Trisakti University

Trisakti University Collection of Scholarly and Academic Pa
Not a member yet
    1360 research outputs found

    Hubungan ansietas dengan aktivitas kehidupan sehari-hari pada lansia di Panti Werdha

    No full text
    Latar Belakang Seiring dengan meningkatnya Angka Harapan Hidup, masalah kesehatan pun meningkat. Dari tahun ke tahun, Angka Harapan Hidup di Indonesia terus meningkat, dan sejak tahun 2000, jumlah lansia telah melebihi 7% dari total populasi yang menyebabkan negara ini memasuki era “Ageing Population”. Lansia adalah seorang yang berusia 60 tahuun atau lebih, secara fisik masih berkemampuan maupun karena suatu hal tidak mampu lagi berperan secara aktif dalam pembangunan. Ditinjau dari aspek kesehatan, dengan semakin bertambahnya usia, lansia menjadi lebih rentan terhadap berbagai keluhan medis terutama mengenai kesehatan mental. Mereka dapat menjadi sangat sensitif yang bahkan kesalah kecil saja bisa menyebabkan mereka mengalami ansietas dan akhirnya merasa cemas berlebih dan gelisah setiap waktu. Semakin mereka merasa cemas, semakin sulit bagi mereka untuk berpikir jernih dan akan mengganggu aktivitas kehidupannya Metode Studi ini melibatkan 127 lansia berumur di atas 60 tahun yang tinggal di Panti Werdha yang terletak di Cengkareng, Jakarta Barat, Indonesia dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara ansietas dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan kuesioner GAI (Geriatric Anxiety Inventory) dan kuesioner (Activities of Daily Living) ADL dengan Indeks Katz dan diproses dengan menggunakan uji Chi-Square. Data diambil dari bulan Oktober sampai November 2016 . Hasil Setelah dilakukan penelitian, ditemukan 31,5% mengalami ansietas dan 38,2% lansia ditemukan mengalami ketergantungan. Didapatkan hasil analisa Chi-square bahwa terdapat hubungan antara ansietas dan aktivitas kehidupan sehari-hari yang signifikan dengan nilai p = 0,000, namun tidak ada hubungan antara umur dan jenis kelamin terhadap aktivitas kehidupan sehari-hari Kesimpulan Terdapat hubungan antara ansietas dan aktivitas kehidupan sehari-hari yang signifikan, namun jenis kelamin dan umur tidak berpengaruh

    Hubungan berat badan lahir dengan kejang demam pada balita

    No full text
    LATAR BELAKANG Kejang demam merupakan kasus kejang yang sering terjadi pada anak anak, terjadi pada 2% sampai 5% anak anak yang berusia 6 bulan sampai 5 tahun. Penyebab kejadian kejang demam sampai saat ini masih belum dapat diketahui secara pasti. Adapun faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya risiko kejang demam yaitu, faktor demam, usia, riwayat keluarga, dan riwayat prenatal, riwayat perinatal. Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan keterkaitan antara berat badan lahir dengan kejang demam. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk memahami pengaruh berat badan lahir dengan kejang demam pada Balita. METODE Penelitian menggunakan studi analitik observasional dengan desain Cross Sectional yang menganalisis 145 data balita demam di RSUD Dumai, Riau pada Januari-Desember 2015. Data diambil dalam bentuk lembaran rekam medik pasien yang meliputi jenis kelamin, usia, berat badan lahir balita. Analisis data dilakukan dengan program SPSS for Windows versi 21.0 dengan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0.05. HASIL Hasil menunjukkan dari 145 data balita yang mengalami demam, terdapat 79 balita yang mengalami kejang demam. Balita yang terbanyak mengalami kejang demam adalah laki laki (30.3%). 50 balita masuk dalam kategori risiko tinggi yaitu < 24 bulan ( 34.5%) dan 74 balita memiliki berat badan lahir normal dan berat badan lahir lebih (51.0%). Analisis Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara berat badan lahir dengan kejang demam pada Balita (p=0,352) KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara berat badan lahir dengan kejang demam pada Balita

