762 research outputs found
Sort by
ANALYSIS OF ACCOUNTING MANIPULATION FOR HEDGING ON FOREIGN EXCHANGE TRANSACTION IN THE RELATION WITH IMPLEMENTATION OF PSAK No. 55\ud (Case study on PT. Unilever Tbk)\ud
The objectives of this research is to know does the accounting manipulation for hedging or accounting for value protection, have been implemented in right and good or not by PT. Unilever tbk. This research is a qualitative research, because researcher just wanted to see does the accounting manipulation have been implemented in right and good or not. The research method used in this research is simple descriptive, because researcher only focus on the implementation, without comparing or to know the frequency of each manipulation.\ud
\ud
From the research that have been done, researcher could conclude that the accounting manipulation for hedging in foreign exchange is already implemented in right and good by PT. Unilever in accordance with PSAK No. 55. It is showed in the audited financial report, that PT. Unilever write down every transaction in foreign exchange on the companies note of financial report, and in the end of the period, PT. Unilever count the companies gain/lose for the foreign exchange transaction that have been done in the period of financial report.\u
ANALYSIS OF CHANGES IN ECONOMIC STRUCTURE CENTRAL LAMPUNG DISTRICT OF YEAR 1998-2007\ud \ud
Since the enactment of the implementation of regional autonomy which are calculated on a January 2001 put every local government became a key shareholder in the framework of the successful implementation of governance and regional economic development. In the process of economic development will usually be followed by a process of change in economic structure. During this agricultural sector is still considered capable of becoming the leading sectors in its contribution to revenues in both national and regional level. Agricultural development is one strategy in spurring economic growth. Central Lampung District has the potential to support the progress of the agricultural sector. But over time the role of agriculture sector decreased to reflect a process of structural transformation. The reduced role of the agricultural sector is one of them caused by the occurrence of agricultural land conversion to non- agricultural.\ud
\ud
\ud
This study aimed to determine changes in the economic structure of Central Lampung District during the period 1998 to 2007 and find out how the agricultural sector's contribution to the economy of Central Lampung regency. In the data analysis and discussion of the shift share analysis is used to see changes / shift in economic structure, Location quotient (LQ) for a sector basis and non-base as well as the contribution of the agricultural sector.\u
\ud ANALYSIS OF CHANGES IN ECONOMIC STRUCTURE CENTRAL LAMPUNG DISTRICT OF YEAR 1998-2007\ud \ud \ud
Berdasarkan alat analisis yang digunakan serta hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut :\ud
1. Berdasarkan hasil analisis Shift Share Kabupaten Lampung Tengah tahun\ud
analisis 1998 – 2007 bila dilihat dari komponen share (Nr) atau efek pertumbuhan nasional menunjukkan bahwa total laju pertumbuhan sektor -sektor ekonomi melalui data PDRB Kabupaten Lampung Tengah adalah positif. Aktivitas sektor pertanian di Kabupaten Lampung Tengah memberikan kontribusi tertinggi 243.381,050 juta rupiah dan diikuti oleh sektor industri pengolahan sebesar 38.683,936 juta rupiah, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 34.754,551 juta rupiah. \ud
\ud
Bila dilihat dari komponen bauran industri/proportional shift (Pr) menunjukkan bahwa total laju pertumbuhan sektor -sektor ekonomi adalah negatif. Nilai negatif tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Lampung Tengah memiliki lebih banyak sektor-sektor yang tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan sektor di tingkat propinsi.\u
