1360 research outputs found
Sort by
Hubungan penggunaan sarung tangan dengan dermatitis kontak pada perawat di Rumah Sakit
Latar Belakang: Dermatitis kontak akibat kerja merupakan dermatitis pada
penyakit kulit yang di sebabkan oleh adanya alergen dan bahan iritan dari
lingkungan kerja yang kontak dengan tubuh. Salah satu faktor yang
mempengaruhi kejadian dermatitis kontak, yaitu sarung tangan sabagai Alat
Pelindung Diri (APD). Pemakaian sarung tangan sebagai APD sangat di butuhkan
dan menjadi Standard Operating Procedure (SOP) dalam tindakan medis maupun
non medis di Rumah Sakit, hal ini menyebabkan pekerja kesehatan memiliki
potensi yang lebih tinggi untuk mengalami dermatitis kontak.
Metode Penelitian: ini dilakukan menggunakan metode analitik observasional
dengan desain cross-sectional dan tehnik pengambilan sampel menggunakan
Total Sampling dengan sampel berjumlah 97 orang. Data dikumpulkan dari
diagnosis dokter dan kuesioner dengan wawancara. Analisis data menggunakan
uji Fischer dan di analisis dengan perangkat lunak SPSS versi 21.
Hasil: Perawat yang menggunakan sarung tangan 0-4 jam/hari sebanyak 61 orang
(62,9%) , perawat yang menggunakan sarung tangan >4 jam/hari sebanyak 36
orang (37,1%), 94,8% perawat menggunakan sarung tangan dan 4,1% tidak
menggunakan sarung tangan, 93 orang yang tidak mengalami Dermatitis Kontak
(95,9%) dan 4 orang mengalami Dermatitis Kontak (4,1%). Analisis uji chisquare
menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik
antara lama penggunaan sarung tangan dengan dermatitis kontak (p=0,626) dan
penggunaan sarung tangan dengan dermatitis kontak (p=0,194).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara lama
penggunaan sarung tangan dengan dermatitis kontak dan tidak terdapat hubungan
yang bermakna antara penggunaan sarung tangan dengan dermatitis konta
Perbandingan kejadian ketombe pada pengguna jilbab dan tidak berjilbab pada siswi SMA
Latar Belakang
Ketombe atau yang biasa dikenal dengan pityriasis capitis, dermatitis seboroik
pada kulit kepala. Hal ini disebabkan karena lingkungan yang lembab dan panas
dapat menjadi habitat bagi pertumbuhan jamur Malassezia. Penggunaan jilbab
erat kaitannya dengan kelembaban dan panas akibat pola perawatan rambut yang
salah dan cara penggunaan jilbab yang tidak benar. Penelitian ini bertujuan untuk
membandingkan kejadian ketombe pada siswi berjilbab dan tidak berjilbab di
SMA Islam Negri Perti dan SMA Bunda Hati Kudus Jakarta Barat.
Metode
Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan rancangan
penelitian potong silang (cross sectional), dengan menggunakan metode stratified
random sampling. Data diperoleh langsung dari responden dengan menggunakan
kuisioner, wawancara, dan pemeriksaan fisik. Penelitian dianalisis dengan
menggunakan SPSS Chi square test dengan tingkat kemaknaan yang digunakan p
< 0,05.
Hasil
Hasil penelitian dari Chi square test 0,000 (p < 0,05) sehingga terdapat hubungan
antara penggunaan jilbab dengan kejadian ketombe pada siswi SMA. Hasil
perhitungan Odd Ratio dapat diketahui bahwa siswi yang berjilbab memiliki
resiko 5,348 kali lebih tinggi untuk berketombe dibandingkan siswi yang tidak
berjilbab pada SMA
Kesimpulan
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna
terhadap terjadinya ketombe pada siswi berjilbab dan tidak berjilbab di SMK
Islam Negri Perti dan SMA Bunda Hati Kudus Jakarta Barat
Hubungan konsumsi kontrasepsi oral kombinasi dengan hipertensi pada wanita usia 30-50 tahun
Latar belakang :
Hipertensi merupakan penyakit yang lazim ditemukan di seluruh wilayah
Indonesia. Menurut Riskesdas, perempuan lebih berisiko menderita hipertensi
dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan memiliki prevalensi 28,8%, lebih
tinggi daripada laki-laki yang prevalensinya 22,8%. Akseptor kontrasepsi oral di
Indonesia, khususnya yang mengandung estrogen dan progesteron, memiliki
risiko yang cukup tinggi terkena hipertensi. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan menyebarkan informasi kepada masyarakat mengenai dampak dari
penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang, khususnya hipertensi. Tujuan dari
penelitian ini adalah menganalisis hubungan konsumsi kontrasepsi oral kombinasi
dan indeks massa tubuh dengan hipertensi pada wanita yang berusia 30-50 tahun.
