1360 research outputs found
Sort by
Hubungan antara preeklampsia dengan tindakan seksio sesarea pada ibu usia 20-35 tahun
LATAR BELAKANG
Hipertensi dalam kehamilan (HDK) menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2013, prevalensi preeklampsia sebesar 23,7%. Angka tersebut meningkat dari 21,7% di tahun 2010. Salah satu indikasi seksio sesarea adalah preeklampsia. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara preeklampsia dan seksio sesarea pada ibu usia 20-35 tahun.
METODE
Pada penelitian ini menggunakan studi observasional dengan pendengatan cross-sectional atau potong silang yang menikutsertakan 70 pasien di Rumah Sakit Ananda Bekasi. Data dikumpulkan dengan menggunakan rekam medik dari Rumah Sakit Ananda Bekasi. Variable yang diteliti adalah usia, diagnosis preeklalmpsia serta tindakan seksio sesarea. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariate menggunakan uji Chi-Square dan diolah dengan program SPSS for Windows versi 21.0 dengan tingkat kemaknaan 0.05.
HASIL
Mayoritas ibu yang mengalami preeklampsia berusia 30-35 tahun. 78% dari ibu yang preeklampsia mengakhiri kehamilan dengan tindakan seksio sesarea. Hasil analisis bivariat yang berdasarkan uji Chi-Square menunjukan adanya hubungan yang bermakna (p = 0,004) baik antara preeklampsia dan seksio sesarea pada ibu usia 20-35 tahun maupun antara usia dengan kejadian preeklampsia (p=0,038)
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukan adanya hubungan baik antara preeklampsia dengan tindakan seksio sesarea pada ibu usia 20-35 tahun maupun antara usia dengan kejadian preeklampsia
Hubungan fungsi eksekutif dan keseimbangan pada lanjut usia
LATAR BELAKANG
Pertumbuhan penduduk lanjut usia diprediksi akan meningkat cepat di masa yang akan datang. Kelompok lanjut usia akan mengalami penurunan derajat kesehatan yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan. Salah satu faktor risiko terkait penuaan yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan adalah gangguan fungsi kognitif, khususnya pada domain fungsi eksekutif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fungsi eksekutif dan keseimbangan pada lanjut usia.
METODE
Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2016 di Panti Sosial Tresna Wedha Budi Mulia 2, menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan rancangan potong silang. Didapatkan responden sebanyak 53 lanjut usia yang diambil secara consecutive non-random sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Fungsi eksekutif dinilai menggunakan Trail Making Test- (TMT-) yang merupakan selisih dari Trail Making Test-A (TMT-A) dan Trail Making Test-B (TMT-B). Keseimbangan dinilai menggunakan Timed Up and Go Test (TUGT). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson.
HASIL
Terdapat 7,5% subyek dengan fungsi eksekutif baik, 11,3% subyek dengan fungsi eksekutif sedang, dan 81.1% subyek dengan fungsi eksekutif buruk. Sebanyak 66,0% subyek memiliki keseimbangan yang baik dan 34,0% subyek memiliki keseimbangan yang buruk. Uji korelasi antara TMT- dan TUGT menghasilkan nilai korelasi Pearson sebesar 0,368 menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan korelasi yang lemah.
KESIMPULAN
Terdapat hubungan positif yang lemah antara fungsi eksekutif yang diukur menggunakan TMT- dengan keseimbangan yang diukur menggunakan TUGT pada lanjut usia. Lanjut usia yang memperoleh hasil yang baik pada TMT- kemungkinan akan memperoleh hasil yang baik pula pada tes TUGT
Hubungan paparan sampah dengan gangguan penghidu pada penduduk di TPS X
LATAR BELAKANG
Sampah adalah material sisa dari sebuah proses yang dibuang. Sampah menghasilkan gas
seperti metana, karbon dioksida, dan hidrogen sulfida. Gas-gas tersebut dapat
menyebabkan gangguan pada tubuh seperti gangguan penghidu. Penduduk yang tinggal
sekitar tempat penampungan sampah (TPS) memiliki resiko mengalami gangguan
penghidu karena terpapar sampah, maka dari itu diperlukan adanya penelitian ini.
METODE
Penelitian ini menggunakan analisis observasional, menggunakan model cross-sectional.
Penelitian ini diselenggarakan pada bulan April-Mei 2017 di salah satu TPS di Jakarta
yang terdiri atas penduduk sekitar TPS yang berjumlah 130 subjek. Pengumpulan data
menggunakan kuesioner Importance of Olfaction (IOL) dengan pengisian mandiri dan
wawancara langsung dengan teknik consecutive sampling. Analisis menggunakan SPSS
versi 23 dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05.
