1360 research outputs found
Sort by
Hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan gangguan siklus haid pada wanita usia 20-45 tahun
LATAR BELAKANG
Siklus haid merupakan bagian dari proses regular yang mempersiapkan tubuh wanita setiap bulannya untuk kehamilan. Siklus haid yang tidak teratur dapat menjadi salah satu masalah kesehatan pada reproduksi wanita. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan siklus haid, salah satunya adalah penggunaan kontrasepsi hormonal. Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan antara jenis dan lama penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian gangguan haid. Untuk dapat memahami hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal dengan gangguan siklus haid pada wanita usia 20-45 tahun.
METODE
Jenis penelitian merupakan observasional analitik dengan menggunakan desain cross sectional yang dilakukan selama bulan Agustus sampai November 2016. Pengambilan sampel secara consecutive sampling pada 81 responden yang datang ke Puskesmas Panguragan Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon. Seluruh responden yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan wawancara dan memperlihatkan kartu KB kepada peneliti, sedangkan gangguan siklus haid dinilai dengan menggunakan kuesioner. Data yang diperoleh dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dan uji alternatif fisher.
HASIL
Penelitian ini didapatkan responden dengan usia 30-39 tahun (44,4%), tingkat pendidikan rendah (63,0%), jenis KB suntikan (69,1%), lama penggunaan KB >1 tahun (82,7%), dan gangguan siklus haid tersering berupa amenore (64,2%). Terdapat hubungan antara jenis (p=0,000) dan lama (p=0,002) penggunaan kontrasepsi hormonal dengan gangguan siklus haid pada wanita usia 20-45 tahun. Usia dan pendidikan juga berperan dalam pemilihan suatu metode kontrasepsi hormonal yang efektif sesuai dengan kebutuhannya, sehingga didapatkan hubungan antara usia (p=0,036) dan pendidikan (p=0,037) dengan gangguan siklus haid pada wanita usia 20-45 tahun.
KESIMPULAN
Penggunaan kontrasepsi hormonal mempengaruhi gangguan siklus haid. Wanita yang menggunakan kotrasepsi suntikan dengan lama penggunaan >1 tahun lebih banyak mengalami gangguan siklus haid berupa amenore, dibandingkan dengan kontrasepsi pil dan implan dengan lama penggunaan <1 tahun
Hubungan antara kesiapsiagaan bencana dan tingkat kecemasan pada kepala keluarga di daerah pesisir
LATAR BELAKANG
Kesiapsiagaan merupakan kegiatan pengembangan rencana-rencana untuk
menanggapi bencana secara cepat dan efektif, yang nantinya dapat mengurangi
korban jiwa, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Pada penelitian ini, Kelurahan Koto Jaya di pilih sebagai lokasi penelitian
dengan pertimbangan seluruh kelurahan Koto Jaya termasuk dalam daerah rawan
gempa dan tsunami. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh
kesiapsiagaan menghadapi gempa dan tsunami terhadap tingkat kecemasan
kepala keluarga di Koto Jaya. Penelitian ini dilakukan dari bulan juni-juli 2017.
METODE
Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan Cross
sectional. Alat ukur yang digunakan adalah kuisioner. Data yang diperoleh akan
dianalisis dengan menggunakan uji Chi-square.
HASIL
Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross
sectional. Jumlah sampel sebanyak 155 responden. Data diperoleh dari kuesioner
dan diolah dengan menggunakan statistik uji chi square dengan hasil 133 orang
85.8% memiliki kesiapsiagaan tinggi dengan 1 orang 0.6% mengalami
kecemasan berat, dengan p-value = 0,000. Dapat disimpulkan terdapat hubungan
antara tingkat kesiapsiagaan dengan nilai kecemasan. Pada penelitian ini, juga
didapatkan pada 93 orang responden dengan tingkat pendidikan yang tinggi
sebanyak 84 orang 54.2% memiliki tingkat kesiapsiagaan yang tinggi dengan pvalue
= 0,042, dapat disimpulkan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan
dengan tingkat kesiapsiagaan.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukan bahwa dengan kesiapsiagaan yang tinggi dapat
menurunkan kecemasan masyarakat dalam menghadapi bencana, serta
pengetahuan yang baik dan pendidikan yang cukup mempengaruhi kesiapsiagaan
kepala keluarga untuk menurunkan tingkat kecemasan
Hubungan aktivitas fisik dengan stunting pada siswa SD
Latar belakang
Stunting merupakan salah satu masalah gizi pada anak usia sekolah dan bentuk dari proses pertumbuhan anak yang terhambat. Sampai saat ini stunting merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian.(1) Prevalensi stunting di Indonesia tahun 2013 yaitu 30,7%, namun angka tersebut dikategorikan terbilang tinggi mengingat standar WHO untuk anak stunting (sangat pendek dan pendek) adalah 20% dan merupakan masalah kesehatan masyarakat karena angka stunting masih di atas 30%.(2) Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi anak stunting pada usia 7-12 tahun adalah 37,2%.(3) Salah satu faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya stunting pada seseorang adalah aktivitas fisik. Dulu permainan anak yang umumnya dilakukan adalah permainan fisik yang mengharuskan anak berlari, melompat, atau gerakan lainnya namun kini digantikan dengan permainan anak yang kurang melakukan gerak badannya seperti game elektronik, komputer, internet atau televisi yang cukup dilakukan dengan hanya duduk didepannya tanpa harus bergerak.(4) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan stunting pada siswa SD.
