1360 research outputs found
Sort by
Hubungan antara makan malam dan indeks massa tubuh pada dewasa muda
LATAR BELAKANG
Indeks massa tubuh (IMT) merupakan satuan untuk mengukur status gizi seseorang. IMT dipengaruhi oleh kalori yang masuk melalui sumber makanan yang dikonsumsi. Makan malam berlebih dinilai lebih berperan menyebabkan kelebihan berat badan. Banyak isu beredar bahwa menghindari makan malam dinilai dapat menurunkan berat badan. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 bahwa prevalensi overweight pada orang dewasa laporkan meningkat dari tahun ke tahun. Asupan makan malam berlebih dapat mempengaruhi peningkatan risiko terjadinya overweight. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara makan malam dan indeks massa tubuh pada dewasa muda.
METODE
Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain penelitian yang digunakan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan November-Desember 2016 di Dinas Kesehatan Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Data dikumpulkan secara simple random sampling. Hubungan makan malam dan IMT diukur menggunakan kuesioner Food Recall 3x24 hours dan pengukuran tinggi dan berat badan. Selanjutnya data dianalisa menggunakan uji Chi-square dengan batas kemaknaan p<0,05.
HASIL
Penelitian ini melibatkan sebanyak 65 responden. Responden laki-laki yang memiliki berat badan overweight adalah sebanyak 7 (58,3%) responden. Dan perempuan yang memiliki berat badan overweight adalah sebanyak 26 (49%) responden. Namun tidak ditemukan hubungan antara jenis kelamin dan IMT (p=0,562). Berdasarkan hasil uji statistik ditemukan hubungan antara usia dan IMT (p=0,025). Didapatkan responden yang mengalami overweight dan mengkonsumsi makan malam dalam kategori lebih sebesar (69,6%). Analisis statistik tidak ditemukan hubungan antara kedua variabel tersebut. (p=0,726).
KESIMPULAN
Dari penelitian ini disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara makan malam, jenis kelamin dan IMT. Namun terdapat hubungan antara usia dan IMT
Hubungan asupan lemak dengan siklus menstruasi pada siswi SMK
Latar belakang
Siklus menstruasi merupakan siklus bulanan dimana terjadi perubahan pada
ovarium dan dinding endometrium wanita yang berguna untuk memproduksi ovum
yang matang dan mempersiapkan rahim untuk siap mengalami fertilisasi. Banyak
faktor yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi seperti kecemasan, kadar
hormon, aktivitas fisik, nutrisi dan kadar lemak. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara asupan lemak dengan siklus menstruasi pada siswi
SMK.
Metode
Penelitian ini menggunakan studi analisis observasional dengan metode desain
potong silang di salah satu SMK di Jakarta dengan responden siswi kelas X-XII.
Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner mengenai
siklus menstruasi. Asupan lemak dinilai menggunakan food recall 3x24 jam dan
dinilai dengan aplikasi Nutrisurvey. Analisis statistik dilakukan untuk menilai
hubungan antara kedua variabel.
Hasil
Sejumlah 126 subjek berpartisipasi dalam penelitian ini. Data penelitian
menunjukkan terdapat 95 subjek (75%) yang mengonsumsi asupan lemak berlebih
dan 31 (25%) mengonsumsi asupan lemak cukup. Terdapat 35 subjek (28%)
mengalami siklus menstruasi yang tidak normal, sementara itu 91 subjek (72%)
siklus menstruasi normal. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat
hubungan antara asupan lemak dengan siklus menstruasi (p= 0,270).
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan tidak ditemukannya hubungan bermakan antara asupan
lemak dengan siklus menstruasi pada siswi SMK
Hubungan peranan pembimbing akademik dengan stres pada siswa tahun pertama di Sekolah Menengah Atas A
LATAR BELAKANG : Stres adalah reaksi atau respon tubuh terhadap stresor psikososial, yang artinya proses stres didahului dengan adanya sumber stres atau stresor. Terutama siswa pada masa peralihan seringkali mengalami perubahan dan stres. Hal ini tentu dapat menjadi masalah apabila dampak dari stres sampai berdampak negatif secara kognitif, emosional, fisiologis, dan perilaku. Kemudian terdapat pembimbing akademik diharapkan memberikan peranan untuk membantu baik di bidang akademiknya maupun non akademiknya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti tingkat stres pada siswa tahun pertama di Sekolah Menengah Atas (SMA) A dan hubungan peranan pembimbing akademik dengan kejadian stres.
