1360 research outputs found
Sort by
EMBANGUNAN: PASAR VS KOMUNITAS
Pembangunan sering kali dikaitkan dengan hal yang bersifat fisik maupun material.
Sedangkan pada hakikatnya, pembangunan meliputi dua unsur, yaitu materi yang
dihasilkan dan manusia yang menggerakan pembangunan. Pembangunan di Indonesia
pada umumnya menitik beratkan pada materi, terutama ekonomi dan infrastruktur yang
ingin dicapai dan mengesampingkan pembangunan masyarakat di dalamnya.
Pembangunan ekonomi dilakukan untuk merespon datangnya pasar bebas, sehingga
pembangunan ekonomi yang ada berbasis pasar. Hal ini kurang sesuai dengan sifat
dasar masyarakat Indonesia yang bersifat komunal, berbasis komunitas. Dalam pasar,
modal dan keuntungan adalah hal yang utama, sedangkan dalam komunitas
kesejahteraan masyarakat, kebersamaan merupakan hal yang utama. Di Indonesia,
komunitas atau Usaha Kecil Menengah dengan komoditas belum dapat berkembang
dengan baik karena keterbatasan modal dan kurangnya pemasaran. Sebagai contoh,
UKM penghasil gula semut di Kabupaten Kulonprogo. UKM berhasil memproduksi gula
semut yang memenuhi kualitas standar internasional. Akan tetapi, karena keterbatasan
modal dan kurangnya pemasaran pengeksporan gula semut belum dapat dilakukan
secara maksimal. Pemerintah Kabupaten Kulonprogo kemudian mulai aktif
mengembangkan komoditas ini dengan mendatangkan investor dan memberikan
bantuan alat modern untuk meningkatkan produktivitas UKM. Hal ini perlu diperhatikan
lebih lanjut, karena bisa saja dengan investor dan alat modern, pengrajin justru
kehilangan pekerjaan dan hanya mengejar keuntungan. Komunitas dalam UKM harus
terus melakukan inovasi agar mampu bersaing dalam pasar. UKM yang mampu masuk
dalam pasar akan mendatangkan investor untuk membantu pengembangan komoditas
sehingga masyarakat dan investor akan mendapatkan keuntungan seperti yang
diharapkan
Identifikasi tingkat keandalan elemen-elemen penanggulangan bencana kebakaran gedung PD Pasar jaya di DKI Jakarta
Kerugian baik jiwa, material dan aset berharga yang besar akibat musibah kebakaran. Sulitnya penanggulangan kebakaran pada gedung PD Pasar Jaya karena
memiliki karakteristik yang berbeda dengan bangunan lainnya. Tingkat kerugian yang diderita seharusnya dapat ditekan bila setiap bangunan PD Pasar Jaya di Jakarta
memenuhi persyaratan peraturan SNI 03-1736-2000 yang berlaku mengenai proteksi kebakaran. Dan juga pentingnya identifikasi risiko kebakaran gedung yaitu elemenelemen
penanggulangan bencana kebakaran. Penelitian ini bertujuan memperoleh nilai tingkat keandalan terhadap standar kelengkapan dan kelayakan elemen-elemen
penanggulangan bencana kebakaran yang terdapat pada PD Pasar Jaya. Hasil evaluasi terhadap sarana dan prasarana kebakaran dilakukan dengan melakukan observasi
sistematik pada bangunan pasar dengan menggunakan form checklist yang disusun berdasarkan pedoman dan peraturan yang terkait dengan Peraturan serta Ketentuan
Teknis pengamanan terhadap kebakaran pada bangunan gedung Keputusan Menteri PU. No. 02/KPTS/1985, Peraturan Menteri PU No.26/PRT/M/2008, dan NFPA. Variabel yang dievaluasi adalah sarana kelengkapan tapak, sarana proteksi aktif, sarana proteksi pasif, sarana penyelamatan jiwa, menunjukan hasil rata-rata nilai tingkat keandalan terhadap sampel 14 gedung PD Pasar Jaya di DKI Jakarta yang berdasarkan elemen-elemen penanggulangan bencana kebakaran 64,3 % bernilai di atas 70 % (cukup memadai)
Pengaruh Iklim Terhadap Elemen Pelindung Selubung Bangunan di Rusunawa Tambora Jakarta
