532 research outputs found
Sort by
PROTOTIPE PENGGUNAAN KINECT DALAM PENGENDALIAN GERAK ROBOT
ABSTRAK
Prototipe penggunaan Kinect dalam pengendalian gerak robot adalah
sebuah sistem yang menggunakan Kinect, sensor yang mampu mendeteksi warna,
jarak, gerakan, wajah, dan juga suara, sebagai pengendali gerak robot lewat
gerakan anggota badan (isyarat) tanpa menggunakan remote control atau jenis
controller yang sejenis sehingga pengendalian gerak robot menjadi lebih terasa
nyata. Pada tugas akhir ini, sistem pengendalian sistem gerak robot dimulai
dengan inputan dari gerakan isyarat tangan user (operator). Isyarat tangan
tersebut kemudian ditangkap oleh Kinect dan dilakukan penerjemahan ke bentuk
hand model (posisi tangan user yang diwakilkan oleh sebuah titik hijau pada
Windows UI). Proses tersebut menggunakan aplikasi Processing berbasis Java
dengan menggunakan library tambahan SimpleOpenNI 0.27. Proses
penginterpretasian isyarat tangan ke perintah gerak diproses oleh komputer. Data
berupa perintah orientasi gerak yang dihasilkan komputer, dikirimkan secara
serial ke board arduino. Kemudian board arduino akan mengendalikan gerak robot
dengan mengirimkan data logic dan PWM ke dua motor DC sesuai dengan data
yang dikirim dari PC. Perintah yang dikerjakan dalam tugas akhir ini adalah
perintah gerak maju, mundur, belok kanan, dan belok kiri. Jarak ideal tubuh user
agar menjalankan aplikasi ini secara optimal yaitu pada jarak 1,2-1,5 m dari
sensor Kinect dengan kecepatan isyarat tangan tidak lebih besar 4900 mm/s. Dari
hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa sistem ini telah layak digunakan
sebagai pengendali gerak robot.
Kata Kunci: Kinect, Arduino and Kinect, Processing, Arduino IDE, SimpleOpenNI
0.27, Hand Tracking, Gesture, Motion, Robo
KEWENANGAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH PASCA-PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 92/PUU-X/2012
KEWENANGAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH PASCA-PUTUSAN
M AHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR
92/PUU-X/2012
( Fery Wijaya, 1220113050, Universitas Andalas, 173 hlm, 2014)
ABSTRAK
Gagasan akan pentingnya keberadaan perwakilan daerah di parlemen, pada
awalnya diakomodasi dalam konstitusi pertama Uundang-undang Dasar 1945,
dengan konsep “utusan daerah”, yang bersanding dengan “utusan golongan” . Dalam
periode konstitusi berikutnya. UUD RIS gagasan tersebut diwujudkan dalam bentuk
Senat. Dalam UUDS 1950 tetap mengakomodasi Senat. Setelah kembali ke UUD
1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Konsekuensinya, utusan daerah kembali
hadir. Dalam rangka pembaharuan konstitusi pada tahun 1999-2002, MPR RI
membentuk sebuah lembaga perwakilan baru, yakni Dewan Perwakilan Daerah
Republik Indonesia (DPD RI). Pada perubahan ke tiga UUD 1945 bulan November
2001. Sistem perwakilan dan parlemen di Indonesia berubah dari sistem unikameral
menjadi sistem bicameral. Sistem bicameral yang diselenggarakan di Indonesia
berbeda dengan sistem bicameral negara-negara lain, yang dikenal dengan sistem
dua kamar yang kuat Congress Amerika serikat, misalnya, DPR dan senat punya
kesempatan untuk mengecek semua rancangan undang-undang sebelum disampaikan
kepada Presiden. Secara tidak langsung dalam argumen ini menegaskan bahwa
konsep bikameral sendiri sebenarnya tidak diterapkan DPD bahkan tidak mempunyai
"kekuatan konstitusional“ untuk berkompetisi. Adapun permasalahan yang dibahas
