1360 research outputs found
Sort by
Hubungan antara tingkat depresi dengan kadar gula darah pada penderita depresi
LATAR BELAKANG
Masalah kesehatan jiwa merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi
didunia, dimana di indonesia sendiri sekitar 6% penduduknya mengalami
gangguan mental emosional dimana salah satu yang terbanyak adalah depresi.
Depresi merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya
penyakit diabetes mellitus dikarenakan adanya keterkaitan antara depresi dengan
gula darah.
METODE
Rancangan penelitian secara analisis observasional dengan pendekatan potong
lintang yang dilakukan pada bulan desember di RSD Madani palu. pengambilan
sampel secara konsekutif non-random sampling dan didapatkan 49 sampelyang
sesuai dengan kriteria inklusi. Pengumpulan data dengan mengumpulkan rekam
medis pasien yang meliputi karakteristik subjek, tingkat depresi dan kadar gula
darah sewaktu responden. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman
dengan software Statistic Package for Social Science for Windows versi 20.
HASIL
Mayoritas responden berusia antara 36-40 tahun sebanyak 28 sampel,didapatkan
sebanyak 30 responden berjenis kelamin wanita dan didapatkan 36 responden
dengan tingkat depresi ringan-sedang dan 13 responden tingkat depresi berat.Dari
seluruh sampel depresi didapatkan gula darah normal sebanyak 48 sampel dan 1
sampel hiperglikemia.Pada uji korelasi Spearman, didapati korelasi Spearman R=
-0,398 dengan nilai p =0,05.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara tingkat depresi dengan
kadar gula darah pada penderita depresi non DM
Hubungan jenis rokok dengan Vep1 pada dewasa muda
LATAR BELAKANG
Rokok telah menjadi permasalahan bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia
dimana penggunanya tidak terbatas oleh usia dan jenis kelamin karena baik pria
maupun wanita mengkonsumsi rokok. Produk rokok sendiri mempunyai beberapa
jenis yaitu rokok putih, rokok kretek, rokok linting, rokok bidis, sisha, cerutu,
rokok pipa dan rokok elektrik. Seperti yang telah diketahui bahwa rokok
mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh dan dapat merusak kesehatan
manusia baik bagi perokok aktif maupun perokok pasif yang terpapar oleh asap
rokok. Bagi orang yang merokok dalam waktu lama mempunyai prevalensi tinggi
terhadap beberapa penyakit seperti aterosklerosis dan Penyakit Paru Obstruktif
Kronis (PPOK) dengan dampak sistemik yang signifikan.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 2 Agustus di MAN 1 Grogol, Jakarta
Barat dengan sampel sebanyak 101 orang. Pemilihan sampel dalam penelitian ini
menggunakan cara random sampling, yaitu dengan teknik simple random
sampling. Hasil pengumpulan data kemudian dianalisis menggunakan program
SPSS (Statistical product and service solution) versi 22.0 for windows 8.1.
HASIL
Berdasarkan hasil analisis data, dapat dijelaskan bahwa dari 75 orang yang
merokok dengan jenis rokok tembakau, 9 orang di antaranya termasuk dalam
kategori VEP1 normal (8.91%) dan 66 orang lainnya termasuk dalam kategori
VEP1 tidak normal. Untuk 22 orang yang merokok dengan rokok jenis tembakau
dan elektrik termasuk dalam VEP1 tidak normal (21%), 4 orang termasuk dalam
VEP1 kategori normal (15.38%). Hasil pengujian hipotesis dengan uji
Kolmogorov-Smirnov, didapat nilai P sebesar 0.479 (P > 0.05) sehingga dapat
diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis rokok dan VEP1.
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara jenis rokok dengan VEP1 pada
dewasa muda
Hubungan obesitas dengan kualitas tidur pada usia dewasa akhir
LATAR BELAKANG
Kejadian obesitas meningkat sangat tajam di seluruh dunia. Obesitas dapat memicu beberapa penyakit seperti salah satunya dapat mengganggu kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara obesitas dengan kualitas tidur pada usia dewasa akhir.
METODE
Penelitian menggunakan studi analitik observasional dengan desain penelitian potong silang atau cross-sectional. Sampel pada penelitian ini dipilih secara consecutive non-random sampling yang mengikutsertakan 191 orang dengan usia 36-45 tahun di RSUD M.Yunus Kota Bengkulu. Variabel yang diteliti adalah obesitas dan kualitas tidur. Data dikumpulkan dengan cara mengukur tinggi badan dan berat badan reponden serta pemeriksaan kualitas tidur responden dengan menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Kemudian data akan dianalisis menggunakan SPSS v20 for Windows 32 bit.