Bangunan hunian bertingkat tinggi seharusnya merespon iklim tropis di fasad bangunan. Respon tersebut dapat digunakan melalui penggunaan elemen pelindung secara vertikal maupun horisontal untuk merespon panas matahari dan curah hujan yang tinggi. Penelitian ini dilakukan di Rusunawa Tambora, Jakarta Barat. Elemen pelindung di bangunan ini dianggap belum memenuhi kebutuhan penghuni. Paper ini mengekplorasi bentuk elemen pelindung terhadap sinar matahari dan curah hujan, persepsi penghuni, serta bentuk elemen pelindung yang sesuai terhadap kondisi iklim tropis. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriftif dengan objek penelitian adalah tirai horisontal dan vertikal. Pengumpulan data dilakukan melalui survey, observasi, dan wawancara yang didukung dengan studi pustaka terhadap 10 unit hunian sebagai sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa balkon dan teritisan sebagai elemen pelindung di selubung bangunan menurut persepsi penghuni belum merespon panas dan curah hujan. Bentuk elemen pelindung yang paling mendukung kenyaman penghuni di orientasi timur /barat adalah dak teritisan dengan sirip vertikal di bagian depan. Di unit yang berorientasi ke utara /selatan, bentuk elemen yang paling sesuai adalah dak teritisan
Hubungan perawatan antenatal dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir
LATAR BELAKANG
Asfiksia adalah suatu kondisi gangguan pertukaran gas darah yang mengakibatkan
kurangnya konsentrasi oksigen dalam darah & akumulasi karbon dioksida.
Menurut World Health Organization asfiksia adalah kegagalan untuk memulai
dan mempertahankan pernapasan saat lahir sehingga bisa meningkatkan risiko
terjadinya kematian, Secara global setiap tahunnya 1,2 juta dari 4-9 juta bayi
asfiksia diperkirakan meninggal. Perawatan antenatal dilakukan untuk mencegah
atau mengidentifikasi dan mengobati kondisi yang mengancam kesehatan janin
dan/atau ibu sedini mungkin. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan
antara kunjungan perawatan antenatal dengan kejadian asfiksia neonatorum.
METODE
Rancangan penelitian ini menggunakan studi retrospectivecross-sectional. Jenis
penelitian ini adalah analitik observasional. Pengumpulan data diperoleh dari
rekam medik dari bulan November 2015 sampai Oktober 2016 di Rumah Sakit
Islam Jakarta, Cempaka Putih. Jumlah sampel sebanyak 144, analisis data
dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher. Analisis diolah
dengan program Statistical Product and Service Solutions versi 20.
HASIL
Ibu hamil yang tidak melakukan perawatan antenatal sama sekali sebanyak 22
orang sedangkan 122 lainnya melakukan kunjungan perawatan antenatal baik
teratur maupun tidak teratur, 139 bayi tidak asfiksia sedangkan 5 bayi masuk
kategori asfiksia. Hasil pengujian hipotesis menggunakan uji Fisher untuk
mencari hubungan perawatan antenatal dengan kejadian asfiksia pada bayi baru
lahir dan didapat nilai p sebesar 0,026 (p<0,05).
KESIMPULAN
Terdapat hubungan antara perawatan antenatal dengan kejadian asfiksia pada bayi
baru lahir
Hubungan konsumsi produk olahan susu dengan kejadian akne vulgaris pada siswa SMA X
LATAR BELAKANG : Akne vulgaris atau jerawat adalah penyakit peradangan
kronis dari unit pilosebasea yang disebabkan karena peningkatan sebum akibat
produksi hormon androgen yang menyebabkan peradangan oleh kolonisasi bakteri
dari folikel rambut pada wajah, leher, dada, dan punggung oleh bakteri
Propionibacterium acnes. Meskipun penyabab awal adalah kolonisasi P.acnes,
namun terdapat faktor-faktor lain seperti riwayat keluarga, stress psikologis,
kebersihan wajah, jenis kulit, dan diet juga memiliki peran penting dalam penyakit
ini.
METODE : Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan
pendekatan Cross-Sectional dengan menggunakan metode Survey. Sampel yang
diambil adalah 81 siswa SMA yang diambil dengan menggunakan teknik Simple
Random Sampling di SMAN 23 Jakarta.
HASIL : Sebanyak 64 responden terdiagnosis akne vulgaris 79,0%, 17 responden
tidak mengalami akne vulgaris 21,0%. Susu UHT merupakan produk olahan susu
yang paling banyak dikonsumsi yaitu sebanyak 48 orang 59,3%. Hasil analisis
bivariat uji statistik Chi-Square dan Fisher’s Exact didapatkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi konsumsi produk olahan susu
dengan kejadian akne vulgaris (p > 0,05).
