Trisakti University

Trisakti University Collection of Scholarly and Academic Pa
Not a member yet
    1360 research outputs found

    Hubungan usia diatas 50 tahun dengan risiko benign prostate hyperplasia berdasarkan kuesioner Internasional Prostate Symptom Score

    No full text
    Latar Belakang: BPH adalah kelainan histologis berupa pembesaran kelenjar prostat hasil dari proliferasi sel epitel dan stroma pada zona transisi prostat yang menyebabkan pengeluaran urin tertahan. Penyebab BPH secara pasti belum diketahui, namun diduga pertambahan usia (khususnya usia di atas 50 tahun) merupakan faktor risiko tersering yang menyebabkannya. Di dunia diperkirakan 4,5 juta pasien didiagnosis utama BPH dan 8 juta didiagnosis primer dan sekunder BPH tiap tahunnya, sedangkan data prevalensi di Indonesia masih belum ada. Tujuan dari penelitian ini untuk mencari hubungan antara usia di atas 50 tahun dengan risiko terjadinya BPH. Metode Penelitian: Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional ini dilakukan pada 74 sampel pria berusia di atas 50 tahun yang diambil secara simple random sampling di Kampung Sukaati Barat Desa Jomin Timur RT 22 RW 04 Kecamatan Kota Baru pada bulan Agustus 2016 melalui kuesioner dan wawancara langsung. Analisis data dilakukan meliputi analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil Penelitian: Hasil uji statistik antara usia di atas 50 tahun dengan faktor risiko BPH didapatkan nilai p=0,894 (α=0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara usia seorang pria di atas 50 tahun dengan risiko terkena BPH di Kampung Sukaati Barat Desa Jomin Timur RT 22 RW 04 Kecamatan Kota Baru

    Hubungan faktor bayi, ibu dan lingkungan dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada bayi

    No full text
    LATAR BELAKANG Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang satu bagian atau lebih dari saluran napas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan juga pleura. (ISPA) merupakan salah satu penyebab kematian pada anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, menunjukkan prevalensi nasional ISPA sebesar 25,0%. Terus meningkatnya angka kejadian ISPA ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor bayi (status gizi dan berat badan lahir), faktor ibu (pendidikan ibu) dan faktor lingkungan (kepadatan hunian dan ventilasi rumah). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor anak, ibu dan lingkungan dengan ISPA pada bayi. METODE Penelitian ini menggunakan studi observasional analisis dengan desain cross sectional. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuisioner oleh orangtua subjek penelitian meliputi kuisioner untuk mengetahui kejadian ISPA dan kuisioner untuk mengetahui berat badan, tinggi badan, berat badan lahir, kepadatan hunian dan ventilasi rumah. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dan diolah dengan program SPSS for Windows versi 20 dengan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0.05 HASIL Dari 99 subjek penelitian terdapat 43 subjek yang mengalami ISPA. Hasil analisis berdasarkan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang bermaknya antara pendidikan ibu (p = 0.000), kepadatan hunian rumah (p = 0.000) dan ventilasi rumah (p = 0.001) dengan ISPA pada bayi dan hasil analisis juga menunjukkan tidak didapatkan hubungan bermakna antara berat badan lahir (p = 384) dan status gizi (p = 0.740) dengan ISPA pada bayi. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pendidikan ibu, kepadatan hunian dan ventilasi rumah dengan ISPA pada bayi dan tidak terdapat hubungan antara berat badan lahir dan status gizi dengan ISPA pada bayi

