2000 research outputs found
Sort by
Kontestasi Kuasa pada Warisan Budaya: Genealogi Pengelolaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot
Buku berjudul “Kontestasi Kuasa pada Warisan Budaya: Genealogi Pengelolaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot” berfokus pada penggambaran pergulatan tri polding, yaitu Pemerintah Kabupaten Tabanan, CV. Aryjasa Wisata, dan masyarakat Beraban dalam memperebutkan modal ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik. Ketidakpuasan masyarakat lokal terhadap sistem pengelolaan Tanah Lot menjadi akar penyebab pertarungan antar kelompok kepentingan tersebut. Ada tiga persoalan yang dipaparkan dalam biku ini yaitu (1) dinamika kontestasi kuasa pada warisan budaya dalam pengelolaan daya tarik wisata Tanah Lot, (2) Ideologi kontestasi kuasa pada warisan budaya dalam pengelolaan daya tarik wisata Tanah Lot, dan (3) makna kontestasi kuasa pada warisan budaya dalam pengelolaan daya tarik wisata Tanah Lot.
Dinamika kontestasi kuasa yang terjadi merefleksikan dimensi politik ekonomi, permainan ideologi, dan berbagai peta makna. Dinamika kontestasi sebagai Proses-proses pergulatan kuasa sebagai substansi kajian mencakup genealogi kontestasi, dinamika sistem pengelolaan, praktik kontestasi, dan konstruksi hasil kontestasi. Genealogi kontestasi menguraikan jejak-jejak kontinuitas historis pergulatan kekuasaan dan diskontinuitas diskursus, diawali gagasan pengelolaan warisan budaya sebagai daya tarik wisata sejak tahun 1971 dan perkembangannya sampai tahun 2011. Pertarungan ini menimbulkan dinakima sistem pengelolaan atau perubahan manajemen pengelolaan wisata dari sistem perorangan, kontrak, kemitraan, hingga model pendampingan. Praktik kontestasi kuasa melibatkan tiga pilar meliputi unsur pemerintah, kapital, dan Desa Pakraman Beraban. Perebutan peran mencakup sistem pengelolaan, kepemimpinan, kepemilikan, dan hak kuasa atas Tanah Lot. Proses kontestasi melahirkan kompromi sistem pengelolaan dalam bentuk kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat yang menjadi kekuatan baru membangun tatanan kelembagaan, sebagai hasil dekonstruksi institusi sebelumnya.
deologi dalam kontestasi kuasa di Tanah Lot meliputi ideologi kapitalisme, pariwisata, dan tri hita karana. Ideologi kapitalisme yang dimaksud adalah sikap mental mencari keuntungan secara rasional, dan cara produksi yang berimplikasi di bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Persaingan para pihak memperebutkan pendapatan melibatkan tiga aktor, yaitu pemilik modal (CV Aryjasa Wisata), pemerintah, dan masyarakat. Ideologi pariwisata meliputi pariwisata berkelanjutan dan pariwisata budaya. Pariwisata berkelanjutan mencakup dimensi lingkungan, ekonomi (kesejahtraan masyarakat), dan sosial-budaya (kemandirian masyarakat). Pariwisata budaya mengarah kepada pengembangan pariwisata yang memanfaatkan warisan budaya. Kecilnya pembagian retribusi untuk warisan budaya, dan besarnya memperoleh pembagian hasil untuk pengelola dipandang tidak adil, sehingga memicu masyarakat untuk memperjuangkan klaim kepemilikan warisan budaya. Ideologi Tri hita karana diartikan sebagai harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, manusia, dan lingkungan. Dalam konteks ini, hubungan manusia dengan Tuhan dan lingkungan berjalan dengan baik. Namun, dishamoni terjadi pada relasi manusia dengan manusia.