HASIL
Terdapat 7 subjek (18,9%) yang terpapar sampah dan dengan gangguan penghidu, 30
subjek (72,1%) yang terpapar sampah dan tidak dengan gangguan penghidu. Terdapat 27
subjek (29%) yang tidak terpapar sampah dan dengan gangguan penghidu serta 66 subjek
(71%) yang tidak terpapar sampah dan tidak dengan gangguan penghidu. Berdasarkan
data analisis statistik menggunakan uji Chi-Square , didapatkan hasil p=0.236, dimana
nilai tersebut lebih besar dari tingkat kemaknaan 5% (p<0.05).
KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa paparan sampah tidak mempunyai hubungan
yang bermakna dengan gangguan penghidu
Hubungan antara kualitas tidur dengan nyeri kepala primer pada anak SMA
LATAR BELAKANG
Nyeri kepala merupakan masalah umum yang sering dijumpai dokter dalam praktek sehari-hari. Migrain dan tension headache merupakan jenis gangguan nyeri kepala primer yang paling sering ditemukan pada anak Sekolah Menengah Atas(SMA), namun kurang terdiagnosis sehingga dalam praktek klinis tidak terobati secara adekuat. Beberapa faktor dapat memicu timbulnya migrain dan tension headache salah satu pemicu yang juga merupakan kesehatan utama adalah kualitas tidur. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan nyeri kepala primer pada anak SMA.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dan dengan desain cross-sectional, dengan jumlah 193 siswa SMA Muhammadiyah 3 Jakarta Selatan pada bulan Februari – Maret 2017. Pemilihan sampel diambil dengan cara simple random sampling. Variabel kualitas tidur diukur dengan kuesioner PSQI dan nyeri kepala primer menggunakan kuesioner HARDSHIP. Analisis hubungan antara usia, jenis kelamin, kualitas tidur dan nyeri kepala primer menggunakan Uji Chi-Square.
HASIL
Didapatkan usia responden terbanyak 15-<17 tahun, 51,3% mengalami kualitas tidur buruk dan 61,7% mengalami nyeri kepala primer. Terdapat hubungan bermakna antara usia dengan nyeri kepala primer (p=0,000), tidak terdapat hubungan jenis kelamin dengan nyeri kepala primer (p=0,666), dan terdapat hubungan bermakna antara kualitas tidur dengan nyeri kepala primer (p=0,039).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara usia dan kualitas tidur dengan nyeri kepala primer. Responden dengan usia yang lebih kecil dan kualitas tidur buruk lebih banyak mengalami nyeri kepala prime
Hubungan antenatal care dengan kematian perinatal pada ibu usia 20-35 tahun
LATAR BELAKANG
Masih tingginya angka kematian perinatal di Indonesia masih menjadi fokus dalam program pemerintah. Beberapa faktor yang menyebabkan, yaitu faktor ibu dan faktor janin. Untuk menurunkan angka kematian perinatal, pemerintah melaksanakan pemeriksaan kehamilan rutin bagi ibu hamil atau yang sering kita sebut antenatal care. Pemeriksaan kehamilan ini dapat mendeteksi risiko kesulitan dan kelainan yang dialami ibu maupun janin selama masa kehamilan. Studi ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antenatal care dengan kematian perinatal.
TUJUAN
Studi ini bertujuan untuk mengetahui angka kematian perinatal, mengetahui gambaran kunjungan antenatal care, dan mengetahui hubungan antenatal care dengan kematian perinatal pada ibu usia 20-3 tahun.
METODE
Studi ini menggunakan studi observational dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel studi sebanyak 32 sampel yang merupakan data rekam medik RSUD Kab Tangerang. Data dikumpulkan dengan cara mengambil data sekunder responden melalui rekam medik. Variabel yang diteliti adalah frekuensi antenatal care dan kematian perinatal. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0.05.
HASIL
Antenatal care dengan frekuensi ≥4 kali pada ibu usia 20-35 tahun didapatkan hasil yang cukup baik dengan prevalensi 81,3%. Sebanyak 7 responden (21,9%) mengalami kematian perinatal. Didapatkan juga responden dari tingkat pendidikan didapatkan responden terbanyak dengan tingkat pendidikan tinggi, yaitu dengan prevalensi 56,3%. Hasil analisis antara antenatal care dengan kematian perinatal pada ibu usia 20-35 tahun dengan Uji Chi Square menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna (p = 0,101).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara antenatal care dengan kematian perinatal pada ibu usia 20-35 tahun
Hubungan tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi pada siswa SD
LATAR BELAKANG
Faktor gizi memegang peranan penting dalam mencapai sumber daya manusia yang berkualitas. Kondisi gizi yang tidak seimbang akan mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan serta pengembangan potensi anak. Pertumbuhan fisik sering dijadikan indikator untuk mengukur status gizi. Pertumbuhan dipengaruhi oleh asupan zat gizi yang dikonsumsi dalam bentuk makanan. Kelebihan gizi akan menimbulkan obesitas. Untuk dapat memahami hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi pada siswa SD.