    Hubungan pola makan dengan siklus menstruasi pada siswi SMAN 5 Tangerang

    No full text
    Latar belakang : Kesehatan reproduksi adalah kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh. Siswi usia pubertas memiliki tanggung jawab untuk menjamin pemeliharaan fungsi alat reproduksi atau proses yang terjadi pada alat reproduksi yang salah satunya adalah mestruasi. 1 Gangguan Menstruasi yang sering terjadi pada remaja perempuan menurut Gail B yaitu terdiri atas Amenore, Dismenore, Menorrhagia dan Oligomenorea.5 Siklus menstruasi yang tidak teratur juga dapat disebabkan oleh pemakaian obatobatan, aktivitas fisik yang berat, tidak normalnya indeks masa tubuh dan juga pola makan yang dapat mempengaruhi status gizi. 6-7 Riskesdas 2010 menyatakan bahwa prevalensi terjadinya siklus menstruasi yang tidak teratur di Provinsi Banten sebanyak 14,6 % dan 11,7% diantaranya terjadi pada usia 15-19 tahun.11 Pola makanan memiliki hubungan dengan siklus menstruasi, baik pada fase preovulasi maupun puncaknya pada fase luteal. 12 Pravalensi hubungan pola makan dan siklus menstruasi berdasarkan penilitian terdahulu hasilnya 40,3% wanita muda dengan gizi buruk, 52,8% wanita muda dengan negara eunutritional dan 6,9% perempuan muda dengan negara overnutritional. Siklus menstruasi yang tidak teratur adalah 38,9% remaja diantaranya. 13 Metode : Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan rancangan potong silang. Penelitian ini bersifat retrospektif dengan memanfaatkan data kuesioner Food Record 3 x 24 jam dan kuesioner siklus menstruasi pada siswi remaja berumur 16 tahun di SMAN 5 Tangerang. Jumlah responden sebanyak 126 orang dimana analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Analisis diolah dengan program SPSS 21,0. Hasil : Terdapat 8 (6.34%) siswi mengalami polimenore, 103 (81.74%) mengalami siklus menstruasi yang normal dan 15 (11.9%) siswi mengalami oligomenore. Terdapat 85 (67.4%) siswi termasuk kategori AKG kalori kurang, 26 (20.6%) siswi AKG kalori baik dan 15 (11.9%) siswi AKG kalori berlebihan. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara pola makan ( kalori, karbohidrat, protein dan lemak ) dengan siklus menstruasi pada siswi SMAN 5 Tangerang

    Hubungan hitung trombosit dan hitung leukosit pada fase kritis demam berdarah dengue

    No full text
    LATAR BELAKANG : Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di negara tropis dan subtropis. Diagnosis DBD ditegakkan dengan menilai gejala klinis dan laboratorium. Trombositopenia dan leukopenia digunakan sebagai indikator untuk menunjukkan kebocoran plasma dan perjalanan penyakit pada DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hitung leukosit dan hitung trombosit pada fase kritis DBD. METODE: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Subjek penelitian yang digunakan adalah pasien yang terdiagnosis DBD fase kritis hari ke-4 di RSUP Fatmawati selama periode tahun 2015 - 2016. Pengumpulan data menggunakan teknik consecutive sampling dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis. Penelitian ini menggunakan analisis statistik uji korelasi Spearman. HASIL: Didapatkan 60 subjek (100%) mengalami trombositopenia. 33 subjek (55%) dengan leukopenia, 25 subjek (41,7%) dengan jumlah leukosit normal, dan 3 subjek (3,3%) dengan leukositosis. Hasil uji korelasi Spearman antara hitung trombosit dan leukosit menujukkan tidak adanya korelasi antara hitung trombosit dengan hitung leukosit dan kekuatan hubungannya sangat lemah dengan arah negatif. (p = 0,371 ; r = -0,118) KESIMPULAN: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara hitung trombosit dan hitung leukosit pada fase kritis demam berdarah dengue

    Hubungan antara supervisi kepala perawat dengan penerapan patient safety di ruang rawat inap