Metode :
Desain penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional bersifat
deskriptif analitik dengan desain studi cross-sectional. Metode pemilihan sampel
yang akan digunakan non random sampling dengan cara consecutive sampling.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2016. Jumlah
subyek penelitian yang digunakan berjumlah 98 orang responden, yang telah
memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat
menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 95%. Analisis diolah
dengan program SPSS 21.0.
Hasil :
Dari 98 responden, hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang
bermakna antara lama konsumsi kontrasepsi oral kombinasi dengan hipertensi
dengan nilai kemaknaan p=0,048 (p<0,05). Tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara indeks massa tubuh dengan hipertensi dengan nilai kemaknaan
p=0,742 (p>0,05).
Kesimpulan :
Terdapat hubungan antara lama konsumsi kontrasepsi oral kombinasi dengan
hipertesi. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara indeks massa tubuh
dengan hipertensi
Hubungan menopause dengan depresi pada wanita diatas 50 tahun
LATAR BELAKANG
Depresi merupakan salah satu kontributor signifikan terhadap masalah kesehatan
dan mempengaruhi semua orang di seluruh dunia. Sampai hari ini terhitung 350
juta orang menderita depresi dengan kejadian depresi 50% lebih tinggi pada
perempuan dibandingkan laki-laki. Beberapa faktor yang dipercayai memiliki
peran yaitu faktor biologi, psikologi dan sosial. Beberapa peneliti menyimpulkan
prevalensi depresi tinggi terjadi ketika seorang wanita memasuki masa
menopause. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan menopause
dengan depresi.
METODE
Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Oktober 2016. Sampel dipilih
dengan menggunakan non-probability sampling yaitu metode consecutive
sampling berjumlah 108 responden yang dilaksanakan di Puskesmas Semplak,
Bogor. Pengumpulan data meliputi usia, pendidikan, pekerjaan dan menopause.
Analisa data univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square, Fisher dengan
batas kemaknaan yang digunakan adalah p<0.05 melalui software SPSS for Mac
version 23.
HASIL
Hasil studi menunjukkan prevalensi menopause dengan depresi pada wanita diatas
50 tahun adalah sebesar 20,0%. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat
hubungan signifikan antara menopause dengan depresi. (p=1)
KESIMPULAN
Hasil studi menunjukkan tidak terdapat hubungan antara menopause dengan
depresi pada wanita diatas 50 tahun. Namun tetap perlu diperhatikan bagi wanita
yang melaporkan mengalami gejala menopause supaya dapat menghindari risiko
depresi di masa mendatang
Hubungan pemberian taburia dengan intensitas infeksi trichuris trichiura pada anak Sekolah Dasar
LATAR BELAKANG
Infeksi soil transmitted helminthes (STH) masih merupakan endemik terutama
negara yang sedang berkembang dengan sanitasi lingkungan dan kebersihan diri
yang sangat rendah, termasuk Indonesia. Pemerintah kemudian berusaha untuk
mencegah terjadinya hal tersebut dengan mengembangkan bubuk
multimikronutrien Taburia yang diharapkan dapat meningkatkan daya tahan tubuh
kemudian membantu menurunkan infeksi kecacingan.
METODE
Desain studi analitik community trial yang diikuti oleh 29 anak kelas 1 SDN 05
Pagi Kalibaru yang positif menderita infeksi Trichuris trichiura selama November
2016 sampai Januari 2017. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan
pengumpulan sampel feses dan wawancara yang meliputi karakteristik subjek,
sanitasi, higenitas, dan pengetahuan mengenai cacingan. Subjek dibagi ke dalam
dua kelompok, kelompok kontrol dengan vitamin C dan kelompok perlakuan
Taburia. Kemudian pengecekan intensitas infeksi cacing dilakukan dengan
memeriksa sampel feses setiap dua minggu selama dua bulan. Analisis data
menggunakan uji Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan p<0,05 software SPSS for
Windows versi 21.
HASIL
Sebesar 82,8% subjek menderita infeksi trichuriasis ringan dengan 62% di
antaranya memiliki status gizi baik dan 79,3% subjek memiliki pengetahuan yang
buruk tentang kecacingan. Tidak terdapat hubungan status gizi dengan kejadian
trichuriasis (p=0,11), akan tetapi sanitasi, higenitas, dan pengetahuan
berhubungan dengan kejadian trichuriasis (p=0,01). Terdapat peningkatan ratarata
EPG Trichuris trichiura setelah dilakukan pemberian Taburia selama dua
bulan (p=0,003).