\ud LABOR ABSORPTIONININDUSTRIALOFTAPIS PRODUCTION UNIT ANALYSISOF INFLUENCE ONREALWAGES AND \ud InBandarLampung\ud
\ud
Thebasic problem is tomaximize economicdevelopment in aproductivejob creation is sustainable.Inan effort to placeof employment provision as a starting \ud
\ud
pointin attemptinghumansIndonesia became themain forceof development.In Indonesia, therateofpopulation growth is not matched with the equitable distribution and lack of labor market.\ud
\ud
Problem of expansion of employment opportunities isoneof themain problems oftoday,but basicallythereis a wayto expand employment opportunity,namely through the developmentof labor-intensive industries (LaborIntensive)which absorbs relativelymorelaborin their production process. Relation to the economy, small industries, especiallyindustrial ofTapis can improvethe economy, especiallydeveloping countries likeIndonesia, which hasaworkforce that quitealot.\u
\ud LABOR ABSORPTIONININDUSTRIALOFTAPIS PRODUCTION UNIT ANALYSISOF INFLUENCE ONREALWAGES AND \ud InBandarLampung\ud
khususnya dan uji statistik secara keseluruhan (uji F) pada tingkat kepercayaan 95 persen, menunjukkan bahwa nilai R² = 0,763820 yang berarti bahwa variabel unit produksi dan upah riil memiliki pengaruh nyata sebesar 76,3820 persen penyerapan tenaga kerja pada industri tapis di Kota Bandar Lampung. Sementara sisanya 23,618 persen dipengaruhi oleh faktor lain diluar model penelitian ini. Sedangkan, Menurut uji t bahwa \ud
ternyata variabel bebas unit produksi berpengaruh positif Masalah pokok dalam pembangunan ekonomi adalah memaksimumkan penciptaan lapangan kerja secara produktif secara berkelanjutan. Dengan upaya menempatkan penyedian lapangan kerja sebagai titik tolak dalam mengupayakan manusia Indonesia menjadi kekuatan utama pembangunan. Di Indonesia, tingkat pertumbuhan penduduk yang besar tidak diimbangi dengan penyebaran yang merata dan kurangnya pasar tenaga kerja. \ud
Masalah perluasan kesempatan kerja merupakan salah satu masalah pokok pada masa sekarang ini, namun pada dasarnya ada suatu cara untuk meluaskan kesempata kerja, yaitu melalui pengembangan industri yang bersifat padat karya (Labour Intensive) yang relatif lebih banyak menyerap tenaga kerja dalam proses produksinya. Kaitannya dengan perekonomian, industri kecil khususnya industri tapis mampu meningkatkan perekonomian negara sedang berkembang seperti Indonesia, yang mempunyai jumlah tenaga kerja yang cukup banyak. \u
\ud LABOR ABSORPTIONININDUSTRIALOFTAPIS PRODUCTION UNIT ANALYSISOF INFLUENCE ONREALWAGES AND \ud InBandarLampung\ud
A. Latar Belakang\ud
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan bahwa dalam pelaksanaan Pembangunan Nasional, tenaga kerja memiliki peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur yang merata, baik materil maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. \ud
\ud
Masalah pokok dalam pembangunan ekonomi adalah memaksimumkan penciptaan lapangan kerja secara produktif secara berkelanjutan. Dengan upaya menempatkan penyedian lapangan kerja sebagai titik tolak dalam mengupayakan manusia Indonesia menjadi kekuatan utama pembangunan. Kebijakan pembangunan dalam berbagai bidang berangkat dari titik yang sama, yaitu penyediaan lapangan kerja bagi tenaga kerja dengan mutu dan jumlah yang cukup secara berkelanjutan. Sering dikatakan bahwa negara-negara yang sedang berkembang daya serap terhadap tenaga kerjanya tidak memadai, artinya bahwa pertambahan jumlah tenaga kerja ada dalam persentase kecil yang mampu mendapatkan pekerjaan di sektor industri. Sedangkan sisanya terpaksa akan menerima pekerjaan dengan produktivitas rendah, terutama di sektor pertanian dan jasa. Namun kenyataannya, dewasa ini di negara-negara yang sedang berkembang, kesempatan kerja di bidang industri telah mampu meningkatka
LABOR ABSORPTIONININDUSTRIALOFTAPIS PRODUCTION UNIT ANALYSISOF INFLUENCE ONREALWAGES AND \ud InBandarLampung\ud \ud