dalam tesis ini adalah: Bagaimanakah Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi
Nomor 92/PUU-X/2012 terhadap Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah, dan
Bagaimanakah pengaruh Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut terhadap sistem
bikameral di indonesia. Dalam penulisan ini penulis menggunakan metode penelitian
yuridis normatif, sedangkan data yang digunakan dari data sekunder serta teknik
pengumpulan data berupa studi kepustakaan. Dari hasil penelitian ini Implikasi
putusan MK Nomor 92/PUU-X/2012 mengabulkan permohonan DPD: Pertama
kewenangan DPD dalam mengajukan RUU diposisikan sama dengan DPR dan
Pemerintah; kedua Kewenangan DPD ikut membahas RUU meliputi semua tahapan
dan proses pembahasan RUU sampai dengan pembahasan tingkat II/ sebelum tahap
persetujuan; ketiga DPD memiliki wewenang ikut menyusun Prolegnas pembahasan
RUU dilakukan oleh tiga lembaga (DPR, DPD dan Presiden) tripartid. Perubahan
keempat UUD 1945 gagasan bahwa sistem parlemen Indonesia dapat disebut
trikameral walaupun ada tiga kamar namun hanya dua kamar yang bersentuhan
langsung dalam hal legislasi. Pasca-Putusan MK, dengan melihat adanya penguatan
kewenangan DPD sebagai second chamber dalam fungsi legislasi maka telah sesuai
dengan amanat konstitusi. Sebagaimana yang termaktub dalam Pasal 22D UUD
1945. Diharapkan DPR dan Pemerintah melaksanakan putusan MK yang bersifat
final apabila putusan ini tidak dilaksanakan proses pembentukan UU yang
dilaksanakan mulai dari dibacakan putusan tersebut adalah cacat formal. Berdasarkan
legitimasinya dalam UUD 1945 seharusnya kewenangan DPD tidak lagi di reduksi
oleh undang-undang yang mengatur lebih lanjut tentang kewenangan DPD.
Kata Kunci: Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Konstitusi
“PEMODELAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU DALAM PERHITUNGAN ALIRAN DAYA LISTRIK”
ABSTRAK
Kebutuhan energi listrik dari tahun ke tahun semakin meningkat. Idealnya peningkatan pembangunan pembangkit adalah 2-2.5 kali lipat dari laju pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah pembangkit listrik tenaga angin.
Pembangkit listrik tenaga angin diletakkan pada salah satu bus yang ada pada saluran distribusi dan divariasikan letaknya untuk mendapatkan kondisi kerja optimal. Pembangkit divariasikan letaknya pada bus 2, 17, dan 35. Ada 2 jenis pembangkit yang digunakan yaitu pembangkit yang menggunakan generator induksi dan generator sinkron dan kemudian aliran daya dihitung.
Program aliran daya dijalankan menggunakan Microsoft Visual Studio 2010 dengan metode fast decoupled. Sistem distribusi listrik yang digunakan adalah sistem yang dioperasikan oleh Companhia Energética de Minas Gerais(CEMIG), Brazil. Sistem distribusi ini adalah sistem radial dan terdiri atas 37 bus dengan total beban adalah 2,298 MVA. Data yang diambil adalah jatuh tegangan maksimum, rugi-rugi daya aktif dan reaktif.
Dari program yang dijalankan, diketahui bahwa penambahan pembangkit listrik tenaga angin mengakibatkan peningkatan profil tegangan yang mengakibatkan penurunan rugi-rugi daya. Saat beban puncak yaitu jam 10.00, rugi-rugi daya aktif menurun dari 19.59 kW menjadi 11.70 pada generator induksi dan 19.59 menjadi 18.22 kW pada generator sinkron turbin angin. Rugi-rugi daya reaktif juga menurun dari 21.41 kW menjadi 12.48 kW pada generator induksi dan 21.41 kW menjadi 20.15 kW pada generator sinkron turbin angin.
