1360 research outputs found
Sort by
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Meencana Grafis Komersial Berbasis Proyek Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan perangkat pembelajaran
Merencana Grafis Komersial Berbasis Proyek di Fakultas Seni Rupa dan Desain
Universitas Trisakti. Strategi yang dipilih dan diterapkan pada pengembangan studi
perangkat pembelajaran Merencana Grafis Komersial Berbasis Proyek di Fakultas Seni
Rupa dan Desain Universitas Trisakti adalah Pembelajaran Berbasis Proyek.Target
audiens perangkat pembelajaran ini adalah mahasiswa Program Desain Komunikasi
Visual semester lima Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti. Model desain
sistem yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan perangkat pembelajaran
adalah model Dick, Carey dan Carey. Perangkat pembelajaran terdiri dari tahap
sistematis yang digunakan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran Merencana
Grafis Komersial berbasis proyek. Hasil perangkat pembelajaran ditinjau oleh para ahli
desain instruksional, melalui pakar materi pembelajaran, ahli desain pembelajaran, dan
ahli media pembelajaran. Serangkaian sesi evaluasi formatif melalui proses reviu dan
revisi dilakukan dalam pengembangan perangkat pembelajaran ini. Hasil penelitian dan
pengembangan perangkat pembelajaran ini menunjukkan bahwa materi perangkat
pembelajaran menerapkan pendekatan berbasis proyek yang telah terbukti
meningkatkan hasil belajar terhadap target mahasiswa Program Desain Komunikasi
Visual semester lima Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti. Hasil
penelitian dan pengembangan perangkat pembelajaran ini termasuk dalam kategori Bai
Kajian Perubahan Kujang Pakuan.Studi Kasus:Paneupaan Kujang Pajajaran ,Katulampa,Kota Bogor.
Dalam perkembangan sebuah objek budaya, maka ada pakem-pakem tertentu yang harus diikuti sehingga nilai dari objek budaya tersebut tidak hilang. Walaupun demikian, setiap perubahan yang terjadi, akan menimbulkan perubahan nilai pada objek budaya tersebut. Salah satu perubahan yang terjadi adalah pada Kujang. Kujang mengalami berbagai perkembangan bentuk dan visual yang menambah keragaman variasi bentuk Kujang.
Salah satu gaya Kujang yang mengalami perkembangan variasi bentuk dan coraknya adalah Kujang Pakuan. Kujang Pakuan memiliki ciri khas pada bentuk bilah yang lebih melengkung. Salah satu perubahan yang terjadi pada Kujang Pakuan adalah pada bagian bilahnya, terutama pada bagian patuk, tadah, dan tonggongnya. Namun, variasi bentuk ini senantiasa tetap mempertahankan ciri khas dari masing-masing jenis Kujang Pakuan, sehingga jumlah jenis Kujang Pakuan tidak bertambah atau berkurang.Penambahan variasi bentuk dan corak Kujang Pakuan merupakan bagian dari proses perkembangan kujang pakuan itu sendiri. Namun variasi pada sebuah objek budaya harus memiliki batasan sehingga tidak menurunkan nilai dari objek budaya tersebut, dalam hal ini kujang pakuan. Seberapa jauh perubahan dan variasi yang terjadi pada kujang pakuan akan mempengaruhi peran kujang pakuan sebagai sebuah objek budaya.Penelitian ini mengungkapkan bahwa ada perubahan yang terjadi pada Kujang Pakuan baik dalam segi estetika, fungsi, maupun nilai simbolik. Perubahan pada Kujang Pakuan ini pun memiliki batasan-batasan. Ada wilayah yang tidak boleh untuk dirubah dan ada daerah yang boleh diubah. Ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi perubahan pada Kujang Pakuan.Semua perubahan dan pengaruh perubahan tersebut pada Kujang Pakuan memperlihatkan bahwa Kujang sebagai salah satu objek budaya memiliki ruang untuk dikembangkan dengan batasan-batasan tertentu
Desain Komunikasi Visual Edukasi Tentang Gizi Dan Nutrisi Pada Android Untuk Para Ibu Di Kota Jakarta.