METODE: Penelitian ini menggunakan desain Cross-sectional Analitik. Sampel yang digunakan adalah 111 orang siswa. Data dikumpulkan dengan wawancara dan pengisian kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS for Windows versi 21 dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05.
HASIL: Terdapat hubungan antara peranan pembimbing akademik dengan stres (p=0,006), terdapat hubungan antara mekanisme koping dengan stres (p=0,009)
KESIMPULAN: Penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara peranan pembimbing akademik, dan mekansme koping terhadap stres pada siswa tahun pertama di Sekolah Menengah Atas A
Hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2
LATAR BELAKANG
Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme kronis yang mempengaruhi kualitas hidup (Quality of Life) serta kesehatan. Dukungan keluarga pada penderita diabetes diharapkan turut membantu keberhasilan penatalaksanaan diabetes sehingga dapat menghindari terjadinya komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
METODE
Observasional analitik dengan desain studi potong lintang (cross-sectional) yang dilakukan pada bulan Juli sampai bulan November 2016. Pengambilan sampel yang digunakan adalah non probability sampling dengan jenis consecutive sampling sebanyak 175 responden di Rumah Sakit Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto. Data diperoleh dari data primer yaitu pengisian kuesioner. Analisis hipotesis dilakukan dengan uji chi-square menggunakan program SPSS versi 20 dan tingkat kemaknaan sebesar 0,05.
HASIL
Dari 175 responden terbanyak berusia 51-55 tahun yaitu 55 orang (31,4%), berjenis kelamin perempuan 92 orang (52,6%), status sosial ekonomi yang rendah < 3.100.000/bulan sebanyak 94 orang (53,7%), tingkat pendidikan SMA didapatkan 79 orang (45,1%) dan lama menderita diabetes melitus tipe 2 terbanyak 1-5 tahun sebanyak 124 orang (70,9%). Hasil penelitian juga menunjukkan 124 orang (70,9%) memiliki kualitas hidup yang baik dengan 23 orang (13,1%) diantaranya tidak mendapat dukungan keluarga dan 101 orang (57,7%) mendapat dukungan keluarga. Adapun 51 orang (29,1%) memiliki kualitas hidup kurang baik, terdapat 5 orang (2,9%) mendapat dukungan keluarga dan 46 orang (26,3%) tidak mendapat dukungan keluarga. Terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2 (p=0,000).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2
Hubungan indeks massa tubuh dengan preeklampsia pada wanita usia 20-35 tahun
LATAR BELAKANG
Di Indonesia, AKI berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 masih tinggi sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab tingginya AKI di Indonesia adalah pre-eklampsia, dengan prevalensi 39,5% dari kematian ibu pada 2001 dan 55,56% pada 2002. Pre-eklampsia adalah penyakit yang terdapat pada masa kehamilan dan berakhir setelah persalinan. Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pre-eklampsia. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan antara IMT dengan pre-eklampsia untuk mengurangi kejadian pre-eklampsia di Indonesia
METODE
Penelitian menggunakan studi observasional dengan desain potong lintang. Sampel yang digunakan adalah 60 dan data dikumpulkan dengan menggunakan data rekam medis pasien di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Analisis data menggunakan SPSS for Windows versi 21.0 dengan tingkat kemaknaan pada 0,05
HASIL
Hasil yang didapatkan berupa terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan pre-eklampsia (p=0,011). Prevalensi penderita pre-eklampsia terbanyak pada rentang umur 26-30 tahun dengan jumlah 21 (39,6%) responden.