HASIL
Setelah dilaksanakan penelitian, didapatkan responden obesitas yang mengalami kualitas tidur buruk sebanyak 112 orang (88,9%). Pada analisis dengan menggunakan uji Chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara obesitas dan kualitas tidur pada usia dewasa akhir dengan nilai kemaknaan (p) sebesar 0,000 (p< 0,05).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara obesitas dan kualitas tidur pada usia dewasa akhir
Hubungan lama pemasangan infus dengan kejadian flebitis pada pasien dewasa di RSUD
LATAR BELAKANG
Prosedur tindakan keperawatan yang paling sering dilakukan di rumah sakit ialah
pemasangan infus sebagai salah satu terapi intravena. Walaupun pemasangan
infus memiliki manfaat yang begitu banyak namun tindakan ini dapat
menimbulkan komplikasi, salah satunya adalah flebitis, faktor risiko yang dapat
menyebabkan flebitis adalah lama pemasangan infus. Maka dari itu penelitian
dilakukan untuk mengetahui hubungan antara lama pemasangan infus dengan
kejadian flebitis pada pasien dewasa.
METODE
Penelitian ini merupakan studi deskriptif-analitik dengan desain studi potong
lintang. Data penelitian di peroleh melalui data sekunder rekam medis di rumah
sakit. Responden pada penelitian ini adalah pasien usia >18 tahun yang pernah
dirawat di ruang HCU bulan Juli-Desember 2016. Analisis data menggunakan
SPSS for Windows versi 20.
HASIL
Sebanyak 86 responden yg memenuhi kriteria inklusi untuk penelitian ini. Terapi
infus paling banyak di berikan pada kelompok usia 18-40 tahun sebanyak 60,5%.
Laki-laki yang mendapat terapi infus lebih banyak dari pada perempuan dengan
persentase masing masing sebanyak 55,8% dan 44.2%. Lama pemasangan infus
didapatkan bahwa yang dirawat <3 hari sebanyak 37,2% dan yang dirawat ≥3 hari
sebanyak 62,8%. Kejadian flebitis terjadi pada 37,2% responden dan yang tidak
mengalami flebitis sebanyak 62,8%. Hasil analisis antara lama pemasangan infus
dengan kejadian flebitis pada pasien dewasa menunjukkan adanya hubungan yang
bermakna (p value =0,006)
KESIMPULAN
Terdapat hubungan yang bermakana antara lama pemasangan infus dengan
kejadian flebitis pada pasien dewasa
Hubungan tingkat pengetahuan dengan kunjungan antenatal care pada ibu hamil
LATAR BELAKANG
Pada tahun 2007, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 228 per 100.000 kelahiran hidup. Tingginya AKI di Indonesia terkait dengan masih banyak ibu hamil yang tidak melakukan kunjungan ANC secara ideal (K4) di pelayanan kesehatan, sehingga kehamilannya berisiko tinggi. Terdapat juga beberapat faktor yang mempengaruhi kunjungan ANC, seperti: perilaku maupun sikap ibu hamil mengenai kesehatan atau jarak tempat pelayanan kesehatan yang jauh. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC.
METODE
Penelitian ini bersifat obeservasional dengan studi cross-sectional pada bulan Agustus-November 2016 di Puskesmas Sentul, Bogor, Jawa Barat. Data dikumpulkan dengan cara wawancara kuesioner.
HASIL
Responden yang terlibat pada penelitian ini adalah 61 orang. Sebagian besar responden berusia 20-35 tahun (52,9%), tingkat pendidikan sedang (46,8%) dan dengan pengetahuan tinggi (78,1%). Pada penelitian ini ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kunjungan ANC (p=0,000), akan tetapi tidak ditemukan hubungan antara usia (p=1,000) dan pendidikan (p=0,362) dengan kunjungan ANC pada ibu hamil.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukan adanya hubungan antara pengetahuan dengan kunjungan ANC pada ibu hamil. Akan tetapi, hubungan antara usia dan pendidikan dengan kunjungan ANC belum terlihat
Public open space for disaster mitigation in Tangerang housing estates
Public open space in housing estates plays an important role particularly in disaster mitigation. In some housing, there are indications of shape and use of space changes post-handover to local government. The aim of this study is to explore the relationship between
public open space condition and management related to disaster mitigation in Tangerang housing estates. Multiple case study method is used to analyse of 2 housing cases. Aspects of access and boundaries were used to evaluate the cases. The results showed that gated community housing type should have more than 1 access to facilitate evacuation by considering the farthest unit to the housing gate. This is necessary to provide open spaces that are easily accessible from all units as the first evacuation site during and post disaster
PENGANTAR PERANCANGAN KOTA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN KOTA
Sekitar 6000 tahun yang lalu tumbuh dan berkembang kota di daerah bulan sabit yang subur, di tepian Sungai Nil. Daerah tersebut, Mesopotamia, sekarang terletak di wilayah Irak, terletak di antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris. Kota Uruk, yang sampai saat ini dianggap sebagai kota tertua di dunia, pertama kali dikembangkan atau didiami pada tahun 4500 SM. Beberapa kota lain yang dianggap sebagai kota-kota pertama di dunia antara lain: Kota Eridu, Byblos, Jericho, Damascus, Aleppo, Jerusalem, Sidon, Luoyang, Athens, Argos, dan Varasani.