Makna kontestasi meliputi penguatan demokrasi, pemberdayaan masyarakat, pelestarian warisan budaya, dan penguatan citra pariwisata. Penguatan demokrasi, mencakup kewenangan pemerintah dalam menentukan kebijakan dan kekuasaan masyarakat dalam sistem pengelolaan Tanah Lot. Pemberdayaan masyarakat terwujud dalam perekonomian melalui peningkatan pendapatan dan peluang kerja. Pelestarian warisan budaya, berupa peningkatan kesadaran pemerintah dan masyarakat dalam pelestarian warisan budaya. Makna penguatan citra pariwisata, terwujud dalam praktik menjaga suasana kondusif, kenyamanan, dan keamanan warisan budaya sebagai daya tarik wisata meskipun terjadi kontestasi
Improving Economic Development Through The Establishment Of Village- Business Enterprises
This research was conducted with qualitative methods that adopted Community Based Research (CBR). By taking a research location in Pejarakan Village, Buleleng Regency, which is one of the villages with a good management of Village Owned Enterprises and has a lot of synergy entrepreneurial communities. The research was carried out to find out the existence of village entrepreneurial communities that were the drivers of the economy by synergizing with BUMDesa in realizing village economic prosperity and increasing village income. The results of this study are that the use of Gerbangsadu Mandara funds from the Government has been well allocated for village economic development, therefore Village-Owned Enterprises collaborate with the entrepreneurial community to develop community potential with the aim of improving community welfare and proving that Village-Owned Enterprises villages are able to improve the economy of the community through the development of productive economies. all villages are expected to be able to provide a great opportunity for businesses in the village to interact with the village government in forming BUMDesa
Incorporating additives for stability of Aloe gel potentially as an edible coating
There is a rising trend in the use of edible coating for fruit, with the aim of maintaining
freshness for longer, and also to improve the appearances. These applications are stimulated by
the awareness created regarding food health and safety, as the substances used are incorporated
with material-additive to ensure fruit quality improvement. In addition, aloe gel is one of the
potential natural edible coatings, known to contain numerous functional bioactive compounds.
The aim of this research, therefore, was to determine the consequence and influence of incorporated
additives (e.g., citric acid, ascorbic acid, potassium sorbate and sorbitol) on aloe gel (Ecogel)
pottentially as an edible coating during storage. This research applied a completely randomized
design, and the results showed a positive effect of additives. Meanwhile, the initial composition
of Ecogel include 98.46% of water, 1.08% carbohydrate, protein 0.037%, fat 0.28%, ash 0.22%
and pH 4.7. The degree of stability with the incorporation of ascorbic acid extended for 6 day.
This is observed from the variable of color difference (∆E) 11.30, Chroma (C*) 2.81, transparency
80.34 and the supporting attribute of water content (99.13%), 96 mPa viscosity, pH 3.87, and color
visually (clear white-yellow)
Language Attitude of Balinese Teenagers at Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung to Balinese Language
This research tries to investigate the language attitude of the teenagers at
Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. The village belongs to a
transition village with many modernizations due to the development of Badung
Regency. The result of the research shows that the teenagers have positive
language attitudes to Balinese Balinese language. The male teenagers of low class
tend to have positive language attitudes to Balinese language higher than the other
class groups of the teenagers at the village. The factors of the language attitudes of
the teenagers at Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung are
Language loyalty, language value, intimacy, demography
The Pattern of Facial Injury among Foreign Travelers in Bali: A Retrospective Study
BACKGROUND: Injury, especially road traffic accident caused injury, was the most cause of death in international traveler worldwide. Estimated more than 1 million people deaths and become disability after injury. Facial fracture was the most common injury in plastic surgery division among international traveler. AIM: This study is aimed to describe the pattern of facial fracture among foreign travelers in Bali to provide prompt prevention and treatment. METHODS: The retrospective study was did using the medical record, imaging analysis including computed tomographies and conventional radiographs of 126 cases of facial fracture from the period of January 2009 to September 2012. The patterns of facial fractures were divided into four main categories of craniofacial, maxillofacial, nasal, and mandibulofacial. RESULTS: The result showed that fractures involving nasal region were the most common (n = 65, 51.6%) followed by midface region (n = 58, 46.0%), craniofacial (n = 50, 39.7%), and mandibulofacial (n = 20, 15.9%), respectively. CONCLUSION: It can be concluded, nasal fracture and midfacial fracture were the most common type of facial fracture with the major cause of motor vehicle accidents
NILAI KEBHINEKAAN DALAM TEMPAT SUCI
Dewasa ini bangsa Indonesia sedang dihadapkan dengan berbagai permasalahan besar berkenaan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, baik bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Di Bidang politik, misalnya: tebaran issu disintegrasi bangsa di daerah-daerah rawan konflik yang didalangi kelompok orang dan/ atau organisasi tertentu yang kerap memanfaatkan keadaan masyarakat yang mentalnya kurang stabil. Momen strategis yang dipilih biasanya ketika ada hajatan besar bidang politik, seperti: Pilpres, Pilgub, Pilkada, dan bentuk kegiatan lain yang melibatkan gerakan massa dan bermuara kepada perpecahan. Akan tetapi, bila kembali merenung jauh ke belakang, bahwa masalah konflik di negeri ini pada dasarnya bermula dari konflik budaya yang berlangsung terus dalam masyarakat tanpa kecuali, baik dalam sekala kecil, skala menengah, maupun skala besar. Penyebabnya tiada lain, karena tuntutan dari masing-masing sistem budaya bahwa dialah satu-satunya penguasa yang bertindak sebagai pemelihara struktur sosial, dan pada sistemsistem yang lain juga mempunyai tuntutan serupa (Harsya W.