Kata kunci : Krisis energi, Pembangkit listrik Tenaga Angin, Aliran Daya, Metode Fast Decoupled, Microsoft Visual Studio 2010
ANALISIS UPAYA PELAYANAN KESEHATAN OLAHRAGA DI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN OLAHRAGA PELAJAR (PPLP) PROPINSI SUMATERA BARAT
xii
PROGRAM STUDI PASCASARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG
HASIL PENELITIAN TESIS, SEPTEMBER 2014
PUDIA M. INDIKA, 1121219015
ANALISIS UPAYA PELAYANAN KESEHATAN OLAHRAGA DI PUSAT
PENDIDIKAN DAN LATIHAN OLAHRAGA PELAJAR (PPLP)
PROPINSI SUMATERA BARAT
ABSTRAK
Pembinaan olahraga prestasi dimulai pada usia dini dengan dibentuknya
PPLP di Indonesia, salah satunya di Sumatera Barat. Prestasi PPLP Sumatera
Barat menunjukan ketidakstabilan di tingkat nasional. Tahun 2012, dari 11 cabang
olahraga yang dibina, hanya gulat yang mendapat juara umum pada kejuaraan
Nasional PPLP. Kesehatan siswa sebagai seorang olahragawan merupakan hal
utama dalam mengikuti program latihan. Siswa yang sakit dan dibawa ke fasilitas
kesehatan rata ? rata perbulan 50 orang dari 137 orang (36,5%). Tujuan penelitian
adalah menganalisis upaya pelayanan kesehatan olahraga di PPLP Sumatera
Barat.
Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data
melalui wawancara mendalam dengan Kepala Dinas, Kepala Bidang
Pemberdayaan Olahraga, Kepala Seksi Olahraga Pendidikan Dinas Pemuda dan
Olahraga Propinsi Sumatera Barat, Kepala Asrama PPLP, Petugas Kesehatan
PPLP, dan Dokter KONI Sumatera Barat tentang upaya pelayanan kesehatan yang
meliputi pemeriksaan kesehatan awal, pemantauan kesehatan secara periodik dan
evaluasi kesehatan bagi siswa PPLP. Focus Group Discussion (FGD) dengan
siswa PPLP berjumlah 6 orang yang dilakukan secara acak dengan simple
random sampling. Wawancara mendalam dan FGD dianalisis triangulasi untuk
mendapatkan hasil.
Hasil penelitian didapatkan bahwa upaya pelayanan kesehatan di PPLP
Sumatera Barat telah ada kebijakan untuk pemeriksaan kesehatan awal calon
siswa dan belum terlaksana secara terpusat di PPLP Sumatera Barat. Kebijakan
pemantauan kesehatan siswa secara periodik telah ada, pemantauan dilakukan
bagi siswa yang mengalami sakit dan diberi pengobatan kepada tenaga paramedis
yang telah ditunjuk. Evaluasi dilakukan sekali oleh Kementerian Pemuda dan
Olahraga Republik Indonesia dan hasil evaluasi kesehatan dapat dilihat website
sentra keolahragaan.
Kesimpulan penelitian adalah belum adanya bidang kesehatan yang
mengelola secara menyeluruh kesehatan siswa yang akan diterima, memantau
kesehatan secara periodik dan mengevaluasi kesehatan siswa selama berada dalam
PPLP. Saran penelitian adalah dibentuknya bidang kesehatan yang terdiri dari
tenaga medis dan paramedis, kerjasama lintas sektor dan lintas program terutama
pada dinas kesehatan.
Daftar Kepustakaan : 28 (1986 ? 2013)
Kata Kunci : Pelayanan Kesehatan Olahraga, PPLP
xiii
GRADUATES STUDIES PROGRAM OF PUBLIC HEALTH
FACULTY OF MEDICINE ANDALAS UNIVERSITY
THESIS RESEARCH, SEPTEMBER 2014
PUDIA M. INDIKA, 1121219015
ANALYZE OF SPORT HEALTH SERVICE AT SPORT EDUCATION
AND TRAINING STUDENTS CENTRE (SETC) IN WEST SUMATERA
ABSTRACT
Sport development performance began childhood with the establishment
SETC in Indonesia, one of in West Sumatera. Achievment SETC in West
Sumatera showed instability at the national level. In 2012, of the 11 sports are
fostered, wrestling gets champion in national championship for SETC. Student
health as a athlete is the primary point for sport exercise program. unfit students
was taken health facility average of 50 until 137 (36.5%). people monthly. The
objective research is analyze of sport health service at SETC in West Sumatera.