KESIMPULAN
Perlu dilakukan tindak lanjut oleh pemerintah dan tenaga kesehatan akan manfaat
dan efek samping yang dapat ditimbulkan dari pemberian multivitamin Taburia
Hubungan antara depresi dengan kualitas hidup pada penderita kusta
LATAR BELAKANG
Penyakit infeksi banyak terjadi di negara berkembang. Salah satunya adalah kusta
yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit kusta merupakan penyakit
kronik dan menular yang memiliki resiko cacat pada penderitanya. Penyakit kusta
berdampak pada segi fisik, psikologis, ekonomi dan sosial. Depresi merupakan
gangguan kejiwaan yang umum diderita penderita kusta. Depresi akan mengurangi
kemampuan untuk melakukan kegiatan secara efektif sehingga mempunyai
pengaruh besar terhadap kualitas hidup.
METODE
Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional dengan desain Crosssectional.
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara Simple random sampling
pada penderita kusta di RT 001 dan RT 003 RW 013, Sitanala, Tangerang pada
September sampai Oktober 2016. Jumlah responden sebanyak 204 orang.
Pengambilan data menggunakan kuesioner sosiodemografi, ZSDS dan
WHOQOL-Bref. Analisis data dengan menggunakan program SPSS 21 for
windows dengan uji Chi-Square.
HASIL
Mayoritas responden pada penelitian ini adalah perempuan, berusia 26-30 tahun,
dengan status bekerja, belum menikah, dan tamat SMA. Sebesar 83,8% tidak
mengalami depresi dan 63,7% memiliki kualitas hidup sedang. Hasil
menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara depresi dengan kualitas hidup
pada penderita kusta dengan p = 0,220 (p > 0,05).
KESIMPULAN
Dapat disimpulakn tidak terdapat hubungan antara depresi dengan kualitas hidup
pada penderita kusta di RT 001 dan RT 003, Desa Karangsari, Kecamatan
Neglasari, Sitanala, Tangerang
Keanekaragaman asupan makanan pada lansia di kota Tarakan Kalimantan Utara
LATAR BELAKANG
Masalah gizi pada lansia sebagian besar diakibatkan oleh status gizi berlebih atau
kurang. Hal ini memicu timbulnya berbagai penyakit metabolik atau degeneratif.
Keanekaragaman asupan makanan adalah salah satu cara penting untuk memperoleh
keseimbangan nutrisi bagi semua kelompok usia, termasuk lansia. Penelitian ini
merupakan studi pertama mengenai keragaman asupan makanan pada lansia dan
sampai saat ini belum ada usaha untuk menilai keanekaragaman asupan makanan
sebagai pengukuran kualitas nutrisi lansia di Kota Tarakan.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain cross sectional.
Data yang digunakan adalah data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Tarakan. Data
berupa kuesioner 3-days food diary. Lalu data akan diolah dengan program nutrisurvey
dan SPSS. IDDS (Individual Dietary Diversity Score) juga dipakai untuk menilai
keragaman asupan makanan individu lansia.
HASIL
Terdapat 69.6% lansia yang memiliki skor IDDS ≥ 5. Hal ini menggambarkan
bahwa kelompok makanan yang dikonsumsi lansia cukup bervariasi, namun jumlah
kebutuhan gizi sesuai AKG tidak terpenuhi.
KESIMPULAN
Terdapat keanekaragaman asupan makanan pada lansia, namun mayoritas jumlah
kebutuhan gizi lansia adalah kurang. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pemenuhan
kebutuhan makronutrien dan mikronutrien yang esensial bagi lansia
Hubungan jumlah kehamilan dengan kecemasan persalinan pada ibu usia 20-40 tahun
LATAR BELAKANG
Angka kematian ibu di Indonesia masih dikatakan tinggi yaitu sebesar 359/100.000
kelahiran hidup. Beberapa faktor penyebab tingginya AKI adalah kondisi emosi ibu
hamil selama kehamilan sampai bayi lahir. Kecemasan yang dialami selama
kehamilan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya rasa sakit
atau nyeri dalam persalinan.
METODE
Desain studi penelitian secara observasional analitik dengan desain potong silang
yang diikuti oleh 124 ibu hamil yang ANC di Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Bogor, selama bulan Agustus hingga Desember 2016. Pengumpulan data dengan
melakukan wawancara yang meliputi karakteristik subjek, jumlah kehamilan, usia,
dan tingkat pendidikan dan mengisi kuesioner Zung�s self rating anxiety scale.
Analisis data menggunakan uji Fisher�s dengan tingkat kemaknaan p < 0,05.