Pura-Pura Bhineka Tunggal Ika di Bali
102
Bachtiar, 1985: 3). Dalam kenyataannya di lapangan saat ini, bahwa tradisi konflik kecil bahkan meluas kepada perpecahan, dan masih ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Artinya, konflik itu sudah menjadi sebuah kebiasaan sehingga tidak dapat dihindari, dan dapat terjadi pada tingkat keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGLI TENTANG PENDIRIAN PERUSAHAAN UMUM DAERAH AIR MINUM TIRTHA DANU AMERTHA
Indonesia dengan keadaan geografis berupa kepualauan menyebabkan pemerintah sulit menjalankan sistem pemerintahan yang berkarakter sentralistik. Kesulitan tersebut mendorong pemerintah menentukan cara mengkoordinasi pemerintah yang ada di daerah dengan membentuk sistem pemerintahan yang efisien dan mandiri, tetapi tetap di bawah pengawasan dari pemerintah pusat, yang dewasa ni dikenal dengan konsep desentralisasi. Bila ditelusuri kembali dinamika perkembangan konsep desentralisasi, akan terlihat bahwa dalam perjalanannya ia tidak pernah luput dari kritik, bahkan berbagai perdebatan pada tataran konseptual maupun praktek.
Desentralisasi adalah penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengurusi urusan rumah tangga sendiri berdasarkan prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia. Desentralisasi munculkan otonomi bagi suatu pemerintah daerah. Desentralisasi sebenarnya adalah istilah dalam keorganisasian yang secara sederhana didefinisikan sebagai penyerahan kewenangan . Dalam kaitannya dengan sistem pemerintahan Indonesia, Desentralisasi akhir- akhir ini seringkali dikaitkan dengan sistem pemerintah karena dengan adanya desentralisasi sekarang menyebabkan perubahan paradigma pemerintah di Indonesia
The Use of Taboo Words in Denpasar
Taboo words are considered to be inappropriate to use in every language in the world, especially Denpasar. This research aimed to analyze the motives, forms, and types of taboo words found in daily conversation used by people in Denpasar. This research is descriptive qualitative study. The observation method was used in collecting the data. After observing the data, the recording method and note taking technique were also used to collect the data. Based on the results, it was found that (1) the motives of taboo words used by the people are psychological, social, and linguistic motives. Psychologically, the taboo words are used for (a) expressing anger, (b) expressing astonishment, (c) expressing disappointment, and (d) expressing happiness. Furthermore, they are socially used for (e) attracting people’s attention, (f) insulting someone, (g) showing intimacy or solidarity, (h) showing contempt, (i) showing sympathy, and (j) amusing someone. And linguistically, they are used for (k) giving emphasis on what they try to communicate. (2) Based on the form, they grammatically consist of word, phrase, compound, and reduplication. Finally, the kinds of taboo words found in this research were: (a) abusive swearing/epithets), (b) obscenity, (c) cursing, (d) religious matters/profanity/blasphemy, (e) names of one’s in-laws, (f) animal imagery, (g) Children’s insults (abnormal physical, psychological, or social characteristics), (h) social deviations, (i) ethnic and racial slurs, (j) vulgarity, and (k) slan