The research design used qualitative method. Collecting research data
through in-depth interviews with direction of Education Youth and Sports
Department West Sumatera, chief of SETC, SETC health practitioner, and general
practitioner about first health screening, monitoring periodic health and medical
evaluations for SETC students. Focus Group Discussion with 6 students of SETC
are taken by simple random sampling. In ? depth interviews and focus group
discussions were analyzed triangulation to obtain the result.
The result research showed that the sport health service in SETC West
Sumatera has policy for the first medical examination and the applicant has not
done centrally. Policy periodically health monitoring students has been there,
monitoring for students who sick and the treatment given to paramedic have been
appointed. Evaluation is done once by the Ministry of Youth and Sports of the
Republic of Indonesia and the result showed in website sports centre.
Conclusion of research is the absence of the health centrally sector which
mananges health all students who will be accepted, periodically monitori and
evaluate medical students health whilw in SETC. Suggestion is creation of health
research consisting of medical and paramedical personnel, collaboration across
sectors and programs, especially with health department.
Bibliography : 28 (1986 ? 2013)
Keywords : Sport Health Service, Sport Education And Training Students Centr
IbM Anak usia prasekolah di TK 'Aisyiyah Padang
Dalam mempersiapkan anak usia prasekolah untuk perubahan gaya hidup yang paling bermakna atau mulai sekolah, maka diperlukan kombinasi dari berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan anak yaitu biologis, psikososial, kultural, kognitif, spiritual dan sosial selama periode prasekolah (usia 3 sampai 5 tahun). Berbagai macam permainan yang dapat mengembangkan kemampuan anak, seperti bermain peran, puzzle, dan origami. Salah satu upaya untuk mengetahui perkembangan motorik halus dan kognitif anak usia prasekolah adalah dengan menggunakan terapi bermain: origami. Berdasarkan hasil observasi di Taman Pendidikan Kanak-Kanak Aisyiah Padang, dapat terlihat anak-anak masih belum dapat mengembangkan kemampuan mengenal benda dan membentuk benda. Anak dapat menggunting dan menempel kertas tapi belum rapi dan tidak sesuai dengan pola. Kegiatan ini bertujuan untuk mengoptimalkan perkembangan motorik halus anak usia prasekolah dan daya kreativitas anak. Sasaran dari program ini adalah murid TK ‘Aisyiyah Padang. Metode pelaksanaan program IBM ini mencakup beberapa tahapan yaitu tahap persiapan meliputi: mempersiapkan izin lokasi, desain media edukasi yang tepat untuk anak dan alat permainan. Tahap kedua yaitu pelaksanaan meliputi identifikasi karakteristik anak, tahap pertumbuhan dan perkembangan dengan menggunakan KPSP, sosialisasi program kepada pihak sekolah, melaksanakan terapi bermain: origami, dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan. Tahap ketiga adalah tahap evaluasi mencakup penilaian perkembangan motorik halus anak 1 minggu setelah pelaksanaan kegiatan. Target luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah publikasi ilmiah dalam jurnal nasional yang terakreditasi, prosiding pada seminar ilmiah berskala nasional/internasional, rumusan pendekatan intervensi yang tepat dalam mengembangkan ketrampilan motorik halus pada anak dan pengayaan bahan ajar keperawatan anak
The Influence of Liquidity Ratio And Capital Adequacy Ratio to Bank’s Profitability (Empirical study On Joint Venture Banks In Indonesia for Period 2010-2012)
BIODATA
a). Tempat/Tgl Lahir : Lubuk Sikaping/ 23Januari 1992 b). Nama Orang Tua :
Yusrizal(Alm)/Artita c). Fakultas : Ekonomi d). Jurusan : Akuntansi e). No.Bp : 0910534032 f).