    No full text
    LATAR BELAKANG Rumah sakit merupakan tempat yang sangat berisiko, serta memiliki berbagai jenis profesi yang bertugas memberikan pelayanan pada pasien selama 24 jam. Apabila rumah sakit lalai dalam melakukan standar tersebut maka akan mengakibatkan terjadinya Kejadian yang Tidak Diinginkan, seperti alur komunikasi yang tidak tepat, kesalahan atau keterlambatan dalam mendiagnosis, kesalahan pada prosedur pengobatan, kasus infeksi nosokomial. Petugas medis yang memberi pelayanan asuhan keperawatan kepada pasien selama 24 jam maka petugas medis memiliki peranan penting dalam menjamin keselamatan pasien(patient safety) khususnya perawat. Salah satu faktor penting dalam penerapan budaya keselamatan pasien (patient safety) adalah komitmen kepala rumah sakit terhadap keselamatan terhadap pasien. Komitmen ini ditunjukkan dari sikap dan perilaku manajemen dari pemimpin terhadap kinerja bawahannya sehingga budaya keselamatan kerja dilakukan oleh setiap orang di rumah sakit tersebut. Supervisi yang tidak adekuat mempengaruhi perawat dalam menerapkan patient safety. METODE Penelitian ini menggunakan studi observasional dengan pendekatan Cross Sectional dengan jumlah peserta penelitian sebanyak 143 orang di RSUD Cilegon. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner karakteristik individu, kuesioner model supervisi kepala ruangan, kuesioner penerapan keselamatan pasien, dan observasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan Chi Square yang kemudian diolah dengan tingkat kemaknaan 0,05. HASIL Dari 143 responden, hasil uji chi square menunjukan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara supervisi dengan patient safety dengan nilai P = 0.002 (P < 0.05). KESIMPULAN Penelitian ini menunjukan adanya hubungan supervisi kepala ruangan dengan patient safety di ruang rawat inap RSUD Cilegon, Provinsi Banten

    Hubungan faktor internal dan faktor eksternal dengan perilaku makan atlet wanita

    No full text
    LATAR BELAKANG Atlet merupakan profesi yang membutuhkan banyak energi untuk mampu melakukan aktivitas fisik berat. Disamping kebutuhan energi yang lebih banyak dari orang biasanya, atlet pun dituntut untuk memiliki postur tubuh yang ideal guna menunjang performanya sehingga dapat mencetak prestasi sebanyak mungkin. Demi mencapai hal tersebut, banyak atlet yang melakukan diet ekstrem yang biasanya tanpa didasari pengetahuan yang benar sehingga pada akhirnya mengakibatkan perilaku makan yang menyimpang. Perilaku makan sendiri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan faktor eksternal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan faktor internal dan faktor eksternal dengan perilaku makan atlet wanita. METODE Penelitian menggunakan studi observasional dengan desain potong lintang yang mengikutsertakan 132 atlet wanita komunitas Rush Runners. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan tiga jenis kuesioner yang meliputi penilaian karakteristik sosiodemografi, perilaku makan dengan Eating Disorder Diagnostic Scale, dan kuesioner data tentang faktor internal (sikap, pengetahuan, citra tubuh) dan faktor eksternal (pendidikan orang tua, pengaruh pelatih, keterpaparan media, lingkungan sosial/teman). Analisis ini menggunakan uji statistik Chi-square. HASIL Dari 132 responden, 82 orang (65,08 %) memiliki perilaku makan tidak menyimpang dan 44 orang (34,92%) memiliki perilaku makan menyimpang. Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara sikap dengan perilaku makan (p = 0,001), citra tubuh dengan perilaku makan (p = 0,000), lingkungan sosial (teman) dengan perilaku makan (p = 0,003). KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan faktor internal (sikap dan citra tubuh) dan faktor eksternal (lingkungan sosial) dengan perilaku makan atlet wanita