Metode
Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang (cross-sectional). Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner serta pengukuran berat badan dan tinggi badan, penelitian ini meliputi kuesioner untuk mengetahui aktivitas fisik dan alat untuk pengukuran tinggi badan dan berat badan. Analisis data dengan menggunakan SPSS for Windows versi 23.0 dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05.
Hasil
Angka kejadian stunting pada siswa sekolah dasar IT Al-Madany parung panjang bogor kelas 1-6 yang berumur 6-12 tahun sebanyak 6 responden (3,9%), dan anak yang tidak mengalami stunting sebanyak 149 responden (96,1%). Anak yang mempunyai aktivitas yang rendah sebanyak 2 responden (1,3%), aktivitas sedang sebanyak 140 responden (90,0%), dan aktivitas yang tinggi sebanyak 13 responden (8,4%). dari hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p = 0,207.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan rendahnya angka kejadian stunting yaitu sebesar 3,9% namun tidak ditemukannya Hubungan Aktivitas Fisik dengan Stunting Pada Siswa SD
Hubungan personal hygiene dengan kejadian fluor albus pada pasien pemakai alat kontrasepsi dalam rahim
LATAR BELAKANG
Kontrasepsi merupakan salah satu metode Keluarga Berencana. Kontrasepsi adalah cara atau alat untuk menghindari/mencegah kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sperma dan sel telur yang matang. Jenis kontrasepsi diantaranya adalah kontrasepsi alamiah, mekanik, hormonal dan sterilisasi. Salah satu jenis kontrasepsi yang tingkat efektivitasnya sekitar 92-94% adalah kontrasepsi mekanik dengan menggunakan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR). Salah satu efek samping dari AKDR adalah fluor albus atau keputihan.
METODE
Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional (potong silang) dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Penelitian dilakukan pada 114 responden di Poliginekologi RS. Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa. Diperoleh dari data rekam medik dan instrument kuesioner tentang tindakan personal hygiene. Analisis data menggunakan program statistik,dengan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05.
HASIL
Terdapat 14 wanita (10,5%) mengalami fluor albus patologis dengan tindakan personal hygiene kurang baik, 10 wanita (22%) mengalami fluor albus fisiologis dengan tindakan personal hygiene baik, 20 (28,1%) wanita yang tidak mengalami fluor albus dengan personal hygiene baik. Pada analisis bivariat didapatkan hubungan antara Lama penggunaan AKDR dengan Fluor Albus (p=0,013 5 tahun sebagian besar mengalami Fluor Albus Patologis (9,6%).
KESIMPULAN
Terdapat hubungan yang bermakna antara lama penggunaan AKDR dan fluor albus
Hubungan status gizi dan aktivitas fisik dan usia menarche pada siswi SMP
LATAR BELAKANG
Latar belakang penelitian ini adalah kejadian menarche dini pada anak semakin
meningkat, banyak faktor yang mempengaruhi menarche diantaranya adalah
status gizi dan aktivitas fisik. Usia menarche dini merupakan faktor risiko
terjadinya kanker ovarium dan kanker payudara. Menarche pada usia terlambat
dapat menyebabkan osteoporosis, depresi pada saat remaja. Untuk dapat
mengetahui usia menarche pada siswi SMP, dilakukan penelitian yang bertujuan
untuk mengetahui apakah status gizi dan aktivitas fisik berhubungan dengan usia
menarche.
METODE
Penelitian menggunakan studi Observasional analitik dengan desain potong silang
yang mengikutsertakan 86 siswi SMP Negeri 2 Jatinegara dan SMP Negeri 3 Satu
Atap Jatinegara kelas VII dan VIII. Data dikumpulkan dengan kuesioner
mengenai usia menarche, APARQ (Adolescent Physical Activity Recall
Questionnare) dan pengukuran berat dan tinggi badan lalu dimasukkan pada
kurva WHO. Analisa data dengan menggunakan SPSS untuk windows dengan
tingkat kemaknaan yang digunakan sebesar kurang dari 0,05.