Tanggal Lulus : 7 Januari 2014 g). Predikat lulus : Sangat Memuaskan h). IPK : 3.13 i).
Lama Studi : 4 Tahun 5 bulan j). Alamat Orang Tua: Jln KH A Dahlan no 05 Guguak
Malintang, Padang Panjang
The Influance of Liquidity Ratio And Capital Adequacy Ratio to Bank’s Profitability
(Empirical study On Joint Venture Banks in Indonesia For Period 2010-2012)
Thesis By: Indah Fotia Arza
Thesis Advisor: Drs.Riwayadi MBA, Ak, CSRS
ABSTRACT
The purpose of this research is to obtain evidence about the influence of Liquidity Ratio
in term of Loan to Deposit Ratio (LDR) and Capital Adequacy Ratio (CAR) on bank’s
Profitability. This research was conducted at Joint Venture Banks in Indonesia. Types of
research are descriptive and quantitative verification approach by testing all variables that
used in this research.
The sampling technique used in this research is purposive sampling, with some criteria,
those are: (1) Banking companies that published financial reportys for three consecutive years
from 2010-2012; (2) financial statements which had ended on 31 december in order to avoid
the influence of partial time in the calculation of financial ratios;. Analysis method used is
multiple regression analysis, t-Test, F-Test and coefficient of determination analysis (R2).
The result of this research shows that the data has fulfill the classical asumption, such
as: no multicolinearity, no autocorrelation, no heteroscedasticity and distributed normally.
From the hyphothesis testing of this research indicates that Capital Adequacy Ratio (CAR)
has a positive and significant effect on Return on Asset (ROA), meanwhile Loan to Deposit
Ratio (LDR) has positive but not significant effect on Return on Asset. In addition,
simultaneously Loan to Deposit Ratio and Capital Adequacy Ratio have significant effect on
Return on Asset. All of independent variables in this study are only accounted for 39,9% that
affect on dependent variable and the remaining 60,1% is influenced by other factors that are
not included in the regression model as shown in the adjusted R2 value.
Keywords: Loan to Deposit Ratio, Capital Adequacy Ratio, Profitability
Skripsi telah dipertahankan di depan sidang penguji dan dinyatakan lulus pada tanggal 29
November 2013, dengan penguji :
Mengetahui :
Ketua Jurusan Akuntansi: Dr. Efa Yonnedi SE, MPPM, Ak
NIP.197205021996021001 Tanda tangan
Alumnus telah mendaftar ke fakultas dan telah mendapat Nomor Alumnus :
Tanda Tangan
Nama Terang Rayna
Kartika.SE.M.Com,Akt
Drs.Riwayadi,MBA,Ak,CSRS
ABSTRACT
The purpose of this research is to obtain evidence about the influence of Liquidity Ratio
in term of Loan to Deposit Ratio (LDR) and Capital Adequacy Ratio (CAR) on bank’s
Profitability. This research was conducted at Joint Venture Banks in Indonesia. Types of
research are descriptive and quantitative verification approach by testing all variables that
used in this research.
The sampling technique used in this research is purposive sampling, with some criteria,
those are: (1) Banking companies that published financial reportys for three consecutive years
from 2010-2012; (2) financial statements which had ended on 31 december in order to avoid
the influence of partial time in the calculation of financial ratios;. Analysis method used is
multiple regression analysis, t-Test, F-Test and coefficient of determination analysis (R2).
The result of this research shows that the data has fulfill the classical asumption, such
as: no multicolinearity, no autocorrelation, no heteroscedasticity and distributed normally.
From the hyphothesis testing of this research indicates that Capital Adequacy Ratio (CAR)
has a positive and significant effect on Return on Asset (ROA), meanwhile Loan to Deposit
Ratio (LDR) has positive but not significant effect on Return on Asset. In addition,
simultaneously Loan to Deposit Ratio and Capital Adequacy Ratio have significant effect on
Return on Asset. All of independent variables in this study are only accounted for 39,9% that
affect on dependent variable and the remaining 60,1% is influenced by other factors that are
not included in the regression model as shown in the adjusted R2 value.