KESIMPULAN Terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan pre-eklampsia dan prevalensi penderita pre-eklampsia terbanyak pada rentang umur 26-30 tahun
Hubungan pengetahuan dan perilaku kesehatan gigi mulut dengan keparahan karies di SD X
LATAR BELAKANG
Karies merupakan masalah kesehatan gigi yang bisa terjadi pada semua umur terutama pada anak-anak. Menurut beberapa penelitian karies gigi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa penelitian menunjukan masalah gigi cukup sering dialami oleh anak sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku kesehatan gigi dan mulut dengan keperahan karies di sekolah.
METODE
Penelitian ini menggunakan studi analisis observasional dengan metode desain penelitian potong silang pada siswa disebuah sekolah di Bogor. Data dikumpulkan dengan kuesioner tentang pengetahuan dan perilaku kesehatan gigi dan mulut, selain itu dilakukan juga pemeriksaan karies gigi terhadap siswa yang menjadi responden. Uji Kolmogorov Smirnov digunakan untuk menguji hubungan antara perilaku dan pengetahuan dengan keparahan karies gigi. Tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya p <0,05
HASIL
Dari hasil penelitian dengan 164 responden, analisis Kolgomorov-smirnov menunjukkan tidak terdapat hubungan antara pengetahuan (p=0,960), perilaku kesehatan gigi (p=1,000) terhadap keparahan karies gigi.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dan perilaku kesehatan gigi mulut dengan keparahan karies gigi
Hubungan tingkat pengetahuan pemakaian lensa kontak dan iritasi mata pada siswa SMA
Latar belakang
Iritasi mata bisa terjadi pada berbagai usia, salah satunya pada remaja. Salah satu
faktor yang dapat menyebabkan iritasi mata adalah pemakaian lensa kontak yang
tidak higenis. Remaja seringkali menggunakan lensa kontak untuk kebutuhan
kosmetik dan tidak disertai dengan pengetahuan cara pemakaian dan perawatan
lensa kontak yang benar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan
antaratingkat pengetahuan pemakaian lensa kontak dan iritasi mata pada siswa
SMA.
Metode
Penelitian ini menggunakan studi analisis observasional dengan metode desa in
penelitian potong silang pada siswa SMAN 23 Jakarta.Data dikumpulkan dengan
wawancara dan kuesioner tentang pengetahuan pemakaian dan perawatan lensa
kontak dan iritasi mata dari siswa SMA. Analisis data dengan menggunakan SPSS
versi 22.0 dan tingkat kemaknaan 0,05
Hasil
Dari hasil penelitian dengan 81 responden, analisis Chi-square menunjukkan
terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan pemakaian lensa kontak dan iritasi
mata dengan p-value sebesar 0,031.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa pada siswa SMA yang memiliki pengetahuan
pemakaian lensa kontak yang kurang mengalami iritasi mata
Perbandingan metode konvensional dan otomatik untuk mengukur nilai laju endap darah di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta
LATAR BELAKANG
Dalam perkembangannya, berbagai pemeriksaan laboratorik untuk diagnosis mengalami perbaikan dan kemajuan dalam menunjang pelayanan kesehatan yang efisien, teliti, dan cepat. Salah satunya ialah pemeriksaan laju endap darah (LED). Pemeriksaan LED dapat diukur dengan beberapa metode seperti metode konvensional dan otomatik. Meskipun metode konvensional merupakan metode yang direkomendsi oleh International Communitte for Standarization in Hematology (ICSH), namun di kota kota besar juga sudah banyak yang menggunakan metode otomatik. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan nilai LED yang diukur oleh metode konvensional dan otomatik.