    Hubungan kebiasaan merokok dengan fungsi kognitif pada lansia

    No full text
    LATAR BELAKANG Fungsi kognitif merupakan faktor yang sangat penting dalam kualitas hidup seorang manusia. Pada lansia, kemunduran fungsi kognitif dapat muncul dengan gejala paling ringan yaitu mudah lupa, hingga demensia. Salah satu faktor terjadinya penurunan fungsi kognitif, salah satunya adalah merokok. METODE Penelitian ini menggunakan analisis observasional, menggunakan model cross sectional. Penelitian ini mulai diselenggarakan pada bulan Februari 2017 di Kelurahan Rawa Barat, Kota Jakarta Selatan, yang terdiri atas lansia yang berjumlah 114 subjek. Pengumpulan data menggunakan data primer berupa kuesioner (MMSE dan GATS WHO) dengan teknik consecutive non random sampling. Analisis menggunakan SPSS versi 23 dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05. HASIL Pada penelitian dengan total 114 subjek ini, didapatkan 80 subjek (70,2%) merokok, dan 34 (29,8%) tidak merokok. Dari 80 subjek yang merokok, didapatkan 54 subjek (67,5%) memiliki fungsi kognitif yang normal, sedangkan 26 subjek lainnya (32,5%) mengalami penurunan fungsi kognitif. Pada 34 subjek yang tidak merokok didapatkan hasil bahwa 31 subjek (91,2%) memiliki fungsi kognitif yang normal, sedangkan tiga orang (8,8%) memiliki gangguan fungsi kognitif. p=0.008. KESIMPULAN Dari penelitian ini di simpulkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan fungsi kognitif pada lansia

    Hubungan dukungan sosial dan fungsi kognitif pada lansia

    No full text
    Pada tahun 2000 persentase populasi lansia di Indonesia adalah 7,18%, meningkat menjadi 7,56% pada tahun 2010 dan pada tahun 2011 menjadi 7,58%. Peningkatan ini dapat mengakibatkan terjadinya transisi epidemiologi dalam bidang kesehatan akibat meningkatnya jumlah angka kesakitan karena penyakit degeneratif. Salah satu masalah kesehatan yang umum terjadi pada populasi lansia adalah gangguan fungsi kognitif. Banyak faktor yang mempengaruhi fungsi kognitif lansia, salah satunya adalah dukungan sosial. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara dukungan sosial dengan fungsi kognitif pada lansia. METODE Penelitian dilakukan terhadap 156 orang lansia pada bulan Agustus- November tahun 2016 di Kelurahan Curuk, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor yang merupakan wilayah kerja dari Puskesmas Semplak. Kuantitas dan kualitas dukungan sosial dinilai menggunakan Social Support Questionnaire (SSQ) dan fungsi kognitif dinilai dengan Mini Mental State Examination (MMSE). Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan desain cross-sectional. Hubungan antara dukungan sosial dan fungsi kognitif pada lansia akan dianalisis menggunakan uji Chi Square. HASIL Dari total 156 orang responden, 64 orang memiliki kuantitas dukungan sosial yang tinggi, sementara 92 orang lainnya rendah. Berdasarkan penilaian kualitas dukungan sosial, 108 orang merasa puas dengan dukungan sosial yang diterimanya dan 48 orang lainnya tidak merasa puas. Penilaian fungsi kognitif responden, 74 orang normal, 63 orang memiliki gangguan kognitif ringan dan 19 orang memiliki gangguan kognitif berat. Dianalisis menggunakan uji Chi Square, kuantitas (P=0.566) maupun kualitas (P=0.184) dukungan sosial tidak menunjukan adanya hubungan dengan fungsi kognitif lansia. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, prevalensi lansia yang mengalami gangguan kognitif ringan di Kelurahan Curuk, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor adalah 40% dan gangguan kognitif berat sebesar 12%. Secara statistik dukungan sosial tidak berdampak pada fungsi kognitif lansia dan disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan fungsi kognitif pada lansia

    Hubungan obesitas dengan arus puncak ekspirasi pada anak SDN Mulyajaya II Karawang

    No full text
    LATAR BELAKANG Obesitas dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan peningkatan gejala pernapasan. Efek fisiologis utama dari obesitas adalah berkurangnya fungsi sistem pernapasan. Tingkat obstruksi pada saluran nafas dapat dinilai dengan mengukur aliran udara melalui bronkus salah satunya dengan menilai arus puncak ekspirasi. Pengukuran arus puncak ekspirasi tergantung pada otot thoracoabdominal dari subjek yang dievaluasi karena memerlukan ekspirasi maksimal. METODE Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah secara simple random sampling. Kriteria inklusi pada penelitian ini siswa-siswi Sekolah Dasar Tahun Ajaran 2016-2017 kelas 3 sampai kelas 6, tampak dalam keadaan sehat, mampu memahami pertanyaan dan perintah. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah subjek yang memiliki riwayat merokok, sedang menderita batuk, flu, sesak nafas atau asma. Sampel yang dibutuhkan sebanyak 69 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan wawancara dan alat pengukuran. HASIL PENELITIAN Pada hasil uji chi-square variabel obesitas dengan arus puncak ekspirasi pada anak SDN Mulyajaya II Karawang yang menunjukan nilai p-value adalah 0,042. Nilai tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi 5% (p < 0,05) dapat disimpulkan secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara hubungan obesitas dengan arus puncak ekspirasi. KESIMPULAN Terdapat hubungan yang bermakna antara obesitas dengan arus puncak ekspirasi pada anak SDN Mulyajaya II Karawang