HASIL
Analisa data menggunakan Chi-Square menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan antara status gizi dan menarche (P=1.000) dan tidak terdapat hubungan
antara aktifitas fisik dan menarche (P=0.924) pada siswa SMP Negeri 2 Jatinegara
dan SMP Negeri 3 Satu Atap Jatinegara.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi dan aktivitas fisik tidak
berhubungan dengan usia menarche pada siswi SMP
Pengaruh nilai arus puncak ekspirasi terhadap fungsi kognitif pada remaja
LATAR BELAKANG
Gangguan kognitif berkaitan dengan proses kognitif sebagai modal pembelajaran. Gangguan kognitif salah satunya diinduksi oleh keadaan hipoksia anoksia. Karena oksigen sangat dibutuhkan oleh otak untuk metabolisme oksidasinya yang tinggi dibandingkan organ lain. Oksigen diperoleh melalui pertukaran udara dengan karbondioksida. Pertukaran udara terganggu terutama disebabkan oleh obstruksi pada saluran pernapasan. Keadaaan ini dapat diperiksa dengan melakukan pemeriksaan fungsi paru melalui pemeriksaan arus puncak ekspirasi (APE).
METODE
Penelitian menggunakan studi analitik observasional dengan desain cross sectional yang mengikutsertakan 82 siswa/i SMP Muhammadiyah 33 Tomang. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner yang meliputi riwayat merokok, riwayat penyakit asma ISAAC, dan wawancara fungsi kognitif MMSE, serta pengukuran APE yang menggunakan alat peak flow meter. Analisis data dengan menggunakan SPSS for windows versi 20 dan tingkat kemaknaan yang digunakan 0,005.
HASIL
Analisis uji fisher hubungan antara APE dengan fungsi kognitif diperoleh responden yang memiliki penurunan APE mengalami gangguan fungsi kognitif yaitu 4 orang (40%) dari 10 responden yang memiliki penurunan APE. Sedangkan responden yang tidak ada penurunan APE mengalami gangguan fungsi kognitif yaitu 1 orang (1,4%) dari 72 responden yang tidak ada penurunan APE. Pada uji analisis fisher didapatkan nilai p = 0,001 (p<0,05).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan siswa/i yang mengalami penurunan APE akan mengalami gangguan fungsi kognitif dibandingkan dengan siswa/i yang tidak mengalami penurunan APE
Hubungan tingkat kemandirian dengan resiko jatuh pada lansia
Latar belakang : Kemandirian pada lansia adalah keadaan dimana lansia tidak
tergantung pada orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Perubahan fisik
pada lansia akan membatasi kemandirian lansia dan mempengaruhi kejadian jatuh
pada lansia.
Tujuan penelitian : Penelitian ini bertujuan menilai hubungan tingkat
kemandirian dengan resiko jatuh pada lansia.
Metode : Penelitian menggunakan studi analitik observasional dengan desain
crossectional. Menggunakan consecutive sampling pada 54 lansia yang berasal di
Sasana Tresna Werdha di Cibubur Jakarta Timur. Data dikumpulkan dengan cara
wawancara dan pengisian kuesioner yang terdiri dari data demografi, tingkat
kemandirian diukur menggunakan kuesioner Barthel (ADL) dan (IADL)
sedangkan resiko jatuh diukur menggunakan kuesioner Morse Fall Scale .
Analisis data dengan menggunakan Statistical Package for Social Sciences
(SPSS) versi 17.0 dan memakai uji korelasi spearman rank order.
.
Hasil : Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kemandirian dengan
resiko jatuh (p<0.05). Koefisien korelasi (r = - 0.966 and – 0.900) menunjukan
korelasi tinggi yang berarti, saat tingkat kemandirian menurun, resiko jatuh akan
meningkat pada lansia.
Kesimpulan : Terdapat hubungan antara tingkat kemandirian dengan resiko jatuh
Hubungan kualitas pelayanan dengan tingkat kepuasan pasien hemodialisis di Klinik Raycare
LATAR BELAKANG
Pelayanan merupakan suatu kinerja penampilan, tidak berwujud, cepat hilang, lebih
dapat dirasakan daripada dimiliki, dan pelanggan lebih dapat berpartisipasi aktif
dalam proses mengkonsumsi jasa tersebut. Kualitas pelayanan sebagai tingkat
kesempurnaan untuk memenuhi keinginan konsumen sedangkan kepuasan juga dapat
di artikan sebagai tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau
hasil yang dirasakannya dengan harapannya. prevalensi gagal ginjal kronik di
Indonesia sekitar 0,2% Penelitian ini menarik karena terjadi peningkatan penderita
gagal ginjal setiap tahunya dilihat dari prevalensi GGK 0,2 % dan membutuhkan
pelayanaan HD, sedang penyediaan layanan hemodialilsis di indonesia belum semu
terpenuhi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kualitas pelayanan
dengan tingkat kepuasan pasien hemodialiais di Klinik Raycare dan Meningkatkan
kualitas pelayanan pasien hemodialisis.