METODE
penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang yang dilakukan pada bulan Oktober sampai bulan November 2016 di Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Sumber Waras, Grogol Petamburan, Jakarta barat. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan LED menggunakan metode konvensional dengan metode westergren dan metode otomatik dengan alat ESR 2010 yang dilakukan dalam satu waktu. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji T berpasangan yang diolah dengan program Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) for windows versi 21.0
HASIL
Hasil analisis nilai laju endap darah dari 40 subjek yang diukur dengan menggunakan metode konvensional (westergren) dan otomatik (ESR 2010) berdasarkan uji T berpasangan memperlihatkan nilai p = 0,406 (p > 0,05) dan interval kepercayaan batas atas 0,09294 dan batas bawah -0,22518 dengan tingkat kepercayaan 95%.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan hasil nilai laju endap darah yang diukur dengan metode konvensional dan metode otomatik
Hubungan peran keluarga dengan perilaku ngelem pada remaja usia 10-14 tahun
LATAR BELAKANG
Perilaku zat adiktif inhalan (ngelem) merupakan suatu kegiatan dengan menghirup zat adiktif dalam bentuk cair yang biasa disebut Violet Solvent. Golongan yang rentan terhadap penyalahgunaan zat adiktif inhalan (ngelem) ialah remaja. Perilaku zat adiktif inhalan pada remaja dikarenakan harga terjangkau dan mudah di dapatkan, hal ini dapat memicu pemakaian zat adiktif lainnya. Faktor risiko yang menjadi penyebab penyalahgunaan zat adiktif inhalan diantaranya adalah peran keluarga dan fungsi keluarga (edukatif, sosial, lindungan dan religi).
METODE
Penelitian ini menggunakan studi observasional dengan pendekatan cross sectional yang mengikutsertakan 107 anak remaja usia 10-14 tahun di Jakarta Barat. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Variabel yang diteliti adalah peran keluarga, fungsi keluarga (edukatif, sosial, lindungan dan religius dan perilaku zat adiktif inhalan). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dan Fisher’s.
HASIL
Hasil analisis yang berhubungan dengan perilaku penggunaan zat adiktif inhalan pada remaja usia 10-14 tahun berdasarkan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna pada peran keluaga (p=0,000), fungsi edukatif (p=0,019), fungsi religi (p=0,009) berdasarkan uji Fisher’s dan yang tidak berhubungan dengan perilaku zat adiktif inhalan adalah fungsi lindungan (p=0,142) dan fungsi sosial (p=0,298).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan peran keluarga, fungsi edukatif, fungsi religi dengan perilaku penggunaan zat adiktif inhalan pada remaja usia 10-14 tahun
Hubungan antara pajanan asap rokok di rumah dengan kejadian ISPA pada siswa Sekolah Dasar
LATAR BELAKANG
ISPA adalah penyakit infeksi saluran pernafasan bagian atas yang meliputi infeksi mulai dari rongga hidung sampai dengan epiglotis dan laring. ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. ISPA yang terjadi pada anak akan memberikan gambaran klinik yang lebih jelek dibandingkan dengan orang dewasa, hal ini terjadi karena sistem pertahanan tubuh anak yang masih rendah. Hasil presentase tahun 2012 di Indonesia ISPA menduduki peringkat pertama dari sepuluh besar penyakit yang ada. Salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya ISPA adalah pajanan asap rokok, karena dapat merangsang meningkatnya produksi mukus dan dapat menurunkan kemampuan silia sehingga akan terjadi akumulasi mukus yang kental menyebabkan partikel atau mikroorganisme terperangkap di jalan napas sehingga terjadi penurunan dari pergerakan udara yang ada di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pajanan asap rokok di rumah dengan kejadian ISPA pada siswa sekolah dasar.
METODE
penelitian ini menggunakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner serta wawancara terpimpin oleh orangtua subjek, penelitian ini meliputi kuesioner untuk mengetahui riwayat ISPA dan kuisioner untuk mengetahui ada atau tidaknya anggota keluarga yang merokok di dalam rumah. Analisis data dengan menggunakan SPSS for Windows versi 23.0 dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05.
HASIL
Angka kejadian ISPA pada anak sekolah dasar Sumbangsih Grogol kelas 3 dan 4 sebanyak 27 responden (38,6%) dan responden yang terpajan asap rokok dan mengalami ISPA sebanyak 17 responden (24,3%), responden yang terpajan asap rokok sebanyak 40 responden (57,1%),%) dan anak yang terpajan asap rokok tapi tidak mengalami ISPA berjumlah 23 responden (32,9%). dari hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p = 0,436.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan cukup tingginya angka kejadian ISPA yaitu sebesar 38,6% namun tidak ditemukannya hubungan antara Hubungan Antara Pajanan Asap Rokok di Rumah dengan Kejadian Ispa Pada Siswa Sekolah Dasar