762 research outputs found
Sort by
LABOR ABSORPTIONININDUSTRIALOFTAPIS PRODUCTION UNIT ANALYSISOF INFLUENCE ONREALWAGES AND \ud InBandarLampung\ud
dan uji statistik secara keseluruhan (uji F) pada tingkat kepercayaan 95 persen, menunjukkan bahwa nilai R² = 0,763820 yang berarti bahwa variabel unit produksi dan upah riil memiliki pengaruh nyata sebesar 76,3820 persen penyerapan tenaga kerja pada industri tapis di Kota Bandar Lampung. Sementara sisanya 23,618 persen dipengaruhi oleh faktor lain diluar model penelitian ini. Sedangkan, Menurut uji t bahwa \ud
ternyata variabel bebas unit produksi berpengaruh positif Masalah pokok dalam pembangunan ekonomi adalah memaksimumkan penciptaan lapangan kerja secara produktif secara berkelanjutan. Dengan upaya menempatkan penyedian lapangan kerja sebagai titik tolak dalam mengupayakan manusia Indonesia menjadi kekuatan utama pembangunan. Di Indonesia, tingkat pertumbuhan penduduk yang besar tidak diimbangi dengan penyebaran yang merata dan kurangnya pasar tenaga kerja. \ud
Masalah perluasan kesempatan kerja merupakan salah satu masalah pokok pada masa sekarang ini, namun pada dasarnya ada suatu cara untuk meluaskan kesempata kerja, yaitu melalui pengembangan industri yang bersifat padat karya (Labour Intensive) yang relatif lebih banyak menyerap tenaga kerja dalam proses produksinya. Kaitannya dengan perekonomian, industri kecil khususnya industri tapis mampu meningkatkan perekonomian khususnya negara sedang berkembang seperti Indonesia, yang mempunyai jumlah tenaga kerja yang cukup banyak. \u
LABOR ABSORPTIONININDUSTRIALOFTAPIS PRODUCTION UNIT ANALYSISOF INFLUENCE ONREALWAGES AND \ud InBandarLampung\ud
A. Simpulan\ud
\ud
Hasil perhitungan dan uji statistik secara keseluruhan (uji F) pada tingkat kepercayaan 95 persen, menunjukkan bahwa nilai R² 0,763820 yang berarti bahwa variabel unit produksi dan upah riil memiliki pengaruh nyata sebesar 76,3820 persen penyerapan tenaga kerja pada industri tapis di Kota Bandar Lampung. Sementara sisanya 23,618 persen dipengaruhi oleh faktor lain diluar model penelitian ini. Sedangkan, Menurut uji t bahwa ternyata variabel bebas unit produksi berpengaruh positif dan variabel upah riil berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja industri tapis di Kota Bandar Lampung, dapat dilihat diatas dalam pembahasan hasil. Dalam perhitungan tingkat elastisitas variabel bebas yaitu unit produksi dan upah riil dapat disimpulkan :\ud
a. Koefisien hasil perhitungan elastisitas variabel unit produksi sebesar 0,023646217 menunjukkan kelenturan perkembangan unit produksi terhadap penyerapan tenaga kerja. Artinya kenaikan unit produksi sebesar satu persen akan menyebabkan meningkatnya penyerapan tenaga kerja sebesar 0,023646217 persen, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). \ud
b. Koefisien hasil pergitungan elastisitas variabel Upah riil sebesar \u
LABOR ABSORPTIONININDUSTRIALOFTAPIS PRODUCTION UNIT ANALYSISOF INFLUENCE ONREALWAGES AND \ud InBandarLampung\ud
A. Latar Belakang\ud
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan bahwa dalam pelaksanaan Pembangunan Nasional, tenaga kerja memiliki peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur yang merata, baik materil maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. \ud
\ud
Masalah pokok dalam pembangunan ekonomi adalah memaksimumkan penciptaan lapangan kerja secara produktif secara berkelanjutan. Dengan upaya menempatkan penyedian lapangan kerja sebagai titik tolak dalam mengupayakan manusia Indonesia menjadi kekuatan utama pembangunan. Kebijakan pembangunan dalam berbagai bidang berangkat dari titik yang sama, yaitu penyediaan lapangan kerja bagi tenaga kerja dengan mutu dan jumlah yang cukup secara berkelanjutan. Sering dikatakan bahwa negara-negara yang sedang berkembang daya serap terhadap tenaga kerjanya tidak memadai, artinya bahwa pertambahan jumlah tenaga kerja ada dalam persentase kecil yang mampu mendapatkan pekerjaan di sektor industri. Sedangkan sisanya terpaksa akan menerima pekerjaan dengan produktivitas rendah, terutama di sektor pertanian dan jasa. Namun kenyataannya, dewasa ini di negara-negara yang sedang berkembang, kesempatan kerja di bidang industri telah mampu meningkatka