METODE
Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang pada siswa kelas V dan VI SD. Data yang digunakan merupakan data primer dengan membagikan kuesioner Food Recall 24 jam dan pengukuran berat badan serta tinggi badan yang dikonversikan ke dalam Z score pada semua siswa. Sampel pada penelitian ini diambil dengan cara simple random sampling dan jumlah sampel yang didapatkan sebanyak 82 responden. Penelitian dilaksanakan di SD Sumbangsih Grogol Jakarta Barat pada bulan Januari-Maret 2017. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan program SPSS versi 23.
HASIL
Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara tingkat konsumsi energi (p=0,000) dan tingkat konsumsi protein (p=0,000) dengan status gizi.
KESIMPULAN
Tingkat konsumsi energi berhubungan dengan status gizi. Tingkat konsumsi protein berhubungan dengan status gizi
Hubungan pengetahuan ibu tentang toilet training dengan konstipasi anak usia 2-4 tahun
LATAR BELAKANG
Konstipasi adalah keadaan kesulitan saat defekasi dengan feses yang keras dan kering serta frekuensi buang air besar yang kurang dari 3 kali dalam seminggu. Penyebab konstipasi pada anak salah satunya yaitu adanya paksaan toilet training dari orangtua dan anak menolak untuk menggunakan toilet. Toilet training adalah suatu usaha untuk melatih anak mengontrol buang air besar dan buang air kecil. Kegagalan toilet training dapat terjadi bila mengajarkan toilet training terlalu dini, adanya perlakuan atau aturan yang ketat dari orangtua kepada anak dalam toilet training, kebiasaan ibu, dan pengetahuan ibu tentang toilet training.
METODE
Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional dengan desain Cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara Simple random sampling pada ibu yang memiliki anak usia 2-4 tahun di beberapa PAUD yang terdapat di kota Duri - Riau pada Januari sampai Februari 2017. Jumlah responden sebanyak 79 orang. Pengambilan data menggunakan kuesioner data karakteristik, kuesioner riwayat penyakit, kuesioner konstipasi fungsional menggunakan kriteria Rome III, dan kuesioner pengetahuan ibu tentang toilet training. Analisis data menggunakan uji alternatif Chi-Square.
HASIL
Dari 79 responden, sebesar 47 orang (59,5%) ibu yang memiliki pengetahuan toilet training dengan kategori baik dan 77 orang (97,5%) anak yang tidak konstipasi. Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu tentang toilet training dengan konstipasi pada anak usia 2-4 tahun dengan p = 0,462 (p > 0,05).
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang toilet training dengan konstipasi pada anak usia 2-4 tahun di beberapa PAUD yang terdapat di kota Duri - Riau
Hubungan antara kecerdasan emosional dan tingkat depresi pada pasien kanker serviks stadium lanjut
LATAR BELAKANG
The Psychosocial Collaborative Oncology Group (PSYCOG) mengidentifikasi gangguan psikiatri pada penderita kanker, salah satunya yaitu depresi. Motivasi diri merupakan faktor internal yang dapat mempengaruhi tingkat depresi. Hal ini berkaitan dengan teori kecerdasan emosional tentang kemampuan memotivasi diri dan bertahan menghadapi frustasi. Seseorang dengan kecerdasan emosional tinggi akan lebih mampu mengatasi masalah dan mengendalikan emosi. Sebaliknya seseorang dengan kecerdasan emosional rendah lebih sulit untuk mengendalikan emosi. Akibatnya orang dengan kecerdasan emosional rendah lebih mudah mengalami gangguan kejiwaan, seperti stres, ansietas dan depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara kecerdasan emosional dan tingkat depresi pada pasien kanker serviks stadium lanjut.
METODE
Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan potong lintang yang mengikutsertakan 115 pasien kanker serviks stadium lanjut di Rumah Sakit Kanker “Dharmais”. Pengumpulan data menggunakan Emotional Intelligence Questionnaire dan Beck Depression Inventory-II. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Fisher menggunakan program SPSS versi 21.0. dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05.