KESIMPULAN : Penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi produk olahan
susu (sering, kadang-kadang, dan tidak pernah) disimpulkan tidak memiliki
hubungan yang bermakna dengan kejadian akne vulgaris
Hubungan post partum depression dengan status gizi bayi pada primipara
LATAR BELAKANG
Prevalensi status gizi buruk dan kurang di Indonesia semakin meningkat, dimana
hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berdasarkan teori, status gizi bayi
dapat dipengaruhi oleh kondisi psikologis ibu pasca persalinan, yang memiliki
dampak negatif pada ibu maupun bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mencari
hubungan postpartum depression dengan status gizi bayi pada primipara.
METODE
Desain studi penelitian ini menggunakan analitik observasional dengan
pendekatan cross-sectional yang diikuti oleh 52 primipara di Rumah Sakit Islam
Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih mulai dari bulan September sampai November
2016. Pengumpulan data dengan melakukan wawancara meliputi karakteristik
responden, postpartum depression, serta data antropometri ibu dan bayi. Penilaian
kejadian postpartum depression menggunakan kuesioner Edinburgh Postnatal
Depression Scale (EPDS). Analisis data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov
dengan tingkat kemaknaan p<0,05 pada software SPSS version 21.0 for Windows
8.1.
HASIL
Rentang usia primipara antara 21-29 tahun yang memiliki bayi usia 0-3 bulan.
Sebesar 63,5% mengalami postpartum depression, dimana hasil status gizi bayi
yang baik didapatkan lebih banyak pada primipara yang tidak mengalami
postpartum depression, yaitu sebesar 52,6%. Hasil analisis data antara postpartum
depression pada primipara dan status gizi bayi menunjukkan adanya hubungan
yang bermakna (p = 0,000).
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara postpartum depression dan
status gizi bayi pada primipara
Hubungan kecemasan dan depresi dengan tekanan darah pada dewasa
Latar belakang:
Hipertensi merupakan penyebab mortalitas tertinggi di dunia pada penyakit
tidak menular. Prevalensi hipertensi di dunia pada tahun 2014 adalah 22%. Di
Indonesia prevalensi hipertensi sebesar 31,7%. Banyak faktor yang memengaruhi
terjadinya hipertensi. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan
kecemasan dan depresi dengan hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan kecemasan dan depresi dengan tekanan darah pada dewasa.
Metode:
Penelitian ini menggunakan studi analisis observasional dengan metode desain
penelitian potong silang pada peserta pengajian Rumah Qur’an Ihya Ul Ummah
Kota Bambu Utara Jakarta Barat. Data dikumpulkan dengan cara wawancara dan
mengisi kuesioner HADS. Pengukuran tekanan darah menggunakan
sfigmomanometer, diukur 2 kali selang waktu 5 menit. Analisis data
menggunakan uji chi square dan tingkat kemaknaan 0,05.
Hasil:
Hasil penelitian dengan 94 subjek menunjukkan tidak terdapat hubungan antara
kecemasan (p=0,406), depresi (p=1,000), pekerjaan (p=0,513), pendidikan
(p=0,493) terhadap tekanan darah. Terdapat hubungan antara usia (p=0,021), jenis
kelamin (p=0,009), dan status pernikahan (p=0,025) terhadap tekanan darah.
Kesimpulan:
Tidak ada hubungan antara kecemasan dan depresi dengan tekanan darah pada
dewasa
Hubungan antara kadar Hba1c dengan kadar kreatinin serum pada pasien diabetes melitus tipe 2
LATAR BELAKANG
International Diabetes Foundation (IDF) mengemukakan pada tahun 2015 jumlah
penderita DM di dunia mencapai 415 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2040
meningkat mencapai 642 juta jiwa. Indonesia menempati urutan ke tujuh
penderita Diabetes Mellitus (DM) di dunia setelah Cina, India, Amerika, Brazil,
Rusia, dan Meksiko. Sebagai salah satu komplikasi dari DM, nefropati diabetika
merupakan prediktor mortalitas terkuat pada penderita dengan prevalensi 34,5%
pada populasi di atas usia 20 tahun di Amerika Serikat. Penelitian ini bertujuan
utuk meningkatkan kesadaran pasien untuk mengontrol kadar glukosa darah
sehingga mencegah komplikasi nefropati diabetika pada pasien diabetes mellitus
tipe 2
METODE
Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan menggunakan 199 subjek
dewasa berusia 20-59 tahun. Data HbA1c dan Kreatinin serum menggunakan hasil
laboratorium Rumah Sakit Sumber Waras. Analisa statistik menggunakan
program statistik dengan uji korelasi spearman dengan nilai kemaknaan < 0,05
HASIL
Analisis korelasi Spearman menunjukkan korelasi tidak bermakna (p = 0,189, r =
0,094) antara kadar HbA1c dengan Kreatinin serum.