THE INFLUENCE OF INVESTMENT OPPORTUNITY SET, DEBT POLICY, AND DIVIDEND POLICY TO THE STOCK PRICE\ud (AT MANUFACTURING COMPANIES LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE)\ud \ud
The research purposes to empirically test the the influence of investment opportunity set, debt policy, and dividend policy to the stock price (CAR) and also to obtain empirical evidence about the variance of market responses (CAR), dividend policy, and debt policy at the firm’s growth level (Level IOS)\ud
\ud
\ud
\ud
The sample is obtained by purposive judgment sampling from Indonesia Stock Exchange (IDX). Based on the criteria, there are only 50 companies used as the sample. Afterwards, we commit factor analysis to clasify the firm’s growth into grow firm and non grow firm. The factor analysis results 15 grow firms and 15 non grow firms. The hypothesis testing is conducted by using General Linear Model.\ud
\ud
\ud
\ud
The result shows that investment opportunity set, debt policy, and dividend policy all together influence the stock price (CAR) and there’s a variance of market responses (CAR), dividend policy, and debt policy at the firm’s growth level (Level IOS). Based on the result, it can be concluded that lower debt to equity ratio in high growth firm and higher dividend policy ratio in high growth firm reflect management optimism for the firm’s future income. Thus, it’s such a good announcement for the investors in order they can response positively on the stock price.\u
THE INFLUENCE OF INVESTMENT OPPORTUNITY SET, DEBT POLICY, AND DIVIDEND POLICY TO THE STOCK PRICE\ud (AT MANUFACTURING COMPANIES LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE)\ud \ud
A. Latar Belakang\ud
\ud
\ud
\ud
Peristiwa yang terjadi pada dunia global membawa perubahan-perubahan baik pada internal maupun eksternal perusahaan.Kemampuan perusahaan mengatasi perubahan tersebut akan memberikan kesempatan mengambil keuntungan, kemudian menjadikan ini sebagai suatu pilihan investasi. Pilihan investasi merupakan suatu kesempatan untuk berkembang, namun seringkali perusahaan tidak selalu dapat melaksanakan semua kesempatan investasi di masa mendatang.\ud
\ud
Nilai kesempatan investasi merupakan nilai sekarang dari pilihan-pilihan perusahaan untuk membuat investasi di masa mendatang. Kesempatan yang diperoleh perusahaan akan pilihan investasi yang membawa pertumbuhan perusahaan dimasa mendatang dikenal sebagai set kesempatan investasi (investment opportunity set / IOS). IOS menggambarkan mengenai kesempatan atau peluang investasi bagi suatu perusahaan, yang diharapkan akan menghasilkan return yang lebih besar dari biaya modal (cost of equity) dan dapat menghasilkan keuntungan. IOS sangat tergantung pada pilihan expenditure perusahaan untuk kepentingan di masa yang akan datang. Dengan demikian IOS bersifat tidak dapat dinilai secara langsung, sehingga perlu dipilih suatu indikator/proksi yang dapat\ud
\u
INFLUENCE OF INFORMATION ASYMMETRY ON THE PRACTIC EARNINGS MANAGEMENT IN MANUFACTURING COMPANY WHICH IS LISTED ON INDONESIA STOCK EXCHANGE\ud \ud \ud \ud
A. Kesimpulan\ud
\ud
\ud
\ud
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel independen asimetri informasi dan variabel kontrol ukuran perusahaan, leverage berpengaruh secara signifikan terhadap praktik manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2004-2008 dari 53 sampel perusahaan. Berdasarkan pembahasan hasil analisis data yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa rata-rata perusahaan\ud
yang diteliti melakukan manajemen laba dengan cara meminimalkan laba (income minimization).\ud
\ud
Nilai adjusted R2 sebesar 0,339 atau 33,90% yang menunjukkan bahwa variabel dependen manajemen laba dapat dijelaskan oleh variabel independen asimetri informasi dan variabel kontrol ukuran perusahaan, leverage sebesar 33,90%. Sedangkan sisanya sebesar 66,10% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model regresi ini. Namun, dalam regresi yang dilakukan antara variabel dependen manajemen laba dengan variabel kontrol (ukuran perusahaan dan leverage) diperoleh nilai koefisien determinasi majemuk disesuaikan (adjusted R2) sebesar 0,347 atau 34,70%. Sedangkan dalam regresi antara variabel dependen manajemen laba dengan variabel independen asimetri informasi diperoleh nilai koefisien determinasi majemuk disesuaikan (adjusted\ud
