1360 research outputs found
Sort by
Hubungan karakter bising dan lama kerja dengan gangguan pendengaran pada awak kapal
LATAR BELAKANG
Indonesia memiliki prevalensi gangguan pendengaran sebesar 4,6%. 16% dari
gangguan pendengaran akibat dari pajanan bising di lingkungan kerja, salah satunya
bising dari mesin kapal. Pengaturan pajanan bising telah diatur dalam Peraturan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Per. 13/MEN/X/2011, namun tetap
terjadi gangguan pendengaran pada awak kapal. Tujuan penelitian ini untuk
menentukan hubungan karakter bising dan lama kerja dengan gangguan
pendengaran pada awak kapal.
METODE
Penelitian menggunakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang
yang mengikutsertakan 64 awak kapal. Awak kapal yang dipilih adalah yang sudah
bekerja lebih dari 6 bulan, tidak konsumsi obat ototoksik, tidak memiliki gangguan
telinga luar dan tengah, tidak menggunakan alat pelindung telinga. Data
dikumpulkan dengan mengukur intensitas bising dengan sound level meter dan
wawancara menggunakan kuesioner OSHA yang meliputi penilaian karakteristik
usia, lama kerja dan kebiasaan terkait bising. Gangguan pendengaran dinilai dengan
pemeriksaan audiometri nada murni. Analisis penelitian ini menggunakan uji
statistik Chi-square.
HASIL
Dari 64 responden, 25 responden (39,1%) mengalami gangguan pendengaran.
Hubungan antara karakter bising dengan gangguan pendengaran tidak dapat dinilai.
Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama kerja dengan gangguan
pendengaran pada awak kapal (p = 0,28).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara lama kerja dengan
gangguan pendengaran pada awak kapal. Terdapat 47,8% awak kapal mengalami
gangguan pendengaran dengan lama kerja lebih dari 10 tahun. Perlu dilakukan
pemeriksaan audiometri berkala dan rotasi awak kapal secara efektif
Hubungan pensiun dengan depresi pada pensiunan perusahaan X
LATAR BELAKANG
Pensiun merupakan suatu masa transisi dari pola hidup yang sudah menjadi
rutinitas sebelumya ke pola hidup yang baru sehingga terjadi perubahan peran.
Perubahan-perubahan tersebut menimbulkan kecemasan terhadap pensiunan atau
yang akan memasuki masa pensiun, terutama bagi mereka yang belum siap secara
psikologis dan finansial untuk menghadapi pensiun. Di Indonesia prevalensi
masalah mental emosional yaitu depresi adalah sebanyak 11,60%. Tujuan dari
penelitian ini untuk mengetahui ada hubungan antara depresi dengan pensiun pada
pensiunan perusahaan X.
METODE
Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini
dilakukan pada bulan Agustus-Desember 2016 di kantor pensiunan perusahaan X
di Bandung. Sebanyak 93 data pensiunan berhasil dikumpulkan secara simple
random sampling. Data yang dikumpulkan menggunakan juesioner Beck
Depression Inventory. Analisis statistik menggunakan uji Chi-square, Fisher,
Kolmogorov smirnov dengan batas kemaknaan p<0,05, dengan menggunakan
SPSS 23.00 for mac.
HASIL
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi depresi pada pensiunan
perusahaan X sebesar 20,4%. Hasil analisis hubungan depresi dengan pensiunan
berdasarkan uji statistik menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna
(p=0,562)
KESIMPULAN
Dari penelitian ini disimpulkan tidak terdapat hubungan antara depresi dengan
pensiun pada pensiunan perusahaan X
Hubungan konsumsi makanan dan minuman manis dengan kolonisasi jamur di rongga mulut pada siswa Sekolah Dasar
LATAR BELAKANG.
Makanan dan minuman manis adalah makanan atau minuman yang memiliki rasa manis yang berasal dari gula atau pemanis buatan. Kelebihan gula dapat berkontribusi pada terganggunya keseimbangan alamiah mikrobiota yang menghuni berbagai bagian dari saluran pencernaan dan mulut, sehingga menjadi tempat terbaik untuk pertumbuhan mikrobakterium di mulut, terutama proliferasi jamur patogen potensial secara berlebihan.
METODE
Penelitian analisis-observasional dengan menggunakan desain cross-sectional dilakukan di SDN Cideng 07 kecamatan Gambir, Jakarta pusat dan sampel pada penelitian ini dipilih secara Consecutive Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen kuesioner dan pemeriksaan sampel di laboratorium secara makroskopis dan mikroskopis. Analisis statistik untuk melihat hubungan antara makanan dan minuman manis terhadap kolonisasi jamur di rongga mulut digunakan uji fisher. Batas kemaknaan yang digunakan adalah p< 0,05.