    Hubungan penggunaan kortikosteroid inhalasi dengan kadar glukosa darah pada penderita asma

    No full text
    LATAR BELAKANG Asma merupakan gangguan inflamasi kronis di jalan napas. Dasar penyakit ini adalah hiperaktivitas bronkus dan obstruksi jalan napas. Prevalensi asma di Indonesia mencapai 4,5%. Pasien asma dengan derajat asma persisten ringan hingga berat akan menggunakan kortikosteroid inhalasi sebagai controller, penggunaan jangka panjang dapat berpengaruh pada kadar glukosa darah. Hal itu penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan peningkatan aktivitas Hipotalamus Pituitary Adrenal (HPA) yang selanjutnya akan menyebabkan pelepasan Adrenocorticotropin Hormone (ACTH) yang nantinya akan melibatkan mekanisme aktivitas tersebut hingga dapat meningkatkan kadar glukosa darah pada asma yang menggunakan kortikosteroid jangka panjang dan intensitas yang sering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan kortikosteroid inhalasi dengan kadar glukosa darah pada penderita asma. METODE Penelitian menggunakan studi observasional dengan pendekatan potong lintang atau cross-sectional yang mengikutsertakan 56 pasien asma poli paru di Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih, Jakarta Timur. Data dikumpulkan dengan cara melihat nilai spirometri pasien pada rekam medis, wawancara pasien untuk menentukan pasien menggunakan kortikosteroid inhalasi dan pengambilan kadar glukosa darah dengan HbA1C di laboratorium. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher dan diolah dengan program SPSS (Statistical Program for Social Science) dengan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0.05. HASIL Hasil analisis antara penggunaan kortikosteroid inhalasi dengan kadar glukosa darah pada penderita asma berdasarkan uji Fisher menunjukkan adanya hubungan yang tidak bermakna (p = 0.245). KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan tidak adanya hubungan penggunaan kortikosteroid inhalasi dengan kadar glukosa darah pada penderita asm

    Perbedaan berat badan bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan bayi yang diberikan susu formula pada usia 0-6 bulan

    No full text
    LATAR BELAKANG Berat badan merupakan pengukuran antropometri yang terpenting dalam memeriksa status gizi pada bayi. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi berat badan bayi adalah pemberian air susu ibu (ASI) dan pemberian susu formula. Prevalensi pemberian ASI eksklusif pada bayi 0–6 bulan di Indonesia menunjukkan penurunan dari sebanyak 62,2% (2007) menjadi sebanyak 56,2% (2008). Prevalensi penggunaan susu formula pada bayi berusia kurang dari 6 bulan, yaitu sebanyak 76,6%. Beberapa penelitian menunjukan bahwa berat badan bayi yang diberikan susu formula lebih besar dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan berat badan bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan yang diberikan susu formula pada usia 0-6 bulan. METODE Penelitian menggunakan studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang atau cross-sectional yang mengikutsertakan 30 bayi di Posyandu Ros Indah Kelurahan Jatirasa Kecamatan Jati Asih. Data dikumpulkan dengan cara melihat nilai berat badan bayi melalui KMS atau data posyandu dan wawancara orang tua dari bayi untuk menentukan bayi tersebut menggunakan ASI eksklusif atau susu formula pada usia 0-6 bulan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji independent t-test dan diolah dengan program SPSS (Statistical Program for Social Science) dengan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0.05. HASIL Pada pengujian data dengan independent t test, hasil untuk berat badan bayi usia 0 bulan antara yang diberi ASI eksklusif dan susu formula menunjukkan nilai p = 0.047 (p < 0.05), usia 1 bulan antara yang diberi ASI eksklusif dan susu formula menunjukkan nilai p = 0.000 (p < 0.05), usia 2 bulan antara yang diberi ASI eksklusif dan susu formula menunjukkan nilai p = 0.000 (p < 0.05), usia 3 bulan antara yang diberi ASI eksklusif dan susu formula menunjukkan nilai p = 0.000 (p < 0.05), usia 4 bulan antara yang diberi ASI eksklusif dan susu formula menunjukkan nilai p = 0.000 (p < 0.05), usia 5 bulan antara yang diberi ASI eksklusif dan susu formula menunjukkan nilai p = 0.000 (p < 0.05), dan usia 6 bulan antara yang diberi ASI eksklusif dan susu formula menunjukkan nilai p = 0.000 (p < 0.05). KESIMPULAN Adanya perbedaan yang bermakna pada berat badan bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan yang diberikan susu formula pada usia 0-6 bulan