    Hubungan pola asuh ibu dengan perilaku makan pada siswa TK

    No full text
    Latar Belakang Anak pada usia prasekolah biasanya mengalami perkembangan psikis menjadi balita yang lebih mandiri, autonom dan dapat berinteraksi dengan lingkungannya,serta dapat lebih mengekspresikan emosinya. Di samping itu, anak usia tersebut juga cenderung senang bereksplorasi dengan hal-hal baru. Sifat perkembangan khas yang terbentuk ini turut mempengaruhi pola makan anak. Anak prasekolah adalah mereka yang berusia antara 3-6 tahun. Pada masa ini anak mengalami proses perubahan pola makan dimana anak pada umumnya mengalami kesulitan untuk makan.Kesulitan makan pada anak memiliki efek yang merugikan, bagi anak itu sendiri. Efek merugikan ini dapat berupa penambahan berat badan yang tidak sesuai, defisiensi nutrisi, serta pengurangan variasi asupan makan anak. Kesulitan makan dalam jangka waktu lama juga dapat menimbulkan kegagalan tumbuh pada anak serta keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Beberapa faktor dapat memicu timbulnya perilaku sulit makan, salah satu pemicu sulit makan adalah pola asuh ibu. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan pola asuh ibu dengan perilaku sulit makan pada anak usia prasekolah. Metode Penelitian menggunakan studi observational dengan pendekatan cross sectional atau potong silang dengan jumlah peserta penelitian sebanyak 280 responden yang memiliki anak usia prasekolah di 8 TK di Kecamatan Grogol Petamburan. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner pola asuh ibu untuk menilai pola asuh dan kuesioner perilaku sulit makan. Variable yang diteliti adalah usia ibu, pendidikan terakhir, pola asuh, dan perilaku sulit makan pada anak.Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariate menggunakan uji Chi Square yang kemudian diolah dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil Hasil analisis antara pola asuh ibu dengan perilaku makan pada siswa TK dengan uji Chi Square menunjukkan ada hubungan yang bermakna (p=0,000) Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pola asuh ibu dengan perilaku makan pada anak usia prasekolah

    Hubungan pemberian ASI eksklusif dengan prestasi akademik pada anak Sekolah Dasar

    No full text
    LATAR BELAKANG Pemberian ASI eksklusif sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan bayi. Salah satu faktor yang dapat dipengaruhi dalam pemberian ASI eksklusif adalah kemampuan kognitif yang lebih baik di bidang pendidikan. Kemampuan kognitif yang lebih baik akan meningkatkan prestasi akademik seorang anak. Oleh karena itu, pemberian ASI secara eksklusif merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan presetasi akademik seorang anak. METODE Desain studi penelitian ini dilakukan secara analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yang diikuti oleh 300 anak di Sekolah Dasar Al – Azhar BSD yang dimulai dari bulan Oktober sampai November 2016. Pengumpulan data dengan memberikan kuisioner kepada responden untuk diberikan kepada ibunya yang meliputi karakteristik responden dan ibunya serta pemberian ASI eksklusif. Selain itu, pengumpulan data diambil secara data sekunder yaitu laporan hasil belajar (raport) responden yang terbaru. Penilaian pemberian ASI eksklusif, dilihat dari definisi literatur textbook, sedangkan interpretasi rapor responden menggunakan standar dari BNSP. Analisis data penelitian ini menggunakan uji Chi-Square dengan batas kemaknaan α = 0,05, apabila p < 0,05, maka H0 yang berarti secara statistik terdapat hubungan yang bermakna pada software SPSS version 21.0 for Windows 8.1. HASIL Rentang usia anak SD Al-Azhar BSD adalah 8 - 12 tahun dengan frekuensi terbesar adalah anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif dengan prestasi akademik kategori baik yaitu sebanyak 52 anak. Sebesar 26,32% anak yang diberikan ASI eksklusif memiliki prestasi akademik dengan kategori baik dan sebesar 24,74% anak yang diberikan ASI eksklusif memiliki prestasi akademik dengan kategori sangat baik. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif berhubungan dengan prestasi akademik (p=0,002). KESIMPULAN Terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan prestasi akademik anak