HASIL
Pada penelitian ini didapatkan bahwa makanan manis yang paling banyak dikonsumsi anak usia sekolah dasar adalah cokelat, kue kering, kue manis, es krim, sayur, dan buah, masing-masing 100%. Sedangkan minuman manis paling banyak dikonsumsi adalah susu (100%). Hasil analisis statistik menunjukkan hubungan yang bermakna antara mengkonsumsi makanan manis dengan kolonisasi jamur, nilai p < 0,05 (p=0,00), serta hubungan yang bermakna antara mengkonsumsi minuman manis dengan kolonisasi jamur di rongga mulut, nilai p < 0,05 (p=0,00).
KESIMPULAN
Makanan dan minuman manisyang dikonsumsi anak-anak usia sekolah dasar dapat meningkatkan risiko kolonisasi jamur di rongga mulut
Hubungan antara hipertensi dan demensia pada lansia
LATAR BELAKANG Demensia adalah suatu kemunduran fungsi kognitif yang progresif dan mempunyai dampak negatif terhadap kualitas hidup seseorang khususnya pada lansia. Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan jumlah lansia menjadi 28,8 juta lansia pada tahun 2020 atau 11,34% dari total penduduk. Salah satu faktor resiko demensia adalah hipertensi. Hipertensi dapat membuat gangguan pada pembuluh darah yang akan menyebabkan demensia. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dengan menentukan ada tidaknya hubungan antara hipertensi dan demensia pada lansia METODE Penelitian ini merupakan penelitian dengan studi analitik observasional dan dengan desain cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia II Jakarta Barat pada bulan Oktober-November 2016. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang terdaftar di tempat tersebut. Sampel diambil dengan cara simple random sampling dan didapatkan sampel sebanyak 112 lansia. Variabel yang diteliti adalah hipertensi dan demensia. Data dikumpulkan dengan cara pemeriksaan tekanan darah dan pengisian kuesioner Mini Mental State Examination (MMSE) responden. Kemudian data akan dianalisis menggunakan Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 21. HASIL Setelah dilaksanakan penelitian, didapatkan lansia yang menderita hipertensi dan demensia sebanyak 34 orang. Pada analisis dengan menggunakan uji Chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara hipertensi dan demensia pada lansia (p=0,000). KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara hipertensi dan demensia pada lansia. Peneliti menyarankan masyarakat dapat mengontrol tekanan darahnya dalam batas normal sehingga dapat mengindari gangguan demensia agar aktivitas sosial dan kualitas hidupnya tetap baik
Hubungan intensitas kerja dengan carpal tunnel syndrome pada petani padi
LATAR BELAKANG
Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Sebanyak 40% penduduk bekerja sebagai petani dan 10% diantaranya sebagai petani padi. Carpal Tunnel Syndrome merupakan penyakit akibat kerja. Gerakan repetitif merupakan salah satu faktor resiko Carpal Tunnel Syndrome. Dalam bekerja, petani padi banyak melakukan gerakan repetitif. Petani yang bekerja > 40 jam/minggu akan lebih banyak melakukan gerakan repetitif sehingga meningkatkan resiko Carpal Tunnel Syndrome. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara intensitas kerja dengan Carpal Tunnel Syndrome pada petani padi.
METODE
Studi potong lintang dilakukan di desa Tambakdahan, Subang, Jawa Barat pada Juni 2017. Sampel penelitian sebanyak 70 responden diambil menggunakan metode konsekutif. Pengumpulan data mengenai karakteristik umur, jenis kelamin, dan intensitas kerja menggunakan kuesioner. Diagnosis Carpal Tunnel Syndrome diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik yaitu pemeriksaan Phalen dan Tinel serta kuesioner Boston’s Carpal Tunnel. Analis data menggunakan Chi-Square dan atau Fisher Exact Test dengan program SPSS 23.0.
HASIL
Petani di desa Tambakdahan didominasi oleh laki-laki (81,4%). Sebagian besar petani berumur >30 tahun (87,1%). Terdapat 34 dari 70 petani (48, 6%) mengalami Carpal Tunnel Syndrome. Sebanyak 88,2% petani yang mengalami Carpal Tunnel Syndrome bekerja >40 jam/minggu. Terdapat hubungan bermakna antara intensitas kerja dengan Carpal Tunnel Syndrome (p=0,02). Tidak terdapat hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan Carpal Tunnel Syndrome (p=0,731 dan p=0,365).