    Hubungan KB suntik dengan obesitas pada perempuan usia produktif di Wonogiri

    No full text
    LATAR BELAKANG Semakin meningkatnya prevalensi masyarakat yang mengalami obesitas terutama perempuan. Di berbagai belahan dunia, sebagian besar populasi yang mengalami obesitas pada usia dewasa di dominasi oleh perempuan TUJUAN Untuk mengetahui hubungan antara lama penggunaan kb suntik dengan obesitas dan mengetahui hubungan antara jenis kb suntik dengan obesitas METODE Studi analitik observasional dengan desain cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di tempat praktik bidan Indrarini pada bulan Agustus 2016. Populasi berupa pasangan usia subur di kelurahan Ngadirejo, Wonogiri. Sampel diambil dengan cara simple random sampling didapatkan sampel sebanyak 256 akseptor kb suntik. Variabel yang diteliti adalah kb suntik dan obesitas. Data diambil dari rekam medik HASIL Karakteristik responden teridiri dari usia, lama penggunaan kb suntik, jenis kb suntik dan obesitas. Akseptor kb suntik yang mengalami obesitas dengan pemakaian kurang dari satu tahun sebanyak 12 orang, yang telah menggunakan lebih dari satu tahun sebanyak 164 orang. Pada uji Chi-Square terdapat hubungan yang bermakna antara lama penggunaan kb suntik dengan obesitas (p=0,000). Akseptor kb suntik jenis progestin yang mengalami obesitas sebanyak 112 orang, untuk akseptor kb suntik jenis kombinasi yang mengalami obesitas sebanyak 64 orang. Pada uji Chi-Square tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kb suntik dengan obesitas (p=0,686) KESIMPULAN Terdapat hubungan yang bermakna antara lama penggunaan kb suntik dengan obesitas, sedangkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kb suntik yang digunakan dengan obesitas

    Hubungan antara rhinitis akut dengan otitis media akut pada anak usia 1-5 tahun

    No full text
    LATAR BELAKANG : Infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) masih merupakan masalah kesehatan utama di indonesia. Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. rinitis akut merupakan salah satu bagian dari ISPA. Rinitis dapat berpotensi mengalami komplikasi seperti sinusitis, polip nasi dan disfungsi tuba. Disfungsi tuba pada rinitis diakibatkan oleh sumbatan tuba. Sumbatan menyebabkan proteksi, drainase dan aerasi telinga tengah terganggu. Gangguan ini akan menimbulkan infeksi pada telinga tengah derajat ringan sampai berat, tergantung dari lama dan beratnya rinitis serta faktor lainnya. METODE : Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang yang meneliti anak usia 1-5 tahun di poliklinik umum puskesmas Grogol Petamburan pada bulanNovember 2016 – Desember 2016. Data dikumpulkan menggunakan data sekunder berupa rekam medis bulan Januari 2015 – Desember 2015. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariate menggunakan uji statistik chi square dengan program SPSS. HASIL : Dari hasil uji statistik chi square yang dilakukan menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara rhinitis akut dengan otitis media akut pada anak usia 1-5 tahun dengan nilai-p sebesar 0,485 (p>0,05). KESIMPULAN : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara rhinitis akut dengan otitis media akut pada anak usia 1-5 tahun

    Hubungan tingkat stres dengan konstipasi fungsional pada mahasiswa

    No full text
    LATAR BELAKANG Konstipasi adalah persepsi gangguan buang air besar berupa berkurangnya frekuensi buang air besar, sensasi tidak puas dalam buang air besar, nyeri dan mengejan karena feses yang keras. Kriteria konstipasi adalah buang air besar kurang dari 3 kali seminggu atau 3 hari tidak buang air besar atau buang air besar dengan mengejan yang kuat. Stres emosional berhubungan dengan beberapa penyakit gastrointestinal fungsional, tetapi perannya dalam etiologi konstipasi fungsional tidak jelas. METODE Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan desain cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti angkatan 2014-2015 sekitar 158 responden dengan pengambilan sampel yang dilakukan dengan metode simple random sampling. Data yang diperoleh kuesioner yang dibagikan kepada responden. Data yang telah diperoleh ditabulasikan dan dihitung dengan cara analisis statistik menggunakan Chi-Square. HASIL Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 158 mahasiswa, hasil didapati jumlah responden yang mengalami konstipasi sejumlah 97 orang (61,4%) mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna dari tingkat stres dengan konstipasi fungsional (p = 0,011) KESIMPULAN Pada penelitian ini ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kejadian konstipasi fungsional

    424

    full texts

    1,360

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Trisakti University Collection of Scholarly and Academic Pa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