Perkembangan teknologi dan informasi mendorong perubahan besar dalam aktivitas para Ibu di Jakarta. Adanya smartphone Android memberikan banyak manfaat, kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaan. Termasuk dalam mencari informasi tentang gizi dan nutrisi. Melalui smartphone-nya para Ibu bebas mengakses infromasi tersebut dimana saja dan kapan saja. Data (Riskesdas, 2013) dari website Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada tanggal 25 Januari 2017, melalui Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat,Kementerian Kesehatan RI menyebutkan 93,5% penduduk Indoensia usia > 10 tahun, balita dan anak usia sekolah kurang mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan. Dianjurkan mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan 300-400 gram per orang per hari, remaja dan orang dewasa 400-600 gram per orang per hari. Maka upaya edukasi gizi dan nutrisi kepada para Ibu di Jakarta menjadi peluang efektif dengan adanya perangkat smartphone Android untuk menyebarluaskan edukasi gizi dan nutrisi menuju jangkauan yang lebih luas. Maka dilakukan penelitian secara kualitatif dengan pendekatan psikologi desain terhadap para Ibu di Jakarta dalam memahami informasi gizi dan nutrisi melalui objek smartphone Android yang hasilnya rancangan tampilan Android yang dapat mengedukasi para Ibu di Jakarta tentang gizi dan nutrisi guna mempromosikan hidup sehat,dengan harapan mampu memperpanjang harapan hidup setiap keluarga
Hubungan antara aktivitas fisik dan gejala premenopause pada perempuan pasca menopause
LATAR BELAKANG
Menopause merupakan kondisi terhentinya siklus menstruasi yang terjadi pada
perempuan untuk jangka waktu satu tahun. Sebelum memasuki menopause
seringkalitimbul gejala premenopause yang dapatmengganggu aktifitas seharihari,gejala
yang dirasakan yaitu sensasi panas pada daerah wajah, keluhan pada
vagina, rasa berdebar-debar, keringat di malam hari, serta gangguan pola tidur.
Banyak faktor yang mempengaruhi gejala premenopause antara lain usia saat
menopause, sosioekonomi, stress psikososial, beban pekerjaan dan salah satunya
aktivitas fisik, tetapi studi patofisiologi mengenai hubungan antara aktivitas fisik
dengan gejala premenopause belum dapat dibuktikan. Penelitian ini bertujuan untuk
menilai adanya hubungan antara aktivitas fisik dan gejala premenopause pada
perempuan pascamenopause.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain potong
silang (cross sectional) yang dilaksanakan di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih.
Pengumpulan data untuk menilai aktivitas fisik dilakukan denganmenggunakan
kuesioner aktivitas fisik global dan penilaian untuk gejala premenopause dilakukan
dengan menggunakan kuesioner menopause rating scale.
HASIL
Sebanyak 75 subjek penelitian telah berpartisipasi dalam penelitian ini hingga selesai.
Distribusi aktivitas fisik pada subjek penelitian didapatkan 31 orang (41.3%)
memiliki aktivitas ringan, dan 44 orang (58.7%) memiliki aktivitas berat. Distribusi
gejala premenopause sebanyak 14 orang(18.7%) memiliki gejala ringan, 61 orang
(81.3%) memiliki gejala berat.Hasil uji statistikmenunjukkan bahwaterdapat
hubungan antara aktivitas fisik dan gejala premenopause pada perempuan
pascamenopause (p = 0.001).
KESIMPULAN
Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dan gejala premenopause pada perempuan
pascamenopause
Hubungan kualitas tidur dengan status gizi pada anak SMA
LATAR BELAKANG
Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Penurunan durasi tidur
pada seseorang akan membuat beberapa efek samping bagi tubuh dan pikiran.
Beberapa studi menunjukkan bahwa pemendekan waktu tidur pada seseorang
dapat menyebabkan obesitas yang satu dapat menyebabkan banyak penyakit lain
yang berhubungan dengan gaya hidup seperti hipertensi dan diabetes mellitus.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya hubungan antara kualitas tidur
dengan status gizi pada anak SMA.
METODE
Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain
potong lintang yang mengikut sertakan 167 siswa SMAN 4 Jakarta.Penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan menggukur berat badan dan tinggi
badan.Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji
Kolmogorov Smirnov.Analisis diolah dengan program SPSS versi 22.0.
HASIL
Analisis uji Kolmogorov Smirnov menunjukkan terdapat hubungan yang
bermakna antara kualitas tidur dengan status gizi (p=0,000). Terdapat hubungan
yang signifikan antara kualitas tidur buruk dengan peningkatan status gizi.