KESIMPULAN
Terdapat hubungan antara intensitas kerja dengan Carpal Tunnel Syndrome. Intensitas kerja yang tinggi akan meningkatkan resiko Carpal Tunnel Syndrome. Tidak ada hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan Carpal Tunnel Syndrome
Hubungan usia ibu dengan hipertensi kehamilan pada ibu hamil
LATAR BELAKANG
Penyakit hipertensi pada kehamilan terjadi pada 12,7 % kehamilan di Indonesia. Kejadian ini memiliki banyak faktor risiko dan salah satunya adalah usia ibu. Proporsi penduduk Indonesia yang sedang hamil (umur 10-54 tahun) adalah 2,68%, dimana sebagian dari itu adalah wanita dengan usia ibu yang lanjut.Usia ibu yang lanjut adalah 35 tahun keatas. Hal ini perlu dicegah sebab hipertensi kehamilan dapat mengakibatkan morbiditas dan mortalitas baik pada ibu maupun bayi.
METODE
Penelitian dilakukan terhadap 178 data sekunder rekam medis ibu hamil yang berkunjung pada rentang waktu antara Desember 2015 – Desember 2016 pada bulan Desember tahun 2016 di RS Ulin Banjarmasin - Kalimantan Selatan. Data mengenai usia ibu beserta dengan kejadian hipertensi kehamilan diambil dengan cara consecutive non-random sampling. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Hubungan antara usia ibu dan hipertensi kehamilan pada ibu hamil dianalisis menggunakan uji Chi Square.
HASIL
Dari total 178 sampel, 54 sampel berusia ≥ 35 tahun, sementara 124 sampel lainnya berusia < 35 tahun. Untuk kejadian hipertensi kehamilan, 38 sampel memiliki hipertensi kehamilan, sedangkan 140 sampel normotensif. Analisis data menggunakan uji Chi Square tidak menemukan adanya hubungan bermakna antara usia (p =0.167) dengan hipertensi kehamilan.
KESIMPULAN
Pada penelitian ini tidak terdapat hubungan bermakna antara usia ibu dengan kejadian hipertensi kehamilan, namun secara komparatif terdapat peningkatan prevalensi kelompok usia ibu ≥ 35 tahun dengan hipertensi kehamilan dibandingkan dengan kelompok usia ibu < 35 tahun dengan hipertensi kehamilan
Hubungan antara status gizi dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil trimester III di Puskesmas Lubuk Dalam
LATAR BELAKANG
Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi anemia ibu hamil adalah 37,1 %, yaitu ibu hamil dengan kadar hemoglobin kurang dari 11,0 gr/dl. Kadar hemoglobin merupakan indikator klinis untuk mengetahui status gizi ibu hamil. Gizi pada saat kehamilan adalah hasil dari konsumsi makanan dan penggunanaan zat-zat gizi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin. Studi ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil trimester III di Puskesmas Lubuk Dalam
METODE
Studi ini menggunakan observasional analitik dengan desain cross sectional. Studi ini dilakukan pada bulan Agustus hingga Desember 2016. Populasi penelitian adalah ibu hamil trimester III di Puskesmas Lubuk Dalam dengan total sampel 74 responden. Cara pengambilan sampel berupa Consequtive sampling. Pengambilan data primer didapatkan dari pengukuran lingkar lengan atas (lila) dan kadar hemoglobin. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan tes korelasi Spearman.
HASIL
Hasil menunjukkan 75,7 % responden mengalami anemia (kadar hemoglobin kurang dari 11 gr/dl), dan 4,1 % responden mengalami Kurang Energi Kronik (KEK). Hasil tes analisis menunjukkan bahwa hubungan antara status gizi dengan kadar hemoglobin tidak bermakna (nilai p = 0,739), uji koefisien korelasi nilai r = 0,039, yang berarti kekuatan korelasi antara status gizi dengan kadar hemoglobin sangat lemah.
KESIMPULAN
Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi berdasarkan pengukuran lingkar lengan atas (lila) dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil trimester III di Puskesmas Lubuk Dalam
Hubungan riwayat atopi dan kejadian dermatitis kontak iritan pada usia produktif
LATAR BELAKANG
Atopi adalah kecenderungan untuk menghasilkan Immunoglobulin E (IgE) dalam menanggapi sejumlah kecil alergen. Penyakit atopi yang terdiri dari asma bronkial, rinitis alergi, dan dermatitis kontak adalah salah satu faktor timbulnya dermatitis kontak iritan.