HASIL
Dari 124 responden , 3 responden (2,4%) saja yang mengalami kecemasan. Tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah kehamilan dengan kecemasan
persalinan pada ibu usia 20-40 tahun (p = 0,264). Selain itu juga tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara usia dengan kecemasan persalinan pada ibu usia
20-40 tahun (p = 1,000) dan tingkat pendidikan dengan kecemasan persalinan pada
ibu usia 20-40 tahun (p = 0,699).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
jumlah kehamilan, usia maupun tingkat pendidikan dengan kecemasan persalinan
pada ibu usia 20-40 tahun
Hubungan kenaikan berat badan selama kehamilan dengan berat bayi lahir pada primigravida
LATAR BELAKANG
Angka kematian bayi ( AKB ) merupakan salah satu indikator derajat kesehatan
masyarakat yang penting. Salah satu penyebab utama angka kematian bayi tinggi
adalah bayi berat lahir rendah atau BBLR.Di DKI Jakarta 9,3% mengalami
BBLR. Berat badan merupakan salah satu indikator kesehatan Bayi Baru Lahir
(BBL).Kenaikan berat badan ibu selama kehamilan dapat digunakan sebagai
indeks untuk menentukan status gizinya selama kehamilan. Penelitian dilakukan
untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kenaikan berat badan ibu
selama kehamilan dengan berat bayi lahir pada primigravida.
METODE
Penelitian menggunakan studi observasionaldengan pendekatan cross sectional
pada seluruh ibu hamil yang melakukan ANC dan bersalindi RS TK II Moh.
Ridwan Meuraksa pada bulan November 2016. Pengambilan sampel dilakukan
dengan cara simple random sampling yaitu dengan menggunakan data sekunder
lalu dilihatdata karakteristik ibu serta variabel yang akan diteliti yaitu kenaikan
berat badan selama kehamilan dan berat bayi lahir. Pengolahan data menggunakan
perangkat lunak SPSS (Statistical Pogram for Social Science)for Windows versi
21.0 dan dilakukan uji Chi-Squareuntuk melihat hubungan dari variabel yang
diteliti dengan tingkat kemaknaan sebesar 0.05.
HASIL
Penelitian ini didapatkan 77 subjek, sebanyak 68,8% ibu memiliki kenaikan berat
badan lebih dari sama dengan 10 kg dan didapatkan sebagian besar bayi memiliki
berat lahir lebih dari sama dengan 2500 gram sebesar 71,4%. Hubungan kenaikan
berat badan selama kehamilan dengan berat bayi lahir pada primigravida
didapatkan 91,7% ibu yang memiliki kenaikan berat badan kurang dari 10 kg
dengan berat bayi lahir kurang dari 2500 gram. Dan 100% ibudengan kenaikan
berat badan selama kehamilan lebih dari sama dengan 10 kg dengan berat bayi
lahir lebih dari sama dengan 2500 gram. Berdasarkan uji Chi-Square
menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (p = 0.016).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa 68,8% ibu dengan kenaikan berat badan lebih
dari sama dengan 10 kg, 71,4% bayi dengan berat lahir lebih dari sama dengan
2500 gram dan terdapat hubungan antara kenaikan berat badan selama kehamilan
dengan berat bayi lahir pada primigravida
Hubungan usia menarche dengan gangguan siklus menstruasi pada siswi SMA X
LATAR BELAKANG
Siklus menstruasi bervariasi antarindividu. Beberapa penelitian menunjukan perbedaan usia menarche memberikan variasi tersebut. Prevalensi gangguan siklus menstruasi sebesar 63,2%. Gangguan siklus menstruasi merupakan faktor resiko infertilitas dan kanker payudara. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara usia menarche dengan gangguan siklus menstruasi pada siswi SMA.
METODE
Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional dan dianalisis dengan menggunakan uji chi-square. Penelitian dilakukan pada 171 siswi SMA Kolese Gonzaga Jakarta. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang meliputi usia, kegiatan yang diikuti, usia menarche, siklus menstruasi, tingkat stres, aktivitas fisik serta dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan oleh peneliti. Analisis data menggunakan SPSS for windows dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05.
HASIL
Terdapat 42 siswi (24,6%) yang mengalami siklus menstruasi normal, 18 siswi (10,5%) mengalami polimenore dan tidak ada yang mengalami oligomenore pada kelompok usia menarche <12 tahun. Pada kelompok usia menarche 12-14 tahun, didapatkan sebanyak 88 siswi (51,5%) mengalami siklus menstruasi normal, 14 siswi (8,2%) mengalami polimenore dan 9 siswi (5,3%) mengalami oligomenore. Analisis bivariat didapatkan hubungan yang bermakna antara variabel usia menarche (p = 0,003) dan tingkat stres (p = 0,041) dengan gangguan siklus menstruasi, sedangkan untuk variabel aktivitas fisik (p = 0,147) dan IMT (p = 0,736) tidak terdapat hubungan dengan gangguan siklus menstruasi.
KESIMPULAN
Terdapat hubungan yang bermakna antara usia menarche dengan gangguan siklus menstruasi siswi SMA