METODE
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan desain penelitian
cross sectional analitik. Jumlah sampel yang di teliti adalah sebanyak 42 responden
yang melakukan hemodialisis di klinik hemodialisa Raycare Cengkareng Kalideres
Jakarta Barat dan dilakukan mulai dari bulan Maret 2016 hingga Desember 2017.
Pemilihan responden consecutive sampling dan pengumpulan data dengan cara
menjawab pertanyaan dari kuesioner kualitas pelayanan dan kepuasan pasien. Data
variabel diolah menggunakan software SPSS versi 20.
HASIL Penelitian ini memperoleh hasil, responden yang puas terhadap kualistas
pelayanan di klinik raycare dengan nilai p sebesar 0,007 (p<0.005)
KESIMPULAN Kepuasan pasien akan meningkat berdasarkan kualitas pelayanan yang diberikan
Hubungan durasi berdiri dengan nyeri otot betis pada karyawan pemasang connector kabel listrik
LATAR BELAKANG
Mayoritas pekerja industri menghabiskan waktu untuk bekerja dalam posisi berdiri.
Nyeri muskuloskeletal akibat kerja merupakan salah satu penyebab utama
meningkatnya angka absensi para pekerja dalam bidang industri. Sebagian besar
letak keluhan nyeri muskuloskeletal akibat kerja adalah kaki. Durasi berdiri yang
berkepanjangan saat bekerja berhubungan dengan kejadian nyeri otot betis.
METODE
Desain penelitian yang diterapkan adalah observasional analitik dengan pendekatan
studi potong lintang yang diikuti oleh 109 karyawan PT. Greentech Globalindo di
Batam. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara kuesioner. Durasi berdiri
dinilai dengan kuesioner Occupational Sitting and Physical Activity Questionnaire
(OSPAQ). Intensitas nyeri otot betis dinilai dengan Visual Analog Scale (VAS).
Analisis data menggunakan program SPSS versi 21.0 for Windows dengan tingkat
kemaknaan p < 0,005.
HASIL
Hasil penelitian menemukan 88,1% pekerja mengeluh adanya nyeri otot betis.
Mayoritas pekerja menghabiskan lebih dari 50% jam kerja dalam posisi berdiri
(68,8%). Sebagian besar pekerja (93,3%) yang menghabiskan lebih dari 50% jam
kerja dalam posisi berdiri mengeluh adanya nyeri otot betis dibandingkan dengan
pekerja yang menghabiskan kurang dari atau sama dengan 50% jam kerja dalam
posisi berdiri (6,7%). Hasil penelitian menemukan bahwa adanya hubungan yang
bermakna antara durasi berdiri dengan nyeri otot betis (p < 0,05).
KESIMPULAN
Terdapat hubungan antara durasi berdiri yang berkepanjangan saat bekerja dengan
nyeri otot betis
Hubungan antara kualitas tidur dan kadar kolesterol total pada usia 30-50 tahun
LATAR BELAKANG
Hiperkolesterolemia adalah keadaan dimana kadar kolesterol dalam darah
melebihi batas yang dianjurkan. Hiperkolesterolemia saat ini diketahui sebagai
salah satu faktor risiko utama untuk morbiditas penyakit jantung koroner. Kualitas
tidur yang buruk dan durasi tidur yang kurang diyakini dapat meningkatkan risiko
terjadinya hiperkolesterolemia, hipertensi, obesitas, dan gangguan kesehatan
lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur
dan kadar kolesterol total pada usia 30-50 tahun.
METODE
Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga September 2016. Sampel
dipilih dengan menggunakan non-probability sampling yaitu metode consecutive
sampling berjumlah 50 responden yang dilaksanakan di PT. Prima Jaya Komindo,
Jakarta Pusat. Penelitian menggunakan studi analitik observasional dengan desain
cross-sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep
Quality Index (PSQI) untuk kualitas tidur dan digital stik tes kolesterol untuk
mengukur kadar kolesterol total. Data dianalisis menggunakan uji Fisher, batas
kemaknaan yang digunakan adalah p<0,05.
HASIL
Mayoritas responden berjenis kelamin pria dan berusia 30-40 tahun. Dari 50
responden, 74% memiliki kualitas tidur buruk dan 72% memiliki durasi tidur
kurang serta 26% responden memiliki kadar kolesterol total tinggi. Hasil uji
statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas
tidur, durasi tidur, dan usia dengan kadar kolesterol total pada usia 30-50 tahun
(p>0,05) namun terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kadar kolesterol
total pada usia 30-50 tahun (p<0,05).
KESIMPULAN
Tidak terdapat hubungan antara kualitas tidur, durasi tidur, dan usia dengan kadar
kolesterol total tetapi terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kadar
kolesterol total pada usia 30-50 tahun