A. Latar Belakang\ud
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan bahwa dalam pelaksanaan Pembangunan Nasional, tenaga kerja memiliki peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur yang merata, baik materil maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. \ud
\ud
Masalah pokok dalam pembangunan ekonomi adalah memaksimumkan penciptaan lapangan kerja secara produktif secara berkelanjutan. Dengan upaya menempatkan penyedian lapangan kerja sebagai titik tolak dalam mengupayakan manusia Indonesia menjadi kekuatan utama pembangunan. Kebijakan pembangunan dalam berbagai bidang berangkat dari titik yang sama, yaitu penyediaan lapangan kerja bagi tenaga kerja dengan mutu dan jumlah yang cukup secara berkelanjutan. Sering dikatakan bahwa negara-negara yang sedang berkembang daya serap terhadap tenaga kerjanya tidak memadai, artinya bahwa pertambahan jumlah tenaga kerja ada dalam persentase kecil yang mampu mendapatkan pekerjaan di sektor industri. Sedangkan sisanya terpaksa akan menerima pekerjaan dengan produktivitas rendah, terutama di sektor pertanian dan jasa. Namun kenyataannya, dewasa ini di negara-negara yang sedang berkembang, kesempatan kerja di bidang industri telah mampu meningkatka
THE INFLUENCE OF INVESTMENT OPPORTUNITY SET, DEBT POLICY, AND DIVIDEND POLICY TO THE STOCK PRICE\ud (AT MANUFACTURING COMPANIES LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE)\ud
THE INFLUENCE OF INVESTMENT OPPORTUNITY SET, DEBT POLICY, AND DIVIDEND POLICY TO THE STOCK PRICE\ud
(AT MANUFACTURING COMPANIES LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE)\u
THE INFLUENCE OF INVESTMENT OPPORTUNITY SET, DEBT POLICY, AND DIVIDEND POLICY TO THE STOCK PRICE\ud (AT MANUFACTURING COMPANIES LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE\ud
\ud
\ud
A. Kesimpulan\ud
\ud
\ud
\ud
Penelitian ini bertujuan untuk memberi masukan empiris dan menguji pengaruh Investment Opportunity Set, kebijakan deviden dan kebijakan hutang perusahaan terhadap harga saham (CAR) serta memperoleh bukti empiris mengenai perbedaan reaksi pasar (CAR), kebijakan deviden dan kebijakan hutang pada tingkat pertumbuhan perusahaan (Level IOS) pada perusahaan non-bank yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2004-2008. Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan guna melihat pengaruh Investment Opportunity Set, kebijakan deviden dan kebijakan hutang perusahaan terhadap harga saham (CAR) serta memperoleh bukti empiris mengenai perbedaan reaksi pasar (CAR), kebijakan deviden dan kebijakan pendanaan pada tingkat pertumbuhan\ud
perusahaan (Level IOS) maka dapat disimpulkan bahwa:\u
\ud PENGARUH INFORMASI LABA BERSIH DAN ARUS KAS TERHADAP HARGA SAHAM\ud (Studi Empiris pada perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI)\ud
A. Kesimpulan \ud
\ud
Berdasarkan hasil analisis pada bab sebelumnya, kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah informasi laba bersih dan arus kas berpengaruh terhadap harga saham ditempuh dengan hasil penghitungan dari hipotesa sebagai berikut : \ud
1. Berdasarkan hasil pengujian terhadap Hipotesis 1, ternyata hipotesis diterima. Penelitian ini menunjukkn bahwa adanya pengaruh informasi laba terhadap harga saham. Hasil ini menunjukkan indikasi bahwa informasi mengenai laba bersih lebih banyak dipakai oleh investor dalam menilai kinerja perusahaan manufaktur di BEI. \ud
2. Berdasarkan hasil pengujian terhadap Hipotesis 2, penelitian ini menunjukkan tidak adanya pengaruh informasi arus kas terhadap harga saham. Hasil pengujian terhadap Hipotesis 3 dan 4 terhadap arus kas dari aktivitas investasi dan pendanaan juga menghasilkan kesimpulan yang sama, yaitu tidak berpengaruh terhadap harga saham. Hasil pengujian yang tidak signifikan menunjukkan bahwa kandungan informasi data arus kas di luar dari data laba besih hanya memberikan dukungan yang lema