Kota-kota kuno tersebut memiliki karakteristik sebagai kota benteng. Bangunan benteng pertahanan untuk keamanan kota menyebabkan pembatasan yang sangat jelas antara bagian dalam kota dan bagian luar kota. Dari zaman Kuno atau Antik sampai Abad Pertengahan, kota-kota berkembang relatif lambat. Penemuan meriam, teknologi perkeretaapian, dan kendaraan bermotor menyebabkan kota-kota tua mengalami perubahan radikal.
Penggalan sejarah kota yang dramatis terjadi sejak akhir abad ke 18, di masa dimulainya pertumbuhan dan ledakan penduduk kota di sebagian besar negara-negara Eropa, yang dipicu oleh revolusi industri di Inggris, dibarengi dengan prestasi luar biasa di bidang kedokteran dan kesehatan. Sejak saat itu terjadilah proses urbanisasi besar-besaran di seluruh penjuru dunia. Sejak terjadinya ledakan penduduk kota pada masa revolusi industri, terjadi konsentrasi penduduk di kota-kota besar. Perkembangan kota pada masa itu diikuti dengan perubahan struktur kota yang mencakup perkembangan lahan perumahan, lahan bangunan industri, dan lahan untuk jalur lalulintas.
Saat ini kota-kota di dunia menghadapi permasalahan besar, yaitu: kemiskinan dan polusi, disamping kota-kota juga sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi serta katalisator bagi partisipasi dan inovasi. Dengan visi, perencanaan, dan pembiayaan yang tepat, kota dapat membantu menyediakan pemecahan masalah global. Oleh karenanya kebangkitan kota-kota masa depan sangatlah bergantung pada cara merencanakan dan mengelola urbanisasi
Perlindungan Hukum Bagi Korban Tindak Pidana Trafficking
Abstrak:
Banyaknya kasus tindak pidana perdagangan orang,menyebabkan perangkat aturan hukum perlu dibenahi. Diantaranya adalah mengenai masalah perlindungan hukum bagi korban tindak pidana perdagangan orang. Di dalam UU No 21Tahun 2007 tentang Pemberantasan
tindak Pidana Perdagangan orang, diatur beberapa hak yang wajib dipenuhi oleh negara. Indonesia sebagai negara hukum, tentunya memiliki kewajiban terhadap korban tindak pidana perdagangan orang. Sebagaimana kita ketahui korban suatu tindak pidana merupakan kunci daripada suatu peristiwa pidana.Koban dapat mengungkapkan dan membuat terang suatu peristiwa pidana. Oleh karenanya korban tindak pidana selayaknya mendapatkan perliindungan hukum dari negara, selaku pihak yang berwenang menyelenggarakan suatu sistem peradilan di Negara Republik Indonesia. Kasus-kasus yang berhubungan dengan tindak pidana perdagangan manusia,selama ini tidak mudah terungkap tanpa adanya peran dari korban tindak pidana tersebut. Korban berada dalam keadaan yang sangat termarginal
Effect of Cryopreservation and Cumulative Population Doublings on Senescence of Umbilical Cord Mesenchymal Stem Cells
Background: Multiple harvest explant method (MHEM) derived umbilical cord mesenchymal stem cells (UC-MSCs) was shown to undergo senescent beginning at passage-10 (P-10). However, for the same cells, there are no senescent data after cryopreservation and passage. Therefore, this study aimed to analyze the senescent profile of cryopreserved MHEM derived UC-MSCs after serial passages.
Methods: MHEM derived UC-MSCs were isolated and cultured in platelet lysate (PL) containing
medium as described previously. The cells were cryopreserved at passage-1 (P-1) in 10% dimethyl sulfoxide (DMSO) and 10% PL containing alpha minimal essential medium (αMEM). Cell density at cryopreservation was 500 000 cells/mL. After one month, the cells were thawed and recultured until P-8 in six 12-well plate. At 80-90% confluent, two wells were harvested and the cells were recultured into six wells, and the four remaining wells were subjected to senescent (β-galactosidase) staining, which was done for all passages. Random photographs were taken from all stained wells, and senescent percentage was recorded.
Results: No senescent cells were observed at P-2. Senescent cells began to appear at P-3. Percentage (mean ± SD) of senescent cells from P-3 through P-8 were 0.04 ± 0.02, 1.18 ± 1.82, 0.14 ± 0.18, 0.49 ± 0.00, 0.58 ±0.91, and 0.07 ± 0.07, respectively.
Results: No senescent cells were observed at P-2. Senescent cells began to appear at P-3. Percentage (mean ± SD) of senescent cells from P-3 through P-8 were 0.04 ± 0.02, 1.18 ± 1.82, 0.14 ± 0.18, 0.49 ± 0.00, 0.58 ±0.91, and 0.07 ± 0.07, respectively.
Conclusion: No senescent cells were observed at P-2 (cumulative population doubling [CPD] > 9.38). Senescent cells began to appear at P-3 (CPD > 14.06), but in all passages until P-8 (CPD >34.34) the senescent percentage was below 5%