    Hubungan kunjungan antenatal care dengan kejadian anemia pada ibu hamil

    No full text
    LATAR BELAKANG Prevalensi Anemia di Indonesia masih tergolong tinggi, yaitu 37,1% pada tahun 2013. Penyebab anemia bersifat multifaktorial. Salah satu upaya untuk mengurangi juumlah kejadian anemia pada ibu hamil adalah dengan melakukan kunjungan antenatal care sesuai standar yang telah ditetapkan. Data statistik menunjunkkan cakupan pelayanan antenatal belum mencapai target yaitu 95% dan di beberapa daerah kondisi anemia pada ibu hamil relative belum terpantau dengan baik. METODE Desain studi penelitian secara observasional analitik dengan pendekatan potong lintang yang diikuti oleh 100 ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Taliwang, Mataram, Nusa Tenggara Barat, selama bulan Agustus hingga Oktober 2016. Pengukuran kadar hemoglobin menggunakan Quick Check Hb. Karakteristik responden dan riwayat kunjungan antenatal care didapatkan dari wawancara dan data sekunder. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kemaknaan p<0,05 software SPSS for Mac OS. HASIL Mayoritas ibu hamil berusia antara 20-35 tahun dengan pendidikan menengah dan tidak bekerja, berstatus multiparitas, serta memiliki riwayat kunjungan antenatal care yang tidak memadai. Sebesar 39% mengalami anemia. Kunjungan antenatal care tidak berhubungan dengan kejadian anemia (p=0,562), akan tetapi pekerjaan berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil ( p=0,000). KESIMPULAN Didapatkan prevalensi anemia pada kehamilan yang masih tergolong tinggi, namun tidak ditemukan adanya hubungan antara kunjungan antenatal care dengan kejadian anemia pada ibu hamil dalam penelitian ini, maka perlu dilakukan penilaian pada faktor-faktor lainnya seperti status gizi, jarak kehamilan, pola makan dan asupan nutrisi harian, kepatuhan konsumsi tablet besi, dan kualitas pelayanan antenatal care sehingga kejadian anemia pada ibu hamil dapat dicegah

    Hubungan obesitas dan hipertrigliseridemia dengan kejadian perlemakan hati pada usia 30-60 tahun

    No full text
    LATAR BELAKANG Perlemakan hati non-alkoholik atau yang lebih sering di dengar dengan istilah Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) merupakan kelainan hati dimana lipid terutama trigliserida terakumulasi di dalam hepatosit lebih dari 5% dari keseluruhan hepatosit, dengan gambaran spektrum makrovesikuler atau mikrovesikular, fibrosis, hingga sirosis hati dan tanpa ada hubungannya dengan konsumsi alkohol. NAFLD merupakan masalah kesehatan publik yang besar karena prevalensinya yang tinggi di seluruh dunia dan berpotensi menimbulkan sekuelae yang serius. Faktor risiko NAFLD tersering adalah obesitas, diabetes melitus tipe 2 dan dislipidemia. Selain faktor risiko tersebut, ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian NAFLD antara lain genetik, usia, jenis kelamin, dan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, jenis kelamin, obesitas dan hipertrigliseridemia dengan perlemakan hati pada populasi TNI. METODE Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain penelitian yang digunakan cross sectional. Sebanyak 104 data pasien berhasil dikumpulkan secara non probability sampling dengan teknik consecutive sampling. Data yang dikumpulkan dengan melihat hasil medical check up pasien pada periode 2016 di Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Mintohardjo Jakarta yang mayoritas pasien adalah TNI. Analisis statistik menggunakan uji chi-square dengan batas kemaknaan p<0,05, dengan menggunakan software SPSS for windows versi 22.0. HASIL PENELITIAN Dari 104 pasien check up, sebesar 38 orang (36,5%) mengalami perlemakan hati. Pada pasien dengan perlemakan hati sebesar 45,2% yang berusia lebih atau sama dengan 45 tahun dan sebesar 23,8% usia yang kurang dari 45 tahun dengan nilai (p=0,027), responden penelitian ini didominasi oleh laki-laki sebesar 36,7% dan perempuan 36,0% dengan nilai (p=0,949). Didapatkan sebesar 52,5% yang mengalami obesitas dan 14,0% berat badan normal dengan nilai (p=0,000), sebesar 41,9% hipertrigliseridemia dan sebesar 32,8% yang memiliki kadar trigliserida normal dengan nilai (p=0,344). KESIMPULAN Terdapat hubungan bermakna antara usia responden dan indeks massa tubuh dengan perlemakan hati, sedangkan jenis kelamin dan kadar trigliserida tidak terdapat hubungan bermakna dengan perlemakan hati, baik pada populasi umum atau pada populasi di TNI tidak terdapat perbedaan

    424

    full texts

    1,360

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Trisakti University Collection of Scholarly and Academic Pa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