Keywords: Loan to Deposit Ratio, Capital Adequacy Ratio, Profitability
PetugasFakultas / Universitas
No AlumniFakultas Nama: Tanda tangan:
No Alumni Universitas Nama: Tanda tangan
PENGARUH KURANG TIDUR TERHADAP BERAT BADAN PADA TIKUS WISTAR JANTAN
ABSTRAK
PENGARUH KURANG TIDUR TERHADAP BERAT BADAN PADA TIKUS
WISTAR JANTAN
oleh
Deby Nelsya Eka Putri
ii
Prevalensi penderita yang mengalami kurang tidur pada orang dewasa
semakin meningkat, pada tahun 1975 prevalensinya 7,6% dan 9,3% pada tahun 2006.
Pengurangan durasi tidur menurunkan kadar leptin dan meningkatkan kadar ghrelin.
Tidur kurang dari 6 jam per malam meningkatkan kemungkinan terjadinya obesitas.
Jenis penelitian adalah true experimental research dengan rancangan
Randomized Post Control Group terhadap tikus. Tikus dikondisikan mengalami
Paradoxycal Sleep Deprivation dengan metode modified multiple platform. Asupan
makanan diberikan ad libitum dan berat badan diukur setelah pengurangan durasi
tidur selama 24 jam, 48 jam, dan 72 jam. Populasi pada penelitian adalah seluruh
tikus Wistar jantan berumur tiga bulan dengan berat 150-250 gram dan besar sampel
ditentukan dengan rumus Fraenkle-Wallen. Analisis data menggunakan uji Saphiro-
Wilk Test dan One-Way ANOVA.
Rerata berat badan (gram) setelah pengurangan durasi tidur 24 jam adalah
193,571±17,9894; setelah 48 jam 179,643±17,2765; dan setelah 72 jam
176,714±15,9004. Dibandingkan dengan kontrol selama 24 jam didapatkan
219,143±9,6812; selama 48 jam 222,071±11,2932; dan selama 72 jam
224,643±13,2310. Pengurangan durasi tidur 24 jam, 48 jam, dan 72 jam
dibandingkan dengan kontrol tidak bermakna (p>0,05).
Dapat disimpulkan tidak terjadi perubahan berat badan pada pengurangan
durasi tidur selama 24 jam, 48 jam, dan 72 jam.
Kata kunci : Kurang Tidur, Berat Badan, Tikus Wista
The Relationship Between Self Efficacy and Job Satisfaction on Organizational Commitment Study in: RSUP DR.M. Djamil Padang
HUBUNGAN DURASI STROKE, KARAKTERISTIK SOSIODEMOGRAFI, TERAPI ANTIHIPERTENSI, KOMORBIDITAS, DAN TINGKAT KEPATUHAN PASIEN DENGAN KUALITAS HIDUP TERKAIT KESEHATAN (HRQoL) PADA PASIEN STROKE DI RS STROKE NASIONAL BUKITTINGGI
HUBUNGAN TERAPI ANTIHIPERTENSI, KOMORBIDITAS, DAN
TINGKAT KEPATUHAN PASIEN DENGAN HEALTH RELATED QUALITY
OF LIFE (HRQoL) PADA PASIEN STROKE DI RS STROKE NASIONAL
BUKITTINGGI
Oleh: Lailaturrahmi
(Dibawah Bimbingan: Prof. Dr. Armenia, MS, Apt
dan Khairil Armal, S.Si., Apt., Sp. FRS)
RINGKASAN
Stroke mempengaruhi kehidupan pasien dalam berbagai aspek, tidak hanya
secara fisik, tetapi juga secara emosional, psikologis, kognitif, dan sosial. Tingkat
kecacatan fisik dan mental pasca stroke mempengaruhi kualitas hidup pasien. Seiring
dengan penurunan angka kematian akibat stroke, lebih banyak pasien yang harus
hidup dengan berbagai keterbatasan dan gangguan (Weerd, et al, 2011).