KESIMPULAN
Dapat di simpulkan bahwa kualitas tidur mempengaruhi status gizi
Hubungan tekanan darah dengan kualitas tidur pada lansia
LATAR BELAKANG
Kebutuhan tidur seseorang berbeda-beda, dimana pada seseorang yang lanjut usia
di butuhkan tidur kurang lebihnya 6-8 jam per hari. Sebagian besar lanjut usia
beresiko mengalami gangguan tidur karena di akibatkan adanya pemicu penyakit
kronis yang diderita. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis, hipertensi
sering terjadi pada orang berusia lebih dari 60 tahun karena tekanan darah secara
alami cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Tujuan penelitian ini ialah
untuk mengetahui hubungan antara tekanan darah dengan kualitas tidur pada
lansia.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan
desain penelitian potong silang atau cross-sectional yang mengikutsertakan 61
lansia panti Werdha Wisma Mulia Jl. Hadiah No. 14-16 RT.05/03 Kelurahan
Jelambar, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Data dikumpulkan
dengan cara wawancara, sphygmomanometer air raksa dan stetoskop untuk
mengetahui tekanan darah responden, dan kuisioner kualitas tidur (PSQI) untuk
mengetahui kualitas tidur responden. Analisis data menggunakan uji statistik chisquare.
HASIL
Berdasarkan hasil analisis bivariat dengan uji Chi-square, terdapat hubungan yang
bermakna antara tekanan darah dengan kualitas tidur pada lansia. Hal ini
ditemukan dengan didapatkannya nilai p = 0,046
KESIMPULAN
Dapat di simpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara tekanan darah
dengan kualitas tidur pada lansia
Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan kejadian ISPA pada anak usia 8-10 tahun
LATAR BELAKANG
Infeksi Saluran Pernafasan Akut sering disingkat dengan ISPA merupakan salah
satu penyakit pernapasan yang sangat sering ditemukan.di berbagai kalangan usia.
Anak – anak merupakan salah satu penderita yang paling sering dari penyakit ini,
dan salah satu hal yang memengaruhi nya adalah gizi. Pendekatan gizi melalui
pengetahuan gizi merupakan salah satu hal yang belum diteliti secara mendalam
mengenai hubungannya dengan kejadian ISPA pada anak
METODE
Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2016 sampai Januari 2017. Sampel
dipilih dengan metode convenience sampling berjumlah 134 responden yang
dilaksanakan di Puskesmas Sukamulya, Kecamatan Cigugur, Kabupaten
Kuningan, Jawa Barat. Penelitian menggunakan studi analitik observasional
dengan desain cross-sectional. Pengumpulan data menggunakan cara wawancara
dan kuesioner pengetahuan gizi. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square,
batas kemaknaan yang digunakan adalah p<0,05.
HASIL
Dari 134 responden, terdapat 83 responden (79%) dengan tingkat pengetahuan
gizi buruk dan kejadian ISPA jarang dan 22 responden (21%) dengan tingkat
pengetahuan gizi buruk dan kejadian ISPA sering. Sedangkan pada tingkat
pengetahuan gizi sedang – baik, terdapat 26 (89,7%) responden dengan kejadian
ISPA jarang dan 3 (10,3%) responden dengan kejadian ISPA sering. Uji statistik
dengan uji Chi – Square menunjukan hasil p = 0,196 (p > 0,05)
KESIMPULAN
Tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan gizi ibu dan
kejadian ISPA pada anak usia 8 – 10 tahun
Hubungan body mass index dengan serum glutamate pyruvate transaminase pada usia dewasa
LATAR BELAKANG
Body Mass Index (BMI) merupakan metode pengukuran sederhana yang digunakan
untuk mengklasifikasikan seseorang dewasa sebagai underweight, overweight dan
atau obesitas. Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) merupakan enzim
yang lebih spesifik untuk hepar. Serum Glutamate Piruvate Transaminase dapat
dijadikan sebagai biomarker diagnosis suatu penyakit hepar. Tujuan dari penelitian
ini untuk mengetahui distribusi BMI pada usia dewasa, distribusi SGPT pada usia
dewasa, dan adanya hubungan antara BMI dengan kadar SGPT pada usia dewasa.
METODE
Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain penelitian crosssectional.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober hingga November 2016 di
PT. Cilegon Fabricators Banten. Data responden berhasil dikumpulkan secara
consecutive sampling. Data yang dikumpulkan menggunakan medical check up dan
kuesioner yang berisi identitas dan riwayat penyakit beserta pengobatan. Analisis
statistic yang digunakan adalah Chi-square.
