangat nyata dibandingkan dengan perlakuan P0, P1 dan P2 pada itik Bali jantan umur 2 – 8 minggu. Dengan demikian pemberian tepung kulit pisang terfermentasi tidak mampu menekan biaya ransum pada itik Bali jantan umur 2-8 minggu
Conception of Spatial Dualism around the Banyan Tree in Denpasar, Indonesia
This study aims to examine the conception of the duality between sekala (tangible) and niskala (intangible) spaces on the banyan tree and the elements of markers and markers of
both spaces. The method used in the study is interpretive naturalistic. Approaches that occur in the banyan tree with an understanding of the concept of dualism and the concept of space sekala and niskala. The results obtained are the "ritual conception" on the banyan tree creating a harmony dualism relationship between the sekala and the niskala space. With rituals approach to take effect on (1) a banyan tree that has elements: saput poleng (chessboard patterned fabric), pelinggih and element offerings (bebantenan) as a sign that around the banyan there is a space that is niskala which in the context of belief and respect for values of spirit influences spatial settings and spatial use behavior; and (2) those elements are also a sign of the "ban on cutting or destroying" the banyan tree, so that space utilized for social and economic activities is exist