KESIMPULAN
Tidak terdapat korelasi antara kadar HbA1c dengan Kreatinin serum
Hubungan asupan protein dan prestasi akademik pada siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri
LATAR BELAKANG
Sebagai calon penerus pembangunan bangsa, anak Indonesia perlu dipersiapkan
untuk dapat mencapai prestasi akademik yang optimal. Prestasi akademik adalah
hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran di sekolah yang bersifat
kognitif dan ditentukan melalui pengukuran dan penilaian seperti tes dan ujian.
Protein merupakan zat gizi yang berfungsi sebagai zat pembangun pembentukan
sel-sel saraf baru termasuk otak. Protein sangat diperlukan untuk membentuk
neurotransmitter penghantar impuls saraf dan mempengaruhi perilaku. Tujuan
dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan asupan protein dan prestasi
akademik pada siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri.
METODE
Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain penelitian yang crosssectional.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2016 di Madrasah
Tsanawiyah Negeri 3 Pondok Pinang Jakarta Selatan. Sebanyak 199 data siswa
berhasil dikumpulkan secara propotional simple random sampling. Data asupan
protein diperoleh dari kuesioner Food Frequency Questionnaire Semi Kuantitatif
dan data prestasi menggunakan raport. Analisis statistik menggunakan uji Chisquare
dengan batas kemaknaan p<0,05.
HASIL
Berdasarkan kelompok responden dengan asupan protein yang kurang sebanyak
54,5% memiliki nilai di atas rata-rata, dan 45,5% memiliki nilai di bawah ratarata.
Dari kelompok responden dengan asupan protein baik sebanyak 56,5%
memiliki nilai di atas rata-rata, dan 43,5% memiliki nilai di bawah rata-rata. Tidak
terdapat hubungan antara asupan protein dengan prestasi siswa (p = 0,862).
KESIMPULAN
Dari penelitian ini disimpulkan tidak terdapat hubungan antara asupan protein
dengan prestasi akademik pada siswa
Perbandingan kadar protein total antara ampas tahu Sumedang dan ampas tahu Lembang
LATAR BELAKANG
Pangan merupakan kebutuhan dasar hidup manusia. Sehingga, kebutuhan terhadap konsumsi pangan terus meningkat setiap tahun, seiring dengan pertumbuhan penduduk. Salah satu yang dimanfaatkan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan pangan yaitu kacang seperti kacang kedelai. Kacang kedelai adalah salah satu yang banyak dipakai sebagai bahan dasar pembuatan tahu. Tahu memiliki kandungan gizi yang baik begitu juga dengan ampas tahu.
Menurut Direktorat Gizi Departemen Kesehatan, Ampas tahu mengandung 84,1% air, 5,0% protein, 2,1% lemak, 8,1% karbohidrat dan 4,1% serat pangan. Penelitian ini bertujuan untuk membantu mencukupi kebutuhan gizi pada masyarakat dengan mengetahui kandungan protein yang terdapat pada ampas tahu sumedang dan ampas tahu susu lembang.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium kimia terpadu IPB dan Laboratorium PSSP IPB pada bulan Agustus-Oktober 2016. Dengan cara kjeldahl, BCA assay dan elektroporesis. Sampel yang digunakan adalah ampas tahu sumedang dan ampas tahu lembang. Analisis data menggunakan Uji T independent.
HASIL
Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar protein ampas tahu sumedang 1.91 %/ww dan kadar protein ampas tahu susu lembang 2.22 %/ww. Dari output dapat dilihat bahwa nilai signifikan adalah 0,750. Karena nilai signifikansi > 0,05 maka Ho diterima. Sehingga tidak terdapat perbedaan rata-rata kadar protein yang signifikan antara ampas tahu sumedang dengan ampas tahu lembang.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar protein ampas tahu lembang lebih tinggi dibandingkan ampas tahu sumedang. Tetapi secara statistik tidak terdapat perbedaan rata-rata kadar protein yang signifikan