Untuk mengetahui tingkat kecacatan akibat stroke, dapat digunakan Indeks
Barthel ( BI ) dan subskala Rankin yang dimodifikasi ( mRS ), dua jenis alat ukur
yang paling sering digunakan pada penelitian stroke yang berfokus pada kecacatan
akibat stroke. Namun, pasien stroke memiliki berbagai gejala selain disfungsi
motorik, dan kedua subskala tersebut tidak mampu menilai seluruh rangkaian gejala
yang terjadi selama stroke. Oleh karena itu, diperlukan penilaian yang lebih
komprehensif untuk beban penyakit pada pasien stroke. Penilaian ini dapat dilakukan
v
dengan konsep kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan (HRQoL), suatu
pendekatan multidimensional untuk mengukur beban penyakit yang dialami pasien
(Sturm, et al., 2004).
Menurunkan tekanan darah merupakan upaya terpenting dalam pencegahan
stroke sekunder. Pemberian obat-obat antihipertensi dikaitkan dengan penurunan
risiko stroke hingga 40%(Markus, et al., 2010). Tidak hanya terkait dengan
pengendalian faktor risiko, pengendalian tekanan darah juga dapat memperbaiki
outcome pada pasien stroke (Aiyagari, et al., 2009).
Keberadaan komorbiditas lain dapat menurunkan HRQoL pada pasien stroke
(Nichols-Larsen, et al., 2005). Pasien stroke yang menderita hipertensi, diabetes
mellitus, fibrilasi atrium, atau infark miokard memiliki HRQoL yang lebih rendah
bila dibandingkan dengan pasien stroke yang tidak menderita penyakit penyerta lain
(Sturm, et al., 2004).
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui hubungan kepatuhan
pasien terhadap pengobatan dan Health Related Quality of Life (HRQoL). Tingkat
kepatuhan pasien terhadap pengobatan hipertensi dikaitkan dengan kualitas hidup
yang lebih baik pada pasien hipertensi dan pasien hipertensi dengan stroke (Baune, et
al , 2005).
Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross-sectional antara Maret
hingga Mei 2014. Pasien diwawancarai dengan menggunakan kuesioner Morisky
Medical Adherence Scale-8 (MMAS-8) dan Stroke Specific Quality of Life (SSQoL)
vi
yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Data jenis kelamin, usia,
pendidikan, dan pekerjaan diambil pada saat wawancara dan dikonfirmasi dengan
rekam medik pasien. Data antihipertensi yang diterima oleh pasien serta penyakit lain
yang diderita diperoleh dari rekam medik. Uji analisis kovariat digunakan untuk
menganalisis hubungan jenis antihipertensi, komorbiditas, dan tingkat kepatuhan
dengan HRQoL pasien. Analisis dilakukan dengan tingkat kepercayaan 95%.
Dari 155 pasien stroke yang memenuhi kriteria inklusi, berjenis kelamin lakilaki
(68,40%) dan berusia di atas 60 tahun (60,00%). Kelompok pasien yang
menamatkan sekolah menengah atas (31,60%), dan berstatus pensiunan (27,70%)
menempati proporsi terbesar dibandingkan dengan tingkat pendidikan maupun
pekerjaan lainnya. Jenis antihipertensi yang paling banyak digunakan oleh pasien
adalah Ca channel blocker (54,20%). Sementara itu, pasien stroke yang berpartisipasi
dalam penelitian ini umumnya tidak memiliki komorbiditas lain selain hipertensi
(60,60%). Kelompok pasien yang memiliki kepatuhan baik terhadap terapi
antihipertensi menempati proporsi terbesar (49,70%).
Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara terapi antihipertensi dengan
HRQoL (p>0,1). Komorbiditas yang diderita oleh pasien stroke juga tidak
berhubungan secara nyata dengan HRQoL (p>0,1). Demikian pula halnya dengan
tingkat kepatuhan yang tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan HRQoL
(p>0,1). Meskipun demikian, interaksi terapi antihipertensi, komorbiditas, dan tingkat
kepatuhan memiliki hubungan yang berbeda nyata dengan HRQoL pasien stroke
(p<0,05)