METODE
Penelitian ini menggunakan analisis observasional, menggunakan model cross sectional. Penelitian ini mulai diselenggarakan pada bulan Juni 2017 di Rumah Sakit Umum Budhi Asih Cawang Jakarta yang terdiri atas pasien poli kulit dengan diagnosa dermatitis kontak yang berjumlah 168 subjek. Pengumpulan data menggunakan data sekunder berupa rekam medis menggunakan consecutive sampling. Analisis menggunakan SPSS versi 23 dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05.
HASIL
Pada penelitian ini, terdapat 108 subjek dengan riwayat atopi diantaranya terdapat 89 (82,4%) dengan dermatitis kontak iritan dan 19 subjek (17,6%) tanpa dermatitis kontak iritan, sedangkan subjek tanpa riwayat atopi berjumlah 60 yang terdiri dari 32 subjek (53,3%) dengan dermatitis kontak iritan dan 28 subjek (46,7%) tanpa dermatitis kontak iritan. Berdasarkan data analisis statistik menggunakan uji Chi-Square , didapatkan hasil p=0,000. Dari hasil analisis tersebut diperoleh pula nilai rasio odd sebesar 4,09 artinya orang yang memiliki riwayat atopi memiliki peluang yang lebih besar yaitu sebesar 4,09 kali dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat atopi.
KESIMPULAN
Dari penelitian ini di simpulkan bahwa terdapat hubungan antara riwayat atopi dengan kejadian dermatitis kontak iritan
Hubungan antara paritas dan kejadian perdarahan antepartum pada ibu hamil di RSUD Budhi Asih
LATAR BELAKANG
Penyebab medis utama dari kematian ibu di Indonesia ialah perdarahan dengan persentase sebesar 30%. Perdarahan sebagai penyebab kematian ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. Perdarahan antepartum merupakan suatu kasus gawat darurat yang berkisar 3-5% dari seluruh persalinan. Penyebab antara lain plasenta previa dan solusio plasenta. Penyebab tidak langsung perdarahan antepartum antara lain terlalu muda punya anak, terlalu banyak melahirkan, terlalu rapat jarak melahirkan, dan terlalu tua punya anak. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan antepartum pada ibu hamil.
METODE
Penelitian menggunakan studi analitik observasional dengan desain Cross-sectional. Penelitian ini mengambil sampel dengan cara Consecutive Sampling pada data rekam medik pasien Perdarahan Antepartum di RSUD Budhi Asih Jakarta Timur pada September-Oktober 2016. Sampel yang diteliti pada penelitian ini sebanyak 46 pasien. Analisis data dengan menggunakan SPSS for Windows versi 21. Uji statistik yang diplih adalah uji Fisher.
HASIL
Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan antepartum dengan p=0,165, dan terdapat hubungan antara usia ibu dengan kejadian perdarahan antepartum p=0,022.
KESIMPULAN
Pada penelitian ini menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan antepartum. Dan terdapat hubungan antara usia dengan kejadian perdarahan antepartum
Hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan kadar kolesterol total pada siswa/i SMA
LATAR BELAKANG
Penyakit tidak menular menjadi penyebab kematian terbanyak di dunia,
diantaranya adalah penyakit jantung iskemik. Kadar kolesterol tinggi menjadi
faktor resiko penting terjadinya aterosklerosis dan penyakit jantung iskemik.
Beberapa penelitian dengan cara memodifikasi gaya hidup di masyarakat sejak
dini dapat menjaga kadar kolesterol normal, untuk itu diperlukan penelitian yang
bertujuan mengetahui hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan kadar
kolesterol total pada siswa/I SMA.
METODE
Penelitian menggunakan metode analitik observasional dengan desain penelitian
potong silang dengan responden 135 siswa/i SMA Negeri 1 Talun di daerah Blitar
Jawa Timur. Data dikumpulkan dengan wawancara kuesioner yang meliputi
nama, usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan pola makan. Pengukuran kadar
kolesterol menggunakan alat digital nesco milticheck. Analisis data menggunakan
SPSS for windows versi 22.0 dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya
0,05.
HASIL
Analisis Chi square menunjukkan siswa/i dengan pola makan yang berbeda tidak
menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan kadar kolesterol (p=1,000).
Siswa/I dengan aktivitas berat dan sedang menunjukkan kadar kolesterol yang
normal dan siswa/i dengan aktivitas ringan memiliki kadar kolesterol tidak normal
(p=0,008).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang
bermakna antara aktivitas fisik dengan kadar kolesterol total pada Siswa/I SMA
Negeri 1 Talun. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pola makan
dengan kadar kolesterol total pada Siswa/I SMA Negeri 1 Talun