HASIL
Dari seluruh responden yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, 89,4% berada di tingkat depresi ringan, sedangkan 10,6% lainnya di tingkat depresi berat. Sementara itu, dari seluruh responden yang memiliki kecerdasan emosional rendah, 76,2% merupakan responden dengan tingkat depresi ringan, sedangkan 23,8% lainnya tingkat depresinya berat. Uji Fisher menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara kecerdasan emosional dan tingkat depresi pada pasien kanker serviks stadium lanjut (p = 0,146).
KESIMPULAN
Tidak terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dan tingkat depresi pada pasien kanker serviks stadium lanjut
Hubungan antara kekentalan darah dan fungsi kognitif pada usia 30-60 tahun
LATAR BELAKANG
Fungsi kognitif merupakan salah satu bagian terbesar yang diatur oleh
otak.Penurunan fungsi kognitif merupakan konsekuensi dari bertambahnya usia.
Penurunan fungsi kognitif antara lain dikaitkan dengan faktor sosiodemografi dan
faktor vaskular. Faktor sosiodemografi yang berpengaruh antara lain usia, jenis
kelamin, pendidikan, sedangkan faktor vaskular di antara merokok, bising karotis,
tekanan darah, diabetes mellitus, obesitas, penyakit jantung koroner, stroke,
kejadian tromboembolik, serta hipoperfusi serebral, yang dapat terjadi melalui
mekanisme aterosklerosis dan mekanisme perubahan hemoreologi.
TUJUAN
Menganalisis hubungan antara kekentalan darah dan fungsi kognitif padausia30-
60 tahun, yang diperiksa dengan Montreal Cognitive Assessment Indonesian
version (MoCA-Ina).
METODE
Penelitian ini merupakan survei bersifat analitik dengan rancangancross sectional
yang mengikutsertakan 65 responden dengan usia 30 – 60 tahun di Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo Jakarta pada bulan Agustus sampai Oktober 2016. Data
dikumpulkan dengan cara wawancara yang meliputi penilaian karakteristik
sosiodemografi menggunakan kuesioner dan fungsi kognitif menggunakan MoCA
Inadan penilaian kekentalan darah menggunakan darah yang kemudian diuji
menggunakan Mikrokapiler Digital. Analisis ini menggunakan uji statistik Chisquare.
HASIL
Dari 65 responden terdapat 43 responden (66,2%) yang mengalami peningkatan
kekentalan darah dan sebanyak 22 responden (33,8%) dengan kekentalan darah
yang normal.Dari 65 responden terdapat 25 responden (38,5%) responden
mengalami gangguan fungsi kognitif dan responden dengan fungsi kognitif yang
normal sebanyak 40 responden (61,5%).Setelah dilakukan uji Chi-square
diperoleh hasil tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kekentalan darah
dengan fungsi kognitif (p = 0,793).
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan
yang signifikan antara kekentalan darah dengan fungsi kognitif
Hubungan fungsi atensi dengan fungsi eksekutif pada siswa kelas 2 SD
LATAR BELAKANG
Kasus hambatan belajar di Indonesia sekitar 10-15 % dari seluruh siswa SD dan SMP. Masalah gangguan belajar meliputi gangguan kognitif yang melibatkan aspek memori, atensi, fungsi eksekutif, persepsi, bahasa dan fungsi psikomotor. Atensi mempengaruhi fungsi eksekutif melalui jalur lobus frontal dan korteks prefrontal, sehingga apabila seorang anak dengan gangguan atensi maka akan mengalami disfungsi eksekutif. Tujuan penelitian ini melihat hubungan fungsi atensi dengan fungsi eksekutif dengan menggunakan tes vigilance dan verbal fluency.
METODE Penelitian ini bersifat observasional dengan desain cross sectional pada 60 siswa kelas 2 SD di SD Negeri 010 Ujungbatu, Rokan Hulu, Riau. Data yang dikumpulkan merupakan data primer yang diukur secara langsung untuk menilai fungsi atensi dan fungsi eksekutif dengan menggunakan tes vigilance dan tes verbal fluency. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai Agustus 2016. Untuk mencari hubungan fungsi atensi dengan fungsi eksekutif menggunakan uji chi-square pada program SPSS for Windows versi 20.0.
HASIL Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan uji chi-square, terdapat hubungan fungsi atensi dengan fungsi eksekutif pada siswa kelas 2 SD dengan nilai P = 0,009 (P < 0,05)
KESIMPULAN Penelitian ini menunjukan terdapat hubungan fungsi atensi dengan fungsi eksekutif pada siswa kelas 2 SD ( P = 0,009 )