\u
PENGARUH INFORMASI LABA BERSIH DAN ARUS KAS TERHADAP HARGA SAHAM\ud (Studi Empiris pada perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI)\ud \ud
A. Kesimpulan \ud
\ud
Berdasarkan hasil analisis pada bab sebelumnya, kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah informasi laba bersih dan arus kas berpengaruh terhadap harga saham ditempuh dengan hasil penghitungan dari hipotesa sebagai berikut : \ud
1. Berdasarkan hasil pengujian terhadap Hipotesis 1, ternyata hipotesis diterima. Penelitian ini menunjukkn bahwa adanya pengaruh informasi laba terhadap harga saham. Hasil ini menunjukkan indikasi bahwa informasi mengenai laba bersih lebih banyak dipakai oleh investor dalam menilai kinerja perusahaan manufaktur di BEI. \ud
2. Berdasarkan hasil pengujian terhadap Hipotesis 2, penelitian ini menunjukkan tidak adanya pengaruh informasi arus kas terhadap harga saham. Hasil pengujian terhadap Hipotesis 3 dan 4 terhadap arus kas dari aktivitas investasi dan pendanaan juga menghasilkan kesimpulan yang sama, yaitu tidak berpengaruh terhadap harga saham. Hasil pengujian yang tidak signifikan menunjukkan bahwa kandungan informasi data arus kas di luar dari data laba besih hanya memberikan dukungan yang lema
PENGARUH INFORMASI LABA BERSIH DAN ARUS KAS TERHADAP HARGA SAHAM\ud (Studi Empiris pada perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI)\ud \ud \ud
A. Latar Belakang Masalah\ud
\ud
Perkembangan dunia usaha yang semakin meningkat seiring dengan majunya tekhnologi informasi, semakin menambah tingkat persaingan perusahaan dalam memperoleh keuntungan. Investasi pada hakikatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa depan. Pihak investor dalam melakukan investasi tentunya mempertimbangkan resiko atas dana yang mereka investasikan. Prospek keuntungan yang diharapkan dapat diperkirakan dengan melihat harga saham yang selalu naik turun dan informasi akuntansi yang dikeluarkan oleh perusahaan.\ud
\ud
Menurut Fama (1990) dalam Natalia (2007) pasar modal yang efisien terjadi bila harga-harga saham yang diperdagangkan selalu menggambarkan sepenuhnya (fully reflect) seluruh informasi yang terjadi di pasar. Investor sebagai pihak yang ingin menanamkan dananya di pasar modal berkepentingan untuk mengetahui pola resiko atas dana yang mereka invstasikan yaitu dengan melihat harga saham suatu perusahaan. Perubahan harga saham perusahaan di pasar modal sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya permintaan investor terhadap suatu saham. Semakin tinggi permintaan investor terhadap suatu saham, semakin tinggi pula harga saham tersebut dan sebaliknya.\u
ANALYSE THE COMPARISON OF CONSUMER ATTITUDE IN CHOSENING TRADITIONAL MARKET (PASAR TUGU BANDAR LAMPUNG) AND MODERN MARKET ( CHANDRA SUPERSTORE CABANG TANJUNG KARANG )\ud \ud
5.1 Simpulan\ud
\ud
Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian yang kemudian telah dianalisa dengan menggunakan uji-t maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :\ud
1. Adanya perbedaan sikap konsumen pasar tradisional Pasar Tugu Bandar Lampung dengan sikap konsumen pasar modern Chandra Superstore Cabang Tanjung Karang pada indikator harga, lokasi, promosi, people dan prasarana fisik, sedangkan pada indikator produk dan proses penyampaian produk tidak ditemukan perbedaan yang signifikan.\ud
\ud
2. Besarnya perbedaan sikap konsumen pasar tradisional Pasar Tugu Bandar Lampung dengan sikap konsumen pasar modern Chandra Superstore Cabang Tanjung Karang adalah sebesar 0.000 berada di bawah lefel of signifikan 0,05, namun berdasarkan dari ketujuh sub variabel yang diuji dalam penelitian ini terdapat perbedaan nilai signifikan.\ud
Variabel produk tidak ada perbedaan signifikan antara sikap konsumen pasar tradisional Pasar Tugu dengan sikap konsumen pasar Modern Chandra Superstore, karena nilai P yang tidak signifikan yaitu sebesar 0,068 (P>0,05), dengan mean pasar tradisional Pasar Tugu adalah 16,29 dan mean pasar modern Chandra Superstore adalah 16,89.\u