HASIL
Berdasarkan karakteristik responden, subjek yang berumur 29 hingga 40 tahun
terdapat kategori BMI 24,99(33%) sedangkan kategori BMI >24,99(19%) dan
didapatkan kadar SGPT 30(40%) sedangkan kadar SGPT >30(12%). Pada usia 41
hingga 55 tahun terdapat kategori BMI 24,99(17%) sedangkan kategori BMI
>24,99(31%) dan didapatkan kadar SGPT30(34%) sedangkan kadar SGPT
>30(14%). BMI 24,99 yang memiliki kadar SGPT 30(42%) dan kadar SGPT
>30(8%). Pada pekerja dengan BMI >24,99 yang memiliki kadar SGPT 30(32%)
dan kadar SGPT >30(18%). Hasil analasis statistik menunjukkan terdapat
hubungan bermakna antara BMI dengan SGPT (p<0,05).
KESIMPULAN
Terdapat hubungan yang signifikan antara BMI dengan SGPT
Hubungan antara tipe karbohidrat dengan peningkatan kadar gula darah pada dewasa muda
Latar Belakang: Perubahan pola konsumsi pangan dan gaya hidup tanpa disadari
telah memberi pengaruh terhadap terjadinya transisi epidemiologi dengan semakin
meningkatnya kasus-kasus penyakit tidak menular seperti diabetes
mellitus.Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan kadar
gula darah dan salah satunya adalah komposisi asupan makanan. Karbohidrat
adalah sumber energi utama bagi tubuh dan dapat diklasifikasikan berdasarkan
indeks glikemik. Indeks glikemik adalah angka yang menunjukkan potensi
peningkatan glukosa darah dari karbohidrat yang tersedia pada suatu makanan.
Penelitian dilakukan untuk untuk mengetahui efek konsumsi tipe karbohidrat yang
berbeda terhadap peningkatan kadar gula darah.
Tujuan: Mengetahui efek konsumsi tipe karbohidrat yang berbeda terhadap
peningkatan kadar gula darah untuk menambah pengetahuan tentang regulasi gula
darah.
Metode: Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
rancangan eksperimental, Quasi Experimental Design. Metode yang akan
digunakan adalah pretest-posttest design dimana subjek akan di ukur kadar gula
darah puasa sebelum diberikan asupan karbohidrat kemudian akan di ukur lagi
kadar gula darah setelah pemberian asupan karbohidrat pada menit ke 30, 60, 90
dan 120. Selanjutnya, data ini akan diolah dan diuji dengan menggunakan teknik
analisis statistik T-Independen dan diolah dengan program SPSS for Windows
versi 21.0 dengan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0.05.
Hasil: Hasil analisis berdasarkan uji T-Independen menunjukkan bahwa adanya
hubungan yang bermakna antara tipe karbohidrat dengan peningkatan kadar gula
darah.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukan adanya hubungan antara asupan tipe
karbohidrat dan efeknya terhadap peningkatan kadar gula darah
Pengaruh pemberian suplementasi protein ekstrak ikan gabus terhadap panjang badan dan berat badan tikus wistar
LATAR BELAKANG
Pada pertumbuhan terjadi perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran
fisik, seperti berat badan, dan tinggi badan atau panjang badan.Perubahan ukuran
tersebut dapat digunakan untuk menilai status gizi yang digunakan untuk
menentukan pertumbuhan.Salah satu nutrisi yang penting untuk proses
pertumbuhan adalah protein. Ikan gabus merupakan ikan yang tinggi nilai
proteinnya dan sudah banyak dibuat ekstraknya. Tujuan dari penelitian ini untuk
mengetahui ada pengaruh pemberian suplemntasi protein ekstrak ikan gabus
terhadap panjang badan dan berat badan tikus wistar.
METODE
Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium.Penelitian ini dilakukan
pada bulan November - Desember 2016 di Laboratorium hewan litbangkes
Salemba raya, Jakarta Pusat. Sebanyak 30 ekor tikus wistar jantan dibagi dalam
tiga kelompok perlakuan yaitu tanpa diberikan ekstrak, diberikan ekstrak 108 mg,
dan diberikan ekstrak 216 mg. Data yang dikumpulkan dari hasil pengukuran
dianalisis statistik menggunakan uji One Way ANOVAdengan batas kemaknaan
p<0,05, dengan menggunakan SPSS.
HASIL
Setelah dilakukan penelitian selama 4 minggu dilakukan pengukuran dan
observasi, didapatkan hasil uji hipotesis One Way ANOVA sebesar 0,395 αuntuk
berat badan dan 0,226 αuntuk panjang badan..
KESIMPULAN
Dari penelitian ini disimpulkan tidak terdapat pengaruh yang bermakna akibat
pemberian suplementasi protein esktrak ikan gabus terhadap panjang badan dan
berat badan tikus wistar.Hal ini kemungkinan karena terdapat perbedaan rerata
awal penelitian tiap kelompok tikus wistar yang cukup jauh sehingga